Aight, saya hanya coba-coba untuk menerbitkan (?) sebuah fanfiction yang cukup gaje😀 .Pertama-tama saya minta maaf banget kalau masih banyak kekurangan di karya saya yang satu ini (ahaha) Sebenarnya ini tulisan lama saya. Terus ditik ulang hehe. Sebenarnya tulisan ini pernah dipublikasikan di blog pribadi saya (yang berisi FF saya juga) : http://ulfarahmasari.wordpress.com , dan I don’t own the picture, saya hanya mengeditnya.
Kedua, saya minta maaf juga nih kalau misalnya bias kamu dapat peran yang ‘kurang bagus’ . Maaf ya, ini kan fanfiction, cerita fiksi dari penggemar. Bukan berarti saya kurang suka sama idolamu. Justru , saya memasukannya kesini karena saya menggemarinya. Oke, mulaiii~

Title: Tolong, jauhi aku.
Writer: Ulfarahm
Cast: Jang HyunSeung (B2ST) as HyunSeung, BIGBANG member, Song JoongKi as Joongki, Ahn JaeHyo (Block B) as JaeHyo, Lee ChaeRin (2NE1) as ChaeRin
Genre: Angst, Fantasy , tentukan sendiri deh.
Rating: PG
———————
Di kelas 2-A. Terdapat dua murid yang termasuk dalam kategori anak introvert. Anak pertama bernama Kwon JiYong, ia memang ia sering dijauhi teman-temannya, ia sendiri tidak tahu alasan mengapa ia tidak diterima di sini, ia hanya mempunyai satu sahabat yang sangat setia padanya, namanya SeungRi. Beda dengan JiYong, SeungRi ini salah satu anak populer di sekolahnya. Ia– SeungRi terkenal karena keahliannya dalam segala hal, dari pelajaran teori, olahraga, sampai kesenian. Anak kedua bernama HyunSeung. HyunSeung terkenal sangat penyendiri, bukan karena ia dijauhi teman-temannya, tapi ia yang menutup diri. Padahal teman-temannya sangat ingin mengenal HyunSeung lebih dekat.
“HyunSeung! Ayolah sekali-kali kau bermain bola di lapangan bersama anak-anak lain!,” ajak SeungHyun sambil menepuk pundak HyunSeung.
Tapi HyunSeung hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Lalu HyunSeung pun kembali meletakkan kepalanya di atas meja lalu ia pun tertidur.

HyunSeung terkenal sangat aneh, ia selalu datang sangat pagi dan tertidur di kelas, lalu ia juga selalu memakai topi setiap ia di jalan dan di sekolah, lalu ia juga tidak mau duduk di tempat duduk yang berada di dekat jendela.
HyunSeung terbangun lagi dari tidurnya, tiba-tiba saja TaeYang mendekati HyunSeung dan bertanya pada HyunSeung. “Kau sangat menghindari matahari. Cobalah sekali-kali kau duduk di tempat dudukku,” ajak TaeYang.
“Ah maaf aku tidak bisa. Aku ini memang tak kuat sinar matahari. Kulitku saja pucat,” kata HyunSeung pada TaeYang sambil tersenyum lagi. Lalu HyunSeung pun melanjutkan tidurnya dan membiarkan TaeYang pergi meninggalkan HyunSeung.
***
JiYong berjalan ke arah pintu gerbang sekolah. Tiba-tiba saja …

PRANG!
Sebuah pot bunga jatuh ke kepala JiYong. Kepala JiYong pun berlumuran darah. Lalu, JiYong tetap berjalan ke kelas tanpa meringis sedikit pun.
“Ah percuma saja kau menjatuhkan pot itu! Buat apa? Lakukan hal yang lebih berguna! ,” bentak JoongKi sambil memandang temannya yang berada di atas pagar sejak tadi. JiYong tetap berjalan seperti tidak mendengar kata-kata JoongKi tadi.
JiYong pun mulai menyadari kalau darah segar sudah keluar cukup banyak dari kepalanya, ia pun memegang kepalanya lalu segera melihat telapak tangannya.
“Ah darah,” katanya tenang. Ia pun masih berjalan sampai ke kelasnya.
Di koridor kelas, SeungRi masih saja berjalan dengan rasa cemas. Mungkin ia khawatir dengan keadaan sahabatnya, JiYong. JiYong bisa saja menjadi bulan-bulanan siswa di sekolah ini.
“Ah! JiYong kemana sih?,” tanyanya . Lalu, ia melihat seseorang laki-laki dengan kepala berlumuran darah sambil menggendong tasnya dan berjalan dengan tenang.
“JIYONG!,” teriak SeungRi. Lalu SeungRi pun berlari menghampiri JiYong.
“JiYong! Ya ampun! Ayo kita ke ruang kesehatan!,” kata SeungRi. JiYong hanya bisa mengangguk. Lalu SeungRi pun membawa JiYong ke ruang kesehatan.
***
Di kelas, HyunSeung masih saja tertidur , tempat duduknya berada di posisi paling belakang dan berada di paling ujung sebelah kanan, cukup dingin karena cahaya matahari yang masuk cukup sedikit. Namun tiba-tiba HyunSeung terbangun lagi karena mendengar suara dua anak laki-laki saling berbicara.
“ah, JiYong! Kau bisa merasakan rasa sakit kan?,” tanya SeungRi keheranan.
“Tidak tahu, aku sudah terbiasa menderita rasa sakit, aku sudah kebal,” kata JiYong sambil tersenyum, lalu ia merangkul pundak SeungRi .Lalu, mereka pun duduk di kursi mereka masing-masing– yang kebetulan bersebelahan
“Ah .. anak itu berdarah lagi. Bahkan luka di kepalanya tempo hari yang lalu juga mungkin belum sembuh. Lalu…. ah sekarang sudah pukul delapan. Aku tidak bisa tidur lagi,” kata HyunSeung pelan. Ia pun menutup wajahnya dengan sebuah buku, sepertinya ia tidak mau melihat JiYong dan SeungRi.
TENG!
Bel tanda masuk berbunyi, murid-murid pun berdatangan masuk ke kelas. Banyak siswa dan siswi yang berlari sambil tersenyum dan melambaikan pada SeungRi dan HyunSeung.
“Hai HyunSeung!,” kata SeungHyun sambil menaikkan tangan kanannya. HyunSeung hanya bisa mengangguk beberapa kali sambil tersenyum.
“SeungRiiii!,” kata ChaeRin sambil tersenyum pada SeungRi, SeungRi pun membalas senyuman ChaeRin. Murid-murid pun mulai duduk di kursinya masing-masing dan tak lama kemudian guru pun datang.
“Ya. Semuanya.. Kalian pasti menunggu hasil ujian harian kalian kan?,” tanya guru laki-laki itu sambil merapikan kertas-kertas yang ia bawa di meja guru. Murid-murid yang lain pun mengangguk.
“Beri salam pada guru!,” kata JoongKi dengan lantang. Lalu murid-murid pun berdiri dan membungkuk.
“Ah. Tidak usah seperti itu, kita santai saja,” kata guru laki-laki itu sambil tersenyum. “…baiklah, seperti biasa. Sudah kalian bisa kalian tebak. Peraih nilai tertinggi kita adalah SeungRi, lalu HyunSeung, selamat ya,” lanjut guru itu lagi.
“Aaaaaah,” kata murid-murid lain sambil bertepuk tangan. SeungRi dan HyunSeung hanya bisa saling bertatapan dan tersenyum.
“Selamat ya, SeungRi,” kata HyunSeung. SeungRi pun mengangguk.
“….Kwon.. JiYong, uhm…,” lanjut guru itu lagi. Murid murid– kecuali SeungRi, JoongKi dan HyunSeung hanya bisa bersikap acuh ketika nama itu disebut. “Aaah,” kata mereka dengan nada bermalas-malasan. JiYong hanya bisa menunduk.
“…nilaimu bagus, tidak beda jauh dengan HyunSeung,” lanjut guru itu lagi. JiYong hanya bisa tersenyum simpul mendengar pernyataan guru itu tadi. HyunSeung pun tiba-tiba berdiri, berjalan mendekati JiYong dan merangkul pundaknya. “Selamat ya,” katanya sambil tersenyum. JiYong hanya bisa mengangguk.
“..ah sudah lah. Saya datang kesini hanya untuk memberitahu nilai. Saya pergi dulu ya, di pelajaran saya masih ada sisa satu jam pelajaran kan? manfaatkan dengan baik ya, ” kata guru itu dengan santai. Lalu ia pergi meninggalkan kelas 2-A. HyunSeung pun segera kembali ke tempat duduknya

***
Nahkan, dari sini terlihat kalau persahabatan itu memang indah. Aku hanya bisa melihat kedekatan SeungRi dan JiYong dari sini. Aku ingin sekali menjalin hubungan persahabatan dengan JiYong dan SeungRi. Paling tidak, aku bisa mempunyai sahabat yang sesetia mereka . Tapi aku tak bisa, aku hanya bisa berbicara sedikit dengan teman-teman, aku tidak bisa bergaul terlalu jauh, aku punya keterbatasan sendiri, aku memang lain dari anak-anak yang lain.
Aku ingin sekali bisa melindungi sahabatku dari bahaya, seperti halnya ketika SeungRi melindungi JiYong. Tapi aku tak bisa, bisa-bisa malah aku yang membahayakan sahabatku. Yasudah, sebaiknya aku tidur lagi saja.
“SeungRi, aku keluar dulu ya,” kata JiYong. Lalu ia pergi keluar. Ah, aku tak jadi tidur, aku melihat JiYong dari jauh. Bahaya kalau ia sampai dicelakai oleh orang lain lagi. Apa aku harus mengikutinya keluar? Entahlah.

***
“Jangan, JiYong. Pergi saja bersamaku,” kata SeungRi , ia pun beranjak dari kursinya dan berdiri menghadap JiYong.
“Aku akan baik-baik saja,” kata JiYong . Lalu JiYong pun pergi meninggalkan SeungRi.
***
Aku hanya berjalan. Aku tahu tujuanku. Aku harus ke atap sekolah sekarang. Aku akan makan makanan enak ini, karena aku belum sarapan, dan mengucapkan terima kasih yang banyak pada Tuhan karena ia telah memberiku kehidupan yang cukup baik, ditambah lagi dengan hadirnya laki-laki itu di kehidupanku, laki-laki itu ,SeungRi.
Namun langkahku terhenti manakala tiba-tiba seseorang menarik kerah bajuku dan menarik tubuhku yang ringan sampai di kamar mandi yang ada di ujung sana. Kamar mandi yang terkenal cukup kotor, gelap dan sepi. Lalu ia mendorongku sampai aku jatuh terduduk di lantainya. Makananku jatuh, ia pun mengambilnya dan membuangnya. Dan laki-laki itu menyiramku dengan seember air dingin lengkap dengan beberapa es batu. Lalu ia mengunci pintu kamar mandi itu. Ah dingin sekali!
“Apa-apaan ini?,” teriakku.
“Ah, JiYong! Jangan banyak omong!,” katanya. Lalu terdengarlah langkah kakinya. Ia pergi meninggalkanku yang basah dan terkurung disini.
***
Sial! Apa yang DaeSung lakukan pada JiYong! Gila! Aku harus bagaimana?
TENG!
Ya ampun, bel berbunyi! Guru akan segera masuk. Kalau aku selamatkan dia mana mungkin bisa . Guru matematika terkenal sangat galak dan paling-paling ia akan menghukum JiYong, bukan menghukumku. Badannya juga pasti basah. Tidak mungkin ia dihukum dalam keadaan basah kuyup seperti itu. Ah bagaimana ini?
“Hey HyunSeung! Sedang apa disini?, guru matematika akan segera datang!,” kata TaeYang merangkulku. Aku pun mengangguk, lalu TaeYang berhenti merangkulku dan ia pun menarik tanganku supaya aku segera masuk ke kelas.
***
“where’s JiYong?,” tanya guru matematika dengan ketus. HyunSeung hanya bisa menunduk, tangannya mengepal dengan keras. Murid-murid yang lain hanya diam.
“Okay, lets start the lesson,” kata guru itu lagi. Lalu ia pun mulai menulis sesuatu di papan tulis.
***
Akhirnya beberapa lama murid-murid sudah menunggu, jam pulang pun tiba, HyunSeung pun segera lari bergegas ke rumahnya , tak lupa dengan jaket dan topi yang selalu ia kenakan. Ia memang punya kelainan , ia tak bisa terkena matahari, ia juga tak bisa pulang terlalu lama.
“HyunSeung! Tunggu!,” teriak ChaeRin. Langkah HyunSeung pun terhenti dan ia pun memutar badan ke arah ChaeRin.
“Aku dengar dari kelas lain, guru Jang akan pemilihan kelompok. Aku harap, aku bisa sekelompok denganmu dan SeungRi! Hahaha,” kata gadis itu sambil tertawa.
HyunSeung hanya tersenyum ,lalu ia berlari lagi sampai ke rumahnya
Tiba-tiba SeungRi beranjak dari tempat duduknya dan bertanya pada seluruh murid yang masih tersisa di kelas “kau lihat JiYong?,”tanyanya. Namun tidak ada yang menjawab.
RING!
Ponsel SeungRi berbunyi. Ada pesan singkat dari eomma-nya
“SeungRi-ya, cepat pulang. Kakakmu baru saja pulang dari luar negeri!, ayo adakan pesta untuknya!,”
“Aish!,” kata SeungRi, lalu ia pun memasukan ponselnya ke dalam tasnya dan segera pergi meninggalkan kelas.
***
Pagi hari pun tiba. Seperti biasa, HyunSeung sudah berada di kelas. Namun ia tidak tertidur. Ia terlihat menunggu seseorang.
“kemana SeungRi…,” katanya sambil melirik ke arah jam tangannya beberapa kali. Namun SeungRi tak kunjung datang.
“Annyeong!,” kata seorang laki-laki. Lalu HyunSeung pun berdiri dari tempat duduknya dan berlari ke arah SeungRi.
“Cepat kau pergi ke kamar mandi di ujung itu, yang pintunya berwarna hijau!. Dobrak saja pintunya!,” perintah HyunSeung dengan nada suara yang sedikit dinaikkan.
“Ada apa?,” tanya SeungRi kebingungan. “CEPAT KESANA!,” bentak HyunSeung. Lalu, SeungRi pun berlari ke kamar mandi itu.
***
Aku yang kaget mendengar HyunSeung tiba-tiba membentakku langsung saja berlari. Ada apa sih sebenarnya?. Aku pun akhirnya menghampiri kamar mandi itu. Pintunya terkunci. Aku teringat lagi akan kata-kata HyunSeung.”Cepat kau pergi ke kamar mandi di ujung itu, yang pintunya berwarna hijau!. Dobrak saja pintunya!,”
Satu… Dua.. Ti… Aku sudah melangkah mundur mencoba mendobrak pintu itu. Tapi langkahku terhenti ketika aku melihat JoongKi yang sedang berjalan.
“JoongKi! Bantu aku dobrak pintu ini!,” kataku sambil berteriak. Ia pun menghampiriku dan membantuku mendobrak pintu.
Satu..Dua..Tiga..
BRUK!
***
BRUK!
Pintu berhasil dibuka, terlihat JiYong dengan pakaiannya yang masih agak basah. Badannya pucat. Ia tak sadarkan diri.
“JIYONG!,” teriak JoongKi dan SeungRi secara bersamaan. Mereka pun membawa JiYong sampai ke ruang kesehatan.
Di Ruang kesehatan JiYong masih saja tak sadarkan diri.
“JoongKi, terima kasih sudah membantuku. Mengapa kau tidak seperti anak lain yang menjauhi JiYong?,” tanya SeungRi yang duduk di bangku yang ada di ruang kesehatan bersama JoongKi.
“Aku ketua kelas. Aku tidak akan membeda-bedakan murid sekalipun ia memang berbeda,” kata JoongKi. SeungRi hanya bisa mengangguk “oooh,” katanya.
***
DaeSung datang memasuki kelas dan berjalan ke arah HyunSeung yang sedang tertidur. Ia pun memegang tangan HyunSeung yang dingin. HyunSeung pun terbangun.
“Ah! Ada apa?,” tanya HyunSeung.
“Kau sakit?,” tanya DaeSung.
“Tidak.. bukan aku yang sakit, tapi JiYong.. ,” kata HyunSeung. Lalu ia pun berdiri dan berjalan mendekat ke arah DaeSung dan merangkulnya “….ah kasihan sekali ya anak itu, aku tidak habis pikir, mengapa ada orang jahat yang bisa membuat JiYong sakit seperti itu. Aku dengar, ia dikurung di kamar mandi. Apa yang membuat JiYong jadi bulan-bulanan anak di sekolah ya? Ia memang penyendiri. Aku juga penyendiri, tapi nasibnya lebih buruk dariku. Iya,kan?,” kata HyunSeung dengan nada yang sedikit menyindir sambil tersenyum dan menoleh ke arah DaeSung. Keringat DaeSung pun bercucuran karena ia merasa sedikit bersalah dan gugup, ia yang membuat JiYong sakit.
“Ah-ah! Iya! Oh iya, Guru Jang memanggilku, aku harus pergi dulu ya, katakan pada JiYong, cepat sembuh!,” kata DaeSung lalu ia melepaskan tangan kanan HyunSeung yang merangkulnya tadi dan segera berlari ke luar kelas.
“hahaha,” kata HyunSeung tertawa pelan. Ia pun kembali tidur di mejanya.
***
Di Ruang kesehatan, terlihat JoongKi dan SeungRi yang masih menunggu JiYong untuk sadar. Bahkan tadi SeungRi sudah membawakan segelas teh hangat. Namun, sepertinya teh itu akan segera dingin.
“Ah..,” kata JiYong. Ia pun mengedipkan matanya beberapa kali untuk memfokuskan pandangannya. Ia pun memegang tangan JoongKi dan SeungRi.
“JiYong! Kau sudah sadar!, ini teh hangatmu!,” kata SeungRi sambil menyodorkan segelas teh hangat. JoongKi pun menopang kepala JiYong dan SeungRi yang menegukkan teh ke JiYong.
“Terima kasih,” kata JiYong pelan. “…aku sudah cukup baik. Ayo ke kelas,” kata JiYong. Lalu ia mencoba bangun tapi tubuhnya masih lemah.
“Sudah kau disini saja, ” kata JoongKi. “..yasudah lah, aku pergi dulu ya,” lanjutnya. Lalu ia bergegas pergi meninggalkan JiYong dan SeungRi.
“terima kasih JoongKi!,” teriak SeungRi , JoongKi pun melambaikan tangan pada SeungRi.
“Uhm.. JiYong, mau aku bawakan makanan? Kau belum makan dari kemarin, tubuhmu saja gemetar,” kata SeungRi sambil mengelus punggung tangan JiYong.
“terserah kau saja, SeungRi. Terima kasih ya,” katanya pelan.
“Oh ne,” kata SeungRi . Lalu ia pun membawa semangkuk bubur untuk JiYong. Dan segera menyuapi JiYong dengan bubur itu.
“kau tahu aku di kamar mandi itu darimana?,” tanya JiYong.
“oh, dari HyunSeung,” kata SeungRi yang masih menyuapi JiYong. JiYong yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum.
***
HyunSeung masih tertidur, di depan bangkunya terdapat ChaeRin dan SeungHyun dan JaeHyo yang sedang membicarakan HyunSeung.
“Aku tertarik dengan anak itu. Ia selalu membuatku penasaran. ,” kata ChaeRin.
“Aku dengar, ia takut dengan bulan purnama,” kata JaeHyo.
“nah kan, ia memang unik. Hahaha,” kata SeungHyun sambil tertawa. Mendengar suara tertawa SeungHyun, HyunSeung malah terbangun.
“Ah maaf! telah membuatmu terbangun,” kata SeungHyun.
“Uhm.. tidak apa-apa kok,” kata HyunSeung sambil tersenyum.
“kamu memang takut dengan bulan purnama ya?,” tanya ChaeRin.
“uhhuh.,” kata HyunSeung sambil mengangguk. “…aku takut ia mengendalikanku haha, bentuknya menyeramkan. Yasudahlah, aku tidur lagi ya,” lanjutnya. Lalu ia tertidur lagi.
***
“aku mau ke atap sekolah dulu ya,” kata JiYong. Lalu ia bangkit dari kasurnya.
“untuk apa? kondisimu sudah pulih belum? semestinya kau disini saja, suhu tubuhmu belum turun!” kata SeungRi.
“aku tidak apa-apa!, annyeong!,” kata JiYong. Lalu ia berlari seperti anak kecil lalu ia pun sampai di atap sekolah.
Di atap sekolah, JiYong hanya bisa melihat ke arah langit walaupun langit sedang mendung. tiba-tiba datang sekelompok lelaki sambil membawa batu-batu kerikil yang cukup tajam. JiYong pun menoleh ke arah sekelompok laki-laki itu. Tapi sekelompok lelaki itu malah melemparkan batu itu ke arah JiYong. kerikil itu membuat wajah JiYong memar-memar, kerikil itu mengenai dahi, dan pipinya sampai membuat luka yang cukup membuat darah JiYong keluar karena laki-laki itu melempar batu itu dengan kencang. Untung saja kerikil itu tidak mengenai matanya. JiYong pun memejamkan matanya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Badannya gemetar.
Tiba-tiba datang seorang lelaki dengan nafas yang terengah-engah sambil membawa kotak p3k.
“Aku sudah..hh..sudah..menebak..kalau..hh..kau ada disini..,” kata lelaki itu. JiYong pun menoleh, darah segar masih mengalir dari pipi, dan dahinya. “kau mau apa?,” tanya JiYong lirih.
“kalau kau ingin menangis, menangislah!,” kata lelaki itu tadi. Ia pun berjalan mendekati JiYong.
“aku tidak bisa, HyunSeung,” jawab JiYong.
“baiklah, aku akan mengobatimu,” kata HyunSeung lagi. Lalu ia pun mulai mengelap darah yang keluar dari luka JiYong , tapi anehnya HyunSeung melakukan ini sambil memejamkan matanya. JiYong hanya sekali-kali meringis,dan HyunSeung tetap saja mengelap darah JiYong. Lalu HyunSeung pun mengambil plester dan menempelkannya ke luka-luka di wajah JiYong. Setelah selesai, HyunSeung pun mulai membuka matanya.
“selesai. Ayo masuk kelas,” kata HyunSeung lalu ia pergi meninggalkan JiYong. JiYong pun memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam , tubuhnya bergetar lagi.
***
Di Kelas, ternyata guru matematika sudah datang, ia pun marah ketika melihat HyunSeung datang ke kelas.
“HyunSeung! Kau darimana! Where’s your friend?,” tanyanya.
“I think , he’ll come later,” jawab HyunSeung. Lalu ia duduk lagi di bangkunya.
“Ah! Kau! berdiri di depan! Quickly!,” teriak guru itu. Tapi, suasana kelas malah menjadi gaduh karena murid-murid yang lain tidak terima kalau temannya di marahi seperti itu.
“Hooo! Guru aneh!,” teriak JaeHyo lalu ia melempar bola kertas ke arah guru itu.
“Siapa yang melempar ini?,” tanya guru itu . Ia semakin geram.
“Saya! HAHAHA!,” kata JaeHyo.
“Rasakan ini guru aneh!,” kata SeungHyun sambil melempar penghapus papan tulis ke arah guru itu. Alhasil, wajah guru itu pun menjadi putih terkena kapur.
“KALIAN SEMUA! TIDAK BOLEH PULANG SEKOLAH SAMPAI BESOK PAGI!,” kata guru itu lalu ia pun pergi keluar dan membanting pintu kelas dengan kencang.
BRUK!
***
“Aku mencoba menangis. Aku sudah memejamkan mataku. Tapi tidak ada air mata yang keluar. Aku aneh! Ya! Aku aneh!. AAAAA!” teriak JiYong. Lalu ia pun bertekuk lutut di atap sekolah. Ia masih tidak bisa mengeluarkan air matanya. Kedua tangannya mengepal begitu kencang.
***
“HyunSeung! duduk lagi saja!,” kata ChaeRin. HyunSeung pun segera duduk di kursinya.
“Eh, HyunSeung. Kau tahu JiYong dikurung di kamar mandi darimana? Siapa yang melakukan itu padanya,” tanya SeungRi pada HyunSeung.
HyunSeung mengambil sebotol minuman berwarna yang berisi cairan berwarna merah ia meneguk minuman itu, lalu ia menggelengkan kepalanya dan berkata “..orang itu tidak akan melakukan hal buruk itu lagi,” kata HyunSeung . “…iya kan DaeSung?,” lanjut HyunSeung.
“Oh iya! Iya!,” kata DaeSung yang kaget karena namanya tiba-tiba saja di sebut.
Setelah beberapa jam , langit terlihat semakin gelap dan bulan purnama pun sudah terlihat.
“JiYong! Kau kenapa?,” kata SeungRi. Ia kaget melihat JiYong wajahnya penuh dengan luka yang ditutupi plester. JiYong hanya menggelengkan kepala lalu ia duduk di kursinya. JiYong pun meletakkan kepalanya di atas meja dan memejamkan matanya. Badannya pun bergetar lagi.
“Tolong , bagi anak-anak di kelas ini. Perlakukan JiYong dengan baik!,” kata JoongKi , ia tiba-tiba berdiri .
“Buat apa?,” kata SeungHyun dan kata murid-murid lain termasuk sekelompok laki-laki yang membawa kerikil tadi. Suasana kelas pun menjadi gaduh.
“Coba pikirkan apa alasan kalian memperlakukan JiYong seperti itu?,” kata DaeSung, ia berdiri juga. Suasana kelas yang tadinya gaduh tiba-tiba hening.
“Tolong . Ia bukan anak aneh seperti yang kalian pikirkan. Ia begini juga karena kalian,” kata SeungRi dan HyunSeung bersamaan. Mendengar orang-orang yang mereka segani berkata seperti itu, mereka pun mulai berpikir. Mereka mulai sedikit sadar dan mereka pun mengangguk tanda mengerti.
“maafkan kami ya JiYong,” kata murid-murid di kelas. Tapi mereka tidak mendapat respon dari JiYong. JiYong masih memejamkan matanya.
“JiYong!?,” tanya JaeHyo. Ia pun mendekati JiYong dan meraba dahinya. Suhu tubuhnya tinggi.
“Aku punya plester penurun demam!,” kata seorang laki-laki. Ia pun menempelkan plester itu ke dahinya JiYong dan mengelus kepalanya.
“tidak usah, terima kasih,” kata JiYong sambil tersenyum .
***
Aku melihat pun ke arah HyunSeung. Aku selalu melihat botol minuman yang berisi cairan aneh itu, aku penasaran apakah cairan itu sebenarnya. Aku melihat cairan itu sudah mulai habis, terlihat pula kegelisahan di wajahnya. Bibirnya bergetar, ia bahkan beberapa kali melihat jari-jari tangannya. Ah, SeungHyun, jangan berpikir yang macam-macam. Tapi, aku memang tahu kalau ia takut bulan purnama. Dan itu mungkin sebabnya mengapa ia seperti itu.
BRUK!
Aku kaget mendengar suara pintu dibanting dengan keras. Sampai-sampai tanganku tertusuk paku yang ada di meja, berdarah sedikit. HyunSeung tiba-tiba saja pergi keluar. Ada apa dengannya? .
“HyunSeung! Mau kemana?,” tanya ChaeRin. Namun, HyunSeung sudah tak terlihat lagi.
***
HyunSeung masuk ke dalam sebuah gudang tanpa atap yang berada di dekat sekolahnya, ia harus tetap disini sampai bulan purnama selesai. Menurut HyunSeung, bahaya jika teman-temannya bertemu dengannya saat ini. Tapi, tenggorokannya semakin kering. Menuntutnya untuk segera keluar mencari minuman. Minuman yang sebenarnya tidak wajar untuk seorang manusia. Warnanya merah pekat, dan berbau agak amis.
Tangannya sekarang bergetar. Kondisi tubuhnya makin menuntutnya untuk segera mencari minuman itu. Kalau tidak, tubuhnya bisa hancur. Kukunya yang semula pendek malah meruncing dan memanjang. Tiba-tiba tumbuh taring yang sangat runcing di giginya dan matanya memerah. Ia pun bersandar di tembok dan memejamkan matanya.
***
“HyunSeung! Aku tahu kau disini! Keluarlah!,” teriak SeungHyun sambil memukul-mukul pintu gudang.
“pergi! Jangan dekati aku saat ini! Pergi!,” teriak HyunSeung , suaranya bergetar.
“Ada apa? Cepat jelaskan!,” teriak SeungHyun lagi.
“Tolong pergi! Tolong jauhi aku!,” teriak HyunSeung. SeungHyun malah mendobrak pintu beberapa kali, dan pintunya malah terbuka.
***
Aku tahu SeungHyun khawatir padaku, tapi aku lebih mengkhawatirkannya. Ia malah membuka pintu gudang ini. Lalu tatapan mataku tertuju pada sebuah cairan berwarna merah itu. Aku harus mengendalikan diri.
“Pergilah!,” kataku , aku berharap ia segera pergi. Aku pun membalikan badanku. Dan aku sekarang memungggunginya.
“Ayo ke kelas!,” paksanya. Aku tak sanggup berbalik ke arahnya, meliriknya saja aku tak bisa. Kekuatan ini terlalu kuat untuk mengendalikanku.
Cairan merah itu masih saja ada di jari SeungHyun. Tenggorokanku semakin kering. Aku hilang kendali. Aku berbalik badan dan..
***
Ia tiba-tiba saja mencengkram leherku. Kukunya yang tiba-tiba menajam menancap pundakku. Perih.
“Sudah ku bilang, pergilah!,” katanya . Suaranya masih saja bergetar. Ia pun mencabut kukunya dari pundakku, darah segar pun mulai keluar. Aku butuh kejelasan. Aku tidak bisa pergi.
Ia pun mengambil sebilah kayu yang ada di gudang itu dan mengarahkan kayu itu ke arahku. Ia gila? Ia tetap memintaku keluar. Tapi aku hanya butuh kejelasan.
“AKU DIPENGARUHI! KELUAR CEPAT!,” katanya. Suaranya makin mengeras. Ia pun memukulku dengan kayu itu bertubi-tubi. Lalu ia pun melemparkan obeng , palu, tang , dan semua barang-barang yang ada disana. Tubuhku penuh dengan darah. Kepalaku sudah bocor terkena palu tadi. Sebuah paku menancap di dadaku. Ia pun menendang kakiku sehingga aku jatuh tersungkur di hadapannya.
“PERGILAH! ,” kata HyunSeung lagi. Lalu ia menancapkan kukunya di leherku. Aku sudah lemah. Taringnya mulai menembus kulit leherku. Tubuhku semakin lemas.
***
Ini semua bukan kehendakku. Aku dikendalikan. Semua cairan merah ini… Lidahku bergerak kearahnya.. Ah, maaf SeungHyun. Aku sudah memintanya untuk pergi namun ia masih saja keras kepala. Tolong lepaskan SeungHyun. Berhenti mengendalikanku!
***
SeungHyun pun jatuh tergeletak di lantai gudang. Tubuhnya pucat karena kehabisan darah. HyunSeung pun mulai mengeluarkan air mata. Air mata itu jatuh di pipi HyunSeung , lalu, ia menyandarkan SeungHyun yang sudah tak bernyawa di tembok dan menutupinya dengan sebuah kain yang kebetulan ada di gudang itu. Ia pun menutup pintu gudang lagi.
“maafkan aku..,” kata HyunSeung.
Bulan purnama masih saja muncul. HyunSeung hanya bisa mendongakkan kepalanya dan melihat langit.
“ini semua salahku,” katanya lirih.
***
Di kelas. Semua murid cemas karena SeungHyun tak kunjung datang.
“aku akan menyusulnya, ” kata DaeSung.
“terserah kau sajalah, eh, aku ikut deh!,” sahut JaeHyo lalu mereka berdua pun pergi meninggalkan kelas
Entah ada sesuatu apa yang dapat menarik DaeSung dan JaeHyo untuk pergi ke gudang dekat sekolahnya itu. Mereka pergi kesana juga, tanpa mengetahui kalau di gudang tersebut terdapat SeungHyun yang sudah tak bernyawa.
“HyunSeung…,” teriak JaeHyo. Mereka berdua masih saja berjalan di sekitar gudang itu.
“Pergi..,” jawab HyunSeung lirih. Mereka malah penasaran dengan sumber suara itu.
“baiklah, aku akan masuk,” kata JaeHyo. Ia pun masuk, namun tiba-tiba ia tersandung oleh sebilah kayu dan jatuh tersungkur di lantai.

***
Tenggorokanku kering lagi. Aku pun berjalan mendekati JaeHyo.
“kau kenapa mengusir kami?,” tanyanya.
“pergilah,” jawabku. Tiba-tiba tanganku melayang dan bergerak menyentuh sebuah palu. Palu yang tadi digunakan untuk membunuh SeungHyun. Tanganku tiba-tiba mengangkat palu itu. Dan kakiku tiba-tiba bergerak mendekat ke arah JaeHyo yang semakin melangkah mundur.
“Jauhkan benda itu!, Kita bisa bicarakan ini baik-baik!,” kata JaeHyo, lalu ia mengambil sebilah kayu yang menyandung kakinya tadi dan memukulkan kayu itu ke arahku.
PLAK!
Kayu itu mendarat di pipiku. Aku mendapati sudut bibirku mengeluarkan cairan merah.
“maaf!,” kata JaeHyo, lalu ia berjalan mendekat ke arahku dan menjatuhkan kayu yang ia pegang tadi. Lidahku malah bergerak ke tempat di mana sumber cairan merah itu berasal. Lidahku menjilatnya. Lezat.
***

Dia menjilat darahnya sendiri! Aku ketakutan dan mencoba berjalan mundur. Lalu tiba-tiba aku sudah mendapati taringnya tersangkut di leherku. Tubuhku terasa semakin melemas. Semua pun gelap.
***
“JaeHyo!,” kata DaeSung. Ia pun berlari ke arah JaeHyo yang sudah tak bernyawa dan memeluknya erat. “… kau kenapa HyunSeung?,” tanya DaeSung.
BRUK!
HyunSeung yang dari tadi memegang palu menghantamkan palunya ke leher DaeSung. Leher DaeSung pun patah dan ia tak sadarkan diri seketika. HyunSeung pun berjalan pelan ke arah DaeSung dan kembali menancapkan taringnya di leher DaeSung. Tubuh DaeSung pun pucat pasi, ia juga tidak bernyawa lagi.
***
“JaeHyo! DaeSung! SeungHyun! HyunSeung!, kalian semua dimana?,” teriak JoongKi yang memegang senter sambil melirik ke kanan dan kiri.
JoongKi pun merasa ada sesuatu yang mengawasinya dari tadi. JoongKi hanya bisa memegang lehernya, ia sebenarnya ketakutan, tapi ia harus mencari teman-temannya.
“HyunSeung?, darimana saja!?,” tanya JoongKi ketika ia mengarahkan senter ke wajah HyunSeung. Tapi JoongKi merasa bingung, mengapa mata HyunSeung tiba-tiba memerah. “…kau kenapa?,” lanjutnya.
Lalu HyunSeung pun mencengkram pundak JoongKi dengan kukunya yang tajam dan segera mengangkatnya. JoongKi sudah mengerang kesakitan “aaaaa lepaskan!,” katanya. Lalu HyunSeung malah menancapkan taringnya di leher JoongKi. Kaki JoongKi yang semula bergerak tak mau diam tiba-tiba berhenti. Badan JoongKi pucat pasi. HyunSeung pun menjatuhkan JoongKi ke bawah. JoongKi pun tersungkur tak bernyawa.
***
Di kelas. Tersisa beberapa murid termasuk JiYong, ChaeRin dan SeungRi.
“SeungRi, kau tidak apa-apa pergi keluar sendiri?,” tanya JiYong. SeungRi pun mengangguk dan memegang sebuah senter berwarna merah di tangan kanannya.
Bulan purnama masih saja tampak. HyunSeung sudah benar-benar di kendalikan. Ia pun menyeret JoongKi dan memasukan JoongKi ke gudang.
“Semuanya! kalian dimana?,” tanya SeungRi ia masih saja berjalan di sekeliling sekolah
***
“Sebaiknya aku menyusul SeungRi!,” kata JiYong.
“Jangan!,” cegah TaeYang.
“Ada apa ?,” tanya JiYong lagi. TaeYang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
***
Aku masih saja mengarahkan senterku. Lalu senterku terarah ke sesosok lelaki yang sekarang memegang benda berwarna perak. Terlihat runcing. Ia HyunSeung!
“Apa yang kau lakukan!,” kataku. Namun ia bergeming. Aku tidak menyangka kalau itu HyunSeung, aku tidak melihat ia seperti manusia. Ia terlihat seperti boneka yang dikendalikan. Matanya yang tiba-tiba merah memandang lurus ke arahku. Ia pun berjalan mendekat, dan aku melangkah mundur.
“ah!,” kataku. Aku tersandung batu. Ia tetap berjalan mendekat. Ia pun menancapkan benda berwarna perak itu ke perutku. Rasa sakitnya benar-benar terasa. Ini pisau!
Ia menjadi gila. Menusukkan pisau ke sekujur tubuhku, dari dada sampai perut, ia menusukku bertubi-tubi. Aku pun mengeluarkan darah segar dari mulutku.
Ia pun menyayat pipiku “Aaaaaa,” aku meringis kesakitan. Tiba-tiba lidahnya menjilati badanku , hebatnya darah itu semua hilang. Tapi aku merasa ada sesuatu yang menyangkut di leherku. Taringnya. Aku mencoba menghentikannya. Namun tiba-tiba semua gelap…
***
“JiYong kemana ya?,” tanya TaeYang pada ChaeRin yang sedang tertidur di meja.
“Ha! Sudah pagi!, kita pulang saja !,” kata ChaeRin sambil merapikan rambutnya.
“Kita cari teman kita yang lain dulu!,” kata TaeYang, ChaeRin pun mengangguk. Dan mereka berdua pun pergi keluar.
ChaeRin dan TaeYang pun mempercepat langkahnya saat ia melihat JiYong tergeletak di kelas 2-B. Wajahnya pucat.
“JiYong! kau kenapa?,” tanya ChaeRin sambil mengguncang-guncang tubuh JiYong. TaeYang pun mengeluarkan plester penurun demam yang diberikan temannya kemarin, lalu menempelkannya di dahi JiYong. Tak lama kemudian, JiYong pun sadarkan diri.
“Ah! Aku kenapa?,” tanya JiYong lalu ia mencoba berdiri. Namun ia masih lemas dan akhirnya tangannya melingkar dibahu TaeYang, ia dibantu berdiri oleh TaeYang.
“ayo cari yang lain!,” ajak TaeYang, lalu JiYong dan ChaeRin mengangguk.
***
“JoongKi!,” Teriak ChaeRin. Ia pun berlari ke arah JoongKi dan memeluk JoongKi yang sudah tak bernyawa sambil meneteskan air mata. TaeYang dan JiYong pun berjalan mendekati ChaeRin yang masih memeluk JoongKi dan ikut memeluk jasad JoongKi.
“ChaeRin.. ayo cari yang lain…,” kata TaeYang pelan sambil memegang bahu ChaeRin. ChaeRin pun mengangguk dan segera meninggalkan JoongKi.
Mereka pun masuk ke sebuah gudang yang berada di dekat sekolah mereka. Tercium sedikit bau amis di gudang tak beratap itu.
“Mereka!,” teriak JiYong yang merasa sangat kaget. Lalu ia pun berlutut dilantai karena sudah merasa sangat lemas.
“Tubuh SeungHyun penuh luka! JaeHyo! DaeSung! Ada apa ini?!,” TaeYang keheranan. ChaeRin lalu mendekat ke arah tubuh SeungHyun dan membelai rambutnya, begitu pula kepada JaeHyo dan DaeSung.
“Ayo cari HyunSeung dan SeungRi.,” kata ChaeRin . Suaranya terdengar sangat pelan. Ia benar benar sedih sekaligus kaget melihat teman-temannya sudah tak bernyawa.

***
HyunSeung berdiri di tengah lapangan sendirian. Ia yang tadi malam membawa SeungRi kesini hanya bisa berjongkok dan memperhatikan wajah SeungRi . HyunSeung masih saja menangis setelah menyadari bahwa ia membunuh teman-temannya sendiri.
“Maafkan aku teman,” katanya sambil membelai rambut SeungRi , lalu ia pun memeluk tubuh SeungRi yang sudah tak bernyawa.
***
“HyunSeung!,” kata TaeYang. Ia pun berlari ke arah HyunSeung.
“aku pembunuh,” kata HyunSeung yang masih memeluk SeungRI.
“Itu SeungRi kan?,” tanya JiYong lalu ia menghampiri HyunSeung. “kau apakan dia ha? ,” bentak JiYong . Lalu air mata JiYong pun mulai jatuh membasahi pipinya.
“Kau apakan dia!?,” bentak JiYong lagi. Ia pun menangis sejadi-jadinya. “Ini pertama kalinya aku bisa menangis! KAU APAKAN DIA?!,” bentaknya lagi.
“a..a..aku pem..bu..nuh,” kata HyunSeung lirih. Suaranya bergetar.
“aku tak yakin kau yang melakukannya, ceritakan saja padaku. ChaeRin. Coba kau tenangkan JiYong,” kata TaeYang. Lalu ia berjalan mendekat ke arah HyunSeung.
***
Aku jahat. Aku membuat JiYong menangis. Aku akhirnya menceritakan ke TaeYang tentang semuanya. Aku ini sejenis vampir outcast… dulu…
FLASHBACK
“Anak kita memiliki mata yang bagus!,” kata seorang wanita sambil menggendong sesosok bayi lelaki.
“Iya!,” kata seorang pria sambil menangguk dan tersenyum. Lalu datang seorang wanita dengan jubah hitam dan ia pun berkata sesuatu yang sangat aneh .
“Suamimu akhirnya lebih memilihmu ketimbang aku! Aku akan membuat anakmu ini menjadi tak berguna! Tak ada gunanya ia lahir ke dunia ini!,” kata wanita berjubah itu. Lalu tiba-tiba saja ia menghilang. Kedua orang tua itu bingung dengan kedatangan si wanita berjubah tadi. Lalu, tiba-tiba muncul sebuah taring dari gigi anak bayi itu. Kedua orang tua itu terkejut dan segera memeluk bayi itu erat erat.
END OF FLASHBACK.
***
“aku vampir outcast, aku tidak kuat tinggal di bawah sinar matahari, dan aku selalu membutuhkan darah. Ketika bulan purnama datang, aku semakin gila dan tubuhku bergerak tanpa kendali,” kata HyunSeung yang sedang berlutut , suaranya masih saja bergetar. Ia pun menunduk , air matanya masih menetes.
ChaeRin pun menengok ke arah HyunSeung.
“lalu mengapa kau berdiri di tanah lapang?,” tanya TaeYang.
HyunSeung menggelengkan kepalanya. “JiYong.. kau bunuh aku cepat,” kata HyunSeung lirih.
“Tapi aku tidak..aku tidak bisa…tidak bisa membu..nuh manusia,” kata JiYong yang masih terisak.
“aku vampir..,” kata HyunSeung. Lalu ia bangkit dari tempat ia berlutut dan segera berlari ke lapangan yang lebih luas dan gersang.
***
Aku mencoba mengakhiri hidupku. Aku tidak mau membuat orang lain semakin susah. Aku akhirnya berlari ke lapangan yang ada di sebelah sana. Maafkan aku semuanya, aku salah. Aku sampai membuat anak setegar JiYong menangis terisak. Aku tak tega melihat JiYong yang masih memeluk tubuh SeungRi itu. Aku memang jahat.
“sebaiknya kau saksikan ini…,” kataku pelan.
***
Aku pun berhenti memeluk SeungRi dan segera mencium dahinya. Aku pergi menghampiri HyunSeung dan mencoba menghentikannya. AKu baru sadar ini bukan sepenuhnya salah HyunSeung.
“HyunSeung! Jangan!,” teriakku padanya.
Tapi semua terlambat. HyunSeung pun jatuh tersungkur , matanya terpejam dan lama kelamaan tubuhnya berubah menjadi debu yang berterbangan. Suasana benar-benar menyedihkan. Aku pun berlutut lagi. Badanku benar benar lemas. Dari belakang TaeYang dan ChaeRin merangkulku. Mengapa semua pergi begitu cepat?
.end.
Hehe. Gimana ceritanya? Gaje yah? Hehehe Okay. Terima kasih yang sudah membaca. Kritik dan saran saya terima, saya akan tetap mencoba membuat karya yang lebih baik lagi. bye bye.