Title: Time Traveler (Part 6)

Author: bangmil

Length: Continue

Genre: Romance, Sci-Fi

Cast: Han Sehyun (OC), Hoya (Infinite), Seungyeon (KARA), Infinite members

Happy reading~

***

Sehyun’s POV

“Permisi!”

Sudah kesekian kalinya aku mengetok pintu rumah ini dan sepertinya jari-jariku sudah mulai kaku. Dari pertama kali datang, memang sudah timbul firasat tidak menyenangkan di hatiku. Melihat sekeliling rumah tua yang cukup kotor dan terkesan tidak terawat ini membuat otakku berpikir bahwa rumah ini tidak berpenghuni.

Aku menggigit bibir bagian bawahku, gelisah. Apa lagi yang bisa kulakukan? Ini adalah satu-satunya jalan keluar, dan aku tidak boleh menyerah disini.

“Kau yakin alamatnya benar?” tanya Hoya yang sepertinya sudah tidak sabar menungguku.

Aku menjawabanya dengan mengangguk pelan lalu mencoba mengetok pintu rumah ini, lagi. Namun hasilnya tetap sama, tak ada jawaban. “Sepertinya memang tidak ada orang di dalam.”

Aku mulai pasrah. Baru saja aku membalikkan badan, melihat ke arah jalan dan mendapati seorang pemuda melintasi kami dengan sepedanya sembari memandang kami berdua dengan heran. Aku memperhatikan wajahnya, entah kenapa wajah itu terasa sangat familiar. Eh tunggu, itu kan-

“Dongwoo ahjussi!” refleks kata-kata itu meluncur dari bibirku.

Seketika pemuda tadi menghentikan sepedanya. Ia tampak bingung dan menoleh ke arahku. “Ahjussi?”

***

“Kau sepupu Seungyeon?” tanya Dongwoo ahjussi begitu mendengar pengakuan palsuku. “Oh.. tapi aku sedikit terkejut waktu kau memanggilku dengan sebutan ahjussi.” Lanjutnya, dilanjut dengan tawa renyah khas miliknya.

Aku pun ikut tertawa walau agak dipaksakan. “Seungyeon unni sering bercerita tentang Dongwoo ssi, jadi aku secara tidak sengaja memanggil ahjussi, haha..” Yah, mana mungkin

aku tidak mengenali wajah ahjussi yang cukup unik itu. Walaupun dia berubah menjadi bayi pun, sepertinya aku tetap bisa mengenalinya.

“Jinjja? Seungyeon sering bercerita tentangku? Wah..” Wajah ahjussi tampak berseri-seri mendengar perkataanku, atau lebih tepat disebut kebohonganku. Pandangannya beralih ke arah orang di sebelahku yang sedari tadi diam. “Lalu ini siapa?” tanyanya sembari menunjuk Hoya.

“Ah, ini..” aku menoleh ke arah Hoya sambil memikirkan alasan yang sekiranya masuk akal. “Ini.. Oppa! Iya.. Ini kakakku, Hoya oppa, ahaha..” jawabku kikuk sembari memberikan sinyal pada Hoya untuk mengikuti aktingku. Ia pun membungkuk pada Dongwoo ahjussi dan memperkenalkan diri.

“Eh? Kalian kakak beradik? Haha, tidak mirip sama sekali!” ujar ahjussi lagi, dan ia kembali tertawa. Ternyata sifat polos dan wajahnya yang selalu gembira itu memang sudah bawaan sejak lahir. Tapi dalam situasi seperti ini, melihat ahjussi bertingkah seperti itu rasanya membuatku kesal juga.

“Ah, iya. Ngomong-ngomong kenapa kalian disini? Seungyeon kan sudah pindah ke Yongin sejak ia lulus tahun lalu. Jangan bilang kau tidak tahu?” tanyanya padaku.

Dalam hati aku terkejut tapi berusaha menutupinya dengan bersikap tenang. “Mm.. Akhir-akhir ini aku tidak pernah menghubunginya jadi aku tidak tahu.” jawabku berbohong, lagi.

“Oh.. Aku kurang begitu tahu alamat rumahnya, tapi aku tahu nama sekolahnya. Bagaimana?” tawarnya kemudian. Aku mengangguk dan mulai mencatat nama sekolah yang diberitahu ahjussi. Tak lama kemudian, ia pun pamit karena sibuk dengan pekerjaan sambilannya.

Sepeninggal Dongwoo ahjussi, aku mengalihkan pandanganku pada Hoya yang tampaknya sudah sangat bosan. Yah, maklum sih. Aku sudah banyak merepotkan dia dan keluarganya. Wajar kalau Hoya tidak suka, apalagi dengan sifatnya yang pendiam itu, aku jadi tidak tahu apa yang dipikirkan olehnya.

Tiba-tiba Hoya berdiri. Sepertinya dia sudah tidak tahan untuk segera pulang. Aku menghela nafas pelan. Ya, semua memang salahku. Seandainya saja kemarin aku tidak salah mengucapkan tahun, semua akan berjalan lancar sesuai rencana dan aku pun bisa segera pulang.

“Ayo.” Ajak Hoya.

Aku pun mengerutkan alisku, bingung. “Kemana?”

Sekarang giliran Hoya yang mengerutkan alisnya. “Bukankah setelah ini kita akan pergi ke Yongin?”

Mataku terbelalak begitu mendengar ucapan Hoya. “Kau mau mengantarku ke Yongin? Sungguh?” tanyaku, kemudian dibalas dengan anggukan oleh Hoya. “Gomawo!” seruku sambil melonjak kegirangan.

Hoya menghela nafas, lalu melempar pandangannya ke arah lain. “Mana mungkin aku membiarkan orang aneh pergi sendirian.” Ia bergumam pelan tapi masih aku bisa mendengarnya dengan cukup jelas. Baiklah, aku anggap itu sebagian dari kebaikannya daripada celaan.

Kami berdua pun akhirnya berada di dalam bus yang mengantarkan kami ke Yongin. Bus ini cukup sepi, jadi masih banyak tempat kosong yang tersedia. Aku sendiri sekarang duduk di jok belakang paling kiri dan Hoya memilih untuk duduk di jok paling kanan, berjauhan denganku.

Diam-diam, aku memperhatikannya yang sedang menikmati pemandangan di luar jendela. Yah kurasa, Hoya memang orang baik tapi ia tidak menunjukkannya. Atau setidaknya aku berterimakasih karena ia sudah mau repot-repot mengantarku. Mm.. tapi tunggu, ia sebenarnya memang berniat baik atau jangan-jangan ia sengaja melakukannya karena ingin aku cepat-cepat pulang?

Tiba-tiba ia membalikkan badan, membuatku tersentak. Dengan cepat aku melempar pandanganku ke arah lain, namun ia justru berjalan menghampiriku. Refleks aku menutupi wajahku yang entah harus aku taruh mana ini dengan tasku.

Hoya memutar bola matanya, heran. “Kau ini kenapa sih? Sudah sampai.”

“Eh?” Aku menoleh ke arah luar jendela. Di halte tempat bus berhenti ini memang tertuliskan nama kota Yongin. Dengan cepat, aku pun segera turun tanpa melihat Hoya yang kebingungan dengan tingkahku.

“Aiss, gadis aneh..”

***

“Bagaimana kita bisa menemukan ibumu di tengah kerumunan orang seperti ini?” keluh Hoya yang bersandar dengan santai di tembok. Dia bahkan tidak membantuku sama sekali tapi tega-teganya ia mengeluh seperti itu.

Sudah lima belas menit bel pulang sekolah berbunyi. Banyak siswa dan siswi yang keluar dari sana, tapi aku belum menemukan ibuku di antara mereka. Aku sudah mulai putus asa, tapi sadar kembali begitu melihat sesosok siswi yang mirip dengan ibuku semasa muda berjalan bersama temannya dari kejauhan. Aku kembali bersemangat, rasa lelah yang tadi kurasakan pun hilang seketika.

“Maaf, permisi..” sapaku hati-hati. “Anda yang bernama Han Seungyeon?”

Ibu sedikit ragu, namun ia mengangguk. “Iya. Ada apa?”

“Maaf tiba-tiba memanggil anda. Tapi begini.. saya sedang mencari seorang pemuda. Sepertinya anda kenal dengannya,” ujarku sembari menunjukkan foto Nam Woohyun pada ibu.

“Ini aku ya?” gumamnya sambil memperhatikan foto tersebut.

“Anda kenal dengan pemuda di sebelah anda kan?” tanyaku pada ibu, sambil berharap.

“Mm.. Gadis ini memang mirip denganku, tapi aku tidak pernah kenal dengan pemuda ini.” Jawabnya, membuat aku bingung. “Kalau begitu aku permisi-”

“Tu-tunggu!” refleks aku mencegahnya. “Aku yakin ini anda. Dan lihat, bahkan kalian berdua sekelas.” Aku kembali menyodorkan foto tersebut sambil harap-harap cemas. Semoga saja ibu ingat dengan pemuda bernama Nam Woohyun ini. Kalau tidak, apa lagi yang harus ku lakukan?

Ibu memperhatikan foto itu lagi, tapi tetap saja ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak ingat kapan foto ini diambil.”

“Tapi..” aku berusaha mencegahnya lagi. Namun tiba-tiba ibu memegang keningnya dengan wajah pucat, sepertinya ia sedang pusing dan kelelahan.

“M-maaf..” Aku mengundurkan diri. “Tapi.. jika anda mengingat sesuatu tolong beritahu saya.” Ujarku sembari menyerahkan secarik kertas bertuliskan namaku, tentu saja tanpa nomor telepon karena di jaman ini belum diciptakan ponsel.

Ibu pun tersenyum tipis dan melanjutkan perjalanannya pulang. Dari jauh aku hanya bisa melihat pungungnya yang lambat laun menghilang. Aiss.. kenapa ibu bisa lupa dengan pemuda ini sih?

“Bagaimana?” tanya Hoya yang berjalan menghampiriku. Aku menghela nafas, dan menggeleng pelan. “Sudah kuduga. Apa jangan-jangan ini foto hantu?”

Refleks aku memukul pundaknya kesal. “Tentu saja bukan!”

Dengan putus asa, kami pulang tanpa mendapatkan klu satu pun. Seperti tadi, kami berdua duduk berlawanan tempat. Aku sendiri juga butuh ketenangan untuk merenungkan langkah apa yang harus ku ambil setelah gagal seperti ini. Tidak mungkin kan aku kembali ke masa depan dengan tangan kosong, padahal ibu sudah susah payah membuat ramuan ini. Aiss..

Setelah turun dari bus, tiba-tiba Hoya menghampiriku. “Mau ikut aku ke suatu tempat?”

(To be continued..)

Kali ini dengan Sehyun’s POV, mudah dimengerti kan? Hehehe. Makasih buat yang udah baca, jangan lupa komen juga ya~ ^^

***

(Next Chapter)

“Hoya ssi, sampai kapan kita harus menunggu?”

“Bukan, hyung. Dia ini gadis aneh yang jatuh dari langit.”

“Sunggyu?”

“Sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan,”

“I-ini kan..”

***