(Proloque) (Part 1) (Part 2)

 

Title      : Ma Victoire (Part 3)

Length  : Continue

Genre   : Romantic, Friendship, Sad, Comedy (fail)

Cast(s)  : Lee Seung Ri (BigBang), Park Lee Bom (2NE1), Choi Dong Wook (Se7en), Park Han Byul

Disclaimer :

ADIEZ-CHAN ©ALL RIGHT RESERVED
ALL PARTS OF THIS STORY IS MINE! NO OTHER AUTHORS! PLEASE DON’T STEAL, COPY AND RE-POSTING WITHOUT CONFIRM AND HOTLINK!
DON’T PLAGIARIZE!

KEEP COMMENT AND NO SILENT READERS HERE PLEASE!

Author’s note :

Adiez-chan kambeeekk!! ^^/

Mian yaaa kalo lama abiiiss.. >< Kuliah saya lagi sibuk-sibuknya dengan tugas berjibun dan -err..- ujian tanpa henti. hha.. semoga FF yang kian lama ini tidak menyurutkan niat kalian untuk baca yaa..😀

so sorry for typos. ^^

 

happy enjoyiingg~~!

 

_______________________________________________

Oh God! Kakiku tak mau bergerak sama sekali. Aku harus bagaimana?!!

Apakah mungkin ini jawaban atas segala sakitku? Menyerahkan diri pada mobil ini? Apapun itu, lepaskan aku dari rasa perih ini, Tuhan…

.

BOM POV

Sungguh, aku benar-benar tak mampu bergerak satu kemanapun. Kakiku seolah tertanam dalam kerasnya jalanan, dan membuatku hanya bisa terpaku melihat kematianku berlari mendekat. Kini aku bisa merasakan derap jantungku yang berdegup hebat, berpacu dengan kecepatan mobil yang mendekat. Mungkin dia ingin bekerja lebih keras untuk yang terakhir kalinya untukku. Tenggorokanku menyekat semua nafasku, hingga seolah paru-paruku mengecil dan lenyap. Tertabrak mobil? So perfect die.

Good bye, world.

Tiba-tiba mobil itu berputar kasar hingga haluannya berubah hampir Sembilan puluh derajat, meninggalkan suara berdecit yang memekakkan gendang telinga. Aku dan kedua bola mataku yang membulat hanya bisa menatapnya, tercengang dan kosong.

CKIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTT….!!!!! BRAAAAAKKKKKKKKK !!!!!!!!!!!!

Semuanya terjadi begitu cepat. Dan sepersekian detik kemudian, sebelum aku menyadari segalanya, mobil itu telah sukses menghancurkan bata-bata bangunan yang masih tengah dibangun. Tulang-tulangku seketika terasa runtuh dan terlepas dari sendi-sendi yang menghubungkannya. Aku tak bisa merasakan apapun yang menyanggaku, terduduk lemas di atas dinginnya jalan sewarna abu.

Sesaat kemudian, barulah aku mendapatkan kembali kesaaranku secara utuh. Bagaimana orang di dalamnya?! Aku seketika berdiri dan berlari tergesa menuju mobil itu. Sekali lagi, aku bisa merasakan detum jantungku yang kian berpacu, hingga aku bisa merasakan desir darah yang mengalir bak air terjun. Berkejaran dan tak beraturan.

Semoga siapapun yang ada di dalam sana, dia baik-baik saja. Aku mohon, Tuhan…

Aku menengok mobil sport yang benar-benar hancur berkeping di bagian depannya. Puing-puingnya berserakan diantara debu kering yang melingkupi. Kaca depan benar-benar pecah. YaTuhan, itu sungguh… hancur. Bagian depan mobilnya saja tak berbentuk, bagaimana yang ada di dalamnya?!Penuh ketakutan, kekhawatiran, aku membuka pelan pintu mobil yang pastinya juga sudah tak mulus yang untungnya tidak dikunci.

“OMONA! OH GOODDD!!” Mataku seketika terbelalak lebar. Refleks kedua telapak tanganku menutup bibirku yang menganga lebar. Tersentak, shock. Apalagi yang harus aku rasakan sekarang.

Lelaki. Penuh darah di sekujur tubuhnya. Kepalanya mengeluarkan cairan gelap dengan sangat deras, sepertinya dia membentur kaca depan. Dada dan perutnya membentur setir mobil, terlihat dari aliran darah yang juga merembes dari balik kemejanya. Dan cairan kental itu masih juga mengalir dari tangannya juga bagian tubuhnya yang lain, namun kali ini aku tak mampu melihatnya lagi.

Dia meninggal? Apakah dia meninggal? Oh Tuhan. Aku bahkan tak mampu berpikir apapun.

“Otokhe?! OTOKHE??!!”

Secepat kilat aku mengambil ponselku dan menghubungi ambulans. Setelahnya, aku mencoba mendorong lelaki itu menjauh dari setirnya dan merogoh saku kemeja lelaki itu. Aku harus mencari seseorang yang mengenalnya. Tanganku menemukan ponsel yang terdapat di saku dada lelaki tersebut, namun ambulans datang sebelum aku sempat menyentuh apapun. Ketika aku sudah berada dalam mobil bersirine itu, aku mulai memencet beberapa tombol.

Seseorang…

Oh come on, seseorang, please…

Siapa yang harus aku hubungi?!!

Aku mencari nama seseorang di tombol speed dial dan menemukan… Lee Chaerin. Foto yang terpajang di layarnya adalah gadis yang tertawa bersama lelaki ini. Mungkin dia pacarnya? Siapa tahu?

Astaga Bommie! Kamu harus bertindak cepat! Babo-ya!

Aku mencoba menelepon menggunakan handphone lelaki itu.

“Yoboseyo?”

“Yoboseyo. Apa benar ini dengan Lee Chaerin?”

“Iya, saya Lee Chaerin.”

“Saya Park Lee Bom. Baru saja lelaki yang mempunyai handphone ini mengalami kecelakaan, dan sekarang dia berada di ambulans dalam perjalanan ke rumah sakit. Saya berusaha mencari siapa yang bisa dihubungi, mungkin keluarganya. Dan di speed dial ada nama anda, jadi saya menelepon anda. Apakah anda keluarganya? Apa anda bisa ke rumah sakit sekarang?”

Dia terdiam. Mungkin shock? Tentu saja, sama sepertiku. Dan kenapa ambulans ini belum sampai jugaaa??!! Ohh Gooodd!!! It’s so frustrating!!

“I… iya, saya dongsaeng-nya. Saya akan ke rumah sakit sekarang. Di rumah sakit mana?”

 

***

Aku melihat seorang wanita dengan helaian rambut sewarna jagung berlari tergesa di sepanjang koridor gedung UGD. Dia kemudian berhenti sejenak dengan tangannya yang memegang lutut, sementara tangan yang lain memegang perutnya. Sesaat kemudian gadis itu berlari sambil melongok ke tiap pintu seolah kerasukan.

Kuputuskan untuk menghampirinya. Mungkin saja dia orang yang kutunggu, Lee Chaerin. “Lee Chaerin?”

Dia mengalihkan pandangannya menatapku dalam bingung. “Nee?”

“Park Bom imnida. Saya yang meneleponmu.”

Dia menghela nafas panjang, penuh kelegaan. Begitulah yang bisa kutangkap dari raut mukanya.“Dimana dia sekarang?’

“Masih di dalam, ditangani dokter. Mari saya antar. Aku mengulurkan tangannya menunjukkan ruangan di mana Seung Hyun berada. Sepanjang jalan, sudut mataku melihat Chaerin-ssi mengepalkan tangannya yang sudah basah oleh keringat dingin.

Pasti lelaki itu… sangat berharga untuknya.

Aku menceritakan kronologis kejadiannya. Bagaimana semuanya terjadi atas salahku. Yeah, salahku. Kesalahan bodoh gadis bodoh yang akhirnya berujung pada keselamatan orang yang tak bersalah. So stupid, idiot woman.

Semuanya kesalahanku.

“Lalu bagaimana keadaannya?”

Aku menggigit bibir bawahku ragu, haruskah aku mengatakan keadaannya yang sebenarnya? Tapi… itu terlalu buruk dan aku tak tega mengatakan pada gadis yang sepertinya sudah terlalu shock dengan berita ini. Haruskah aku menambahkan bebannya?

Astaga Bommie, you must get curse for all of this. You must pay all of this if his life cannot be saved.

“Keadaan Choi Seung Hyun-ssi cukup parah ketika aku melihatnya. Kita… berdoa saja yang terbaik, Chaerin-ssi…”

Chaerin-ssi kini mengintip sejenak dari sela kaca pintu ruangan sementara aku hanya terdiam di bangku di depan ruangan. Aku menelungkupkan wajahku diantara kedua tanganku. Kacau. Kenapa bisa semua ini terjadi, Bommie?! I’ll curse myself for sure if anything bad happen to that man.

Aku harus menghubungi seseorang. Aku butuh… seseorang. Di sini.

Sedikit bergetar, aku mencari nama seseorang. Seseorang yang mungkin tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Nada panggil itu terdengar begitu lama tanpa terangkat. Aku menggigit bibir bawahku keras. Oh come on, angkat angkaatt…

“Yoboseyo?”

Suaranya… membawa aliran dingin ke sekujur tubuhku, walau tak seutuhnya. Tanpa sadar, satu butir kristal telah berhasil meluruh ke pipi menuju daguku. Aku menjawabnya dengan suara yang bergetar, “Help me… Please…”

***

Normal POV

Dara membuka pintu rumahnya dan mendapati rumahnya yang tak lebih senyap dari pemakaman. Hening, lengkap dengan lampu-lampu yang masih belum menyala. Kenapa sepi sekali? Mana playboy kadal satu itu?

“LEE SEUNG RIII!!!” panggil gadis itu dengan suaranya yang melengking hingga bergema di seluruh ruangan.

Tak ada jawaban.

Kakinya kemudian melangkah ke arah kamar Seung Ri seraya memanggilnya sekali lagi, “LEE SEUNG RI!”

Lelaki yang dicarinya ternyata termenung di depan piano kecil miliknya. Pena yang sejak tadi digenggamnya seolah tak bergerak untuk menulis apapun. Hanya terdiam dan menatap deretan tuts dengan pandangan kosong. “Eh? Noona? Wae?”

“Ani. Aku pikir tidak ada orang,” ucapnya sambil mengedikkan bahunya polos. “Ah nee, mangsamu kali ini cantik sekali. Makin lama makin pintar saja kamu mencari ‘korban’.”

“Mangsa? Korban?” Seung Ri mengernyitkan dahinya bingung.

Satu sudut bibirnya terangkat ke atas, membentuk cengiran polos. “Nee. Siapa tadi namanya? Park Bom?”

Mata lelaki itu membulat, diikuti dengan mimik sebal dan bibir yang dikerucutkan, “Noonaaaa! Kali ini aku benar-benar seriuuuss… Kenapa sih meragukan sekaliii??!”

“Nee nee. Kita lihat saja nanti. Bertahan berapa lama kamu kali ini.” Dara kemudian berbalik memunggungi Seung Ri, “Sudah ah, aku ngantuk.”

“Noona…”

Dara menghentikan langkahnya dan menatap Seung Ri sekali lagi, “Nee?”

Seungri mengeluarkan cengiran khasnya sambil menatap kakaknya itu dengan pandangan penuh makna. Dara tidak pernah berpikir ada sesuatu yang menyenangkan di balik senyum itu. Pasti ada maunya.“Aku lapar…”

Wanita itu menaikkan salah satu alis matanya, “Lalu?”

“Buatkan sesuatu… aku belum makan malam, noona…”

Nah kan? Apa yang dia pikirkan terbukti. “Hiisshh… makan ramen saja sana.”

Seung Ri menggelengkan kepalanya keras, hingga seluruh tubuhnya bergoyah, “Shireo! Aku mau bulgogiii…”

“Mwoya?! Malas ahh…”

“Ayolah, noona… aku lapaaaarrrr…” ucapnya semakin merajuk. Kini bahkan dia beranjak dari kursinya dan memainkan lengan Dara yang kecil seraya memasang tatapan memohon yang tidak akan mempan untuk seorang Park Sandara.

“Omooo… dasar maknae!” Dara menghela nafas panjang. “Ara ara. Aku lihat yang ada di dapur saja dulu.”

Seringai lebar akhirnya muncul dari kedua sudut bibir Seung Ri, “Ehehehe… Gomawo, noona.” Ketika Dara mulai beranjak dari kamarnya, dia memanggil kakaknya itu sekali lagi, “Noona!”

“Huh?” untuk kedua kalinya, Dara menoleh ke belakang melihat adiknya bingung. Jangan-jangan Seung Ri meminta hal-hal aneh lagi padanya.

“Noona neomu yeppundae…”

Huh? Yeppundae?

“Gombaaaall!” pekiknya kemudian sambil tertawa tergelak, lalu langkah-langkah kecilnya mulai menghilang dari kamar Seung Ri.

.

Oh ohohoh oh… jigeum I ni insaeng choi go eui sontaek… VVIP… rock with me…~

Seung Ri yang kembali menekuri piano kecilnya ketika satu panggilan masuk masuk ke dalam ponselnya. Tangannya bergerak meraba ponselnya yang tergeletak sembarangan di atas pianonya dan menekan tombol hijau yang terpajang di sana, “Huh?” “Yoboseyo?”

“Help me… please…”

Seketika kedua bola matanya membulat, “Bommie noona?! Noona waeyo?!”

“Sse… seungri…”

“Noona kenapa menangis? Noona sekarang di mana?!”

“Rumah sakit Seoul…”

Deg! Kenapa wanita itu ada di rumah sakit? Apa yang terjadi? Apa yang terjadi dengannya? Firasatnya benar-benar mengatakan hal yang buruk tentang semua ini. “Noona, tunggu di sana. Jangan kemana-mana.”

Seung Ri bergegas menutup teleponnya, mengambil jaketnya dan berlari keluar kamarnya dengan tergesa.

Dara yang sedang memasakkan makan malam untuknya segera menghentikan pekerjaannya ketika suara berisik dari gerakan Seung Ri mengganggu telinganya. Dia keluar dari dapur mungilnya dan menemukan Seung Ri yang berlari keluar rumah, “Seung Ri? Kamu mau kemana?!”

“Aku pergi sebentar, noona,” jawab Seung Ri sambil lalu, kemudian dia berhenti sejenak dan mengambil kunci mobil yang jarang dua bersaudara tersebut gunakan. “Aku pakai mobilnya.”

“HEH?! Makananmu?!” Terlambat. Seung Ri sudah masuk ke dalam mobilnya di garasi. Tak lama kemudian, deru mobil itu bergegas meninggalkan jejak roda di halaman rumah mereka. “Haiiisshh! Jinjaaa!”

 

***

 

Seung Ri berlari ke luar mobilnya dengan tergesa dan menemukan Bom telah menantinya tepat di depan rumah sakit. Tak pelak, sedikit kelegaan memenuhi relungnya. Setidaknya Bom tidak mengalami sesuatu yang serius yang mengharuskannya menginap di tempat itu. “Noona?!”

Bom yang sejak tadi menundukkan kepalanya, seketika tersentak dan menatap Seung Ri dengan matanya yang basah. “Seung Ri…” dia mencoba membalas dengan nadanya yang bergetar.

Lelaki itu kini berdiri di hadapannya, menatapnya dengan penuh kecemasan. Bagaimana tidak, raut mukanya yang penuh ketegangan menghiasi kulitnya yang memucat. Kantung mata yang sejak tadi sebenarnya sudah nampak, kini semakin jelas terlihat. Lelaki mana yang tak khawatir jika seseorang yang memenuhi tiap detiknya dalam keadaan selinglung ini? Kedua tangannya terangkat dan menyentuh pipi Bom yang halus, “Noona waeyo? Noona sakit?”

Wanita itu hanya menggeleng pelan dan menjawab lemah, “Ani, Seung Ri. Aku hanya hampir tertabrak…”

Tak ayal Seung Ri tersentak. Kedua matanya membulat seketika. Jantungnya yang sejak tadi telah berpacu bak kuda seolah dipaksa untuk berkejaran dengan tiap nano detik yang terlewat. “Mwo?! Lalu? Noona terluka dimana?!” Bola mata dan tangannya menelusuri wajah, leher, serta menjalari tangan dan kaki Bom dengan liar, mencari adanya cacat yang mungkin menggores kesempurnaan tubuh wanita itu. “Noona, mana yang sakit?!”

“Ani, Seung Ri. Gwenchana. Aku tidak luka sedikitpun,” jawabnya lagi, tetap dengan nada yang sama. Dia hampir tak punya tenaga untuk menjawab lebih.

Berbanding dengan suara Bom yang lemah, efek suara itu menembus gendang telinga Seung Ri bak timbal, kencang dan melegakan hari. Ucapan itu seakan air yang menjalari kerongkongan yang kering, melegakan. Sepersekian detik kemudian, kedua tangan Seung Ri telah bergerak melingkar di sekeliling tubuh Bom, menenggelamkannya dalam pelukannya yang hangat. “Syukurlah, noona. Syukurlah…”

Perlakuan itu seolah meluruhkan semua ketakutan yang menggunung dan tertahankan. Ada kalanya ketika sebuah ketakutan tak lagi bisa disembunyikan. Pelukan Seung Ri telah berhasil memecahnya. Satu tetes air mata akhirnya jatuh dan membasahi kaos lelaki itu tanpa Bom sadari, diikuti dengan tetes-tetesnya yang lain. Tubuhnya bergetar hebat, seolah semua ketakutan yang mengumpul berusaha untuk lari dari tubuhnya. Kedua lengannya akhirnya ikut melingkar ke balik punggung lelaki itu, dan mencengkeram jaketnya kuat. Dalam sela isakannya, dia berbisik, “… takut. Aku takut, Seung Ri… takut…”

Merasakan reaksi yang sesungguhnya di luar dugaannya, Seung Ri akhirnya merapatkan pelukannya. Mencoba membuat wanita yang kini seolah kerdil itu nyaman di dalamnya, dalam kehangatan yang coba dia berikan, “Ssshh… it’s okay. Semua sudah selesai, noona. Noona sudah baik-baik saja.”

Bom hanya mengangguk pelan di balik pelukannya. “Nee. Bisa antarkan aku pulang, Seung Ri?”

Seung Ri menjauhkan dirinya dan menatap Bom yang masih terlihat lemah. Dia tersenyum teduh, “Nee, noona. Kajja.~”

***

 

Setelah perjalanan yang mengkhawatirkan, setidaknya menurut Seung Ri, karena dia hanya bisa terdiam melirik Bom yang diam menekuri jalanan yang senyap. Dari sudut matanya pun, lelaki itu bisa melihat, pandangan matanya kosong, seolah tak bernyawa. Jika dia boleh memilih, dia lebih suka Bom yang memuntahkan segunung emosi padanya, ucapan-ucapan menyebalkan, dibandingkan dengan keheningan yang menyuguhkan tanda tanya besar, sekaligus kecemasan yang dalam. Ada apa dengan wanita itu?

“Masuklah, Seung Ri.” Bom memecahkan pikiran Seung Ri yang masih berkutat dengannya. Wanita itu membuka pintu apartemennya dan masuk mendahului Seung Ri.

“Nee, noona,” jawabnya kemudian, seraya mengekor memasuki apartemen yang tergolong mungil untuk ukuran seorang Park Bom. Wanita yang sukses menjalankan sebuah cafe. Mungkin dia ingin menghemat uang apartemen untuk fashion? Siapa tahu?

Baru pertama kali lelaki itu melangkahkan kakinya di apartemen Bommie, tapi matanya sudah bisa merekam semua apa yang dia lihat. Ruang tamu yang seakan jadi satu dengan ruang bersantai, dapur di ujung ruangan, dan kamar tidur yang hanya berdinding kaca buram. “Chamkamman, Seung Ri. Aku ambilkan minuman untukmu.”

“Tidak perlu, noona.”

“Tidak apa-apa. Kamu tamuku di sini,” ucapnya sambil melangkah menuju bar dapurnya.

Hei. Dasar wanita keras kepala. Lelaki itu benar-benar tidak mengerti kenapa wanita itu selalu memaksakan dirinya untuk bersikap tidak ada apa-apa? Sulitkah bagi seorang Bom untuk membagi sedikit dari pikirannya dengan Seung Ri? Butuh berapa pisau lagi yang menancap di hatinya untuk membuat wanita itu percaya bahwa dirinya peduli padanya? Lihat, dengan jalannya saja sudah seperti mayat hidup, tak bisa tegap dan seakan—

BRUKK!

Ada sesuatu yang membentur lantai keramik itu. Bukan, bukan tubuh Bommie yang melimbung sejak tadi, melainkan tubuh Seung Ri yang secepat kilat berlari menangkap Bom yang sebenarnya sudah akan berciuman dengan lantai. Namun gerakan yang sigap tak selalu diikuti dengan kekuatan yang besar. Berat yang dia rengkuh tiba-tiba membuat tubuhnya tak siap, limbung dan akhirnya dia terduduk di lantai dengan Bom di atasnya. “Ayaa…” rintihnya kecil.

Tersadar, Bom segera mengambil duduk di samping Seung Ri dan menatapnya cemas, “Gwenchana-yo?! Mianhae, Seung Ri-yah…”

Mata Seung Ri membalas tajam, “Yaa! Noona kenapa sih? Jujur padaku, apa yang terjadi denganmu?”

Bom mencoba mengelak dari tatapan itu, berganti menatap lantai keramik yang tak beralas, “Aa… Aku tidak apa-apa, Seung Ri…”

Tangan Seung Ri bergerak mencengkeram lengan Bom dan menggoncangkannya pelan, “Noona, lihat aku!” Bom seolah membeku, membuat Seung Ri harus mengulang tindakannya dengan lebih kencang, “Lihat aku!”

Kali ini Bom tak punya pilihan lain selain menatap tatapan Seung Ri yang seakan menusuknya. Namun apa yang dia lihat ternyata berbeda. Tatapan itu… memohon. Memelas namun menuntut, “Noona, aku mohon, aku sungguh tidak ingin melihatmu seperti ini. Please let me know, noona…”

Tatapan Seung Ri seolah mencoba menyusup masuk dalam dirinya dan menguliti setiap lapis dari perasaan yang coba dia sembunyikan. Tidak, dia wanita yang kuat. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis…

Tapi… dia sungguh tidak tahan. Sekuat apapun dia mencoba tegar, namun rasa sakit itu tetap mencoba menghancurkannya.

Bommie, kamu wanita yang kuat… don’t cry… con’t cry…

Namun apa yang dia pikirkan tidak sejalan dengan apa yang tubuhnya inginkan. Air matanya jatuh, dengan cepat meninggalkan wajahnya. Bibirnya akhirnya berucap lirih, “Dong Wook oppa… memutuskan hubungan kami.”

Kali ini giliran Seung Ri yang terhenyak, “Mwoya? Waeyo?”

Bom menggeleng lemah, “Aku tidak tahu!” Gerakannya kini semakin cepat dan frustasi, “Aku tidak tahu, Seung Ri!!” Dia kini menatap Seung Ri sengit, menuntut penjelasan yang selalu coba dia gali, “Seung Ri, katakan padaku, apa yang kurang dariku?! apa aku kurang cantik? Apa aku masih kurang pantas untuknya?

“Ani-yo, noona. Noona sangat pantas,” Seung Ri menjawab, getir. Sangat pantas untuk seorang Dong Wook, bukan untuknya.

Lalu apa yang kurang dari seorang Bom? Apa yang belum dia lakukan untuk Dong Wook?!!

“Apa aku kurang perhatian padanya?!” tanya Bom semakin menuntut.

“Ani-yo, noona. Noona sangat perhatian padanya.” Seung Ri menggeleng.

“Lalu apa Seung Ri?! Kenapa dia memutuskanku?!” kedua tangannya kini mencengkeram kaos Seung Ri dan mendekatkan wajahnya di hadapan lelaki itu, menatapnya tepat di manik mata. Tentu saja, dengan tatapan matanya yang basah, penuh luka dan depresi, “Apa cintaku padanya masih belum cukup untuk membuatnya percaya?!”

“Noona…” Seung Ri tak sanggup mengatakan apapun.

“Aku mencintainya, Seung Ri! Aku mencintainya! Apa itu masih belum cukup untuknya?! Apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya bertahan?!!

Ya, apa yang seharusnya perlu dia tempuh untuk membuat semua ini tidak terjadi?

Hanya tangan Seung Ri yang kini mampu bereaksi. Seung Ri merekatkan tubuh Bom yang sudah bergoncang hebat itu dalam pelukannya, sekali lagi, dia hanya mapu menghangatkannya dalam pelukannya, dalam kenyamanan yang hanya bisa dia berikan.

Dalam jarak yang telah tiada, goncangan itu melemah, tergantikan oleh bulir air mata yang kian deras. Dia berbisik di sela tangisannya yang meraung, “Aku mencintai Dong Wook oppa…”

Seung Ri membelai surai rambut Bom yang lembut dengan penuh kasih dan menghela nafas yang panjang dan berat, “Aku tahu, noona. Aku tahu…”

Noona, izinkan aku mencintaimu, setulus cintamu padanya…

 

Do you know what the most painfull from loving you? You love him.

***

 

“Tersenyumlah, Dong Wook. Calon istrimu tidak akan suka dengan wajah murungmu.” Seorang lelaki berumur 60-an itu berucap dengan dingin. Bahkan sudut matanya pun enggan mencuri pandang ke arah anaknya sendiri, sibuk menjaga image yang melekat pada dirinya.

Choi Dong Wook hanya menghela nafas panjang dan menjawab lirih. “Nee, appa.” Matanya kemudian mengedar ke seluruh ruangan restoran. Penuh dengan keluarga, dan pasangan-pasangan yang memadu kasih. Untuk kesekian kalinya, pikirannya kembali memutar ulang memori-memorinya dengan mantan kekasihnya yang serupa Barbie. Apa yang dilakukan Bommie sekarang?

……

“Appa! Aku sudah berkata berulang kali padamu, aku tidak akan pernah memutuskan hubunganku dengan Bommie!”

“Huh, kamu yakin dengan keputusanmu?”

Lelaki muda itu beranjak dari kursinya dan berdiri menatap garang ayahnya, “Apa maksudmu?!”

Direktur Choi, begitu para karyawan perusahaannya memanggilnya, hanya menghisap cerutunya dalam-dalam dan kembali memandang Dong Wook dengan tatapan remeh, “Bukankah kamu tahu, aku bisa melakukan apa saja. Termasuk…-” dia menghentikan kalimatnya, menatap Dong Wook dengan tatapan sedingin es, dan melanjutkan, “menghancurkan wanita itu hingga kepingannya yang terkecil.”

……

Dia tak pernah meragukan kemampuan ayahnya. Hal seperti itu sudah berulang kali dia saksikan dan menimpa lawan bisnisnya. Tapi dia tak pernah menyangka bahwa lelaki tua tu sungguh tega melakukannya pada darah dagingnya sendiri. Jika mengakhiri hubungannya adalah cara terbaik melindungi seorang Park Bom, maka dia telah berhasil menyelamatkan nyawa seseorang yang dia cintai.

Bommie, kamu… akan bahagia tanpaku kan?

“Sudah kukatakan berulang kali, Dong Wook, tersenyumlah. Calon istrimu sudah datang.” Nada dingin itu kembali merasuki seluruh persendiannya. Mau tak mau sebuah senyuman yang dipaksakannya mulai Nampak dari bibirnya.

Seorang pria seumur dengan ayahnya kemudian berjalan mendekat ke mejanya diikuti dengan seorang gadis semampai yang mengekor di belakangnya. Pandangan pertama, cantik. Tapi tidak ada yang lebih cantik di mata Dong Wook selain Park Bom.

Ayahnya mulai berbasa-basi dengan pria yang baru saja duduk di hadapannya. Tak lama kemudian, ayahnya mulai berujar dengan suara yang menghangat dan penuh dengan kepalsuan, “Ah iya, ini Dong Wook, anakku yang akan meneruskan perusahaanku. Sudah lama kalian tidak bertemu kan?”

Dong Wook kembali menampakkan senyum yang sama dengan sebelumnya palsu, seraya sedikit menundukkan tubuhnya, “Choi Dong Wook imnida.”

“Dong Wook, kamu lupa dengan kami?” pria itu tersenyum lebar.

“Eh?”

“Ah, tak heran. Waktu kita bertemu dulu, kamu masih kecil. Apakah kamu juga lupa dengan gadis cantik ini?”

Gadis yang ditunjuk itu hanya tertawa kecil. Dia melambaikan tangannya pelan dan memanggilnya seolah mereka sudah sangat akrab, “Oppa…”

Oke. Dong Wook mulai bingung. Perlahan, dia berusaha menyingkap memori masa kecilnya. Gadis… kecil…

“Oppa…”

Sepersekian detik kemudian, kedua bola matanya membola, “Han Byul?!”

Gadis itu kini tersenyum lebar, menampilkan rautnya yang tanpa cela. Begitu pula dengan ayah dan pria di hadapannya itu. Ayahnya akhirnya mengambil alih pembicaraan, “Nee, Dong Wook. Dia Park Han Byul, calon istrimu.”

 

***

Satu minggu kemudian…

“Ini waffle dan cappuchino float pesananmu, Seung Ri,” ucap Bom seraya meletakkan satu gelas minuman sewarna coklat dengan bentukan foam di atasnya.

Kedua sudut bibir Seung Ri tertarik ke atas, membentuk lengkungan bulan sabit di matanya, “Khamsahe, noona. Tumben sekali noona yang menyajikannya untukku. Rasanya pasti jadi jauuuuhh lebih enak.”

“Haiiisshh… anggap saja itu sebagai ucapan terima kasihku karena menemaniku malam itu.  Merci beacoup, tu ma victoire.”

“Huh? Maksudnya, noona?”

“Haha… Terima kasih banyak, kamu adalah satu hal beruntung yang aku punya.”

Senyum Seung Ri seketika memudar, digantikan oleh tatapan tajam yang mencoba menusuk tepat di dua manik mata Bom. “Noona, kapan saja noona memanggilku, saat itu juga aku akan berdiri di hadapan noona,” ucapnya penuh kesungguhan, dilanjutkan dengan satu ulasan senyum tipis khasnya.

Tak ayal Bom turut tersenyum. Dongsaeng yang benar-benar baik. “Gomawo, Seung Ri.”

Seung Ri menyesap minumannya sejenak seraya menikmati hasil karya indah di depan matanya. Betapa wanita di hadapannya sungguh semakin sempurna setiap dia menelisiknya. “Noona, what’s you age? I guess you’re just like wine. Getting sexier and prettier in age.”

Beberapa garis merah menjalari wajahnya yang bersih, memberikan sedikit semburat merah yang terselubung dengan blush on yang dia sapukan di pipinya. Getting sexier and prettier in age? Dia bahkan tak tahu harus senang… atau sedih. Dia mendengus pelan, “Ternyata benar kata noona-mu. Kamu ini memang playboy cap kadal. Dasar!”

Seung Ri tertawa pelan dan kembali menekuri minumannya.

.

“Seungri…”

Lelaki itu menghentikan minumannya dan menatap Bom. “Neh?”

Bom membalas tatapan itu tepat di dua manik mata. “Aku akan mengatakannya.”

“Eh?”

“Aku akan meminta Dong Wook oppa kembali.”

Seung Ri terpekur sejenak sebelum dia menyadari apa yang Bom katakan padanya. Matanya kemudian membola tak percaya. Dia tahu, cepat atau lambat apa yang dia takutkan akan terjadi. Park Bom tidak pernah melihatnya. Namun dia tetap mencoba bertahan walau terluka, hanya sekedar untuk bersamanya lebih lama. “Noona…”

Bom mengerti apa yang dirasakan Seung Ri padanya. Namun dia tak mungkin membalasnya, karena hatinya sudah menjadi milik Choi Dong Wook dan tak pernah bisa beralih.

“Mianhae, Seung Ri…”

 

whether there is still some space in your heart to live a little of my name?

_________________________________________________

to be continued.

heu heu heuuu…

bagi yang penasaran nasibnya si Choi Seung Hyun dan Lee Chaerin, bisa langsung cekiceki ke FF lama saya My Another Side Part 7-End :)

bagi yang pengen langsung konek sama saya bisa langsung follow @adiezrindra yaa.. biasanya sih saya langsung mention kalo saya lagi apdet. hehe..😀

udah ahh, mau balik garap tugas. ehehehee..~

mohon komennya ya chinguu.. ^^

gomawoyooooo….. (_ _)