Well, bisa dibilang kalo ini adalah fantasi diatas fantasi~ hahaha~

Ini cuma khayalan aku doang yang ga tega liat abang ichul jadi lelaki termalang di Korea ;( jadi sebisa-bisanya aku bikin dia hepi ending disini! meskipun insting aku kalo liat poto dy bawaannya pengen angst mulu! Mwahahah #dihajar

Sebaiknya kalian baca dulu ff ini ye.. haetoria scene. Ok?!

http://www.asianfanfics.com/story/view/1027/you-said-remember-me-donghae-drama-eunhyuk-korean-romance-victoriasong

Karena saya pengen selalu ngeksis, jadi  saya nyempilin diri disini~ wkwkwk, aslinya di ff itu ga ada saya T______T

***************************************

Dan pada akhirnya, dia meraih kebahagiannya bukan denganku. Memang sudah nasibku menjadi bayangan seorang Philip song, dan selamanya hanya akan seperti itu. Haah…. Dia mengingatku saja, sudah merupakan keajaiban besar. Setidaknya menyelamatkan dia dari stalker psikopat dan mengorbankan perutku –meniggalkan sobekan akibat pisaunya- tentu saja bisa membuatnya mengingatku selamanya. Hanya sebagai orang yang telah ditolaknya, dan sebagai teman yang sangat-sangat tulus melindunginya.

Akan ku patahkan leher si investigator baru itu- Lee DongHae-  jika dia menyakiti hatinya. Victoria. Victoriaku, memanggilnya seperti itu… hanya di mimpi tentu saja.

Pintu kamar inapku terbuka. Orang yang aku harapkan kedatangannya tentu saja dia, tapi ternyata bukan.

“Annyeong Kim Heechul sshi!” Seorang yeoja dengan rambut bergelombang kecoklatan menghampiriku dengan sekeranjang buah-buahan. Aku rasa, aku tidak perlu tersenyum padanya. Lagipula aku tidak mengenalnya.

“Aku Park Eun Chan, investigator baru menggantikan Lee DongHae yang sekarang bertugas tetap di Seoul. Ia bertugas tetap disana setelah menikah dengan pacarnya. Aigoo! Kemarin aku berkenalan dengan mereka berdua, mereka benar-benar pasangan serasi! Victoria sangat cantik, dia juga tampan! Hahaha”

Apa-apaan dia? Anak aneh! Baru beberapa menit bertemu denganku sudah berbicara panjang lebar seperti itu? Astaga!

Yah… mereka memang sudah menikah. Anak itu –Lee DongHae- benar-benar main-main dengan kata-katanya. Aku masih ingat senyuman bodonya –yang membuatku ingin mencekiknya- saat dia bilang padaku bahwa ia akan menikahinya besok jika wanitanya –yang sialnya itu adalah Victoria- siap menikah dengannya sekarang.

“Pergi.” Kataku padanya. Berkebalikan dengan apa yang aku perintahkan, si bodoh itu malah mengambil kursi, dan duduk di sebelahku sambil mengupaskan apel untukku. Cara mengupasnya yang aneh, -memperlihatkan bahwa dia sama sekali tidak pernah berurusan dengan alat-alat dapur- kadang membuatku sedikit meringis. Pisau itu bisa saja mengiris jarinya yang mungil.

“Hei! Kim heechul, kau dingin sekali! Hei, kita ini akan menjadi partner, bersikap baiklah padaku!”

“Yak! Berapa umurmu hah? Seenaknya saja memanggil namaku seperti itu! Apa? Kita akan menjadi partner? Lupakan. “

“Ahahaha, wajahmu bodoh sekali saat marah seperti itu! Ini makan!” Katanya sambil menyodorkan potongan apel berantakannya padaku. “Kau… sama sekali tidak mengingatku?”

Apa katanya? Mengingatnya? Aku baru melihatnya beberapa menit yang lalu. Lagipula ingatanku ini sangat panjang, tidak mungkin aku melupakan orang-orang disekitaku dengan mudah.

Oppa… kau sudah membaca suratku? Aku menyukaimu. Yah, aku tahu ini kuno. Tapi aku tidak tau apa yang harus aku lakukan” katanya sambil mengupas apel lagi.

                Oppa…

                Oppa….

                Aku menyukaimu.

“KAU?!” apa yeoja ini dia? Tidak mungkin dia! Aku  masih ingat jelas, saat ia berdiri di depanku  dengan kacamata tebalnya, badannya yang gemuk , sambil berkata ‘nan… noumu choae…’.

Aku meninggalkannya, dan kembali menjadi bayangannya Philip Song, agar aku tetap terus bisa ada di dekatnya, Vickoriaku.

“Apa? Kau mengingatku? Aku tahu otak jeniusmu masih bekerja dengan baik.” Nada bicaranye terlalu tenang. Sama sekali tidak mengisyaratkan adanya keterkejutan.

“Ini gila! Apa ini benar-benar kau?  Kenapa kau bisa bekerja disini? Setahuku kau mengambil beasiswamu di Manhttan. Jadi aku kira kau bekerja disana.”

“Hm.. mulanya aku memang bekerja disana, tapi entah kenapa aku bisa disini sekarang. Takdir mungkin?” Katanya enteng. Dia menatap jam tangannya, lalu beranjak dari kursi. “Aku tahu di otakmu hanya ada Victoria eonni… tapi dia sudah nememukan takdirnya sekarang. Bukalah matamu. “ Lalu dia pergi.

Dia menyuruhku… membuka mataku?

****

                “Kim Heechul! Aku datang!”

Dia datang saat aku sedang mengotak-atik kamera mahalku.  Benda yang paling aku cintai, karena aku adalah photographer criminal, Kim Hee Chul.

“Hei, ternyata jadi investigator itu menyenangkan ya? Aku kira tugas-tugas menyenangkan itu hanya ada di novel-novel thriller! Hahaha!”

Dia terus bercerita dengan senyuman diwajahnya. Mulutnya terus berkoar sambil mengupas apel, dan akhirnya apel itu berubah menjadi buah berbentuk abstark.

“Kau tau, kadang hatiku bergetar saat melihat korban yang badannya sudah penuh darah. Si korban jatuh dari jembatan, karena tiang penyangga jembatannya rapuh. Terlihat seperti kecelakaan bukan?”

“Aku menyelidikinya selama tiga minggu, dan kau tahu? Ternyata si pelaku sangat jenius. Dia menyiram Cola di tiang jembatan itu setiap hari selama beberapa hari. Lalu menyuruh orang lain untuk mendorong korban ke tiang yang rapuh itu, lalu dia jatuh, dan terlihat seperti kecelakaan. Saat aku memecahkan kasus untuk pertama kali… rasanya seperti menjelma jadi Conan Edogawa! Hahaha”

“Heechul sshi… aku sudah empat hari berturut-turut kesini, berbicara denganmu, tapi kau sepeti tembok!”

“Ah, sudahlah! Err…. Mungkin ini terakhir aku main ke sini heechul sshi. Lagipula kau besok sudah boleh pulang kan? Dan aku juga ditugaskan ke Jepang untuk beberapa waktu.”

Aku tetap diam. Mungkin karena di otakku hanya ada seorang Victoria Song. Tapi aneh rasanya mendengar dia akan pergi bertugas ke Jepang.

“Kau… sudah berapa kali aku bilang, aku menyukaimu. Apa kau ingin membalikkan keadaanmu sebelumnya padaku? Kau yang menjadi Victoria eonni, dan aku yang jadi kau? Kau ingin membuatku jadi yeoja termalang di dunia juga?”

“Apa maksudmu? Jangan bawa-bawa Victoria dalam masalah ini. Aku tahu kau menyukaiku, tapi diotakku hanya ada Victoria. Puas?”

****

                Eun Chan POV

Jujur sekali. Pikirku.

Inilah Kim Heechul. Mengatakan apa yang ada di otaknya, tidak peduli lawan bicaranya itu namja atau yeoja. Aku sudah menduga kalimat itu akan keluar dari mulutnya, sebelum dia mengatakannya. Karena menurutku, diamnya itu lebih menyentak daripada kalimat barusan.

“Tuan Kim, aku tahu, aku tahu. Bahkan saat kau diam pun kau seolah berteriak lantang padaku.” Desisku santai. Pura-pura santai tepatnya. Mungkin jika mentalku masih lembek seperti beberapa tahun lalu, aku akan meninggalkannya, dan menangis sesegukan di WC. (saya: oh ok, ini lebe)

“Pergilah, kau hanya menggangguku. Suara cemprengmu itu tiap hari mengganggu telingaku. Aku di rumah sakit ingin tenang, bukannya mendengarkan celotehanmu yang memuakkan itu.”

Silet kasat mata itu menggores hatiku. Lagi.

“Baiklah, aku pergi, aku pergi.” Kataku sambill beranjak dari bangku yang mendadak jadi panas itu, “ Sayang yah… penyesalan itu datangnya terakhir.” Kataku sambil tersenyum sinis padanya, sedangkan dia juga tersenyum seribu kali lebih sinis padaku.

Satu langkah lagi ke depan pintu, aku merubah pikiranku. Aku tidak mau dia hilang dari jarak pandangku lagi. Harus ku akui bahwa saat aku tidak bisa menatapnya, kondisi kejiwaanku terancam.

“Kim Heechul sshi! Aku tarik kata-kataku tadi! Aku tidak akan pergi kemana-mana! Akan ku pastikan kau melihatku setiap harinya! Tidak peduli kau mual setiap melihatku, kau akan terus ada di jarak pandangku. Camkan itu baik-baik.” Aku menarik nafas panjang, “Aku tidak akan minta maaf karena harimu yang tenang hilang karenaku.”

Karena suatu saat kau akan merindukannya, dan ketika aku tidak ada,pecahan keping hatimu juga akan menghilang satu.

****

Kim Heechul POV

“Kim Heechul sshi! Aku tarik kata-kataku tadi! Aku tidak akan pergi kemana-mana! Akan ku pastikan kau melihatku setiap harinya! Tidak peduli kau mual setiap melihatku, kau akan terus ada di jarak pandangku. Camkan itu baik-baik.”

Aku ternganga saat mendengar ucapan gilanya tadi. Aku tidak bisa membalas kata-kata tidak masuk akalnya tadi karena sedetik setelah dia mengatakan kalimat laknat itu, dia menghilang dibalik pintu.

Oh, oke. Mungkin setelah menghadapi stalker psikopat, aku juga harus menghadapi yeoja bodoh yang satu itu. Sepertinya aku harus meminta seseorang membawakan i-Pod ku di rumah. Setidaknya dengan itu, aku tidak akan mendengar ocehan bodohnya lagi.

****

Percaya atau tidak, hari ini aku menunggu kedatangannya. Aku sendiri tidak percaya bahwa aku akan menunggu kedatangannya, tapi memang begitulah kenyataannya. Hari ini, Kim Heechul sedang melihat ke jendela, menunggu yeoja berisik yang mencintainya setengah mati itu datang, dan memenuhi janjinya tempo hari, bahwa aku akan terus ada di jarak pandangnya.

Konyol? Sangat.

Menjijikan? Ah, sepertinya aku ingin muntah.

Tidak mungkin aku mencintainya dalam waktu empat hari, dengan keadaan otak yang penuh dengan nama Victoria.  Aku hanya…astaga! Kenapa sulit sekali mencari kata-kata yang tepat?

Aku hanya…membutuhkannya! Ya benar! Aku membutuhkannya untuk sekedar menghancurkan rasa kesalku.

Drrrt… Drrrtt….

Chief Kang calling’

“Yobseo?”

“Aaa… heechul sshi! Kau sudah bisa keluar dari rumah sakit sekarang ‘kan? Tolong secepatnya kau datang ke sini. Ini darurat!”

Victoria. Stalker. Lee Donghae. Ketiga nama yang langsung ku terlintas dari otakku saat mendengar kata ‘darurat’.

“Apa yang terjadi?”

“Park Eun Chan, investigator baru itu di tikam si stalker  itu saat ia mencoba menyelamatkan Victoria. Karena dia tidak bisa mendapatkan Victoria, sebagai gantinya dia membawa pergi Eun Chan.”

Sial.

Aku membanting handponeku, menarik paksa jarum infusku –yang anehnya tidak terasa sakit-

Untuk pertama kalinya, aku memikirkan wanita lain selain Victoria. Tawa bodoh gadis itu menghantui otakku saat ini. Apa dia masih bisa tertawa sekarang?

****

                “Aku lihat dia… menyuntikkan semacam cairan pada tengkuk Eun Chan.” Victoria menceritakan apa yang ia lihat terakhir kali saat bersama Eun Chan. Matanya, menandakan jiwanya sudah pergi entah kemana.  Dia nyaris seperti mayat hidup.

“Heechul! Lama-lama aku bisa gila!” Dia berteriak frustasi sambil menjambak rambutnya keras-keras. Seketika itu Donghae menggenggam pergelangan tangannya, lalu memeluknya. Memberikan sisa energy yang dia punya.

Tapi anehnya adegan seperti ini sama sekali tidak menggubris hatiku seperti sebelumnya.

Wajar jika Victoria frustasi sekarang. Sudah beberapa kali ia melihat temannya terbunuh, dan melihatku nyaris terbunuh juga di depan matanya.

“Jadi, setelah menikamnya, dia menyuntikkan cairan aneh ke tengkuk Eun Chan?” Tanyaku penasaran. Jauh di dalam hatiku, aku harap Victoria menggeleng tidak. Tapi yang ada dia hanya mengangguk lemah dengan mata sembabnya.

Park Eun Chan POV

“Eun Chan sshi, akhirnya kita bertemu lagi.”

Rasa sakit masih masih berkecamuk di perutku. Tadi namja ini sempat menikamku dengan pisau kecil. Aku harap hal ini tidak berpengaruh pada organ dalamku. Aku masih ingin hidup.

PLAAK!

Tamparan keras menerpaku, dan membuat telinga kananku bedenging.

“A…”

APA-APAAN KAU! Teriakku dalam hati. Kemana suaraku?! Aku sama sekali tidak bisa bicara!

“Kau tidak bisa melawanku. Sepertinya obat yang aku suntikkan sudah mulai bereaksi.” Gumamnya sambil berdehem ringan. “Obat itu bisa melumpuhkanmu untuk sementara, tapi tadi aku memberikanmu sepuluh kali lebih banyak daripada dosis yang seharusnya. Dengan otakmu itu, mungkin kau tahu apa yang akan terjadi.” Katanya sambil menenteng botol obat yang sangat kecil, sepertinya itu obat yang dia suntikkan padaku.

Obat itu, dengan dosis sebanyak itu…bisa melumpuhkanku seumur hidup. Kenapa kau tiak membunuhku saja?

“Aku tidak membunuhmu karena aku ingin kau melihatmu menderita.” Katanya seperti bisa membaca pikiranku. “ Kau, ini sudah ketiga kalinya kau menghancurkan momenku bersama Victoria!”

“Kau adalah gadis yang sama-sama dirawat di rehab di Hang Zhou dulu ‘kan? Aku mash bisa mengingatmu dengan jelas.”

Aku diam. Ingin meninjunya, tapi seluruh tubuhku sama sekali tidak bisa digerakkan.

“Kau terkena depresi berat karena pembantaian yang menewaskan seluruh angora keluargamu. Kau kehilangan kakakmu, adikmu, orang tuamu. Tak ada satupun kerabatmu yang mengakuimu. Hanya tetangga baik hati yang membawamu ke pusat rehab.”

“Kau menggagalkan usahaku pada malam itu, lalu melaporkannya ke kepala rehab, lalu sekarang kau menghalangiku memiliki Victoria!” Katanya membentakku dengan penuh emosi, lalu menempelkan ujung pisau kecilnya ke rahangku.

Aku mengingatnya. Dia orang yang aku temui saat di rehab. Aku menggagalkan rape attempt nya terhadap seorang gadis, yang aku baru tahu sekarang kalo gadis itu adalah Victoria eonni.

Dia menggesekkan sisi tajam pisau itu sepanjang lenganku. Aku memejamkan mataku, dan beberapa saat kemudian terdengar suara-suara ribut disini. Aku masih memejamkan mataku karena rasa sakit di lenganku, dan tusukan yang ia berikan di perutku rasanya semakin menjalar.

Dan aku merasakan seseorang mendekapku, seolah tidak ingin aku mati. Aku mengenali wangi tubuhnya, kulit pipinya yang menempel di daun telingaku. Segalaku. Kim Heechul.

“Kau bilang, kau akan membuatku terus ada di jarak pandangmu bukan? Tepati janjimu.”

Suara itu terdengar sedikit bergetar di telingamu. Rasanya menyenangkan saat orang yang kau cintai sepenuh hidupmu masih  berharap kau bernafas di dunia ini.

****

                Aku masih tidak percaya apa yang aku lihat sekarang ini. Yeoja ini, baru dua hari yang lalu dia berceloteh panjang lebar. Sekarang yang aku temui hanya seorang yeoja cantik yang tertidur sambil menatap jendela kamar rumah sakit. Yeoja yang mulai aku cintai ini lumpuh. Dia sama sekali tidak bisa menggerakkan kaki ataupun tangannya. Aku tersenyum padanya lalu membenarkan posisi tidurnya jadi setengah duduk. Hanya mulutnya yang tersenyum, dan eye smile-nya yang membuatku terpesona. Kenapa aku bisa menyia-nyiakan dia? Apa otakku sebegitu bodohnya?

“Dokter Kibum bilang, bahwa kau masih bisa sembuh dan kembali normal. Hanya saja dia tidak tahu kapan tepatnya.”

DIa mengedipkan matanya, dan tersenyum seolah dia sudah mengetahuinya.

“Dan kau tahu, sekarang aku mulai menyukaimu Eun Chan.” Dia membelalakkan matanya, seolah tak percaya. Sedetik kemudian, wajahnya murung, dan kembali menatap jendela.

“Aku akan menunggumu sampai kau sembuh. Aku akan menjadi tanganmu, kakimu. Kau tidak perlu berbicara dan bilang saranghae padaku, karena aku sudah tahu pasti.”

“Let’s began our new drama!” Kataku sambil meninggalkan kecupan lembut di keningnya. Aku merasakan pipinya berair. Yeojaku ini menangis terharu sepertinya.

****

HWAHAHAHA ini hepi ending bukan kategorinya? Wkwkwk

Au ah gelap, yang pasti, aku udah masukin apa yang ada di otak aku. Dan emang sesuai perkiraan, aku ga bisa nulis lebih dari tujuh atau delapan lembar. Oiya, kalo males baca haetoria nya (yah… mungkin banya yang males karena caphternya yang sangat mengguncang jiwa /halah) baca aja review nya di pendahuluan season 2 nya tuh! Hahaha~

ung… aku tahu ff aku jelek, tapi plis, jangan di plagiat. Author” favorit aku sering jadi korban, mungkin karena mereka terlalu hebat, dan karena saya parno, jadi yah.. saya juga ikut-ikutan ngusir plagiator. Hahaha~, dan… komen kalo kamu emang pengen komen, kalo emang di terlalu jelek buat dikomen, atau kalian emang ada di keadaan yang sangat tidak memungkinkan buat komen, it’s ok .oiya tolong koreksi kalo ada tanda baca yang salah, atau apapun itu! I’m learning. oiya, ff haetoria yang aku rekomendasiin bukan buatan aku ya! mana mungkin aku bisa bikin ff b.ing sekeren itu?! hastagaah! n, thx for read this ugly (?) fanfic~ ohohoho~