Title: Time Traveler (Part 2)

Author: bangmil

Length: Continue

Genre: Romance, Sci-Fi

Main Cast: Han Sehyun (OC), L/Kim Myungsoo (Infinite), Hoya (Infinite), Seungyeon (KARA), Woohyun (Infinite)

Support Cast: Sungyeol (Infinite), Sungkyu (Infinite), Dongwoo (Infinite), Sungjong (Infinite)

     ***

“Han Seungyeon ssi.”

Seungyeon mendengar suara seorang laki-laki memanggilnya. Suaranya begitu nostalgik sehingga ia dapat mengingat kejadian-kejadian di masa lalu yang telah ia lupakan.

“Nam Woohyun..?”

TIIIIIIINN

Seungyeon tersadar dengan suara klakson yang begitu keras. Dari sebelah kanan terlihat mobil yang melaju kencang menuju arahnya. Seungyeon yang menyadarinya berusaha untuk bangkit namun ia terjatuh kembali akibat kepalanya yang masih terasa sakit.

“Awaaaaaas!!”

***

“Hh.. Hh..”

Sehyun berlari memasuki gedung rumah sakit dengan nafas tersengal-sengal. Jam menununjukkan pukul sebelas malam dan Sehyun tak menyadari bahwa ia masih mengenakan seragam sekolahnya. Ia berlari dengan terburu-buru hingga keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya.

“Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?” tanya Sehyun begitu ia melihat seorang dokter keluar dari ruang rawat Seungyeon.

“Apakah anda puteri Han Seungyeon ssi?” tanya dokter itu. Sehyun pun mengangguk cepat.

“Sebenarnya tidak ada luka yang parah di bagian luar, hanya saja banyak terdalat lecet dan luka-luka kecil. Mungkin butuh waktu dua minggu hingga Seungyeon ssi bisa seratus persen pulih. Akan tetapi..” Dokter tersebut terdiam di tengah kalimatnya. Ia tampak sedikit ragu.

“Tetapi apa, Dok?” Sehyun mengernyitkan alisnya, bingung, sekaligus khawatir.

“Begini.. Karena benturan yang terjadi cukup keras, sampai sekarang Seungyeon ssi belum juga sadar. Sekarang yang bisa kita lakukan hanya menunggu sampai Seungyeon ssi siuman.” Dokter tersebut pamit begitu ia menyelesaikan kalimatnya.

Sehyun membungkuk pada dokter tersebut. Ia kemudian berlari cepat memasuki ruang rawat ibunya dengan perasaan was-was. Disana ia melihat Seungyeon terbaring diam di tempat tidur.

“Umma..” Sehyun tercekat. Ia menggigit bagian bawah bibirnya, tak percaya dengan apa yang ia lihat. Selama ini yang ia tahu ibunya adalah wanita yang kuat, melebihi siapapun.

“Umma..” Sehyun mencoba memanggil ibunya lagi. Ia meraih tangan ibunya dan menggenggamnya erat. Perlahan ia mulai terisak.

“Umma, bangun..” Sehyun menggoyang-goyangkan tangan Seungyeon, berharap ibunya akan merespon. Akan tetapi hasilnya nihil, Seungyeon tetap berbaring di sana dengan matanya yang masih tertutup. Ia menggenggam jemari Seungyeon erat dan air matanya pun perlahan mulai menetes.

“Umma..”

***

Jam menunjukkan pukul enam di pagi hari. Rumah sakit masih tampak sepi, hanya terlihat beberapa keluarga pasien dan karyawan yang berlalu lalang. Sedangkan Sehyun sedang duduk sendirian di ruang tunggu, mencoba untuk menenangkan dirinya yang masih kalut.Sudah dua hari berlalu sejak kecelakaan Seungyeon, tapi sampai sekarang ia belum juga sadar.

“Sehyun ah, kau istirahat dulu sana,” Dongwoo menepuk pundak Sehyun. Sebagai kerabat terdekat, sudah sepantasnya ia membantu Sehyun merawat ibunya di rumah sakit. “Kau belum makan apa-apa kan sejak kemarin? Kalau nanti ibumu bangun dan melihatmu dalam keadaan sakit bagaimana?” Lanjutnya.

Sehyun mendengar perkataan Dongwoo tapi dia tidak mempunyai niat untuk menjawab. Mata kecilnya masihtetap memandangi lantai.

Dongwoo pun duduk di sebelah Sehyun, tanpa melakukan apa-apa. Ia menatap puteri semata wayang teman kecilnya itu dengan iba.

“Sekarang waktunya kita beralih ke segmen selanjutnya, yaitu Time Travel.Kejadian ini terjadi tiga puluh tujuh tahun yang lalu, tepatnya tanggal 3 Maret 1974.”

Pandangan Dongwoo beralih menuju layar televisi yang terletak tak jauh dari tempat ia duduk. Ia mengerutkan alisnya, tampak familiar dengan berita yang disiarkan stasiun televisi tersebut.

“Sebuah bus tujuan Busan mengalami kecelakaan pada dini hari menjelang subuh. Kebanyakan penumpang adalah pemudik dan beberapa di antara mereka berlibur untuk bermain ski di Muju. Keberangkatan bus keempat itu dijadwalkan pada tanggal 2 Maret malam dari Seoul.”

Dongwoo memperhatikannya dengan seksama. Senyum tipis terlukis di wajahnya. “Kau tahu, aku..” Ia menghela nafas sebelum melanjutkan perkataannya. “Tiga puluh tujuh tahun yang lalu, di hari yang sama dengan hari ini, pada awalnya aku berencana untuk menaiki bus itu.” Katanya sambil menunjuk arah televisi.

“Kecelakaan diakibatkan oleh hujan deras yang turun tiba-tiba, disertai angin yang cukup kencang, membuat bus tergelincir. Bus naas tersebut menabrak pembatas jalan, kemudian jatuh dari tebing. Kecelakaan ini menelan tiga puluh delapan korban jiwa, termasuk karyawan dan penumpang bus.”

“Waktu itu aku berencana untuk pergi bermain ski,” lanjut Dongwoo. “Aku begitu ceroboh sampai-sampai aku lupa membawa tiket bus.”

Sehyun yang diam-diam ikut memperhatikan acara tersebut menatap layar televisi yang sedang menampilkan gambar bus yang terjatuh. Bus tersebut dalam keadaan mengenaskan, rusak parah hingga tidak terlihat lagi bentuk aslinya.

“Sebelumnya aku merasa sangat kesal pada diriku sendiri. Tapi setelah mengetahui kejadian itu, aku bersyukur pada kecerobohanku sehingga aku masih tetap hidup sampai sekarang.” Lanjut Dongwoo. Ia menepuk pundak Sehyun. “Kita harus percaya pada Tuhan, jadikau juga harus yakin kalauibumu pastiakan segera sadar.”

Sehyun menoleh ke arah Dongwoo. Ia tersenyum tipis, “Gomawoyo, ahjussi.” Sehyun kemudian menghela nafas panjang lalu beranjak dari kursinya, “Aku mengerti. Kalau begitu aku pulang dulu.” Pamitnya seraya membungkukkan badan. Ia kemudian berjalan ke luar gedung rumah sakit dengan perasaan yang sedikit lebih baik dari sebelumnya.

“Sehyun ah!” panggil seseorang tiba-tiba.

Sehyun menoleh mencari arah sumber suara. Ia melihat L  menghampiri dirinya dengan wajah yang cukup khawatir.

“Gwenchana? Bagaimana kedaan ibumu?” tanyanya.

Sehyun menggeleng pelan. “Secara fisik sudah sehat tapi sampai sekarang kesadarannya belum pulih..” jawab Sehyun pelan.

“Mm..” L mengangguk-angguk mengerti. Ia bisa melihat kesedihan di mata temannya itu. “Ah, kau mau pulang? Kalau begitu aku ambil sepedaku dulu. Aku antar pulang ya.” Katanya sambil berlari menuju tempat parkir.

Tak lama kemudian, L kembali bersama dengan sepeda putihnya. “Naiklah.” Ujarnya. Sehyun pun menurut dan menaiki sepeda L.

Di perjalanan mereka hanya saling diam. Sehyun sendiri sedang tidak punya tenaga untuk bicara. Di dalam pikirannya masih terpenuhi oleh keadaan ibunya yang membuat dia tak bisa berhenti untuk khawatir.

Sedangkan L, ia memang bukan tipe orang yang banyak bicara, sehingga bukan hal yang baru jika ia sering terlihat diam. Itulah kenapa, Sehyun tidak berharap banyak pada L untuk menghiburnya. Walaupun begitu, sebenarnya L sangat memikirkan perasaan teman-temannya, terutama Sehyun dan Sungyeol, meskipun ia tidak menunjukkannya lewat kata-kata.

Tiba-tiba L mengayuh sepedanya kencang. Sehyun yang kebingungan refleks memeluk pinggang L agar tidak jatuh ke belakang.

Ya! Kim Myungsoo!!” pekiknya.

Sedangkan L hanya tertawa sambil terus melaju dengan cepat. Yah begitulah sifat L, suka melakukan sesuatu secara tiba-tiba. Tidak ada yang bisa memperkirakan apa yang akan ia lakukan. Baik Sehyun, Sungyeol, maupun keluarganya sendiri.

***

“Hah..!” Sehyun menghempaskan dirinya di bangku taman, dengan keringat yang belum juga berhenti mengalir dari pelipisnya. Ia sedang berusaha untuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal akibat ulah L tadi.

“Menyenangkan, bukan?” tanya L yang datang dengan membawa dua buah jus kaleng. Sehyun menatap L dengan tajam, membuatnya tertawa. Ia kemudian duduk di samping Sehyun, dan memberikan salah satu jus tersebut padanya.

“Gomapta.” Ujar Sehyun. Ia segera membuka kaleng tersebut dan meneguknya sampai habis. Bodohnya, ia meminumnya terlalu cepat hingga ia tersedak.

“Uhu-uhuk..”

L tertawa. Sehyun menatapnya tajam. “Ada yang lucu, Myungsoo ssi?”

L menggeleng cepat, namun ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa. “Bukannya mengejek, aku hanya senang kau sudah kembali menjadi Sehyun yang biasanya.” Ujar L. “Matamu sembab. Kau pasti banyak menangis.”

“Eh? A-aniyo..” kata Sehyun mengelak. Biasanya ia dikenal sebagai wanita yang berhati keras seperti batu. Gengsinya cukup tinggi untuk mengakui kenyataan bahwa ia memang sering menangis akhir-akhir ini.

L menatap Sehyun sambil tersenyum. “Tidak perlu khawatir. Aku yakin ibumu pasti akan segera sadar, percayalah.”

Sehyun mengangguk pelan sambil tersenyum.“Semoga saja..” gumamnya.

Tiba-tiba L beranjak dari tempat duduknya. Ia berdiri menghadap Sehyun sambil sedikit membungkuk agar kedua kepala mereka sejajar.

“Kau tahu kan kalau aku bukan orang yang pandai menghibur?” tanya L, yang dibalas dengan anggukan oleh Sehyun. Kemudian seulas senyum tersungging di bibir tipisnya.

“Akan ku buat kau tidak sedih lagi.” Ujar L sambil meraih pipi Sehyun dengan kedua tangannya. Sehyun hendak memprotes tapi ia terhenti begitu merasakan sesuatu yang lembut menempel di bibirnya. Ya, Kim Myungsoo alias L, telah menciumnya.

***

Comment ya~ ^^ (niruin gaya Woohyun lempar cinta ke arah readers) ❤

Iklan