When Christmas come… (1/?)

 

 

Author : Kim Mi Yoon

Length : Chapter

Genre : Romance

Cast : Kim Mi Yoon / Shin Mi Cha

Kim Junsu

Cameo : Hwang Chansung

Nichkhun

Jang Wooyoung

Lee Junho

Ok Taechyeon

Kim Ji Woo

 

 

Annyeong reader semua..^o^..

Ketemu lagi sama author Mi Yoon..

Jeongmal gomapseumnida atas koment”nya di FF ku yang Psikopat dan If You not…

Kali ini aku balik lagi dengan cast yang sama ,yaitu 2PM.. Happy reading and jangan lupa koment maupun sarannya.. 1 koment sangat berarti buatku..^o^

 

 

Author POV

“Kamu pulang ya sayang. Appa sangat merindukanmu. Apa kamu tidak merindukan appa?”

“Tentu saja aku merindukan appa. Tapi aku belum bisa pulang, masih ada yang harus aku kerjakan disini”

“Biar appa yang urus semuanya, kamu tidak usah khawatir. Untuk pasportmu juga biar appa yang urus”

“Appa, aku ingin menjadi orang yang bisa bertanggung jawab. Kalo appa yang urus, berarti aku hanya mengandalkan kekayaan appa saja. Aku tidak mau orang-orang berpikir aku tidak mampu melakukan suatu hal yang hebat. Lagipula, kenapa appa ingin sekali aku pulang. Ada hal buruk yang terjadi?”

“Putri appa sudah dewasa rupanya. Baiklah appa izinkan kamu menyelesaikan urusanmu disana. Pokoknya setelah urusanmu selesai kamu harus pulang. Ada yang ingin appa beritahukan padamu, tapi nanti saja setelah kamu tiba disini”

Di Bandara

“Appa” Mi Yoon memanggil appanya, yang berdiri tidak jauh dari tempatnya

“Mi Yoon. Bagaimana kabarmu? Kamu jauh lebih cantik dari 4 tahun yang lalu” kata appa Mi Yoon, Kim Ji Woo, sambil memeluk putri satu-satunya.

“Seperti yang appa lihat, aku baik-baik saja. Appa juga sepertinya baik-baik saja. Tentu saja putri appa ini tambah cantik, kalo tidak cantik bukan Mi Yoon namanya, hehehe..”jawab Mi Yoon yang disambut dengan belaian lembut appanya.

Di Rumah

“Selamat datang, agassi” sambut pelayan-pelayan saat Mi Yoon dan appanya tiba di rumah. Lalu mereka makan dan Mi Yoon menceritakan apa saja yang ia lakukan di Australia selama dua tahun kepada appanya. Appa mendengarkan apa yang diceritakan Mi Yoon,dan terkadang mereka tertawa. Setelah selesai makan, appa mengajak Mi Yoon ke taman belakang rumah. Taman yang indah dan sejuk. Lalu mereka duduk di bangku taman yang ada disana. Mi Yoon menikmati udara sekelilingnya.

“Aah..segarnya. Sudah lama sekali aku tidak pulang. Keadaan rumah sudah banyak yang berubah.” Mi Yoon melanjutkan sambil melihat keadaan di sekelilingnya.

“Mi Yoon, duduklah” Kim Ji Woo mengajak Mi Yoon duduk dihadapannya. Mi Yoon menuruti perintah appanya dan langsung duduk didepannya.

“Ada yang ingin appa beritahukan padamu” lanjut Ji Woo sambil memperlihatkan buku album foto lalu membuka halamannya. Tangan Ji Woo berhenti membuka halaman ketika dilihatnya foto enam orang pria.

“Lihatlah” Ji Woo memperlihatkan foto itu ke Mi Yoon. Untuk beberapa saat, Mi Yoon memperhatikan foto itu. Tidak ada yang aneh, pikirnya.

“Apa yang aneh dari foto ini?” tanya Mi Yoon heran. Ji Woo tersenyum melihat wajah heran putrinya.

“Memang tidak ada yang aneh dengan foto itu. Hal yang ingin appa beritahukan padamu ada hubungannya dengan enam pria dalam foto itu” Ji Woo menjelaskan maksudnya. Mi Yoon melihat foto itu lagi lalu menggeleng, tanda tidak mengerti apa maksud appanya.

“Kamu sudah berusia 22 tahun. Tandanya kamu sudah mulai dewasa. Appa ingin ada yang meneruskan perusahaan yang appa kelola ini. Appa ingin kamu mulai belajar untuk bekerja di perusahaan” Appa mencoba menjelaskan lagi.

“Aku mengerti. Lalu apa hubungannya dengan enam pria ini?” tanya Mi Yoon yang masih belum mengerti.

“Enam pria ini adalah orang-orang yang appa pilih untuk appa didik menjadi seseorang yang mampu bekerja dengan baik di perusahaan nantinya. Selain cerdas, mereka juga memiliki wajah yang tampan dan memiliki kelebihan yang berbeda-beda satu sama lain. Setelah cukup matang pengetahuan yang mereka terima, mereka akan bekerja di perusahaan dan dapat menjadi calon pemimpin perusahaan” lanjut appa.

“Lalu, untuk apa appa menyuruhku untuk belajar mengenai perusahaan kalo appa sudah menemukan calon penerus perusahaan” Mi Yoon menggelengkan kepalanya

Ji Woo tersenyum,”Ada satu syarat lagi untuk menjadi calon pemimpin perusahaan. Calon pemimpin perusahaan adalah calon suamimu kelak” lanjut appa.

“Calon suami?” Mi Yoon benar-benar kaget

”Appa jangan bercanda dong. Aku kan masih terlalu muda untuk menikah. Lagipula,aku tidak suka dijodohkan seperti ini” lanjut Mi Yoon

“Appa tidak bilang kamu harus menikah sekarang juga. Yang appa katakan adalah siapapun yang kamu pilih sebagai suamimu, ia akan menjadi pemimpin perusahaan. Tapi appa berharap calon suamimu adalah salah satu dari enam pria ini” kata Ji Woo sambil memperlihatkan foto itu lagi.

“Kenapa harus diantara enam pria ini. Bagaimana kalo aku mencintai pria lain, apa appa tidak mengizinkan aku menikah dengannya?” Mi Yoon mulai marah

“Appa mengizinkan kamu menikah dengan pria lain, asalkan ia mencintaimu dengan tulus dan mempunyai pekerjaan yang layak. Appa hanya berharap kamu bisa memilih salah satu dari enam pria ini, karena mereka sudah appa seleksi sendiri dan mereka pantas untuk menjadi calon suamimu”

“Pokoknya aku tidak setuju” Mi Yoon membanting meja dengan kesal

“Baiklah kalo kamu tidak setuju, tapi setidaknya cobalah untuk mengenal mereka terlebih dahulu. Setelah kamu bertemu dan mengenal mereka satu demi satu, dan kamu tetap tidak setuju, appa tidak akan memaksamu. Kamu bebas memilih yang terbaik untukmu”

Mi Yoon terdiam, memikirkan yang appanya katakan.Dan akhirnya..

“Baiklah,aku setuju. Tapi aku punya satu syarat” kata Mi Yoon

“Syarat? Apa syaratnya?” tanya appa

“Syaratnya adalah saat bertemu mereka, aku harap appa tidak menganggapku sebagai Mi Yoon. Aku ingin appa menganggapku sebagai orang lain. Aku ingin tau bagaimana perlakuan mereka terhadapku. Kalo mereka tau aku ini Mi Yoon, mereka pasti memperlakukan aku dengan sangat baik. Apa appa setuju dengan syaratku?” Mi Yoon menjelaskan pendapatnya

“Hmm…kamu benar juga. Baiklah, appa setuju dengan syaratmu. Besok kita pergi ke villa di Busan dan bertemu dengan mereka. Setuju?” Appa tersenyum

“Yah..baiklah” jawab Mi Yoon

 

Sementara itu,di villa Busan…

“Ne, arraseo” kata Chansung saat menjawab telepon

Wah, gawat nih, pikir Chansung setelah menutup telepon. Lalu ia lari menuju ruangan khusus. Ruangan ini disebut ruangan khusus karena ruangan ini adalah ruangan khusus bagi Chansung dan hyungnya. Di ruangan ini mereka bebas melakukan banyak hal karena didalam ruangan ini sudah disiapkan hal-hal yang mereka perlukan.

Saat Chansung masuk ke dalam ruangan, hyungnya masih sibuk dengan urusannya masing-masing. Junsu asyik membaca buku keuangan. Maklum, diantara mereka Junsulah yang paling pintar. Dia sudah banyak memenangkan perlombaan cerdas cermat. Bisa dibilang diruangan ini,dipenuhi dengan piagam-piagam penghargaan milik Junsu. Nichkhun asyik menelepon ceweknya, dibaca: korbannya. Diantara mereka, Nichkhun adalah satu-satunya yang paling tega dan bisa memutuskan cewek padahal dia dan ceweknya baru pacaran selama 2 menit. Taecyeon yang asyik mengangkat burblenya. Junho yang masih serius memasak, diantara mereka yang paling jago memasak adalah Junho, dan Wooyoung yang asyik ngedance ala B-boy.

“Hyung” kata Chansung sambil menutup pintu

”Ada masalah serius” Chansung memulai pembicaraan.

“Ada masalah apa?” tanya Junsu sambil tetap membaca bukunya.

“Hyung…Besok Ahjussi datang kesini” jawab Chansung

Chansung cs memanggil Mi Yoon appa, Kim Ji Woo, dengan sebutan Ahjussi.

“Lalu, masalahnya apa? Bukankah besok Ahjussi akan memberikan kita ujian lagi, itu selalu terjadi setiap minggu kan. Jadi, apa masalahnya?” tanya Wooyoung, kali ini sedang melakukan handstand

“Yah..memang Ahjussi selalu datang setiap minggu. Tapi kali ini berbeda. Besok Ahjussi akan datang dengan seorang yeoja” jawab Chansung.

“Yeoja?” kata Nichkhun setelah menutup teleponnya, begitu mendengar kata ”yeoja”, Nichkhun langsung melupakan pacarnya [dibaca:korbannya]

“Apa yeoja itu cantik?” tanya Nichkhun dengan mata berbinar-binar

“Aku tidak tau yeoja itu cantik atau tidak, yang pasti yeoja itu sangat penting bagi Ahjussi, makanya Ahjussi ingin kita semua ada saat yeoja itu datang” kata Chansung menjelaskan

“Semoga yeoja itu cantik,bukan..sangat cantik maksudku” kata Nichkhun sambil memohon pada Tuhan

“Semoga yeoja itu tidak lama-lama disini” gumam Junsu sambil tetap membaca bukunya

**

 

Keesokan harinya

“Selamat datang,Ahjussi” kata Junsu cs menyambut kedatangan Kim Ji Woo

“Ne..” kata Ji Woo ssi sambil tersenyum dan melihat satu persatu anak didikannya itu.

”Lho?” Ji Woo ssi menyadari satu hal yang janggal

”Kenapa kalian hanya berlima saja, kemana yang satu lagi? Apa dia sedang sibuk?” tanya Ji Woo ssi.

“Ah, ne. Hmm..Wooyoung sedang bersiap-siap. Mungkin sebentar lagi dia akan turun” jawab Taechyeon.

Tiba-tiba…

Bruk… Brak… Gubrak…

Semua orang langsung melihat kearah asal suara itu

“Aduh..duh…pantatku sakit sekali” kata Wooyoung sambil mengelus-elus pantatnya. Yah..bunyi tadi adalah bunyi jatuhnya Wooyoung dari tangga

“Ah..Ahjussi, anda sudah datang?” kata Wooyoung saat melihat siapa yang datang sambil tetap mengelus-elus pantatnya yang masih sakit

Wooyoung langsung berdiri dan menghampiri tempat dimana Ji Woo ssi berdiri.

“Wooyoung, kamu tetap saja ceroboh” Ji Woo ssi tersenyum lalu melanjutkan kata-katanya, ”Maksud kedatangan saya kesini bukan untuk memberi kalian ujian. Kali ini, saya ingin memperkenalkan seseorang kepada kalian. Masuklah” Ji Woo ssi mempersilahkan seseorang masuk.

Semua mata sudah melihat pintu masuk,menantikan kedatangan seseorang. Masuklah seorang yeoja yang sangat cantik bak seorang putri.

“Annyeong” kata yeoja itu memberi salam sambil tersenyum.

“Dia adalah anak sahabatku yang sudah kuanggap sebagai putriku sendiri. Dia juga akan mendapatkan pelatihan dan pendidikan seperti yang kalian dapatkan. Usianya sudah 22 tahun. Jadi, kuharap kalian dapat berteman baik dengannya. Nah, sekarang perkenalkan

dirimu pada semuanya” kata Ji Woo ssi menjelaskan maksud kedatangannya dan mempersilahkan yeoja itu memperkenalkan dirinya.

“Annyeong semuanya. Namaku Shin Mi Cha. Senang bertemu dengan kalian” kata yeoja itu memperkenalkan dirinya.

Tiba-tiba ada seseorang yang maju mendekati Mi Cha, lalu berlutut dan mengeluarkan sebucket mawar merah. Yah..orang itu adalah Nichkhun.

“Bunga cantik untuk yeoja yang cantik” kata Nichkhun sambil tersenyum, senyum ala playboy.

“Wah, indahnya. Gomawo” Mi Cha tersenyum dan menerima bucket bunga yang Nichkhun berikan

Nichkhun membalas senyum Mi Cha.

“Baiklah. Oh iya, karena Mi Cha belum memahami semuanya jadi kalian harus menjelaskan semua hal dari awal. Saya memberikan tugas utama ini padamu, Junsu” kata Ji Woo ssi sambil melihat Junsu

“Hah?! Kenapa harus aku?” protes Junsu

“Karena kamu yang lebih memahami semua hal yang sudah saya ajarkan. Kamu juga harus menjaga dan melindungi Mi Cha, terutama..” mata Ji Woo melihat Nichkhun yang sedang mencoba meraih tangan Mi Cha

”Terutama dari orang seperti Nichkhun..” lanjutnya

Nichkhun kaget mendengar namanya disebut. Dia langsung melepaskan tangannya yang baru saja menggenggam tangan mungil Mi Cha dan hanya bisa tertawa malu.

“Baik, hanya itu saja yang ingin saya beritahukan pada kalian. Kalian bisa bubar sekarang. Dan Mi Cha, kamarmu sudah kusiapkan,ayo ikuti Ap..ehmm..Ahjussi” Ji Woo ssi mulai melangkah pergi

“Permisi semuanya” Mi Cha tersenyum lalu mengikuti kemana Ji Woo ssi pergi.

Setelah pintu tertutup, Junsu cs masih membicarakan hal yang baru saja diberitahukan Ahjussinya, terutama Junsu yang masih menggerutu, tanda tidak setuju dengan perintah yang diberikan Ji Woo ssi padanya.

“Apa-apaan ini. Aku harus mengajari anak itu? Aku benar-benar tidak setuju” protes Junsu

“Kau beruntung hyung, kau bisa bersamanya setiap saat. Aku iri padamu..” Nichkhun menghela nafas

“Kalo kau mau, kau saja yang menggantikanku. Aku tidak sudi bersamanya setiap saat” lanjut Junsu

“Benarkah? Aku setuju kalo begitu” kata Nichkhun senang

“Jangan seperti itu hyung, ini perintah langsung dari Ahjussi. Jika kau tidak melakukannya, Ahjussi akan marah besar” Junho tidak menyetujui rencana hyungnya

“Yah, benar ,lebih baik kau melakukannya dengan baik hyung” Wooyoung mendukung pendapat Junho

“Hehh..menyebalkan” Junsu merebahkan badannya di sofa.

 

Mi Yoon mengubah namanya menjadi Mi Cha dan meminta appanya untuk menganggapnya sebagai anak sahabatnya. Di awal-awal Mi Yoon menjadi Mi Cha, Appanya sulit memanggil Mi Yoon, putrinya, dengan nama Mi Cha. Tapi, seiring berjalannya waktu, Appanya mulai terbiasa dengan nama Mi Cha.

Junsu menepati janjinya pada Ji Woo ssi, Mi Yoon appa, untuk mengajari Mi Yoon bermacam-macam hal yang bersangkutan dengan perusahaan. Tak terasa sudah sebulan penuh, Mi Yoon tinggal bersama Junsu cs. Lima bulan pun berlalu begitu cepat. Mi Yoon belajar dan bercanda bersama Junsu cs. Mi Yoon juga kuliah ditempat yang sama dengan Junsu cs.

Mi Yoon pun sudah mengetahui kelebihan dan kekurangan dari Junsu cs. Wooyoung yang terkenal paling ceroboh, kekurangannya ini cukup mengganggu, apalagi saat Junsu cs menyuruh Wooyoung membawa barang-barang, pasti ada saja barang yang tertinggal. Kelebihannya adalah jago dance, badan Wooyoung sangat lentur. Wooyoung juga suka makan, entah ini kelebihan atau kekurangannya juga, tapi jika Junho sudah mulai memasak, Wooyounglah yang pertama kali mencoba makanan buatan Junho.

Junho adalah satu-satunya diantara mereka yang paling jago memasak. Masakannya bisa dikatakan sama dengan masakan buatan chef hotel bintang lima. Selain Junsu cs, Mi Cha juga suka masakan Junho.. Junho juga bersifat keibu-ibuan, dialah yang paling cerewet saat Junsu cs membuat rumah berantakan dan kotor.

Taechyeon adalah orang yang paling gila olahraga. Bisa dikatakan, semua waktunya dihabiskan untuk pergi ke gym. Mi Cha juga sering diajak ke gym.

Nichkhun adalah cowok paling playboy, dia paling jago merayu cewek dan dapat membuat cewek kelepek-kelepek hanya dalam waktu 1 menit. Makanya, Junsu cs menyebut Nichkhun dengan sebutan “Misoui Jugeum” (artinya:senyuman maut). Wajahnya yang tampan, ditambah lagi dengan senyumnya yang dapat membuat cewek-cewek terhipnotis dan langsung jatuh hati pada Nichkhun. Mi Cha saja hampir menjadi korbannya.

Chansung mempunyai pekerjaan sampingan menjadi model di salah satu rumah produksi yang sudah terkenal menghasilkan model-model handal dan profesional. Diantara semuanya, Chansunglah yang paling perhatian pada Mi Cha, mungkin karena usianya yang sama dengan Mi Cha. Lalu yang terakhir adalah Junsu. Junsu adalah cowok yang paling cuek dan jutek terutama pada cewek. Setiap kali mendengar kata”cewek”, Junsu langsung kesal dan marah-marah tidak jelas, apalagi sejak Mi Cha datang dan tinggal bersama mereka. Walaupun seperti itu, Junsu adalah orang yang bertanggungjawab dan dapat dipercaya. Ji Woo ssi sangat mempercayai Junsu.

**

 

Malam hari…

Dduarr..Dduaarr…

Petir menggelegar seluruh ruangan disertai hujan deras. Di TV memang sudah diberitahu bahwa malam ini akan terjadi badai yang cukup hebat.

Dduuaarrr…

“AAKKHHHH….” teriak Mi Cha dari kamarnya

“Ahjumma, Ahjumma…” Mi Cha keluar dari kamar dan berusaha mencari orang di rumah yang sudah sepi. Wajar saja sepi, karena jam sudah menunjukkan pukul 11.30 malam.

“Chansungie, Junho, Wooyoung oppa, Taec oppa, Khun oppa..” Mi Cha tetap berusaha memanggil dan mencari sambil membuka kamar oppanya satu per satu. Tapi dia tidak menemukan siapapun. Tinggal satu kamar lagi, pikir Mi Cha saat didepan kamar Junsu.

Krek..

Mi Cha membuka pintu kamar Junsu dan melangkah masuk.

“Junsu?” kata Mi Cha sambil menutup pintu

Mi Cha mendekati tempat tidur Junsu yang terlihat menggembung. Dan benar saja, Junsu sedang tertidur pulas.

“Junsu, Junsu bangun, aku takut..” Mi Cha mengguncang-guncang tubuh Junsu, tapi Junsu tidak bangun.

“Junsu, BANGUN…” teriak Mi Cha di depan telinga Junsu

Junsu tetap tidak bangun. Junsu memang sulit dibangunkan saat sudah tertidur pulas. Dapat dikatakan, walaupun ada gempa berkekuatan 7,5 skala Richter sekalipun, Junsu tetap tidak bangun.

Dduuaarrr..Dduaarrrrr…

“AAKKHHH…” Mi Cha langsung meloncat ke tempat tidur Junsu dan bersembunyi di bawah selimut.

Junsu menyadari ada sesuatu yang bergerak-gerak dikakinya dan akhirnya ia membuka matanya.

“AAKH…” teriak Junsu saat melihat Mi Cha ditempat tidurnya

“AAKH…” teriak Mi Cha kaget

“Hey, sedang apa kau disini? Kau salah masuk kamar, ini kamarku bukan kamarmu. Pergi sana…” usir Junsu sambil mendorong-dorong Mi Cha untuk turun dari tempat tidurnya.

“Junsu, kumohon, aku tidur disini ya. Malam ini saja. Aku takut sama petir” kata Mi Cha memelas

“Hey, kau kan ada kamar sendiri. Untuk apa tidur dikamarku?” tanya Junsu

“Aku kan tadi sudah katakan kalo aku takut petir. Aku tadi sudah cari Ahjumma dan yang lainnya, tapi mereka semua tidak ada. Yang ada hanya kau saja. Kumohon, aku tidur disini ya, hanya malam ini saja” Mi Cha memohon pada Junsu

“Oh itu..Chansung sedang ada kerjaan, Ahjumma pulang kerumahnya karena anaknya sedang sakit, Junho dan Wooyoung pergi kerumah temannya, Nichkhun tidur di apartement ceweknya,dan Taechyeon sedang menjalani pelatihan Body and Health,para pembantu yang lain juga sudah di ruangan pembantu, ini kan sudah malam” jawab Junsu

Dduaarr..Dduarr..

Petir menggelegar lagi.

“AAKHH…” Mi Cha kembali bersembunyi dibawah selimut

“Hey, aku tidak mau kau tidur disini, cepat keluar dari kamarku” kata Junsu sambil berdiri dan menarik Mi Cha supaya turun dari tempat tidurnya.

“Junsu, Junsu..Hmm…Oppa, kumohon, aku benar-benar takut..” Mi Cha memohon lagi

“Oppa? Kau memanggilku oppa kalo ada maumu saja ya..” kata Junsu

Trrt…

Tiba-tiba lampu padam. Mi Cha teriak lagi. Dalam keadaan gelap, Junsu mencoba mencari-cari handphonenya.

“Hey, kau jangan mencengkeram wajahku” Junsu kesal karena Mi Cha mencengkeram wajahnya.

“Mianhae, habisnya tanganmu tidak terlihat sih” kata Mi Cha

“Hehh, dasar. Aku mau mencari lampu dulu. Kau diam disini” kata Junsu setelah menemukan handphonenya

Junsu mulai melangkah pergi.

“Tunggu aku” Mi Cha berlari mengejar Junsu lalu menggandeng tangan Junsu

“Hey, lepaskan tanganmu” Junsu berusaha melepaskan tangan Mi Cha yang menggandeng tangannya

“Tidak mau, nanti kau meninggalkanku sendirian disini lagi” kata Mi Cha

Akhirnya Junsu mengalah dan membiarkan Mi Cha menggandeng tangannya. Mereka terus berjalan menuju dapur dan menemukan lampu petromax serta lampu senter lalu kembali ke kamar lagi. Junsu menghentikan langkahnya saat didepan kamar Mi Cha, lalu memberikan lampu petromax pada Mi Cha.

“Ini, ambil ini” kata Junsu sambil memberikan lampu pada Mi Cha

“Kenapa kau memberikan lampu ini padaku?” tanya Mi Cha

“Supaya kau tidur dikamarmu sendiri” jawab Junsu sambil melangkah pergi

 

“Ahh..sekarang aman” kata Junsu setelah menutup pintu kamarnya

Brakk…

“Junsu” Mi Cha membuka pintu dan masuk kekamar Junsu.

“Junsu, kau dimana? Kenapa tidak ada? Junsu?” Mi Cha mencari-cari Junsu

“Hey” Terdengar suara seseorang

“AAKHH, ADA HANTU” teriak Mi Cha sambil menutup mukanya

“Hantu apanya, aku ini bukan hantu tau”

“Kalo bukan hantu lalu apa? Kenapa hanya ada suara saja” kata Mi Cha sambil tetap menutup mukanya

“Aku ada di balik pintu”

Mi Cha berbalik dan menarik pintu. Disitu ada Junsu dengan wajahnya yang sudah merah karena terkena bantingan pintu yang tadi dibuka Mi Cha.

“Hah..Junsu. Mianhae. Aku benar-benar tidak tau kau ada disitu” Mi Cha memohon maaf pada Junsu

“Kau itu, bisa tidak jangan membuatku repot” kata Junsu sambil mengusap-usap wajahnya

“Bukankah aku sudah memberikanmu lampu, kenapa kau masih kekamarku?” lanjut Junsu

“Aku tau, tapi..aku takut, bagaimana kalo nanti ada hantu?” kata Mi Cha

“Aah, itu hanya alasanmu saja kan. Cepat kau keluar dari kamarku” usir Junsu

“Ah, Junsu, aku bisa tidur dibawah. Jadi, biarkan aku tidur disini” Mi Cha tetap berusaha memohon pada Junsu

“Ah, baiklah, baiklah. Aku izinkan kau tidur disini, tapi kau jangan menggangguku lagi” kata Junsu menyerah

“Aku janji, gomawo Junsu” kata Mi Cha senang

Junsu merebahkan badannya di tempat tidur lalu ia menoleh melihat Mi Cha yang masih berdiri sambil mengintip dibawah tempat tidur, seperti takut ada sesuatu muncul dari dalamnya.

“Kenapa?” tanya Junsu

“Hmm..benar tidak apa-apa kan dibawah sini” jawab Mi Cha sambil celingak-celinguk melihat sekelilingnya.

Junsu terdiam untuk beberapa saat lalu berkata, ”Hmm..kau tidur ditempat tidur saja” sambil turun dari tempat tidur

“Bolehkah?” tanya Mi Cha

“Yah, kalo kau kubiarkan tidur dibawah, Ahjussi pasti akan memarahiku karena membiarkan anak sahabatnya tidur dilantai” jawab Junsu

“Appa tak mungkin memarahimu, dia sangat menyayangimu” Mi Cha membenarkan posisi tidurnya

“Appa?” tanya Junsu bingung

“Hmm…maksudku Ahjussi. Aku sudah menganggap Ahjussi sebagai Appaku sendiri, jadi aku sering memanggilnya Appa” jawab Mi Cha gugup

 

Sepuluh menit berlalu, suasana berubah menjadi sepi.

“Junsu, kau sudah tidur?” Mi Cha mengguncang-guncang tubuh Junsu lagi

“Kau benar-benar tidak bisa membiarkanku untuk tidur ya. Ada apa lagi sekarang?” kata Junsu saat membuka matanya

“Junsu, ceritakan sebuah dongeng” pinta Mi Cha

“Hah?!” Junsu bingung

“Aku ingin kau menceritakan sebuah dongeng untukku” pinta Mi Cha

“Minta saja pada eommamu” kata Junsu kembali tidur

“Eomma? Aku tidak punya eomma” kata Mi Cha dengan suara yang sedikit bergetar

“Maksudmu?” kata Junsu

“Eommaku meninggal ketika melahirkanku, aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang eomma. Walaupun Appa sangat baik dan keluargaku sangat perhatian padaku, tapi tetap saja aku merasa kesepian. Aku ingin merasakan kasih sayang dari seorang eomma” lanjut Mi Cha sambil menangis

“Hey, kenapa kau menangis. Hentikan. Hmm..baiklah, baiklah, aku akan mendongeng untukmu” kata Junsu

Mi Cha mengusap air matanya dan berhenti menangis lalu ia kembali tidur di tempat tidur. Junsu pun duduk di atas tempat tidur.

“Kau ingin cerita apa?” tanya Junsu

“Cinderella” jawab Mi Cha tersenyum

“Aku tidak tau” kata Junsu

“Snow White?” tanya Mi Cha

“Aku tidak tau cerita itu” jawab Junsu

“Beauty and The Beast?” tanya Mi Cha lagi

“Aku tidak tau cerita yang kau katakan itu” jawab Junsu

“Lalu,cerita apa yang kau tau?” tanya Mi Cha

“Ce..ri..ta..han..tu..”kata Junsu sambil menyalakan lampu senter di bawah wajahnya

Plok..

“Hey,kenapa kau memukul kepalaku?” kata Junsu sambil memukul kepalanya yang sakit

“Kau tau kan aku takut hantu. Apa tidak ada cerita yang kau tau?” tanya Mi Cha

“Tidak ada” jawab Junsu

“Hmm..sepertinya ada cerita dongeng yang kutau. Tapi cerita ini sudah lama, aku juga kurang hapal jalan ceritanya” lanjut Junsu

“Cerita apa? Aku ingin dengar” pinta Mi Cha

“Yah, baiklah, begini ceritanya. Cerita ini tentang malaikat natal. Kabarnya,malaikat natal dapat mengabulkan satu permohonanmu.Tapi permohonan yang kau minta harus permohonan yang benar-benar kau inginkan terkabul dan menjadi kenyataan”cerita Junsu

“Junsu, darimana kau tau cerita ini?” tanya Mi Cha memotong cerita Junsu

“Dulu, eommaku sering menceritakan cerita ini padaku” jawab Junsu lirih

Mi Cha melihat wajah Junsu begitu sedih ditambah lagi tatapan mata Junsu yang kosong menatap meja didepan tempat tidur.

“Rasanya pasti sangat menyenangkan ya, ada ibu yang menceritakanmu dongeng setiap malam” lanjut Mi Cha dengan mata berkaca-kaca

“Hey, kau tidak mau tau kelanjutan ceritanya ”kata Junsu

“Aku mau tau” jawab Mi Cha

“Sampai dimana tadi ya? Oh iya aku ingat. Permohonan yang kau ajukan juga harus benar-benar tulus dari hatimu. Saat kau ingin memohon, pergilah ke gereja Gyeonghoon, gereja yang ada di daerah Gwangdo. Berdirilah di depan patung Yesus lalu pejamkan matamu. Jika kau berhasil, maka permohonanmu akan terkabul…” kata Junsu sambil melihat Mi Cha yang ternyata sudah tertidur pulas

“Hehh..sudah tidur rupanya. Dasar cewek merepotkan” kata Junsu sambil memukul-mukul pelan kepala Mi Cha yang membuat Mi Cha menggeliat kesakitan

“Eomma…eomma..aku merindukanmu eomma” kata Mi Cha dalam tidurnya. Airmata keluar dari matanya yang masih tertutup.

Junsu melihat hal itu dan mengusap airmata Mi Cha lalu merapikan rambut Mi Cha yang sedikit berantakan sambil berkata, ”Yeoja yang malang. Kau begitu mendambakan kasih sayang seorang ibu. Sedangkan aku..aku berharap ibuku tidak ada..”