Black Memory

Author : thefeysture (thefeysture.wordpress.com)

Cast :

Aiden Lee  aka  Lee Donghae

Sierra Lee

Genre : Family

Rating : General

**

PROLOG

Paris.

Penuh gemerlap seperti julukannya, Laville Lumiere. Gadis itu begitu mencintai kota ini. Hingga suatu peristiwa membuatnya meninggalkan kota ini. Berharap semua kenangan buruk di kota ini dapat sirna bagaikan angin yang berhembus.

Ia kembali. Kembali ke Paris untuk mengobati rasa sakit hatinya karena kerinduan yang begitu mendalam. Ia merindukan Aiden, kakaknya. Di saat ia merindukannya, sebuah perasaan benci selalu menyertainya. Tetapi, hati tak pernah berbohong. Hatinya selalu merindukannya.

Ia menangis ketika melihat Aiden. Rasa benci dan rindu menjadi satu di hatinya saat menatapnya dari mata ke mata. Aiden meminta maaf padanya. Tetapi ia membenci kata maaf itu keluar dari bibirnya. Bukan Aiden yang bersalah, tetapi dirinya. Dirinya yang terlalu egois. Penyesalan. Hanya penyesalan yang ia rasakan ketika ia bertemu Aiden.

Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat dan waktu tak akan pernah bisa diputar. Rasa sakit terus menjalar di tubuhnya selama daun terus berguguran. Tak ada yang bisa dilakukan, karena semua telah terlambat. Kakaknya telah ia sia-siakan begitu saja selama bertahun-tahun. Hingga, penyesalan itu datang di saat yang tidak tepat.

**

 

Musim Semi di Paris, Perancis – 2004

Sesosok gadis berumur 10 tahun meringkuk di tepi dinding itu. Wajahnya menampakkan raut ketakutan diiringi detak jantungnya yang tak karuan. Peluh yang mengaliri keningnya, seakan semakin menggambarkan ketakutannya. Helaian rambutnya yang berkilau keemasan, kini tampak kusut dan kusam. Matanya yang biru safir terus membidik sesosok anak laki-laki yang memegang pisau di tangannya dan siap menerkam kedua orangtuanya. Anak lelaki itu hanya menatap kosong tetapi terus melangkahkan kakinya mendekati kedua orang tua gadis itu.

“Aiden, letakkan pisaunya,” kata ibu dari gadis itu dengan bergetar.

Anak laki-laki yang hanya lebih tua 2 tahun dari gadis itu hanya menatapnya dingin dan tersenyum licik. Tangannya terangkat dan menancapkan pisau itu tepat di jantung wanita itu yang tak lain adalah ibu dari gadis itu. Seketika itu juga, jantungnya berhenti berdetak bagaikan jam dinding yang habis di makan waktu. Gadis kecil itu memekik ketakutan.

“Aiden Jahat!” teriak gadis itu.

Mendengar hal itu ayahnya tersenyum lembut padanya, “Dia tidak jahat, Sierra. Dia hanya tidak sadar akan apa yang dia lakukan.”

Gadis itu menatap ayahnya dengan bingung dan ia pun menangis, berharap waktu berhenti dan tak akan pernah berputar lagi. Anak laki-laki yang bernama Aiden itu tak mengacuhkan teriakan gadis itu. Ia menatap tajam suami dari wanita yang telah dibunuhnya itu. Tak sampai 1 detik, nyawa lelaki itupun berakhir di tangan seorang anak laki-laki. Malam mencekam itupun diakhiri oleh tangisan merana seorang gadis kecil yang memecah keheningan kegelapan.

**

Musim semi – Bandara Charles de Gaulle, Paris, Perancis – 2011

                Sekelebat ingatan tentang malam itu terus berputar di kepalanya, bagaikan sebuah film yang diputar tiada henti. Sierra –nama gadis itu- terus memegangi kepalanya yang terasa sedikit sakit. Sesungguhnya bukan kepalanya yang sakit tetapi hatinya, hatinya bagaikan teriris sebilah pisau yang meninggalkan noda di hatinya. Ia tahu ini akan terjadi. Menginjakkan kakinya di Paris, sama saja membuka luka lama di hatinya yang selama ini ia pendam sedalam-dalamnya, bagaikan sebuah rahasia yang begitu penting. Sierra tumbuh menjadi gadis berumur 17 tahun yang penuh dengan rasa sakit di hatinya. Bertahun-tahun ia memendam perasaan di hatinya tanpa seorang pun yang mengerti dirinya. Keindahan matanya yang biru seakan menutupi kegelapan masa lalunya.

Butuh waktu 7 tahun baginya untuk dapat kembali ke Paris. Terlalu banyak kenangan menyakitkan disini, yang membuatnya enggan kembali ke sini. Tetapi, kini ia sudah siap menghadapi semuanya. Ia tak lagi mungkin menghindar dari kenyataan yang ada bahwa ia sangat merindukan Aiden, kakak kandungnya yang telah membunuh kedua orang tuanya. Ia benci pada Aiden, tapi ia merindukannya di saat yang sama. Setiap langkah kakinya mempunyai seribu keraguan dihatinya.

Ia menghirup udara segar musim semi di kota Paris. Ia membenci musim semi tetapi ia begitu merindukan semua hal tentang Paris. Kehitaman masa lalunya, tak pernah menyurutkan kecintaannya pada kota ini. Laville Lumiere atau kota cahaya yang begitu menawan.

“Aku merindukanmu, Laville Lumiere,” gumam Sierra seraya mengagumi keindahan Paris yang terpapar dihadapannya.

“May i help you, Miss?” tanya seorang laki-laki paruh baya yang berpakaian layaknya seorang pengemudi taksi. Sierra menganggukan kepala sebagai jawabannya. Dengan sigap, supir itu membawa kedua tas milik gadis itu dan membawanya ke taksinya. Sierra pun memasuki taksinya sambil menghembuskan nafasnya perlahan.

Pikirannya terus melayang layaknya burung yang terbang bebas di angkasa. Ingatan tentang malam itu terus terulang di pikirannya dan membuatnya kepalanya semakin sakit. Ada sedikit keraguan di hatinya. Ia tak henti-hentinya bertanya kepada hati kecilnya.

‘Apakah keputusanku benar untuk kembali ke negara ini?’ batinnya

Hatinya terasa pilu mengingat semuanya. Tentang orangtua dan kakak kandungnya. Hidup sendiri di Inggris selama 7 tahun,  membuatnya sangat merindukan sosok sebuah keluarga. Ia memang tinggal bersama paman dan bibinya, tapi bukan itu yang ia inginkan. Ia butuh seseorang yang sedarah dengannya, dan kini ia sudah tak mampu lagi menahan diri untuk terus hidup di tengah siksaan batin itu.

‘Apakah aku masih membenci Aiden?’

Beribu kali pertanyaan itu muncul di benaknya. Tetapi tak pernah satu kalipun ia mampu menjawabnya. Pertanyaan yang terlihat mudah, tetapi cukup membuat jantungnya berpacu lebih cepat dan peluh mengaliri keningnya. Sierra menggeram pelan, kalau saja malam itu tak pernah terjadi mungkin keadaannya tak akan seperti ini.

**

Musim Semi di Paris, Perancis – 2004

Sierra terus menangis di sudut ruangan itu. Melihat darah berlimpah di rumahnya,  seakan menggores luka di hatinya karena itu adalah darah kedua orangtuanya. Aiden terduduk di depan kedua mayat itu. Ia menangis bahkan meraung keras. Ia membuang pisaunya dengan sembarang. Tak ada yang mengisi keheningan malam itu kecuali tangisan kedua anak itu.

Setelah mendengus pelan, Aiden berdiri dengan perlahan lalu memandang adik perempuannya yang masih menangis di pojok ruangan kecil itu. Aiden menghampirinya dengan pandangan sendu dan duduk di depan gadis itu.

“Sierra, kau baik-baik saja?” tanya Aiden.

Sierra menatap Aiden dengan tatapan tidak percaya. Ia memukul pelan pundak Aiden. Tak hanya sekali tapi berkali-kali. Gadis itu berharap dengan memukulnya dapat membuatnya tidak membenci Aiden. Tetapi, semakin memukulnya, semakin membuat hatinya terasa panas dan perih. Dan, air mata gadis itu pun kembali berjatuhan di pundak Aiden. Aiden memeluk adiknya dengan lembut berharap semua kesedihannya bisa sirna begitu saja. Tetapi, Sierra memilih mendorong pelan bahu Aiden yang membuat Aiden hampir terjatuh.

“Kau jahat! Aku membencimu, Aiden!” kata Sierra dengan lantang yang membuat Aiden membeku. Tak pernah ia sangka Sierra akan mengatakan itu. Hatinya terasa dingin bagaikan es yang telah membeku. Matanya menatap gadis itu dengan lirih.

“Kau.. Kau serius?”

Sierra menarik nafasnya dan berteriak dengan lantang, “Pergi kau! Aku benci padamu, Aiden!”

Tersadar dari kekagetannya, Aiden berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu. Langkahnya terlihat berat seakan beban yang dipikulnya terlampau banyak. Sierra ingin menghentikan langkah kaki anak laki-laki itu dan memeluknya untuk sekedar meringankan beban Aiden, tetapi hatinya terasa sakit. Ia membenci Aiden tetapi ia ingin Aiden menemaninya disini, memberikan pelukan hangatnya dan mengumbar senyumnya yang selalu ia sukai.

Di sisi lain, Aiden  terus berjalan tanpa melihat ke belakang lagi. Dalam hati kecilnya, ia berharap Sierra memanggilnya, memeluknya bahkan menahannya untuk tetap ada disini. Tapi, sampai ia telah ada di gerbang rumah itu, tak ada panggilan dari siapapun. Ia menatap rumahnya perlahan, lalu meninggalkannya di tengah dinginnya malam itu.

**

Musim Semi di Paris, Perancis – 2011

Taksi itu tepat berhenti di sebuah pemakaman umum di pinggir kota Paris. Tampak sepi tetapi cukup terawat. Supir taksi itu memandang penumpangnya yang pikirannya tampak sedang melayang-layang entah dimana. Keningnya mengkerut saat melihat air mata mengalir dari celah mata indahnya. Supir taksi itu pun kaget.

“Miss, Are you okay?” tanya supir itu dengan khawatir. Sierra sedikit kaget mendengar panggilan itu. Ia menghapus air matanya dan tersenyum pada supir taksi itu.

“Ya, aku baik-baik saja. Kita sudah sampai?” kata Sierra dengan lembut sambil melihat keadaan di luar taksinya. Seketika itu juga segaris senyumnya tampak mengiasi wajahnya.

“Terima kasih,” kata Sierra lalu membayar taksi itu dan turun dari taksi itu. Tetapi, supir taksi itu memanggilnya dan Sierra menatapnya dengan bingung.

“Seberat apapun masalahmu dan selemah apapun dirimu. Kau harus menjalaninya, Miss. Itulah kehidupan nyata,” katanya yang membuat Sierra tersenyum lalu membungkukkan tubuhnya sebagai tanda  terima kasih.

Ia membawa kedua tasnya dengan perlahan dan melewati pemakaman-pemakaman tua itu. Melihat keadaan pemakaman yang begitu terawat, ia pun mengumbar senyumnya. Perasaannya tenang saat mengetahui bahwa makam orangtuanya pasti juga terawat dengan baik. Tak sampai 10 menit, Sierra sampai di makam kedua orangtuanya yang dijadikan menjadi satu makam. Ia memandangi foto kedua orangtuanya yang telah terpatri di makam itu.

Awalnya hanya tatapan kerinduan, tetapi perasaannya keluar dalam seketika. Ia terduduk di makam itu dan air mata tak kunjung berhenti dari matanya. Perasaan rindu dan benci menjadi satu yang menyesakkan hati. Terlalu lama ia menyimpan perasaan itu sendirian. Kadang, ketabahan seseorang memiliki batas akhir. Sekaranglah kesabaran gadis itu telah berakhir. Terlalu sakit dan menusuk dada untuk ditahan lebih lama.  Tak ada yang pernah tahu bahwa ia tersenyum di tengah tangisannya.

“Mom, Daddy! Aku merindukan kalian,” gumam Sierra ditengah isak tangisnya yang semakin mewarnai kesenduan siang itu

Ia menutup mulutnya dengan tangannya agar tangisnya tak terdengar. Ia menggapai foto kedua orangtuanya dan menyentuhnya berharap ayah dan ibunya dapat merasakan sentuhan kasih sayangnya.

“Kalian tahu, jika aku boleh  mengucapkan satu pinta saja. Aku ingin bersama kalian. Aku tak mau terus hidup dalam kesendirian. Ijinkan aku hidup bersama kalian,” rintihnya dan tangisnya pun tak terbendung lagi.

Untuk sepersekian detik, hanya terdengar suara tangisan gadis itu. Ia berusaha untuk menghentikan tangisnya dan menimbulkan bekas merah di matanya. Ia menatap makam kedua orang tuanya dengan nanar dan beranjak meninggalkan makam itu.

Ia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar melihat kota ini. Langkahnya terhenti di depan sebuah restoran Jepang. Bukan restoran itu yang menarik perhatiannya tetapi sebuah keluarga yang duduk di pojok restoran itu. Dua anak bersama kedua orangtuanya duduk berhadapan di sebuah meja berbentuk persegi panjang. Melihat canda tawa keluarga itu, membuat hatinya terasa nyeri. Ia merindukan kehangatan itu. Ia menghapus air matanya yang keluar tanpa ia sadari dan melanjutkan perjalanannya.

Langkahnya terhenti lagi saat mendengar dering dari ponselnya. Sierra pun membuka tas tangannya dan mengambil ponselnya dengan cepat.

“Dokter Lee?” Sierra menyapa si penelepon dan setelah mendengar perkataan penelepon tersebut, matanya menyiratkan suatu kekagetan.

“Saya akan segera kesana,” katanya pelan namun tegas.

**

            Sierra berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong yang tak terlalu terang itu atau bahkan lebih cocok dibilang gelap. Tak heran, karena lorong itu hanya digunakan untuk keadaan-keadaan kritis. Sierra memilih jalan itu, karena itu adalah jalan tercepat untuk segera menuju ruang Dokter Lee, dokter yang harus ia temui sekarang juga. Suara sepatunya yang menyentuh lantai, mengiringi perjalanannya. Nafasnya yang tak beraturan membuatnya seringkali berhenti sejenak untuk mengambil nafas.

Sesampainya di depan ruang Dokter Lee, ia segera masuk ke ruangan itu dan disambut oleh sekretaris Dokter Lee. Sekretaris itu berdiri dari tempat duduknya dan menatap Sierra.

“Ada yang bisa saya bantu, Miss?”

Sierra mengatur nafasnya sebelum menjawab pertanyaannya, “Ya, aku ada janji dengan Dokter Lee. Nama saya Sierra Spencera.”

“Miss Sierra, Anda sudah ditunggu Dokter Lee di dalam. Silahkan masuk,” katanya dengan tersenyum.

Ia bergegas memasuki ruangan Dokter Lee tanpa lupa membalas senyuman sekretaris itu. Dia membukakan pintu dan Sierra segera memasuki ruangan yang didominasi warna putih itu. Dokter Lee sedang berdiri disamping jendela di ruangan itu. Tampaknya dia tak menyadari kehadiran gadis ini di ruangannya.

“Dokter Lee,” panggil Sierra.

Dokter yang sudah tua itu sedikit terkaget mendengar panggilan itu. Tetapi, dengan cepat ia mengendalikan dirinya dan tersenyum pada Sierra.

“Sudah lama kita tidak bertemu, kan?” tanya Dokter itu dengan senyum ramahnya.

Sierra hanya mengangguk dengan sopan. Ia tidak tertarik pada basa-basi seperti itu. Lebih cepat ke inti masalah itu jauh lebih baik.

“Tak usah terburu-buru, Sierra. Kakakmu sudah baik-baik saja. Setengah jam yang lalu, keadaannya memburuk. Tapi, sekarang keadaannya sudah kembali normal. Kau tak tertarik mendengar kisah mengapa kakak mu disini?”

“Aku ingin melihat kakakku dulu, Dokter Lee,”

Dokter itu hanya tersenyum melihat Sierra yang selalu keras kepala, sifat gadis itu tak pernah berubah dari ia kecil hingga sekarang. Dokter Lee pun bergerak menuju pintu dan mempersilahkan Sierra untuk mengikutinya.

“Kau tak ingin bertanya sesuatu mengenai kakakmu?” tanya Dokter Lee.

Sierra menatap Dokter Lee, kemudian ia tersenyum, “Aku ingin melihatnya dulu. Setelah itu, dokter harus menjelaskannya kepadaku.”

Ada perasaan lega di hati dokter itu, melihat gadis disampingnya itu bisa kembali tersenyum kembali. Di otaknya masih terekam dengan jelas di malam orang tua Sierra meninggal dunia, Sierra seperti mayat hidup yang terus menangis tiada henti. Mereka berhenti di depan sebuah ruangan yang tampak sepi di sekitarnya.

“Ini ruangannya,”

Sierra mengangguk ringan lalu mulai membuka pintu itu. Seketika itu juga, perasannya terasa tidak biasa, dia takut tetapi disaat yang sama ia ingin memeluk kakaknya itu. Ia berpikir keras sebelum mengambil keputusan ini. Dokter Lee memegang pundak Sierra dengan lembut.

“Kau mau menunggu berapa lama lagi untuk bertemu dengannya? Jangan ambil keputusan dari pihakmu tetapi pikirkanlah perasaannya. Ia sangat merindukanmu,Sierra,”

Mendengar kata-kata itu, membuatnya menyadari sesuatu yang selama ini tak pernah ia pikirkan, “Apakah aku begitu egois?”

Dokter Lee hanya tersenyum dan meninggalkan Sierra dalam kesendirian. Ia menghirup nafasnya dalam-dalam dan tersenyum penuh keyakinan. Dengan perlahan ia membuka pintu ruangan itu. Rasa pengap langsung terasa dalam seketika. Ia menatap sesosok laki-laki di kursi roda yang menatap ke jendela dengan tatapan kosong. Dengan sangat perlahan ia mendekati laki-laki itu. Laki-laki itu tak bergerak sedikit pun walaupun jarak diantara keduanya tak lagi jauh.

Kini Sierra telah berada didepan lelaki itu. Sierra tak melepaskan pandangannya dari lelaki itu. Bukan karena kagum tetapi karena perasaan rindu dan sedih yang berbaur menjadi satu bagian di hatinya. Ia menangis. Ia terduduk di depan lelaki itu.

Aiden tak bergerak sedikitpun, pandangannya tetap kosong tak bermakna. Sierra memegang kedua tangan Aiden dan menghentakkannya perlahan, berharap Aiden tak lagi diam bagaikan patung tanpa nyawa.

“Aiden! Aiden! Ayo bicara!” teriaknya penuh kemarahan.

Bukan marah pada Aiden tetapi marah pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia meninggalkan kakaknya sendiri di Paris? Sierra meratapi kebodohannya sendiri. Sierra memeluk kakaknya yang diam tak bergerak.

“Maafkan aku, Aiden! Aku memang adik paling bodoh! Maafkan aku!” teriaknya tanpa henti.

Aiden hanya menatap jendela, diam tanpa kata. Melihatnya seperti itu, Sierra semakin marah kepada dirinya sendiri. Air matanya tak berhenti, bahkan terus mengalir semakin deras. Tanpa di sangka, setetes air mata keluar  dari mata lelaki itu. Ia menangis. Sierra menatapnya tak percaya.

“Aiden, kau menangis? Kau sadar aku ada disini? Aiden! Jawab aku!”

Air mata laki-laki itu terus mengalir, walaupun pandangannya tetap lurus tak berarti. Aiden memang memiliki gangguan jiwa, tetapi hatinya tak pernah rusak. Ia merasakan kasih sayang seorang adik yang diberikan gadis itu kepada dirinya. Aiden tak mengerti kenapa ia menangis bahkan ia tak tahu siapa gadis yang ada dihadapannya. Tetapi, hati kecilnya merasa ikatan yang begitu kuat dengan gadis itu. Ia merasakan kekosongan di hatinya selama ini,  terasa hilang ketika melihat gadis ini. Ia merasa sedih di kala air mata gadis ini mengalir di wajahnya.

“Tuhan, jangan kau siksa kakakku seperti ini! Ini salahku, biarkan aku yang menanggungnya!”

“Ss..Sierra…” tiba-tiba terdengar suara yang sangat ia rindukan. Walaupun suaranya lemah, Sierra mengenal suara itu. Aiden.

“Aiden?” tanya Sierra dengan perlahan menahan rasa kekagetannya.

“Ma.. maaf,” kata Aiden dengan terpatah. Dalam setiap kata dari bibirnya, ia merasakan rasa sakit mendalam yang dirasakan Aiden.

Sierra membenci itu. Bukan dia yang seharusnya minta maaf, tetapi dirinya. Dirinya yang egois, meninggalkan kakaknya di tengah kesendiriannya di Paris. Seharusnya Aiden tak meminta maaf. Seharusnya Aiden marah pada gadis itu.

“Maafkan aku, Aiden,”

Sierra terus menangis di pelukan Aiden, hingga sebuah tangan mendarat di pundaknya. Sierra menatapnya sekilas, tetapi ia mengacuhkannya.

“Sierra, ini bukan salahmu. Kau hanya belum mengerti dengan kenyataan yang ada. Kau tahu, kadang ada hal-hal yang baru bisa kau ketahui di kala waktunya tepat. Aku rasa, sekaranglah saat yang tepat untuk dirimu mengetahui kebenarannya,”

**

            Semilir angin mewarnai sore hari itu. Langit yang telah berubah menjadi jingga, merangkai hari menjadi indah. Sesosok gadis duduk di sebuah bangku taman bersama seorang laki-laki tua yang tampaknya seorang dokter. Berkali-kali, gadis itu menghirup dan menghembuskan nafasnya untuk menenangkan perasaannya yang tak menentu. Tak ada diantara keduanya yang memecah keheningan sore itu. Hingga dokter dengan wajah khas Asia itu pun membuka pembicaraan.

“Dia memiliki penyakit gangguan jiwa sejak kecil. Hanya saja kini penyakitnya bertambah parah,”

Sierra terbatuk mendengar pernyataan itu dan menatap dokter dengan dingin, “Aku tak tahu apapun.”

“Orangtuamu tak ingin kau tahu, Sierra. Jadi, bukanlah salahmu kakakmu menjadi seperti ini,”

“Tapi, mengapa?”

“Ada hal-hal yang tidak bisa kau ketahui sekali pun kau harus mati karena….”

“Jadi, ini yang membuat Aiden membunuh kedua orang tuaku?” tanya Sierra memotong perkataan Dokter Lee dengan dingin.

Dokter Lee menunduk menatap dedaunan yang berdesir dan berkata dengan pelan, “Ya, begitulah.”

Jantungnya berdetak lebih cepat dan peluh membasahi tubuhnya. Wajahnya memucat dan menatap tak percaya. Ia merasa menjadi orang paling bodoh karena selama 7 tahun terus menyalahkan Aiden bahkan meninggalkannya sendirian di Paris. Matanya berlinang air mata. Ia menyesal dan sangat menyesal.

“Dokter! Dokter! Pasien yang bernama Aiden, Dokter Lee” teriak seorang perawat menghampiri mereka.

“Aiden? Apa yang terjadi dengannya?” teriak Sierra seraya menahan emosinya.

Suster itu menunduk dan berkata, “Dia bunuh diri dan ditemukan telah meinggal dunia,”

Tubuhnya membeku dalam seketika dan air matanya mengalir tiada henti. Perasaan marah, sedih, dan penyesalan semuanya menjadi satu di dalam hatinya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, ia benar-benar tak memiliki seorangpun di dalam hidupnya.

“Kau bodoh, Aiden. Bodoh! Bodoh!” teriaknya tak karuan.

Dokter Lee menatapnya dengan cemas, ia mengenal betul gadis itu. Seorang gadis yang terlihat kuat tetapi hatinya begitu lemah. Ia tahu tak ada yang bisa ia lakukan untuk menutupi kesedihannya. Ia hanya meninggalkan Sierra dalam kesedihannya.

Tak ada yang abadi di dunia, hanya waktu yang mengatur segalanya. Daun yang berjatuhan itu seakan semakin membuat Sierra semakin terpuruk dalam kesakitannya. Biarkan dedaunan itu terus berjatuhan dan tertiup angin seraya membawa semua kesedihannya. Hingga musim semi berakhir, tak ada lagi kata untuk bersedih.

Penyesalan selalu datang terlambat dan waktu tak akan pernah bisa diputar. Biarkan itu berlalu seperti angin yang berhembus. Pengalaman akan selalu menjadi pelajaran abadi di dalam hidup karena kita yang menjadi tokoh utamanya.

SELESAI