Author : Bee

Main Cast : Go Miho, Eunhyuk

Support Cast : Euncha, Lee Jihoon, Leeteuk, Yesung, Sungmin

Cameo : Lee Donggun, Han Jihye

Rating : AAbK

Genre : Romance

1st published @ http://wp.me/p1rQNR-6P

^^^

Eunhyuk menenteng bawaannya dengan tergesa-gesa. Dia sudah tidak sabar ingin segera sampai di asrama. Selain badannya terasa lengket akibat penerbangan dari Taiwan, dia juga ingin segera mandi agar bisa cepat-cepat pergi ke gedung teater Miho. Hari ini pokoknya dia harus bertemu Miho.

Apa-apaan wanita itu. Kemarin sebelum berangkat ke Taiwan dia mengirim pesan pada Miho, mengharapkan balasan ucapan hati-hati. Tapi bahkan sampai dia mengiriminya sms berkali-kali dari Taiwan, Miho tidak juga membalas smsnya. Padahal dia sudah menyempatkan diri berputar-putar demi membelikan wanita itu oleh-oleh. Paling tidak dia ingin menyampaikannya sendiri pada Miho.

Paling tidak dia ingin melihat Miho langsung.

Sial, sepertinya dia sudah tidak bisa berkutik lagi. Dia hanya pergi selama 36 jam tapi dia sudah sangat merindukan Miho. Setelah mengetahui masa lalu wanita itu, rasa posesif yang demikian besar menggila dalam dirinya. Dia tak bisa melepaskan pikirannya sekejap pun dari wanita itu. Bukan sekedar untuk memastikannya baik-baik saja, tetapi juga untuk memastikan bahwa senyumnya masih bisa dia temukan. Tidak cukup baginya jika Miho hanya baik-baik saja. Dia ingin wanita itu tersenyum bahagia.

“Cepet Hyung! Cepetan!” burunya pada Manajer yang menjemputnya dan Sungmin di bandara. Memang, urusan album Suju M yang terakhir membuatnya dan Sungmin harus bolak-balik Taiwan-Korea lebih sering dibandingkan anggota lainnya.

Manajer Suju menoleh menatap Eunhyuk dengan heran. “Kamu kenapa sih?”

Eunhyuk menyembunyikan wajahnya dengan berpura-pura memasang sabuk pengaman. “Ga papa. Badanku gatel semua. Pengin cepet-cepet mandi.”

Sungmin dan Manajer Suju malah kaget. Keduanya serempak memandangi Eunhyuk dengan kaget. “Kamu pengin mandi?!?!” Sungmin menyatakan keterkejutannya.

Eunhyuk ikutan kaget karena keduanya kaget. “Ya! Emang aku ga boleh mandi?”

Manajer sekarang sudah mulai menjalankan mobil. “Bukan gitu. Kamu pengin mandi? Kepenginanmu itu yang bikin aneh, Hyuk. Abis dari dukun mana kamu?” Sungmin masih terheran-heran.

“Ck, eeeish! Aku jorok kalian protes, aku pengin bersih malah diejek. Kalian ini maunya apa sih?!” Eunhyuk berusaha menghindar.

Sungmin melanjutkan orasi keheranannya yang akhirnya membuat perjalanan pulang mereka ke asrama lebih ramai karena mereka berdua, kadang ditimpali oleh sang manajer, terus bercakap-cakap. Untuk sejenak, Eunhyuk melupakan Miho dari pikirannya.

^^^

“Ne, aku pulang sama temen, Oppa. Ga perlu menjemputku.” Terdengar suara Miho di sudut sebuah ruangan. Dia sedang bertelepon dengan Leeteuk. Pria itu sedang menanyakan jam berapa dia harus menjemput Miho, tapi yang ditanya bermaksud untuk pulang sendiri. Tak lama kemudian Leeteuk menutup teleponnya.

Miho memandangi ponselnya dan menatap layarnya agak lama. Sms dari Eunhyuk tidak datang sejak pagi ini. Apakah akhirnya cowok itu menyerah? Semoga begitu. Agar Miho tidak perlu sakit hati melihat smsnya yang terus menerus datang. Biar saja dia sakit hati karena merindukan Eunhyuk saat ini, asal bukan sakit hati karena harapannya hancur.

Suara Lee Donggun membuyarkan lamunannya, “Sudah siap, Miho?” tanya pria yang sudah bisa memanggilnya dengan lebih akrab itu.

“Ne, Donggun ssi. Gaja,” jawab Miho sambil tersenyum menutupi galaunya.

Sore ini, latihan selesai lebih cepat. Itulah sebabnya Miho menolak dijemput Leeteuk. Kebetulan Lee Donggun mengajaknya makan malam. Setelah minta ijin pada ibunya lewat telepon, Miho menerima tawaran pria itu. Mereka akan pergi ke rumah pria itu dan makan malam bersama istrinya.

Miho berharap semoga makan malamnya mengasyikkan dan lama, agar Miho bisa langsung tidur begitu pulang. Tak perlu memikirkan Eunhyuk.

^^^

Tengah malam, di kamar Miho.

From: Eunhyuk

Kamu dimana sih?! Aku tadi ke teatermu, kamunya udah pulang. Aku pengin ketemu. Aku bawa oleh-oleh lho dari Taiwan. Masa kamu ga mau? Sekali-sekali balaslah smsku.

Miho menatap sms itu dengan sedih. Ternyata Eunhyuk tidak pergi lama ke Taiwan, hanya dua hari. Sial, Euncha menipunya. Apa Euncha ingin agar dia tak terlalu akrab dengan Eunhyuk? Yah, mungkin begitu.

Tapi dua hari itu terlalu cepat, aku belum bisa mengatur perasaanku kalau bertemu denganmu. Aku tak bisa membalas smsmu, Hyuk. Kalau aku melakukannya aku akan terus mengharapkan balasan darimu, monolog Miho. Aku juga tidak ingin bertemu denganmu karena rasanya pasti akan menyakitkan, meski sekarang saat tak bertemu denganmu rasaku juga tak kalah perih.

^^^

Lewat tengah malam, di kamar Leeteuk.

Leeteuk sedang termangu menatap teleponnya. Dia sudah mencoba menelepon Miho beberapa kali sejak pulang dari siaran, tapi teleponnya tak pernah diangkat. Dipikir lagi, akhir-akhir ini wanita itu memang aneh. Tak mengirimi pesan-pesan tak penting yang biasanya, tak menjawab teleponnya, kalaupun menjawab, hanya singkat dan seperlunya, dan menolak jemputannya. Leeteuk merasa ada yang berubah dari sikap Miho dua hari belakangan. Apakah wanita itu sedang ada masalah?

Leeteuk memiringkan tubuhnya, merapatkan selimutnya. Mulutnya sedikit mendesah. Dia kangen pada Miho.

^^^

Esoknya, pagi hari di rumah Euncha.

Euncha termangu di depan pesawat telepon yang baru ditutupnya. Mihonnie kemana sih? Sejak mereka pulang dari perkebunan apel tiga hari yang lalu, dia tak pernah berhasil menghubunginya. Padahal hari ini dia berencana hendak mengajaknya kencan ganda dengan Jihoon dan Eunhyuk Oppa. Kebetulan kedua pria sedang memiliki waktu luang, tadi sudah ditanyanya, eh malah Mihonnie yang tidak jelas keberadaannya. Untung dia belum mengatakan pada Jihoon dan Eunhyuk bahwa dia hendak mengajak mereka pergi.

Barusan Imonya bilang bahwa Miho sudah pergi pagi-pagi dijemput Donggun ssi. Apa Miho dan Donggun ssi sudah mulai bekerja sama? Wah, dia kan belum sempat bertemu Donggun ssi, masa dia harus ketinggalan berita lagi? Pokoknya hari ini aku harus berhasil menemui Mihonnie, pikir Euncha sembari meraih ponselnya.

^^^

“Kau yakin, Miho-ya?” Donggun menatap wanita di depannya dengan pandangan bertanya sekali lagi.

Tadi malam wanita ini tiba-tiba mengemukakan keinginannya untuk segera bergabung dengan Marseille Enterprise. Donggun hampir tersedak makanannya kalau saja Jihye, istrinya, tidak sedang memegangi tangannya. Ah, Jihye memang penenang hidupku, pikir Donggun sedikit melantur.

Tatapannya kembali pada Miho. Di luar kesepakatan awal mereka, Miho sepertinya sudah membulatkan tekadnya untuk bergabung dengan ME. Ada yang berbeda dari pembawaan wanita itu. Dia tampak lebih terkendali, sekaligus lebih tegang. Donggun tidak tahu apa penyebabnya, dan tidak berminat mencari tahu dengan paksa, tapi perubahan itu membawa efek positif bersamaan dengan efek negatif. Jadi, dia memutuskan tidak ada ruginya menerima Miho lebih cepat dari yang direncanakannya. Dia hanya perlu membuat penyesuaian jadwal yang sudah dibuatnya untuk wanita itu.

Begitu dia pulang dari mengantar Miho tadi malam, Jihye menyambutnya dengan gembira karena istrinya itu tahu seberapa besar Donggun menginginkan Miho bergabung dalam agensinya. Dan akhirnya mereka merayakannya dengan mantap di kamar tadi malam. Sial, Donggun jadi ingin pulang sekarang.

Tapi tidak boleh. Miho sedang mengangguk pasti saat ini dan di tangannya sudah tergenggam sebuah pena yang siap digunakan untuk menandatangani kontrak. Kontrak itu memang sudah agak lama dia berikan pada Miho untuk dipelajari. Beberapa klausul di dalamnya sudah mengalami perbaikan sesuai dengan kesepakatan di antara mereka berdua. Ternyata meluangkan waktu untuk mengamati latihan Miho sama sekali tidak membuang waktu, pikir Donggun senang menuruti instingnya selama ini.

Disaksikan oleh beberapa orang yang berwenang, Miho menandatangani kontrak yang telah mereka sepakati bersama. Donggun melepaskan nafasnya lega, baru menyadari bahwa dari tadi dia menahannya selama Miho menorehkan pena berwarna biru itu di bagian yang harus ditandatanganinya. Kini Miho resmi menjadi artisnya, dan dengan keistimewaannya, Donggun menempatkan dirinya sendiri sebagai manajer langsung gadis itu.

Setelahnya kedua orang itu saling bersalaman dengan senyum lebar terpampang di bibir masing-masing.

Aku mendapatkannya! Teriak Donggun dalam hati.

Aku meraih impianku! Seru benak Miho.

Meski demikian keduanya menyadari, dari titik ini langkah mereka akan semakin penuh liku. Donggun akan berusaha menuntun Miho dengan benar dan baik agar hasil karyanya nanti sesuai dengan harapannya, sementara Miho akan melakukan semuanya dengan kerja keras agar impiannya terwujudkan dengan sempurna. Mereka tidak sampai sejauh ini tanpa rintangan, jadi mereka tidak akan menyia-nyiakan kerja sama yang sangat memuaskan ini.

Dan agar aku memiliki fokus yang akan mengalihkanku dari Eunhyuk dan Euncha, terdengar bisikan lirih dari batin Miho yang dengan cepat berusaha diusir olehnya.

^^^

“Eunchanie, ayo kita ke sana sebentar,” ajak Jihoon pada Euncha.

Euncha hanya menurut ketika tangannya ditarik oleh Jihoon menuju suatu arah. Dia tidak memperhatikan sekelilingnya sebab matanya sedang terfokus pada butik baru dan otaknya langsung membentuk rencana untuk mengajak Mihonnie belanja. Kali ini eonnie-nya itu tidak boleh menolak, karena butik baru itu tampak sangat menggiurkan.

Karena tidak memperhatikan itulah dia terkejut ketika menyadari dimana mereka berada. Jihoon menyuruhnya duduk di salah satu kursi mewah yang empuk menghadap ke sebuah meja yang dibaliknya terdapat seorang wanita berpenampilan efisien dan wajahnya tak pernah lepas dari senyum profesional. “Oppa, mengapa kita ke toko perhiasan?” tanya Euncha bingung.

“Aku ingin minta bantuanmu,” jawab Jihoon sambil tersenyum.

“Apa?”

“Coba lihat ini, tolong pilihkan satu untukku,” kata kekasih Euncha itu sambil menunjukkan jajaran barang di atas meja.

Euncha melihatnya dan matanya langsung terbelalak. Di hadapannya sudah terdapat 3 buah kotak perhiasan yang terbuka. Di dalam masing-masing kotak tersebut terdapat sepasang cincin perkawinan yang modelnya berbeda-beda. Perasaan Euncha langsung melonjak, tapi dia tidak ingin terlalu senang dulu. Dia menelan ludah, “Ini…”

“Cincin pernikahan,” ujar Jihoon sambil tersenyum menatap mata Euncha.

Serta-merta Euncha menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca. “Oppa tidak bercanda kan?”

“Tentu saja tidak. Aku ingin cepat menjadikanmu istriku. Dan aku mau itu jadi pilihanmu juga, maka aku membawamu ke sini, kalau-kalau kau belum siap, jadi kita bisa pergi dari sini sekarang juga.”

Euncha menggeleng. Lalu mengangguk. Akhirnya air matanya menetes sebutir. Bagaimana mungkin dia bisa terharu sekaligus sangat bahagia di waktu yang bersamaan? Jihoon bergerak sangat cepat, dan Euncha pikir selama ini dia hanya akan mengikutinya, tapi ternyata pria itu ingin berlari bersamanya, membawa segala rasa mereka bersamaan.

Jihoon sebenarnya salah tingkah. Dia tidak begitu paham mengapa Euncha menangis. Tapi dia sudah tidak sabar lagi. Mungkin mereka baru berhubungan beberapa minggu, tapi perasaannya tidak pernah semantap ini terhadap seorang wanita. Tak pernah terpikir olehnya gadis manis yang di matanya tak jauh berbeda dari gadis kecil ini dapat merubah perasaannya sedemikian drastis dalam waktu sangat singkat. Kemampuan Euncha membuatnya jatuh cinta dalam waktu secepat ini membuatnya khawatir dengan adanya kemungkinan pria lain juga jadi mudah jatuh cinta pada Euncha. Dia tidak mau itu terjadi. Makanya dia sudah menyiapkan tiga cincin pilihannya sejak dua minggu lalu, dengan sengaja membatasi pilihan Euncha agar tak melirik yang lain. Dia tahu dia egois, tapi kehilangan Euncha bukan sama sekali hal yang diinginkannya.

Euncha melihat pilihannya, dan matanya terpaku pada satu bentuk cincin pria yang sangat disukainya. “Aku rasa ini akan sangat bagus di jarimu,” katanya menunjuk satu cincin.

Jihoon melihatnya dan berkata, “Begitu ya? Baiklah, aku tidak keberatan. Padahal sebenarnya aku lebih suka yang ini,” tunjuk Jihoon pada sepasang cincin kawin yang lain. “Menurutku yang ini akan sangat sempurna di jarimu,” tunjuknya pada cincin wanita di dalamnya.

Sesaat keduanya terdiam. Mereka bertatapan, lalu bersamaan melihat satu kotak yang lain. Wanita di belakang meja melihat hal itu dan tersenyum tulus untuk pertama kalinya. Kedua orang di hadapannya ini begitu memikirkan apa yang terbaik bagi pasangannya, jadi hatinya tersentuh. Diangkatnya kotak yang tidak menjadi pilihan keduanya, “Ini, hanya ada satu jenis di sini. Yang dua ini,” tunjuknya pada kotak yang Euncha dan Jihoon sukai, “Sudah beberapa kali dipesan—dengan sedikit perbedaan detil tentunya—karena gayanya yang memang mencolok. Tapi yang di tangan saya ini hanya ada satu dan kebetulan pembuatnya tidak mau lagi membuat seri yang sama.”

Jihoon menatap Euncha lalu wanita di balik meja tersebut. “Jogiyo, bolehkah kami mencobanya?” tanyanya agak ragu.

Wanita itu membolehkan. Akhirnya keduanya mencoba cincin tersebut. Saat melakukannya, tangan Euncha gemetar karena luapan perasaan. Kedua cincin itu terpasang pas di jari keduanya. Euncha menatap cincinnya dengan takjub. Saat memakainya dan melihat yang dipakai Jihoon, Euncha merasa konyol karena rasanya cincin itu seperti dibuat hanya untuk mereka. Kata bagus sepertinya kurang tepat untuk menggambarkan apa yang dirasakan Euncha ketika melihat cincin-cincin itu melingkar di tangan mereka. Cincin-cincin itu… sesuai. Seperti memang di sanalah seharusnya cincin itu melekat.

Jihoon merasakan hal yang hampir sama, tapi kalau boleh jujur, dia tak begitu peduli dengan cincinnya. Tatapan Eunchalah yang membuat cincin di jari mereka menjadi begitu berharga. “Kami rasa kami ambil ini,” katanya tanpa menatap pada wanita di balik meja yang langsung tersenyum puas dan mengatur cara pembayaran.

^^^

Sore hari itu, Miho dan Donggun memutuskan merayakan kontrak sembari membicarakan jadwal harian Miho dengan makan-makan. Mereka memilih restoran di Hilton Hotel. Mereka sedang makan dengan lahap ketika terdengar suara memanggil Miho.

Miho menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Leeteuk. Pria itu mengatakan sesuatu kepada beberapa orang yang berjalan bersamanya, lalu dia mendekati Miho sementara orang-orang itu berlalu meninggalkannya. “Oppa,” sapa Miho pada Leeteuk begitu pria itu duduk di sebelahnya.

“Hey, lagi ngapain di sini?” balas Leeteuk hangat sambil merangkul bahu Miho. Sebenarnya dia ingin memeluk Miho, tapi ada orang lain, jadi dia merasa tidak enak.

“Lagi makan sama Donggun ssi. Oppa udah kenal kan?” jawab Miho ringan.

“Annyeonghaseyo, Donggun ssi,” sapa Leeteuk ramah pada Lee Donggun.

Donggun menjawab dengan keramahan yang sama. Sebelum Leeteuk sempat bertanya apa-apa, Miho bertanya lebih dulu, “Oppa ngapain di sini?”

“Oh, aku ada pemotretan. Untuk majalah.”

“Waah, aku pengin liat kalo Oppa lagi dipotret. Biasanya kan hasil foto-foto Oppa bagus banget.”

Leeteuk memandang Miho dengan senang. “Geurae? Ya udah, nonton aja. Di atas kok pemotretannya.”

Miho tersipu. “Oke, tapi mungkin nanti kalau kami udah selesai makan. Bagaimana Donggun ssi? Boleh?” ujar Miho.

Donggun yang dari tadi hanya melanjutkan makan menatap Miho. “Ne, tentu saja. Kita bisa ke sana nanti bersamaan. Eh, apa saya juga boleh ikut?”

Leeteuk menjawab langsung, “Geureom. Datang saja. Atau begini saja, sepertinya kalian hampir selesai makan, saya tunggu saja. Nanti kita naik bersama-sama.”

Usul itu langsung diterima oleh dua orang yang lain. Ketika akhirnya makanan mereka habis, mereka berjalan bersama ke arah elevator. Donggun tertahan sejenak di kasir untuk membayar makanan, sementara Leeteuk dan Miho berjalan berdampingan.

Saat sedang menunggu pintu elevator terbuka, tiba-tiba ada seseorang yang menyapa Leeteuk. Ketika keduanya menoleh, di sana ada seorang gadis yang ternyata adalah fans Leeteuk. Setelah memberi dukungan pada Leeteuk, ujung-ujungnya gadis itu meminta foto keduanya. Karena sudah terbiasa dengan situasi seperti itu, Leeteuk langsung merangkul bahu Miho dan wanita itu memeluk pinggang Leeteuk sambil meletakkan kepalanya di bahu Leeteuk. Setelah puas mengambil gambar, fans Leeteuk pun pergi tepat saat Donggun datang dan pintu elevator terbuka. Tanpa melepaskan pelukan, Leeteuk dan Miho memasuki elevator mengikuti Donggun.

^^^

Euncha dan Jihoon memutuskan untuk makan malam bersama biarpun masih terlalu sore untuk disebut makan malam. Tapi keduanya merasa ingin merayakan sesuatu, jadi mereka memutuskan untuk makan di restoran pilihan Euncha, yaitu restoran di Hilton Hotel. Saat keduanya sedang memasuki hotel sambil berangkulan, di pintu mereka berpapasan dengan seseorang yang Euncha kenal.

“Eunhyuk Oppa!” sapa Euncha senang.

Eunhyuk menoleh dan terkejut mendapati Euncha sedang dipeluk oleh Jihoon. Dia tidak terlalu kenal dengan Jihoon, makanya dia terkejut melihat Euncha dan pria itu tampak begitu mesra. “Eh, Euncha!” serunya girang tapi hati-hati. Takut perkiraannya salah.

Tapi daripada terus-terusan salah, lebih baik dia bertanya kan? “Apa kalian…” tanyanya mengambang.

Euncha menatap Jihoon sambil menggigit bibir senang, yang ditatap membalasnya dengan pandangan mesra. Eunhyuk tidak perlu jawaban lagi. “Eeeiissh, aku kaget lho!” katanya sambil tersenyum lebar.

“Oppa ngapain ke sini?” Euncha mengalihkan topik.

“Ada pemotretan. Tadi ada yang kulakukan jadi aku telat, dan harus datang sendiri,” Eunhyuk menjawab tanpa menjelaskan bahwa sesuatu yang dilakukannya adalah mencari pembungkus oleh-olehnya untuk Miho.

“Bagaimana Taiwan?”

“Bagus. Lancar,” jawabnya sambil membenarkan lengan bajunya yang menggulung.

“Oleh-olehnya mana?” Euncha bertanya dengan nada menuntut.

“Hahaha, ada di asrama, kalian datang—” kata-kata Eunhyuk terputus karena melihat sesuatu.

Euncha mengikuti arah pandangan Eunhyuk dan melihat apa yang membuat Eunhyuk berhenti bicara.

Di depan elevator, Miho dan Leeteuk sedang berpelukan mesra. Mata mereka bertemu dan senyum mereka terkembang. Dan mereka memasuki elevator bersama-sama tanpa melepaskan pelukan. Euncha tahu ada hubungan yang diatur antara Leeteuk dan Miho, tapi tak tahu bahwa keduanya kemungkinan benar-benar berhubungan. Sesuatu yang tak pernah Euncha pikir bisa terjadi. Setahunya Miho tak bisa bersikap semesra itu dengan lelaki manapun di luar orang yang familiar baginya. Kecuali dengan Eunhyuk.

Euncha menoleh melihat Eunhyuk dan melihat garis rahang pria itu semakin menonjol. Euncha bisa melihat ada sorot terluka di sana. Tiba-tiba rasa iba melandanya. Kalau dugaannya bahwa Eunhyuk menyukai Miho itu benar, sedih benar nasib cowok itu. “Oppa…” panggilnya pelan pada Eunhyuk.

Eunhyuk menoleh. Saat Euncha melihatnya, raut mukanya datar dan matanya tidak mengatakan apapun. Tapi Euncha yakin dia tidak berhalusinasi tadi waktu melihat Eunhyuk seperti terluka. “Kalian lihat?” pria itu malah bertanya sambil tersenyum.

Euncha dan Jihoon mengangguk. Meski Jihoon tidak tahu ada apa antara Eunhyuk-Miho-Leeteuk dan Euncha, tapi dari sikap tubuh Euncha dan Eunhyuk dia bisa merasakan ada yang salah dengan pemandangan Leeteuk dan Miho berpelukan di dalam hotel. Dan ya, jujur saja dia terkejut melihat Miho bisa semesra itu dengan lelaki yang belum terlalu lama dikenalnya, meski menurut pemberitaan media mereka memang ada hubungan asmara.

Eunhyuk berkata lagi, “Sepertinya Miho datang ingin menemani Leeteuk Hyung. Dia kan juga pemotretan bareng aku,” katanya sambil meneruskan langkah yang tadi sempat terhenti.

“Oppa gwaenchanha?” tanya Euncha hati-hati.

“Ya! Emangnya kenapa aku ga akan baik-baik aja?” Eunhyuk malah balas bertanya lengkap dengan tawa kecil.

Euncha hanya menatapnya. Eunhyuk jadi sadar bahwa Euncha memahami perasaannya. Tapi dia tidak akan mengakuinya terang-terangan. Sudah cukup bodoh dia memupuk sendiri ketertarikannya pada Miho. Kalau ada orang lain yang hendak merasa iba padanya, dia tidak akan membiarkan itu terjadi. “Apa kalian juga ingin bergabung dengan kami di atas?” tanya Eunhyuk berbasa-basi.

Jihoon menyerahkan semua keputusan pada Euncha. Kekasihnya itulah yang selalu mengkhawatirkan Miho, jadi kalau sekarang dia mau mereka bergabung, Jihoon tidak keberatan. Euncha menimbang-nimbang tawaran itu. Lalu dia berkata, “Kami mungkin akan bergabung setelah makan.”

“Begitu? Baiklah. Kalau begitu aku ke atas dulu ya…” Eunhyuk berpamitan pada keduanya dan segera pergi meninggalkan mereka.

Dia tersenyum pada pasangan itu sampai pintu elevator menutup. Begitu pintu tertutup, senyum Eunhyuk langsung hilang. Dengan lelah dan kesal diusapnya mata. Apa sebenarnya yang dia harapkan? Dia memang mengenal Miho lebih jauh sekarang. Tapi itu bukan berarti Miho akan memilihnya kan? Wanita itu sudah lebih dulu akrab dengan Leeteuk sebelum dia mengetahui semua fakta tentang Miho.

Tapi bagaimana dia harus menekan perasaannya? Selama ini meski mereka tidak bertemu, Miho selalu berhasil membajak alam pikirannya. Tak peduli sedang seberat apa pekerjaannya, Miho selalu muncul lagi dan lagi dalam benaknya. Semakin dia berusaha menganggap Miho sebagai teman, semakin kalut isi pikirannya akibat wanita itu. Kenapa dia dulu harus mengusulkan ide bodoh tentang Leeteuk dan Miho?!

Ah dia tahu. Saat itu dia sangat frustasi gara-gara ingin mendekati Miho, tapi takut dengan resiko mencintai seorang makhluk jadi-jadian. Haha, mencintai! Kalau saja dia tahu pada akhirnya dia akan tetap jatuh cinta pada Rubah itu, tentu dia akan membuat hubungan rekayasa itu dengan melibatkan dirinya sendiri. Lihat kan, betapa egoisnya dia. Dan seenaknya sendiri. Kalau sekarang Miho benar-benar jadian dengan Leeteuk, maka itu sepenuhnya adalah kesalahannya. Karena kepengecutannya.

Gila! Bagaimana bisa seorang Eunhyuk jatuh cinta sampai jungkir balik begini?! Eunhyuk menarik nafas dengan berat.

Saat pintu elevator terbuka, Eunhyuk melangkah keluar dan berhenti sejenak. Dia harus menyiapkan mentalnya. Di sana dia akan bertemu Miho dan Leeteuk. Dia harus mengubah mind-setnya. Mereka adalah Hyung dan Noonanya. Itu harus berhasil menekan perasaannya.

^^^

Pemotretan ini adalah untuk majalah wanita. Saat Leeteuk datang bersama Miho, semua kru memberi salam. Ternyata di sana sudah ada Yesung dan Sungmin. Yesung sedang berpose sementara Sungmin sedang menunggu giliran. Anak itu segera menghampiri Leeteuk dan Miho dengan ceria. Miho agak kaget juga melihat hal itu. Jadi Leeteuk bukan hendak pemotretan sendiri.

“Aku pikir cuman Oppa yang pemotretan,” kata Miho pada Sungmin saat Leeteuk dirias.

Sungmin menjawab. “Bukan, Noona. Ini harusnya ada Eunhyuk juga, tapi anak itu telat.”

Tubuh Miho langsung menegang mendengar Sungmin menyebut nama Eunhyuk. Bagaimana ini? Dia belum menyiapkan perasaannya. Apa yang harus dia lakukan? Apa lebih baik dia segera kabur sekarang?

Sedang memikirkan itu, tiba-tiba seorang wanita mendatangi Miho. “Miho ssi?” tanyanya.

Miho menoleh dan mendapati Lee Donggun berdiri di sebelah wanita yang tadi memanggilnya. “Perkenalkan, saya Jung Sojin, editor majalah yang melakukan pemotretan ini,” sapanya ramah sambil mengulurkan tangan.

Miho menyambut uluran tangannya dan memasang senyum ramah pada wanita itu. Sojin bicara lagi, “Saya senang sekali anda datang, apalagi saya baru tahu bahwa anda juga mengenal Donggun ssi. Kami kenalan lama.”

“Ah, ne.” Miho tidak tahu harus berkata apa. Lalu kenapa kalau Lee Donggun kenalan lama wanita itu?

“Begini, maukah anda menolong kami?” tanya wanita itu.

Miho mengerjapkan matanya. “Menolong anda?”

“Ya. Kedatangan anda memberi saya ide. Maukah anda berpose bersama Leeteuk ssi?”

“Eh?” Miho benar-benar terkejut mendengar itu.

Sojin tertawa kecil, “Begini, tiba-tiba konsep ini datang begitu saja di kepala saya ketika melihat anda datang bersama Leeteuk ssi. Jadi nantinya anda akan menjadi bagian dari latar belakang foto, hasilnya nanti anda akan berada pada zona blur, tapi keberadaan anda akan mengisyaratkan bahwa Leeteuk ssi sudah tidak sendiri lagi,” Sojin mengangkat tangannya, “Saya rasa ini akan menarik sebab hubungan anda juga masih baru dan banyak dibicarakan.”

Miho agak terpana, lalu dia menatap Donggun. Pria itu tidak menunjukkan ketidaksetujuannya. Sojin menangkap pandangan Miho dan langsung bicara lagi, “Ah, ini hanya akan dihitung sebagai pekerjaan freelance kok. Anda bebas menetukan sendiri.”

“Itu bagus juga, Noona.” Sungmin tiba-tiba menyeletuk dari samping Miho.

Sojin tersenyum memohon.

Akhirnya Miho mengiyakan. Dengan segera dia dibawa ke suatu sudut untuk dirias. Saat melihatnya, Leeteuk yang baru selesai dirias kaget. Untung Sojin yang berjalan bersama Miho segera memberi penjelasan. Mata Leeteuk membulat begitu mendengar konsep dadakan itu. “Jinjja?” tanyanya girang yang langsung dijawab Sojin dengan anggukan. Pria itu langsung merangkul Miho dengan senyum lebar.

Saat itu terdengar suara agak ribut dari pintu. Miho mendengar suara Eunhyuk dan tubuhnya langsung panas dingin. Dia mengusahakan agar Eunhyuk tidak melihatnya. Dia tidak ingin cowok itu mendekatinya dengan senyum lebar tolol yang selalu membuat hatinya mengembang bahagia. Ya Tuhan, aku belum siap bertemu dengannya dan membuat hatiku patah lagi, batin Miho.

Untuk menutupi keresahan hatinya, dia segera menempatkan diri untuk dirias dan membiarkan rangkulan Leeteuk terlepas. Dia memilih satu bangku yang letaknya paling pojok agar Eunhyuk tak dengan mudah menemukannya.

Di dekat pintu Eunhyuk sedang menunduk-nunduk memohon maaf karena keterlambatannya, tapi matanya sempat mendeteksi keberadaan Leeteuk. Dia tidak melihat Miho di sekitar Leeteuk, membuat hatinya sedikit tenang. Dia sudah merasa kepayahan menahan keresahannya selama membayangkan pelukan Leeteuk dan Miho tadi, sekarang rasanya dia belum siap kalau harus melihat adegan itu dekat-dekat. Meski tak disangkalnya, melihat Miho adalah hal yang sangat dirindukannya.

Di kursinya, hati Miho berdebar-debar jauh lebih cepat dari biasanya. Rasanya dipenuhi antisipasi saat bertemu langsung dengan Eunhyuk. Dia pasti akan senang sekali melihat cowok itu saking kangennya, tapi dia tak mungkin membiarkan siapapun melihat perasaannya kan? Cowok itu kan milik Euncha. Ya ampun, hatinya sakit sekali mengingat kenyataan itu.

Eunhyuk sampai di hadapan Editor Sojin dan Leeteuk dan satu lagi orang yang tak dikenalinya. Dia menunduk meminta maaf lalu Editor Sojin menyuruhnya agar langsung dirias saja. Sebenarnya hati Eunhyuk waswas sekali kalau tiba-tiba berpapasan dengan Miho. Dia tidak yakin akan dapat menghadapi wanita itu dengan senyuman yang biasanya.

Miho mendengar suara Eunhyuk dekat sekali di belakangnya. Hatinya memohon dengan sungguh-sungguh, semoga Eunhyuk tidak melihatnya.

Eunhyuk merasa sedikit lega karena tidak melihat Miho. Apakah Miho sedang ke toilet? Dia tahu ini jahat, tapi dia berharap Miho tiba-tiba diserang rasa mulas sehingga harus berlama-lama di toilet. Dia lalu mengambil tempat di belakang Miho.

Keduanya duduk dengan punggung saling menghadap dan dada saling berdebar keras. Mereka ingin bertemu tapi tidak ingin bertemu. Mereka sangat ingin menuntaskan rasa rindu di hati masing-masing, tapi takut tak bisa menguasai emosi. Keduanya sama-sama mendapat keluhan dari periasnya bahwa wajah mereka sangat tegang dan sulit untuk dirias. Sebegitu tegangnya sampai tak menyadari bahwa mereka sudah begitu dekat.

^^^

Leeteuk berpose sendirian dulu. Beberapa gambar telah berhasil diambil. Lalu posenya bersama Yesung, lalu bersama Sungmin, lalu pose mereka bertiga. Selama itu pikirannya dipenuhi rasa gembira karena akan berada satu frame dengan Miho. Ya ampun, kenapa dia bisa sebahagia ini hanya untuk berpose bersama wanita cantik. Bukankah seharusnya dia sudah terbiasa dengan hal itu?

Tentu saja ini berbeda. Ini dengan Miho. Wanita yang beberapa hari terakhir ini membuatnya suram karena mereka tak bisa bertemu. Dari hal itulah Leeteuk menjadi yakin bahwa dia memang menyukai Miho. Perasaan ini masih bisa berkembang lebih besar lagi seandainya ada kesempatan. Dan Leeteuk sudah bertekad membuat kesempatan itu sejak tadi melihat Miho di restoran.

Dia akan menyatakan perasaannya pada Miho dan—jika diterima—akan membiarkan perasaannya makin dalam pada wanita itu. Leeteuk yakin itu bukan hal yang sulit. Sampai sekarang saja Miho sudah berhasil menguasai pikirannya. Leeteuk yakin kalau dia mengukuhkan hubungan mereka menjadi hubungan yang sebenarnya, dia akan benar-benar jatuh cinta pada Miho. Semoga saja Miho memiliki rasa yang sama untuknya.

Lalu datanglah saat-saat yang ditunggu Leeteuk. Kameramen mengatakan bahwa sekarang mereka bisa memasukkan Miho. Leeteuk hampir tidak bisa menahan rasa gembiranya.

^^^

“Miho ssi, kita mulai,” Sojin menyebutkan kata yang membuat Eunhyuk terkejut. Tadi dipikirnya editor itu mendatanginya untuk memberi tahu bahwa sekarang waktunya Eunhyuk berpose, ternyata wanita itu justru memanggil nama lain. Nama yang membuat jantungnya serasa meloncat keluar.

Eunhyuk mendengar di belakangnya ada suara kursi bergeser dan suara langkah kaki yang sangat dikenalnya. Tadi Eunhyuk berpikir bahwa model di belakangnya memiliki cara berjalan yang mirip dengan Miho ketika wanita itu berganti baju, tapi sekarang hatinya mengatakan bahwa itu memang Miho meski matanya belum melihat sosok yang sebenarnya.

Lalu tampaklah wanita itu. Bergaun pendek putih melambai, sepatu bertali feminin yang tidak terlalu tinggi, dan ketika matanya sampai di wajah wanita itu, Eunhyuk harus menggenggam alas kursi yang didudukinya agar tidak meloncat memeluk Miho. Yang sudah berubah menjadi luar biasa cantik.

Segala perasaan membuncah dalam diri Eunhyuk dan Miho saat pandangan keduanya bertemu. Hampir saja Miho mengulurkan tangannya hendak memeluk Eunhyuk seperti yang sering kali jadi kebiasaannya kalau mereka sudah beberapa saat tidak bertemu. Untung Sojin berdiri di sebelahnya sehingga dia tidak kehilangan kontrol dirinya. Seulas senyum untuk Eunhyuk dipaksakan Miho sebelum pergi mengikuti Sojin ke spot pemotretan.

Memandangi punggung Miho yang menjauh, Eunhyuk bertanya pada periasnya kenapa Miho ada di sana dan dirias. Perias itu menjelaskan konsep dadakan Sojin dan Eunhyuk langsung ingin melempar kursi yang didudukinya ke belakang. Mereka hanya pasangan palsu! Teriak Eunhyuk dalam hati.

Miho melangkah agak gemetar mendekati Leeteuk. Bukan pemotretannya yang membuat dia gugup, tapi keberadaan Eunhyuk. Dengan pasrah dia menyadari bahwa tidak bertemu muka dengan Eunhyuk adalah mustahil, tapi tetap saja hatinya bergetar karena rindu dan pedih melihat cowok itu. Dia hanya berharap dia tidak mengacaukan pemotretan ini karena emosinya sedang sangat buruk.

Sebaliknya, Leeteuk tersenyum lebar sekali begitu melihat Miho. Wanita itu cantik, tentu saja. Tapi bukan hanya itu. Wanita itu bersinar. Dia seorang dewi, pikir Leeteuk. Seorang dewi yang istimewa. Mungkin dia akan mengakhiri hari ini dengan mengungkapkan perasaannya. Perasaannya sangat meluap-luap saat ini.

Miho melihat senyuman Leeteuk dan merasa bahwa pemotretan ini akan baik-baik saja. Dia memang gelisah, tapi Leeteuk tampaknya sedang dikelilingi malaikat hari ini. Pembawaannya ceria, penuh senyum dan membuat suasana pemotretan jadi tambah ceria.

Akhirnya mereka berdua melakukan apa yang diminta oleh kameramen. Tak ada adegan mereka berdekatan. Miho benar-benar hanya menjadi latar belakang, tapi tak pernah jauh dari Leeteuk. Sudah lama dia tidak melakukan pemotretan, dan melakukannya lagi terasa menyenangkan. Dia harus berterima kasih pada Leeteuk karena telah membawanya ke sini. Perlahan-lahan mood Miho terangkat dan mulai terbawa oleh keceriaan Leeteuk.

Di satu tempat, Eunhyuk memandangi keduanya dengan pandangan menusuk. Tak ada yang menganggapnya aneh karena memang riasannya difokuskan pada daerah mata. Dengan eyeliner tebal, Eunhyuk bisa memelototi siapapun tanpa ada yang menganggapnya sedang marah, melainkan hanya efek dari make up. Eunhyuk senang melihat Miho bisa tersenyum dan tampak bersenang-senang, tapi dia masih tak bisa menyingkirkan rasa tak rela saat melihat itu dilakukan untuk mendukung Leeteuk.

Eunhyuk sangat putus asa. Leeteuk hyungnya. Dan Eunhyuk tidak senaif itu sampai tidak bisa melihat pandangan memuja Leeteuk pada Miho. Kapan sih hari ini akan berakhir? Dia benar-benar tak ingin melihat ini semua.

^^^

Pemotretan sudah hampir selesai ketika seseorang datang. Saat itu Eunhyuk sedang berpose sendirian, dan wanita yang datang itu mengatakan bahwa dia teman Eunhyuk. Awalnya dia tidak diperbolehkan masuk, tapi untungnya Yesung melihat wanita itu dan langsung menghampirinya, “Kamu adiknya Miho, kan?” tanyanya begitu dia meyakinkan kru bahwa Euncha bukan fans nekat.

Euncha mengangguk kemudian memperkenalkan diri pada Yesung.

“Noona baru saja selesai dipotret. Mungkin sekarang sedang ganti baju,” Yesung mengedarkan pandangan, “Eh, sepertinya tidak. Itu, Noona sedang duduk di sana,” kata cowok itu menunjuk tempat Miho duduk di sebelah Leeteuk.

Euncha mengucapkan terima kasih, lalu bersama-sama mereka mendekati Miho dan Leeteuk. Saat sudah di dekat Miho, Euncha mencolek bahunya.

Miho menoleh dan terkejut menatap Euncha berdiri di belakangnya. “Eunchanie… kok di sini?”

Euncha menyapa Leeteuk lalu menjawab Miho sambil tersenyum lebar, “Diundang Eunhyuk Oppa. Dia nawarin untuk ngeliat pemotretan. Eh, perasaan tadi Eonnie ga pake baju ini deh,” Euncha mengamati penampilan kakaknya.

“Iya, aku disuruh jadi model tambahan. Lho, kok kamu tahu aku tadi ga pake baju ini?” Jadi Eunhyuk mengundang Euncha, pikir Miho kacau.

“Kan aku tadi di bawah ngeliat Eonnie naik ke atas sama Leeteuk Oppa,” katanya sambil melemparkan senyum pada Leeteuk yang membalas senyumnya.

“Eunchanie, wasseo?” suara Eunhyuk terdengar dari arah samping.

Euncha menoleh dan tersenyum, “O. Waah, Oppa, kau keren sekali! Garang deh!”

Eunhyuk tersenyum malu mendengar pujian Euncha. Hati Miho berdenyut sakit melihatnya. Eunhyuk bertanya lagi, “Lho kok sendirian?”.

“O. Tadi Oppa tiba-tiba mendapat telepon dari lab.” Euncha lalu menoleh ke arah Miho, “Tadi juga ada Jihoon Oppa, lho.”

Di sebelah Miho, Leeteuk memprotes, “Euncha, kenapa cuman Eunhyuk yang keren? Apa aku ga keren?”

Euncha tertawa kecil, “Iya, Oppa juga keren.”

“Geureom naneun?” Yesung ikutan minta dipuji.

Euncha menjawab bahwa semuanya keren, hanya dia sendiri yang gembel, membuat semua jadi tertawa. Akhirnya mereka malah bercanda. Suasana tampak hangat dan akrab. Apalagi setelah Sungmin bergabung dengan mereka. Mereka saling melemparkan gurauan. Meski Miho dan Eunhyuk sama-sama saling tidak mau menatap.

Tiba-tiba, “Jogiyo…” suara seseorang terdengar dari samping Miho. Wanita itu menoleh dan melihat kameramen menatapnya ragu.

Euncha dan yang lain masih bercanda, tidak terlalu memperhatikan kameramen, sebab laki-laki itu juga tampak tidak ingin terlalu mencolok sudah memanggil Miho. Hanya Eunhyuk yang benar-benar memperhatikan sang kameramen. “Miho ssi, Go Miho, majjyeo?”

“Ne,” Miho menjawab sambil tersenyum bingung.

“Maaf kalau saya salah, tapi dulu anda seorang uljjang kan?”

Euncha dan Eunhyuk langsung awas mendengar pertanyaan itu, sementara Miho kini tegang. Sudah lama dia meninggalkan dunia model, kenapa sekarang ada yang mengungkit-ungkitnya? Kini Leeteuk, Yesung dan Sungmin ikut mendengarkan. Ini berita baru bagi mereka.

“Anu, bukan ya?” si kameramen jadi salah tingkah sebab yang ditanya tidak bereaksi sementara yang lain justru menatapnya dengan penasaran.

Miho tersenyum. “Itu kan dulu sekali,” katanya mencoba mengarahkan topik itu menjadi topik yang pendek.

Ternyata strateginya salah. Kameramen itu justru berbinar dan langsung mengambil kursi di sebelah Miho. “Wah! Anda ke mana saja? Kami mencari-cari anda sejak pemotretan malam musim gugur waktu itu lho. Anda ingat saya tidak? Saya waktu itu masih asisten kameramen. Padahal setelah itu majalah kami hendak mengontrak anda secara eksklusif, tapi saat kami menghubungi anda, tiba-tiba saja anda tidak bisa dihubungi. Saya senang sekali sekarang bertemu anda lagi. Apa anda masih berkarier di dunia model?”

Miho kelabakan mendengar semua pertanyaan itu. Dia menggaruk kepalanya, kemudian mencoba bertanya untuk meyakinkan dirinya sendiri, “Hahaha, maaf, saya tidak mengenali anda. Tadi anda bilang anda ini siapa?”

“Anda tidak ingat? Akhir musim gugur sekitar 10 tahun yang lalu. Anda melakukan pemotretan di Dongdaemun untuk koleksi pakaian musim dingin. Saya asisten kameramen waktu itu.”

Akhir musim gugur, waktu yang dibenci Miho. 10 tahun lalu, adalah selang masa yang ingin dilupakannya. Dengan gugup dia menggeleng.

Tapi kameramen itu tidak memperhatikan perubahan di wajah Miho. “Itu lho, waktu itu sempat ada pemuda mabuk yang mengganggu anda—”

“Maaf, saya tiba-tiba harus ke toilet. Maafkan saya,” Miho langsung bangkit dengan wajah pias. Dia tidak ingin mengingatnya lagi. Kenapa orang itu menyebut-nyebut hal itu. Kenapa? Dimana toiletnya? Kenapa tempat ini membingungkan sekali?! Ya Tuhan, kenapa orang itu mengingatkannya? Tak bisakah dia diam saja?!

Miho berjalan dengan limbung menuju pintu keluar. Padahal sebenarnya di kamar itu ada toilet, tapi dia hanya ingin pintu keluar. Dia harus keluar dari ruangan itu.

Di belakangnya orang-orang yang tadi bercanda dengannya tampak kebingungan kecuali Eunhyuk yang ikut berwajah tegang. Euncha sudah berjalan mengikuti kakaknya setelah berpamitan pada yang lain. Dia berlari kecil menyusul kakaknya menuju pintu keluar.

Tak lama kemudian gadis itu masuk lagi dan berdiri di pintu sambil memandangi Eunhyuk yang juga sedang memandangi pintu dengan khawatir. Tatapannya memelas. Eunhyuk langsung tahu ada yang tidak beres. Segera dia bangun dan berjalan keluar.

Leeteuk tidak melihat Euncha, tapi dia menyadari gelagat Eunhyuk yang tiba-tiba menjadi tegang. Instingnya mengatakan untuk mengikuti Eunhyuk, jadi dia menurutinya.

Begitu sampai di luar, Eunhyuk melihat apa yang membuat Euncha tampak panik. Miho sedang berjongkok menghadap dinding. Wanita itu tidak bergerak sama sekali. Tubuhnya melingkar dan tegang. Kedua lengannya memeluk lutut. Yang pertama dilakukan Eunhyuk adalah memanggil namanya. Karena Miho tidak merespon, Eunhyuk akhirnya ikut berjongkok di sebelahnya dan menyentuh lengan Miho pelan. “Miho-ya, gwaenchanha. Ini Eunhyuk.”

Miho mengangkat kepalanya begitu mendengar suara Eunhyuk. Matanya mencari sosok Eunhyuk meskipun Eunhyuk tepat di hadapannya. Lalu Eunhyuk menyentuh kulitnya, dan Miho langsung menemukan cowok itu dalam pandangannya. Serta-merta tangannya terulur dan dia memeluk Eunhyuk erat sekali. “Eunhyuk…” panggilnya bergetar.

Begitu tangan Eunhyuk melingkari bahunya, air mata Miho meleleh. “Eunhyuk… Eunhyuk…” dia terus memanggil nama cowok itu, sementara Eunhyuk semakin mengetatkan pelukannya. Perlahan ditariknya Miho agar berdiri. Dan setelah posisi mereka nyaman, dia membiarkan Miho membebankan seluruh beban tubuhnya padanya. Dengan penuh kasih dibelainya rambut Miho perlahan. “Gwaenchanha, tidak akan ada yang terjadi. Gwaenchanha…” bisik Eunhyuk menghibur Miho yang terisak-isak.

Di pintu, Leeteuk melihat semuanya. Rasa bahagianya menguap seketika.

-cut-