Author: Rahinalollidela

Length: One Shot

Genre: Romance, Sad, Psychology, Family

Casts:

– BEG’s Son Ga In

– Sistar’s Yoon Bora

– Super Junior’s Choi Siwon

Comment please!

Part 1

 

“SIWON OPPA, AKU MENCINTAIMU!” keadaan menjadi hening ketika kata-kata itu muncul dari mulut Bora, terutama Eunjung yang berkali-kali menatap Bora dan Siwon secara bergantian. “Mwo? Ah… nado saranghaeyo…,” ucap Siwon yang tak menganggapnya berat seraya membelai rambut Bora. “Aku… siapkan makan malam dulu,” Eunjung segera berbalik dan pergi ke dapur.

 

***

“Jagiya,” panggil Eunjung seraya menyentuh pundak Siwon yang sedang membaca buku. “Kau belum tidur?” tanya Siwon. Eunjung hanya menghembuskan nafas pelan seraya menatap sudut lain. “Kau tidak apa-apa?” tanya Siwon. “Gwenchana… lanjutkan saja membancamu,” Eunjung langsung duduk di sofa membaca di depan Siwon dan menyandarkan kepalanya. Berpikir sejenak, lalu menegakkan kepalanya. “Jagiya,” Eunjung kembali memanggil Siwon. “Hm?” tanggap Siwon tanpa melepas pandangan dari bukunya. “Bora… aku mulai merasa khawatir,” ucap Eunjung. “Wajar saja… dia sudah besar,” ucap Siwon masih pada bukunya. “Dan dia mulai mengerti cinta,” gumam Eunjung dengan sangat pelan. “Aku rasa dia menyukaimu,” ucap Eunjung. “Siapa yang tak suka padaku?” SIwon menjawabnya dengan mudah. “Aku serius!” Eunjung sedikit membentak. Siwon langsung menutup bukunya dan menatap EUnjung. “APa yang kau takutkan? Dia tidak mengerti apa-apa…,” Siwon mulai mengerti maksud Eunjung. “Tidak… dia sudah mengerti cinta,” ucap Eunjung seraya menggeleng kepalanya pelan. Siwon langsung melangkah dan memegang wajah eunjung dengan kedua tangannya, dengan lembut tentunya. “Trust me. Tidak akan ada apa-apa.”

 

***

“Uaaah!!!” Bora berjalan mendekati meja makan seraya menguap lebar. Eunjung menatapnya datar. “Ya, Bora-yah, jangan menguap di depan orang lain. Tidak akan ada namja yang mendekatimu nanti,” nasehat Siwon. “Jin… ja?” Bora langsung duduk di kursi dan mengangkat satu kakinya. “Hey… kau tidak boleh begitu juga… Minimal di depan orang yang kau sukai,” kata Siwon lagi. Bora langsung buru-buru menurunkan kakinya. “Minimal… yang Bora sukai,” ucapnya lalu segera makan dengan lahab. Sayangnya, cara makannya masih berantakan dan Siwon kembali terganggu. “Hey… itu juga tidak boleh. Makan dengan baik. Seperti Eunjung eonnie. Lihat dia. Makannya rapi dan elegan. Itu membuatnya cantik. Tanpa make up saja cantik, apalagi dengan make up seperti sekarang,” Siwon panjang lebar mengungkapkan kesempurnaan istrinya. Bora hanya diam dan memperbaiki sikapnya.

 

“Hey, Bora, kau harus mencari pasangan. Kau itu sudah besar,” kata Siwon saat sarapannya sudah habis. “Kami… akan… me.. nikah,” kata Bora. “Mwo? Kau sudah punya pasangan? Nugu?” tanya Siwon. “besok… Aku akan mengajak dia menikah… di sini…,” kata Bora lagi.

 

***

“Aku benar, kan? Bora itu… mentalnya mental anak kecil…,” kata Siwon saat malam harinya. “Kira-kira… siapa yang dimaksudnya? Bukan kau, kan?” Eunjung masih ragu. “Hei… Kau belum mempercayaiku, ya? Kalau belum percaya kenapa menikahiku???” tanya Siwon. “Mwo?!” Eunjung tersentak dengan ucapan Siwon. “Ani, ani… Aku bercanda…”

 

***

“Morning,” Rabu pagi yang belum terlalu terang Siwon dan Eunjung sudah di ruang makan karena tuntutan kedisiplinan kerja mereka. Apalagi SIwon menjabat sebagai wakil direktur utama dan Eunjung adalah manager dalam sebuah team. “Bora belum bangun juga?” tanya Siwon. “Molla. Nanti juga dia bangun, lagipula hari ini aku menyewa pengasuh anak,” kata Eunjung. “Pa..gi..,” sebuah suara familiar menarik perhatian. Bora. Datang dengan wajah penuh make up, tapi berantakan. “Kau ini… kenapa?” tanya EUnjung. “Harus cantik… di depan orang yang kusuka,” kata Bora seraya menunduk dan langsung bergabung di meja makan. Eunjung langsung menatap Siwon pelan. SIwon menggelengkan kepalanya perlahan untuk meyakinkan Eunjung.

 

***

“Aku sudah selesai. Jagiya, kau berangkat sendiri? Atau aku antar?” tanya Siwon. “Aku berangkat sendiri saja. Kau harus kerja lembur, kan?” jawab Eunjung. “Baiklah, aku berangkat,” SIwon beranjak. Tapi…, “Chankamaniyo!” tangan Bora meraih tangan Siwon sehingga membuat Eunjung dan suaminya itu terkejut. “A… ku… sudah can…tik, yah? A.. yo.. ki.. ki.. ta… menik… kah,” mata Siwon dan Eunjung terbelalak. Siwon mencoba tenang dan menatap Eunjung pelan untuk menenangkannya. Eunjung hanya bisa menunduk memendam emosinya. Tapi semakin lama emosinya semakin memuncak.

 

“YA!” bentak Eunjung seraya berdiri dari kursinya. Eunjung segera menarik tangan Bora. “Eunjung-ah!” kata Siwon. “Mwo?! Dia sudah keterlaluan!” ucap Eunjung dilanjutkan dengan menarik tangan Bora.

 

“Kau, kau, apa yang kau pikirkan?! Gadis gila sepertimu tak pantas menikah!” bentak Eunjung seraya terus menarik Bora dengan kasar. Bora berusaha memberontak tapi itu malah membuatnya terbentur-bentur dinding koridor. Tuhan, ada apa? Aku tak mengerti? Kenapa eonnie menjadi seperti ini?

 

“Masuk!” Eunjung mendorong Bora masuk ke kamar mandi. Eunjung pun ikut masuk dan mengunci pintu. “Kau… aku merawatmu dengan baik tapi… TAPI KENAPA KAU TAK TAU TERIMAKASIH?!” emosi Eunjung meledak lewat kata-katanya. “Sini kau! Wajahmu itu menjijikan!” Eunjung menarik Bora ke bawah shower dan membilasnya dengan kasar. “Kau… kau… kau menjijikan!” emosi Eunjung memuncak. Hatinya seperti ingin membunuh adiknya.

 

BYURR! Bora terjatuh ke dalam bath up yang penuh dengan air. “Kau… kau tak pantas ada di dunia ini! Matilah!” Eunjung berusaha menenggelamkan wajah Bora yang hanya bisa menahan kepalanya dengan berpegang erat pada tepi bath up. “Eunjung-ah! Dia adikmu!” terdengar suara Siwon dari luar diiringi dengan suara ketukan berkali-kali. Tapi Eunjung tak mendengarkannya dan masih terbakar oleh emosinya.

 

“Eon… eonnie…. EONNIE!!!” Bora berteriak berusaha menyadarkan eonnienya. Eunjung mematung sejenak. Air matanya menetes deras. “Nae dongsaeng… nae dongsaeng…,” Eunjung menatap adiknya dan segera memeluknya. “Miane… miane…,” ucapnya. Tuhan, aku tak tahu harus bagaimana. Eonnie sakit, Tuhan. Aku… membuatnya menangis…

 

END

 

Ah, well… jelek yah? hehehe… author minta maaf kalau nggak pas di hati… abisnya author nulis sambil emosi gini…. maklum.. nggak ada happy ending…