Masih ingat ff ku yang judulnya Honey Flower ??? waktu itu aku janji mau bikin sekuelnya kan, nah ini dia sekuelnya. Maafffff lama bikinnya, butuh inspirasi. Hehe. Oh ya kalo di cerita sebelumnya kan semua ceritanya Real, benar-benar aku adaptasi dari komiknya, nah yang ini beda. Yang ini asli dari imajinasiku sendiri. Hehe
Setelah membaca jangan lupa di like-like atau dikomen-komen lah ya !!
Oh ya kalo nemu ada penulisan yang salah atau kata-kata yang kurang enak silahkan tinggalkan di komentar.
Ga lupa juga aku ucapkan makasi banyak buat yang udah baca cerita sebelumnya n sabar/setia nunggu kelanjutannya. Bagi yang belum ngikutin dari awal ff ini silahkan baca ff sebelumnya, OK.
Selamat membaca, gomawo ^^

Tittle : Honey Flower season2 (Sakura In Love)
Cast : Super Junior’s Choi Siwon , Chitose (as yourself)
Genre : Romance Love
Type : OneShot
Author : Yen Yen Mariiti

“Kau tau Ohanami ?” tanya Tuan Muda Siwon saat aku berada di kamarnya, melipat pakaian-pakaiannya.
“Ohanami? Tentu saja aku tau. Ohanami adalah festival melihat bunga sakura yang dilakukan setiap tahunnya oleh warga jepang.”
Tuan Muda mengangguk mengerti. Entah sudah yang keberapa kalinya aku tersenyum…hatiku tersenyum… melihat wajah itu. “Pasti sangat menyenangkan. Apa di Korea juga ada yang seperti itu?”. Matanya membulat. Itulah yang selalu terlihat saat Ia penuh dengan rasa penasarannya.

Lagi-lagi, aku tersenyum karenanya. “Tentu saja ada, di Korea festival melihat bunga sakura disebut ‘Beotkkot Chukkce’. Setiap tahun kami melakukannya, itu sangattt menyenangkan.”
“Aku juga ingin ikut. Kapan ?” serunya cepat.
“Masi lama. Beotkkot Chukce dilakukan di pertengahan bulan April. Ini kan baru bulan Desember. Kuncup Sakura bahkan belum terlihat.” Kujawab pertanyaannya tepat dengan selesainya aku melipat pakaian-pakaiannya. “nahhh selesai…”
Tuan Muda Siwon mengubah posisi duduknya, hingga sekarang Ia benar-benar berada di hadapan kudan kami…. Sangat dekat…
“Nanti, jika Beotkkot Chukce tiba, kita pergi bersama ya…”
Glek ! aku menahan ludah dengan susah payah. Wajah kami semakin dekat… dan Tuan Muda membungkus erat kedua tanganKu dengan tangannya yang besar dan hangat.
“hh… itu,” selalu saja seperti ini. Aku gugup hanya dengan tatapan teduh dari matanya. Aku gugup hanya dengan suara riangnya yang menyapa telingaKu. Aku gugup hanya dengan sentuhan lembut yang kudapat darinya.
“Chitose, kau kenapa?”
“hhh.. aku?? Ahh tidak apa-apa. Emhh Tuan Muda, sepertinya Jung Ahjumma memanggilKu. Aku harus pergi, sampai jumpa Tuan Muda.” Aku melepas cepat tangannya yang menyatu pada tanganKu, lalu melarikan diri seperti orang bodoh.


“Tuan Muda.” Kumasuki kamarnya setelah mengetuk pintunya terlebih dahulu. Kutemukan Ia tengah duduk bersandar pada kepala ranjang tidurnya, dengan selimut tebal yang menutupi kaki hingga pinggangnya, tangan kirinya memegang sebuah buku bacaan.
“saya mengantar bubur untuk Tuan Muda.” Kuletakkan nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih di meja berukuran sedang yang terletak di samping ranjangnya.
“Tuan Muda harus memakannya. Saya pegi dulu.”
“Tunggu!” tanganku ditahan, olehnya…
“ehh??”
“Duduk !” pintanya, namun terkesan memerintah. “apa kau tidak dengar hah ? aku kan memintamu untuk duduk !”
Untuk pertama kalinya, Tuan Muda Kami berbicara dengan nada tinggi. Atau mungkin… aku saja yang baru mengetahuinya.
Kuturuti. Duduk di tepian ranjangnya, tangannya masih menahan tanganKu. “Tuan Muda, ada apa?”
Dapat kulihat, tatapan matanya menjadi tajam. Rahangnya mengeras. Dan untuk pertama kalinya juga, aku melihat ekspresinya yang seperti ini.
“kenapa kau masih memanggilKu seperti itu?”
“ehh?”
“PABO! Aku kan sudah bilang jangan bersikap formal padaKu. Aku tidak suka !”
“Tapi, itu memang sudah menjadi kewajibanKu sebagai seorang pelayan. Lagipula, mana boleh aku bersikap informal padamu. Apa yang akan orang-orang katakan nantinya?”
“di sini kan hanya ada kita berdua! Kau ini pacarku atau bukan sih ? bersikap seperti itu saja tidak mau.”
Aku tertunduk. Apa iya aku ini pacarnya ? apa iya ??
“aishhhhh!!” Ia memelukku. Meski mulutnya terus meracauiku.
Deg—Deg— mulai lagi. Jantungku menjadi abnormal karena perlakuannya ini. Salah satu tangannya membelai puncak kepalaku.
Meski aku tidak membalas pelukannya.. tapi pelukannya, terasa sangat nyaman, lembut , dan…hangat. Mengalahkan dinginnya hujan salju di bulan ini.
“sekarang sudah bulan Februari,” ucapnya dengan nafas hangatnya, yang bisa kurasakan dapat mmembuat telingaku nyaman. “itu berarti kita hanya perlu menunggu sekitar dua bulan lagi untuk Beotkkot Chukce.”
Sejak pertama kali aku bercerita padanya tentang Beotkkot Chukche, setelah hari itu Tuan Muda kami setiap harinya terus menantikan Bom datang. **Bom = Musim Semi dlm b.korea**
“Aku tau.” Jawabku singkat, disertai dengan bibirku yang melebarkan senyum.
Ia melepaskanku dari dekapan hangatnya. Tersenyum seperti biasa.. membuat jantungku abnormal.
“aku tidak sabar ingin pergi denganmu.” Seketika hatiku rasanya jatuh ketempat serendah-rendahnya, sehina-hinanya. Apa pantas ?? aku, hanya seorang pelayan. Pergi bersamanya di hari indah itu. Apa pantas ??
“Wae ?? kau merasa tidak pantas ? malu ? kau tidak mau ? sampai kapan kau akan tetap menjadi seperti ini ?!” didengar dari intonasinya, sepertinya Ia sedang marah padaku.
Aku tidak ingin membuatnya dalam keadaan hati yang tidak baik, “tidak. Kita… akan pergi.” Seulas senyum khusus kuperlihatkan padanya.


Angin berhembus pelan, menggelitik seluruh makhluk. Baik itu hidup, maupun tak hidup. Rerumputan yang basah akibat embun pagi menimbulkan aroma yang khas. Burung bercicit-cicit dengan riangnya, tak kalah dari kupu-kupu yang terus berterbangan dari kelupak bunga yang satu ke yang lainnya. Semua tampak sangat sempurna, karena sekarang adalam Musim Semi.

Dengan rapi, aku menata macam-macam kue ringan ke kotak makan siang. Seperti kue beras, tteok, Chapssalteok, dan Yughwa. Tidak lupa pula dua botol anggur beras asli.
Semuanya sudah siap, kumasukkan bekal kami ke dalam keranjang berukuran sedang.

Kami berjalan bersamaan. Tapi kali ini rasanya berbeda. Entah Tuan Muda merasa atau tidak, namun aku bisa merasakan kecanggungan di sini, mungkin karena kali ini aku tidak berjalan di belakangnya melainkan di sampingnya. Sama seperti pasangan lainnya.

Kami tiba di daerah Yeouido. Suasananya sangat ramai, namun tampak sangat menyenangkan. Karena sekarang adalah pertengah April, jadi perayaan Beotkkot Chukce semakin diramaikan. Semua orang memilih duduk-duduk berhampar tikar di bawah pohon sakura, begitu juga dengan kami. Karena itu sangat indah.
Tuan Muda menghamparkan tikar yang kami bawa, dan aku menata makanan yang tadi kubawa.

“ini adalah pertama kalinya bagiku. Namun aku bisa merasakan kebahagiaan dari ini semua.” Aku tersenyum.. hanya dengan mendengar perkataannya. Aku bisa melihat semua itu dari senyum dan tatapan matanya. Ia sangat bahagia… “Gomawo,” tangan besarnya nan hangat menyentuh jemari-jemariku.
“tidak perlu berterima kasih seperti itu. Bukankah aku sudah berjanji akan membawamu ke sini ?” aku berusaha setenang mungkin. padahal hati dan jantungku berteriak-teriak karena perlakuannya.
“Chitose…”
“ne?”
Ia tersenyum lagi, semakin memppesona dengan dua pipinya yang berlubang indah. “neomu yeppeoso,” jemari kami masih bersatu. Dan tangannya yang satunya lagi beralih ke pipi kiriku, menyentuhnya dengan lembut dan hangat.
Detak jantungku semakin tak menentu setelah telingaku mendengar jelas apa yang baru saja dikatakannya, ‘Cantik’. Aku juga merasa begitu, dengan gaun putih selutut bermutif polkadot serta bolero berbahan bulu sewarna dengan bunga sakura, rasanya aku berubah dari seorang Pelayan yang kotor, menjadi seorang Puteri nan cantik.
“aku semakin menyukaimu.” Ia kembali mengungkap perasaannya.
Seiring dengan tatapannya padaku berlangsung, bunga-bunga sakura jatuh berguguran. Sekarang, seperti hujan sakura. Aku menarik sudut bibirku, tersenyum…bahagia…
Kutarik cepat tanganku dari Tuan Muda, menyatukan kedua tanganku. Posisiku berdoa, dengan mata tertutup, dengan penuh kekhusyukan.

“tadi itu kau melakukan apa?” tanya Tuan Muda setelah aku membuka mataku kembali.
“aku berdoa.”
“berdoa?”
“Iya. Kau tau mitosnya? Doa kita akan segera terkabul jika kita berdoa tepat di saat bunga sakura jatuh berguguran.”
“benarkah? Aku pikir doa yang paling didengar adalah di saat bintang jatuh.”
Aku terkekeh pelan. Ia terlihat semakin bingung.
“tapi ngomong-ngomong tadi…. Apa isi doamu ?” tanyanya lagi.
Aku sedikit ragu untuknmengatakannya. Namun kusadar. Aku tidak bisa menyembunyikan apapun darinya.
“aku berdoa agar aku tetap bisa merasakan bahagia seperti hari ini. Dan… aku juga berdoa agar aku tetap bisa bersama orang yang kucintai….bersamamu.”
Sesaat setelah aku mengatakan semua, Tuan Muda mendekatkan wajah kami. Jantungku semakin berdebar kencang. “aku juga punya permintaan seperti itu,” bisiknya pelan.
Hembusan nafasnya benar-benar terasa di wajahku. Tanpa ragu Tuan Muda semakin mendekatkan wajah kami.jantungku semakin berdebar kencang, Ia memejamkan matanya.
“aaa… Tuan Muda !!” kudorong tubuhnya sekuat-kuatnya agar menjauh dari wajahku.
“huh ! kau ini. Mau dicium malah teriak.” Ia terlihat kesal. Tidak ada yang bisa kulakukan selain mencoba agar detakan jantungku menjadi normal kembali.
Ia memelukku, hangat sekali… “aku tau kau pasti menolak yang tadi itu. Namun begitu, walau tidak di bibir, cukup di sini saja ya…” cupp~~ entah benar atau tidak bunyinya seperti itu. Tapi yang kutau pasti Ia mengecup dahiku. Mengingatkanku pada kecupan pertamanya dulu, yang persis di dahiku juga. Jadi, ini adalah kecupan yang kedua.
“tetaplah bersamaku, sampai kapanpun. Saranghae yeongwonhie, Chitose~~” belaian tangannya di kepalaku membuatku merasa semakin nyaman.

Tuhan, terima kasih banyak. Kau telah mengabulkan doa yang kupanjatkan. Semuanya sangat membahagiakan, semuanya sangat indah… indahh… bahkan lebih indah dari bunga sakura yang tengah berjatuhan.

-FINISH-


Sedikit penjelasan tentang kue-kue yang dibawa Chitose buat Beotkkot Chukce tadi.
-tteok, ini kue beras yang macam-macam warna dan macam-macam isi.
-chapssaltteok, ini sama aja dengan kue mochinya jepang. Di dalamnya di isi dengan pasta kacang manis.
-Yugwa, ini kue berasa yang pake goreng.

Mungkin akan ada sequel selanjutnya ^^ ditunggu yaa🙂

Jangan lupa add fb ku donkk Yen Yen Mariti (yenyenmariti@yahoo.com) kalo udh add jangan lupa inbox ya. Soalnya aku jarang konfirmasi permintaan, maklumlah banyak orang GAJE di fb. Just only for asianLovers ^^
See you ^^. Jeongmal Gomawoyo….~~~