Absolute Music and Art –Sketch. 6

Author : Ayuningtyas

Length : Continue

Genre : Romance

 Cast :  MBLAQ member, Hwang Dain

Author tells…

 

Tok tok tok…. Pintu kamar Dain diketuk oleh ummanya. Waktu menunjukkan pukul 11 pagi dan Dain belum memunculkan tanda-tanda ia akan berangkat kuliah atau keluar sebentar dari kamarnya, sejak kejadian tadi malam…. Dain tidak keluar dari kamarnya sama sekali.

“Dain, ayo makan nak. Ini sudah pukul 11 siang,” bujuk ummanya sambil mengetuk pintu. Disebelahnya ada suaminya yang membawakan senampan makan siang beserta minumnya. Mereka terlihat khawatir dengan keadaan Dain. Mereka tidak menyangka hancurnya buku sketsa itu bisa membuat Dain sefrustasi ini.

“Aku tidak lapar umma, appa…. Gamsahabnida.” Jawabnya dengan suara yang benar-benar tanpa ekspresi, hanya kekosongan. Umma menghembuskan nafasnya perlahan, begitu juga dengan appa.

“yeobo… apa yang harus kita lakukan?” tanya umma khawatir, “Ia bisa sakit kalau tidak makan seharian. Kamu lihat kan dari tadi pagi dia tidak keluar kamar sama sekali?”

Sang appa mengangguk dengan penuh kegelisahan. Ia menaruh nampan berisi makanan itu di lantai, lalu mengambil HP dari kantungnya, “yeobo…. Apa Seungho sudah tahu semua ini?

~~~~~

 

Hwang Dain story…

 

Tok tok tok…. Lagi lagi pintu kamar diketuk ketuk cukup keras, mendengarnya saja membuatku merinding luar biasa.

“Dain-sshi… Dain-sshi….” panggil seorang namja dibalik pintu. Namja itu menongolkan kepalanya, ternyata itu adalah Joon sunbae, “Bagaimana keadaanmu?”

Aku…. Tak mengerti harus menjawab apa, aku hanya diam sambil merebahkan tubuhku di tempat tidur, kunaikkan selimutku lebih tinggi… agar Joon sunbae tidak melihat kantung mata yang bengkak ini.

Joon sunbae mendekat dan menarik sebuah kursi mendekati tempat tidurku, bahkan suara geretannya saja juga membuatku merinding saat kaki kursi beradu dengan lantai.

“Annyeong….” Ucap Joon sunbae dengan wajah yang sedih, “Masih…. Sedihkah?”

Aku tak mungkin menjawab pertanyaannya, karena itu akan membuatku ingat kembali dengan kenangan buruk yang membuatku tak bia tidur kemarin malam.

“Yak…. Bicaralah, jangan diam saja.” Tiba-tiba Joon sunbae meraih tanganku dan menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, “Jebal…… katakanlah sesuatu, paling tidak itu bisa melegakan pikiranku.”

Aku menghela nafas dalam-dalam…. Entah kenapa semua suara yang berada di dekatku rasanya membuat bulu kuduk berdiri, rasa merinding yang aneh ini….. menakutkan.

“Gam…. Gamsahabnida,” ucapku sambil menutup mata, “Kalau kemarin sunbae tidak datang, mungkin….. aku akan…… aku akan……. Lebih terluka lagi.” Aku memejamkan mata merasakan air mata yang mengalir di ujung pipiku, rasanya begitu hangat… sekaligus dingin karena sudah dilalui dengan air mata lain.

“Waeyo… kenapa kau berterima kasih?” tanya Joon sunbae dengan mata yang berkaca kaca, “Aku…. Akulah yang seharusnya minta maaf. Sebenarnya malam itu aku ingin mengajakmu ke rumah ku, karena…. Ummaku. Tapi malah jadinya begini, jeongmal mianhae~”

Joon sunbae memegangi tangan kananku, tangannya dingin dan gemetaran….. ia menundukkan kepalanya di kasurku dan suasana menjadi hening lagi.

“Gwenchana oppa, uljimma….” Aku…. Mencoba untuk menyentuh rambutnya. Tapi….. rasanya sekujur tubuhku sangat dingin dan merinding. Aku tak bisa melakukannya….

 

…..

 

“Yak appeun namja, apa yang kau lakukan disini?!”

Aku terkejut mendengar teriakan itu di depan pintu, dan kutemukan Seungho oppa maupun Joon sunbae yang sedang berdiri berhadapan.

“Aku kemari untuk menemaninya.” Jawabnya tegas, “Kau punya masalah dengan hal itu?”

“Tentu saja.” Jawab Seungho oppa pedas, “Kau yang menyebabkan Dain jadi begini. Kalau bukan karena fans-fans mu yang sakit jiwa itu, Dain tidak akan mengurung diri di kamar seharian~ semuanya gara-gara kau!!”

“Yak, aku menolongnya ya~!! tidak membiarkannya terkapar di jalanan seperti yang kau bayangkan!” seru Joon sunbae membela dirinya, “Aku yang mengantarnya pulang, dan memastikan kalau ia baik-baik saja kemarin, aku bukan dirimu yang hanya butuh Dain kalau sedang kesepian saja!”

Kudengar Seungho oppa tertawa dan berkata, “Hah….. memangnya aku itu kau, namja sok nakal yang sebenarnya kesepian dan merindukan kasih sayang appanya??”

Joon sunbae yang merasa tersinggung langsung mencengkram kerah baju Seungho oppa, “Yak… jangan mentang-mentang kau orang kaya dan terkenal dengan banyaknya bakatmu ya, sampai sampai kau melecehkan aku yang hanya mampu kuliah di jurusan tari karena miskin!!”

BRUK!! Aku menjatuhkan diriku dari tempat tidur agar perkelahian itu tidak berlangsung. Dan benar saja, Seungho oppa dan Joon sunbae langsung menghampiriku dan membantuku kembali ke tempat tidur.

“Dain-sshi.. annyeong,” sapa Seungho oppa. “appa dan ummamu menyuruhku kemari untuk menemanimu. Tapi ternyata…. Disini ada seorang otot idiot.”

Ah… lagi-lagi mereka bertengkar di depanku, “Eish….. si mata gelap ini belum pernah mendapatkan satu pukulan telak ya?!”

“Yak, kalau mau bertengkar di lapangan komplek saja sana, biar seru.” Tiba-tiba Byunghee oppa muncul dari pintu kamarku, “Kalian ini… memalukan sekali, cepat pulang sana. Dain tidak butuh kalian, dia hanya butuh oppanya kali ini.”

Joon sunbae dan Seungho oppa berhenti bertengkar dan membungkuk ke arahku sembari keluar dari kamar. Byunghee oppa yang tadi terlihat tegas tiba-tiba langsung memelukku erat dengan nada suara yang sangat khawatir.

“Babo-ya… siapa yang melakukan ini terhadap dongsaengku? Kenapa kau tidak bilang padaku?” ucap Byunghee oppa dengan suara yang gamang, “Minahe, aku lupa kalau hanya aku yang tahu bagaimana perasaanmu jika buku sketsamu dirusak.”

“Gwenchana…” jawabku lirih, “Ini mungkin salahku oppa….. seharusnya aku tidak terlalu dekat dengan Joon sunbae, aku lupa kalau resikonya akan seperti ini. Mianhae oppa, aku merasa sangat bersalah karena tidak mendengarkanmu.”

“Yak, apa yang kau katakan? Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri.” Ucap Byunghee oppa sambil mengelus rambutku penuh simpati, “Sayang sekali Hyoni pagi ini masih kuliah, kalau ia punya waktu luang… aku pasti akan mengajaknya dan membiarkan kalian berbagi cerita satu sama lain.”

Aku menghela nafasku dalam-dalam, “Aku….. merasa lelas sekali oppa, kepalaku pusing…. Aku ingin tidur saja.”

“Andwaeyo….” Tiba-tiba Byunghee oppa menjawab demikian, “Kau harus makan dulu, kalau tidak… aku tidak akan membiarkanmu istirahat.”

Di belakangnya terlihat nampan berisi makanan dan segelas air putih yang kelihatannya disiapkan oleh appa dan ummaku. Ah…. Mau tidak mau, aku harus memakannya. Kalau tidak…. Umma dan appa pasti sedih.

 

~~~~~

 

Park Nana story….

 

“Dain sakit?? Apa yang terjadi dengannya?” tanyaku pada Hyoni. Kebetulan kami berdua bertemu di kantin gedung music, jadi kami mengobrol sebentar.

Hyoni mengangguk dengan wajah yang sedih, “Sebenarnya bukan penyakit fisik sih, lebih ke psikis..” jelasnya, “Kemarin segerombolan mahasiswi menutup kepalanya dengan kantung hitam, isi tasnya dilempar ke segala arah, dan buku sketsanya dirusak dan dirobek robek.”

“Ya tuhan…. Sadis sekali.” Ucapku penuh keprihatinan, “Bagi Dain, buku sketsanya adalah jiwanya. Sama seperti gitar bagimu Hyoni. Dia pasti meringkuk saja di kamar dan tidak mau diajak bicara sama sekali.”

Hyoni melanjutkan makannya sambil mendengarkan penjelasanku barusan, “Tadi pagi Byunghee oppa kesana dan membujuknya makan, karena omonim dan ahbuhji nya Dain bilang hanya oppa yang bisa membujuknya.”

Aku manggut manggut, “Oh…. Apa akhirnya dia makan?”

“Iya…. Hanya dengan sekali bujukan, syukurlah…” jawab Hyoni. “Tapi sebelumnya oppa melerai Seungho sunbae dan Joon oppa dulu karena mereka bertengkar di kamar Dain, eish….. sangat tidak tahu aturan.”

“Bertengkar? Kenapa bisa seperti itu?” tanyaku bingung, “Kalau kata Cheolyong oppa sih…. Seungho sunbae akhir-akhir ini suka gelisah kalau mendengar Dain pulang bersama dengan Joon sunbae, makanya dia melakukan berbagai cara untuk menghalau mereka berdua bersama.”

Sekarang giliran Hyoni yang manggut manggut, “Jinjjaeyo? Padahal Seungho oppa tidak pernah segelisah itu. Dia selalu tenang dalam menyelesaikan masalah. Oh iya, kau ada waktu hari ini? Aku, Shinmi dan Cheondung oppa berniat untuk menjenguk Dain sore ini. Kau ikut?”

Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba ada suara yang berkata, “Pasti ikut dong… Dain kan juga teman kami.”

“Kami?” jawabku sambil melirik namja yang ternyata Cheolyong oppa itu, dan menyikut perutnya pelan. “Kamu sok akrab deh sama Dain, hehehehehe.”

 

…..

 

“Annyeonghaseo unnie, Park Shinmi ibnida.” Sapa yeoja yang ternyata adalah hoobae kami ini, “Aku diajak sama Hyoni unnie dan Cheondung oppa. Memang apa yang terjadi dengan Dain unnie?”

“Dia sakit psikis tau, buku sketsa yang sering ia bawa-bawa dirobek dan dihancurkan oleh mahasiswa nakal yang tak dikenal.” Celetuk Cheondung oppa sambil mencubit pipi anak itu, “Kamu kok ketinggalan berita terus sih?”

Hyoni melerai dua anak yang berselisih dengan cara yang lucu itu, “Sikkeuro~~ ini kan rumah orang. Oh, annyeonghaseo omonim…”

Di depan pintu terlihat umma Dain yang agak terkejut dengan gerombolan kami, “Nana-sshi…. Cheolyong-ah, Cheondung-ah… astaga gerombolan kalian membuatku terkejut~~ masuklah.”

Kami segera masuk ke kamar Dain dan menemukan yeoja itu sedang duduk sambil menatapi jendela. Aku dan Hyoni langsung memeluknya penuh simpati.

“Dain-sshi… aku turut bersedih mendengar bencana yang menimpamu~~” ungkap Hyoni sedih, “Jangan frustasi lagi ya~~ nanti aku belikan buku sketsa yang baru oke?”

Aku tak menyangka kalau akhirnya Dain bicara di depan kami semua, “Gwenchana… aku sudah merasa lebih baik. Kalian sudah jauh-jauh menjengukku, gomawoyo.”

Cheolyong oppa dan Cheondung oppa hanya manggut manggut dari pojok kamar, lalu Cheondung oppa berkata… “Kami… terlalu ramai ya disini? Mianhae, semua ini gara-gara hoobae pipi tebalmu yang memaksa ikut.”

Dain tertawa kecil melihat Cheondung oppa dan Shinmi yang bertikai terus-terusan itu, begitu juga kami.

 

~~~~~

 

Park Shinmi story….

 

Ahhhh waktu cepat berlalu…. Sehingga aku, para unnie dan para oppa yang menjenguk Dain unnie harus pamit pulang karena sudah larut malam.

“Unnie…. Cepat sembuh ya, kapan kembali ke kampus?” tanyaku sambil membelai tangan Dain unnie yang masih terlihat pucat meskipun kami sudah beberapa kali membuatnya tertawa.

“Mollaeyo, mungkin 3 hari lagi sampai psikisku pulih.” Jawab Dain unnie, “Gamsahabnida, hati-hati ya di jalan. Oh iya, kau pulang sama siapa? Ini kan sudah malam.”

GLEK~~ oh iya. Kok aku bisa lupa sih??? AKU KAN TIDAK PUNYA TEMAN YANG SEARAH PULANGNYA DENGANKU~!!!! *panik*

“Minta antar Cheondung oppa saja.” Tiba-tiba Hyoni unnie menyeletuk, “Aku baru ingat kalau aku mau bertamu ke rumah Byunghee oppa dulu.”

Aku sangat senang mendengar perkataan Hyoni unnie, sampai ketika Cheondung oppa menyeletuk,….

“Sirraeyo, nanti kalau aku mengantarnya, ban mobilku bisa bocor lagi.” Katanya dengan wajah jahil, “Pipinya kan berat sekali, nanti aku malah jatuh lagi. Hahahahaha~~~”

Huh, APANYA YANG LUCU DARI PIPIKU SIH?? Dasar oppa rese, dia juga punya pipi yang tebal. Kenapa dia tidak tahu diri sih?!?! *angry* angry*

 

…..

 

Di dalam mobil Cheondung oppa, aku hanya diam tak bersuara. Aku takut emosiku meluap dan meledak kalau sekali bicara. sumpah, hari ini Cheondung oppa tidak berhenti meledekku. Dan rasanya sangat menyebalkan~

“Yak tembem… kamu tidur ya?” celetuk Cheondung oppa, “Kok kalau tidur matanya terbuka? Seperti ikan saja, hahaha~~”

Astaga… ottokke? Kenapa mataku berkaca-kaca seperti ini? Aigooo aku tidak mau terlihat menangis di depan oppa rese ini, nanti aku malah diledek terus-terusan >_

Mobil berhenti di depan rumahku, “rumahmu belum pindah kan? Yang ini kan? Kenapa kau tidak segera turun, anak kecil?? Nanti kamu dicari ummamu loh~”

“Ba… baiklah, aku turun. Jael… jaelgeyo oppa.” Ujarku dengan suara yang ditahan tahan karena sudah parau.

Tiba-tiba Cheondung oppa menarik tanganku dan otomatis mata merahku terlihat, “Yak…. Kenapa kau menangis?”

Aku merengut dan berusaha melepas tangannya, tapi ia mencengkramku terlalu kencang sehingga aku kewalahan, “Yak…. Ada apa sih? Aku tidak mungkin kan membiarkanmu pulang dengan mata merah dan membuat orangtuamu curiga?”

“Lepaskan… apuda~~” pintaku dengan suara sember. Huhuhuhu aku tidak bisa menahannya lagi~~!!! Akhirnya airmataku mengalir deras dan aku mencoba mengusapnya berkali kali.

“Yak… ada apa sih denganmu? Nawa…” ucap Cheondung oppa sambil menutup pintu mobil dan membiarkanku menangis, “Apa kau merasa demam atau masuk angin? Kedengarannya kau merasa sakit sekali. Uljimma uljimma….”

Tanpa kusadari, ia mengusap kedua mataku yang basah dan membersihkan mataku dari airmata, “Apa kau akan bercerita padaku, kalau aku melakukan ini?”

“Aku…. Aku…..” jawabku sambil mengatur nafas, “Aku berusaha menahannya, tapi oppa terus-terusan mencubitiku, sehingga aku tak dapat menahannya~!!!”

Oppa memegangi pipiku agar mataku bertatapan dengan matanya, “Menahan apa? marebwa.”

Aku menutup mataku dengan kesal dan berkata…

“Menahan perasaan sukaku terhadap oppa, nan jeongmal joahaeyo!!”