Title : If you not…(Part 2/5)

Author : Kim Mi Yoon

Genre : Sad Romance

Lenght : Chapter

Cast :

Song Hae Mi

Lee Junho

Hwang Chansung

Cameo :

Park Hae Yoon as eomma Song Hae Mi

Yoo Soo Young

Annyeong… Annyeong.. *sambil lambai tangan*

Masih ada yang inget sama author gak.. *reader : gak tuh.. siapa ya??*

Buat para reader yang udah baca FF ku yang Psikopat, jeongmal gomawoyo atas respon baiknya..^^.. terus, buat yang udah baca FF ku yang If you not..(1/5).. aku mau minta maaf sebelumnya. Ini salah author gak edit isi emailnya dulu, jadi langsung 2 part deh.. Joisonghamnida chingudeul..*sambil membungkukan badan*

OK.. Kita lanjut aja ya, ini part 3-nya seharusnya. Selamat menikmati..^^.. Dan jangan lupa koment, kritik, maupun sarannya.. 1 koment sangat berarti buat author..Gomawoyo….^o^

“Eomma, dimana Junho oppa?” tanyaku pada eomma

Eomma terlihat kaget mendengar ucapanku

“Eomma, katakan padaku dimana Junho oppa? Saat itu dia bersamaku. Dia baik-baik saja kan? Dia ada di kamar berapa?” tanyaku bertubi-tubi tapi tidak ada yang dijawab eomma

Eomma hanya diam lalu menghela napas panjang..

“Junho, dia..” ucap eomma

“Dia baik-baik saja kan..” kataku lagi

“Dia… Dia sudah meninggal…” ucap eomma pelan

“Mwo?”

**

Deg..

Dadaku sakit, rasanya seperti ada yang menusukkan tombak kedalam dadaku…

“Ne, dia sudah meninggal..” kata eomma pelan

“Geojitmal.. Ini pasti bohong, iya kan? Eomma jangan seperti ini, aku akan melihatnya..” kataku sambil turun dari tempat tidur

“Apa yang akan anda lakukan?” cegah dokter

“Aku akan mencari namjachinguku..” Aku melepas selang infus ditangan kiriku

Aku mulai berjalan keluar dari kamar, tapi dokter dan eomma berusaha menghalangiku. Kudorong tubuh mereka hingga mereka terjatuh, kupercepat langkahku. Aku terus berlari ke arah resepsionis.

“Per..hhh..mishii..”

“Ne, apa ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang yeoja petugas resepsionis

“Ada yang ingin saya tanya, apa anda tau dimana kamar pasien kecelakaan yang datang bersama dengan saya sekitar 3 hari yang lalu?”

“3 hari yang lalu? Sebentar saya cari dulu, nama anda siapa?” katanya sambil mengambil sebuah buku tebal

“Hae Mi, Song Hae Mi..”

“Hmm..Song Hae Mi..hmm..” gumamnya sambil membolak-balikkan halaman demi halaman di buku itu

Aku menunggu sambil berharap, berharap yang dikatakan eomma itu salah. Junho oppa tidak mungkin meninggal.

“Song Hae Mi, Lee Junho.. Apa namanya Lee Junho?” kata resepsionis lagi

“Ne, benar. Dia ada di kamar berapa?”

“Hmm…mianhae agassi, tapi orang ini.. Dia sudah meninggal saat dibawa kesini..”

Deg…

Jantungku berdetak lemah, selemah hatiku, seakan-akan tidak ada oksigen yang keluar masuk tubuhku.

Aku terjatuh lemas, terduduk diam, mencoba mencerna semuanya.

Junho oppa sudah meninggal? Tidak mungkin, bagaimana mungkin…

“Hae Mi ya..” Terdengar sayup-sayup suara seseorang memanggilku

Pandanganku mulai kabur. Tidak bisa jelas kulihat siapa yang berusaha mendekatiku. Yang kutau hanya Junho oppa sudah pergi, pergi ke tempat yang sangat jauh dan tidak bisa kutemui lagi.

Kepalaku mulai pusing, dan aku pun jatuh…

Kubuka kembali mataku.

“Hae Mi, kau sudah sadar?” ucap seseorang

Tapi aku hanya diam, diam memandangi atap rumah sakit.

“Hae Mi ya..” ucapnya lagi

Aku tetap diam memandangi atap rumah sakit, lalu airmataku keluar, keluar mengalir deras, membasahi pipiku.

“Hae Mi ya…” ucapnya lagi sambil memelukku

“Wae..yo? Wae…yo?..Wae…?” Hanya kata itu yang keluar dari mulutku, seakan-akan ada yang menyumbat tenggorokanku

2 hari kemudian

Kubereskan barang-barangku, dokter sudah mengizinkanku pulang.

“Hae Mi ya, akhirnya kau bisa pulang juga. Kau mau eomma belikan sesuatu sebagai bentuk pesta kecil kau keluar dari rumah sakit?”

“Eomma…”

“Ne, apa yang kau mau?”

“Aku mau menjenguk Junho oppa..”

“Mwo? Kau..”

“Eomma yang tau dimana tempatnya, jadi tolong antarkan aku kesana…”

“Baik, eomma akan mengantarmu kesana, tapi dengan satu syarat..”

“Syarat? Syarat apa?”

“Kau harus mau menikah dengan putra Hwang Group..”

“Eomma, bukankah sudah kubilang kalo aku..”

“Kali ini pikirkan tentang karyawan-karyawan perusahaan. Kalo kita tidak menjalin kerjasama dengan Hwang Group, kita akan bangkrut. Bagaimana keluarga dari para karyawan kita? Bagaimana dengan anak-anak mereka?” jelas eomma panjang lebar

“…”

“Hae Mi ya, tolong pikirkan ini. Kasihan karyawan kita, kalo mereka semua harus di PHK..”

“Baiklah, aku setuju. Hanya demi karyawan perusahaan..” kataku pelan

“Gomawo Hae Mi ya. Baiklah, ayo kita pergi sekarang..”

Kulihat batu nisan didepanku, aku hanya bisa diam mematung. Tidak pernah kusangka batu nisan itu akan tertulis nama Lee Junho, namja yang sangat kucintai, sudah terbaring tenang didalamnya.

Kudekati perlahan batu nisan itu. Saat sudah dekat, aku terjatuh, lalu airmataku keluar, menandakan kesedihanku.

“Opppaa…” ucapku lirih

Kupegang batu nisan itu lalu kuelus lembut.

“Wae..waeyo..? Kenapa kau tega… meninggalkanku sendirian disini…? Bukankah.. kau janji akan selalu disampingku… akan selalu melindungiku.. akan selalu… bersama denganku?…Kenapa kau mengingkarinya oppa?.. Kenapa kau meninggalkanku? Kenapa kau pergi sendirian?…Seharusnya..seharusnya kita pergi bersama.. Kau tau, aku tidak bisa hidup tanpamu.. Kalo kau mati, aku juga mau mati.. Aku mau bersamamu oppa.. Tolong bawa aku pergi…Oppa…oppa…oopppaa…”

Tangisku meledak sejadi-jadinya. Kutelungkupkan kepalaku diatas tanah yang masih basah. Tidak bisa terima takdir yang Tuhan berikan. Takdir yang sangat sulit kuterima. Kenapa… Kenapa kami dipertemukan jika kami tidak bisa bersatu?

“Hae Mi ya, biarkan dia tenang sekarang. Bangunlah..” Eomma berusaha membangunkan tubuhku

“Sudah saatnya kita pulang..” lanjut eomma

**

2 minggu kemudian

Hari ini adalah pertemuan penting dengan keluarga Hwang dari Hwang Group. Selain membicarakan kontrak kerjasama, mereka juga akan membahas pernikahanku dengan putra mereka.

“Hae Mi, cepat..” kata eomma

“Ne..” ucapku malas

Kami tiba di depan Cafe Donghan, salah satu cafe mewah di Seoul yang kabarnya dimiliki Hwang Group. Aku dan eomma masuk kedalam cafe itu, lalu kami disambut oleh beberapa pelayan yang mengantar kami ke meja dimana keluarga Hwang menunggu.

“Annyeonghaseyo, Nyonya Song” ucap seorang yeoja dewasa 40-an, mungkin nyonya Hwang

“Annyeonghaseyo, Nyonya Hwang, Tuan Hwang” kata eomma, aku hanya menunduk sopan menyapa mereka

“Apa ini, Song Hae Mi?” tanya Tuan Hwang saat melihatku

“Ne, Hae Mi perkenalkan dirimu..” ucap eomma padaku

“Annyeonghaseyo, Song Hae Mi imnida..” kataku sambil menundukkan kepalaku

“Tidak usah terlalu formal begitu. Ternyata kau sudah besar ya. Oh ya, silahkan duduk..” sambut Nyonya Hwang mempersilahkan kami duduk

“Ne. Oh ya, dari tadi aku tidak melihat putramu. Apa dia tidak datang?” tanya eomma

“Oh, dia sedang ada di toilet. Sebentar lagi juga dia akan keluar. Ah, itu dia..” kata Nyonya Hwang

Seorang namja muda bertubuh tinggi menghampiri kami lalu berdiri disamping Nyonya Hwang

“Ini dia putraku, namanya Hwang Chansung..” ucap Nyonya Hwang memperkenalkan namja muda disampingnya

Kulirik namja bernama Hwang Chansung, sepertinya aku mengenalnya.

“Sudah lama kita tidak bertemu ya, Song Hae Mi..” ucap Chansung pelan sambil menyunggingkan senyumnya

“Apa kita saling kenal?” tanyaku

“Apa kau lupa denganku? Aku ini si raja pisang..” katanya lagi bangga

“Raja pisang? Raja pisang siapa..Tunggu..jangan-jangan, kau..kau Chanana ?” kataku tak percaya (penggabungan Chansung dan Banana)

“Ne..Aku Chanana..” Dia tersenyum lebar

“Wah, ternyata sebelumnya mereka sudah saling kenal. Kalo memang jodoh tidak akan kemana ya..” ujar Eomma senang

“Baiklah, bagaimana kalo kita bicarakan dulu soal pernikahan mereka? Kalo soal kontrak, itu mudah, nanti saja kita bahas. Kira-kira kapan mereka bisa melangsungkan pernikahan?” tanya Tuan Hwang memulai pembicaraan

“Sebaiknya secepatnya..” ucap eomma

“Bagaimana kalo bulan depan? Kebetulan di hari itu adalah ulang tahun perusahaan. Kita bisa merayakannya sekaligus memperkenalkan mereka..” ujar Nyonya Hwang

“Ne, menurut saya itu bagus. Hari itu, kita juga bisa menandatangani kontrak kerjasamanya. Bagaimana, Nyonya Song?” tanya Tuan Hwang

“Saya juga setuju. Seharusnya kita tanya anak-anak kita kan? Bagaimana Chansung?” tanya eomma

“Aku akan setuju jika Hae Mi juga setuju..” jawab Chansung sambil melirik kearahku

Aku hanya diam saja, tidak tau apa yang harus kubilang. Menurutku, sebulan terlalu cepat..

Eomma menyenggol pelan lenganku, tanda aku harus menyetujuinya.

“Ah, ne..” kataku singkat

Sebulan kemudian…

Persiapan pernikahan satu demi satu telah siap. Mulai dari tempat pernikahan, tempat resepsi, gaun-gaun yang akan dipakai, bahkan undangan pernikahan, semuanya hampir siap.

Hari Pernikahan…

“Apa anda bersedia, Tuan Chansung, menerima Nona Hae Mi sebagai istri anda, menjaga dan menghormati pendapatnya serta mencintainya hingga maut memisahkan kalian?”

“Saya bersedia..” ucap Chansung tegas

“Apa anda bersedia, Nona Hae Mi, menerima Tuan Chansung sebagai suami anda, melayani dan menghormati pendapatnya serta mencintainya hingga maut memisahkan kalian?”

“Saya..bersedia..”

“Mulai hari ini, kalian sah menjadi suami istri. Silahkan mempelai pria mencium mempelai wanita”

Chansung mendekati wajahku lalu mengecup lembut dahiku.

Pesta pernikahan dirayakan besar-besaran, karena pesta ini sekaligus pesta ulang tahun perusahaan Hwang Group. Begitu juga dengan penandatangan kontrak kerjasama dengan perusahaan Song.

Rumah keluarga Hwang

“Tidurlah, kalian pasti sangat lelah” kata Nyonya Hwang padaku dan Chansung

“Ah, ne..eommonim..” jawabku

“Eomma, Appa ada yang ingin kukatakan..” kata Chansung

Hae Mi POV END

Author POV

Hae Mi masuk ke kamarnya, sedangkan Chansung pergi kearah ruang tengah diikuti Nyonya dan Tuan Hwang. Mereka pun duduk di sofa.

“Waeyo, anakku?” tanya Nyonya Hwang

“Apa eomma dan appa sudah memikirkannya?” tanya Chansung balik

“Soal apa?” tanya appa

“Soal rumah baru. Aku ingin punya rumah sendiri..”

“Memangnya kenapa disini? Apa ada yang membuatmu tidak nyaman?” tanya Nyonya Hwang lagi

“Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Saat aku menikah aku ingin punya rumah sendiri, hidup mandiri dengan istriku. Lagipula…” Chansung menggantung kata-katanya

“Lagipula?” tanya Tuan Hwang penasaran

“Lagipula aku ingin Hae Mi mengenalku lebih jauh lagi. Pertemuan kami ini terlalu singkat, jadi kupikir akan lebih baik jika kami tinggal di rumah kami sendiri. Hae Mi juga, akan merasa lebih nyaman..” ucap Chansung mengutarakan tujuannya

“Baiklah kalo itu maumu. Appa akan mengizinkanmu…”

“Eomma juga..”

Author POV End

2 tahun kemudian

Hae Mi POV

Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Walaupun sudah 2 tahun berlalu, aku masih belum bisa menerima kehadiran Chansung, karena sampai saat ini hatiku masih dipenuhi dengan nama Junho oppa. Aku tidak bisa melupakan Junho oppa begitu saja..

Kulirik jam di samping tempat tidurku. Jam 06.00. Saatnya membangunkan dia… pikirku dalam hati

Aku keluar dari kamarku, berjalan sedikit ke arah kanan, lalu berhenti tepat didepan pintu ruang itu. Kamar Chansung. Yah.. memang kami tidur di kamar yang terpisah. Itu keputusan kami berdua.

Tok..Tok…Tok..

Kuketuk pelan pintu kamarnya, tapi tidak ada balasan dari dalam.

Tok..Tok..

“Chansung ssi, kau sudah bangun?” tanyaku sambil mengetuk lebih kencang

Ckrekk..

Kuputuskan untuk masuk kedalam. Kulangkahkan perlahan kakiku, ini adalah pertama kalinya aku masuk ke kamarnya setelah 2 tahun berlalu. Kudengar bunyi air dari kamar mandinya, mungkin dia sedang mandi, pikirku. Kuperhatikan seluruh ruangan kamarnya, kamar Chansung terlihat sangat berbeda, dimana seluruh dindingnya dipenuhi gambar atau foto seseorang.

Kudekati salah satu gambar yang menempel di dinding, dan.. aku benar-benar tidak percaya saat melihat mengetahui foto siapa yang ada di dinding itu. Aku?? Kenapa dia memasang fotoku di kamarnya. Kupandangi seluruh dinding kamarnya, dimana foto-fotoku terpasang

baik, menampilkan berbagai macam ekspresi, mulai dari tersenyum, kesal, sedih, lucu, manja, bahkan saat sedang menangis.

“Darimana dia dapat semua foto ini?” tanyaku pada diriku sendiri

Ceklekk..

Pintu kamar mandi terbuka, lalu muncullah Chansung dari dalam sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Hae Mi ya, kenapa kau ada disini?” tanyanya kaget saat melihatku

“Chansung ssi, apa maksud semua ini?” tanyaku balik sambil menunjuk foto-fotoku

“Itu.. hmm… aku..” jawabnya gagap

“Apa kau..kau..?”

“Sudah saatnya kau tahu. Yah.. aku mengagumimu. Anni, lebih tepatnya mencintaimu. Sudah lama aku menyadari perasaanku padamu, yaitu saat kita masih duduk di bangku SMA. Awalnya aku berfikir lebih baik kunyatakan perasaanku padamu, tapi aku terlalu pengecut, jadi aku terpaksa mengurungkan niatku. Kupendam perasaanku hingga kita lulus, lalu aku kehilangan kontak denganmu. Sepertinya Tuhan mendengar doaku dan akhirnya mempertemukan kita kembali, bahkan kau setuju untuk menikah denganku. Walaupun sampai sekarang kau belum bisa melupakan orang itu, tapi aku akan bersabar menunggumu hingga kamu siap menerimaku seutuhnya..” ucapnya tegas

Aku benar-benar kaget dengan ucapannya. Selama ini, aku tidak pernah merespon perhatiannya, tapi dia dengan tulus tetap menyayangiku. Dia tetap tersenyum padaku, menyapaku setiap hari, walaupun aku selalu acuh tak acuh akan kehadirannya disampingku. Sekarang aku sadar, aku benar-benar yeoja yang jahat, sangat jahat…

Melihatku tidak merespon apapun yang dikatakannya, Chansung berniat keluar dari kamar.

“Kau tidak perlu bersikap seperti itu. Aku hanya ingin kau tau perasaanku yang tulus. Hanya itu… tak lebih.. “ ucapnya pelan

“Pabo..” Kata itu keluar begitu saja dari dalam mulutku, tanpa terasa air mata menetes dari ujung mataku

“Kenapa kau bisa sebodoh ini?… Kau tahu, aku tak mungkin bisa mencintaimu, karena aku masih mencintai Junho oppa.. Kau.. Wae??… Pabo.. Pabo saram…” ucapku sambil berusaha menghapus airmata

Chansung mendekat kearahku berdiri, memegang rahangku lalu menghapus air mataku yang masih mengalir deras membasahi pipiku.

“Uljimayo… nan.. nan…”

Grep…

Tiba-tiba Chansung menarikku kedalam pelukannya.

“Hatiku sakit saat melihatmu menangis. Lebih baik kau memukulku sampai berdarah daripada aku harus selalu melihatmu menangisi namjachingumu itu. Aku.. memang bodoh.. Aku ini memang orang bodoh. Orang bodoh yang hanya bisa mencintai Song Hae Mi….” ucapnya

Kurasakan pundakku basah, tanda dia menangis. Ini pertama kalinya kulihat Chansung menangis.

Tidak ada yang bisa kulakukan selain membalas pelukannya.

“Mianhae.. Jeongmal mianhaeyo, Chansung ssi..” ucapku pelan

Chansung melepas pelukannya, memegang kedua pipiku dan menatapku tajam.

“Bisakah kau sedikit membuka hatimu untukku?” tanyanya sambil menatapku lembut

Pandangan matanya terlihat berbeda dari biasanya. Perlahan tapi pasti, dia dekatkan wajahnya.

Saat jarak kami hanya tinggal 5cm, Chansung membuka mulutnya, “Kali ini berikan aku sedikit ruang dihatimu..” katanya lalu memajukan wajahnya lagi hingga bibirnya menyentuh bibirku. Basah dan hangat. Entah apa yang merasukiku, aku hanya bisa diam bahkan membalas ciumannya.

Chansung melepas ciumannya lalu melihatku sambil tersenyum, “Aku tahu kau akan membalasnya. Apa ini artinya kau menerimaku?”

Blush..

Wajahku memanas. Dapat kupastikan wajahku memerah, semerah tomat yang matang.

Aku berbalik, keluar dari kamarnya tanpa menjawab pertanyaannya. Kututup pintu kamarnya.

“Babo… Babo… Apa yang kau lakukan, Song Hae Mi? Kenapa kau tidak berontak, memukulnya atau apapun saat dia menciummu?… Aaahhh… Babo…” ucapku sambil memukul kepalaku sendiri

“Aku tahu kau akan membalasnya. Apa ini artinya kau menerimaku?”

“Benarkah? Benarkah kau mulai menerimanya? Bagaimana dengan Junho oppa…?”

**

Hae Mi POV End

Author POV

Sejak kejadian itu, hubungan Hae Mi dan Chansung mulai membaik.

“Hae Mi ya, hari ini kau ada acara?” tanya Chansung

“Hari ini? Tidak ada. Waeyo?” tanya Hae Mi balik

“Bagaimana kalo hari ini kita berkencan?” ucap Chansung

“Mwo? Hya Hwang Chansung, untuk apa kita berkencan?”

“Memangnya kenapa? Kita kan belum pernah berkencan..”

“Aniyo.. “

“Hae Mi ya, jebal. Tidak usah jauh-jauh, kita hanya ke Everland saja, jalan-jalan lalu bermain bersama. Otte?”

“Baiklah..”

“Ok, kajja…”

**

Author POV END

Hae Mi POV

#Everland

Tiga jam berlalu begitu cepat. Hampir seluruh permainan di Everland sudah kami coba.

Krryuukk…

“Kau lapar?” tanya Chansung sambil tertawa

“Tentu saja aku lapar” jawabku malu

“Baiklah, aku beli makanan dulu. Tunggu disini..” ucapnya sambil berdiri

“Tunggu. Memangnya kau tahu apa mau aku makan?” tanyaku

“Aku tahu. Kau suka chicken kan?” ucapnya sambil berlalu

“Darimana dia tahu?” pikirku

10 menit…

15 menit…

20 menit…

30 menit…

1 jam kemudian…

“Kemana sih dia?” ucapku kesal

Kuputuskan untuk mencarinya.

Brukk..

“Aduh..”

“Hya.. Kau ini tidak punya mata ya?” ucapku kesal sambil mengelus tanganku

“Mianhamnida, aku buru-buru jadi tidak melihatmu. Mianhae…” ucap seseorang sambil mengulurkan tangannya

Suara ini… Sepertinya suara ini tidak asing..

Kuraih tangannyayang membantuku berdiri, lalu kubersihkan sisa-sisa kotor di bajuku

“Gwaenchanayo?” tanyanya

“Ne..” ucapku

“Neo…”

Hae Mi POV END

Author POV

Sementara itu…

“Huuftt..”

Chansung akhirnya berhasil lolos dari antrian panjang restoran ayam. Saat keluar dari restoran ayam itu, Chansung melihat seseorang yang dikenalnya lalu mendekatinya.

“Yoo… Soo Young noona..” ucapnya pelan

Seseorang yang dipanggil Chansung menengok kearahnya

“Hwang Chansung..”

“Noona sedang apa disini? Bukannya noona ada di Jepang? Kenapa bisa disini?” tanya Chansung

“Noona dipindahtugaskan ke Korea..”

“Apa dia juga kesini?”

“Tentu saja. Kami sedang kencan sekarang..”

“Sial..”

“Waeyo?”

“Bisa gawat kalo Hae Mi melihatnya..”

“Mwo? Maksudmu, Hae Mi…”

“Aisshh…”

Chansung berlari duluan, lalu disusul Soo Young

Tiba-tiba Chansung berhenti, terdiam melihat pemandangan didepannya. Sedetik kemudian Soo Young pun muncul

“Kenapa berhenti? Dimana Hae Mi?” tanya Soo Young

“Kita terlambat noona…” ucap Chansung pelan, matanya tetap melihat kedepan

“Neo…”

Hae Mi terdiam melihat orang didepannya, seorang namja

“Gwaencahanayo?” ucap namja itu lagi

“Junho oppa…” Suara Hae Mi bergetar saat mengucapkan nama itu

…..

To be Continued…

Ini sudah pernah dipost di : http://www.facebook.com/cyndi.minoz

cyndikim.blogspot.com

Kamsahamnida..^-^