Absolute Music and Art –Sketch. 8

Hwang Dain story….

 

Ottokke?? Joon sunbae semakin membuatku terpojok dan ia semakin mendekatkan wajahnya~~

Ia memegang kedua pergelangan tanganku dan membuatku tak bisa bergerak~~

Hahhhhhhh, kupejamkan mataku saja. menunggu keajaiban mengakhiri kejadian yang sangat mendebarkan ini…..

 

…..

 

Drrrrrrrrrrrrttttt ddddddddrrrrrrrrrrrrrrttttt………………

Gerakan Joon sunbae terhenti begitu mendengar getaran HPku yang merambat dari pergelangan tanganku. Aku kini akhirnya bisa membuka mataku setelah Joon sunbae melepas tanganku.

“Emmm…… yeoboseo?” ucapku sambil mengangkat telepon.

“Dain-sshi… ini aku,” ucap Nana di seberang telepon, “Bisa kau segera pulang kerumah ku? Seungho sunbae mau kemari menjengukmu. Kalau kau tidak ada disini kan…. Bisa gawat.”

“Nee aelgeseo.” Jawabku sambil menutup pembicaran, “Sunbaenim…. Bisakah aku pulang sekarang?”

Aku mencoba tetap tenang meskipun Joon sunbae tadi hampir saja membuat jantungku copot dengan hembusan nafasnya, dan hampir membuatku marah karena nyaris merebut ciuman pertamaku. Nana-sshi, kau benar-benar penyelamatku~~

“Sudah waktunya kah?” jawab Joon sunbae dengan muka agak suram, “Ini pertemuan kita setelah sekian lama Dain-sshi…. apa kamu tidak…… tidak….. mer….. merindukanku?”

Wajah Joon sunbae merah padam setelah mengucapkan itu, dan lagi lagi jantungku berdebar keras. tapi kucoba untuk menenangkan diri, “Mianhae…. Sebenarnya aku merindukanmu. Tapi…. Waktu tidak mengijinkan kita berlama-lama.”

Aku menarik tangannya dan mengajaknya ke garasi untuk mengantarku pulang setelah pamit kepada omonim, ia sepertinya tidak rela mengantarku pulang ke rumah Nana. Terlihat jelas di wajahnya.

“Sunbaenim…..” ucapku pelan, “Kalau tidak mau mengantarku pulang… tidak apa-apa deh, aku bisa pulang sendi….”

Belum selesai aku berkata, mesin motornya menyala cukup keras sehingga memotong perkataanku barusan, “Gwenchana, tapi….. tunggu aku sebentar ya, aku ingin memberikanmu sesuatu.”

Memberiku sesuatu? Apa itu??

Tiba-tiba Joon sunbae memelukku lagi, kini lebih ekstrim sampai-sampai ia memojokkanku di dinding. Ia tak melakukan apa-apa, hanya memelukku cukup erat.

Mataku agak panas merasakan setiap sentuhan yang diberikannya untukku. Lengan, pundak, dagu, dan jemarinya yang menyentuh tubuhku…. Rasanya membuat jantung ini berdebar debar sekaligus membuat mataku berkaca kaca.

“Sunbaenim…… gwenchanasimika?” aku mencoba membuat suaraku tidak gemetaran, “Apa kamu sakit?”

Kurasakan kepalanya bergerak di pundakku, seperti mengangguk angguk. “Nee….. aku memang sedang sakit, rasa sakit yang amat sangat disini……”

Tangannya menuntun tanganku kea rah dada kirinya, kea rah jantungnya. “Dirimu yang keras, dirimu yang lembut dan apa adanya….. dirimu yang mencoba kuat meskipun mendapat cobaan yang disebabkan olehku….. selalu membuatku ingin mati karena debaran jantungku berdetak terlalu cepat saat menatapmu Dain-sshi…. jeongmal, saranghaeyo.”

Kurasakan air mata jatuh di kedua pipiku. Aku menangis, tapi bukan karena mendengar tangisan Joon sunbae…

Karena, setiap kata cinta yang mendarat di telingaku. Mengandung beban beban di dalamnya……

 

~~~~~

 

Park Shinmi story….

 

Ini foto mantan yeochinnya Cheondung oppa. Apakah kau akan baik-baik saja kalau melihatnya?

 

Aku menatap foto seorang yeoja berambut kuning kecoklatan berbadan pendek namun seksi yang kini ada di tanganku. Cho Hyori nama yeoja itu, mahasiswa seni kriya D3 semester 4. Konon ia sudah berpacaran dengan Cheondung oppa nyaris 3 tahun.

Apa aku pantas menggantikan yeoja sempurna yang fotonya ada di tanganku ini? Aku ini hanya mahasiswa baru berkacamata dengan pipi tebal yang hanya bisa bermain gitar, sementara Cho Hyori ini multi talenta. Ia bisa main violin, membuat tembikar, bermain gitar dan piano. Aku…. Jelas jelas kalah kalau dilihat dari masalah bakat.

“Shinmi-sshi…. ada temanmu nih datang berkunjung. Dia menunggumu di teras.” Panggil ibu dari kamar sebelah. Teman? Teman satu kampus atau bagaimana?

Aku keluar dari kamar dan segera ke teras. Tidak enak juga membiarkan orang menunggu lama sendirian.

“Choisonghabnida, aku tadi sedang di kamar dan…..”

Tiba-tiba teman yang ternyata namja itu menarik tanganku keluar rumah dari mengangkatku untuk duduk diatas motornya.

“Kita harus bicara, bocah…”

 

…..

 

Aku diam saja melihat aliran di sungai Han yang begitu tenang dan bersih. Diantara kami berdua tak ada yang bicara. Ya, bahkan aku tak bisa membuka mulutku di dekat namja yang sepertinya Cheondung oppa ini. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

“Kok kamu tidak pakai kacamata sih?” ucap namja itu. Ah… memang ini suara Cheondung oppa, “Apa kau diam saja karena kau tidak bisa lihat?”

Aku menggeleng, “Anii….. aku bisa lihat, biarpun sedikit.”

“Hahahahaha bahkan kau tidak pandai berbohong, bocah.” Oppa menyodorkan sesuatu di dekat mataku, sepertinya ini kacamata miliknya karena ia mengeluarkannya dari bagasi motornya, “Nah… sekarang, beritahu aku. Semuanya….”

Aku memanyunkan bibirku, “Sepertinya…….. tidak ada yang perlu diberitahu kok, semuanya baik-baik saja.”

“Yak bocah, sudah kubilang kau tidak pandai berbohong.” Ucap Cheondung oppa yang tanpa kusadari mencubit pipiku pelan, “Lalu kenapa kau sekarang menghindariku hem?”

Ia tak berhenti mencolek colek pipiku dan mencubitinya berkali kali. Tapi, aku tidak merasakan sakit sama sekali…… yang kurasakan malah rasa sesak di dada.

Pedih sekali….. melihat seorang namja yang selalu tersenyum di depanmu dan namja itu adalah cinta terselubungmu. Kamu sangat menyukainya, tapi kamu juga tak ingin memutuskan tali persahabatan kalian karena kamu tidak ingin mendengar kata ‘maaf’ atau ‘tidak bisa’ dari mulutnya. Neomu apo….

“Gomanhaja oppa, aku mau pulang saja.” mataku gemetaran saat aku melepaskan kacamata oppa dan mengembalikannya.

“Shinmi-sshi~!! kau kenapa sih?!” Cheondung oppa menahan tanganku saat aku hendak berbalik, dan tangannya di pergelangan tanganku membuat air mataku makin merebak.

“Mianhae oppa, aku tak bisa menjelaskan apa yang terjadi….. jeongmal mianhae.” Jawabku sambil mengusap mataku yang basah dan segera pergi meninggalkan oppa yang masih mematung di kejauhan

 

~~~~~

 

Park Nana story….

 

Ting tong…. Ting tong…..

“Emmmmmmmmmh oppa, jakkaman.” Aku menahan pundak Cheolyong oppa yang dari tadi sibuk menciumi bibirku. padahal kami di ruang tamu, dan….. kami tidak ketahuan berciuman sama sekali oleh orang rumah.

Oppa masih mengemut bibirku dengan nafsu dan memegangi rahangku agak kencang, yak~!!! Namja ini…….

“Aku bilang kan jakkaman~!!” aku menggeplak kepalanya beberapa kali agar ia segera sadar dan kembali ke ingatannya.

“Oh mianhae jagiya, nee~~ nuguseo??” Cheolyong oppa mengikutiku di belakang. Saat kubuka pintu, terlihat Dain dengan wajah yang…………. Bingung dan kalut.

Cheolyong oppa agak terkejut dengan kedatangannya, “Oh aku lupa, Dain kan sedang menginap di rumahmu ya? dia habis dari mana?”

“Dari rumah Joon sunbaenim.” Jawab Dain sambil masuk ke dalam rumah dan…. Berlari ke dalam kamar dan menutup pintu keras-keras.

Aku dan oppa melongo melihat perbuatan Dain barusan, “Jagiya….. ada apa dengannya?” tanya Cheolyong oppa.

“Nado mollaeyo.” Aku menggeleng gelengkan kepala dengan bingung, “Lalu…. Apa yang harus kita lakukan?”

Cheolyong oppa memajukan bibirnya dan berkata, “kissu kissu~~ lagi dong~”

“Yak, micheoseo?” aku menarik sekaligus mencubit bibirnya dan segera ke kamar, “Aku hanya mengujimu oppa, ternyata kamu lebih senang menghabiskan waktu dengan yeochinmu ketimbang hoobaemu yang sedang sedih. Berubah dong oppa~~”

 

…..

 

“Mwo, Joon hyung menyatakan cinta padamu??!!” ucap Cheolyong oppa terkejut. Namun saking kerasnya, telingaku sampai pengang dan otomatis aku menepuk mulut lebarnya.

“Ish… kalau kaget jangan di telingaku dong.” Keluhku, “Lalu bagaimana? Kamu menerimanya?”

Dain menggeleng lemah, “Aku……. masih syok dan terkejut mendengar pernyataannya. Ia terus-terusan memelukku, membuat kulit kami terus bersentuhan, dan ia bahkan hampir mengambil ciuman pertamaku.”

Aku tertegun mendengar cerita Dain yang lambat laun mengusap pipinya, ia sepertinya menangis. Entah karena ketakutan atau apa.

“Uljimma~” hibur Cheolyong oppa, “Kalau kamu menangis karena ini, berarti kamu menyukainya. Tapi…. perasaanmu sedang tertahan karena sesuatu. Apa aku benar?”

Aku mengangguk angguk, “Memang seperti itulah biasanya. Tapi kali ini kau harus memilih Dain….. kamu kan sudah menyukai Seungho oppa sejak kita masuk kuliah.”

Cheolyong oppa sangat terkejut mendengar perkataanku barusan, tapi aku mengacuhkannya. Habis ekspresi wajahnya terlalu berlebihan sih, dasar namja desa hahahaha~~

“Nee….. karena itulah aku merasa sangat bingung,” ujar Dain sambil memegangi pelipis dengan kepalan tangannya, “Aku rasa aku tak bisa memilih. Bahkan memikirkannya saja menguras air mata dan membuat kepalaku sakit. Membuat beban-beban disini”

Dain menghempaskan kepalanya dikasur setelah ia menunjuk dadanya dengan wajah yang sedih..

“Kureyo…. kalau begitu, kami akan membiarkanmu istirahat Dain-sshi.” Ucap Cheolyong oppa sambil merangkul pundakku, “Kami tahu ini pasti membebanimu karena kau belum pernah merasakan konflik yang seperti ini.”

 

~~~~~

 

Shin Hyoni story….

 

Heeya~~ naljom barabwa~~

Neoneun nareul….. joahaettjanha.

Neo neun birok… sirhdago malhaedo~~ na neun neoui…. maeum arra~~

Saranghanda….. malhago deonamyeon~~ neoui maeum…. apahatggabwa..

Dwidol-a ulmyeon… sirhdago malhaneun~~ neoui moseub…. neomuna seulpeo.

 

Suara Byunghee oppa begitu indah saat melantunkan lagu Heeya yang diiringi oleh Seungho oppa dengan alunan piano. Tak heran kalau mereka mendapatkan applause yang meriah dari para penonton, termasuk aku tentunya.

“Oppa~” panggilku di belakang panggung, “Chukkahaeyo…. suaramu bagus sekali saat di panggung. Aku sampai tertegun mendengarnya.”

Byunghee oppa hanya tersenyum dan merangkulku dengan sayang, “Tadi ada beberapa kekurangan karena aku sedikit grogi…. jadi kurang bisa dibilang bagus, jagiya…”

“But over all, semuanya perfect.” Jawabku sambil mengelus tangannya yang bertenger di pundakku, “Oh iya, Seungho oppa mana?”

Seakan melupakan kalung seharga ratusan juta, oppa langsung berlari meninggalkanku, “Aku janji padanya akan menunggu sampai dia selesai buang air~!! Mianhae jagiya, i’ll be back~~”

Aku tertawa mendengar perkataan oppa yang seperti lirik lagu boyband bernama 2PM, lalu berjalan-jalan di luar gedung sembari melihat taman gedung yang dari tadi sore sudah menarik perhatianku.

“Babo-ya~!! Kenapa kau meninggalkan bukunya di tempat kejadian?! Kalian mau mati apa?!”

Tiba-tiba aku mendengar suara yeoja yang marah-marah di taman itu, perlahan aku mendekati lokasi sembari mendengarkan percakapan mereka.

“Terus…. jangan bilang kalian pakai minyak wangi di pergelangan tangan??” ucap yeoja itu, “Identitas kalian bisa terbongkar tau~!!”

“I’m sorry girl,” ujar yeoja yang lain dengan suara yang takut takut, “Jarang sekali kami menemukan dia di tempat umum, tapi….. kenapa sih kau begitu ingin membuatnya frustasi?”

“Tentu saja, dia telah menghancurkan rencanaku untuk memanfaatkan Sanghyun oppa. Begitu juga koloni sialannya itu,” ucap yeoja dengan suara yang serak kasar, Sanghyun oppa? Jangan-jangan yeoja yang melakukan pelecehan kepada Dain adalah… “Dan kudengar…. Sanghyun sedang dekat dengan mahasiswa baru ya? Andwaeyo, kalian harus segera….”

Tiba-tiba kantung hitam menyelubungi kepalaku, “Yak, ada penguntit disini~!! Mau kita apakan dia?!”

Aku bergerak gerak panik dala kegelapan, lalu kurasakan tubuhku didorong hingga terjerembap di tanah.

“Hemh….. yeoja ini tidak bawa apa-apa.” Kata yeoja yang lain, “Kita aniaya saja fisik dan mentalnya, hahahahaha~~!!!”

 

…..

 

“Jagiya, irona~~~ jebal ironaseo~~!!!”

Aku membuka mataku yang berat dan menemukan wajah Byunghee dan Seungho oppa yang gelisah dan ketakutan, “Ada apa oppa? Apa yang terjadi denganku?”

“Syukurlah Tuhan…..” ucap Byunghee oppa seraya memelukku erat, “Kamu terkena pelecehan. sama seperti Dain.”

Aku memegang dahiku yang luka dan diperban, “Apa aku….. baik-baik saja? Apa ada yang memperkosaku?”

“Kata dokter tidak ada bekas pelecehan seksual,” ucap Seungho oppa, “Gaun dan dalamanmu dirobek robek parah, lalu…….”

Seungho oppa membawa sebuah cermin dan menghadapkannya ke arahku….

Rambutku….. rambut sepundakku yang indah…. kini tersisa sejengkal panjangnya dari puncak kepalaku..

 

Music: Heeya -BooHwal-