Author : Applersoti
Length : Continue
Genre: Romance
Rating : PG
Main cast : Kwon Jiyong (Bigbang) & Sandara Park (2NE1)
Support cast : YG Family
YANG GAK SUKA DARAGON, LEBIH BAIK GAK USAH BACA YAH J
HALLOOOOO~ ahahaha disini karakter Joseph aku hilangin dulu. Karena sekarang ceritanya mau terfokus sama masalah-masalahnya YG hehehe, lebih jelasnya baca sendiri aja yah.Oh ya, mian ya kalau part ini agak sedikit pendek. Kesibukan MABA dan uts kemarin menyita seluruh perhatianku huhuhu.
So.. happy reading , Applers J
(FLASHBACK)
(Jiyong’s POV)
 

“Aku tidak gombal! Aku serius… datanglah sekarang ya, sekalian bawakan aku sarapan. Aku lapar sekali sampai mau mati.”
“Hahaha kamu berlebihan sekali. Iya, aku kesana sekarang. Gidarilkkae!”
“O~ geurae. See you there soon, sayang.”
“See you there soon, baby. I love you, saranghae.”
“Hihihi. Ne, nado saranghaeyo oppa. Love you more.”
Aku terkikik pelan mendengar ia memanggilku Oppa. “Hahahahaha, dasar. Aku tutup ya telponnya.”

 
Setelah telponnya ditutup aku langsung bergegas menuju kamar mandi. Aku harus cepat pergi ke studio. Tidak bertemu dengannya membuatku sedikit merasa kehilangan.

 
I just wanna kiss….

 
Ah, handphoneku berbunyi. Mungkin Dara mengirimiku pesan. Ku ambil handphoneku yang ada di atas meja sebelah tempat tidur.

 
He? Bukan Dara yang mengirim pesan. Nomernya tidak dikenal. Siapa dia?

 
Kubuka pesan itu. Dan…..

 
From: 023472839***
Hello,Jiyong. Ini aku Joseph. Aku ingin mengajakmu bertemu pagi ini,bisa? Ada yang ingin kubahas denganmu. Aku harap kau bisa datang. Kalau tidak.. ya, tanggung akibatnya. Temui aku di Pizza Carribean, jam 10 ini. Terima Kasih.

 
Apa? Joseph? Dari mana ia tahu nomor handphoneku? Oh… Tuhan… ck. Aku harus kesana.

 
Setelah selesai bersiap-siap aku berlari menuju garasi. Ah!!! AKU LUPA!!! DARA!!! ck… bagaimana ini? aku sudah janji akan ke studio. Hmm… apa aku harus memberitahunya? Ah tidak tidak. Pasti kalau aku kasih tahu, dia akan mengamuk. Ok. Tidak apa-apa lah sekali ini berbohong. Mianhae, Dara-ya.

 
(At Pizza Carribean)

 
Aku memakai mantel hitam, dengan kacamata dan masker. Dan kini aku sudah berada di depan restoran tersebut. Aigo… yang mana dia?

 
To: 023472839***
Hai, Joseph. Aku sudah di depan restoran. Kau dimana?
Tak berapa lama, dia membalas pesanku.

 
From: 023472839***
Aku di dalam, di ruangan VIP. Aku sudah memberitahu pelayan disitu. cepat masuk.
Oh ruangan VIP, toh? Hmm baguslah.

 
Dengan hati-hati aku keluar dari mobilku. Untung saja, jalanan di depan restoran itu tidak terlalu ramai. Jadi, aku bisa sedikit lega karena tidak ada yang mengenaliku.

 
“Annyeonghaseyo…..” sapa seorang pelayan sambil membukakan pintu masuk

 
Aku hanya mengangguk sambil membungkukan badan.
 

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan itu.

 
“Hmmm apakah ada tamu VIP bernama Joseph disini?” aku balik bertanya.


Dia mengangguk sambil tersenyum. “Ada, tuan. Mari saya antarkan.”
 

Aku berjalan mengekori pelayan tersebut. Dan tak berapa lama, aku sampai di depan sebuah ruangan yang tidak terlalu besar tapi lumayan tertutup. Mungkin Joseph tahu, jika aku dan dia duduk di tempat biasa akan terjadi keributan. Hmm….
 

Pelayan tersebut membukakan pintu slide door khas korea. “Silahkan, Tuan.”
 

Aku masuk ke dalam ruangan itu. Dan ya… si cowok tengil itu tengah duduk santai di kursi samba meminum secangkir hmmm kopi sepertinya.
 

Pelayan itu membungkukan badan lalu menutup pintunya.
 

“Hello,” sapanya sambil tersenyum. “Silahkan, duduk.”
 

Aku duduk di depannya. Mungkin wajahku sudah memerah sekarang karena menahan emosi yang berkecamuk ketika melihatnya tadi. Ingin sekali ku tinju muka sok imutnya dia.
 

“Ada apa menyuruhku kesini?” tanyaku langsung.
 

“Hmm… santai sajalah. Lebih baik kita makan dulu…” jawabnya santai sambil menyeruput minumannya.
 

Aku mendengus kesal. “Cepat. Aku tak punya banyak waktu, Joseph.”
 

Dia tertawa sambil menatapku meledek. “Ok.. jadi, aku menyuruhmu kesini karena ada yang ingin ku bicarakan.”
 

“Bicara tentang apa?”
 

“Well… ini tentang Dara pastinya.”
 

“Kenapa dia?”
 

“Putuskan dia.”
 

“MWO???????!!!” teriakku. Mataku terbelalak kaget mendengar ucapannya barusan. Berani sekali dia…
 

“Ya. Putuskan dia. Aku ingin kembali padanya, dan kau jadi penghalang bagiku untuk mendapatkannya,” katanya santai.
 

“Berani sekali kau menyuruhku bertindak seperti itu.”
 

“Yah… memang. Dan harus berani,” ucapnya tegas dan percaya diri.
 

“Cish… percaya diri sekali kau. Dengar ya, aku tidak akan pernah memutuskan Dara. Tidak akan pernah!” ucapku tidak kalah tegas.
 

Dia berdeham lalu mencondongkan badannya ke arahku. “Hmm… kalau begitu. Kau memang mengajak berperang, tuan Jiyong.”
 

“Kenapa? Kenapa harus Dara?”
 

“Kenapa? Kenapa harus Dara?” dia mengulangi pertanyaanku lalu tertawa mengejek. “Karena aku masih mencintainya. Dan juga karena kau memang tidak pantas untuknya.”
 

“Tahu darimana kau kalau aku tidak pantas untuknya? Hahahaha,” kali ini aku yang tertawa.
 

“Dengar, Joseph-ssi,” kataku sambil menudingkan telunjukku. “ Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyerahkan Dara kepada orang sepertimu.”
 

Dia menatapku dengan wajah geram lalu menunjukkan smirknya yang menyeramkan. “Kalau begitu tanggung sendiri akibatnya.”
 

“Baiklah. Sepertinya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan,” kataku sambil beranjak berdiri. “Sampai jumpa dilain waktu. Joseph.”
 

Aku berjalan menuju pintu keluar, lalu tiba-tiba Joseph memanggilku. “Jiyong. Aku pasti bisa merebut Dara darimu. Lihat nanti.”
 

Aku hanya menatap mengejek kearahnya dan berlalu pergi.
 

(END FLASHBACK)


ButterflyButterflyButterfly 




(Author’s POV)
“Sejujurnya, sebelum aku melamarmu waktu itu, aku telah bertemu dengannya. Dan tadi, aku tidak bertemu dengan Eomma ku. Tapi… Joseph mengajakku untuk bertemu,” ucap Jiyong pelan.
Mata Dara terbelalak kaget dan langsung melepaskan pelukannya. “MWO??!! Kau bercanda kan, Jiyong,” pekiknya.
Jiyong menarik napas dalam-dalam, kemudian dikeluarkan langsung. “Ayo naik ke mobil.”
“Jelaskan dulu!” bentaknya sambil berusaha melepaskan tangan Jiyong.
“Iya, aku jelaskan di dalam mobil. Kau tidak mau kan kita ketahuan blackjack atau vip? Ayo cepat!”
Jiyong menuntun Dara ke dalam mobilnya. Setelah mereka sudah berada di dalam suasana hening pun melanda mereka. Tidak ada yang berusaha berbicara duluan. Jiyong masih terlihat sedikit bersalah karena tidak jujur dengan Dara.
“Jadi, tolong jelaskan yang tadi,” kata Dara.
Jiyong menghela napas lalu membalikkan tubuhnya kearah Dara. “Jadi, tadi pagi setelah selesai menghubungimu tiba-tiba ada telpon masuk. Aku kira, kau menelponku lagi tapi ternyata itu Joseph. Dia bilang ingin berbicara empat mata denganku. Mian, aku tidak memberitahumu hal yang sejujurnya Dara. Entah kenapa aku merasakan sesuatu hal yang tidak enak ketika dia datang kesini.”
“Seharusnya kau jujur padaku. Kau bilang tidak akan pernah berbohong padaku. Tapi nyatanya, hal sekecil ini saja kau menyembunyikannya dariku,” protes Dara dengan nada sedikit lebih tenang.
“Mian…. Aku tidak bermaksud Dara,” ucapnya pelan.
“Ok… lalu, tadi kau bilang kalau sebelum kau melamarku, kau telah bertemu dengannya.”
“Oh… sebenarnya aku telat sampai di parkiran waktu itu karena tidak sengaja melihatnya di SBS.”
Mata Dara membulat, “Mwoya? Jadi dia datang ke SBS??!”
Jiyong mengangguk, “Ne… dia datang dan ingin bertemu denganmu. Waktu aku tanya apakah dia masih mencintaimu, dia menjawab iya. Saat itu aku emosi dan langsung bilang padanya bahwa kita pacaran. Mungkin, dia sedikit tidak terima dan kaget mendengarnya. Karena selama ini, berita kita pacaran hanya dianggap rumor antar artis satu manajemen.”
“Pantas saja, dia tahu bahwa kita pacaran. Jadi, kau yang bilang?” Jiyong mengangguk-angguk pelan.
“Iya. Mian aku tak memberitahumu…”
Dara hanya mengangguk tanpa menjawab pernyataan Jiyong. “Kau marah ya?” tanya Jiyong hati-hati.
Lagi-lagi Dara tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya. “Bicaralah sesuatu. Aku tahu kau sedang marah padaku, Dara-ya,” ucapnya sambil mengambil tangan Dara yang mulus.
Dara mengalihkan tatapannya ke Jiyong. “Aku tidak marah Jiyong-ah. Aku sedang memikirkan Joseph.”
Jiyong menatap Dara bingung. “Wae?”
“Aku merasakan akan ada hal besar yang akan menimpa kita. Aku tahu sifatnya…. Dia tidak akan mungkin menyerah begitu saja. Dia akan melakukan usaha apapun untuk mendapatkan keinginannya. Tadi, saat dia bilang sudah merelakan hubunganku denganmu sebenarnya aku tidak percaya. Dia bukanlah tipe orang yang menyerah sebelum berusaha. Aku takut, Jiyong…”
Jiyong menggenggam tangan Dara lebih erat lalu tersenyum. “Tenang… kita pasti bisa melewati ini semua.”
Dara menghela napasnya berat. “Cobaan apa lagi ini?”
Jiyong terkekeh pelan, lalu menatap ke depan. “Yah… Tuhan tidak akan menguji umatnya diluar batas kemampuan kita. Aku yakin kita bisa melewati ini semua.”
Dara tersenyum menatap Jiyong. “Hmm…. kita harus saling bersama ya. Cobaan apapun itu, jangan pernah kau meninggalkanku. Kalau sampai kau berani meninggalkanku, lihat saja akibatnya!” ancam Dara.
“Hahahaha…. Hmm arraseo… wanitaku sepertinya sudah bertambah galak ya…. Jadi takut deh,” goda Jiyong lalu tertawa.
“Iya dong,” jawab Dara mantap.
CHUK….
Jiyong mencium pipi Dara dengan tiba-tiba. “Hihi… “
Tampak semburat merah di kedua pipi Dara. Jiyong hanya tertawa pelan melihat muka Dara yang menahan malu.
“Jangan sering-sering menggembungkan pipimu, nanti tambah besar lagi,Hahahaha,” godanya lagi sambil mencubit pipi Dara.
“Ya! Appo! Sshhhhhsss,” Dara meringis kesakitan.
Drrtttt… Drrttt….
Terdengar ringtone lagu Butterfly dari tas Jiyong. “Haha sebentar ya… aku belum puas menggodamu.”
Dara menyikut dada Jiyong pelan. “Dasar penggoda. Huh!”
“Haha.. ne.. yeobeoseyo, Seungri-ya.”

“Yeobeoseyo. Neo eoddiya hyung?” terdengar nada panik diujung telpon.
“Aku sedang bersama Dara. Waeyo? Kenapa suaramu terdengar panik?”
Dara yang mendengar percakapan mereka pun terlihat bingung. “Ada apa?”
Jiyong hanya menggidikkan bahunya. “Ada apa, Panda?”

“Hyung! Cepat kesini. Ada hal gawat menimpa, Daesung hyung!”
“Mwo??? Daesung kenapa????”

“Sudah cepat ke kantor YG!!! SEKARANG!!!” teriakan Seungri membuat Jiyong menjauhkan handphonenya dari kupingnya.
“Ne…. arraseo. Aku segera kesana!”
Lalu Jiyong mematikan telponnya. “Ada apa dengan Daesung?” tanya Dara.
Jiyong menggelengkan kepalanya tidak tahu. Dia merasa sepertinya ada yang tidak beres dengan Daesung. Seungri tidak mungkin sepanik itu jika bukan karena ada masalah serius.
Dengan sigap, Jiyong menyalakan mesin mobilnya lalu segera melaju dengan kecepatan tinggi menuju YG’s office.
Karena jalanan yang tidak terlalu macet, mereka sampai hanya dalam waktu tiga puluh menit saja. Jiyong dan Dara langsung berlari masuk ke YG’s office.
Tampak beberapa staff YG Ent sedang berbisik-bisik misterius ketika mereka datang. Mereka langsung pergi ke kantin, pasti member Bigbang ada disana. Dan benar saja, disana sudah ada Seunghyun, Youngbae, Seungri, beberapa personil HITECH (YG’s back dancer) dan member 2NE1.
“Ada apa dengan Daesung?” Jiyong langsung bertanya sesampainya di kantin.
“Duduk dulu, Ji,” kata Seunghyun mencoba menenangkan. Jiyong pun langsung menuruti perintah Seunghyun, Dara juga duduk di sebelah Jiyong.
“Jelaskan ada apa dengannya?” tanyanya lagi.
“Daesung kecelakaan,” ucap Seunghyun pelan. Raut mukanya terpancar kesedihan.
“MWO???!” Jiyong dan Dara sama-sama berteriak kaget mendengar berita yang barusan Seunghyun katakan.
“Seunghyun-a. Kau jangan bercanda!” Dara masih yakin kalau Seunghyun hanya mengerjai Jiyong dan dia.
Seunghyun menggeleng kuat dan menatap mereka berdua. “Aku tidak berbohong, Nuna.”
Jiyong hanya menundukkan kepalanya. “Bagaimana keadaan dia? Apakah dia terluka?” tanyanya pelan.
Semua orang yang berada di dalam kantin menggeleng.
“Kami tidak tahu bagaimana keadaannya. Kami diberitahu oleh Manager Lee bahwa Daesung kecelakaan tapi tidak menjelaskan kronologisnya. Ketika kami kesini, ternyata Sajangnim dan manager Lee sudah pergi ke kantor polisi,” terang Youngbae yang posisi duduknya agak jauh dari Jiyong.
“Polisi??!” pekiknya. “Mengapa ke kantor polisi?”
“Mollaseo… Hanya itu yang kami dengar, Jiyong-ah,” jawab Youngbae.
Raut muka semua orang terlihat sedih. Suasana pun sepi karena mereka sibuk berpikir apa yang sebenarnya terjadi pada Daesung. Dan tak lama setelah itu Yang Hyun Suk sajangnim, manager Lee, dan beberapa staff YGEnt datang. Jiyong dan yang lain berdiri ketika mereka datang ke kantin.
“Sajangnim. Apa yang sebenarnya terjadi?” cecar Jiyong.
“Akan ku jelaskan. Tolong kalian duduk dulu.”
Lalu mereka semua duduk di kursi masing-masing. Dara yang duduk di sebelah Jiyong, memegang erat jemari Jiyong.
“Jadi….” Yang Hyun Suk memulai pembicaraan. “Tadi sore sekitar jam 4, Daesung terlibat kecelakaan dengan pengendara motor. Pengendara motor itu tewas, tapi bukan karena Daesung, melainkan ia tewas karena terjatuh dari motor akibat pengaruh mabuk. Daesung yang katanya mengendarai mobil dengan kecepatan lumayan tinggi tidak mengetahui ada seseorang yang jatuh. Dan…. terjadilah tabrakan itu,” jelasnya.
Raut muka Jiyong dan yang lain nampak sangat shock. Bukan tanpa alasan, Daesung yang terkenal humble, bisa mendapatkan masalah serius seperti ini.
“Lalu bagaimana keadaan Daesung?” cecar Seunghyun.
Yang Hyun Suk menghela napas. “Yah… dia masih harus berada di kantor polisi untuk mengisi berita acara. Sepertinya keluarga korban tidak terima.”
“Bagaimana dengan Bigbang….” Ucap Jiyong parau.
Yang Hyun Suk menggelengkan kepalanya pelan. “Sampai saat ini, saya masih belum bisa memutuskan apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Sebelum adanya insiden ini, ada beberapa kontrak dengan sebuah perusahaan yang meminta kalian untuk menjadi bintangnya. Mungkin… Daesung tidak bisa tampil dulu bersama kalian sampai waktu yang belum pasti.”
“Eoddeohke….”Jiyong menundukan kepalanya semakin dalam. Bulir-bulir air matanya jatuh di pipinya yang kurus. Dara tidak tega melihatnya. Di usapnya punggung Jiyong berusaha untuk mencoba menenangkannya.
“Jiyong-ah… uljimarayo…”
“Apakah Sajangnim tidak bisa mengusahakan agar masalah ini selesai? Bagaimana dengan nasib Bigbang? Kami… akan terlihat kosong jika Daesung tidak ada..” Terpancar rasa sedih di dalam suaranya.
“Kami juga sedang berusaha, Seunghyun-ah. Sebelumnya kami belum pernah mendapatkan masalah yang rumit seperti ini. Jadi tolong kalian professional untuk kedepannya. Dengan atau tanpa adanya Daesung sementara ini, Bigbang harus tetap berjalan. Coba pikirkan, jika kalian semua tidak muncul karena Daesung, apa yang akan mereka rasakan? Kalian tidak menginginkan seluruh VIP sedih kan?”
Seunghyun dan yang lain mengangguk mengerti, kecuali Jiyong. Dia masih menundukkan kepalanya. Mungkin dia yang paling sedih diantara yang lain.
“Jiyong-ah… “ Dara berusaha menenangkan Jiyong disebelahnya. Dirangkul pundak Jiyong erat memberikan semangat. “Uljima…. Hmm…”
Ditatapnya mata Dara lekat, terlihat air mata mengalir di pelupuk matanya. Dara tak tega melihatnya. Lelaki yang ceria itu tiba-tiba menangis seperti ini…. Diusapnya buliran air mata yang jatuh di pipi Jiyong.
“Kau harus kuat. Ok?” kata Dara sambil tersenyum lalu memeluk Jiyong.
Orang-orang di sekitar mereka pun merasakan hal yang sama. Kesedihan yang luar biasa dalam. Tidak pernah terlintas dibenak mereka kejadian seperti ini terjadi.
Jiyong tiba-tiba melepaskan pelukan Dara dan berdiri dari kursinya. “Demi VIP, akan kulakukan apapun agar mereka bisa tersenyum bangga. Setelah hari ini, tolong jangan ada yang sedih lagi. Dengan atau tanpa Daesung sekarang, BIGBANG tetap lima. BIGBANG AS FIVE UNTIL WHENEVER…. FOREVER,” ucapnya dengan nada yakin. Dara tersenyum lega karenanya.
“Bigbang HWAITING!!!” pekik Bom sambil mengepalkan kedua tangannya.
Seunghyun dan yang lain tersenyum geli melihat tingkah Bom. Memang… dia moodbooster paling handal yang dimiliki YG Family.
“Gomawoyo….” Seunghyun mengusap puncak kepala Bom pelan. Dia menjawabnya dengan senyuman. Senyuman kecil penuh arti…
ButterflyButterflyButterfly 
(Jiyong’s POV)
Aku terdiam lama di dalam kamarku. Merenungi kejadian-kejadian mengejutkan hari ini. Yah… sekarang nasib Bigbang sedang berada diujung tanduk karena masalah yang baru diterima Daesung sore tadi. Dia tidak sengaja menabrak pengendara motor yang terjatuh dari motornya. Mengapa disaat Bigbang ya baru bangkit dari ‘tidur panjang’, tiba-tiba ada masalah seperti ini. Sungguh aku tak siap untuk menghadapi ini semua.
Berita tentang kejadian Daesung langsung menyebar setelah beberapa jam kemudian. Penyuka artis YG Entertainment bahkan haters kami ikut mengomentari kejadian itu. Tak sedikit komentar-komentar buruk untuk Daesung dan kami keluar dari mulut mereka. Walaupun banyak juga yang mendukung Daesung dan kami secara bersamaan.
Di lain sisi aku adalah leader dari Bigbang. Aku adalah orang yang harus memberikan motivasi member Bigbang untuk bangkit dari keterpurukan. Tapi apa daya, aku juga terpuruk sekarang. Kehilangan satu member kami, merupakan suatu pukulan terbesar dalam karir Bigbang. Untung saja ada Dara disampingku. Memberiku semangat dan motivasi untuk segera bangkit.
Aku menarik napas dalam lalu ku buang pelan. Ku buka laci di sebelah tempat tidurku, mengambil sebuah barang di dalamnya. Kulihat sebentar barang itu… sebuah barang berbentuk hati berwarna merah dengan pita sebagai pemanis. Di dalamnya ada sebuah cincin permata berwarna silver dengan batu safir hijau diatasnya. Cincin berharga untuk seseorang yang ku sayangi… Dara. Ku masukkan lagi kotak itu kedalam laci. Ku raih telpon genggamku yang ada di atas meja. Ku tekan digit nomer yang tertera di layar handphoneku.

“Yeobeoseyo, Jiyong-ah?” suaranya yang lucu menyapaku. Kurasakan secarik senyum terlukis di bibirku.
“Ne. Yeobeoseyo…”

“Ada apa menelponku malam-malam seperti ini?”
Ya Tuhan…. Bahkan baru beberapa jam saja tidak bertemu rasanya sudah seperti sepuluh tahun. “Bogoshipeo… aku merindukanmu…”

“Mwohae? Kita baru dua jam tidak bertemu kau sudah kangen? Aigo~” Hahaha. Suara dan tingkah lakunya yang khas membuatku rindu setengah mati.
“Wae? Tidak suka?”

“Bukan maksudku seperti itu-“
 
“Lalu? Kau tidak suka aku merindukanmu, he?”

“Kau ini ambekan sekali sih!”  dia mendengus kesal, “Aku suka kok… neomu joha.”
 
“Hahahaha… ne arraseo… kau belum tidur?”

“Sebenarnya ketika kau menelpon, aku sedang berusaha untuk tidur.”
 
“Ah~ mianhae…”

“Hmm… gwaenchanayo..”
 
“Tidur dirumahku saja yuk!”

“Ne???!!!”  pekiknya. Teriakan pelannya yang sedikit nyaring membuatku menjauhkan sedikit telponnya dari kupingku.
“Iya… kau ke rumahku sekarang….”

“Kau memintaku untuk datang kerumahmu larut malam seperti ini? Ya neo michyeosseo?!!!”
 
Aku tertawa geli karena sikapnya yang tiba-tiba berubah jutek. “Haha. Itu kalau kau mau… I really need you. Atau kalau tidak aku yang ke dorm mu sekarang”

“Tapi ini sudah larut, Ji. Kau mau terjadi kecurigaan ha? ”
 
“Tapi aku membutuhkanmu sekarang.”

“Tak usah memaksakan diri. Besok pagi-pagi sekali aku akan kerumahmu. Ok?”
Hahaha yes! “Jinjja?”

“Hmmm…”
 
“Hahaha oke. Akan ku tunggu ya…”

“Ne… Besok pastikan Gaho tidak mengigitku ketika masuk ke dalam rumahmu. Kau tahu kan, aku masih sedikit takut dengan binatang.”
 
“Hahaha, siapa Tuan Putriku yang cantik jelita~”

“Hahaha gombalanmu membuatku jijik, Jiyong-ah.”
 
“Tapi kau suka kan?” Menggoda dia itu sangat menyenangkan. Aku terlalu addicted dengannya.

“Haish. Jeongmal!”
 
“Haha.. ya sudah, tidur sana.”

“Ne… Jagiya goodnight.”
 
“Have a nice sleep, Darong.. Bye..”
KLIK.
Telpon pun mati. Yah… setidaknya mendengar suara dia bisa membuatku tidur nyenyak. Kulihat wallpaper yang ada di layar handphoneku. Fotonya di teaser lagu 2NE1 terlihat sangat cantik. Dia adalah anugerah terindah yang pernah ku miliki. Terima kasih, Tuhan…
ButterflyButterflyButterfly 
(Tomorrow morning)
(Dara’s POV)
Aku sudah sampai di depan pagar rumahnya. Aku turun dari mobilku, untuk membuka pagar rumahnya. Dan ternyata tidak dikunci. Dasar bodoh! Kalau ada pencuri masuk bagaimana…
Setelah terbuka ku parkirkan mobilku di garasi. Mobilku dan mobilnya berwarna senada, putih mutiara. Hanya saja, mobil kami berbeda mereknya. Dia Bentley, dan aku SUV. Netizen-netizen sempat curiga tentang kesamaan warna dari mobil kami. Yah… sebenarnya kecurigaan mereka benar sekali.
Ku buka pintu rumahnya dengan kunci rumahnya yang ku punya. Setelah ku masuk, lobby rumahnya yang besar menyambutku. Lampu besar yang tertancap diatas rumah menerangi sebagian ruangan. Tanpa berlama-lama aku langsung berlari menuju kamar Jiyong.
Sebelum ke kamarnya, aku menaruh barang belanjaanku di dapurnya. Aku berani bertaruh, tadi malam pasti dia tidak makan.
Setelah menaruh barang belanjaanku. Aku langsung bergegas ke kamarnya. Kamarnya terletak di lantai dua. Semoga Gaho tidak tidur di depan kamarnya. Anjing itu bertambah gemuk dan tinggi. Tak selucu ketika masih bayi dulu.
Kulirik takut-takut ke arah pintu kamarnya. Ah… ternyata tak ada Gaho.
Dengan pelan kubuka pintu, pasti dia masih tidur. Dan benar saja, dia terlihat tidur pulas sekali. Aku duduk di pojok tempat tidur tepat disampingnya. Melihat wajahnya yang masih tertidur. Yah.. ternyata saat tertidur pun masih terlihat tampan.
Tanganku tak sadar mengelus pipinya yang agak kurus. Kutelusuri lekuk wajahnya, bibirnya, hidungnya, lalu matanya.
“Ya! Mwohaneun geoya??” matanya tiba-tiba terbuka. Astaga… jadi dia sudah bangun daritadi? Dasar iseng!
“Kau sudah bangun he?” tanyaku agak kesal.
Dia menegakkan badannya. “Sudah daritadi. Aku juga dengar ketika mobilmu masuk tadi.”
“Dasar iseng!,” kucolek batang hidungnya. “Sudah cepat bangun,” kataku beranjak bangun dari tempat tidurnya. Tapi belum saja aku berdiri, dia menarik tanganku.
“Lima menit saja…” rengeknya. Tangannya yang mungil (?) memeluk pinggangku.
“Waeyo?” aku membalikkan tubuhku ke arahnya. Dia menyembunyikan wajahnya di perutku.
“Apa yang harus ku lakukan… aku… aku-“
“Daesung?” tanyaku langsung. Dia menjawabnya dengan anggukan pelan. Kutangkap pipinya pleh tanganku.
“Lihat aku…” dia mendongakkan kepalanya. “Kau harus kuat. Kau adalah leader dari Bigbang. Kau yang harus memotivasi anggotamu untuk bangkit dari keterpurukan. Aku tahu ini memang berat, tapi apakah kau harus terus seperti ini? Anggap ini cobaan untuk membuat Bigbang menjadi lebih dewasa, menjadi lebih kuat. Ok?”
Dia menggelengkan kepalanya. “Sulit… Bigbang adalah lima orang. Hilang satu, berarti bukan Big-“
“Bigbang tetap berlima,” potongku. Dia mengeratkan pelukannya di perutku. Aku mengelus rambutnya yang sekarang berwarna dark blue.
“Kau tidak merasakan beban yang ku panggul, Dara-ya. Aku takut tidak bisa melewati ini semua…” keluhnya.
Aku mendengus, “Kau yang seperti ini, bukanlah Jiyong yang selalu berada disampingku. Kemana, Jiyong yang kuat saat menghadapi berbagai masalah? Apa kau masih lupa dengan kasusmu? Kasus tentang lagu Heartbreakermu yang dituduh menjiplak lagunya Florida? Kau bisa melewati itu semua, mengapa kasus seperti ini tidak bisa?” cecarku kesal.
Dia menggelengkan kepalanya. “Molla… masalah ini lebih rumit daripada yang ku punya waktu itu, Dara. Jinjja… neomu himdeuro…”
“Tidak ada yang sulit jika kau mau berusaha bangkit, Jiyong.”
Dia mendongakkan kepalanya lagi, menatap mataku dalam. Aku tersenyum kepadanya..
“Kau mau sarapan?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.
“Hmm…” gumamnya pelan.
“Geuraeyo. Yuk, aku buatkan nasi goreng kimchi untukmu. Kajja…” kataku sambil melepaskan pelukannya. Dia berjalan lemas di belakangku.
“Eih… jangan lemas seperti itu, Jiyong-ah…” aku mengingatkan.
“Hmm arraseo,” jawabnya singkat.
Aku berjalan menuju dapur, sedangkan dia duduk di ruang tv. Dinyalakannya TV yang besar itu. Kulihat dia mengganti-ganti channel mencari acara yang bagus. Dan samar-samar ku dengar…

“Bigbang sedang diambang kehancuran. Salah satu anggotanya, Daesung, terlibat masalah yang serius. Kemarin sore, dia menabrak pengendara motor. Sampai saat ini, dia masih di periksa oleh polisi setempat. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya. BIGBANG tahun ini baru comeback dengan album baru mereka. Tapi baru beberapa bulan setelah mereka comeback, tiba-tiba salah satu anggotanya mendapatkan masalah serius. Perwakilan dari YG Entertainment-“
Tiba-tiba TV mati. Kulihat dia dari kejauhan, dan… dia menangis. Ya Tuhan… tolong bantu dia lepas dari cobaan ini.
“Jiyong-ah…” panggilku. Tak ada jawaban…
“Jiyong-ah…” panggilku lagi agak sedikit kencang.
“Ne..” jawabnya dengan suara parau.
“Bisakah kau taruh kimchinya di mangkok?” tanyaku berusaha mengalihkan perhatiannya.
Jiyong mengangguk, “Ne…”
Dia duduk di kursi pantry dekat dapur, menemaniku memasak. Kami tidak berbicara satu sama lain. Aku sibuk dengan masakanku, sedangkan Jiyong… sepertinya melamun.
Lima belas menit kemudian, nasi goreng kimchi buatanku sudah selesai. Hmmm… sepertinya enak.
“Nasi goreng kimchi nya sudah siap. Sarapan dulu yuk,” ajakku. Dia berjalan di belakangku dengan wajah lesu.
“Eih.. Jangan sedih terus…” ujarku sambil menyiapkan piring, sendok dan garpu di meja makan.
Dia menarik napas dalam-dalam lalu dikeluarkan perlahan. “Ku usahakan.”
Saat kami makan tak banyak yang kami bahas. Aku tidak ingin dia bertambah sedih kalau aku mengajaknya berbicara tentang Daesung. Seumur hidupku, aku tak pernah melihatnya seperti ini. Cobaan yang kau berikan berat sekali, Tuhan…
“Kau tidak ada jadwal hari ini?” tanyanya di sela-sela makannya.
“Hmm… ada, nanti kami akan comeback dengan lagu I Am The Best di SBS.”
“Oh… jam berapa?”
“Nanti siang. Makanya, aku datang pagi-pagi kerumahmu, takutnya hari ini aku tak bisa menemanimu.” Dia hanya menganggukan kepalanya, lalu melanjutkan makannya.
“Oh ya.. Mianhae, dinner kita kemarin batal.”
“Hmm… gwaenchana.”
“Bagaimana kalau nanti malam kita dinner?” tanyanya.
“Ne? Dimana? Apa tidak apa-apa kalau kita pergi keluar dalam keadaan yang seperti ini?”
Aku sedikit khawatir dengan masalah yang masih menimpa agensi kami. Aku takut wartawan dan stalker-stalker kami sengaja menguntit kemana pun kami pergi.
“Kita dinner disini saja…”
“Oh.. hmm,” gumamku sambil mengelap mulutku dengan serbet. “Ok…”
“Baiklah.”
“Kau tak ada jadwal?” tanyaku.
“Hmm… sementara ini jadwal Bigbang di cancel.”
“Sampai kapan?”
“Mungkin seminggu… kami ada acara Lotte Dutty Free concert sabtu depan. Kami akan perform tanpa Daesung sepertinya.”
“Ah… arragesseo. Hwaiting!” ucapku sambil mengepalkan kedua tanganku memberikan semangat.
Bibirnya yang mungil terangkat dari dua sisi sudutnya. “ Gomawoyo. Jjah, manhi mokgo (yang banyak makannya).”
“Ne..” jawabku girang.
ButterflyButterflyButterfly 
(Author’s POV)
Sekarang mereka duduk berdua di ruang tv. Dara meletakkan kepalanya di dada Jiyong, dan Jiyong pun merangkul bahu Dara. Mereka sedang mendengarkan musik bersama-sama.
“Hei… lagu siapa ini?” tanya Dara tiba-tiba.
“Neyo, Never knew I needed. Waeyo?” Jiyong balik bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari handphonennya.
“Ani… that’s just so sweet. Hehehe…” kekeh Dara.
Jiyong menghentikan aktifitas dengan handphonenya, lalu melirik ke arah Dara. “Johahae?”
Dara mengangguk pelan. “Hmm neomu joha…”

You’re the best thing I never knew I needed, oh~
Suara Jiyong terdengar mengikuti alunan lagu. Suaranya yang khas, tipis, dan romantic membuat pipi Dara semakin memerah karena malu. Disaat masa-masa terpuruknya dia yang seperti ini, dia masih mau berusaha bersikap manis kepadanya. Padahal dia tahu, hati Jiyong mungkin sangat sakit karena masalah Daesung waktu itu.
 

So when you were here I had no idea
You the best thing I never knew I needed
So now it’s so clear, I need you here always
 
My accidental happily(Ever after)
The way you smile and how you comfort me(With your laughter)
I must admit you were not a part of my book
But now if you open it up and take a look
You’re the beginning and the end of every chapter
 
You’re the best thing I never knew I needed
So when you were here I had no idea
You the best thing I never knew I needed
So now it’s so clear, I need you here always

Who knew that I could be
So unexpectedly
Undeniably happier
Sitting with you right here, right here next to me
Girl, you’re the best
 
You’re the best thing I never knew I needed
So when you were here I had no idea
You the best thing I never knew I needed
So now it’s so clear, I need you here always
 
Jiyong menatapnya sendu, sedangkan Dara mengeratkan pelukannya yang melingkari pinggang Jiyong. “Saranghae…”
Jiyong membalas pelukan Dara dan tersenyum. “Nado. I love you more. Still close with me, okay?”
Dara mengangguk, “Hmm… always by your side.” Lalu diciumnya puncak kepala Dara, lama.
Tiba-tiba Jiyong melepas pelukan Dara. “Ya! Aku punya sesuatu untukmu.”
Mata Dara membulat ,bingung dengan maksud Jiyong. “Sesuatu? Untukku?” tanyanya dengan suara nyaring.
Jiyong mengangguk mengiyakan. “Gidarilkkae,” jawab Jiyong menggantung lalu lari menuju kamarnya.

Mau apa dia? Pikir Dara dalam hati.
Sesaat kemudian Jiyong pun kembali lagi ke ruang tv. Wajahnya berseri-seri sekarang. Kedua tangannya disembunyikan di belakang punggungnya.
“Kau membawa apa?” tanya Dara penasaran.
Jiyong hanya senyum penuh arti. “Kau menyembunyikan apa dariku?” Dara bertanya lagi.
Tiba-tiba Jiyong berlutut di depan Dara yang masih duduk di sofa. Dara bingung, alisnya bertaut. “Y-y-ya. Mwo-mwohae?” ujar Dara tergagap.
Dia berdeham sebentar, berusaha menyingkirkan rasa gugupnya yang lagi-lagi menderanya. Selalu begitu…
“Ini untukmu…” kata Jiyong sambil menunjukkan barang yang disembunyikannya tadi. Dibukanya kotak berwarna merah itu, di dalamnya terlihat cincin silver dengan batu safir.
Mata Dara terbelalak semakin lebar, kedua tangannya menutup bibirnya yang mungil.
“Inikah yang kau mau? Sebuah lamaran dengan membawa cincin?” Dara tak bisa berkata apa-apa, lidahnya terlalu kelu untuk berbicara sesuatu, jadi dia hanya menganggukan kepalanya.
Jiyong mengambil tangan Dara yang menutupi bibirnya. “So… aku akan melakukannya sekali lagi, seperti yang kau mau.” Lagi-lagi Dara hanya mengangguk.
“Sandara Park… sejak mengenalmu, aku yakin kau yang terakhir di hidupku. Senyummu yang selalu terlukis sempurna di dalam pikiranku, tawamu yang selalu terdengar indah di telingaku. Kau bagaikan candu untukku. Karena itu…” Jiyong berhenti sebentar untuk menghirup napas.
“Would you marry me?” tanya Jiyong tegas sambil menatap dalam ke mata Dara.
Tanpa berkata-kata lagi, Dara menganggukan kepalanya lalu memeluk Jiyong. “Aku mau!!!” pekik Dara.
Jiyong tertawa pelan, dielus-elusnya rambut Dara. “Haha. Gomawoyo, chagi…”
Sesaat kemudian mereka melepaskan pelukan mereka. Dengan gentlenya, Jiyong memasukkan cincin spesialnya ke jari manis Dara yang mungil.
“Jangan sampai hilang ya…” kata Jiyong mengingatkan lalu mencium puncak tangannya lama.
Dara tersenyum sambil melihat cincin yang bertengger manis di jarinya. “Hmm.. tak akan ku hilangkan.”
Jiyong terkekeh melihat Dara yang masih berbinar-binar melihat cincin yang dikasihnya. Diacak-acaknya rambut Dara yang sekarang dibuat ikal.
“AH!! Jam berapa ini??!” teriak Dara.
Jiyong yang masih termangu melihat Dara, kaget mendengar teriakannya. “Jangan berteriak seperti itu, bisa tidak? Merusak suasana saja,” protes Jiyong smbil memanyunkan bibirnya.
“Astaga aku telat! Aku harus segera pergi Jiyong-ah,” ujar Dara bangkit dari duduknya lalu berlari kecil mengambil tasnya yang ada di meja makan.
“Kok cepat sekali sih? Memangnya ada apa?” tanya Jiyong menyusul Dara ke meja makan.
“Sebelum kami ke gedung SBS, ada briefing dulu dengan PD-nim 2NE1 TV. Kami sudah memulai broadcastnya besok,” terang Dara.
“Hmm… arraseo… kau bawa mobil kan?”
 Dara mengangguk, “Bawa kok. Oh iya, Ji,” Dara berhenti sebentar membalikkan tubuhnya menghadap Jiyong. “Untuk beberapa saat, kita… jangan sering-sering bertemu ya.”
“Mwo? Waeyo??!” pekik Jiyong kaget.
“Kau mau mereka tambah curiga kalau kita ada hubungan apa-apa? Tahan dulu ya hasratmu untuk mendekatiku.”
“Tapi kan kru Mnet sudah tahu kita berpacaran…” kata Jiyong sedikit tidak terima.
“Itu kan krunya, bukan fans-fans kita. Sebaiknya kau lihat video-video kita di youtube. Hhh… aku sampai tak mengerti bagaimana bisa mereka mendapatkan bukti-bukti itu.”
“Bukti-bukti?” Alis Jiyong terangkat. “Bukti apa?”
“Bukti kita berpacaran,” jelas Dara. “Dari cincin, gelang, kalung, baju, sepatu, semuanya. Bahkan ketika kau curi pandang kearahku. Mereka tahu dan sadar akan itu semua, Ji.”
“Jinjjaro?” ujar Jiyong sedikit tak percaya. “Wah… kalau begitu kita harus lebih membuat mereka yakin kalau kita pacaran hahahaha.”
“Ya!!!” Dara menggetok kepala Jiyong. “Date-ban ku belum berakhir Jiyong-ah. Kau mau kita berdua berurusan dengan YG Appa, ha?”
“Tapi mereka juga sudah tahu kan? Kita sebenarnya hanya tinggal memberi tahu mereka kalau kita punya hubungan special. Lagipula, sepertinya itu akan sedikit menyenangkan….” Jiyong menunjukkan smirknya.
“Hah… sudahlah kita bahas lain kali. Aku harus pergi. Geurae kkalke!” ujar Dara sambil berjalan ke pintu.
“Hmm…kalau sudah selesai telepon aku ya,” Jiyong mengingatkan.
“Ne… nanti ku telpon kau…”
Dara masuk ke dalam mobil SUV putihnya. Jiyong membukakan pintu pagar. “Aku pergi dulu ya. Jangan berkelakuan aneh selama kau cuti sementara, ok?”
Jiyong mengangguk dan tersenyum. “Hmm… arra…”
“Geuraeyo. Annyeong!” pamit Dara.
“Annyeong..” balas Jiyong, melambaikan tangannya.
Sesaat kemudian mobil Dara melesat sedikit kencang…
credit photo by Sandara Park’s me2day account.
-TO BE CONTINUED-


TBC🙂 hehehehehehehehe sorry ya kalo singkat dan gak banget. i tried my best😦

oh well… aku mau sharing atau lebih tepatnya ngasih tahu.
untuk para Applers ataupun Daragon Shipper, please banget pleaseeeeeeeeeeeeeeeeeeeee kalo seandainya kalian liat fancam or else yang NON DARAGON pleaseeeeeeeee PLEASE BANGET JANGAN POSTING COMMENT TENTANG DARAGON DISITU. udah cukup insiden fancam encorenya GD, applers dan SANDARA PARK di bash disana. please, Dara dan Applers udah cukup punya banyak haters. jangan sampe kita jg dibenci sama semua VIP dan Blackjack. masa sih VIP sama BJ fanwar cuma grgr masalah nge-ship couple? -___- we supposed to be COOL FANDOM, right? so please, kalo mau SPAZZING kalian bisa buka video khusus DARAGON,  atau join di forum internasionalnya di daragon-hideout.com. kalo mau nonton video daragon, lebih baik buka akunnya ryelsiappler7 dia itu video slayer nya daragon-hideout. ok, thats it.

yang baca fanfic ini, please ya kasih tahu temen2nya yang sesama appler🙂

gomawo~ *bow*

RCL JANGAN LUPA!!!!

sincerely, applersoti😉