Title : Last Photograph
Author : KimRae
Length : One Shot
Genre : Romance, Angst
Cast : Kyuhyun – Super Junior
Kim Raena (OC)
FF ini udah di post di wp pribadi, sonyasoonya.wordpress.com ^^
Cho Kyuhyun milik kalian *eh* Kim Raena….boleh lah kalian juga, hihi ><
Jangan lupa komen ya kawaan~ thank you🙂

“Raena! Lihat aku!”
“Apa? Hei! Kenapa memotretku? Dasar,”
“Hanya ingin menyimpan satu foto khusus wajahmu, hhehe..”

Ruangan itu gelap, remang-remang lebih tepatnya. Hanya satu bohlam kecil dengan cahaya kuning di ujung ruangan itu yang menjadi alat penerang. Deretan foto dengan objek beragam terpajang rapi di dinding. Mungkin bagi orang awam foto itu hanyalah foto dengan pemandangan alam yang indah dan juga cantik, namun tidak bagi sang pengambil gambar. Cho Kyuhyun. Laki-laki itu menyisipkan satu objek di setiap fotonya. Objek yang paling disukainya.

“Hei, bagaimana kalau kali ini kita ke Pulau Nami?” Kyuhyun menepuk pundak Raena pelan dan ikut duduk di kursi kantin kampus itu. Raena menghentikan makannya dan menatap Kyuhyun semangat. Pulau Nami memang indah, tempat itu sering dijadikan lokasi shooting drama-drama terkenal Korea, dan Raena suka itu.
“Boleh juga, itu bisa kita ikutkan dalam lomba nanti kan?” Melihat wajah itu, Kyuhyun lebih memantapkan hatinya untuk pergi ke Pulau Nami. Kyuhyun tersenyum lebar dan mulai memainkan rambut Raena, hobinya. Kyuhyun sudah membayangkan betapa indah objek yang akan dia dapatkan nanti. Pantai, pepohonan rindang, dan gadis yang ia cintai.
Kyuhyun mendongak, menatap rentetan foto yang diambil lima bulan lalu di Pulau Nami. Hanya ada lima foto yang dia ambil. Objek utama berbeda-beda, dengan tidak meninggalkan satu objek kesukaannya, Raena. Di setiap foto, seakan-akan tidak sengaja, pasti ada. Gadis itu, harus selalu ada dalam foto yang Kyuhyun ambil.
Raena duduk di kursi taman kampus mereka. Sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk, dan dia senang akan hal itu. Senang? Mungkin.
“Rae-ah! Ternyata kau di sini, aku mencarimu kemana-mana!” Kyuhyun, dengan raut wajah khawatirnya mengacak rambut Raena asal dan duduk di samping gadis itu. Raena hanya menggelengkan kepalanya dan memilih untuk menutup laptop dan tugas-tugasnya. Kyuhyun merasakan jantungnya berpacu lebih cepat saat Raena menempelkan telapak tangannya di kening Kyuhyun.
“Kau ini kenapa? Aku kan tidak mungkin hilang Kyuhyun-ah.. hhehe,” Kyuhyun kembali mengatur ekspresinya. Raena hanya tersenyum melihat ekspresi Kyuhyun yang menurutnya lucu itu. Kamera SLR keluaran terbaru milik Kyuhyun yang berada di tangan laki-laki itu menarik perhatian Raena. Saat dia hendak mengambilnya, dengan cepat Kyuhyun menjauhkan kamera itu dari jangkauan Raena.
“Aish! Kau ini selalu saja! Memangnya ada apa di kameramu sih? Jangan-jangan foto-foto yang..” Raena menyipitkan matanya, memasang tampang curiga terhadap Kyuhyun yang sudah salah tingkah dari tadi.
“Ya! Ya! Ya! Jangan berpikiran yang macam-macam! Kau pikir aku Hyukjae itu apa?” Kyuhyun memainkan rambut Raena kembali saat Raena hanya tertawa mendengar jawaban Kyuhyun.
Gadis itu belum boleh tahu apa isi kamera itu, setidaknya bukan saat ini. Itu menurut Kyuhyun.
“Mm.. Kyu, aku ingin ke Mokpo. Kau mau kan? Di sana pantainya juga indah, kau bisa ambil gambar banyak di sana..” Kyuhyun langsung menyetujui ide Raena. Kesempatan untuk menambah koleksi gambar, pikirnya. Raena bertepuk tangan senang dan langsung memeluk Kyuhyun, sahabatnya.
Kali ini Kyuhyun tersenyum miris. Ia sudah mencoba untuk melupakan kenangannya bersama Raena di Mokpo. Tidak disangka, kenangan yang menguatkan tekadnya untuk selalu bersama Raena waktu itu merupakan pertanda kecil dari sang gadis, kepergiannya.
“Woaa aroma pantai ini segar sekalii~” Raena merentangkan kedua tangannya saat mobil mereka merapat di pantai yang ada di Mokpo. Kyuhyun, yang sudah siap dengan kameranya mengambil gambar sebanyak mungkin. Dia tidak mau kehilangan senyum objek utamanya di foto yang ia kumpulkan.
“Carilah objek menarik, aku ingin duduk di sini,” Raena, dengan dress putih gading selututnya duduk di pinggiran pantai. Ombak kecil mengenai kaki telanjangnya dan membuat dress bagian bawahnya basah.
“Aku sudah mendapatkan semua objek yang menarik. Mau aku temani?” Raena masih memandang langit senja di pantai itu. Kyuhyun duduk di sampingnya, meletakkan kameranya agak jauh agar tidak terkena ombak.
Angin pantai bertiup cukup keras, membuat rambut panjang gadis itu tergerai indah. Menambah alasan Kyuhyun untuk tidak mau berhenti mencintai gadis di sampingnya itu.
“Aku merindukan ibuku..” Kyuhyun menoleh, mendapati Raena yang menatap kosong ke arah matahari senja. Kyuhyun merapatkan dirinya lagi dengan gadis itu, sekedar untuk memberikan rangkulan ringan yang diharapkannya dapat meringankan beban.
“Aku ingin menyusulnya, Kyu. Bolehkah?” Kyuhyun tahu maksud Raena. Ia ingin menyusul ibunya, yang sudah meninggal. Raena tinggal bersama sang ayah, dan itu membuatnya menderita.
Kyuhyun menyampirkan poni Raena, dan terlihatlah bekas lebam itu. Itulah sebab Raena lebih suka di luar. Istilah ‘rumahku istanaku’ tidaklah tepat untuk Raena.
“Lagi?” Dengan berat Kyuhyun menanyakannya. Raena hanya mengangguk, menandakan bahwa dia menerima kekerasan dari ayahnya, lagi.
“Jangan. Aku mohon jangan berkata seperti itu lagi,” Kyuhyun menangkupkan kedua tangannya di pipi Raena. Tampak wajah cantik itu dihiasi dengan luka memar di keningnya.
“Bukankah.. mati itu lebih baik? Aku tidak akan menjadi beban ayahku lagi, dan tidak membuatnya mabuk lagi gara-gara kalah berjudi. Aku tidak akan membuat tetangga-tetanggaku memarahi ayahku lagi. Aku bisa bertemu ibuku, dan aku tidak perlu merepotkanmu, Kyu.” Menangis, akhirnya Raena menangis di hadapan Kyuhyun. Penderitaan gadis itu terlalu besar untuk ditanggung sendiri.
“Tinggallah bersamaku, aku mohon.” Kyuhyun tahu, tidak ada alasan bagi Raena untuk menerima ajakannya ini. Mereka bukan sepasang suami-istri yang pantas hidup di satu atap. Mereka juga bukan sepasang kekasih. Mereka hanya sahabat, yang salah seorangnya mencintai dengan sangat.
“Aku sudah bilang, aku tidak mau merepotkan–”
“Aku ingin hidup denganmu, aku ingin melindungimu. Aku mohon,” Kyuhyun menatap dalam mata Raena. Biarkanlah dia dianggap apa oleh gadis ini, yang paling penting gadis ini selamat, berada di sampingnya seperti yang selalu Kyuhyun impikan.
Tidak lama dari itu, Raena mengangguk. Kyuhyun tersenyum lebar, membayangkan masa-masa indahnya dengan Raena akan segera terwujud. Sebagai awalnya, Raena sama sekali tidak menolak saat Kyuhyun memeluknya dan mencium bibir gadis itu. Entah apa hubungan mereka setelah itu.
“Baby~ Baby~ Baby~” Kyuhyun mengerang. Rasa sakit kembali menjalari tubuhnya. Apartemen ini menjadi saksi bisu kehidupannya bersama Raena, bahagia dan kehilangan. Pecahan kaca, pecahan botol minuman keras, pisau, darah, dan Raena.
“Baby~ selamat pagi..” Kyuhyun memeluk tubuh Raena dari belakang. Raena dengan balutan kemeja oversize-nya hanya tersenyum sambil tetap melanjutkan memasak sarapan mereka. Mereka menikah? Tidak. Mereka berpacaran? Entahlah. Mereka hanya tinggal satu atap, tanpa pernah melakukan apa-apa.
“Boo~ aku sedang memasak loh,” Kyuhyun melepaskan pelukannya setelah mengecup pipi Raena. Di tangan Kyuhyun sudah ada kamera andalannya, yang berisi foto-foto Raena.
“Raena! Lihat aku!”
“Apa? Hei! Kenapa memotretku? Dasar,” Kyuhyun berhasil membuat Raena berbalik. Beruntungnya Kyuhyun, wajah gadis itu tersenyum padanya saat berbalik. Foto yang menjadi favorit Kyuhyun.
“Hanya ingin menyimpan satu foto khusus wajahmu, hhehe..” Raena hanya tersenyum dan kembali memasak. Kyuhyun meletakkan kameranya kembali di ruangan rahasia. Ruangan yang penuh dengan koleksi kesayangannya. Kyuhyun melepaskan memori di kamera itu, berniat untuk mencetak foto yang baru saja didapatkannya dengan ukuran yang besar.
“Rae-ah, aku keluar sebentar ya. Ada yang harus aku kerjakan, jangan kemana-mana!” Raena tertawa pelan dan mengantar Kyuhyun sampai pintu depan. Dengan cepat Kyuhyun berlari, berharap sang gadis tidak perlu menunggu lama, dan mereka dapat menikmati sarapan bersama.
Kyuhyun mendekati satu figura yang letaknya di ujung ruangan. Figura besar yang masih terbungkus dengan kain putih bersih dan rapi. Kyuhyun membuka kain itu perlahan, takut merusak miliknya yang paling berharga.
“Baby~ Bogoshippoyo..” Tangis Kyuhyun pecah. Air matanya tumpah di atas foto itu, foto Raena.
“Maafkan aku.. maafkan aku.. aku tidak bisa melindungimu.. maafkan aku..”
Perjalanan menuju tempat yang ditujunya tidak selancar yang dia kira. Pagi ini, jalanan Seoul dilanda kemacetan panjang. Kyuhyun berkali-kali melihat jam tangannya, dan sudah satu jam lebih dia berada di jalanan.
Kyuhyun memilih untuk menepikan mobilnya, itupun karena mobilnya beruntung berada di samping tempat pejalan kaki. Dia tidak memikirkan tilang yang mungkin di dapatkannya. Dia ingin cepat kembali, itu saja.
“Ahjussi! Tolong foto yang ini! Ah, ukurannya yang seperti foto itu! Mengerti ahjussi? Bingkainya yang paling bagus! Oke? Ini uangnya! Gomawoyo ahjussi!” Kyuhyun sangat terburu-buru. Entah orang itu mengerti atau tidak apa yang dia katakan dan minta, Kyuhyun ingin cepat kembali.
Di ruangan itu, koran harian Seoul berserakan. Menampilkan satu headline yang bagi Kyuhyun merupakan penderitaannya. Berita kematian sang gadis, di tangan ayahnya sendiri.
Apartemen Kyuhyun sangat ramai. Kyuhyun tidak bisa melihat apa yang terjadi di apartemennya. Para warga sekitar dan penghuni apartemen berkumpul di lantai terbawah apartemen itu. Polisi sibuk memasang police line.
“Maaf, permisi! Biarkan aku lewat!” Gerombolan manusia itu bertambah ramai, saat seorang laki-laki paruh baya dengan baju bersimbah darah diseret paksa oleh dua orang polisi dari dalam gedung. Kyuhyun mengenali laki-laki itu, karena itu adalah ayah Raena.
“Raena baik-baik saja. Aku mohon dia baik-baik saja!” Nekat, Kyuhyun melompati pembatas itu dan memilih untuk melewati tanggak menuju lantai tiga, tempat tinggalnya bersama Raena. Memastikan bahwa gadisnya baik-baik saja, walau kenyataannya.. tidak.
“Maaf tuan! Kami mohon jangan mendekat! Kami sedang mengumpulkan bukti!” Bentak salah satu polisi yang berada di pintu apartemen Kyuhyun saat dia ingin menerobos masuk.
“MINGGIR!!” Kyuhyun menerobos polisi itu, dan semuanya terasa kosong. Otak Kyuhyun entah bekerja atau tidak saat melihat tubuh itu. Tubuh gadisnya, orang yang ingin dilindunginya sampai mati, tidak bergerak. Mati.
“Baby~ Raena~ Na~ Bangun.. aku mohon.. bangun.. Na~ kita belum sarapan loh.. Aku mohon~” Kyuhyun memeluk tubuh Raena, walau sudah dihalangi oleh polisi-polisi yang ada.
“Saranghae.. Saranghae.. Saranghae..” Kyuhyun tertidur, di atas foto besar itu. Mungkin belum saatnya dia bangkit. Gadis itu sudah mengambil hidupnya, dan itu membuat Kyuhyun sulit untuk hidup dengan benar. Gadis itu mengambil seluruh perasaan yang Kyuhyun miliki, dan itu membuat Kyuhyun mati rasa. Gadis itu, belum mengizinkan Kyuhyun mencintainya, dan itu membuat Kyuhyun.. ingin menagih jawabannya.

“Boo~ Kau mencintaiku?”
“Sangat! Kau bisa melihatnya kan? Kau juga mencintaiku kan?”
“Jangan, lebih baik kau tidak mencintaiku,”
“Kenapa? Tidak ada yang salah, aku mencintaimu dan itu tidak bisa aku hilangkan, mengerti?”
“Aku.. tidak ingin kau merasakan kehilangan, itu saja.”
“Tidak akan. Kau akan selalu di sini, bersamaku. Aku berjanji akan melindungimu,”