Title : A Love Never been Told

Author : Lumie91

Cast : Han Yejin (OC), Lee Sungmin(Super Junior), Dong Youngbae/Taeyang(bigbang), Lee Eunri (OC)

Genre : drama, sad

Ps : ini ff one shoot yang author buat disela-sela tugas kuliah yang begitu banyak. Gak tau terinspirasi dari apa, tiba-tiba pengen bikin ff yang agak sedih (tetep gak sedih-sedih amat kok, author juga gak suka bikin ff yg bikin nangis). Udah di post juga di blog author (http://lumie91.wordpress.com )

Disclaim : ff ini murni buatan dan hasil pikiran author sendiri yang dibuat dengan susah payah, tolong dihargai dengan tidak mengkopasnya yah… ^^

 

Yejin POV

Aku melangkahkan kaki ke tanah berumput yang agak basah karena embun pagi. Kuletakkan rangkaian bunga di sebuah makam. Sudah satu tahun Taeyang oppa pergi ke surga meninggalkanku seorang diri di dunia ini. Jangan pernah kau tanyakan bagaimana perasaanku, karena aku hanya akan menangis tanpa bisa menjelaskan apa yang kurasakan dalam hatiku. Kecelakaan bus yang terjadi setahun yang lalu telah merenggut kebahagian yang telah kurasakan selama bertahun-tahun.

Aku mengenal Taeyang oppa sejak aku berumur 6 tahun. Saat itu, Taeyang oppa dan keluarganya baru pindah ke Seoul dan menempati rumah di sebelah rumahku. Awalnya kami tidak pernah bertegur sapa. Aku hanya melihatnya sebagai seorang anak lelaki yang senang bermain di pekarangan rumahnya. Mula-mula ia bermain seorang diri, lalu kemudian ketika ia sudah mulai masuk sekolah, teman-temannya mulai datang untuk bermain bersamanya di pekarangan rumahnya. Aku hanya melihat mereka semua bermain dari jendela kamarku yang terletak di lantai dua dan kebetulan menghadap ke pekarangan rumahnya.

Setengah tahun setelah kepindahannya ke sebelah rumahku, kami belum pernah bertegur sapa. Tapi tanpa kusadari, melihatnya bermain di pekarangan rumahnya menjadi suatu kebiasaan yang selalu kulakukan selama berbulan-bulan. Aku hanya memandangnya dari jendela kamarku tanpa sedikitpun berniat untuk turun dan menyapanya agar ia juga mengajakku bermain. Sampai suatu hari, ia terlebih dulu menyapaku.

“Annyeong, siapa namamu? Taeyang imnida,” ucapnya sambil menjulurkan tangan ke arahku. Aku sedang mengelus anak anjingku yang baru saja dibelikan oleh appa sebagai hadiah ulang tahunku yang ketujuh. Waktu itu Taeyang oppa sedang melewati pagar rumahku sambil menenteng bola sepak, rupanya ia baru pulang bermain sepak bola bersama temannya.

“Ne?” aku hanya menatap tangannya yang terulur ke arahku.

“Siapa namamu? Bolehkah kita berkenalan? Siapa tahu kita bisa jadi teman!” ujarnya sambil tersenyum, matanya yang sipit membentuk setengah lingkaran terbalik ketika tersenyum. Aku masih terdiam, memandangi tangan dan wajahnya secara bergantian.

“Wae? Ah, tanganku kotor, yah? Mianhe,” ujarnya lagi seraya mengelap tangannya yang tadi terulur kepadaku ke celana pendeknya. Setelah memastikan tangannya bersih ia mengulurkannya lagi ke arahku, “Sekarang sudah bisa berkenalan? Siapa namamu?”

“Han… Han Yejin imnida,”jawabku pelan, aku tetap tidak membalas uluran tangannya. Taeyang oppa saat itu tidak kecewa, ia masih tersenyum lalu kemudian melambaikan tangannya ke arahku, “Mulai sekarang kita berteman!”

Sejak saat itu Taeyang oppa selalu menyapaku di manapun kami bertemu. Aku yang mulanya pendiam jadi mulai menerima kehadirannya. Sebagai anak tunggal aku terbiasa seorang diri, namun kehadiran Taeyang oppa telah merubah duniaku. Sampai ketika kami beranjak remaja aku menyadari bahwa aku mencintainya.

Taeyang oppa tidak pernah tahu aku mencintainya, aku tidak pernah berani mengutarakan perasaanku. Aku terlalu takut ia akan marah dan membenciku. Aku takut kami tidak bisa lagi bersama-sama jika seandainya dia tidak mencintaiku seperti aku mencintainya. Tapi kini aku menyesal karena tidak pernah memberitahunya bahwa aku sangat mencintainya. Tidak ada lagi kesempatan bagiku, Taeyang oppa telah pergi meninggalkanku selamanya.

Aku mulai merasa akan menangis saat ini. Mengingat Teaeyang oppa yang sangat kucintai. Melihatnya tertidur untuk selamanya. Aku mengusap air mata yang mulai menetes di pipiku.

“Jangan mengusapnya dengan tanganmu, matamu bisa perih,” kudengar seseorang berbicara kepadaku. Aku segera menoleh ke arah suara itu berasal, kulihat seorang namja berdiri di sana, “Ini, gunakan sapu tanganku.”

Namja itu memberikan sapu tangan berwarna biru muda kepadaku, aku memperhatikan tangannya yang terulur ke arahku selama beberapa saat seelum akhirnya mengambil sapu tangannya, “Khamsahamida.”

Namja itu menaruh rangkaian bunga di atas makam yang terletak di sebelah kanan makam Taeyang oppa. Kuperhatikan dia menutup kedua matanya lalu berdoa. Tak lama ia membuka matanya dan berkata, “Sudah setahun kau meninggalkanku, Eunri~ah”

Aku masih memperhatikannya, ketika ia tiba-tiba berbalik dan melihat ke arahku. “Lee Sungmin imnida,” ujarnya sambil mengulurkan tangannya lagi ke arahku.

“Ah, Ne, Han Yejin imnida.”

***

Sungmin POV

Hari ini tepat satu tahun Eunri meninggal. Ia adalah adikku yang paling berharga di dunia ini. Kepergiannya yang tiba-tiba karena kecelakaan bus membuatku, appa, dan juga

eomma syok. Kami tidak pernah membayangkan bahwa Eunri yang kami cintai akan meninggalkan kami secepat ini. Umur Eunri baru 20 tahun ketika ia kecelakaan.

Aku bertemu dengan seorang yeoja di pemakaman Eunri. Yeoja itu sedang menangis. Entah mengapa aku tertarik pada yeoja itu. Kuberanikan diri memanggilnya dan memberinya sapu tanganku untuk menghapus air matanya. Sosok yeoja itu mengingatkanku pada Eunri. Ekspresi wajahnya ketika sedang menangis sangat mirip dengan Eunri ketika ia menangis.

Sekarang kami sedang duduk di sebuah taman dekat pemakaman. Yeoja di sebelahku ini bernama Han Yejin. Dari tadi ia hanya duduk diam sambil memperhatikan ujung sepatunya. Kuperhatikan wajahnya dengan seksama, tidak ada kemiripan dengan wajah Eunri, tapi mengapa tadi aku merasa dia begitu mirip dengan adikku yang telah tiada itu?

“Yejin~sii, boleh aku tahu, makam siapa yang tadi kau kunjungi?” tanyaku mencoba membuka pembicaraan.

“Ne? Ah, itu makam Taeyang oppa, dia adalah…” suaranya tertahan, Yejin menarik napasnya pelan sebelum melanjutkan kalimatnya, “Orang yang sangat penting dalam hidupku.”

“Ah, aku mengerti,” ujarku. Eunri juga orang yang paling penting dalam hidupku.

“Kau sendiri, makam siapa yang tadi kau kunjungi, oppa?” tanyanya kepadaku. Kami sudah memberitahu umur kami masing-masing. Usia kami terpaut 5 tahun, Yejin~sii lahir di tahun yang sama dengan Eunri, hanya berbeda bulan. Karena itulah Yejin memanggilku dengan sebutan oppa.

“Makam adikku. Aku sangat menyayanginya melebihi apapun. Dia adalah adik yang sangat manis bagiku,” jawabku, Yejin hanya mengangguk pelan seolah mengerti perasaanku.

Selanjutnya kami hanya terdiam dalam sunyi. Mencoba memahami diri kami satu sama lain. Memahami perasaan kami yang sama-sama kehilangan orang yang kami cintai. Setelah terdiam beberapa menit, kami mulai mengobrol. Saling bertanya satu sama lain, aku merasa begitu nyaman dan tenang dengan yeoja di sampingku ini. Aku pun mengetahui ternyata Taeyang dan Eunri meninggal pada kecelakaan bus yang sama.

***

Yejin POV

Aku cukup kanget mengetahui bahwa Taeyang oppa dan Eunri~sii meninggal karena kecelakaan bus yang sama. Dapat kurasakan Sungmin oppa juga merasakan hal yang sama. Ia juga terkejut namun dengan cepat menenangkan dirinya kembali.

“Yejin~ah,” panggil Sungmin oppa menyadarkanku dari kekagetan, “Sebenarnya aku tidak tahu mengapa, tapi tadi di pemakaman, aku merasa kau sangat mirip dengan Eunri.”

“Mwo?” aku menatap wajah Sungmin oppa yang sedang menatapku.

“Ne, tapi sekarang kuperhatikan, wajahmu sungguh berbeda dengan Eunri. Karena itulah aku jadi bingung mengapa tadi kau terlihat seperti Eunri,” jelas Sungmin oppa. Aku hanya diam mendengarkan ucapannya. Dia pun terdiam setelah menyelesaikan ucapannya.

“Sepertinya kita harus pulang sekarang, sudah mulai gelap,” ujar Sungmin oppa memecah keheningan, “Biar aku antar kau pulang, Yejin~ah.”

Aku mengangguk pelan. Walau hanya beberapa jam berbincang dengannya aku merasa seperti telah lama mengenalnya. Aku merasa nyaman berada dekat Sungmin oppa, perasaan nyaman yang berbeda dengan ketika aku berada bersama Taeyang oppa.

Sungmin oppa bangkit dari tempat duduknya. Aku mengikuti langkahnya menuju mobilnya yang terparkir di pinggir taman. Tak butuh waktu lama, Sungmin oppa melajukan mobilnya menjauhi pemakaman. “Sampai jumpa lagi, Taeyang oppa. Sampai jumpa juga, Eunri~sii.”

***

Author POV

Hari itu, seorang gadis bertubuh mungil berdiri di halte. Ia sedang menunggu bus yang akan membawanya pulang ke rumah bertemu dengan keluarganya. Hari ini ia pergi bersama teman-temannya untuk merayakan ulang tahun salah seorang teman baiknya.

Ada beberapa orang yang menunggu bus di halte itu. seorang namja yang terlihat berusia 20an, seorang ibu separuh baya, dan dua orang gadis berpakaian seragam smp yang sedang asik berbincang-bincang sambil sesekali tertawa kecil. Ketika bus yang mereka tunggu datang, mereka segera masuk ke dalam bus. Gadis itu masuk terburu-buru hingga tanpa sengaja menjatuhkan dompetnya.

“Hei, dompetmu terjatuh,” seru seorang namja yang menyusulnya naik ke dalam bus.

“Ah, ne?” gadis itu menoleh ke belakang.

“Ini dompetmu terjatuh tadi saat kau naik ke dalam bus,” pinta namja itu seraya mengulurkan dompet ke arahnya.

“Khamsahamida,” jawab gadis itu ketika menerima dompetnya kembali. Kemudian duduk di sebuah bangku yang kosong, namja yang tadi mengembalikan dompetnya duduk di sebelahnya.

“Taeyang imnida,” ujar namja itu sambil mengulurkan tangannya.

“Eunri imnida,” balas gadis itu sambil menerima uluran tangan namja di sampingnya.

“Senang berkenalan denganmu,” ujar Taeyang sambil tersenyum, “Eunri~ssi tadi aku tanpa sengaja melihat fotomu bersama seorang namja di dompetmu, apakah itu pacarmu?”

“Mwo? Ah, anii, bukan,” Eunri mengeluarkan dompetnya, menunjukkan foto yang dimaksud Taeyang, “Dia adalah kakakku.”

“Oh, begitu rupanya,” kata Taeyang sambil tersenyum.

“Ne, aku sangat menyayanginya. Dia juga sangat menyayangiku. Dia selalu menjagaku. Sampai-sampai dia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri,” cerita Eunri.

“Kakak yang baik, apakah dia sudah punya pacar?” tanya Taeyang.

“Anii, dia tidak pernah memiliki kekasih sekalipun banyak yeoja yang tertarik padanya. Aku berharap dia akan mendapatkan yeoja yang baik dan mencintainya.”

“Ne, aku ikut berdoa buat kakakmu itu,” ujar Taeyang yang diikuti tawa Eunri, “Mengapa tertawa?”

“Mianhe, aku hanya merasa kau lucu. Kau baru saja mengenalku, kau tidak mengenal oppaku, tapi kau sudah mau berdoa baginya,” jawab Eunri sambil tersenyum ke arah Taeyang.

“Haha, begitulah aku. Biar adil bagaimana kalau kau juga berdoa untuk seseorang yang juga penting bagiku?”

“Ne, boleh juga. Siapa dia?”

Taeyang mengeluarkan dompetnya. Menunjukkan foto seorang yeoja pada Eunri, “Namanya Han Yejin. Dia adalah yeoja yang penting buatku. Aku harap dia juga hidup bahagia karena dia sangat memperhatikanku. Ia begitu pendiam, tapiia sangat dekat denganku.”

“Dia adikmu?”

“Anii, bukan. Dia yeoja yang tinggal di sebelah rumahku. Kami sudah mengenal selama 14 tahun,” jawab Taeyang sambil memperhatikan foto Yejin di dompetnya.

“Baiklah, aku akan berdoa untuk kebahagiannya juga karena kau juga sudah berdoa buat oppaku. Tapi, Teyang~sii, kenapa bukan kau saja yang membahagiakannya? Kalau yang kulihat dari caramu memandang fotonya sepertinya kau mempunyai perasaan khusus terhadapnya. Apa kau mencintainya?” tanya Eunri penasaran sambil tetap memperhatikan Taeyang yang masih memandang foto Yejin.

“Hahaha,” Taeyang tertawa sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, ”Ya, aku memang mencintai sejak pertama kali aku melihatnya sedang memandangku dari jendela kamarnya waktu kami masih kecil.”

 

END