Anyyeong!

Sebenernya ini bukan FF saya, tapi ini FF temen saya, @trililiii, yang dibikinin buat saya dalam rangka b’day suami saya, Choi Seung Hyun a.k.a Papi Tabi.

Iya tau, kalo itu sebulan lalu. Dia juga udah bikinnya mayan lama sih, cuma baru sempet saya posting sekarang.

aiihh, makasiihh my dear, Triii.. *lempar ecung*

Happy enjoying all ~

______________________________________________________

Title                            : It’s You

Author                        : Trililiii

Length                        : Oneshot

Cast                           : Big Bang’s TOP, Choi Eun Kyo (OC), Han Soo Hee (OC), and other casts.

Genre                         : Romance (kayaknya), angst (kayaknya juga)

Rate                           : G (kayaknya)

BGM                          : Apa aja boleh sih, aku dengerin Avril – Naked, SJ KRY – Han Saramaneul pas bikinnya

Kalo tulisannya begini tuh artinya flash back yaaa ^^

Spesial pake Tabi buat Adiez Rindra… check it!

 

 

Aku menatap air mancur di sudut taman yang tampak berkilau tertimpa cahaya lampu hias di sekelilingnya. Tidak, aku tidak benar benar menatapnya, hanya mataku saja yang tertuju ke sana tapi tidak dengan pikiranku. Pikiranku kosong.

Aku tak ingat dan tak peduli sudah berapa lama aku duduk di bangku taman ini. Yang aku ingat hanyalah, tadi aku diam diam keluar dari rumah dan menaiki sebuah bus menuju ke taman ini untuk menemuinya. Aku merindukannya. Namja itu, ia tak pernah menemuiku lagi dengan alasan yang aku juga tak tau mengapa… padahal ia yang membuat janji akan menjemputku di rumah untuk merayakan hari jadiku yang pertama dengannya. Tapi ia tak pernah datang.

Sekarang aku duduk di sini, tempat di mana aku sering menghabiskan waktu bersamanya. Dia pasti akan datang kali ini karena aku telah mengirimkan puluhan pesan ke ponselnya. Aku benar benar akan membunuhnya jika ia tak menemuiku kali ini.

Aku mendongakkan kepalaku, menatap seseorang yang berdiri tepat di hadapanku.

“Se Hwon oppa…”

-000-

Seung Hyun’s POV

Aku menatap gadis yang duduk di sampingku sambil tersenyum, ia sedang asik menikmati es krim yang dipegangnya. Sesekali terdengar senandung kecil dari mulutnya. Matanya memandang sekeliling taman dengan wajah berbinar, ekspresi yang berbeda 180° dengan saat pertama kali aku bertemu dengannya sebulan yang lalu.

Gadis ini, tanpa sadar telah menyita seluruh fokus dan perhatianku. Gadis ini, lagi lagi tanpa disadarinya telah mengubah rasa simpatiku kepadanya menjadi suatu perasaan yang tumbuh perlahan. Perasaan yang lebih dari sekedar simpati. Dan gadis ini juga…yang tak pernah menatapku sebagai diriku sendiri, melainkan orang lain yang ia harapkan dapat ditemukannya dalam sosokku.

“Se Hwon oppa…” gadis di depanku ini mendongak dan menatapku dengan pandangan tak percaya. Sedari tadi yang ia lakukan hanya menatap jalanan dengan pandangan kosong jalanan dari bangku taman ini.

“Se Hwon oppa…” ulangnya lagi dan aku masih terpaku di tempatku berdiri tanpa mengerti apa maksud ucapannya. Aku menoleh ke kanan dan kiriku, mencari seseorang yang mungkin di panggilnya dengan nama itu. Tapi yang aku temukan hanya beberapa anak kecil yang sedang bermain bersama ibunya dan mereka berada cukup jauh dari tempat kami sekarang. Hanya ada aku di depannya, dan jelas-jelas gadis ini sedang menatapku lekat. Dia memanggilku?

“Chogiyo?”

“Aku sudah bilang ke mereka, tapi tak ada yang mendengarku… mereka bilang aku bohong. Mereka tak percaya padaku, Oppa. Hish… mereka malah bilang aku gila.” Ucapnya sambil memajukan bibir kecilnya.

Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal dengan canggung. Gadis ini, aku tak mengenalnya sama sekali. Aku menghampirinya karena kasihan dia duduk sendiri di bangku taman ini dan dari tadi yang dilakukannya hanyalah menatap kosong jalanan yang mulai sepi karena ini sudah larut malam. Aku bukanlah orang yang biasa peduli dengan orang lain –terutama jika tak kukenal-, tapi entah mengapa aku malah menghampiri gadis ini, berniat menyuruhnya pulang, bagaimanapun juga jika dilihat dari penampilannya, dia tak terlihat seperti gadis yang suka berkeliaran malam-malam seperti ini.

Tapi yang terjadi sekarang malah di luar bayanganku. Gadis ini memanggilku dengan nama orang lain, Se~ entahlah siapa itu namanya.

Satu hal yang membuatku terpaku. Tatapan matanya, seolah ia telah mengenalku sejak lama. Tatapan polos itu seolah berkata bahwa ia telah menunggu hadirku setelah sekian lama tak pernah bertemu dengannya.

“Tapi tak apa.” ucapnya tiba tiba. Wajah sendu dan nada kecewa dari ucapannya tadi hilang entah kemana, digantikan mata berbinar dan senyum lebar yang terkembang di wajahnya.

“Kau harus menemui mereka. Dengan begitu mereka tak akan mengelak lagi. Haha, sudah kubilang mereka itu harus percaya padaku… Kkajja!!!” ia berdiri dan langsung menarik lenganku, tapi buru buru kutahan gerakannya yang akan menyeretku entah kemana.

“Agasshi… aku benar benar tak tahu apa maksudmu. Mianhae, apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyaku bingung.

Kening gadis itu berkerut dan ia mengerucutkan bibirnya, “Oppa… kau ini setelah lama menghilang, sekarang malah berpura pura seperti itu.”

“Tapi aku benar benar tak tau, agasshi…” aku berusaha melepaskan tangannya yang masih merangkul lenganku, tapi ia bersikeras menahannya.

“Ayolah… Wae? Kau malu? Baiklah kau tak perlu berlama lama di rumahku. Kau hanya perlu menampakkan wajahmu di hadapan mereka sebentar saja. Otte?” tanyanya dengan nada merajuk.

Aku mendengus pelan. Kalau tau akhirnya seperti ini, aku tak akan menghampirinya tadi. Merepotkan.

“Well… kau memang harus pulang, agasshi. Ini sudah larut malam dan tak baik untukmu masih berada di luar.”

“YA!!! Kau ini… bagaimana mungkin kau menyuruhku pulang begitu saja, hah? ”

Oh, perasaanku jadi sedikit tidak enak.

“Antarkan aku sekarang atau Soo Hee unnie pasti akan membunuhmu nanti!”

“Es krim-nya enak sekali, Oppa. Lain kali kau harus mencobanya juga.”

“Ah, aku tak terlalu suka makanan manis, Kyo-ya~” jawabku sambil mengacak rambutnya pelan.

“Aigoo… sayang sekali kalau begitu. Padahal Se Hwon oppa sangat menyukai es krim dari kedai itu.” ia menunjuk sebuah kedai es krim di seberang jalan.

Hatiku mencelos mendengar nada bicaranya yang ringan tanpa beban. Nama itu, nama yang belum bisa dan mungkin tak akan pernah bisa terhapus dari otak gadis ini. Entah telah berapa ratus kali ia mengucapkan nama itu di hadapanku semenjak aku mengenal gadis ini sebulan yang lalu.

“Kau sudah selesai? Ayo kita pulang.” Ucapku pada gadis itu. Ia menoleh ke arahku dan menatapku.

“Wae? Kita baru sebentar di sini…” rajuknya sambil mengerucutkan bibir.

“Ini sudah sore. Soo Hee nuna akan membunuhku kalau terlambat mengantarmu pulang.”

“Haish… Sebentar lagi. kita pulang setelah es krim-ku habis. Ne?” gadis itu menunjukkan aegyeo-nya kepadaku. Dan lagi lagi aku tak bisa menolak permintaannya jika ia sudah seperti itu. setelah ini ia pasti akan memakan es krim-nya dengan sangat lambat agar dapat berlama lama di sini. Selalu seperti itu.

-000-

“Kau tak tau betapa terkejutnya aku saat melihatnya keluar kamar dengan dandanan rapi dan membawa tas ransel yang tak pernah ia gunakan selama tiga bulan ini untuk berangkat kuliah. aku merasa menemukan adikku kembali setelah melihatnya terpuruk setelah kejadian itu, Hyun-ah…”

Aku menatap wajah wanita yang duduk di depanku dengan wajah yang lebih cerah dari hari biasanya, menunjukkan bahwa ia benar benar senang hari ini. Aku tersenyum kecil menanggapi ucapannya.

“Bagaimana kata dokter?” tanyaku sebelum meneguk teh hangat yang disajikan Soo Hee nuna untukku.

“Dokter bilang perkembangannya sudah jauh lebih baik. Ah, sangat sangat baik. Dokter bahkan tak menyangka Eun Kyo bisa pulih secepat ini. Kurasa itu semua karena kau, Hyun-ah…” ia menunjukkan senyum tulus kepadaku.

Mungkin ini adalah senyum terbaik yang pernah ia tunjukkan selama tiga bulan terakhir, terhitung sejak adiknya mengalami depresi yang cukup berat karena kekasihnya yang meninggal dalam sebuah kecelakaan.

“Ani…” jawabku cepat, “ia sembuh karena ia ingin sembuh. Aku hanya kebetulan datang di saat yang tepat.”

Aku merasakan ponsel di saku celanaku bergetar. Kubuka flip-nya dan menemukan satu pesan baru di sana.

From : Kyo

“Cepat pulang!

Kau sudah terlalu lama berduaan dengan onnie-ku!”

Aku terkekeh pelan membacanya, gadis itu rupanya masih mengawasiku sekalipun ia langsung masuk ke kamarnya setelah aku mengantarnya tadi.

“Apa anak itu cemburu lagi padaku?” tanya Soo Hee nuna.

Aku hanya mengangkat bahuku sambil tertawa kecil, “ Aku pulang dulu, Nuna.”

“Ne. Hati- hatilah di jalan.”

Aku meraih helm yang ada di sampingku dan beranjak meninggalkan ruang tamu rumah ini.

“Hyun-ah…”

Langkahku tertahan oleh panggilan Soo Hee nuna.

“Terima kasih.” Ucapnya dengan senyum tulus terkembang di wajahnya. Aku hanya membalasnya dengan tersenyum.

-000-

Eun Kyo menyodorkan dua lembar kertas ke hadapanku. Aku menatapnya dengan pandangan penuh tanya?

“Hae Ra memberikan dua tiket taman bermain gratis kepadaku, tiba-tiba Yesung oppa ada urusan dan mereka membatalkan kencannya. Jadi dia berikan saja kepadaku.” Ucapnya sambil tersenyum lebar.

“Taman bermain?!!” ucapku sedikit shock.

“Umurku hampir dua lima, Kyo-ya… kita lebih baik ke restoran atau café saja, biar kutraktir kau.”

“Ani!!” serunya cepat, “Aku ingin ke taman bermain, Oppa… Sudah lama sekali aku tidak ke taman bermain. Temani aku, jebal.”

Ia mengeluarkan jurus andalannya, memasang wajah aegyeo-nya. Sayang sekali, aku tak akan luluh kali ini. Ke taman bermain? Yang benar saja!

“Oppa jebal~” sekarang gadis itu telah menarik lengan kausku. Aku meliriknya malas lalu melepaskan tangannya.

“Andwae!” tegasku, “Kau boleh minta apa saja tapi tidak dengan taman bermain.”

Aku berjalan meninggalkannya yang berdiri sambil mengerucutkan bibir. Sudah sekitar sepuluh meter aku berjalan tapi tak kudengar suara langkahnya menyusulku. Saat kutolehkan wajahku ke belakang, seketika itu juga aku mendengus, antara kesal dan pasrah.

Gadis itu berdiri di sebelah kolam kecil yang terdapat di tengah taman dengan senyum mengejek ke arahku. Di tangannya terdapat sebuah benda persegi berwarna coklat yang entah kapan ia ambil diam-diam dari saku celanaku. Dan aku yakin, benda itu akan meluncur dari tangannya ke dalam kolam jika aku tak menuruti permintaannya. Sial.

“Kembalikan dompetku, Kyo-ya~” ucapku memelas.

“Jadi kita ke taman bermain?” tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya. Gadis ini, menyebalkan!

-000-

Eun Kyo’s POV

Aku masih belum lelah berlarian di taman bermain ini. Berusaha tak peduli dengan wajah kesal namja yang sedari tadi kutarik tangannya untuk mengikutiku ke sana ke mari.

Aku tau ini bukanlah hal yang benar, memanfaatkan kebaikan seseorang untuk melupakan seseorang yang lain. Tapi ini satu-satunya cara yang bisa kutempuh kalau aku ingin hidup normal kembali, tanpa ketakutan dan bayangan namja yang tak lagi dapat berada di sisiku itu.

Mati-matian kubiarkan segala kenangan itu berkelebat di otakku, seperti rol film yang berputar tanpa jeda. Segala kenangan yang sengaja kubiarkan berputar-putar di kepalaku. Segala kenangan tentang namja itu, Kang Se Hwon.

Bukan tanpa alasan aku mengajaknya Seung Hyun oppa ke sini, tempat terakhir aku bertemu dengan namja itu. Aku… hanya ingin merelakannya. Jika aku dapat bertahan, mampu menghadapi kenangan pahit itu sekarang, aku simpulkan bahwa aku telah mampu menerima takdir yang memporak-porandakan kehidupanku selama tiga bulan terakhir ini.

Aku menghempaskan tubuhku di sebuah kursi panjang taman bermain ini. Seung Hyun oppa baru akan ikut duduk di sampingku namun aku segera menahannya.

“Oppa aku haus, apa kau tidak haus?” tanyaku sambil mengelus leherku.

“Kau bisa membelinya sendiri.” Jawabnya ketus lalu duduk di sampingku.

“Oppa… kakiku sakit sekali.” Rajukku sambil memukul-mukul betisku, “ah, lihatlah… kakiku bahkan lecet. Kau belikan, ne?” lanjutku sambil menunjuk telapak kakiku yang memang memerah.

Sambil menggerutu Seung Hyun oppa beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkanku. Aku menatap punggungnya yang menjauh dengan tatapan nanar.

Aku memejamkan mataku, dan seketika itu pula rol film itu kembali berputar. Semakin cepat dan jelas di kepalaku.

Aku melihat Se Hwon oppa menggenggam tanganku…

Aku melihat Se Hwon oppa berdiri di hadapanku sambil memegang kamera Polaroid untuk mengambil gambarku…

Aku melihat Se Hwon oppa tertawa…

Aku melihat Se Hwon oppa dan diriku di puncak bianglala…

Aku melihat Se Hwon oppa tersenyum lebar saat aku menerima cincin yang ia sodorkan…

Aku melihat senyum Se Hwon oppa terus terkembang selama ia menyetir sepanjang perjalanan pulang…

Aku melihat truk pengiriman barang yang melaju cepat dari tikungan jalan…

Aku melihat mobil yang kami tumpangi berguling beberapa kali dan akhirnya menabrak pembatas jalan…

Aku melihat senyum lembut yang terukir di wajah Se Hwon oppa yang… bersimbah darah sebelum akhirnya semuanya menjadi benar-benar gelap di mataku…

Aku merasakan sebuah tangan menyentuh pundakku yang tanpa kusadari bergetar hebat sejak tadi. Aku membuka tanganku yang menutupi wajahku, tanganku terasa basah, mungkin keringat dinginku membanjir sejak tadi, juga tanpa kusadari. Aku tak berani mengira-ngira sepucat apa wajahku sekarang.

Perlahan penglihatanku yang tadi kabur menjadi semakin jelas. Dan yang pertama kali kutemukan adalah wajah itu, wajah yang sama dengan wajah namja dalam kenanganku. Bedanya, tak ada darah di sana, hanya raut khawatir yang tergambar jelas. Dan aku tau dengan jelas, pemilik kedua wajah itu adalah dua orang yang berbeda.

“Kyo-ya~ kau kenapa? Apa kau sakit?” suara itu terdengar bergetar karena panik.

Aku menelan ludah dengan susah payah. Segera kuraih botol minuman yang ada di tangan namja itu, kuteguk dengan cepat menyisakan separuh isinya. Aku mengatur nafasku dengan mata terpejam selama beberapa detik.

Aku kembali membuka mataku dan mendapatkan kesadaranku telah kembali. Sebuah senyum kusunggingkan, menyadari bahwa aku… telah mampu berdamai.

Memang dari awal, hanya itu yang aku butuhkan. Berdamai dengan diriku sendiri…

-000-

Aku menatap hamparan kota Seoul yang terlihat dari atas bianglala yang mulai bergerak naik. Semakin ke atas, pemandangan itu terlihat semakin jelas.

“Oppa, bukankah itu indah?” tanyaku pada namja di sampingku.

Tak ada jawaban dari namja itu, membuatku menolehkan kepalaku ke arahnya.

“Oppa, wae? Kenapa kau diam saja?”

Namja itu tetap bergeming. Hanya matanya yang menatap lurus ke mataku, membuatku memalingkan wajah ke arah lain untuk menghindarinya.

“Kau marah padaku karena aku memaksamu datang ke taman bermain?” tanyaku tanpa berani menatapnya.

Tetap tak ada jawaban. Aku memberanikan diri kembali menatapnya, “Kau ini kenap…”

Ucapanku terpotong olehnya. Ia berhasil membungkam bibirku, dengan bibirnya. Aku merasakan tubuhku menegang seketika, seperti tersengat listrik.

Hanya dua detik, tepat dua detik dan ia melepaskan ciuman itu. Yang terjadi setelahnya adalah, ia merengkuhku ke dalam pelukannya. Aku mendengar nafas berat yang ia hembuskan.

Seung Hyun oppa mengelus puncak kepalaku lembut.

“Berjanjilah padaku, kau akan hidup bahagia. Berjanjilah, Kyo-ya~”

-000-

Seung Hyun’s POV

Aku tau gadis itu ingin sembuh. Aku tau gadis itu ingin meninggalkan semua kenangannya di belakang. Aku tau ia ingin menjalani hidupnya secara normal. Aku tau ia ingin menatap kembali masa depan cerahnya yang sempat ia lupakan. Aku tau ia ingin kembali, ke masa sebelum ia terpuruk terlalu dalam.

Yang aku tak tau, ia memakai cara itu untuk mengalahkan ketakutannya. Ia memilih untuk mengulang kembali apa yang pernah ia lewati, dengan taruhan ia sanggup berdamai dengan takdir, atau terpuruk selamanya.

Yang aku tak sadar, ia memintaku menemaninya karena mungkin ia tak sanggup untuk melakukannya sendiri.

Aku tak pernah menyadari hal ini sampai aku melihat tubuhnya yang bergetar hebat di taman bermain seminggu yang lalu. Dan saat itu pula aku sadar, saat ia menunjukkan senyumnya, ia telah mampu melewati masa terberatnya. Ia mampu melewati kenangan yang paling curam menghantam jiwanya. Aku sadar, tugasku saat itu resmi berakhir.

Sekalipun ia mampu melewati semuanya, di matanya aku tetaplah berada dalam bayang-bayang namja –yang sialnya- berwajah sama denganku itu. Aku tetaplah orang lain yang tak sengaja masuk ke dalam kehidupannya. Selanjutnya, keberadaanku hanya akan membuatnya kembali mengingat namja itu.

Persetan dengan perasaanku padanya. Kami hanya butuh untuk saling melupakan, itu saja.

Mau atau tidak, ikhlas atau tidak, semua ini harus diakhiri.

Aku duduk di bangku taman tempat pertama kali kami bertemu. Mataku menangkap sosoknya yang mengenakan dress biru muda selutut dan cardigan berwarna putih sedang berjalan ke arahku.

Rinduku membuncah, seminggu tak melihat sosoknya membuatku nyaris gila. Dan sekarang aku harus mati-matian menahan diri agar tak menariknyake dalam pelukanku, atau aku tak akan bisa melepasnya selamanya.

“Oppa kau kemana saja, hah? Kenapa tak pernah menemuiku? Kenapa tak menghubungiku? Kau bahkan tak membalas pesanku!” cecarnya segera setelah berada di hadapanku.

“Kyo-ya~ duduklah dulu…” aku menarik tangannya, mengajaknya duduk di sampingku. Gadis itu menurut, matanya masih menatapku tajam, menuntut penjelasan.

“Jadi?”

“Aku tak kemana-mana, Kyo-ya~” ucapku pelan.

Gadis itu terdiam sejenak, menyadari sesuatu. “Kau… menghindariku?”

Aku tak menjawab, memilih mengalihkan pandanganku dari wajahnya.

“Wae?”

Aku masih bergeming.

“Oppa wae?” desaknya. Ia menarik ujung lengan kemejaku.

“Tugasku sudah selesai, Kyo-ya~” jawabku.

Kening gadis itu mengernyit, “Aku tak mengerti, Oppa.”

Aku kembali menatapnya. Pandangan mataku menelusuri wajahnya, merekam setiap lekuknya dalam memoriku. Setelah ini, mungkin aku tak akan bisa menatapnya seperti ini lagi.

Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat, berusaha sekeras mungkin tidak menjulurkannya untuk merapikan anak rambut Eun Kyo yang jatuh di keningnya. Harus semenyakitkan ini kah, Tuhan?

“Tidak pernahkah kau menatapku, Kyo-ya~?” pandanganku lurus di manik matanya.

“Aku mencintaimu. Tidakkah kau menyadari itu?” tanyaku lagi. sekarang mata gadis itu melebar.

“Oppa~” ucapnya menggantung.

“Tapi kau tak pernah menatapku. Baiklah, kau menatapku, ragaku. Tapi kau menatap sosok orang lain yang bukan aku. Kau… mengharapkan aku bisa menjadi orang lain.”

“Oppa aku benar-benar tak mengerti kau bicara apa.” ucapnya dengan nada meninggi.

“Kau hanya dapat menatap Kang Se Hwon, Kyo-ya. Hanya dia. Kau melihatku hanya untuk menemukan sosoknya dalam diriku, dan itu tak akan pernah berubah. Selamanya aku hanya akan menjadi orang lain bagimu.” Ada nyeri di hatiku saat mengucapkan kata ‘orang lain’.

Gadis itu menatapku nanar, wajahnya memucat. “Aku… aku tak seperti itu…,” ucapnya serak.

“Kau hanya tak menyadarinya. Semakin lama aku berada di sampingmu, aku hanya akan mempersulitmu. Kau akan semakin sulit keluar dari masa lalumu hanya karena wajahku, dan aku tak ingin itu terjadi. Aku ingin kau sembuh. Aku ingin kau bahagia dengan kehidupanmu.” Aku memalingkan wajahku ke arah semak-semak di ujung taman.

Keheningan menguasai kami selama beberapa saat. Rasa sakit menyergap lagi saat kuputuskan untuk kembali menatapnya. Gadis itu menatapku dengan wajah basah. Ia menggigit bibirnya menahan tangis, walaupun percuma saja karena air mata itu semakin deras mengalir.

“Kajima…” suaranya lirih dan bergetar.

Gadis ini menahanku bahkan ketika aku belum berpamitan dengannya. Aku menggeretakkan gigiku menahan emosi, marah pada diriku sendiri.

Dengan cepat kutarik tubuhnya ke dalam pelukanku, “Hiduplah dengan baik,” bisikku juga dengan cepat dan secepat itu pula aku melepaskan pelukanku lalu berdiri untuk meninggalkannya.

“Oppa kajima… jangan pergi… kumohon jangan pergi…” suaranya merintih di sela isak tangis nya. Tangan gadis itu menahan lenganku.

“Kajima…” rintihnya semakin lirih.

Tangisnya itu… aku tak pernah mendengar suara sepilu ini selama hidupku…

Perlahan kulepaskan tangannya dari lenganku. Aku merasakan hatiku remuk berkeping-keping seiring langkahku yang makin menjauh darinya. Sakit sekali.

-000-

A month later…

Eun Kyo’s POV

Aku memasukkan suapan es krim terakhir ke dalam mulutku kemudian mengecap sisa rasa manis yang tertinggal di bibirku. Di sampingku, Hae Ra sibuk dengan ponselnya. Cih, apa lagi yang dilakukannya kalau bukan bermain twitter. Dasar twitter freak.

Aku melihat sebuah mobil berwarna hitam menepi di jalanan depan taman ini. Aku langsung tau siapa pemiliknya. Yesung oppa, namja chingu gadis di sampingku ini.

“Kurasa supirmu sudah datang,” ucapku pada Hae Ra yang masih sibuk dengan ponselnya.

Gadis itu mendongak lalu melirik sinis ke arahku, “Dia bukan supir, Choi Eun Kyo.”

Aku hanya terkekeh pelan, “pulang sana.”

“Baiklah kalau kau memaksa…” jawabnya dengan wajah pura-pura sedih, “Kau cepatlah pulang, ini sudah hampir larut.”

“Arasseo… cepat pergilah atau Yesung oppa akan mengomel karena kau terlalu lama,” ucapku sambil mengibaskan tanganku menyuruhnya pergi.

Hae Ra melambaikan tangannya ke arahku sambil tersenyum lebar lalu berlari meninggalkanku sendirian. Aku mengeluarkan ipod dari tasku dan memasang earphone di telingaku, segera lagu Naked milik Avril Lavigne mengalun lembut di telingaku.

Taman ini sepi, nyaris tak pernah terlalu ramai memang, dan itulah alasanku sangat sering menghabiskan waktuku di sini. Sepertinya tak lebih dari sepuluh orang yang sekarang berada di taman ini, itupun sebagian sudah mulai beranjak meninggalkan tempat ini. aku sendiri masih duduk di bangku panjang yang dekat dengan kolam air mancur di tengah taman.

Aku mendesah pelan ketika kenangan itu kembali menyeruak, ketika namja bernama Choi Seung Hyun itu meninggalkanku di taman ini dan tak pernah kembali sampai sekarang.

Aku marah, itu jelas. Namja itu meninggalkanku dengan alasan sebuah kesimpulan yang ia tarik sendiri tanpa pernah menanyakan yang sebenarnya kepadaku. Ia bahkan tak memberi kesempatan untuk menjelaskan dan menghilang begitu saja dari kehidupanku.

Aku memandangnya sebagai seorang Kang Se Hwon, memang seperti itu pada awalnya. Tapi setelah aku mampu berpikir jernih, aku tak lagi melakukan itu. Aku menyadari mereka berdua adalah orang yang berbeda.

Aku mulai memandangnya sebagai seorang Choi Seung Hyun, namja yang terlihat angkuh di luarnya tapi dengan hati selembut kapas di dalamnya. Aku memandangnya sebagai namja yang kadang sinis terhadapku, namun tak pernah berhasil menolak rengekanku. Aku memandangnya sebagai seorang Choi Seung Hyun yang dengan tulusnya membantuku untuk sembuh, sekalipun ia tak mengenalku sama sekali pada awalnya.

Tapi namja itu, Choi Seung Hyun, meninggalkanku setelah menyatakan bahwa ia mencintaiku. Tak memberiku kesempatan untukku menjawab perasaannya. Pelukan dan kecupan di taman bermain itu kuartikan sebagai salam perpisahan darinya. Kejam sekali.

Hanya karena ia mengira aku tak pernah memandangnya sebagai dirinya sendiri. Bodoh…

Tidak, aku tidak lagi terpuruk seperti sebelumnya. Aku kehilangan –lagi-, tapi tubuh dan otak serta hatiku rasanya sudah cukup kuat untuk menerima kehilangan. Sakit memang, seperti belum cukup kehilanganku yang pertama, dan namja itu menambah lagi luka untuk ditorehkan.

Aku tak membencinya. Aku hanya… kecewa. Kecewa dengan kesimpulan yang ia buat, kecewa karena ia tak mau mendengar penjelasanku, kecewa dengan keputusannya untuk meningalkanku, kecewa karena ia tak pernah kembali…

Aku merindukannya… sangat. Aku tak pernah lagi mendengar kabarnya sejak hari itu, dan rasa rindu itu menyiksa sekali. Sial, hanya karena merindukannya saja aku sampai berhalusinasi ia sedang berdiri di hadapanku sekarang.

“Sudah mulai larut, harusnya kau pulang,” suara berat itu keluar dari bibirnya, membuatku tersadar bahwa sosok di hadapanku ini bukanlah sebuah halusinasi. Dia terlalu nyata untuk sebuah bayangan semu.

Aku hanya mampu menatapnya, bibirku kelu untuk sekedar mengucap sepatah kata. Seung Hyun oppa beralih duduk di sampingku, sedangkan mataku tak mau lepas dari wajahnya. Seperti takut ia akan menghilang lagi jika sedetik saja aku mengalihkan padangan.

“Apa kabar?” tanyanya dengan seulas senyum.

Aku masih enggan mengeluarkan suara. Hingga beberapa saat keheningan menyergap, hanya ada dua pasang mata yang saling menatap. Salahkah aku menafsirkan tatapannya? Matanya seperti sarat kerinduan yang menyiksa, sama seperti yang aku rasakan.

“Aku tak tau rasanya akan semenyiksa ini, Kyo-ya~” ucapnya memecah hening.

“Aku tak tau kalau merindukanmu berpotensi membuatku gila…” lanjutnya dengan tatapan terluka.

Aku menggigit bibirku, mataku terasa panas. “Aku juga merindukanmu, Oppa…” jawabku dengan suara bergetar.

“Tapi kau…”

Segera kupotong ucapannya, “Aku merindukanmu, Choi Seung Hyun. Kau. Bukan orang lain. Kenapa sulit sekali untuk memahami itu?”

Namja itu terkesiap, wajahnya tampak pias sekarang. Aku merasakan wajahku basah sekarang.

“Kau menyatakan cinta, tak mendengar jawabanku, lalu pergi setelah menarik kesimpulan yang kau buat sendiri. Kau jahat, kau tau?” aku mengusap pipiku kasar dengan punggung tangan.

“Kalau kau tersiksa, lalu bagaimana denganku?” kurasakan cairan kembali mengalir dari mataku.

Tangan kekar itu seketika menarikku ke dalam pelukannya, membuatku langsung menumpahkan tangisku di dadanya.

“Mianhae…” bisiknya lirih.

“Nappeun… nappeun namja…” aku memukul dadanya sekalipun yakin itu hanya akan terasa bagai sentuhan ringan baginya karena tenagaku seperti terkuras sekarang.

Tak ada yang bersuara, hanya isak tangisku yang masih terdengar. Ia tetap memelukku sampai tangisku mereda dan akhirnya melepaskan pelukannya untuk menatap wajahku. Tangannya terulur, mengusap wajah basahku dengan jemarinya. Ada perasaan hangat saat menatap wajahnya dalam jarak sedekat ini.

“Jangan pergi lagi…” suaraku masih terdengar serak.

“Tidak. Tidak akan pergi lagi. Aku janji.” Ucapnya sungguh-sungguh.

Aku meraih tangannya yang masih berada di wajahku, “Di mataku, kau adalah kau. Bukan orang lain. Aku tak menyangkal pada awalnya aku berusaha mencari sosoknya dalam dirimu, tapi aku menyadari itu adalah tindakan bodoh.”

“Kau tak takut kehadiranku akan menghidupkan lagi kenanganmu?”

“Dia memang hidup dalam kenanganku dan aku tak berniat untuk membunuhnya,” jawabku sambil tersenyum, “Karena kenangan selamanya hanya akan tetap menjadi kenangan. Hidupku ada di sini, sekarang. Bersama namja bodoh tidak peka yang meninggalkanku seenaknya.”

Ia terkekeh pelan lalu mengacak rambutku, “Maaf…”

Aku hanya mengangkat bahuku. Tidak menjawabnya, karena aku tau ia pasti paham bahwa aku telah memaafkannya tanpa perlu diucapkan.

“Jadi, kau juga mencintaiku?”

Mataku melebar mendengar pertanyaannya. Kupukul keras lengannya sampai ia mengaduh, “Kau masih bisa bertanya hal seperti itu?!! Aku tak mungkin semenderita ini karena kangen kalau aku tak mencintaimu, bodoh!”

Kali ini ia tak lagi terkekeh, tapi tertawa keras mendengar jawabanku.

“Terima kasih telah menungguku, Kyo-ya~” genggamannya di tanganku mengerat. Mendadak rasa penasaranku menggelitik.

“Memangnya kau kemana saja sebulan ini?”

“Em… Indonesia.”

“Indonesia? Untuk apa?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi.

“Eh, itu… aku ke Bali.” Ia menggaruk tengkuknya yang aku yakin tidak gatal sambil tersenyum takut-takut.

“Bali? Maksudmu kau liburan sementara aku tak dapat menemukanmu sama sekali di Seoul? NEO JINCHA!!!” nadaku terdengar melengking sekarang.

Seung Hyun oppa tiba-tiba berdiri, “Kita pulang sekarang, sudah gelap,” ucapnya mencari alasan.  Ia melangkah cepat meninggalkanku.

“Ya!!! Kita belum selesai, Choi Seung Hyun!”

Aku meraih tasku dan segera berlari mengejarnya, meninggalkan taman ini dengan segala kenangan di belakang.

________________________________________________________

-FIN-

Author’s Note :

Eheemmm… aku tau ini sangat amat telat, udah berbulan-bulan sejak ultahnya papi Tabi, dan aku gak akan membuat alibi lagi selain karena aku emang males banget buat ngerjain apapun, termasuk ngerjain tugas #plak

Ini… berantakan, aku tau. aku sendiri gak tau deh, menurutku ini gagal. aku sendiri baca ini aja bingung… pendek pula. maap ya, Dis… :(

keep RCL, guys… babaaai ^^/

 

My Note :

Heuheuheuu… saya agak dibikin tragis yee?

tapi overall saya lope lope sekalii dengan FF iniiii… Kenapa yaa? Mungkin karena papi tabi baik bangett sama sayaa… *cium suami*

hha… sumpaahh yaa Triii, makasih bangeeettt… ><

I really want my readers dance ‘Octopus Dance’ for you. O no, I’m not do it. hha.. :p

Betewe, jangan lupa komen guys, tunjukkan apresiasimu dalam menghargai karya orang lain. 😉

Gomawoyoooooooooooooo…. (_ _)