Absolute Music and Art –Sketch. 5

Park Nana story..

U make me cry….
Naega saraganeun iyu., Jebal nal tteonajima
Just tell me why…. Nunmureul dakkajwo malhaejwo I’m so crazy~

Gubrak!! Aku tersentak melihat Joon oppa yang mengadu dengkulnya ke lantai. Ia berhenti menari dan memegangi lututnya dengan kesakitan.
“Oppa… gwenchanaeyo?” tanyaku sambil mengecek keadaannya. Hari ini aku ditugasi untuk menjadi mentor kelompok Joon oppa, sementara Cheondung oppa dimentori oleh kelompok lain.

Joon oppa mengangguk sambil mengelus elus dengkulnya, “Mungkin karena aku melamun, jadi aku lupa gerakanku dan terjatuh. Jesonghabnida.”
Aku mengangguk dan memperhatikan lutut Joon oppa yang terantuk tadi, “Lututmu membiru oppa, kau bawa salep atau semacamnya? Kalau tidak segera diobati, bisa menghambat seluruh kegiatanmu. Apalagi dalam masalah tari temporer.”
Joon oppa menggeleng lagi dan mengelus lututnya berkali kali, “Dielus elus juga nanti bisa sembuh sendiri kok.”
“Yak… oppa neun babo-ya? Andwae, tidak bisa kalau hanya dibegitukan. Nih untung aku bawa salep, luruskan sini kakimu.” Aku mengoles sedikit salep di lutut biru Joon oppa. Ia tidak meringis atau mengeluh sama sekali, apa dia sudah sering begini ya? “Kau memikirkan apa sih oppa?”
“Seungho hyung.”
Aku terkejut mendengar nama itu keluar dari mulut Joon oppa, “Mworago? Kenapa kau memikirkan dia? Kau punya urusan pribadi dengannya?”
“Oh bukan….” Jawabnya sambil menutup mulutnya dan menatapiku yang seakan tahu semua rahasianya, namun tiba tiba ia menghela napas cukup panjang. “Hwang Dain, aku juga memikirkan dia.”
Aku duduk disebelahnya dan mencoba mendengarkannya, mungkin saja aku akan mengetahui beberapa rahasia darinya *spy mode on*
“Tidak ada yang tahu kalau kami cukup dekat sekarang. Mungkin hanya teman-temannya, seperti kau, Hyoni, Hyori, dan yang lainnya.” Ucap Joon oppa, “Tapi… semakin jauh kita berteman, aku….. merasa kalau….”
Aku membuka telingaku lebar-lebar, mungkin saja dia mau mengatakan kalau dia….. “Oppa merasakan sesuatu terhadapnya?”
Sudah kuduga, ia mengangguk lalu berkata. “Nee, aku merasa kalau………..”
Belum selesai ia bicara, tiba tiba ada beberapa gerombol anak yang mengulurkan buku ke arahku. Oh man, padahal sebentar lagi Joon oppa hampir saja memecahkan rasa penasaranku~!!!
“Sunbaenim…. Aku minta tanda tanganmu untuk data kehadiran kami selama ospek~!!” kata anak-anak itu. Aku menyuruhnya berbaris dan kutanda tangani buku mereka satu persatu, oh iya hari ini kan hari terakhir ospek ya? Pantas saja banyak yang minta tanda tangan kepada teman-teman satu angkatanku.
Setelah mereka pergi, aku kembali menanyakan hal itu kepada Joon oppa, “Oh iya, tadi oppa ingin bicara tentang apa? Ayo kita lanjutkan.”
“Ah…. Aku lupa minta tanda tanganmu, sunbaenim.” Ia mengulurkan buku ospeknya padaku dengan senyum gigi kelincinya, “Tulisnya ‘Buat Lee Joon: tarian temporermu indah, joahae’ bagaimana? Mau kan?”
Aku menggeplaknya dengan buku itu, “Jinjja, kau narsis sekali oppa.”

~~~~~

Shin Hyoni story…

Aku mengusap peluhku setelah hari ini sibuk menanda tangani buku buku ospek milik anak-anak instrument petik itu. Tahun ini yang masuk cukup banyak, termasuk hoobaeku di SMA yang bernama Park Shinmi. Yeoja itu kini sedang sibuk bersama gitar kesayangannya, kalau diingat ingat…. Dia mirip denganku waktu masih mahasiswa baru. Seungho oppa memperlakukanku dengan baik saat ospek dulu, waktu aku minta tanda tangannya.. ia dengan senang hati memberikannya kepadaku. Mungkin karena kami tetangga kali ya? Hahahaha…
“Hyoni-sshi annyeong.” Aku menengok ke belakang dan menemukan Dain dengan tas gendong dan pensil di kerah bajunya. Oh, dia pasti habis menggambar. Bisa kulihat dari buku sketsa yang ia genggam di tangan kanannya.
“Annyeong, sini duduk.” Ajakku, “Kamu sendirian?”
Ia mengangguk sambil duduk disebelahku, “Nee Cheondung oppa tidak kunjung kembali sehabis upacara peresmian mahasiswa baru, padahal aku menunggunya.” Jawabnya sambil membuka bukunya lagi. Kulihat gambar deretan kecil yang berdiri di dalam lapangan, jangan bilang kalau ini saat upacara peresmian?
“Oh… kau melihat gambar ini? Hahahaha ini hanya pekerjaan isengku selama menunggu Cheondung oppa.” Ujarnya sambil tertawa malu, “Kau melihatnya?”
Aku meminjam bukunya dan melihat corat coret yang dia bilang ‘pekerjaan iseng’ itu, “Nee… dia sedang bersama hoobae SMA ku di taman gedung seni. Kau bisa melihatnya dari sini?”
“Mwo? Dia…. Bersama seorang mahasiswa baru? Waw daebak.” Komentar Dain, “Padahal baru 2 minggu dia putus dengan Hyori.”
Aku menurunkan buku sketsa Dain yang menutupi wajahku dan… “Mwo? Mereka putus, ottokaji?”
“Nee… Hyori selingkuh dengan seorang namja kaya yang dijodohkan oleh orang tuanya.” Jelas Dain sambil memperhatikan Shinmi dan memicingkan matanya beberapa kali, “Nama hoobae itu siapa?”
“Namanya Park Shinmi.” Jawabku sambil membuka-buka lembaran buku sketsa Dain, “Wahahahahaha waaaaw~!! Ada gambar wajah Seungho oppa disini, banyak sekali~!!”
Dain yang mengetahuinya langsung merebut buku itu dari tanganku dan wajahnya memerah, “Tolong jangan bilang Byunghee atau Seungho oppa ya?”
“Ahahahahaha Seungho oppa joahamnika?” tanyaku pada Dain. Tapi dia hanya dia sambil senyam senyum tanpa kejelasan, “Apa senyum itu adalah jawaban ‘ya’?”
“Aniiyo….. aku hanya… sedikit mengaguminya.” Jawabnya sambil tersenyum malu. “Wajahnya mudah digambar karena….. ia selalu tersenyum. Kalau wajah yang serius ato cemberut susah digambar.”
“Jinjja? Sepertinya waktu itu kau pernah melukis wajah Seungho yang serius. Kau berbohong ya?” tiba-tiba Byunghee oppa muncul dibelakang kami. Dain sampai berteriak saking terkejutnya.
“Aniiyo…. Gambar itu, em…. Tidak pernha… em, selesai kubuat~” jawabnya gugup, “Ngomong ngomong, oppa kesini untuk menjemput Hyoni ya?”
Oppa mengangguk sambil duduk dan mengaitkan tangannya di pundakku, “Absolutely~ masak menjemput kamu? Kamu kan sudah punya Seungho oppa.”
“Yak~!! ‘punya’ bagaimana maksudnya??” jawabnya galak, tapi dengan wajah yang memerah. Ahahahahaha Dain bisa selucu ini di depan Byunghee oppa.
“Ah kau tak usah pura-pura tidak tahu lah.” Jawab oppa dengan muka jahilnya, “Hyoni-sshi… kaja, hari sudah hampir sore loh. Nanti kamu dimarahi ahbuhji kalau pulang malam-malam.”
Aku mengangguk sembari kami bangkit,berpamitan dengan Dain, lalu pergi ke parkiran mobil.

~~~~~

Cheondung story…

From: Magical hand Dain

Oppa, kau mau pacaran berapa lama dengan Shinmi? kenalkan dong padaku~~

Mwo? Bagaimana Dain bisa tahu? Apa dia menguntit kami yang sedang ngobrol ngobrol ini ya? Lalu kenapa dia bilang ‘pacaran’? ah jinjja~
“Dari siapa oppa?” Tanya Shinmi sambil berkutat dengan gitarnya, “Pacarmu ya?”
“Yak sudah kubilang berapa kali kalau aku tidak punya pacar, bocah?” ujarku keki, “Aku kan masih polos, belum boleh pacaran sama orang tuaku.”
Sudah kuduga, ia menengok ke arahku dengan mulut yang manyun, “Jangan ucapkan hal bohong seperti itu lagi sih?” protesnya lucu, “Dan berhenti memanggilku bocah! Aku kan sudah mahasiswa semester satu universitas M fakultas music jurusan instrument petik.”
“Woahahahahaha apa kau bangga kuliah disini, sampai-sampai kau menyebutkan status mahasiswamu selengkap itu?” ujarku tak percaya. Aku mengulang perkataannya dengan mimic yang lucu sehingga ia marah dan mulai protes protes dengan pipi yang bergoyang-goyang.
“Oppa, gomanhae~!!! Jangan ikuti aku seperti itu~~~” ia berhasil menggapai lenganku dan mencubitku cukup pedas, aduh.. tangan bocah ini sepedas kimchi chigae buatan ummaku~!!
“Hhaahahahahaha nee, ampun ampuuuun~~” ucapkumemelas karena ia tidak berhenti mencubiti tanganku, “Yak…. Chingu ku sedang menunggu di suatu tempat. Mau menemaninya sebentar bersamaku?”

…..

“Yak Dain-sshi…. Ini teman baruku, kami mulai dekat sejak seminggu yang lalu. Dia yeoja yang lucu ya?” aku mengenalkan Shinmi kepada Dain yang *lagi-lagi* sedang mencorat coret sketsanya. “Shinmi-sshi, yeoja ini mempunyai magic hand loh, coba deh liat buku gambar yang sedang ia coret-coret itu.”
“Wae??? Kenapa tiba-tiba sekali?? Andwaeyo, aku tidak maumemperlihatkan gambar yang belum selesai~~” protes Dain sambil bangkit, “Annyeonghaseo… Hwang Dain ibnida, kamu hoobaenya Hyoni ya waktu SMA?”
Aku terkejut saat Shinmi mengangguk dengan polosnya, “Nee…. Unnie teman baiknya? Wah… ternyata Hyoni unnie, Nana unnie, dan unnie yang satu ini teman dekat ya? Kenapa oppa tidak memberitahuku?”
“Yak… kenapa malah bertanya dengan muka santai seperti itu?” tanyaku sambil mencubit pipinya, “Seharusnya aku yang bertanya begitu. Kenapa kau tidak bilang kalau kau hoobaenya Hyoni-sshi??”
Lagi-lagi Shinmi mencubiti tanganku bertubi-tubi, “Appuda~!! Aku kan tidak tahu kalau oppa temannya Hyoni-sshi… memang dunia itu sempit kan? Hahahaha.”
Dain tertawa melihat tingkah laku kami berdua, “Yak oppa, lihat tuh pipinya memerah. Kasian tau mahasiswa baru ini.” Ucapnya sambil mengelus elus pipi Shinmi, “Nah gambarnya sudah jadi nih, kau mau melihatnya?”
Shinmi mengambil buku Dain, dan…. Seperti reaksi orang-orang normalnya, mata Shinmi berbinar binar seperti melihat tumpukan emas di depan matanya (?) “Uwaaaaaaaaaaoooo~~ jinjja daebak!! Ini, taman kampus seni tari kan? Yang ini taman kampus music kan? Waaaaah mirip sekali~!!! Wahahahaha.”
“Ah…. Aku maish perlu belajar lagi kok, perjalananku masih jauh,” jawab Dain rendah hati, “Kudengar kau bisa main gitar ya? Mainkan satu lagu buatku dong.”
Aku duduk disebelah Dain dan menyimak permainan gitar bocah itu dengan seksama. Syukurlah kalau Shinmi dan Dain bisa berteman baik, selanjutnya akan kukenalkan bocah tembem ini pada Nana dan Cheolyong~

~~~~~

Hwang Dain story…

From: Joon sunbaenim

Mau tdk ke kontrakkanku sbntar? Aku ingin mngenalkanmu pada ummaku. Ia penasaran dnganmu krn melihat lukisanku saat brambut kuning yang kau gmbar. Aku memajangnya di kamar, mau ya??

Mwo?? Kenapa tiba-tiba seperti ini?
Aku bangkit meninggalkan taman kampus seni dan berjalan menuju aula seni tari, Joon sunbae selalu menungguku disana setiap kami pulang bersama.
Tiba-tiba ada yang memasukkan kepalaku ke dalam kantung hitam sehingga otomatis aku panik dan mencoba tetap berjalan. Tapi seseorang menghalauku, dan sepertinya orang itu tidak sendirian.
“Selamat sore, Hwang Dain~~” sapa orang yang sepertinya yeoja itu, “Mau kemana sendirian seperti ini??”
Aku menelan ludah dan mencoba menjawab setenang mungkin, semoga saja setelah ini mereka mau melepaskanku, “Aku mau……. Pulang. Tapi aku menunggu dijemput.”
“Kojimalia~~ masak pulang arahnya ke utara? Bukannya gerbang kampusmu berada di sebelah barat sana, Dain-sshi??” Tanya yeoja lain, “Kau hendak pergi menemui Lee Joon kan?”
Tiba-tiba seseorang merebut tasku dan mengeluarkannya secara kasar, aku berteriak pada mereka. “Apa nau kalian? Ambil saja uangku, ambil saja HPku, terserah kalian! Tapi jangan ambil buku sketsaku~!!”
Mereka tidak menjawab. Sambil tertawa tawa, mereka mengutak atik HPku. “Eish HPnya diberi passcode, pasti karena banyak pesanmu dengan Lee Joon kan?! Kau tidak tahu ya kalau Lee Joon milik kami hah?!”
Mereka mendorongku hingga aku jatuh tersungkur, lalu mereka menendangi pahaku berkali-kali. Astaga rasanya perih sekali~~
“Dengar! Jauhi Lee Joon atau kau akan mendapatkan penyiksaan yang lebih menyakitkan dari ini.” Seseorang mengangkat wajahku dan menghempaskanku lagi ke tanah, “Arraseo?! Hahahahahahaha~~”
Tiba-tiba kudengar suara robekan kertas diselingi dengan tawa mereka. Aku langsung bangkit dan mencoba menghalangi mereka, “Andwae!! Jangan buku sketsaku, jebal~!!!”
“Berisik!” salah satunya mendorongku cukup keras sehingga aku terjatuh lagi, “Lihat gambar-gambar murahan ini, bagaimana bisa orang-orang membelinya dengan harga mahal di setiap pekan budaya?! Bagaimana bisa orang mau wajahnya digambar oleh yeoja macam dia?! Bahkan gambar ini setara dengan gambar anak TK!”
“Tangan magis?? Magis dari mananya?! Gambarmu itu masih kalah dengan namja chinguku yang kuliah di seni dekorasi!!” ucap yang lainnya sambil tertawa. Tiba-tiba… ada seseorang yang berteriak dari kejauhan sehingga membuat kumpulan yeoja itu ketakutan dan kabur meninggalkanku dengan kepala yang maish terbungkus kantung hitam.
“Oiiii!!! Apa yang kalian lakukan disana hah?! Kalian menggencet mahasiswa baru ya?! Oii oiii, kembali!!” kata suara itu, “Eh? Tas ini….. buku ini….. Dain-sshi?!”
Kantung itu berhasil lepas dari kepalaku, dan……… kulihat wajah Joon sunbaenim di depanku, “Apa yang terjadi, siapa mereka?”
“Molla… kepalaku ditutup. Jadi aku tak bisa melihat mereka,” jawabku nanar melihat buku sketsa yang sudah rusak dan idak berbentuk lagi, “Sketsaku…. Buku sketsaku~~ uhuhuhuhuhuhu~~!!!”
Joon sunbae memelukku dengan gemetar, “Mianhae karena aku kurang cepat menolong kamu, aku tahu buku itu sangat berharga untukmu. Tapi….. sudah tidak bisa diperbaiki lagi, jeongmal mianhae..”
Aku hanya bisa meneteaskan airmataku di pelukan Joon sunbae. Waeyo?? Kenapa barang kesayanganku yang menjadi korbannya? Kenapa tidak fisikku saja??
Menghancurkan buku sketsa sama saja seperti menghancurkan batinku, perasaanku dan jiwaku….

Bersambung…