Author : Stephanie Naomi (@msste94)
Title : You’ll Never Come Back
Length : One Shoot
Genre : Sad-Romance
Casts : Choi Minho (SHINee), Lee Taemin (SHINee), Im YoonA (SNSD), Choi Siwon (Super Junior), Bae Soon Hye (OC)

A/N : Annyeong readers🙂 Sebelum baca, sedikit cerita dulu mengenai FF ini. Jadi ide cerita FF ini adalah kumpulan dari ide banyak orang dan sebenernya mau dijadiin proyek film, tapi gagal😥. Jadinya, aku jadiin FF aja deh (dengan sedikit alur cerita yang berbeda, tetapi intinya masih sama). Langsung aja dibaca dan dikomen yah😀 Happy reading! ^^

***

Perempuan itu menghentikan langkahnya, membuat lelaki disampingnya pun berhenti berjalan.

“Kau sebaiknya pulang saja.” ucap perempuan itu dengan lembut.

Lelaki itu memandang perempuan itu curiga, “Hm? Wae? Aku antar kau sampai rumah.”

“Tidak perlu. Sepertinya sebentar lagi hujan, sebaiknya kau pulang duluan. Lagipula rumahku sudah dekat.” jawab perempuan itu, meyakinkan kekasihnya yang masih bersikeras untuk mengantarnya pulang sampai rumahnya.

“Kumohon… Sekali ini saja…” perempuan itu melanjutkan ucapannya, seraya menatap dalam mata pasangannya.

Akhirnya, lelaki itu menyerah, “Baiklah. Aku pulang duluan…” lalu ia pun mencium kening perempuan itu dengan lembut. Perempuan itu hanya tersenyum manis.

Lelaki itu pun berjalan, dan sebelum berjalan lebih jauh lagi, ia menengok kebelakang dan melambaikan tangan kepada perempuan itu. Perempuan itu masih berdiri disana, membalas lambaian tangan kekasihnya sambil tersenyum, sebelumnya akhirnya sesuatu yang tidak diinginkan keduanya terjadi…

“Soonhye-ah!!!!!”

***

Pagi ini Minho bangun tidur seperti biasa. Sepi dan sendiri dirumah kontrakannya yang mungil. Walaupun rumahnya terkesan berantakan, tetapi ia selalu ingat letak-letak benda yang ia butuhkan. Ia pun bangun lalu membereskan tempat tidurnya. Setelah itu ia minum segelas air putih sebelum akhirnya ia bersiap untuk pergi ke suatu tempat.

Setengah jam kemudian ia sudah siap untuk pergi dengan setelan kemeja dan jeans. Ia langsung keluar rumahnya dan mengayuh sepedanya menuju kios bunga milik Taemin, sahabat yang ia sudah anggap sebagai adik sendiri.

“Annyonghaseyo…”

“Minho-hyung!” balas Taemin senang ketika melihat seseorang yang membuat bel pintu kios nya berbunyi adalah Minho.

“Kau kenapa, Taemin-ah?” tanya Minho seraya berjalan menuju meja counter milik Taemin lalu duduk disofa kecil disana.

“Hmm, aku butuh bantuanmu, hyung.” jawab Taemin sedikit malu-malu.

“Sudah kuduga. Kau pasti ada maunya.” balas Minho, kali ini dia sambil membaca koran yang tergeletak disana.

“Kumohon, hyung. Aku harus mengantarkan pesanan bunga-bunga ini… Sebentar saja.” Taemin mengeluarkan ekspresi yang tidak bisa dihindari oleh Minho.

“Baiklah… Sebaiknya kau cepat pergi sekarang, aku tidak bisa lama-lama disini.” Minho pun luluh dengan Taemin. Taemin langsung mengangguk cepat dan tidak sampai 10 detik ia sudah menghilang dari pandangan Minho.

Minho kembali sendiri, namun bedanya kali ini ia berada di toko bunga Taemin. Toko bunga ini adalah toko keluarga, namun karena Taemin masih libur selepas kelulusan SMA, jadi Taemin lah yang bertugas menjaga toko bunga ini.

***

Saat Minho sedang berkeliling melihat bunga-bunga yang ada disana, seorang pria dengan postur sempurna datang memasuki toko itu. Langkahnya yang cepat memperlihatkan bahwa ia sedang terburu-buru.

“Oso oseyo…” sapa Minho, mengikuti gaya Taemin jika ada pelanggan datang.

“Aku ingin membeli sebuket bunga mawar merah yang masih segar. Tolong kau antarkan ke alamat ini sekarang. Ini uangnya.” lelaki itu tanpa basa-basi langsung mengutarakan tujuannya.

Minho masih sedikit bingung, sementara lelaki itu sudah kembali keluar dari toko, hanya meninggalkan kertas alamat, kartu ucapan dan juga beberapa lembar uang yang cukup banyak.

“Tuan! Uangmu sepertinya kelebihan!” teriak Minho didepan pintu toko.

“Sisanya untukmu saja.” balas pria itu sebelum akhirnya ia masuk kedalam mobilnya dan mobil sedan hitam itu pun melaju pergi.

Minho masih terdiam membisu di depan pintu beberapa saat, sampai akhirnya ia kembali kedalam toko dan iseng membaca kartu ucapan yang ditinggalkan lelaki itu.

“Happy anniversary, Im YoonA…”

“Hyung, aku datang!” Taemin memotong Minho yang sedang membaca kartu ucapan itu sambil bersuara. Minho pun kembali meletakkan kartu itu diatas meja counter.

“Ada pelanggan?” tanya Taemin sambil kembali memakai apron berwarna merah muda, lalu ia menuju meja counter-nya.

“Ne, seorang pria. Ia memintaku untuk mengantarkan pesanannya ke alamat ini.” jawab Minho sambil memberikan kertas alamat yang ditinggalkan pria itu.

“Kalau begitu, kau saja yang antar, hyung. Kan, kau yang dimintai tolong.” balas Taemin sambil tersenyum memamerkan gigi-giginya.

“Aish…”

“Tips nya untukmu saja, hyung.” potong Taemin lagi seraya menyisakan uang diatas meja counter nya, “Ia minta apa?” sambung Taemin bertanya.

“Sebuket bunga mawar merah yang segar.” jawab Minho lalu ia mengantongi sisa uang tadi dan juga kertas alamat itu, “Aku juga mau beli setangkai bunga mawar merah, Taemin-ah.” sambung Minho.

“Untuk apa? … Oh, baiklah, aku mengerti.” ucapan Taemin terputus, dan terganti dengan kata-kata yang membuat Minho tidak perlu menjelaskan apa tujuan ia membeli bunga mawar merah itu.

Tidak sampai 5 menit, Taemin sudah menyiapkan sebuket bunga mawar merah yang segar yang siap diantar oleh Minho dan juga setangkai bunga mawar merah pesanan Minho

“Jinjja gomawoyo, Minho hyung!” ucap Taemin ketika ia mengantar Minho di pelataran parkir toko nya yang tidak terlalu besar.

“Ne~, aku berangkat dulu ya.” balas Minho dan ia pun segera pergi dengan sebuket dan setangkai bunga mawar merah segar yang ia pegang ditangan kanan.

***

Dalam perjalanannya, Minho melihat seorang perempuan yang sedang menendang-nendang ban mobilnya. Minho pun menghentikan kayuhan sepedanya dan bergegas menghampiri perempuan itu.

“Ban mobilmu bocor?” tanya Minho membuat perempuan yang tadinya terlihat sedikit marah, mengubah ekspresi wajahnya.

“Sepertinya. Dan aku tidak tahu bagaimana cara mengganti ban sial ini.” jawab perempuan itu.

“Baiklah, akan kubantu. Dimana ban cadangan dan juga dongkrak nya?” balas Minho sigap. Perempuan itu pun membuka bagasi mobil sedan putihnya lalu Minho mengambil dongkrak, beberapa peralatan untuk mengganti ban dan juga ban cadangan. Dalam waktu kurang lebih 15 menit, ban cadangan itu sudah terpasang dengan baik, menggantikan ban yang bocor.

Minho mengembalikan peralatan yang tadi ia gunakan dan juga ban yang bocor kedalam bagasi, sementara perempuan itu mengambil beberapa lembar uang dari clutch nya.

“Ini untukmu.” ucap perempuan itu seraya menyerahkan uang yang tadi ia ambil.

“Tidak perlu, aku menolongmu dengan tulus.” ucap Minho menolak dengan halus.

“Aku juga memberikan padamu dengan tulus. Ku harap kau mau menerimanya sebagai tanda terima kasihku.” balas perempuan itu.

“Tidak perlu, sungguh. Aku harus pergi dulu, masih banyak yang harus ku lakukan, permisi.” Minho pun buru-buru pamit tanpa menerima uang itu. Perempuan itu pun hanya berdiri terdiam memandangi Minho yang sudah kembali mengayuh sepedanya.

***

Minho tiba dialamat yang ia tuju. Sebuah rumah yang cukup besar. Ia pun langsung menekan bel rumah tersebut.

Ting tong…

“Annyonghaseyo, saya ingin mengantarkan bunga pesanan dari…”

“Masuklah.” balas sang pemilik rumah yang melihat Minho dari layar kecil yang terpasang bersamaan dengan mesin penjawab bel rumahnya dan tertempel di dinding sebelah pintu utama

Minho pun memasuki rumah itu, melewati pekarangan rumah yang hijau dan ia menaiki beberapa anak tangga sebelum akhirnya seseorang yang tidak asing baginya membukakan pintu untuknya.

“Eh? Kau? Perempuan tadi?” tanya Minho salah tingkah, mendapati perempuan yang tadi ia tolong berdiri dihadapannya.

“Mmm, maaf. Apakah ini rumah Im YoonA?” Minho menyambung ucapannya.

“Ne, aku Im YoonA.” jawab perempuan itu lembut sambil tersenyum. Minho sedikit gelagapan.

“Oooh, baiklah. Aku hanya ingin mengantarkan bunga ini untukmu. Dan ini kartu ucapannya.” balas Minho seraya menyerahkan sebuket bunga dan juga kartu ucapan titipan dari lelaki di toko bunga tadi.

“Ooh, dari Siwon.” ucap YoonA sambil membaca kartu ucapan itu, lalu ia kembali tersenyum.

“Ia lelaki yang romantis. Bisa kulihat, walaupun ia sibuk tetapi ia sempat membelikan bunga untukmu.” Minho menyeletuk pelan.

“Ya, begitulah. Kami berdua sama-sama sibuk, jadi, hal seperti ini sudah menjadi salah satu hal istimewa bagiku.” balas YoonA, masih sambil tersenyum mencium mawar merah yang segar.

“Oh ya, kau mau mampir sebentar? Aku akan buatkan jus untukmu.” YoonA kembali bersuara setelah ia mencium bunga mawar tersebut.

“Maaf, tapi aku tidak bisa. Ada satu hal yang belum aku selesaikan. Aku harus pergi sekarang juga…” balas Minho kembali menolak YoonA.

“Oooh… Sayang sekali…”

“Kalau begitu, aku pamit dulu ya.” Minho pun berpamitan dengan YoonA.

“Ne~, hati-hati…” balas YoonA sebelum Minho keluar melewati pintu pagar rumahnya.

***

Minho kembali mengayuh sepedanya, menuju sebuah daerah yang sangat dikenalnya. Setelah sampai di daerah itu, ia pun memakirkan sepedanya, lalu bergegas menuju tempat tujuannya. Sebuah gang kecil. Gang dimana untuk terakhir kalinya ia bertemu seseorang yang sangat ia cintai. Ia berjongkok ditengah-tengah jalan gang tersebut, lalu meletakkan setangkai bunga mawar merah yang sudah ia persiapkan.

Saat ia meletakkan bunga tersebut, otaknya kembali ke masa-masa dimana ia menghabiskan waktunya bersama Soonhye, kekasihnya. Ia ingat saat ia memberikan Soonhye hadiah sebuah kalung. Ia ingat ketika mereka makan eskrim bersama, jalan-jalan ke pantai, dan masih banyak lagi hal-hal yang mereka lakukan dan lalui bersama.

Tanpa Minho sadari ia meneteskan air matanya, mengingat bahwa sudah 1 tahun Soonhye meninggalkan dirinya akibat tabrak lari yang menewaskan Soonhye saat itu juga.

“Sudah satu tahun, Soonhye-ah dan ini untuk terakhir kalinya aku kesini. Kita sudah berbeda dunia, kita sudah berbeda jalan… Maafkan aku, Soonhye-ah…” kata-kata Minho terputus. Air mata masih mengalir pelan di pipinya.

“…Aku tidak akan pernah kembali lagi, sama seperti kau, yang tidak akan pernah kembali padaku…”

-THE END-