[CHAPTER 1] MY ADORABLE FIANCEE

 

Author : Madhit

 

Genre : Romance

 

Length : Chaptered

 

Main Cast

* Park Chiyoon as herself

* Super Junior Lee Donghae as himself

* Jessica Jung as herself

* Song Seung Hoon as Jun So Min

* Park Yoojin as herself

 

Disclaimer :

 

Cerita ini murni buatanku . Bisa dibilang FF pertama karena sebelumnya hanya menulis cerpen oneshot. Ohya, jika ada complain mengenai kesamaan karakter tokoh maupun alur cerita bisa langsung diberikan komentarnya. J

 

 

 

 

 

“Chiyoon-ah?!” Sebuah suara yang terdengar sangat familiar di telingaku.

Aku menoleh ke belakang dan mendapati Junso tengah melambai ke arahku dengan senyumnya yang lebar. Entah darimana, aku tiba-tiba merasa ada angin sejuk yang menerpa wajahku, jantungku berdenyut dengan cepat, dan darahku berdesir-desir . Bisa kupastikan saat ini wajahku pasti sudah merona merah. Kulirik Donghae sekilas, ia hanya diam. Pandanganku beralih ke arah Junso

“Wah kau sungguh hebat , Chiyoon-ah !” Lelaki itu tertawa padaku. Junso adalah tetangga depan rumahku . Sebetulnya ia adalah sepupu Donghae, namun karena sifat mereka yang berlawanan aku cenderung lebih menganggapnya itu sebuah lelucon. Junso mengahmpiriku , ia berdiri di depanku dan menyentuh puncak kepalaku. Tatapannya tak lepas dari mataku.

“Mengapa oppa ada di sini?” Aku menggamit jemarinya di atas kepalaku.

“Hanya kebetulan jalan-jalan. Kau pasti lelah kan?!” Junso menoleh ke arah Donghae yang juga sama-sama berwajah kusut sepertiku.

“Kalian berlomba? Untuk apa?” Aku dan Donghae sama-sama terdiam. Junso memandangiku dan Donghae secara bergantian. Kemudian ia menghampiri Donghae.

“Donghae-ah. Mengapa kau sungguh lemah! Ah aku tak percaya ini. Cepat bangunlah” Donghae hanya terdiam dan tersenyum lemah. Junso menyediakan tangan untuk membantunya berdiri. Tinggi badan Donghae dan Junso hampir sama. Donghae mengibaskan celananya yang kotor sambil melirikku.

“Terimakasih hyung. Aku pulang dulu” Pamit Donghae datar. Terdengar sedikit nada kesal keluar dari mulutnya. Kutatap Junso dan saling mengedikkan bahu. Donghae melempar pandangannya pada kami, setelah itu berlari menjauh . Hah dasar orang itu, sedikitpun tak pernah menghormati Junso yang jelas-jelas lebih tua darinya. Ia mungkin saja merasa malu di depan Junso karena aku berhasil mengalahkannya.

“Apa tadi pagi dia salah makan? Mengapa wajahanya seperti itu?” Junso mengamati perubahan ekspresi wajahku.

“Entahlah” Aku tak begitu memusingkan sikap Donghae barusan . Menurutku hal tadi adalah biasa . Ia sering menampakkan sikap dinginnya di depanku.

“Dia memang sedikit mengkhawatirkan. Oiya, bagaimana kabar Yoojin?” Well, Junso dan Yoojin memang seumuran. Jarangnya mereka bertemu justru membuat Junso semakin sering menemuiku. Aku tak keberatan juga jika Junso selalu menanyakan Yoojin setiap kami bertemu.

“Onni? Dia sering pulang terlambat. Mungkin juga tugas di sekolahnya yang membuat ia selalu lembur dimalam hari” Aku dan Yoojin hanya terpaut 1 tahun.

“Benarkah? Baiklah, kapan-kapan aku akan mengunjunginya”

“Sebaiknya memang begitu oppa” Akhirnya kami pulang bersama.

 

……

 

Kurasakan seseorang menggoyang-goyangkan lenganku.

“Chiyoon-ah? Bangun. Ada yang mencarimu di depan” Ucap Yoojin lirih. Aku mengerjapkan mataku. Memang siapa yang mencari?

“Siapa?” Alisku berkerut

“Entahlah. Sebaiknya cepat kau temui” Yoojin melemparkan tubuhnya di ranjangku dan mulai menikmati istirahatnya.

“Mengapa kau tidak tidur di kamarmu ?”

“Sepertinya lebih nyaman disini. Kamarku penuh dengan kertas yang belum kubereskan. Sudahlah cepat kau temui temanmu. Dia ada di bangku taman” Ucapan Yoojin tidak terlalu jelas karena matanya mulai sedikit terpejam. Ia tertidur.

Aku beringsut dan merapikan penampilanku. Dan menuju ke taman samping rumah. Kudapati seorang gadis sebaya denganku tengah memperhatikan sekeliling rumahku. Ia membelakangku. Aku mendekatinya, dan ia menoleh. Sepertinya aku tahu gadis ini. Dan kesan yang kudapat justru ingatan buruk untukku. Gadis itu memiliki sepasang mata yang besar, rambut pirang panjang, dan dagunya yang sedikit tegas.

“Hai nona Park” Sapanya dengan tersenyum

“Bukankah kau..” Ucapanku terpotong

“Ya benar aku Jessica, sahabat Donghae. Senang bertemu denganmu”

“Ada perlu apa kau kemari?”

Jessica merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah benda yang tak bisa kuterka. Yang jelas, benda itu berbentuk hati warna kuning keemasan dan juga secarik kertas padat yang dibalut dengan pita warna merah muda di luarnya. Ia menyerahkan kepadaku masih dengan senyum nya. Aku menerima dan membacanya dalam hati.

“Undangan pesta ulang tahunmu ?” Alisku berkerut, Jessica mengangguk

“Iya. Ini untukmu Chiyoon !” Jessica tidak hanya memanggilku Nona park , tapi dengan nama panggilanku. Apakah Donghae yang memberitahunya?

“Mengapa kau bisa mengundangku ? Sedangkan aku baru kenal kau hari ini”

“Karena kau adalah teman Donghae. Teman Donghae adalah temanku juga” Ujar Jessica , senyumnya mengembang.

“Kutunggu kedatanganmu” Jessica berbalik dan masuk ke mobil . Diam-diam kupandangi sosoknya dari belakang. Cantik dan menawan , itulah yang bisa kugambarkan dari seorang Jessica. Ia memiliki kulit yang putih, tinggi badan yang proporsional, wajah cantik serta memiliki pesona yang bisa meluluh lantahkan hati setiap lelaki . Mungkin hal inilah yang membuat Donghae nyaman berada di dekatnya.

 

Jessica memasuki mobil. Aku tak tahu siapa dibalik kemudi mobil itu. Yang jelas mobil itu telah terlanjur melesat pergi dengan cepat ketika aku mulai menyadari betapa bodohnya diriku. Bukankah Jessica sebenarnya menyadari bahwa aku dan Donghae tidak pernah akur? Bukan hanya tidak pernah akur, tapi kami adalah musuh. Nyata nyata ia menganggapku musuhnya dan nyata-nyata bahwa ia selalu membenciku. Lalu apa yang membuat Jessica berfikir bahwa aku adalah teman Donghae? . Tunggu dulu, ini mungkin sebuah kesalahan. Ya ini nyata adalah kesalahan!

 

 

Sudah kuputuskan untuk datang ke pesta Jessica. Aku merasa tidak enak karena dirinya sendirilah yang mengundangku kemari. Sayang sekali pilihan baju ku hanya terbatas. Lebih tepatnya hanya 1 karena yang lain sudah kekecilan. Satu-satunya gaun yang pas adalah gaun yang dibelikan ibu saat tanteku menikah tahun lalu, itupun juga sering kupakai saat ada event event di sekolah dan tentunya sudah sering dilihat oleh makhluk berengsek bernama Donghae itu.

 

Dari tadi aku hanya berputar putar di depan cermin kamarku. Beharap ada ibu peri yang tiba-tiba merubah gaun ku menjadi yang baru. Betapa senangnya diriku. Tapi Ah sial. Sepertinya aku harus memakai gaun itu lagi. Walapun keluargaku adalah keluarga yang cukup berada, namun dari kecil ibu sudah membiasakan diriku untuk hidup sederhana. Sesuatu yang bersifat kebutuhan tersier selalu kubeli dengan proses menabung karena ibu menginginkan aku untuk merasakan bagaimana susahnya cari uang. Kukira ibu belum berhasil karena terkadang aku masih suka minta uang tambanhan lagi.

Aku berjalan menuju lemari dan mengeluarkan gaun warna hitam dengan aksen yang sederhana. Aku kibas-kibaskan karena sedikit lusuh akibat jarang dipakai.

 

TOK TOK!!

Yoojin masuk ke kamarku dengan membawa sebuah kotak besar.

“Ibu bilang kau akan ke pesta ya?” Kujawab dengan anggukan lemah sambil menempelkan gaun hitamku di tubuhku dan melihat pantulanku di cermin.

“Benarkah gaun ini masih cocok jika kupakai? Sayangnya sudah sering aku pakai”

Aku melemparkan tubuhku di ranjang. Yoojin menghampiriku. Samar-samar kulihat ia membuka kotak kardus yang tadi ia bawa. Ia mengeluarkan isinya, dan memandangku dengan jenaka.

“Oh aku harap isinya adalah sepatu kaca, Onni” Ucapku tanpa memandang apa yang ia pegang. Aku masih berbaring menatap langit-langit kamar ketika Yoojin berdiri di depanku. Ia masih memandangiku sambil sedikit menggodaku.

“Benarkah sepatu kaca? Bagaimana jika di dalamnya adalah sebuah gaun ?” Aku seketika terlonjak. Memang hal inilah yang kuharapkan. Gaun selain milikku sendiri. Dan ternyata benar. Kakakku yang cantik ini sedang memegang gaun miliknya yang jarang ia pakai. Setahuku, Yoojin sangatlah pelit tentang maslah pinjam-meminjam gaun karena ia selalu merawat gaunnya dengan baik. Berbeda denganku , ia selalu berpesan pada pembantu rumah kami untuk berhati-hati saat mencuci gaunnya. Jika perlu ia rela tidak mencuci gaun itu asal serat nya tidak kusam.

 

Aku masih memandangi gaun yang dipegang oleh Yoojin.

“Apa Onni serius? Kau mau meminjamkannya untukku?”

Ini mungkin semacam antisipasi. Siapa tahu, setelah ini Yoojin meminta uang sewa padaku atas gaun yang kupinjam darinya.

“Tentu saja adikku. Apa kau tidak mau? Wah padahal aku jarang sekali menawarkan gaunku untuk dipinjam olehmu”

“Maksudmu? Kau benar-benar akan meminjamkannya untukku? Waaah terimakasih Onni” Aku cepat-cepat memeluk Yoojin. Meski terkadang ia pelit, namun di saat seperti ini ia justru menjadi ibu peri penolongku.

“Cepatlah mandi. Mau kuantar?” Aku mengangguk dengan cepat dan segera berlari menuju kamar mandi.

“Thanks sist” Teriakku dari kejauhan. Yoojin yang kulihat hanya dapat melengos sambil melenggangkan tubuhnya pergi.

 

….

 

Aku mengedarkan pandanganku. Sepuluh menit yang lalu aku baru keluar dari pintu rumah dan kemari diantar oleh Yoojin. Di dalam rumah ini, musik dari ayumi hamasaki mengalun merdu, tidak keras dan tidak juga pelan. Banyak sekali orang di sini yang kebanyakan dari kalangan menengah ke atas. . Aku jadi tak perlu memusingkan penampilanku karena kurasa aku sepadan dengan mereka. Meski kejadian beberapa minggu yang lalu telah menyayat hatiku. Kejadian yang mungkin saja tak akan kulupakan seumur hidupku. Ya, siapa lagi kalau bukan Donghae. Makhluk sialan itu selalu saja mengejekku bahwa tubuhku lebih mirip papan cucian daripada tubuh seorang gadis. Gepeng dan abstrak ! Well, mungkin kalimat yang terakhir terdengar agak keterlaluan, namun memang inilah yang dikatakannya. Dan Donghae lah lelaki pertama yang menyadarinya dan mengatakannya dengan frontal di depan mukaku. Seolah tak ada beban, seolah ia tak takut mungkin saja karma akan jatuh padanya. Pernah diriku berfikir dan berikrar, bahwa suatu saat Lee Donghae akan 10 ribu kali lebih menyesal telah mengatakannya kepadaku , bila perlu akan

kubuat ia jatuh cinta padaku , tergila-gila padaku sampai ia sendiri kerepotan menahan perasaannya. Tentu saja itu hanya khayalanku saja.

 

Kulihat Jessica bersama dengan teman-temannya tengah mengobrol. Sesekali mereka tertawa, dan sesekali Jessica menggelengkan kepalanya karena sedang digoda oleh teman-temannya. Aku jadi sedikit ragu ingin menghampirinya.

Aku mendekati kerumunan Jessica, namun tiba-tiba nafasku sesak karena seseorang telah mebuatku kaget. Kemunculannya yang tiba-tiba ditambah dengan sosoknya yang baru saja kupikirkan. Siapa lagi. Ia Lee Donghae!

 

Walaupun terbilang ia masih siswa sekolah menengah , namun penampilannya saat ini agak membuatku berfikir dalam melihat sisi lain dari dirinya. Ia memakai kemeja warna ungu kebiruan. Wajahnya sangat pas dengan gaya rambut yang agak sedikit berantakan . Sepertinya ia lelaki yang kurang suka berpenampilan mencolok.

“Kau datang” Ucapnya dengan menyesap orange jus nya. Mata nya melihat ke arah lain namun sikapnya tertuju padaku. Gelas orange jus itu akhirnya habis dan ia memanggil pelayan untuk minta segelas lagi.

“Jessica yang mengundangku. Kau jangan terlalu percaya diri” Aku membuang muka, bingung ingin melihat ke arah siapa. Jelas-jelas hari ini penampilannya sangat enak untuk dilihat, mengapa aku malah membuang muka? Well, ini semata-mata hanya ingin menunjukkan bahwa diriku tak bisa dipandang remeh olehnya.

“Ternyata kau bisa juga menjadi perempuan ya” Ucapnya masih tak mau memandang sosokku. Ia tertawa sekilas dan meletakkan gelas kosongnya yang ke-dua itu di atas meja lalu bersandar di dinding. Lelaki ini, kau sungguh kurang ajar. Tidakkah ia tahu sesensitif apa perasaan seorang gadis jika perkataannya seperti itu.

“Bukannya selama ini kau sadar aku perempuan. Makanya kau selalu mengejekku” Ucapku tak kalah sinis. Aku menatap kedua matanya yang kini berbalik ke arahku. Ia hanya memandangku dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa kuartikan.

“Lee donghae ssi, bisa kau berikan argument yang jelas, mengapa kau selalu saja benci melihatku? Bukankah lebih baik jika kau tidak menghampiriku kemari ? Mengapa kau sangat suka membuatku kesaaal hah??!” Hardikku, mataku berkilat menahan emosi. Feeling ku mengatakan banyak sepasang mata yang mengarah kemari, meski aku tak yakin suaraku bisa mengalahkan suara merdu ayumi hamasaki. Donghae menyentuh dahinya , seperti berfikir sekilas. Ia mendekatkan wajahnya pada telingaku. Aku sedikit mundur dan membuang muka. Cih! Mau apa dia !

“Maaf, tapi apa kau merasa bahwa aku membencimu ?” Matanya menatap dalam kedua mataku. Jleb! Nafasku terengah. Tidak sadar juga bahwa dadaku sudah naik turun dibuatnya.

“Kau menjengkelkan ! Sikapmu itu selalu membuatku kesal !” Aku melengos dan hendak beranjak, namun niatku tak jadi saat tahu Jessica menghampiri kami bersama Junso. Omaigat. Sejak kapan mereka berdua berdiri disitu ? Apa mereka melihat saat aku membentak pada Donghae ?

 

Aku melihat kearah Donghae. Berbeda denganku yang kebingungan , ia malah terlhat sangat santai . Ia mengepalkan jemari tangannya, dan berdeham padaku seolah menandakan bersikap-santailah-karena-ada-mereka. Jessica yang sebelumnya menyelipkan lengannya di lengan Junso, kini berpindah dan bergelayut manja pada lengan Donghae. Apa Jessica dan Junso saling mengenal ? Jantungku tiba-tiba berdenyut kencang memikirkan kedekatan mereka berdua.

“Chiyoon –ah” Junso mendekat ke arahku . Sambil tersenyum manis, ia menyentuh kepalaku. Junso memang memiliki kebiasaan seperti ini setiap bertemu denganku.

Ekspresiku masih tetap sama. Tidak bisa dipaksakan sama sekali untuk bersikap biasa. Ini dikarenakan aku sudah bertemu dengan Donghae dulu dibanding dengannya, ditambah lagi melihat bagaimana kedekatan Junso dengan Jessica. Rasanya semua orang disini menjadi sekutu Donghae dan bersiap untuk menghancurkanku. Kulihat Junso mengerutkan alisnya, menyadari bahwa suasana hatiku tidak terlalu baik.

“Apa sudah terjadi sesuatu?” Junso berkata lirih padaku, bagiku ini lebih seperti sebuah bisikan yang menggelitik telingaku. Kugelengkan kepalaku pelan. Seperti tak puas dengan jawabanku yang hanya itu, Junso beralih memandang ke arah Donghae. Aku yakin seratus persen bahwa Donghae tidak akan mempedulikanku, karena kini kulihat ia sibuk bersama Jessica.

“Tidak terjadi apa-apa, Oppa” Ucapku agak mendongak memandang wajah Junso yang lebih tinggi dariku. Kulihat ia memastikan lagi dengan mengerutkan alisnya seolah berkata ‘kau yakin?’ dan aku menjawabnya dengan anggukan kecil. Seketika itu juga Junso mengembuskan nafasnya . Terdengar seperti hembusan nafas karena lega. Benarkah Junso mengkhawatirkanku ?

 

Kulihat Jessica sedang tertawa bersama Donghae. Aku menatapnya sekilas , dan menghampirinya. Mereka berdua menatapku bersamaan dan saat itu juga menghentikan candaan mereka. Apapun itu, aku sama sekali tak peduli.

“Selamat ulang tahun Jessica, ini untukmu” Ucapku seraya menyerahkan sebuah kotak kecil berbalut kertas kado. Isinya adalah sebuah miniatur rumah terbuat dari akrilik yang dapat distel musiknya. Harga nya juga lumayan mahal, miniatur ini sangat popular akhir-akhir ini jadi kupikir setiap remaja akan menyukainya.

Jessica membulatkan matanya dan menatap kotak pemberianku dengan wajah sumringah. “Terimakasih Chiyoon-ah” Kulihat ia tersenyum ceria seraya menatap

sosok di sebelahnya. Donghae tersenyum sekilas, namun senyumnya memudar saat memandang ke arahku. Kami bertatapan cukup lama, kuputuskan untuk terus menatapnya sampai ia sendiri yang menyerah. Dan benar, beberapa menit kemudian ia menundukkan wajahnya.

“Seharusnya kau tak perlu melakukan ini Chiyoon-ah” Ucap Jessica masih berusaha basa-basi. Ia memandang Donghae dan membisikkan sesuatu. Terdengar lirih tapi aku bisa mendengarkannya sedikit.

“Oppa, kau tak lupa dengan hadiahmu kan ? Tahun lalu aku meminta tas. Untuk tahun ini kau tak lupa kalungnya kan ?” Mataku seketika mendelik. Yang benar saja, bukannya Donghae masih anak sekolah yang uang sakunya masih diatur ibunya. Walaupun ia berasal dari keluarga kaya raya, aku tak yakin bibi Lee membiarkan anaknya boros seperti ini.

 

Kurasakan seseorang menepuk pundakku pelan. Kulihat Junso mengerutkan alisnya.

“Sudah baikan?? Kau ingin apa? Biar kuambilkan” Tawar Junso masih dengan gaya khasnya. Sebenarnya dari lubuk hatiku, aku ingin cepat-cepat enyah dari ruangan ini. Tapi aku juga menghargai kebaikan Junso yang sekarang memilih menemaniku daripada bersama teman lain yang dikenalnya.

“Tidak perlu oppa. Kalau kau mau, bisakah kita pergi ke depan ?” Ajakku padanya. Setidaknya menghindar dari keberdaan Donghae bisa mengobati bad-mood ku saat ini meski tidak benar-benar pulang. Kulihat Junso menyetujuinya dengan menganggukkan kepala sekilas. Namun saat kami berdua hendak beranjak, tiba-tiba lampu di ruangan mati, nyanyian merdu ayumi hamasaki juga lenyap. Terdengar suara riuh tamu-tamu yang kebingungan sekaligus ketakutan. Bisa kurasakan badanku bergetar, aku memang sangat takut dengan kegelapan. Junso yang tadinya berdiri

disebelahku seakan hilang entah kemana. Keringatku berjatuhan meski sekarang kurasakan hawa yang sangat dingin. Sebuah suara MC menggema.

“Untuk para undangan diharap tenang. Sekarang ini adalah sesi permainan. Untuk setiap tamu undangan dapat melepas pegangannya dari temannya, dan diminta untuk berjalan ke arah manapun untuk mencari sepasang tangan dari orang lain dan mulai berpasangan. Waktu dimulai dari sekarang !” Terdengar bunyi peluit dan dibarengi oleh suara-suara seperti jeritan, canda tawa bahkan ada yang berteriak ‘jodohku, kemarilah kepelukanku’. Aku tak bisa berfikir apapun, yang kupikirkan saat ini hanya pulang , pulang dan pulang. Kebetulan posisi ku sekarang agak jauh dari tempat utama, dan lebih dekat dengan pintu keluar karena awalnya aku memang ingin pergi ke teras. Tanganku meraba-raba udara, berharap tidak ada seorangpun yang menghempas tubuh kecilku. Saat kudapat lima langkah maju, bisa kurasakan tanganku diraih oleh seseorang. Seseorang itu menggenggam jemariku dengan erat. Sebenarnya ada rasa nyaman yang meluap di hatiku, tapi Siapa dia?

 

 

My Adroble Fiancee,

To Be Continue…

*

Annyong J

Ohya, buat pembaca sekedar info saja bahwa FF ini akan kukirim setiap minggu nya ke email FFL . Mohon bantuannya, mohon komentar panjangnya. Komentar yang benar benar sebuah masukan untuk kemajuan jalan cerita. Kritik gapapa, yang pedas, manis, apapun itu akan saya buat menjadi bahan evaluasi . Asik ! J

FIGHTING !