“Akan ku buat kau tidak sedih lagi.” Ujar L sambil meraih pipi Sehyun dengan kedua tangannya. Sehyun hendak memprotes tapi ia terhenti begitu merasakan sesuatu yang lembut menempel di bibirnya. Ya, Kim Myungsoo alis L, telah menciumnya.

***

Title: Time Traveler (Part 3)

Author: bangmil

Length: Continue

Genre: Romance, Sci-Fi

Main Cast: Han Sehyun (OC), L/Kim Myungsoo (Infinite), Hoya (Infinite)

Support Cast: , Seungyeon (KARA), Woohyun (Infinite), Sungyeol (Infinite), Sunggyu (Infinite), Dongwoo (Infinite), Sungjong (Infinite)

Happy reading~

***

Seketika Sehyun membelalakkan matanya. Dengan segera ia menarik tubuhnya ke belakang menjauhi L. “M-mwoya??”

L kemudian berdiri tegak dan menatap Sehyun dengan tatapan poker face andalannya. “Aku kan hanya menghiburmu.” Ujarnya datar.

“Menghibur apanya??”

“Aku mentransfer enerjiku padamu agar kau tetap semangat,” Jawab L enteng sembari menyilangkan kedua tangannya. “Neol molla?”

“Molla!” bentak Sehyun. Ia menghela nafas panjang. “Jangan diulangi lagi, Myungsoo.”

“Wae? Aku pikir kau suka.” Ujar L polos.

Kesal melihat L yang seperti itu, Sehyun menendang kaki L tanpa menjawab.

“A-aduh!” pekik L sambil meringis kesakitan. “Sakit.. Tapi lihat, wajahmu memerah!” ujarnya sambil mengarahkan telunjuknya pada Sehyun.

Refleks Sehyun memegang kedua pipinya. “A-aniya! Aiss.. kau ini kenapa ketularan choding-nya Sungyeol sih!”

“Siapa yang kau bilang choding??” seru seseorang tiba-tiba. Tampak Sungyeol yang sedang berdiri di jarak sepuluh meter dari mereka berdua. “Aku baru saja dari rumah sakit, tapi aku tidak menemukanmu disana. Ternyata kau sudah dibawa kabur oleh L.”

Sungyeol berjalan ke arah L dan Sehyun. Ia mengerutkan alisnya, merasa ada sesuatu yang aneh. “Kau sakit?” tanyanya pada Sehyun.

Sehyun menggeleng. “Wae?”

Sungyeol mengamati Sehyun, ia bertanya dengan polosnya. “Kenapa wajahmu merah?”

***

Sehyun mengistirahatkan tubuhnya di atas sofa empuk rumahnya. Ia sudah memutar posisinya berkali-kali, memeluk guling, menghitung domba, mendengarkan musik, atau apa sajalah tapi ia tetap saja tidak bisa tidur.

Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Perlahan ia mulai bangkit dari sofa dan berjalan menuju komputer yang terletak di sebelah sofa. Ia membuka e-mail ibunya satu per satu dan mencari sebuah nama.

“Kim Sunggyu..” gumam Sehyun begitu melihat nama tersebut di daftar pesan masuk. Ia menghela nafas pelan, kemudian menulis sebuah e-mail untuk nama tersebut.

“Annyeong haseyo, Han Sehyun imnida. Saya adalah puteri Han Seungyeon. Sekarang Han Seungyeon sedang sakit dan belum sadarkan diri. Kalau sempat, mungkin anda bisa..”

Sehyun terhenti di kalimat terakhir. Ia tampak ragu menulis lanjutannya. Setelah beberapa detik berpikir, ia memutuskan untuk menghapus kata-kata terakhir itu dan segera mengirim e-mail tersebut.

“Ya.. inilah yang seharusnya dilakukan oleh seorang anak..” Sehyun mengelus dadanya, meyakinkan bahwa apa yang ia lakukan adalah benar.

***

Sehyun sekarang sudah berada di dalam rumah sakit. Ia duduk termangu di sebelah Seungyeon seperti biasa. Namun, hari ini ia tampak lebih baik, tak lagi murung seperti sebelumnya.

“Umma.. hari ini adalah umurku sudah sembilan belas,” ujar Sehyun pelan. “Sembilan belas ya, hahaha.. menyenangkan juga. Rasanya aku sudah mulai beranjak dewasa.” Lanjutnya lagi. Ia tersenyum tipis pada ibunya. “Umma, cepatlah bangun agar kita bisa merayakan bersama.”

Sehyun menundukkan wajahnya. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan air mata yang  siap mengalir lagi.

“S-sehyun ah..” panggil seseorang dengan nada yang sangat familiar.

Sehyun mengangkat kepalanya. Ia terkejut melihat ibunya yang sekarang sudah membuka matanya. “U-umma! Tunggu sebentar, akan aku panggilkan dokter!”

Seungyeon menggenggam lengan Sehyun, mencegahnya. “A..aku harus pergi..” ujar Seungyeon lirih sambil berusaha bangkit dari kasurnya.

Seketika Sehyun menahannya, “Tidak! Umma tidak boleh banyak bergerak!”

“Aku.. harus bertemu dengannya..” Seungyeon yang belum sepenuhnya sadar itu terbata-bata, seperti ingin mengucapkan sesuatu. “Nam.. Woohyun..”

“Nam Woohyun?” tanya Sehyun kebingungan.

“Foto.. dan kunci.. tasku.. ada di dalam tasku..” ujar Seungyeon lagi.

Meskipun bingung, Sehyun menurut dan membawakan tas itu pada ibunya. Ia mengeluarkan sebuah amplop dan kunci dari dalam sana. Ia membuka amplop tersebut dan menemukan foto di dalamnya. Ia memperlihatkan foto tersebut pada Seungyeon. “Ini?”

Seungyeon memperhatikan foto tersebut dengan seksama. Alisnya mengerut, pertanda ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

“Aku harus pergi..” Seungyeon mencoba bangkit lagi namun dengan sigap Sehyun menahannya. “Aku.. harus..”

“Tidak, umma!” cegah Sehyun sekali lagi tapi ibunya tidak mau mendengarkan. “Baiklah! Aku mengerti! Aku.. aku yang akan pergi!” ujar Sehyun tegas. “Dimana? Dimana Nam Woohyun?”

Seungyeon pun diam dan menatap puterinya dalam. “Tahun 1972.. Bulan April.. Hari Sabtu.. Di laboratorium SMP..”

Sehyun membelalakkan matanya. “Tahun.. 1972?”

“Buka laci laboratorium dengan kunci itu.. Ada ramuan di dalamnya.. Minumlah, dengan itu kau bisa pergi ke masa lalu.. Minum.. dan berharaplah.. sehingga kau bisa bertemu dengannya.. dan katakan padanya..” Seungyeon menarik kepala Sehyun mendekat agar Sehyun bisa mendengar dengan jelas. “Janji itu.. belum terhapus..”

Seungyeon menarik nafas dalam dan terhempas di atas kasurnya. Tubuhnya lemas dan ia kembali tak sadarkan diri.

“Umma! Umma!!”

***

Sehyun memasuki ruang laboratorium tempat ibunya bekerja yang sekarang sedang kosong. Perlahan namun pasti, ia berjalan ke arah meja kerja ibunya dan membuka laci tersebut dengan kunci, seperti yang sudah dikatakan Seungyeon.

Srek.

Laci pertama, hanya terdapat buku-buku tebal milik Seungyeon. Sehyun pun menutupnya kembali.

Srek.

Laci kedua, terdapat foto-foto Seungyeon bersama Sehyun, yang ia masukkan di kotak kecil. Di sana juga terdapat berbagai macam pernak-pernik, tapi saat ini Sehyun sama sekali tidak tertarik dengan benda-benda tersebut. Dengan tidak sabar, ia menutup laci itu kembali.

Srek.

Sehyun membuka laci ketiga dengan terburu-buru. Akhirnya, disana ia menemukan apa yang ia cari. Sebuah kotak besi, berisikan dua buah tabung reaksi, yang berisi ramuan putih bening. Dengan hati-hati, Sehyun mengambil salah satu ramuan tersebut. Ia memperhatikan ramuan tersebut dengan ragu.

“Baiklah, Han Sehyun.. Kau harus yakin..” katanya pada diri sendiri, sebelum membiarkan cairan tersebut masuk ke tenggorokannya. Dalam sekali teguk, ia telah meminumnya sampai habis.

“April 1972.. Hari Sabtu, di laboratorium sekolah!” ucap Sehyun sambil menutup matanya erat.

Satu menit..

Dua menit..

Lima menit..

Sepuluh menit telah berlalu.. tapi tidak ada yang terjadi. Sehyun yang ragu, mulai membuka matanya. Ia sadar bahwa ia masih berada di tempat yang sama, di laboratorium yang sama. Ia menatap tabung reaksi tadi dengan aneh, alisnya mengerut. Ia kemudian terkekeh pelan.

“Aiss.. apa yang sedang aku lakukan?” gumamnya. Ia merasa sangat bodoh sekarang. “Mana mungkin.”

Ia menghempaskan dirinya di sebuah kursi lalu menatap foto pemberian ibunya tersebut. Ia mengamati wajah Seungyeon muda, yang mirip dengan dirinya yang sekarang. Ia tertawa kecil. “Dengan ini aku tahu, kenapa Dongwoo ahjussi selalu memanggilku Seungyeon kecil.”

Kemudian ia menatap pria yang ada di sebelah Seungyeon. Ia mengerutkan alisnya. “Nam Woohyun?” Sehyun menopang dagu dengan sebelah tangannya. “Nama ayah bukan Nam Woohyun, kan? Lalu ini siapa..”

Sehyun berpikir sebentar, lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Tunggu,” katanya pada diri sendiri. “Tadi itu sembilan belas.. 1974 bulan Februari.. kah?” gumamnya.

“Ah, molla.. Lebih baik aku pulang saja.” Sehyun mengendikkan bahunya lalu melihat jam tangannya. Ia tersentak begitu jarum jam tersebut berputar cepat berlawanan arah. Dengan cepat ia bangkit dari kursinya dan berharap.

“1974 Februari, hari Sabtu di laboratorium sekolah!” ujarnya tegas.

Lama kelamaan ruangan laboratorium menyempit, hingga Sehyun tak bisa melihat apa-apa. Tiba-tiba ia sekarang berada di ruang yang aneh. Segalanya berwarna hitam dengan berbagai angka dan simbol aneh yang melayang-layang di angkasa. Tiba-tiba ia mendengar suara besar berasal dari arah punggungnya.

“Andwaeee!!” pekik Sehyun begitu ia melihat ombak besar yang datang seperti akan menelannya, membuat ia lari sekencang mungkin. Dalam waktu yang lama ia terus berlari, sampai tiba-tiba, lantai dimana ia berpijak roboh.

“Ummaaaaaaaaa!!!” Sehyun berteriak sekuat mungkin, bersamaan dengan jatuhnya dia ke dalam jurang yang tak mempunyai ujung.

***

Seorang pemuda sedang berjogging di sepanjang jalan yang dikelilingi taman. Begitu sampai di sebuah bangku kayu, ia menghempaskan dirinya disana, sembari mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Setelah beberapa menit, ia berniat untuk melanjutkan olahraganya lagi.

DUAKK

“Aww!!” pemuda itu memegangi punggungnya yang sakit akibat kejatuhan benda yang entah apa itu sangat berat dari langit. Ia menoleh ke arah sampingnya dan menemukan seorang perempuan tergeletak disana.

“Eh? Dia.. jatuh dari atas??” pekik pemuda tersebut sambil menunjuk ke arah langit. Dengan ragu, ia mendekati perempuan yang memakai seragam sekolah tersebut. Ia memandangi wajah gadis itu, merasa asing.

Perlahan, gadis itu mulai sadar. Matanya terbelalak ketika ia melihat wajah pemuda yang hanya berjarak lima senti dari wajahnya. Ia pun segera menjauhkan dirinya ke belakang. Tapi kemudian, ia tampak teringat dengan sesuatu, lalu mendekati pria tersebut.

“Nam Woohyun ssi..?”

***

Jangan lupa habis baca komen yah ^^