Title: Time Traveler (Part 5)

Author: bangmil

Length: Continue

Genre: Romance, Sci-Fi

Main Cast: Han Sehyun (OC), Hoya (Infinite)

Support Cast: Seungyeon (KARA), Woohyun, Sungyeol, Sunggyu, Dongwoo, Sungjong (Infinite)

Buat new readers yang pengen baca dari part 1, klik tag ‘infinite’ di bawah ya. Karena disini jarang ada ff infinite, pasti gampang kok nyarinya. Aku nggak bisa nyisipin link part 1 – 4 disini. Soalnya antrian ff free writer panjang, dan part ini udah dikirim sebelum part-part sebelumnya di publish.. Jadi mohon maaf dan harap maklum yaa. Saranghaeyo chingudeul~

Finally, happy reading~ ^^

***

“Setelah ini kau pulang kan?”

Sehyun terdiam begitu mendengar pertanyaan Hoya. Ia menengok ke kanan kiri, meyakinkan bahwa tak ada yang mendengarnya. Kemudian ia mendekatkan diri ke arah mereka berdua sambil berbisik. “Kau tahu, sebenarnya aku..”

Sehyun menatap keduanya. “Datang dari tahun 2011.”

Keadaan menjadi sunyi. Hoya dan Sungjong saling menukar pandang.

“Aiss..” tepis Hoya tak percaya. “Kepalamu tadi terbentur keras ya?”

Sehyun menatap Hoya kesal. “Aku tidak bohong! Aku benar-benar datang dari masa depan!” ujar Sehyun meyakinkan. “Kalian tahu kan tadi aku jatuh dari langit?”

Sungjong dan Hoya menahan tawa, membuat Sehyun kesal. Ia kemudian mengeluarkan sebuah benda berwarna hitam dari dalam tasnya. “Ini buktinya!”

“Ini..” Hoya menatap benda yang dipegang Sehyun dengan kagum. “Radio mini?” tanyanya dengan polosnya.

Sehyun menghela nafas. Ia merasa ada batu seberat satu ton jatuh tepat di kepalanya. “Ini namanya ponsel.”

“Ponsel?”

“Mm, kegunaannya.. untuk menelepon, tapi tanpa kabel. Juga bisa untuk mengambil foto, mengirim e-mail, memutar lagu..” Jelas Sehyun panjang lebar.

Sungjong yang mendengar perkataan Sehyun itu menghentikan aktivitasnya. Ia mengambil ponsel milik Sehyun dan memperhatikannya dengan penuh kagum. “Wah, daebak.. Ini kan alat komunikasi kompleks yang aku sebutkan dalam karanganku kemarin!” ujar Sungjong senang. “Aku yakin suatu saat nanti pasti akan diciptakan dan ternyata benar.”

“Dengan ini kita bisa menghubugi semua orang, dimana saja, kapan saja.. Bahkan juga mengirim data, atau merekam video..” lanjut Sungjong. “Wah.. masa depan yang aku tulis semua ada di dalam sini..”

Sehyun sedikit heran melihat Sungjong yang ternyata tahu banyak tentang ponsel. Ia mengangguk-angguk setuju. “Jadi sekarang kalian percaya kan?”

Hoya hanya diam dan Sungjong mengangguk senang.

“Jadi..” Sehyun menatap mereka berdua bergantian. “Bolehkah aku menumpang di rumah kalian?” tanya Sehyun hati-hati.

Sungjong menepuk pundak Sehyun senang. “Tentu saja bo-”

“Tidak boleh.” Ujar Hoya ketus.

“Ahh, hyung kenapa? Biarkan Sehyun ssi tinggal di rumah kita. Ne? Lagipula di rumah kita kan hanya berdua, sepi..” rengek Sungjong. Hoya hanya terdiam, sibuk dengan makanannya.

“Tolong.. Aku hanya akan tinggal sampai aku bertemu dengan orang yang aku cari. Kalau tidak aku tidak akan bisa kembali ke masa depan..” pinta Sehyun. “Aku bisa bersih-bersih, mencuci, memasak.. pokoknya apa saja terserah kalian tapi izinkan aku tinggal, sementara waktu saja!”

“Tidak bisa. Aku-”

“Aku mohon!” ujar Sehyun sembari berlutut di depan Hoya, membuat pandangan pengunjung lain yang disana terpusat ke arah mereka bertiga.

“Sehyun ssi! Apa yang kau lakukan?” pekik Sungjong. “Hyung!” Ia menatap kakaknya dengan tajam.

Hoya terdiam. Ia menatap wajah Sehyun yang memelas, dan wajah Sungjong sepertinya marah. Ia menghela nafas berat. “Ya sudahlah, terserah kalian..”

Seketika Sehyun berteriak kegirangan. “Jinjja?? Wah.. kamsahamnida! Kamsahamndia!” ujarnya berkali-kali. “Semuanya, kamsahamnida!” ucapnya pada setiap pelanggan, membuat mata Sungjong tidak kuasa melihatnya.

“Hentikan, Sehyun ssi! Kau tidak malu?” tanya Sungjong sambil menarik lengan Sehyun.

“Ah, mian.. Aku sangat senang sampai kehilangan akal sehat, hahaha..” ujar Sehyun sambil tertawa. Sungjong pun ikut tertawa dan Hoya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan aneh penghuni baru rumahnya itu.

***

Sehyun’s POV

Sudah lebih dari lima menit aku sibuk membolak-balik buku tebal berjudul ‘daftar alamat’ kota daerah sini. Mataku menyipit begitu menemukan huruf H dan dengan segera aku memeriksanya secara teliti satu demi satu.

“Ah, ini dia!” seruku senang begitu menemukan nama kakekku di antara tulisan-tulisan kecil yang berjejer. Segera aku mengambil secarik kertas dan menuliskan alamat itu disana.

Sungjong datang dari arah dapur dan duduk di sebelahku. “Sedang apa?” tanyanya. Baru aku sadari bau harum yang aku cium daritadi berasal dari arah mi instan milik Sungjong. Ah, ternyata di jaman ini sudah diciptakan mi instan ya.

“Aku mencari alamat ibuku. Yah, karena situasinya sudah terlanjur seperti ini, satu-satunya jalan keluar ya harus aku tanyakan pada ibuku langsung.” Jawabku sambil memasukkan secarik kertas tadi dalam tas ranselku.

Sungjong mengangguk mengerti. Perlahan, ia mendekatkan diri padaku dan duduk di sebelahku. “Mm.. Sehyun ssi, ngomong-ngomong umurmu berapa?” tanya Sungjong kemudian.

“Aku? Sembilan belas.”

Wajah Sungjong mendadak menjadi cerah. “Kalau begitu aku panggil ‘nuna’ saja ya? Boleh?” tanya Sungjong sambil menatapku dengan wajah lucunya. Aigoo, anak laki-laki ini pandai sekali melakukan aegyo.

“Tentu saja boleh. Mana mungkin aku menyuruhmu memanggilku ‘hyung’.” Jawabku, diikuti tawa renyah Sungjong.

“Nuna lucu juga, hahaha..” ujarnya sambil menepuk pundakku. “Oh iya, itu berarti nuna lebih muda satu tahun dari Hoya hyung,” lanjutnya, kemudian terkekeh pelan. “Bagaimana kalau memanggil dia oppa? Hoya oppa, hahaha..” Sungjong tertawa terbahak-bahak terhadap leluconnya sendiri.

“Aiss..” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Hoya memang lebih tua daripada aku tapi bukan berarti aku harus memanggilnya ‘oppa’ kan? Setidaknya aku bukan orang sefleksibel Sungjong yang dengan mudahnya memanggilku ‘nuna’, padahal belum ada satu hari berkenalan. Aku hanya akan memanggil seseorang dengan ‘oppa’ jika aku sudah merasa dekat dengannya.

Aku menghela nafas pelang sembari menyandarkan punggungku pada tembok, membiarkan Sungjong yang masih asik tertawa sendirian. Diam-diam, aku memperhatikan ruangan rumah ini. Memang bisa dibilang kecil sih, tapi kalau hanya dipakai untuk tinggal dua orang saja, aku rasa cukup.

“Eh ngomong-ngomong, aku tidak melihatnya.” Ujarku.

“Siapa?”

“Hoya.”

“Oh..” Sungjong mengangguk-angguk. “Jam segini, Hoya hyung biasanya sedang jogging diluar.” Ujar Sungjong, seperti tahu apa yang ada di pikiranku.

“Jogging? Di malam hari?” tanyaku tidak mengerti.

Sungjong mengangguk. “Itu sudah menjadi kebiasannya tiap hari. Ia bercita-cita menjadi seorang penyanyi, makanya ia rajin berlatih.” Lanjut Sungjong. “Yah.. Hoya hyung itu kalau sudah punya kemauan, susah dihentikan sih.”

Aku menatap Sungjong. Entah kenapa dari sorot matanya aku melihat ada kesedihan di dalamnya. Sepertinya memang ada suatu cerita di balik keluarga mereka berdua.

“Aku pulang.” Kami berdua pun dikagetkan oleh suara Hoya yang baru saja masuk, membuatku tersadar dari lamunanku.

“Ya, Lee Sungjong! Sudah ku katakan berapa kali untuk tidak makan mi instan terus menerus!” ujar Hoya begitu melihat bungkus mi instan di tempat sampah rumahnya.

“Aku belum pernah makan mi selama satu bulan!” seru Sungjong tak mau kalah. Aku hanya terkekeh pelan melihat pertengkaran kecil kakak beradik ini.

Sungjong pun segera membereskan makanannya sambil menggumam tidak jelas. Ia beranjak dari tempat duduknya ke dapur, masih terlihat kesal, namun justru itu yang membuat dia tampak lucu, membuatku terkekeh pelan.

Setelah itu aku mengalihkan pandanganku ke arah Hoya yang sedang sibuk membereskan barang-barangnya. Karena Hoya sepertinya tidak begitu ramah, aku jadi takut-takut untuk mengajaknya berbicara. Berbeda dengan Sungjong yang banyak bicara dan tingkah lakunya seperti perempuan, sehingga aku bisa nyaman mengobrol dengannya.

Dan entah kenapa, tiba-tiba Hoya melepas kaos putihnya yang sudah penuh dengan keringat, dan alhasil, tanpa sengaja aku bisa melihat tubuh bagian atasnya yang.. ehem, kalian tahu maksudku kan? Tapi entah kenapa aku jadi begini.. eh tunggu, apa yang sedang aku pikirkan sih?

“Hyung!” seru Sungjong yang berlari dari arah dapur, membuat pikiran kotor yang melayang-layang di otakku buyar. “Apa yang kau lakukan di depan Sehyun nuna!” seru Sungjong sambil menutupi kedua mataku dengan tangannya.

Hoya menoleh ke arahku, kemudian menepuk dahinya pelan. “Ah, mian. Aku lupa kalau disini ada perempuan.” Ujarnya tenang sembari masuk ke dalam kamarnya untuk berganti. Aku pun menghela nafas panjang.

“Dasar..” gumam Sungjong sambil memindahkan tangannya dari hadapanku. “Nuna jangan-”

“A-aku tidak berpikir yang aneh-aneh kok!” kalimat itu dengan mudah meluncur dari bibirku.

“Hah??” Sungjong menatapku dengan heran. Sedetik kemudian, ia mulai tertawa terbahak-bahak. Sungguh aku menyesal, kenapa bibirku mengatakan hal yang bodoh seperti tadi.

“Aiss.. kenapa udaranya panas sekali sih?” kataku sambil mengibas-ibaskan tangan. Entah udara malam ini memang panas, atau badanku terasa panas karena gugup. “Ah, sudahlah. Ngomong-ngomong kamar mandinya dimana? Aku mau mandi.”

Tawa Sungjong pun berangsur-angsur mereda. “Di rumah ini tidak ada kamar mandi.” Ujarnya dengan enteng.

“Hah??” Mataku terbelalak terkejut. “Kalau begitu.. ke pemandian umum saja yang disana, bagaimana?”

“Tidak bisa.” Timpal Hoya yang baru saja keluar dari kamarnya. “Di musim dingin begini pemandian umum belum bisa buka sampai besok.”

Aku menghela nafas berat. Jadi di jaman ini mandi atau tidaknya kita ditentukan oleh musim ya? Berarti aku harus bertahan dengan keadaan seperti ini sampai besok? Ya Tuhan..

“Tenang saja, besok aku temani kesana. Sekarang nuna ganti dengan bajuku saja dulu. Daripada terus-terusan pakai seragam sekolah seperti itu, bisa-bisa nanti kena flu.” Ujar Sungjong sembari menyuruhku mengikutinya masuk ke dalam kamarnya yang jadi satu dengan Hoya. Ia memberiku sepasang kaos dan celana miliknya.

“Gomawo.” Kataku sambil tersenyum. “Ah iya, besok kau bisa menemaniku ke rumah ibuku?” Pintaku padanya. Seperti yang kalian ketahui, aku sama sekali tidak mengerti jalan, alias buta arah.

“Mianhae. Besok aku masih ada sekolah.” Ujar Sungjong. Aku baru sadar kalau ia masih pelajar SMA. “Aku akan bilang pada Hoya hyung supaya mengantar nuna besok.”

Aku hanya mengangguk pelan. Yah, walaupun aku lebih senang Sungjong yang menemaniku tapi tak apalah.

“Hoya hyung memang orangnya tidak banyak bicara, tapi dia baik kok, tenang saja.” Ujar Sungjong, seperti tahu dengan isi pikiranku. Sungjong pun keluar dari kamarnya dan aku segera berganti. Cuaca di penghujung musim dingin seperti ini memang buruk.

“Hah..” aku menghela nafas. Berada di jaman yang berbeda seperti ini memang merepotkan. Sebaiknya aku segera menemukan Nam Woohyun dan pulang ke tahun 2011. Aku jadi tak sabar menunggu besok, karena semuanya akan segera berakhir. Mm.. ku harap semua akan berjalan lancar sesuai rencana. Amin.

***

Makasih udah baca~ Jangan lupa komen ya readers! Karena buat author, nggak ada yang seindah komen-komen kalian~ *nggombal* hehehe😄