Annyeong chingudeulll!!! Lama tak berjumpa xD Bogoshipeo…

Maaf Tam baru bisa ngepost sekarang dikarenakan habis UAN dulu ide udah buntu dan setelah masuk sekolah tugas menumpuk. Jadi, Tam baru bisa ngepost sekarang #curcol

Maaf juga ya kalo FF ini banyak kekurangan TT TT soalnya udah lama gak nulis. Mungkin tulisannya jadi kaku atau gmn, nanti langsung comment di bawah aja, oke? Ditunggu kritik dan sarannya…

Oke langsung aja…

Title                   :        ♥
Author             :           Tam.P
Genre              :           Romance
Rating              :           PG15
Category         :           Oneshoot
Cast                 :

  • Park Jiyeon (Jiyeon)
  • Lee Hyung Geun
  • Park In Jung (Soyeon)

___________________________________________________________________________

Pernahkah kalian rasakan,
Rasa sakit dan cinta yang datang secara bersamaan?
Ya, hanya ada rasa sakit dan cinta yang dirasakan

***

9 November 2011

Jiyeon POV

BRUGHH!!!

Aku limbung dan kemudian terjatuh. Meringis pun aku tidak mampu. Aku hanya bisa melihatnya berlalu tanpa menoleh sedikitpun padaku.

Sakit ini, tidak sesakit hatiku saat ini. bodoh sekali aku ini mengharapkan keajaiban itu.

“Jiyeon-ie…” Kurasakan sentuhan hangat di pundakku, tapi dengan cepat aku menepisnya. Aku hanya ingin sendiri saat ini. Aku tidak ingin diganggu.

“Maaf Soyeon-ie…” Setelah itu aku berlalu. Berlalu meninggalkan Soyeon yang masih membatu disana. Aku tahu aku tak seharusnya seperti itu. Tapi, aku rasa Soyeon mengerti. Aku hanya ingin sendiri saat ini. Tanpa gangguan siapapun, aku hanya ingin sendirian.

End of Jiyeon POV

Tik… Tik… Tik…

Hujan mulai membasahi jalanan. Tetapi, Jiyeon sama sekali tidak memperdulikannya,
bahkan ketika hujan mulai turun deras. Dia tetap melangkah, melangkah tanpa arah dan tujuan. Dan yang ia pikirkan saat ini hanyalah laki-laki itu…

***

Flashback…

11 Juni 2011

“Lee Hyung Geun?” Ulang gadis itu.

“Bagaimana menurutmu Jiyeon-ie?” Tanya gadis yang duduk di sebelahnya.

“Biasa saja.” Jawab gadis bernama Jiyeon itu dengan santai.

“MWO?!! Aigo… Apa kau ini benar-benar sudah tidak menyukai pria lagi huh?”

“YA!!! Bukan begitu Soyeon-ah, hanya saja…” Setelah itu Jiyeon terdiam cukup lama. Untuk sekilas ia mengingat masa lalunya. Masa lalunya yang menyakitkan.

“Jang Hyun Seung?” Aku hanya bisa mengangguk lirih. Sebenarnya bukan karena aku masih mencintai Hyunseung. Hanya saja, aku takut untuk sakit hati lagi.

***

1 Agustus 2011

            Jiyeon POV

“PARK JI YEON!!! AYO LARI!!!” Arghhh… Bisakah orang itu berhenti berteriak?

“Hosh… Hosh…” Aku tidak kuat lagi. Tidak perduli Doojoon Sengnim mau berteriak-teriak sampai pita suaranya putuspun aku tidak perduli.

Aku terduduk di pinggir lapangan basket. Didepanku anak-anak masih bermain basket dengan serunya.  Yah, sampai sekarang aku bingung. Apa alasan mereka menyukai olahraga? Padahal mereka tahu kan kalau olahraga itu melelahkan? Aishh…

Sembari mengatur napas, pandangan mataku tanpa sengaja mengarah pada seseorang. Lee Hyung Geun?

Dug… Dug… Dug…

Entahlah, yang jelas aku sekarang merasa jantungku berdetak 10x lebih cepat. Apa karenanya? Apa… Tidak… Pasti aku hanya kecapean karena terlalu banyak berlari tadi.

“Jiyeon-ie! Kau sedang apa? Lihat, Doojoon Saengnim sudah berteriak-teriak memanggil namamu.” Ucap Soyeon ketika ia lewat di depanku dan kemudian duduk di sebelahku.

“Aku tidak perduli. Aku sudah lelah.” Jawabku cuek masih dengan napas yang tersengal-sengal. “Dan kau, untuk apa kau masih disini?”

“Aku lelah…” Mwo? Bukannya tadi…

“YA!! Tadi kau yang memarahiku. Tapi sekarang kau juga…”Aishh.. Anak ini.

“Hehehe…”

End of Flashback

***

Untuk sesaat aku hanya bisa diam disana. Mengingat semua kejadian yang aku alami selama 6 bulan ini.

***

Flashback…

5 September 2011

“Hyung Geun! Jiyeon! Hyung Geun! Jiyeon!” Apa mereka tidak bosan huh? Selalu meneriakan itu di kelas?

Sudah 1 minggu ini, mereka terus seperti itu. aku tidak mengerti bagaimana mereka bisa bilang kalau aku dekat dengan Lee Hyung Geun, padahal bicara saja dengannya jika kami ada tugas kelompok bersama.

“YA! Bisakah kalian berhenti?!” Aku hanya bisa tercengang. Hyung Geun, dia marah? “Berhenti menjodohkanku dengannya…”

JLEB!

Seperti ribuan pisau yang menusuk hatiku. Dia… Membenciku?

Tidak… Tidak… Kenapa aku harus sakit hati? Aku kan tidak punya perasaan apa-apa dengannya. Tidak, mungkin aku hanya kaget tadi. Ya, kaget.

***

20 Oktober 2011

“Jiyeon-ssi?” Aku menoleh ke sumber suara, dan saat itu juga jantungku lagi-lagi berdetak 10x lebih cepat.

“W… Wae?”

“Untuk tugas besok, kau bisa membawa sebagian bahannya?” Perasaan kecewa lagi-lagi menyeruak di dadaku. Selalu seperti ini, tidak lebih.

“Ah, baiklah Hyung Geun-ssi.”

“Kamsahamnida Jiyeon-ssi…” Setelah itu ia berlalu. Tanpa menoleh, bahkan tanpa mengatakan apapun lagi.

“Jiyeon. Wae geurae?” Tiba-tiba Soyeon sudah ada di sebelahku.

“Ani…”

“Kau menyukainya?” MWO?! Menyukainya?

“Maksudmu?”

“Kau menyukai Hyung Geun?” Hyung Geun? Aku menyukai Hyung Geun? Apa itu benar?

***

Dan setelah itu, aku tidak tahu harus melanjutkan apa. Karena kejadian-kejadian setelahnya tidak berbeda jauh dari kejadian tadi. Dan untuk mendekatinya pun aku tidak berani.

Hahaha… Bodoh memang, tapi dia terlalu sempurna. Terlalu sempurna sampai aku tak bisa menjangkaunya.

End of Jiyeon POV

Dengan tatapan kosong dan tanpa arah, Jiyeon terus melangkah. Bahkan saat ada sebuah sepeda motor yang melaju ke arahnya pun dia tidak menyadarinya.

“JIYEON AWAS!!!” Soyeon berlari, mencoba menahan Jiyeon, tetapi ia terlambat. Jiyeon sudah tergeletak di aspal dengan darah mengucur deras dari kepalanya.

“Park Ji Yeon!!! Jiyeon!!!” Beberapa kali Soyeon mencoba memanggil sahabatnya itu, tetapi tidak ada jawaban. Yang ada, hanya darah yang terus mengalir dari kepalanya. Dan tanpa menunggu lama, Soyeon langsung menelepon ambulan.

***

Jiyeon POV

Putih… Itulah yang kulihat ketika aku membuka mata. Tidak lama, bau obat menyeruak masuk ke hidungku dan aku mendengar suara Soyeon.

“Jiyeon? Kau sudah sadar?” Aku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padaku. Dan tidak lama, aku mencoba tersenyum ke arahnya. Walaupun sulit dan sembari menahan rasa sakit, aku mencoba terlihat baik-baik saja.

“Jiyeon, jangan bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa.” Raut muka Soyeon berubah jengkel sekaligus cemas. Dia selalu seperti itu ketika terjadi apa-apa padaku.

“Nan gwaenchana Soyeon-ie.”

“Ji..”

“Soyeon…” Perlahan aku memegang tangannya. “Untuk sahabatku yang satu ini, maaf dan terima kasih untuk segalanya.” Lagi-lagi aku mencoba untuk tersenyum. “Soyeon, saat aku sudah tidak ada nanti…”

“Jiyeon, jangan…” Aku tersenyum lagi untuk yang kesekian kalinya.

“Soyeon, aku sudah tidak kuat.” Jawabku terbata.

“Bodoh! Apa hanya karena laki-laki itu kau seperti ini?” Soyeon memarahiku, tetapi lagi-lagi aku hanya tersenyum. Sekarang, aku tidak punya kekuatan lagi untuk menjawab bahkan untuk bernapas.

“Jiyeon? Jiyeon?!!” Itu suara terakhir yang kudengar. Setelah itu, semuanya gelap dan saat aku terbangun, aku melihat badanku terbaring di sana dengan Soyeon yang berada di sampingku. Mencoba membangunkanku, memaksa jiwaku untuk kembali. Tetapi aku tidak bisa…

End of Jiyeon POV

***

Soyeon POV

Acara pemakaman Jiyeon sudah selesai, tetapi sampai saat ini, aku tidak mampu meninggalkan tempat ini.

Sekarang sahabat baikku sudah meninggalkanku untuk selama-lamanya.

“Jiyeon-ie, sudah 10 tahun kita bersahabat, dan kita pernah berjanji untuk selalu bersama sampai kapanpun. Tapi, kenapa sekarang kau yang meninggalkanku lebih cepat?”

Tidak lama, aku mendengar sebuah suara benda yang terjatuh. Aku melihat ke asal suara dan aku menemukan… Benda yang sangat familiar. Bu… Buku harian Jiyeon?

Aku mengambil buku itu dan dengan ragu-ragu aku membukanya. Halaman pertama, hanya berisi pengalaman-pengalaman yang Jiyeon alami sehari-hari. Tetapi semakin ke belakang, isinya berubah… Jiyeon selalu menyebutkan nama orang itu di setiap lembar buku hariannya.

Soyeon POV

***

11 November 2011

“Hyung Geun-ssi!” Pemilik nama itu menoleh. Dan setelah itu, Soyeon menyerahkan buku harian Jiyeon pada Hyung Geun.

Dengan heran dan tidak mengerti apa maksud Soyeon, Hyung Geun mengambil buku itu dari tangan Soyeon. Kemudian, Soyeon memberi isyarat pada Hyung Geun untuk membuka buku itu.

Sama seperti saat pertama kali Soyeon membuka buku itu, ia membukanya dengan ragu-ragu. Awalnya ia hanya membaca tanpa mengerti apa maksud Soyeon. Tetapi, di tengah-tengah halaman…

20 Oktober 2011

Aku sepertinya merasakan jatuh cinta lagi…
Secara tidak sengaja aku sudah membuka pintu itu kembali.
Atau, lelaki itu sudah mengetuk pintu hatiku tetapi aku tidak menyadarinya dan kemudian membukanya? Entahlah, yang jelas, aku merasakannya lagi.

___________________________________________________________________________

31 Oktober 2011

Lagi-lagi aku tidak punya keberanian untuk mendekati pria itu. Aku terlalu takut untuk sakit hati, tetapi secara tidak sadar aku sudah menyakiti hatiku sendiri…

Lee Hyung Geun, aku merasa dia terlalu sempurna…

___________________________________________________________________________

8 November 2011

Pernahkah kalian rasakan,
Rasa sakit dan cinta yang datang secara bersamaan?
Ya, hanya ada rasa sakit dan cinta yang dirasakan

Orang-orang juga pasti menyangka aku ini bodoh.
Pasti orang-orang juga menanyakan,
Kenapa ada orang yang sampai depresi hanya karena laki-laki yang bahkan tidak pernah menoleh ke arahnya?
Aku juga tidak mengerti mengapa aku bisa sampai seperti ini.
Tetapi, selama mereka tidak penah mengalami apa yang kurasakan, mereka tidak akan pernah mengerti bahkan sampai mulutku berbusa untuk menjelaskan.

Tetapi aku tidak perduli. Aku juga tidak akan menghabiskan waktuku untuk memikirkan apa kata orang. Aku  juga tidak akan menghabiskan waktuku untuk merutuki diriku sendiri. Malah sebaliknya, aku tidak pernah menyesali perasaanku. Aku tidak pernah menyesal mencintai pria itu…

Aku menulis ini ditengah hujan yang mengguyur. Di cuaca yang sangat aku senangi ini, dan untuk pertama dan terakhir kalinya, aku ingin mengatakan ini padanya…

Aku mencintaimu Lee Hyung Geun…

___________________________________________________________________________

Seketika itu juga Hyung Geun terpaku di tempatnya berdiri saat ini. Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dan tidak mengerti dengan semua kenyataan yang dia terima saat ini.

Sekali lagi, ia mencoba mencerna segala apa yang dia alami dan dia baru sadar akan semuanya…

“Jiyeon mencintaimu Hyung Geun-ssi, tetapi dia selalu tidak memiliki keberanian untuk mendekatimu. Dia selalu takut akan penolakan, dan dia selalu merasa kau terlalu sempurna. Kau terlalu tinggi untuk digapainya. Selama beberapa bulan, ia selalu memendam rasa yang seharusnya ia ungkapkan. Ia selalu bertingkah baik-baik saja padahal aku tahu kalau sebenarnya ia tidak baik-baik saja. Jiyeon seakan-akan menusuk hatinya sendiri dengan pisau sampai kecelakaan kemarin terjadi…”

“Jadi… Jiyeon…”

“Semua sudah terlambat Lee Hyung Geun…”

THE END

_____________________________________________________

Gimana chingu?😀
Ditunggu commentnya aja yaa… Gomawoo😀