Author : Ayuningtyas

Length : Continue

Genre : Romance

 Cast :  MBLAQ member, Hwang Dain

Absolute Music and Art –Sketch.7

 

Hwang Dain story….

“Selamat pagi.”

Aku memandang namja yang ada di depanku, Seungho oppa. Mulai hari ini ia yang akan menjemput dan mengantarku pulang, ia sendiri yang memutuskan. Sejak kejadian pelecehan itu, ia tidak membiarkanku bicara dengan Joon sunbae secara langsung, sama sekali. Ia dengan nekad meminta ijin appa untuk mengantar dan menjemputku setiap hari, membuat kegiatanku jadi tidak bebas sama sekali.

“Nee selamat pagi.” Jawabku sambil berjalan menuju mobilnya. Ia membukakan pintu untukku dan kami segera pergi ke kampus.

“Sepertinya kamu masih mengantuk,” ucap Seungho oppa. “Apa aku harus mengijinkanmu pada dosen di jam pertama supaya kamu bisa tidur sebentar?”

Tuh, dia bahkan rela melakukan hal seperti itu. “Aniiyo oppa, aku baik-baik saja. Mungkin karena sudah beberapa hari tidak kuliah jadinya terbiasa bangun siang.”

“Ohh… kureyo..” jawab Seungho oppa. “Sejak aku lulus, aku juga sering bangun siang. untung saja aku mendapatkan pekerjaan baru, jadi aku bisa bangun pagi lagi. Hehehehe.”

Aku tersenyum tipis sambil memperhatikan jalan. Jujur saja, aku masih pesimis untuk berangkat kuliah hari ini. Tapi Nana, Hyoni, Shinmi dan Byunghee oppa meyakinkanku berkali-kali dan membujukku untuk segera kuliah, mereka takut aku tertinggal materi semester kali ini dan harus mengulang.

“Dain-sshi…” panggil Seungho, “Kantung matamu seperti punyaku, terbukti kalau kau kurang tidur. Apa kau bergadang?”

Aku menggeleng, “Mollaeyo…. Aku merasa jam tidurku sama seperti biasa, tidak ada yang berubah.”

“Dengar, mungkin aku tidak punya hak untuk menasehatimu karena aku bukan siapa-siapamu.” Ucap Seungho oppa dengan nada suara yang agak serius, “Tapi… jebal, jangan pernah melupakan kesehatanmu sekalipun oke? Umma dan appamu bilang sejak kamu dekat dengan…. Yah namja itu, kamu jadi lebih sering pulang malam. Angin malam kan tidak bagus untuk para yeoja.”

Astaga, kenapa di pagi hari seperti ini aku harus mendengar nasehat yang tidak menyenangkan seperti ini sih? Aku sudah 19 tahun, pastilah aku tahu apa yang harus kulakukan dan tidak~

“Nee,” jawabku singkat, “Gamsahabnida oppa, sudah mengkhawatirkanku. Aku akan berusaha menjaga kesehatan lebih optimal lagi.”

Kami akhirnya tiba di parkiran kampus, oppa memarkir mobilnya namun masih tetap masih duduk di dalam mobil, padahal ia sudah mematikan mesin mobilnya.

“Dain-sshi…. aku punya sesuatu untukmu.” Jawab Seungho oppa sambil membuka sabuk pengamannnya dan merogoh rogos kursi belakang mobilnya. Tiba-tiba ia menaruh sebuah buku seukuran buku sketsaku, berwarna jingga dengan semburat merah di pinggirannya.

“Ige mwoya? Partitur oppa?” tanyaku tanpa menyentuh buku itu.

“Buatmu.” Jawab Seungho oppa, “Ini buku sketsa barumu dari aku, tetaplah menggambar seperti biasa Dain-sshi….”

Ia membuka buku sketsa yang ada di dalam pangkuanku, dan menunjukkan sebuah pesan yang ditulis di dalamnya…

This book comes to people who have a special talent

Aku tertawa pelan melihat tulisan yang sepertinya tulisan tangan Seungho oppa, aku tak menyangka ia akan memberikan hal semacam ini padaku.

“Oppa… jeongmal gomawo.” Jawabku

~~~~~

Park Shinmi story…

Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah, hari yang berat~

Setelah kemarin tanpa sengaja aku menyatakan perasaanku, aku tanpa sadar menjauhi Cheondung oppa. Dan mulai hari ini aku tidak berniat untuk pergi ke gedung tari lagi, nanti kalau aku bertemu dia…. Ah bahkan aku tidak bisa menemukan ekspresi wajah yang bagus. Yang menganggap kejadian kemarin tidak pernah terjadi *sigh* “Bocah, ngapain kau sendirian disini?” tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk kepalaku. Waduh, jangan jangan….. Cheondung oppa?? Aigoooo aku tidak bisa menengok nih, ottokke~~?!?!

“Yak, hoobae. Kalau ditanya jawab dong~~” kata suara itu. Hemmmmm kedengarannya logat namja itu si seperti orang desa. Dan benar saja, saat aku menengok…. Ada Cheolyong oppa yang nyengir kuda. Tepat di depan wajahku.

“Hhhhhhhhhhh……” aku menghela nafas panjang panjang, “Aku kira siapa….”

Cheolyong oppa duduk disebelahku, “Memangnya kau menghindari seseorang? Waeyo? Kau memperebutkan namja dengannya?”

“A…. aniiyo, ceritanya panjang.” Keluhku sambil menyenderkan dagu di badan gitarku, “Nanti kalau oppa mendengarnya, kau bisa menertawakanku.”

Ah jinjja, bahkan dia sudah tertawa setelah aku berkata seperti itu, “Hahahaha buat apa aku menertawakanmu? Aku malah ingin membantumu menyelesaikan masalah dengan orang itu, mungkin saja aku kenal dengannya.”

“Sudah pasti kenal kok.” Jawabku pelan sambil misuh-misuh, “Ngomong-ngomong…. Nana unnie mana?”

“Dia masih ada 3 kelas lagi, sementara aku sudah selesai.” Jawab Cheolyong oppa, “Oh iya, tadi kau bilang aku kenal dengan orang itu kan? Nugu? Nugu?”

Belom selesai aku membulatkan niatku untuk bercerita ke Cheolyong oppa, kulihat sosok Cheondung oppa sedang berjalan melewati gedung seni, menuju taman gedung musik~!!!

“Ah jesonghabnida, aku harus pergi menemui Hyoni unnie, annyeong.” Ucapku agak panik. Jangan sampai Cheondung oppa tahu kalau aku ada disini~~~~

Beberapa meter dariku, terlihat Hyoni unnie yang sepertinya akan berjalan menghampiriku…

“Annyeong Shinmi-sshi, ayo kita ke…. Eh??”

Aku langsung menarik tangan Hyoni unnie sesegera mungkin, “Jebal… jangan kesana, ada Cheondung oppa. Aku tak bisa kesana~~”

Aku menarik Hyoni unnie sampai kami tiba di ruang musik, aku menghembuskan nafas berkali kali, fiuuuuh tadi nyaris saja~

“Ehem… bisa kau jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Hyoni unnie sambil melipat tangan di depan dadanya, “Jangan bilang kamu punya utang sama Cheondung oppa.”

“Aniiyo~~~ masalahnya lebih buruk dari hutang, unnie.” Ucapku sambil mengerutkan alisku, “Tanpa sengaja… saat pulang kemarin, aku menyatakan….”

“Menyatakan apa?” tanya Hyoni unnie yang sepertinya terlihat penasaran, “Jangan buat aku menunggu oke? Ppali, marebwa.”

Aku melepas kacamataku dan mengacak rambutku dengan kesal, “Aish… aku kemarin tak sengaja menyatakan perasaanku padanya unnie, kalau aku menyukai Cheondung oppa~~”

“Mworago?!?!” ucap Hyoni unnie dengan respon yang…. Sepertinya lebih ke syok daripada terkejut, “And then…. Apa yang terjadi antara kalian berdua?”

Aku menggeleng gelengkan kepalaku, “Setelah mengatakannya, aku langsung masuk ke rumah dan hari ini aku menjauhinya.” Jelasku dengan sedih, “Aku takut ia menolakku karena setahuku dia punya mantan yeochin yang cantik. Aku tak berani lagi unnie, aku tak berani~”

~~~~~

Park Nana story…

“Oke…. Kelas selesai.”

Aku segera membereskan kertas kertas materi ujian tengah semester kali ini. Memusingkan, tari tradisional yang berasal dari Negara lain? Tari tradisional Korea saja aku masih kaku, bagaimana dengan yang lain?

Saat aku sedang menuju gedung music, lagi-lagi terdengar lantunan music jazz di kelas tari. Kenapa aku selalu mendengar music-musik semacam ini tiap lewat aula atau ruang tari?

Aku membuka sedikit pintu ruang tari dan menemukan namja yang bertelanjang dada dan….. sedang menari tap dengan sepatu besi.

“Lee Joon oppa? Dia bisa menari tap?” aku bergumam sambil memperhatikan Joon oppa yang serius menatapi dirinya yang penuh keringat dan hanya memakai celana training hitam. dengan berani aku masuk dan menyapanya.

“Hello… sepertinya oppa serius sekali ya?”

Diluar dugaanku, ia langsung menghentikan tarinya, mematikan music, dan mencari pakaiannya yang entah kemana, “Nana-sshi…. kau mengagetkanku! Aku pikir kau dosen~”

Aku duduk di pinggir ruangan menunggunya memakai kausnya, lalu ia mendekatiku dan duduk di depanku sambil mengelap keringatnya dengan handuk, “Ada apa kemari?”

“Hanya saja…. tadi aku termakan rasa ingin tahuku.” Jawabku abstrak, “Semua siswa sedang makan di kantin pada jam segini, bukan menari tap dengan setengah telanjang.”

“Aku…. Bawa bekal.” Jawabnya malu-malu, “Oh iya, bagaimana dengan Dain? Kudengar ia sudah masuk kuliah hari ini?”

Aku mengangguk angguk, “Nee…. Tapi aku belum bertemu dengannya hari ini. Dia hanya mengirimkan pesan pesan singkat.” Ucapku, “Kalian berdua…. Sudah tidak bisa saling bertemu lagi ya?”

“Iya, sudah tidak bisa.” Ucapnya dengan suara yang kecewa, ia membenamkan wajahnya ke dalam handuk kecil yang ia pegang, “Sejak kejadian pelecehan itu, Seungho hyung melarangku untuk bertemu dengannya lagi. Aku sih bisa saja melawannya, tapi…. Ia kerap kali menjemput dan mengantar Dain. Kalau aku sedang lewat rumah Dain, pasti ada mobil Seungho hyung di garasinya.”

Aku mengangguk pelan, kasihan sekali Joon oppa… “Lalu….. bisakah aku membantumu sedikit? Misalnya mengantar Dain untuk menemuimu? Yang jelas jangan sampai ketahuan Hyoni, ia pasti akan melapor ke Byunghee oppa dan beliau akan melapor ke Seungho oppa.”

“Kalau bisa sih….. aku minta tolong padamu Nana-sshi.” jawab Joon oppa sambil tersenyum miris, “Tapi rasanya tak bisa, sampai aku menemukan pelaku pelecehan itu. Aku sudah melacak semua mahasiswa seni yang kusinyalir menyukaiku, tapi mereka bilang mereka tak akan melakukan hal seperti itu, karena itu terlalu kasar dan sudah ketinggalan jaman.”

Aku tetap mendengarkan Joon oppa dengan serius, “Kalau tidak salah, oppa ada di tempat kejadian kan beberapa menit sesudahnya? Apa mereka meninggalkan sebuah petunjuk?”

“Sepertinya tidak, barang-barang Dain disebar ke segala arah, jadi kalau misalkan ada petunjuk pun…. Kelihatannya sulit untuk dilacak.” Jawab Joon oppa dengan nada yang kecewa, “Jinjjaeyo… aku akan membuat kelompok itu drop out kalau aku berhasil mengetahui keberadaan mereka.”

Joon oppa mengambil tasnya dan mengeluarkan sesuatu di dalam sebuah kantung plastik transparan, “Lihat, bahkan aku masih menyimpan buku sketsa Dain yang dirusak itu. Mungkin saja dengan melihatnya aku bisa mendapat petunjuk, tapi ternyata tidak. Hehe.”

Memang sih kalau dilihat buku itu agak aneh, tapi bukan aneh karena sudah dirusak…. Tapi, ada beberapa halaman yang hilang…

“Oh iya, aku punya ide supaya kau bisa bertemu dengannya.” Jawabku antusias, “Aku akan mengajaknya menginap di rumahku, sehingga oppa bebas menemuinya. Bagaimana?”

~~~~~

Hwang Dain story…..

Ting tong…..

“Dain-sshi… bisa bukakan pintunya? Aku masih ganti baju nih,” ucap Nana dari kamar. Hari Sabtu dan Minggu ini Nana mengajakku menginap dirumahnya entah karena apa. Semoga saja ia mengajakku hanya untuk membuat moodku lebih baik.

“Jesonghabnida menunggu lama,” ucapku sambil membuka pintu, “Mau cari……..”

Aku tertegun melihat sosok Lee Joon sunbae di depanku. Ia menatapku seakan sudah seabad kami tak bertemu. Ia tak mengucapkan kata-kata apapun, hanya terus menatapiku tanpa sedikitpun berkedip.

“Lee….. Lee Joon op…”

“Nugu Dain-sshi? oh, Joon oppa~!!” ucap Nana yang sudah berdiri di belakangku, “Oh iya, hari ini Joon oppa mau mengajakmu ke rumahnya untuk bertemu omoninya yang besok sudah kembali ke kampungnya. Kamu tidak keberatan kan Dain-sshi?”

…..

“Oh, jadi inikah yang bernama Hwang Dain? Omo omo~~~ manis sekali.” Puji omoni, “Kudengar dari Changsun kalau kamu yang menggamba sketsa wajah yang ia tempel di kamar ya?”

Aku….. hanya bisa mengangguk pelan sampai akhirnya Joon sunbae menjelaskannya, “Itu….. gambar wajahku dengan rambut Maetel.”

Umma Joon sunbae sangat ramah dan mempunyai selera humor yang bagus. Ia mengajakku ke dapur untuk membantunya memasak dan setelah itu kami makan bertiga.

“Dain-sshi… kau ingin melihat kamar Changsun sebentar?” tanya omoni. “Tapi hati-hati ya, terkadang ada tikus yang numpang tidur di kasurnya.”

“Umma~~itu bohong Dain-sshi, tidak benar.” Jawab Joon sunbae dengan wajah yang penuh protes, “Kaja…”

Aku masuk ke kamar Joon sunbae yang… yah bisa dikatakan rapih lah kalau disamakan dengan kamar namja namja yang pernah aku lihat. Aku melihat sebuah pigura foto di meja belajarnya yang penuh dengan kaset intrumen lagu untuk tari…

“Oppa, ini ahbuhji?” tanyaku sambil menunjuk foto itu, “Kenapa…. Ia tak menjengukmu bersama omoni?”

Joon sunbae mendekatiku dan mengambil pigura foto itu, “Aku menaruh fotonya disitu untuk mengingatkanku…. Kalau aku sangat membencinya.”

Aku cukup terkejut mendengar perkataan Joon sunbae itu, “Kenapa sunbae membencinya? Itu sebabnya kau tak mau dipanggil Changsun? Karena ahbuhji mu?”

“Bukan itu sih, sebenarnya….. aku tak mau dipanggil seperti itu karena,” Joon sunbae memenggal perkataannya dan menaruh kembali pigura itu. “Karena…. Aku takut menangis karena kerinduanku pada ummaku. Aku benci kalau merindukan seseorang…. Tapi aku tahu orang itu tak bisa kugapai.”

Tiba-tiba Joon sunbae menarik lenganku dan mengunciku dalam pelukannya, “Mianhanda Dain-sshi…. aku, sudah berusaha memendam gejolak perasaan ini sejak Seungho hyung melarangku untuk bertemu denganmu…. Hajiman, nae… jeongmal eobseoyo~ aku tak bisa berhenti merindukanmu.”

Wajahku merona saat Joon sunbae melepas pelukannya, lalu memegangi pipiku, “Oppa….. nan, nado bogosipta.”

Namun…. Entah kenapa wajah Joon sunbae terasa sangat dekat dengan wajahku, aku pun tanpa sadar terpojok di tembok… dan nafas Joon sunbae mendera pelan di telingaku. Bibir kami kini hanya berjarak sekitar 1 sentimeter…

“Dain-sshi…. saranghae.” Ucapnya lirih tepat di telingaku. Membuat jantungku berdebar debar hebat…

Beberapa bulan yang lalu, ia mengucapkan hal ini dan aku merasa perkataannya tak masuk akal….

Tapi kenapa, kali ini jantungku tak berhenti berdebar debar?