Author : Lolillo

Title : Heart’s Desire

Length : Continue

Genre : fantasy, romance

Cast : Sooyun (own character), Junho (2PM)

Support cast: MBLAQ member & 2PM member (Seungho, G.O, Mir, Joon, Cheondoong, Taecyeon, Chansung, Junsu, Nichkhun, Wooyoung), Jung Jihoon (Rain), Park Jinyoung (JYP), Miss A.

Author’s note:

Hai readers, maaf banget aku nggak update ff ini untuk waktu yang SANGAT lama😥

Berhubung aku kuliah dan tugas kuliah itu banyaknya nggak kira-kira *pasang muka serius*

Makasih yaaa jika ada dari kalian yang setia nungguin lanjutan FF ini (authornya kepedean) hehehehehe😀

Ditunggu comment, kritik, dan sarannya =D

Part 10

“Kau… siapa?”

DEG. Detik itu juga Junho merasa dunianya runtuh. Ia memandangi gadis yang menatapnya dengan pandangan keheranan. Mereka berdua terdiam sampai seseorang merusak momen itu dengan menarik tangan Junho.

“Ya! Junho! Kubilang jangan berurusan dengan anak itu lagi!” Nichkhun menarik tangan Junho dan mereka berdua menghilang diantara kerumunan orang.

“Hey! Tunggu! Kau kah yang bernama Junho?” Sooyun mengejar keduanya. Orang itu pasti bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku selama ini. Namun, ia tidak bisa menemukannya dimanapun.

Bruk. Ia menabrak seseorang dan matanya spontan melebar saat ia melihat siapa yang ia tabrak, “Mianhae—Mir Hyung…”

“Sooyun?! Kok kamu bisa ada di sini?” Mir terbelalak kaget dan menarik Sooyun ke tepi ruangan. “Kau sudah gila, ya? Kalo Seungho Hyung menemukanmu disini, kau sudah tidak selamat lagi.”

Sooyun menunduk, “maafkan aku, Hyung. Aku hanya… mencari jawaban.”

“Jawaban? Jawaban apa?”

“Aku merasa ada sebuah kejadian di hidupku yang tidak bisa kuingat. Dan aku ingin mengetahui tentang kejadian itu.”

Mir memesan segelas vodka di bar dan kembali menatap ke adiknya, “kalau kau tidak bisa mengingat hal itu, itu artinya kejadian tersebut tidak pernah terjadi, Sooyun-ah.” Ia menenggak vodkanya dengan perlahan.

“Hyung,” Sooyun memandangi langit-langit ruangan dengan pandangan menerawang, “Junho itu siapa?”

Bruuuusss! Vodka yang sedang ditenggak Mir hampir keluar seluruhnya, ia tersedak dan memukul-mukul dadanya pelan, “kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu, sih?”

“Sepertinya, nama itu familiar. Dan aku menemukan seseorang yang familiar di tempat ini. Apa Junho itu temanku ya? Tapi aku tidak bisa ingat…” Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kau itu terlalu banyak minum, Sooyun-ah. Mungkin kau sedikit mabuk. Aku tidak kenal Junho sama sekali.” Mir berbohong. “Sudahlah, ayo kita pulang. Kau harus ada di rumah sebelum Seungho Hyung dan yang lainnya pulang.”

Mir menarik Sooyun keluar dari FlyingFish dan melesat dengan cepat ke rumah mereka menggunakan Ferrari merahnya.

*

“Anak bodoh!” Junsu mengelap sisa darah di bibirnya setelah selesai memangsa seorang gadis malang, “kubilang jangan pernah berurusan dengan ia lagi. Kau benar-benar sudah bosan menjadi bagian dari keluarga ini, ya?”

Junho hanya menunduk dalam diam.

“Vampir yang ada di Korea yang lebih cantik dan menarik dari dia itu masih sangat banyak, Junho-yah. Kenapa harus gadis itu sih?” Lanjut Taecyeon.

Kau tidak pernah bisa memilih dengan siapa kau jatuh cinta, Hyung, Junho membatin.

“Kau mau kemana?” Taecyeon menghalangi Junho yang berdiri dari duduknya.

“Bar. Aku haus.” Jawab Junho singkat.

“Aku berjanji akan menghajarmu jika ternyata kau menemui adiknya Joon itu. ingat, Junho-yah.”

Junho melengos malas dan berjalan kearah bar dengan lunglai, ada Min di sana, masih melayani pelanggan-pelanggan dengan baik dan sesekali melirik ke Junho yang terduduk sambil menopangkan dagunya lemas.

“Ada apa lagi?”

“Aku bertemu dengannya.” Junho menjawab dengan pandangan kosong, “namun, dia tidak mengenaliku.”

“Aku tau.” Jawab Min singkat, “tadi kami bertemu dan mengobrol panjang disini. Hanya saja, dia lupa tentangmu. Tentang keluarga kita juga.”

Junho melirik Min penasaran, “kenapa begitu?”

“Salah satu dari kakaknya memblokir pikiran Sooyun dari apapun yang berhubungan denganmu. Jadi, dia tidak bisa ingat apapun. Apapun.”

“Pasti kakaknya menolak dengan keras hubungan kalian. Jadi, Sooyun dibuat lupa total dengan apa yang selama ini dia alami, denganmu terutama.” Sambung Min.

“Jadi, dia benar-benar sudah melupakanku?” Tanya Junho pesimis. Ia menghela nafas berat.

Min memutar bola matanya, “pasti ada cara.”

“Maksudmu?”

“Ada cara untuk membuatnya mengingat. Pasti masih ada kekuatan yang bisa mematahkan kekuatan kakaknya itu.” Kata Min dengan yakin.

*

“Kau gila, Min-ah? Mengapa kau begitu ingin mempersatukan Junho dan Sooyun, sih?” Jia mengendap-endap di balik pagar tinggi rumah keluarga Jung Jihoon. Dengan lihai Jia dan Min melompati pagar dan mendarat tepat di rerumputan taman rumah itu.

“Aku hanya ingin melihat Junho bahagia, dan Sooyun juga. Lagipula, jika kau menjadi Sooyun, kau tidak mau dipisahkan dari orang yang kau cintai bukan?”

“Kau percaya diri sekali. Dari mana kau tau mereka saling jatuh cinta?”

“Jia Onni payah, aku kan pembaca pikiran. Perlu kau tanya dari mana aku tau itu semua?” Jawab Min sarkastis.

“Tapi, keluarga kita dan mereka adalah musuh bebuyutan dari zaman kakek-nenek kita. Dua keluarga ini nggak mungkin bisa bersatu.”

“Onni, permusuhan ini harus segera dihentikan. Sooyun dan Junho lah yang harus menghentikannya. Aku percaya dua keluarga ini dapat bersatu.”

Jia memutar bola matanya. “Lalu… apa yang akan kau lakukan? Bukankah katamu kakaknya Sooyun memblokir ingatannya sehingga ia tidak bisa mengingat Junho?”

“Kekuatan Ikatan Darah itu sangat kuat, Onni. Lebih kuat dari apapun.” Min menyeringai, “ayo kita bawa Sooyun.”

Keduanya menyelinap hingga masuk ke kamar Sooyun yang terlelap di atas tempat tidurnya. Dengan kekuatannya, Jia memasuki pikiran Sooyun dan membuat Sooyun berdiri, namun tak sadarkan diri. Pandangannya kosong dan langkahnya diatur oleh Jia. Ketiganya melangkah keluar dari rumah, menuju Hall dimana perhelatan Winter Ball diadakan.

Sooyun kembali terlelap dan dibaringkan di lantai. Jia dan Min bersembunyi di pojok ruangan yang gelap dan nggak begitu lama, Fei dan Suzy membawa Junho yang tak sadarkan diri ke sana.

Sooyun terbangun dan menyadari atmosfir aneh di sekelilingnya. Ini bukan kamarnya. Ia tidak tidur di ranjang melainkan di lantai. Dengan penerangan lampu-lampu kuning di dinding ruangan, ia memicingkan mata untuk mengenali tempat ia berada.

Ruangan apa ini? Kenapa aku merasa pernah berada di sini, ya? Tapi… kapan?

Ia berdiri dan menebar pandangannya ke sekeliling ruangan. Pandangannya berhenti di atap tengah-tengah hall, sebuah lampu kristal besar yang tidak menyala tergantung indah disana. Seketika itu ingatannya menyeruak.

“Errr… lampunya bagus sekali, ya?” Katanya untuk mengalihkan topik dan menyamarkan wajahnya yang memerah karena malu.

Terlalu bingung dengan keadaannya saat ini, Sooyun melupakan hal-hal lain di sampingnya. Ia menghirup nafas dalam dan penciumannya tergelitik, bau darah ini… begitu harum. Begitu… familiar. Dan kenapa aku seperti merindukan bau darah ini?

Junho tersadar saat ia merasa mencium bau darah Sooyun. Pasti aku lagi-lagi berhalusinasi mencium bau darah Sooyun. Aku bermimpi buruk lagi. Pasti.

Junho membuka matanya. Ia terbelalak dan segera terduduk. Ia bukan di kamarnya. Ia terbaring di lantai ruangan besar. Ruangan ini kan…

“Winter Ball…” Bisiknya. Junho menoleh, dan menemukan gadis yang paling ingin ia temui, sedang berdiri di bawah lampu kristal dan memandanginya dalam diam. Ia, masih mengagumi lampu kristal itu kah?

“Lampunya… bagus sekali, ya?” Junho mengulangi kata-kata Sooyun saat di Winter Ball lalu. Sooyun terperanjat dan memutar badannya, Junho ada di hadapannya, memandangi lampu kristal diatas mereka berdua.

Sooyun kembali mengalihkan pandangannya ke lampu kristal di atasnya, “lebih bagus lagi saat ia menyala.” Katanya polos.

“Kau pernah melihat lampu itu saat menyala? Kapan?”

“Aku… aku… tidak ingat.”

“Mau kubantu mengingat?”

“Kau bisa?” Junho menganggukan kepalanya.

“Bagaimana caranya?”

“Mari kita reka ulang saat dimana kau melihat lampu kristal itu, saat Winter Ball.” Junho tersenyum kecil, ia meraih tangan mungil Sooyun dan meletakkannya di pundaknya. Dan dengan hati-hati ia meletakkan kedua tangannya di pinggang Sooyun dan menariknya mendekat.

“Winter Ball?” Sooyun mengerutkan kening, “apa yang aku lakukan disana?”

“Berdansa… denganku.” Jawab Junho sambil memulai dansanya. Junho menggumamkan musik pelan setengah berbisik dan disamakan dengan langkah dansanya. Perlahan Sooyun mengikuti langkahnya dan perlahan bayangan kejadian malam itu mulai nampak.

Tempat ini begitu ramai dengan orang-orang yang mengenakan pakaian terbaiknya, baju-baju berenda, topeng-topeng indah, tawa dan obrolan hangat, musik orkestra, dan kami berdansa dibawah lampu kristal… dan kami…

Junho menarik Sooyun lebih dekat dan mengecup bibirnya lama. Mata mereka terpejam dan ingatan-ingatan itu bagai menyusupi kepala Sooyun sehingga ia mengingat semuanya. Sekat yang memblokir pikiran dan ingatan Sooyun seakan hancur tak berbekas.

Setelah ciuman itu berakhir, Sooyun menatap mata hitam legam Junho. “Junho?”

Junho tersenyum, hingga kedua matanya membuat lengkungan, “kau mengingatku…?”

Sooyun mengangguk pelan. Detik berikutnya ia merasa tubuh mungilnya dipeluk erat oleh Junho. Ia tersenyum, dan berharap saat ini tak akan berakhir.

*

“Sooyun-ah, ayo cepat bangun!” Cheondoong mengetuk-ngetuk pintu kamarnya gusar, nggak biasanya Sooyun belum keluar kamar pada jam segini.

“Ya! Kau ini malas sekali jam segini masih tidur!” Tidak sabaran, ia membuka pintu kamar Sooyun dan terdiam melihat tempat tidur Sooyun kosong, dan lebih parah lagi, jendela kamarnya terbuka lebar.

“Damn!” Cheondoong membanting pintu kamar Sooyun dan bergegas menuju ruang latihan. Dimana anak itu?! Semoga dia ada di ruang latihan, terlalu lelah berlatih hingga tertidur di sana.

Namun, ruang latihan malah digunakan Joon yang sedang berlatih dengan seorang anak buah ayahnya. “Hyung?”

“Ada apa?” Joon menghentikan latihannya sejenak.

“Kau sudah melihat Sooyun hari ini?” Tanyanya.

Joon menggeleng, “aku berlatih dari pagi-pagi buta.”

Cheondoong meninju pelan tembok di sebelahnya. Kemana anak itu pergi, sih?

*

“Kau melihat Junho pergi?”

Wooyoung menggeleng, matanya masih setengah terbuka dan ia masih menggunakan baju tidur saat membuka pintu kamarnya dan berpapasan dengan Taecyeon yang tampak gelisah.

“Memangnya ada apa dengan Junho?”

“Aku nggak menemukannya di kamar. Kemana dia pergi ya?”

“Kau sudah bertanya pada yang lain?”

“Dia nggak ada di perpustakaan, biasanya kan dia membaca buku hingga tertidur disana.” Chansung bergabung dengan mereka.

Kelimanya berkumpul di ruang makan, makanan disajikan namun tidak ada yang mereka sentuh. Hanya darah-darah segar dalam botol yang mereka tenggak dengan cepat dan gusar.

“Apa mungkin Junho kabur?” Chansung berargumen.

“Kabur? Untuk apa dia kabur?” Wooyoung menaikkan sebelah alisnya.

“Enggg… Menemui Sooyun? Mungkin saja dia nekat—”

“Kuhajar dia kalau dia berani-beraninya menemui gadis itu lagi.” Junsu menggebrak meja pelan, “Begitu banyak vampire wanita cantik di negara ini, kenapa harus adik bungsu keluarga musuh kita yang menarik hatinya coba?”

“Ya… mereka kan… sudah terikat.” Kata Wooyoung dengan santai.

“Kenapa kau begitu yakin, Wooyoung-ah?” Tanya Nichkhun.

“Jangan-jangan,” Taecyeon buka mulut, “gadis itu sengaja memiliki Ikatan Darah dengan Junho sehingga ia bisa mempengaruhi Junho dan membuat adik kita berpindah ke pihak mereka.”

“Cih, cara murahan.” Junsu mendesis.

“Hyung, itu kan belum tentu benar—”

“Diam kau.” Nichkhun memotong perkataan Wooyoung, “Kenapa kau juga mendukungnya, hah? Gadis itu juga merayumu, hah?!”

“Hyung!” Wooyoung menatap gusar kakaknya.

“Kalau begini caranya, mereka benar-benar mengibarkan bendera perang.” Taecyeon mengepalkan tangannya, mulai panas.

*

“Dia nggak ada di loteng.” Mir menuruni tangga dengan cepat dan bergabung dengan kakak-kakaknya yang lain.

“Di ruang latihan juga nggak ada.” Joon menambahkan.

“Dari pagi dia nggak ada di kamarnya.” Cheondoong membuka mulut.

“Ada apa ini? Kenapa wajah kalian begitu keruh?” Seungho bergabung dan keempat adiknya mendadak terdiam, saling melirik satu sama lain.

G.O menghela nafas berat, “Sooyun… hilang.”

“HAH? Hilang? Kok bisa?” Seungho memandangi adik-adiknya satu per satu.

Mir mengendikkan bahu, “kata Cheondoong Hyung, dari pagi dia nggak terlihat.”

“Jendela kamarnya terbuka lebar tadi pagi.” Tambah Cheondoong, “apa jangan-jangan ia kabur?”

“Untuk apa ia kabur?” Tanya Mir polos.

“Dia… nggak mungkin menemui Junho kan?” Joon buka suara.

“Nggak mungkin,” Sela G.O cepat, “aku kan sudah memblokir pikirannya dari Junho dan keluarganya.”

“Atau… pikirannya tidak lagi berada di bawah kekuatanmu?” Sambung Joon.

G.O tertawa sinis, lalu menatap Joon tajam, “jadi kau meragukan kekuatanku?”

 

“Jika benar Sooyun sudah memiliki dengan Ikatan Darah, bukan nggak mungkin hal itu benar terjadi. Kekuatan Ikatan Darah itu kan tidak bisa ditandingi kekuatan vampir manapun.” Cheondoong berpendapat, namun ragu.

“Atau jangan-jangan, Junho memperdaya Sooyun dan menculiknya. Lalu dengan itu mereka mencoba menyerang kita.” Joon menambahkan.

“Jika benar seperti itu, mereka benar-benar menabuhkan gendering perang namanya!”

Mir menyenggol Seungho, “Hyung, katakan sesuatu.”

“Siapkan diri kalian. Kita tunjukkan kepada mereka bahwa mereka mencari masalah dengan keluarga yang salah.” Seungho berkata dengan serius.

*

Sooyun mengerjap-ngerjapkan matanya dan pelan-pelan menyesuaikan dengan keadaan di sekelilingnya. Ia masih berada di ruangan yang sama dengan kemarin, hall besar yang kosong, tertutup rapat dengan korden kain beludru warna biru gelap menutupi jendela-jendela besar dari kaca agar sinar matahari tidak masuk ke dalam ruangan.

“Selamat pagi.”

Sooyun bangun dan duduk di sofa panjang yang ia gunakan untuk tidur. Junho menyapanya dengan senyum lebar dan duduk di sampingnya. “pagi.” Balas Sooyun dengan canggung.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” Tanya Sooyun. Junho mengangguk pelan, dan menatap gadis di sebelahnya dengan serius.

“Kemarin malam… bagaimana caranya kita bisa ada di sini, ya?”

Junho berusaha mengingat, namun hasilnya nihil. Ia menggeleng pelan, “aku juga nggak bisa ingat. Terakhir kali, rasanya aku sedang tidur di kamar tidurku. Lalu tiba-tiba aku terbangun, bebaring di lantai ruangan ini.”

Sooyun mengangguk-angguk pelan, ia juga merasakan hal yang sama. Tiba-tiba ia teringat dengan kelima kakaknya. Mereka pasti mencarinya. Dan tentunya akan marah besar kalau mereka tau ia

sedang bersama Junho saat ini. Tapi, keluar dari tempat ini saat matahari bersinar jelas bukan jawaban. Baru lima menit, ia pasti langsung mati terbakar matahari.

Junho menunduk, terdiam, memikirkan saudara-saudaranya yang lain. Apa mereka semua mencarinya? Atau bahkan tidak menyadari ia menghilang dari rumah selama semalam?

“Mungkin,” Junho membuka mulutnya, “takdir yang mempertemukan kita disini.”

Sooyun menghirup nafas dalam-dalam, dengan jelas mencium wangi darah Junho yang begitu adiktif untuknya. Jika boleh, ia ingin menyimpan saat ini untuk selamanya.

Keduanya menghabiskan hari dengan saling berbincang lama, menanti matahari yang beranjak semakin ke barat. Dan cahayanya makin menguning dan perlahan meredup. Tanda dimulainya malam sudah mulai datang.

“Sebentar lagi, saat malam tiba, aku akan menghantarmu ke rumah.” Junho bersuara. Sooyun menoleh dan menatapnya datar, tak memberi jawaban.

“Jika boleh, sebenarnya aku ingin kita disini saja selamanya.” Sambung Junho, dengan senyuman melingkar di bibirnya.

“Lalu, kenapa kau mau mengantarku pulang?”

“Kelima kakakmu pasti mengkhawatirkanmu. Lagipula, mereka pasti akan marah besar saat tau saat ini kau sedang… bersamaku.”

Sooyun menyandarkan kepalanya di bahu Junho dan matanya memandang lurus ke depan. “Aku takut menghadapi mereka.”

“Kenapa takut?”

“Aku takut mereka melarangku bertemu denganmu, dan mungkin lebih parah lagi mengurungku di dalam rumah. Kata mereka keluarga kita tidak akan pernah bisa bersatu. Aku, aku—”

“Ssstt…” Junho membelai lembut rambut sebahu Sooyun, “jangan berkata begitu. Percayalah, aku dan kamu, kita, akan menemukan jalan.”

“Hei,” Junho menatap bola mata Sooyun dalam, “dengarkan janjiku, aku akan melakukan apa saja untuk menyatukan keluarga kita.”

Sooyun perlahan melebarkan senyumnya, “aku juga berjanji, keluarga kita akan bersatu, apapun caranya.”

Keduanya mengaitkan kelingking kanannya dan saling berjanji.

“Matahari sudah tidak terlihat, ayo, kuantar kau pulang.”

*

Nichkhun memegang dada kirinya, merasakan detakan tidak normal pada jantungnya. Chansung memperhatikan reaksi tiba-tiba Hyungnya.

“Ada apa, Hyung?”

“Entah, aku punya firasat, Junho dalam bahaya.”

“Bahaya apa maksudmu?” Taecyeon menimpali.

“Bahaya apa lagi, pasti kelima vampire itu.” Junsu menambahkan, lalu menatap serius adik-adiknya, “Ayo kalian bersiap-siap, mereka benar-benar mengibarkan bendera perang. Huh, mereka kira kita takut?”

*