Author : Bee

Main Cast : Go Miho, Eunhyuk

Support Cast : Euncha, Leeteuk, Lee Jihoon

Cameo : Ji Sangryeol

Rating : AAbK

Genre : Romance

1st published @ http://wp.me/p1rQNR-6S

 

^^^

 

“Biar saya yang mengantar Miho, Donggun ssi.” Leeteuk berkata pada Donggun.

Pemotretan telah berakhir. Miho berhasil ditenangkan dan dijauhkan dari kameramen. Selama itu dia tak bisa jauh dari Eunhyuk. Cowok itu juga tak ingin pergi kemana-mana. Dia harus memastikan bahwa Miho selalu ada dalam jarak pandangnya. Di sisi lain, Euncha berusaha mengalihkan pikiran Miho pada hal-hal yang lebih menyenangkan, membawanya keluar dari serangan panik yang mengancam. Leeteuk mengamati semuanya dari jauh, dia terus membayangi gerak Eunhyuk agar dia sendiri tak jauh-jauh dari Miho.

Sekarang ini ketika semua sedang bersiap pulang, Leeteuk meminta dengan tegas pada Donggun untuk mengantar Miho pulang. Dia harus melakukannya. Dia ingin memiliki waktu berdua saja dengan Miho. Wanita itu sekarang sedang bersiap pulang setelah ganti baju.

Donggun mempertimbangkan penawaran itu. Akhirnya setelah menilai bahwa Miho juga bersama Euncha, dia menyetujui usul Leeteuk. Pria itu sama sekali tidak menyadari ada sesuatu yang terjadi pada Miho sebelumnya sebab selain tadi dia tidak bergabung bersama Miho dan yang lain saat hal itu terjadi, dia juga waktu itu sedang sibuk membentuk persepsi Sojin mengenai Miho. Dengan Miho sepertinya dia tidak perlu bersusah payah mencari jalan. Wanita itu dengan sendirinya sudah merangsek masuk dalam dunia di depan kamera tanpa harus berusaha sehingga mempermudah pekerjaan Donggun.

Pria itu menatap Miho yang melangkah ke arah mereka. Begitu Miho yang ditemani Euncha sampai di hadapannya, Leeteuk mengatakan niatnya mengantar Miho pulang.

Miho ingin menolak. Dia ingin pulang dengan Euncha. Tapi mereka tadi datang bersama dan orang-orang sudah terlanjur berpikir bahwa dia datang bersama Leeteuk, bukannya dengan Donggun. Dia juga punya kewajiban terhadap SME untuk ikut menjaga citra Leeteuk sementara Donggun belum mengetahui ‘hubungannya’ dengan pria itu. Tapi dia masih agak labil. Bagaimana nanti kalau saat pulang dia membuat ulah dan Leeteuk kebingungan?

“Tapi Eonnie bisa pulang bersamaku kok, Oppa. Kan malah lebih praktis. Lagi pula Oppa masih ada pekerjaan setelah ini kan?” Euncha menyelamatkan Miho dari keharusan menjawab.

Mendengar itu sebenarnya Leeteuk agak tidak setuju karena itu artinya dia akan kehilangan kesempatan mengajak Miho bicara. Tapi dia tak punya dalih lain untuk berkeras agar keinginannya terturuti, jadi dia tersenyum dan membenarkan ucapan Euncha.

Tanpa menunggu lebih lama, Donggun, Euncha dan Miho berjalan keluar bersamaan setelah berpamitan juga pada yang lain. Tak ada yang memperhatikan bahwa Eunhyuk sudah menyelinap lebih dulu. Tak lama kemudian, Leeteuk menyusul bersama Yesung dan Sungmin.

Di tempat parkir, di basement, mereka berpisah. Leeteuk dan Yesung bersamaan menggunakan mobil perusahaan, sementara Sungmin mengendarai mobilnya sendiri. Setelah mengucapkan salam mobil van yang ditumpangi Leeteuk dan Yesung bergerak. Dari sisi duduknya, sesuatu menarik perhatian Leeteuk. Dia melihat Eunhyuk, berdiri berhadapan dengan Miho. Di tangan Miho tergenggam sebuah bungkusan dan kemudian wanita itu bergerak memeluk Eunhyuk.

Leeteuk pun membeku.

 

^^^

 

Eunhyuk mengambil bungkusannya untuk Miho. Begitu dilihatnya Miho keluar dari elevator, dia bergegas menyusulnya. Dia sampai di sisi mobil Euncha saat Miho sudah duduk di dalam mobil. Eunhyuk pun mengetuk kaca mobil untuk menarik perhatian Miho.

Melihat cowok itu, Miho membuka pintu mobil. Entahlah, dia tidak ingin hanya memandangi Eunhyuk. Dia merasakan kebutuhan mendesak untuk berdekatan dengan cowok itu. Tadi saat Eunhyuk memeluknya, dia menyadari sesuatu. Yaitu bahwa dia tidak hanya menyukai cowok itu. Dia membutuhkannya. Segala yang ada pada Eunhyuk membuatnya tenang dan bahagia. Mengusir semua galau yang muncul dan menghantui jiwanya. Hanya Eunhyuk yang bisa. Tak ada lagi ingatannya tentang Eunhyuk dan Euncha.

Miho berdiri dan bersandar di sisi mobil sambil mengamati Eunhyuk. Wajah bodoh cowok itu tersipu sedikit karena dipandangi dan Miho semakin luluh melihatnya. Tiba-tiba tangan Eunhyuk terulur memberikan sesuatu pada Miho. “Untukmu. Dari Taiwan,” kata Eunhyuk singkat.

Miho terpana. Baru sekali ini hadiah dari seseorang membuatnya melambung. Matanya terbelalak senang. Langsung diterimanya hadiah itu dan hendak dibuka, tapi Eunhyuk mencegah. “Ya, di rumah aja. Malu kalo di sini.”

Miho mengangguk-angguk.

Eunhyuk senang melihat wanita itu sudah baikan, maka dia menyatakannya. “Aku senang kamu udah baik-baik aja,” ujarnya lembut sambil tak sadar menyentuh tangan Miho.

Miho begitu tersentuh oleh nada bicara Eunhyuk yang tulus. Tanpa berpikir dia segera memeluk Eunhyuk. Pelukannya dibalas dengan sayang, Eunhyuk bahkan membelai kepalanya. “Terima kasih, Hyuk. Terima kasih.”

Eunhyuk tersenyum. Tangannya terus membelai rambut Miho yang halus. Tangan Miho bergerak ke perut Eunhyuk yang ditonjoknya waktu itu. “Apa tonjokanku keras?” tanyanya pada Eunhyuk.

Merasakan belaian tangan Miho di perutnya bukan ide yang bagus, jadi Eunhyuk melepaskan pelukannya. Dia menggantikan tangan Miho mengusap perutnya sendiri. “Lumayan,” jawabnya dengan nada jahil.

Tanpa diduga Eunhyuk, Miho meneteskan air mata, “Maafin aku, Hyuk. Maaf…”

Eunhyuk jadi panik melihat air mata Miho. Sementara Miho malah terus berbicara, “Aku panik. Aku takut. Aku tahu aku melukaimu, tapi aku ga bisa berhenti. Aku minta maaf. Bener-bener minta maaf. Aku belum sempat minta maaf waktu kamu pergi ke Taiwan kemaren. Aku menyesal. Sungguh…”

Eunhyuk kaget mendengar itu semua. Dikiranya Miho sudah melupakan itu semua ketika mereka pergi ke kebun apel. Apakah selama ini Miho menghindarinya karena menyesal? “Mihyung, sudahlah. Ssst, jangan nangis. Entar aku dikira ngapa-ngapain kamu lagi. Udah, jangan nangis gini dong…” pintanya pada Miho dengan gugup sambil melihat sekitar.

Miho malah balas memeluknya lagi. Dia tidak mau menyakiti Euncha lagi, tapi dia tak sanggup kehilangan Eunhyuk. Ini pertama kalinya seorang lelaki begitu berarti baginya. Dan rasanya hanya Eunhyuk yang bisa. Dia tak sanggup membayangkan Eunhyuk dan Euncha bersama-sama. Rasanya dunianya akan hampir sama hancurnya seperti ketika dia kehilangan keperawanannya dulu dengan cara yang begitu sadis. Bedanya yang dulu itu terus menerornya dengan rasa takut, sementara kalau sampai kehilangan Eunhyuk, dia akan terus dihantui oleh kesedihan.

Maafkan aku, Euncha. Aku tak pernah berbuat apapun untukmu, malah terus-menerus menyakitimu, sesal Miho dalam hati.

Awalnya Eunhyuk berusaha menolak pelukan Miho, takut ada yang melihat. Tapi karena wanita itu tidak juga melepaskan pelukannya dan malah menyusupkan kepalanya di bahu Eunhyuk, cowok itu akhirnya luluh dan balas memeluknya. Dia menggoyang-goyang badan Miho pelan sambil mengeluarkan kalimat-kalimat menenangkan. Mereka berdua menikmati interaksi itu sampai Eunhyuk melihat pandangan menggoda Euncha dari dalam mobil.

Alis Euncha terangkat-angkat lucu menggoda Eunhyuk, membuat wajah cowok itu memerah. Dengan malu Eunhyuk melepas paksa pelukan Miho. Euncha hampir tidak dapat menyembunyikan tawanya. “Eonnie, aku harus cepat pulang, bisakah kita bergegas?” seru Euncha dengan suara sengaja dikeras-keraskan.

Miho mendengarnya dan di telinganya nada suara Euncha seperti memprotes kedekatannya dengan Eunhyuk. Dia melepaskan pelukannya di pinggang Eunhyuk dan dengan terpaksa membiarkan cowok itu menjauh darinya.

Apakah dia melihat rasa bersalah di mata Eunhyuk? Ya ampun, bodohnya dia. Tentu saja. Masalahnya bukan hanya Euncha yang menyukai Eunhyuk kan? Yang benar adalah keduanya saling menyukai! Bagaimana dia bisa berpikiran akan meminta Eunhyuk dari Euncha? Apakah dia sebegitu teganya melihat kedua orang yang disayanginya ini susah?

Wajah Miho menjadi muram memikirkan itu. Memikirkan bagaimana dia bisa begitu egois dengan memanfaatkan kelemahannya. Dia tiba-tiba membenci dirinya sendiri. Sama seperti saat dia membenci dirinya ketika ibunya jatuh sakit akibat merawatnya. Bagaimana dia bisa membiarkan orang yang dipedulikannya menderita? Dia tidak akan pernah lagi melakukan itu. Tidak akan.

Setelah mengumpulkan akal sehatnya, Miho menarik nafas dan menyuguhkan senyum bersahabat pada Eunhyuk. “Terima kasih sekali lagi, Hyuk. Untuk semuanya. Aku pulang dulu,” katanya lugas sambil masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya.

Eunhyuk merasakan perubahan sikap Miho yang tiba-tiba. Lalu karena Miho hanya menutup pintu mobil tanpa menurunkan kacanya, Eunhyuk memutar ke sisi pengemudi untuk mengucapkan hati-hati pada keduanya. Miho hanya menoleh sekilas kemudian mengacuhkannya, sementara Euncha membalas ucapan Eunhyuk dengan senyum lebar. Sambil memundurkan mobilnya.

Ketika mobil Euncha meninggalkan tempat parkir, hanya Euncha yang membalas lambaian tangan Eunhyuk, sementara Miho menunduk menahan emosi.

 

^^^

 

Di rumah Miho malam itu, semua orang berkumpul. Miho secara khusus meminta orang tua Euncha untuk datang. “Ada sedikit perayaan,” katanya ketika ditanya alasannya. Euncha sendiri langsung tertahan di rumah Miho, membantu imo dan kakak sepupunya menyiapkan makanan. Meski Miho meminta ibunya untuk menyiapkan makanan tadi pagi begitu selesai menandatangani kontrak, dia tidak mengatakan alasannya. Dia hanya mengatakan bahwa ada hal yang ingin disampaikannya kepada seluruh keluarga.

Keluarga itu berkumpul dan semuanya menyantap makan malam dengan gembira. Untuk ukuran keluarga lengkap, mereka termasuk keluarga yang kecil. Ibu Miho sebatang kara, sehingga satu-satunya saudara hanyalah adik ayah Miho, yaitu ayah Euncha. Jadilah malam itu 6 orang berkumpul mengelilingi meja makan sambil bersenda gurau.

Miho dan Euncha sepakat tidak akan memberi tahu para orang tua tentang apa yang terjadi di Hilton Hotel hari ini, dan tampaknya mereka juga sudah melupakannya karena sekarang keduanya sedang tertawa-tawa mendengarkan cerita-cerita lucu masa kecil mereka.

Di tengah-tengah percakapan, ayah Miho tak dapat lagi menahan rasa penasarannya. “Miho-ya, cepat ceritakanlah pada kami ada apa ini, kenapa kau mau kami semua berkumpul begini?”

Miho meletakkan sendoknya pelan, lalu meminum airnya. Pandangannya berbinar-binar menatap semua orang. Dia mengambil lipatan kertas yang sudah disiapkannya, lalu membukanya di hadapan semua orang. “Baiklah, kalau begitu, siap-siap ya… Appa, Eomma, Eunchanie, Samchon, Imo… Aku… sudah bergabung dengan agensi!!! Akhirnya aku berhasil!” serunya mengejutkan semua orang.

Sejenak semua orang terdiam tapi lalu mereka berseru. Ayah Miho bahkan bangkit dari kursinya dan memeluk Miho dengan bahagia. Miho agak terkejut, karena selama ini dikiranya ayahnya tidak setuju dengan pilihannya, tapi pria itu justru yang menunjukkan perasaan paling bangga saat ini. Miho mendapat kecupan sayang di puncak kepalanya dari sang ayah. Ibunya mencium—ani, mungkin lebih tepat dibilang melumat—seluruh wajahnya, sementara Euncha memeluknya kemudian berjingkrak-jingkrak, sementara kedua orang tuanya bertepuk tangan dan tertawa lebar melihat tingkah kedua putri kebanggaan keluarga kecil mereka. Untuk sesaat makan malam mereka terhenti.

Saat melanjutkan makan kembali, Euncha tiba-tiba teringat sesuatu dan memutuskan bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengungkap pertunangannya dengan Jihoon. Dia berdeham, “Ehem! Kalau begitu, aku juga punya sesuatu untuk disampaikan…” matanya beredar melihat ekspresi semua orang. Lalu dia melanjutkan, “Tentu saja kalian semua sudah tahu kalau aku sudah bekerja dan berhasil mendapatkan beasiswa seperti impianku selama ini, tapi ini sesuatu yang berbeda…”

“Eeish, cepatlah! Pamali tahu, membuat orang tua penasaran!” sergah ibu Euncha sebal karena anaknya mulai mendramatisir ketegangan.

Euncha tertawa sambil menggigit bibir. Senang karena tahu seluruh keluarganya begitu perhatian. Sebentar lagi Jihoon akan ada di sini, di tengah-tengah keluarga mereka. Ah, pemandangan yang akan sangat Euncha nanti-nanti. Dia bangun berjalan ke ruang tengah mengambil barang yang sejak tadi sore selalu membuat hatinya meleleh. Saat kembali ke ruang makan, dia menyembunyikan tangannya di belakang. Lalu ketika dia sudah kembali duduk, dia mengangkat kotak cincin yang tadi diambilnya lalu membukanya.

Semua orang terkejut melihat sepasang cincin di dalam kotak. Terdengar beberapa tarikan nafas terkesiap, lalu Euncha berkata menjelaskan, “Oppa melamarku tadi siang…” ujarnya malu-malu bahagia.

Tlek. Sendok Miho tergelincir dari tangannya. Semua orang di ruangan itu tahu siapa yang dimaksud Euncha dengan Oppa. Sudah beberapa hari ini Euncha terus-menerus menceritakan tentang Jihoon. Mengaku bahwa mereka sudah sekian minggu berhubungan meski baru beberapa hari ini Euncha terbuka mengenai hubungan mereka pada keluarganya. Hanya Miho yang tidak tahu.

Karena Miho sedang sibuk dengan dramanya. Karena Miho jadi jarang di rumah belakangan ini. Karena—terlebih lagi—Miho menghindari Euncha tiga hari terakhir. Miho sama sekali tak tahu ada sesuatu yang terjadi antara Euncha dan Jihoon. Karenanyalah saat ini perasaannya bagai diambang kematian. Sakit. Menderita sekali. Karena dalam benaknya yang dipanggil Oppa oleh Euncha adalah Eunhyuk.

 

^^^

 

Miho mengelap tangannya di apron setelah selesai mencuci piring. Di ruang tengah terdengar suara-suara tawa keluarganya yang sedang bergembira. Dengan marah Miho memaki dirinya sendiri, tak bisakah kau berbahagia saat orang lain bahagia? Haruskah kau seegois ini? Tertawalah bersama yang lain! Kau memang ditakdirkan untuk sendiri, lantas kenapa kau masih berani mengharapkan Eunhyuk?! Euncha itu adikmu! Sekali-sekali buatlah dia bahagia! Kau sudah meraih impianmu, apalagi yang kau inginkan? Terimalah kenyataan, hanya itu yang bisa kau raih. Kau tak bisa bersama orang lain. Apalagi Eunhyuk!

Tapi Miho tahu bahwa itu salah. Dengan Eunhyuk dia bisa. Dengan Eunhyuk dia percaya. Lantas kenapa satu-satunya orang yang membuatnya bisa percaya tak bisa dimilikinya?

Sebab kau tak cukup pantas untuknya. Kau makhluk kotor! Kau menjijikan! Seru suara dalam dirinya.

Arasseo! Miho mengusap matanya kasar, mengusir air mata yang hampir jatuh. Dia tahu dirinya kotor. Tak peduli seberapa lama dia terguyur di bawah air untuk membersihkan diri. Tak peduli seberapa sakit kulitnya tergesek saat dia berusaha menghilangkan jejak-jejak perkosaan keparat itu. Tak peduli seberapa banyak cairan antiseptik yang melumuri tubuhnya. Dia tetaplah menjijikan.

Bibir Miho gemetar. Dia melepaskan apronnya dengan kasar. Berusaha tak kentara dia beranjak ke kamar mandi kemudian mengguyur diri di sana. Tangannya menggosok seluruh permukaan tubuhnya dengan kasar. Saat lecet-lecet mulai timbul, dia malah makin mengeraskan gosokannya. Semakin terkelupas kulitnya, semakin sakit rasa kulitnya, semakin dia lega karena lapisan luarnya terlepas lagi. Tapi lagi-lagi rasa terjamah yang dibencinya itu tak sanggup menghilang. Bahkan saat dia menggosok rambutnya kasar sampai banyak helai rontok, saat kemaluannya terasa sangat sakit karena digosok keras sekali, Miho tetap merasa bahwa sperma para bajingan itu masih melekat di tubuhnya.

Lama sekali Miho berada di kamar mandi, di bawah guyuran air, sampai badannya menggigil kedinginan. Baru setelah tangannya seolah tak punya tenaga lagi, dia menghentikan mandinya dengan putus asa. Rasa kotornya belum hilang, tapi dia juga tak bisa membersihkannya. Mungkin hanya dengan mati dia bisa terbebas dari rasa itu. Tapi jika dia mati, orang tuanya juga akan mati. Dia tak mau itu terjadi. Hanya mereka miliknya. Dia tak mau kematian memisahkan mereka lebih cepat. Tidak sebelum waktunya.

Miho keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di kepalanya. Saat mendengar lagi gumaman-gumaman dari ruang tengah, hatinya agak menghangat. Mereka keluarganya. Seharusnya dia merasa bahagia berada di anatara semua orang. Dia tak boleh menunjukkan rasa frustasinya. Dia harus belajar menerima kenyataan. Eunhyuk milik Euncha, seberapapun menyakitkannya itu.

 

^^^

 

Malamnya, di kamar Miho.

Euncha baru saja terlelap di sebelah Miho setelah lelah bercerita tentang bagaimana ‘Oppa’ melamarnya tadi siang, lalu tentang keputusan mereka merayakannya di Hotel Hilton hingga akhirnya dia bergabung dengan yang lain di tempat pemotretan. Selama ceritanya, tak sekalipun kesalahpahaman Miho terluruskan. Euncha tak pernah menyebut-nyebut nama Jihoon, sementara Miho tak sanggup menyela. Wanita itu terlalu sibuk mengatur ekspresinya yang semakin membuat wajahnya kaku karena senyum palsu.

Jadi itu alasannya kenapa dia bisa bertemu Euncha di tempat pemotretan tadi siang, pikir Miho.

Pandangannya tertahan pada kotak cincin di sebelah kepala Euncha. Diraihnya barang itu, kemudian dibukanya. Dia mengamati kedua cincin yang tampak serasi berdampingan, lalu air matanya muncul lagi. Tanpa bisa ditahan, dia terisak. Makin lama pedih di hatinya semakin besar. Dengan tertahan dia terisak-isak sambil berkata, “Maaf.. maafkan aku Eunchanie.. Jeongmal mianheyo. Maafkan aku karena juga mencintainya. Maafkan aku…”

Di sebelahnya Euncha tiba-tiba bergerak memunggungi Miho. Terkejut sekaligus lega karena ternyata Euncha tidak terbangun, Miho menghapus air matanya cepat-cepat. Lalu dia merebahkan diri memunggungi Euncha takut adiknya itu menyadari tangisannya. Namun lama-lama isaknya terdengar lagi. Kali ini Miho menutupi kepalanya dengan bantal dan menggigit ujung bantal itu keras-keras agar suaranya tak keluar.

Miho begitu larut dengan tangisannya sendiri sehingga tak sadar bahwa nafas Euncha sudah tidak beraturan. Mata gadis itu sudah melebar. Bagaimana mungkin dia tak menyadarinya selama ini?! Mihonnie mencintai Jihoon Oppa?! Pikir Euncha gusar. Tentu saja. Alasan apa lagi yang mungkin bagi eonnienya itu untuk bisa dekat dengan Jihoon Oppa?!

Euncha merasa marah karena kenapa sampai urusan pria pun Miho masih menginginkan apa yang dimilikinya. Tapi satu sudut hatinya juga tahu bahwa ini bukan urusan main-main, karena kalau sampai Miho bisa mencintai seorang pria, itu adalah hal yang sangat luar biasa, mengingat selama ini hatinya sudah membeku.

Jadi dia harus bagaimana? Keluh Euncha. Dia mencintai Jihoon. Amat sangat. Seperti pria itu mencintainya. Tak mungkin kan dia merelakan Jihoon untuk Miho? Disamping dia tak bisa, Jihoon juga pasti tak mau kan? Tapi Miho diam saja dan hanya menangis sendirian, itu artinya eonnienya benar-benar serius mencintai Jihoon Oppa. Eotteohke? Euncha begitu putus asa sampai-sampai pandangannya kabur karena air mata.

Malam itu Euncha dan Miho tidak bisa tidur tenang. Terkadang isakan terdengar di keheningan malam di dalam kamar. Entah itu isakan milik Miho, atau isakan milik Euncha.

 

^^^

 

Di asrama Suju.

Seharusnya mereka membicarakan pekerjaan mereka untuk besok pagi. Seharusnya saat ini mereka sedang berlatih untuk talk show besok. Lalu kenapa mereka hanya terdiam di sofa begini?

Ah, Eunhyuk ingat, ini karena Leeteuk mengangkat topik tentang Miho. Sepanjang sisa hari tadi, Leeteuk bersikap profesional, dan Eunhyuk tidak menyadarinya. Tapi malam ini, saat mereka hanya berdua di asrama karena semua orang masih sibuk dengan urusannya masing-masing kecuali mereka berdua dan Yesung Hyung yang sudah kembali ke tempatnya sendiri, Eunhyuk bisa merasakan bahwa Leeteuk memendam sesuatu yang menyebabkan ketegangan di antara mereka berdua.

Terang-terangan Leeteuk bertanya pada Eunhyuk mengenai hubungannya dengan Miho. Pria itu tampak tidak sabar karena Eunhyuk tak juga menjawab. “Jawab, Hyuk!” desaknya geram. Dia geram karena Eunhyuk tampaknya memang ada hubungan dengan Miho. Tapi jujur saja, di atas semua itu, Leeteuk lebih tidak sabar pada ketidakberanian Eunhyuk.

Eunhyuk menunduk memandangi tangannya. Dia juga tidak tahu apa hubungannya dengan Miho. Mereka berteman. Hanya sejauh itu yang diketahuinya. “Kami berteman,” jawabnya singkat dan lirih. Dan tak yakin.

Leeteuk ingin menonjok Eunhyuk. “Mana ada teman peluk-pelukan sampe begitu?!”

Eunhyuk menoleh cepat ke arah Leeteuk. “Kapan?” dia bukan hendak mengelak bahwa mereka berpelukan, tapi sedang menanyakan kapan Leeteuk melihat mereka berpelukan.

“Ga usah ngeles kamu. Aku lihat. Tadi siang, waktu Miho jadi aneh lagi seperti waktu itu. Terus di tempat parkir. Kamu pikir aku ga tau? Aku liat semuanya!” dan aku agak cemburu, ngerti?! Tambah Leeteuk dalam hati.

“Itu karena Mihyung lagi panik, jadi aku berusaha nenangin dia,” Eunhyuk mengatakan alasannya setengah jujur.

“Euncha juga ada di sana, Hyuk. Kenapa bukan Euncha aja yang meluk Miho? Kenapa harus kamu? Kamu pikir aku bego apa? Dan jangan panggil dia Mihyung! Dia itu perempuan! Panggil dia Miho! Pake Noona!” Leeteuk benar-benar jengkel.

Eunhyuk menengadahkan kepalanya dengan kasar. “Suka-suka aku dong, mau manggil dia apa! Hyung kenapa sih? Kita kan harusnya ngomongin kerjaan! Kenapa jadi ngomongin Miho?!”

“Karena aku ga suka kamu deket-deket Miho!” Leeteuk langsung menjawab tegas.

Eunhyuk mencelos. Dia menatap Leeteuk nanar. Jadi hyungnya sekarang memutuskan untuk terbuka. “Maksud Hyung…”

Leeteuk memandang Eunhyuk dengan pandangan yang dimaksudkan untuk mengintimidasi anak itu. “Maksudku, aku suka sama Miho, jadi kamu jangan deketin Miho.”

Eunhyuk menelan ludah. “Hyung beneran suka sama Miho?” tanyanya lirih. Ekspresinya kacau.

Leeteuk akhirnya yakin dengan perasaan Eunhyuk. Dongsaengnya itu memang suka pada Miho. Dasar bodoh. Kalau suka ya diperjuangkan dong. Dia pikir aku mau ngalah gitu aja? Huh, di dunia ini ga ada hal yang tanpa perjuangan, tahu?

“Kamu pikir kenapa aku mau-mau aja disuruh menjalin hubungan palsu ama Miho? Ya jelas karena aku ada maunya, kan? Dari awal aku tahu Miho itu cewek, aku langsung suka sama dia!” Leeteuk menjawab pertanyaan Eunhyuk. Biarpun kamu tetep lebih hebat, suka sama Miho biarpun setahumu dia adalah makhluk transgender, tambahnya dalam hati.

Eunhyuk termangu. Semua karena kebodohannya. Seharusnya dia tidak mengusulkan ide laknat itu.

Leeteuk hampir saja menyerah melihat ekspresi Eunhyuk. Tapi dia tidak mau. Dia serius menyukai Miho, meskipun tahu rasanya tidak akan berbalas setelah melihat bagaimana Miho memperlakukan Eunhyuk. Tapi Eunhyuk harus dicambuk agar mau bergerak dan tidak terus-terusan menjadi pengecut yang hanya bisa pasrah. Mumpung perasaannya belum seberapa dalam pada Miho, dia akan merelakannya. Hanya jika Eunhyuk cukup bertekad untuk memperjuangkan wanita itu. “Inget, Hyuk. Aku ga mau kamu macam-macam sama Miho, ngerti? Dia milikku,” tegas Leeteuk.

Eunhyuk mengangkat wajahnya lalu memandang kosong ke arah Leeteuk. Lalu cengiran konyolnya tiba-tiba muncul. “Eeeissh, geureom. Aku ga akan macam-macam. Aku cuman temennya kok. Kebetulan aja aku tahu gimana cara nenangin dia, jadi dia deket sama aku. Jadi, sekarang kita ngomongin kerjaan?” Eunhyuk memasang tatapan kucing minta makan, sok imut.

Membuat Leeteuk hampir kehilangan kesabaran. Dasar dongsaeng bodoh! Gue embat beneran si Miho baru nyaho lu! “Hyuk, lo serius?!” Leeteuk bertanya meyakinkan.

“Ngapain sih Hyung ngebahas hal ga penting gini?!” udah jelas-jelas Miho deket-deket mesranya sama situ, ngapain masih takut gue rebut sih?! Eunhyuk hampir tidak bisa mengendalikan emosinya. Hal yang paling dihindarinya selama ini adalah konflik personal dengan sesama member. Mereka sudah menjadi lebih dari saudara baginya. Jadi meskipun hatinya terluka dia juga tidak akan memaksakan keinginannya. Apalagi kalau Miho juga menyukai Leeteuk.

Yah, sebenarnya itu alasan paling kuat. Kalau Miho memilih Leeteuk, Eunhyuk bisa apa? Apa dia mau memaksa Miho? Tidak mungkin kan? Wanita itu pasti sudah muak semuak-muaknya dengan paksaan.

Leeteuk memutar matanya. Eunhyuk memang tersenyum. Tapi anak itu harus melihat wajahnya sendiri untuk tahu bagaimana anehnya ekspresinya saat ini. Dasar bodoh. Terserah kau saja, Nyuk. Kalau Miho ternyata jadi denganku, jangan menyesal kau!

 

^^^

 

Keesokan siangnya, di gedung teater.

Eunhyuk tiba-tiba berpapasan dengan Euncha di pintu masuk. Hari ini entah kenapa Eunhyuk sangat ingin bertemu Miho. Setelah percakapannya dengan Leeteuk tadi malam, dia tak bisa tenang. Dia ingin melihat Miho. Bertemu dan berbicara dengan wanita itu. Sudah lama sekali rasanya dia tak berbincang-bincang dengan Miho tanpa beban, Eunhyuk mengeluh dalam hati, padahal itu belum ada seminggu yang lalu. Tanpa Miho memang waktu terasa bagai jurang jarak yang sangat dalam.

“Oppa kenapa kemari?” Euncha bertanya pada Eunhyuk.

Sejak apa yang didengarnya semalam dari mulut Miho, hari Euncha terasa suram. Dia sengaja menghindari Jihoon seharian ini karena tak ingin menangis di depan pria itu. Bagaimana dia bisa kehilangan Jihoon? Dan bagaimana dia bisa membuat Miho terus menderita? Dia harus menuntaskan semuanya dengan Miho. Itulah mengapa dia datang ke gedung teater sekarang.

“Kamu ngapain ke sini?” Eunhyuk balas bertanya pada Euncha.

“Ada yang mau aku bicarakan dengan Mihonnie.” Euncha mengalihkan pandangannya dari Eunhyuk sambil memasuki pintu utama. Ya ampun, kasihan sekali Eunhyuk Oppa, padahal dia benar-benar menyukai Mihonnie. Sebenarnya ini nasib apa? Kenapa semuanya serba tak pas?

“Aku juga ingin bertemu Miho. Mau mengajaknya makan siang.” Eunhyuk mengikuti langkah Euncha.

Euncha berhenti dan berbalik menatap Eunhyuk. Ingin rasanya dia mengatakan, berhentilah Oppa, jangan sakiti dirimu lebih jauh. Mihonnie mencintai orang lain.

Dia tak tahu bahwa dalam hatinya Eunhyuk bergumam, mengajaknya makan siang dan mungkin mengucapkan kata perpisahan dengannya.

Tapi keduanya sama-sama tak sanggup mencetuskan apa yang ada dalam pikiran mereka.

Sampai di dalam, mereka harus menerima kenyataan bahwa Miho tidak ada. “Dia dijemput oleh temanmu tadi,” ujar Ji Sangryeol menunjuk Eunhyuk.

“Teman saya?” Eunhyuk heran.

“Iya, yang belakangan ini menggantikanmu menjemputnya,” Sangryeol menjelaskan maksudnya.

“Leeteuk Hyung.”

“Leeteuk Oppa.”

Gumam Euncha dan Eunhyuk bersamaan.

Keduanya lalu mengucapkan terima kasih pada Ji Sangryeol dan menaiki tangga menuju pintu keluar.

Di tengah-tengah, Euncha terduduk di salah satu kursi. Kapan Miho akan bisa ditemuinya? Dia tak bisa begini terus. Hidupnya tak akan pernah tenang kalau seperti ini. Dia juga tak ingin terus-menerus membuat Jihoon khawatir. Kenapa? Kenapa Miho harus mencintai Jihoon?

“Eunchanie, gwaenchanha?” Eunhyuk mengkhawatirkan Euncha. Sejak mereka bertemu di depan tadi, Euncha tampak sangat aneh.

Euncha menatap Eunhyuk dan air matanya menetes. “Oppa, eotteohke?” ujarnya tak kuat lagi menahan semua bebannya seorang diri.

Eunhyuk berjongkok di depan Euncha lalu berusaha menenangkannya. Pada akhirnya, kedua orang itu melangkah bersamaan keluar gedung dan bermobil beriringan menuju suatu tempat yang tertutup untuk makan siang bersama. Mereka berpikir, toh mereka sama-sama tak menemukan orang yang dicari. Selain itu toh mereka juga sedang dalam suasana hati yang buruk. Mungkin lebih baik kalau mereka makan siang bersama sekedar menghalau kesendirian yang terasa menyesakkan.

 

^^^

 

Di bilik tertutup di  sebuah restoran jepang, Leeteuk dan Miho duduk berhadapan. Saat menjemput Miho tadi, Leeteuk menyadari moodnya yang kurang baik. Dia jadi ingin menghibur Miho. Sepertinya berhasil sebab Miho sudah beberapa kali tertawa mendengar leluconnya. Tawanya begitu cantik dan menggemaskan. Tawa yang memancing Leeteuk untuk secara spontan mengatakan perasaannya, “Miho-ya. Aku serius menyukaimu.”

Miho menghentikan sumpitnya yang sudah setengah jalan naik ke mulut. Dia menatap Leeteuk. Tak yakin dengan pendengarannya. “Ne?”

Leeteuk tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang hanya sebelah. Diraihnya tangan Miho kemudian digenggamnya tangan itu dan matanya menatap Miho. “Aku menyukaimu, Miho-ya. Maukah kau benar-benar menjadi kekasihku? Sehingga kita tidak perlu berbohong lagi pada siapapun?” tanyanya lembut tapi nadanya lugas.

Miho menatap tangannya dalam genggaman Leeteuk. Sebentar kemudian ditariknya tangan itu. “Maaf Oppa. Aku tidak bisa,” tiba-tiba Miho merasa harus bersikap formal pada Leeteuk.

Pria di hadapannya tersenyum lalu menunduk. “Apa karena Eunhyuk?”

“Eh?” Miho kaget mendengar pertanyaan Leeteuk.

“Kau menyukai Eunhyuk kan?”

Mendengar nama Eunhyuk disebut-sebut, hati Miho bagai ditusuk. Dia tersenyum lemah. “Sebagian, ya.”

Leeteuk memasang sikap memohon. “Kenapa? Apa dari Eunhyuk yang aku tak punya?”

Miho memandang sedih pada Leeteuk. “Bukan tak punya, Oppa. Tak bisa. Kau tak bisa, pria lain tak bisa—” Miho tercekat sesaat, “Hanya Eunhyuk yang bisa,” seraknya kemudian. “Aku juga tidak tahu kenapa begitu,” lanjutnya lemah.

Leeteuk menggeleng. Dia tidak mau menyerah tanpa perjuangan. “Katakan padaku apa yang dia lakukan. Beri aku kesempatan mencobanya. Baru setelah itu kau putuskan. Ya?” bujuknya.

“Mian, Oppa. Itu tak mungkin. Karena aku juga tak tahu bagaimana Eunhyuk melakukannya.” Jawab Miho pelan. Air matanya mulai menggenang, dan kini aku harus bersiap kehilangannya, lucu sekali, aku bahkan tak pernah memilikinya, bagaimana bisa kehilangan?

“Kenapa menangis?” Leeteuk bertanya bingung. Kalau ada yang ingin menangis sekarang itu harusnya dia. Bukankah Miho bisa bersenang-senang dengan Eunhyuk?

Miho menggeleng. Berusaha menghapus kesedihannya dan mengelak dari pertanyaan Leeteuk. Akh, dia benci saat rapuh begini. Padahal selama ini dia tak pernah seperti keran bocor begini. Semuanya berubah setelah Eunhyuk mulai memasuki hidupnya. Dan sekarang, saat Eunhyuk akan menjadi bagian hidup Euncha.

“Miho-ya~” panggil Leeteuk iba melihat ekspresi Miho.

Miho mengangkat wajahnya dan tatapannya bertemu dengan tatapan Leeteuk. Ah, pria ini baik sekali. Miho punya insting yang sama padanya dengan saat bersama Jihoon, meski Jihoon tidak pernah menyukainya seperti Leeteuk. Dan kata-katanya meluncur begitu saja, sama seperti dulu saat dia bercerita pada Jihoon. Waktu itu dirinya sendiri bahkan tidak sadar bisa menceritakan pengalaman paling buruknya begitu saja. Sekarang ini hampir sama dengan saat itu, dimana tiba-tiba dia berucap pada Leeteuk, “Aku ini korban perkosaan, Oppa…”

Lalu kata-katanya mengalir, menceritakan apa yang pernah dialaminya. Sesekali air matanya menetes, tapi Miho tak menyadarinya. Leeteuk terlalu terkejut untuk menyela. Mulutnya terbuka saat mendengarkan Miho. Saat kata demi kata mengalir, perasaan Miho terasa diringankan sedikit. Meski sedikit sekali, tapi dia merasakannya, rasa lega yang datang itu.

“Entah bagaimana saat bersama Eunhyuk ketakutanku hilang. Saat mendengar suaranya, aku mendapatkan kembali kesadaranku. Saat dia ada di sampingku, aku merasa baik-baik saja. Bahkan dengan Jihoon Oppa aku tidak begitu. …” Miho mengakhiri penuturannya. Dia memandang Leeteuk lalu berujar, “Sekarang Oppa tahu kan, kenapa aku bilang hanya Eunhyuk yang bisa? Geunyang~ hanya Eunhyuk. Aku bahkan tidak tahu apa alasannya.”

Lalu diam. Bilik itu terasa bagai ruang isolasi suara. Tak ada yang terucap dari mulut Leeteuk, sementara Miho sengaja diam untuk melihat respon Leeteuk.

Kemudian Leeteuk bergerak. Tangannya menutup mulut. Matanya menatap Miho dan meja berganti-ganti. Wanita ini, wanita yang sanggup menjadi cahaya lewat senyumnya ini, memiliki masa lalu yang begitu kelam? Kalau Leeteuk wanita dan mengalami apa yang dialami Miho, dia pasti sudah bunuh diri. Tapi Miho bertahan. Tanpa tahu kenapa, Leeteuk berkata, “Miho-ya, maaf.”

Miho tersenyum basa-basi. Benar kan? Bahkan reaksi Leeteuk mirip dengan reaksi Jihoon. Dia bisa menduga mengapa Leeteuk meminta maaf, jadi dia bertanya ringan, “Kenapa Oppa harus minta maaf? Kan bukan Oppa yang memerkosa aku.”

Leeteuk tertohok. Tapi aku laki-laki. Kaum yang membuatmu mengalami pengalaman sadis itu, pikirnya sambil merasa mual. “Bagaimana perasaanmu sekarang?”

Miho tersenyum. “Aku sudah bilang kan tadi, konsultasi dengan psikolog sangat membantuku. Pada saat-saat tertentu memang aku bisa kehilangan kendali, tapi di saat-saat biasa, aku baik-baik saja.”

Leeteuk menatap Miho. Sebersit pemikiran terlintas di benak Leeteuk. “Apa kau tidak takut padaku?”

Miho menunduk lalu tersenyum, “Dengan Oppa, aku merasa seperti sedang bersama Jihoon Oppa. Kalian berdua begitu lembut dan sabar menghadapiku. Kalian membuatku teralih dari ketakutan. Aku tidak takut pada Jihoon Oppa, dan yah, aku juga tidak takut padamu.”

“Kalau begitu, Eunhyuk?”

Senyum Miho memudar. Matanya menerawang. “Dia… menarikku dari zona isolasiku. Karena dia aku bisa keluar dari cangkangku, dan sejak aku mengenalnya, untuk pertama kalinya aku bisa melawan apa yang kutakuti. Dia… menghangatkan hatiku…” suara Miho bergetar karena meskipun memikirkan Eunhyuk bisa membuat hatinya hangat, tapi rasanya sakit.

“Kenapa menangis lagi?” Leeteuk kebingungan.

Pertanyaan itu membuat tangis Miho semakin keras, “Oppa… eotteohke? Kurasa aku jatuh cinta pada Eunhyuk…” tangisnya.

 

^^^

 

Eunhyuk dan Euncha turun dari mobil masing-masing dan melangkah memasuki restoran Jepang tepat saat Leeteuk dan Miho hendak keluar.

Keempat orang itu saling menatap. Awalnya ketika tadi Miho bercerita mengenai hubungan Eunhyuk dan Euncha yang bahkan sudah bertunangan, Leeteuk tidak percaya. Sama sekali tidak ada tanda-tanda ke arah itu sebelumnya. Di matanya malah Eunhyuk seperti jungkir balik jika menyangkut Miho, bukan Euncha. Tapi melihat mereka datang berdua ke sini Leeteuk mulai mempercayai Miho. Rasa iba menyentuh hatinya. Dengan perasaan ingin melindungi, Leeteuk bergerak mendekati Miho kemudian merangkulnya, bermaksud memberi dukungan kekuatan.

Darah Eunhyuk serasa mendidih melihat itu. Ternyata memang tak semudah itu berlapang dada. Terpaksa dia membuang muka karena tak ingin memancing keributan dengan mengumbar emosinya.

“Eonnie,” Euncha memanggil Miho. Dia hanya memperhatikan Miho, Leeteuk tidak penting. Diraihnya tangan Miho. Dengan nada mendesak dia berkata pada kakaknya itu, “Eonnie, aku ingin bicara. Bisakah kita bicara sekarang?”

Miho tidak tahu bagaimana harus menjawab Euncha, tapi hatinya sakit sekali melihat Euncha dan Eunhyuk bersama.

Leeteuk yang melihat Miho hanya diam mencoba menjawab pertanyaan Euncha. Rasanya dia tidak tega melihat Miho lebih tersakiti lagi. “Euncha, bagaimana kalau lain waktu? Aku ingin mengajak Miho ke suatu tempat.”

Mendengar itu Eunhyuk mengepalkan tangannya. Dia melangkah ke depan dan berkata, “Eunchanie, aku akan memesan tempatnya dulu. Hyung,” dia hanya mengangguk pada Leeteuk. Saat ini tidak sanggup rasanya untuk berbicara pada lelaki yang selama ini dianggapnya kakak. Omong kosong dengan segala tekadnya melupakan Miho. Dia remuk melihat Miho bersama Leeteuk.

Leeteuk juga hanya mengangguk. Sepertinya Eunhyuk tidak menyadari perasaan Miho, makanya dongsaengnya itu malah berhubungan dengan Euncha kan? Tapi sikapnya aneh. Apa mungkin Eunhyuk mengetahui perasaan Miho? Kalau iya, tega sekali dia. Tapi bukan salah Eunhyuk sih kalau memang rasanya adalah untuk Euncha, itu kan masalah hati. Rasa iba Leeteuk pada Miho semakin besar.

“Eonnie, aku mohon. Kita harus bicara sekarang, ini penting.”

Miho melihat tatapan memelas di mata Euncha. Dan apakah itu air mata yang dilihatnya berkilat di mata Euncha? Hatinya tidak tega melihat sang adik berekspresi begitu. Akhirnya dia mengangguk.

Leeteuk yang tidak ingin membiarkan Miho sendirian memutuskan untuk mendampinginya. Mereka bertiga akhirnya memasuki ruangan yang sudah dipesankan oleh Eunhyuk. Di sana, sembari menunggu pesanan makanan datang, Euncha menatap Miho dengan sedih.

Perlahan dia berbicara, “Eonnie, aku mendengar semuanya tadi malam. Aku belum tidur waktu Eonnie mulai menangis. Tapi aku tidak pernah tahu sebelumnya kalau Eonnie juga mencintai Oppa.” Euncha tidak sanggup lagi menahan kata-katanya. Dia tidak suka basa-basi sama seperti dia tidak menyukai masalah. Dia tidak suka melihat Miho tersiksa dan merasakan hatinya sendiri terluka. Mereka harus terbuka. Peduli setan dengan orang lain yang ikut mendengarkan. Toh mereka sendiri yang ingin ikut mendengarkan.

Eunhyuk terkesiap. Awalnya dia memandangi Euncha. Lalu melihat betapa rapatnya posisi duduk Miho dan Leeteuk. Bahkan sekarang Leeteuk merangkul erat bahu Miho yang mulai gemetar. Dan apa itu? Miho menangis?!

Miho mencintai Oppa? Oppa siapa? Leeteuk Hyung kah maksudnya? Jadi benarkah dugaan yang selama ini ditakutinya? Lalu kenapa Miho menangis? Bukankah dia memang sudah bersama Leeteuk?

Miho cepat-cepat meraih tangan Euncha. “Eunchanie, uri Euncha, mianhae. Jeongmal mianhae…” lalu tatapan Miho berganti menatap Eunhyuk. Sorotnya pedih sekali. Bibirnya melanjutkan bicara, “Maaf. Aku yang salah. Aku ga tau selama ini kalian berhubungan. Seharusnya aku ga membiarkan perasaanku muncul. Maaf Euncha. Dia milikmu. Sungguh, aku ga ingin merusak hubungan kalian. Kalian harus bahagia. Maaf Euncha…” isaknya dengan suara bergetar.

Hati Leeteuk ikut bagai diperas mendengar kata-kata Miho. Wanita itu harus merelakan satu-satunya pria yang bisa diterimanya untuk sang adik. Adakah pengorbanan yang lebih besar dari itu? Tangannya membelai punggung Miho memberi kekuatan.

Miho berkata lagi, “Kamu kan tahu aku ga bisa, jadi… jadi…” Miho menatap Eunhyuk perih, “Kalau memang ada yang pantas untuknya, itu kamu. Aku ga mungkin bisa…”

Euncha justru merasa makin terpuruk mendengar kata-kata kakaknya. Kenapa kakaknya berpikir dia tak layak mendapatkan kebahagiaan? Dia kan hanya korban masa lalu yang kelam? Mengapa dia tak mengatakan sesuatu yang lebih egois? Bukankah dengan begini Euncha semakin tidak tega mempertahankan Jihoon? Tapi dia sangat mencintai pria itu… Apa yang harus dilakukannya? “Ani, Eonnie. Kau tidak boleh berkata begitu. Kau pasti bisa. Eunhyuk Oppa—”

“Andwae, Eunchanie. Tolonglah. Jangan biarkan aku menyesal. Kau lebih berhak bersamanya. Aku sudah meraih mimpiku. Itu sudah cukup. Terlalu banyak yang…” Miho menyedot lendir di hidungnya yang hendak keluar, “…yang sudah kau lakukan untukku. Aku ga bisa membalas semua itu. Aku cuman tahu cara ini. Tolong, berbahagialah…”

Eunhyuk sebenarnya terharu melihat adegan itu, tapi dia merasa ada yang salah. Kenapa Miho berulang kali menatapnya? Dan lagi, sebenarnya apa sih yang mereka bicarakan? Leeteuk Hyung tampaknya tidak kesulitan menangkap pembicaraan ini, kenapa dia tiba-tiba merasa bagai berasal dari luar planet yang tidak mengerti bahasa manusia? Kenapa Miho mengatakan Leeteuk milik Euncha? Bukankah Euncha berhubungan dengan Jihoon? Ini ada apa sih sebenarnya?!

“Eonnie, itu mustahil! Kau pikir aku bisa tetap menikah dengannya kalau tahu kau menderita begini?!” Euncha mulai kehilangan kendali atas emosinya.

Jederr! Eunhyuk merasa seperti mendapat ilham dengan cara yang sangat menyakitkan. Kalau pernikahan Euncha yang mereka bicarakan dan tadi dibilang Miho mencintai Oppa, apakah berarti Miho mencintai Jihoon?! Lelaki yang keberadaannya tidak jelas itu?! Tunggu, tidak jelas kan karena dia tidak terlalu dekat dengannya, mungkin bagi kedua wanita ini Jihoon sejelas lampu teplok saat mati lampu! Sial, jadi Leeteuk hyung bukanlah saingannya?! Entah kenapa rasa sakit di hati Eunhyuk begitu tahu Miho mencintai seseorang, sebagian tergantikan oleh rasa keki karena kecolongan.

Miho berkata lagi, “Aku tidak akan menderita Euncha… Aku bahagia. Aku sudah lebih dekat ke mimpiku, ingat? Untuk itulah tadi malam kita berkumpul merayakannya, kan?”

“Tapi gara-gara tadi malam juga—” ucapan Euncha terpotong oleh pesanan makanan mereka yang datang. Hanya Euncha dan Eunhyuk yang memesan, karena Leeteuk dan Miho sudah selesai makan.

Saat itu di belakang pelayan yang mengantar nampaklah sosok Jihoon yang sedang bersama Rektor universitas Miho dulu. Jihoon melihat ada Euncha di sana dan hatinya langsung geram. Kalau tidak ingat ada Rektor, dia pasti sudah menghambur ke ruangan itu dan menarik Euncha untuk dicium habis-habisan. Apa-apaan wanita itu tadi pagi tiba-tiba meneleponnya minta putus?! Lalu seharian ini menghindarinya dengan tidak masuk kerja!

Pria itu menatap tajam Euncha yang juga sudah menyadari keberadaannya. Tatapan itu menjanjikan bahwa Euncha tidak akan lolos kali ini. Euncha melihatnya dan mengkeret. Tanpa sadar dia mendekati Eunhyuk yang kebetulan duduk di sebelahnya, mencari perlindungan.

Miho juga melihat Jihoon, dan dia langsung berpaling menyembunyikan wajahnya. Bukan Jihoon yang dihindarinya, tapi Sang Rektor. Dia belum lupa pernah mempermalukan pejabat itu saat wisudanya dulu. Dia tidak ingin berbasa-basi sekarang ini. Apalagi untuk meminta maaf.

Eunhyuk menegang melihat Miho mendekati Leeteuk. Tatapannya mengikuti tatapan Miho dan menemukan Jihoon. Sial, si sumber masalah ternyata ada di sana. Laki-laki itu sebenarnya tahu tidak sih, kalau Miho menyukainya? Mencintainya, malah. Kok bisa dengan santainya menggandeng Euncha. Kasihan keduanya kalau begini. Dia otomatis mengambil sikap melindungi Euncha.

Sikap yang kemudian membuat Leeteuk yakin bahwa Eunhyuk dan Euncha memang berhubungan.

Sikap yang mengundang tatapan marah di mata Jihoon.

Begitu Jihoon tak terlihat lagi, Leeteuk dan Eunhyuk sama-sama menanyai wanita di pelukannya, “Gwaenchanha?”

Euncha dan Miho mengangkat wajah sambil mengintip pintu yang sekarang sudah kembali tertutup lalu mendesah lega. Mereka berdua segera melepaskan diri dari Leeteuk dan Eunhyuk. Baru keduanya hendak mulai bicara lagi, pintu ruangan mereka tiba-tiba terbuka lagi. Kali ini dengan kasar dan bunyinya keras.

Euncha langsung pias begitu melihat siapa yang datang. Tanpa berkata-kata, Jihoon yang dari tadi menahan emosi melewati Eunhyuk dengan semena-mena dan menarik Euncha untuk berdiri kemudian langsung melumat bibir gadis itu dengan ciuman. Tak memberi kesempatan padanya untuk mengatakan apapun.

Ketiga orang lainnya di ruangan itu terperangah menatap apa yang terjadi. Euncha shock.

Dia begitu mencintai pria ini. Bahkan saat Jihoon menciumnya kasar dan penuh kemarahan seperti ini, Euncha menyadari sepenuhnya bahwa alasannya tak berkutik adalah karena dia mencintai pria itu. Matanya mulai berkaca-kaca membayangkan bahwa dia harus melepaskan Jihoon untuk Miho.

Astaga, Miho! Diliriknya sang kakak yang sekarang sedang terperangah.

Euncha meronta ingin melepaskan diri dari cengkeraman Jihoon. Pria itu melepaskannya lalu mendesis marah, “Kalau alasanmu minta putus adalah karena kau ingin berhubungan dengan bocah ini,” tangannya menunjuk Eunhyuk, “aku tidak terima! Kau milikku! Sampai kapanpun kau milikku!”

Euncha ingin meleleh mendengarnya, tapi Miho… Ya Tuhan, Miho! Dia menghambur ke pelukan kakaknya. “Eonnie, tidak. Itu tidak benar. Tidak! Aku bukan miliknya! Aku sudah meminta putus darinya. Aku tak mau merebut cinta Eonnie satu-satunya!”

Miho dan Leeteuk terlontar dari bumi. Apa yang terjadi?

Eunhyuk merasa kemarahan menguasainya. Jadi pria itu memang dicintai Miho?! Selama ini dia pikir dia tahu tentang Miho dan ternyata salah?!

Jihoon cengo. Merebut cinta Miho satu-satunya? Ini sedang shooting candid camera ya? Sejak kapan Euncha berhubungan dengan cinta-Miho-satu-satunya? “Eunchanie, ada apa ini?!” suara Jihoon tegang. Dia butuh penjelasan. Sekarang juga.

“Aku mencintainya, Eonnie. Tapi kalau kau juga mencintainya…” Euncha mengacuhkan Jihoon.

“Euncha!” Jihoon memanggil Euncha lagi. Kali ini lebih keras.

“Eunchanie… aku mencintai siapa?” Miho berkata bersamaan dengan suara Jihoon.

Euncha menangis. “Eonnie, tak perlu disembunyikan. Biarkan dia tahu perasaanmu. Eonnie harus berani. Eonnie harus berusaha meraih kebahagiaan Eonnie sendiri. Jangan mau dikalahkan oleh rasa takut. Aku senang Eonnie akhirnya bisa mencintai seseorang…” air mata Euncha makin deras, hatinya berteriak kesakitan, aku senang biarpun orang itu adalah orang yang kucintai.

Melihat Miho tidak merespon, Euncha merogoh tasnya. Diambilnya kotak berisi bakal cincin pernikahannya dengan Jihoon. Dengan gemetar dibawanya cincin itu ke hadapan Jihoon. “Oppa, ini aku kembalikan. Aku tak bisa menerimanya. Eonnie mencintaimu, aku tak bisa bersamamu. Aku…” tangis Euncha pecah. Lalu gadis itu terduduk di lantai.

Tanpa disadari siapapun, Leeteuk bergerak ke arah pintu, menutupnya. Ini adegan sensitif, hanya untuk konsumsi pribadi, tidak enak kalau pengunjung restoran yang lain ikut melihat.

Miho menelan ludahnya. Ya Tuhan, semoga aku tidak salah. Euncha mengembalikan cincin itu ke Jihoon? Dia menatap Eunhyuk yang masih terpaku menatap Euncha yang sesenggukan. Lalu tanpa peringatan tatapan cowok itu mengarah padanya, dan Miho serasa disedot oleh alam semesta, terlontar ke dunia yang hanya diketahuinya dan Eunhyuk. Perasaannya sedemikian kuat.

Dengan meneguhkan hati Miho bertanya pada Euncha, “Cincin itu milik Jihoon Oppa?”

Euncha tidak menjawab, masih menangis. Hati Jihoon bagai disayat mendengar tangisan itu. Kenapa Euncha terlihat begitu terluka? Dia tidak ingat sama sekali kata-kata yang tadi dilontarkan Euncha bahwa Miho mencintainya. Perlahan dia berlutut dan berusaha memeluk Euncha, tapi Euncha berontak. Hatinya bagai dipatahkan.

“Kau bukan bertunangan dengan Eunhyuk, Eunchanie???” nada suara Miho bagai dicekik. Dia ingin benar agar jawaban Euncha mendukung pertanyaannya.

Jihoon menatap Miho kesal. “Kenapa uri Euncha harus bertunangan dengan bocah itu kalau aku yang melamarnya?!” nadanya keras.

Leeteuk berseru pada Jihoon, “Jogiyo, tidak usah membentak!”

Euncha mengangkat wajah menatap Miho, tapi yang ditatap malah sedang memperhatikan Eunhyuk.

Eunhyuk menelan ludah melihat tatapan Miho. Bibir wanita itu gemetar ketika mengatakan kalimat berikutnya, “Kupikir kau bertunangan dengan Eunhyuk…” nadanya lega, dan tanpa terasa air matanya meleleh lagi.

Leeteuk mengusap air mata Miho pelan dan merangkul bahunya. Dalam kepalanya dia mulai bisa membaca situasi yang sebenarnya. Hatinya merasa konyol karena setelah dipahami, semua ini hanya kesalahpahaman. Perasaannya sendiri campur aduk. Antara senang karena Miho tidak jadi patah hati, dan patah hati karena Miho ternyata bisa benar-benar bahagia bukan dengannya.

Kesadaran perlahan merambat di kepala Eunhyuk. Kalau Miho mencintai pria yang bertunangan dengan Euncha, itu artinya dia mencintai Jihoon. Tapi tadinya menurut Miho yang bertunangan dengan Euncha bukanlah Jihoon melainkan dirinya. Artinya, Miho mencintainya? Benarkah itu?! Lalu kenapa Miho menangis? Matanya tidak muram, artinya dia menangis bukan karena sedih. Mengapa bibir wanita itu tersenyum? Jadi sebenarnya Miho mencintainya atau Jihoon?

“Kenapa Eonnie pikir aku bertunangan sama Eunhyuk Oppa?” Euncha tersengal-sengal di sela tangisnya yang masih ada. Kini Jihoon mencoba lagi merangkulnya dan dia tidak menolak.

Miho berkata pelan tapi jelas, “Eunchanie, aku tidak mencintai Jihoon Oppa.” Pernyataan itu ditujukan pada Euncha, tapi mata Miho tertanam lurus pada sosok Eunhyuk yang juga sedang menatapnya.

 

-cut-

Iklan