Absolute Music and Art –Sketch. 9

 

Park Nana story…

 

“Nana…. Kaja, kita harus pergi ke suatu tempat.” Pagi-pagi sekali Cheolyong oppa datang ke rumahku dan langsung menarik tanganku menuju motornya.

“Jakkaman, aku ijin dulu sama ummaku.” Aku melepaskan tanganku sejenak dari genggamannya, “Memangnya ada apa sih?”

Cheolyong oppa diam saja dan melepaskan tanganku, “Yasudah ijin saja dulu, nanti kita bicarakan semua saat sampai di lokasi saja.”

 

…..

 

Cheolyong oppa mengajakku ke sebuah rumah yang agak besar dan saat kuketuk pintu, terlihat Byunghee oppa di depan rumahnya.

“Oh…. Ini rumahmu oppa?” tanyaku sambil masuk ke dalam rumah bersama Cheolyong oppa. Tapi Byunghee oppa hanya tersenyum tipis dan mengajak kami masuk.

“Hyoni ingin bicara denganmu Nana.” Jawabny pelan, “Tapi… jangan terlalu kaget dengan apa yang terjadi dengannya. Simpan saja semuanya di dalam hatimu.”

Aku semakin tak mengerti apa yang diucapkan Byunghee oppa, tapi begitu pintu kamar dibuka….. kini aku tahu apa yang ia maksud.

“Hyoni-sshi…. gwenchana??” aku menghambur ke samping tempat tidurnya dengan jantung yang berdebar debar. Apa yang terjadi dengannya? Kemana rambut panjangnya yang indah? Kenapa tubuhnya penuh luka?

“Jangan khawatirkan aku, Nana-sshi.” ucap Hyoni dengan wajah yang sedih, “Fisikku tidak apa-apa…. Tapi batinku rasanya tersiksa sekali. Mereka menyiksa mentalku.”

Cheolyong oppa yang baru masuk hanya bisa menutup mulutnya dengan bola mata yang hampir keluar, “Apa yang terjadi? Apa kamu menjadi korban pelecehan selanjutnya?”

Begitu mendengar perkataan oppa, Hyoni mulai menitikkan air mata dan menangis perlahan, “Nee oppa.”

Aku menelan ludah, sudah dua temanku yang mengalami ini. Ottokke? “Kata Byunghee sunbae, kau ingin bicara denganku. Sebenarnya…. Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Aku….. ingin minta tolong denganmu Nana.” Ucap Hyoni dengan suara yang serak dan masih terisak isak, “Jebal…. Lindungi Shinmi. Kurasa ia korban selanjutnya.”

Kami berdua dibuat terkejut dengan perkataan Hyoni, “Kenapa harus dia? Dia kan baru-baru ini dekat dengan kita. Apa dia membuat masalah?”

“Anii..” jawab Hyoni, “Aku sebenarnya menjadi korban pelecehan karena…. Kemarin tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan sebuah kelompok. Ia membicarakan Cheondung oppa, jadi kupikir…. Shinmi-lah korban selanjutnya.”

“Hyori… Cho Hyori.” Aku merapatkan genggaman tanganku, “Kupikir ini perbuatan fans nya Joon oppa, tapi ternyata itu hanya alibi sepertinya. Apa suara yang waktu itu kau dengar adalah suara Hyori??”

Sayangnya, Hyoni menggeleng. “Mollaeyo…. Aku hanya dengar sedikit tentang Cheondung oppa dan tiba-tiba kepalaku ditutup kantung hitam. saat aku sadar….. aku sudah seperti ini.”

Aku membelai rambut Hyoni yang kini pendek membentuk model bob yang berantakan, padahal dia sangat mencintai rambutnya, “Get well soon, nae chingu.”

Hyoni mengangguk dengan mata yang berkaca kaca dan memelukku, “Jebal, hanya kamu satu-satunya harapanku Nana-sshi.. aku tak ingin membahayakan Dain lagi, mianhae…”

 

~~~~~

 

Hwang Dain story…

 

Hwang Dain-sshi…. choisonghabnida, anggota kami tidak pernah melakukan pelecehan seperti yang diceritakan Joonie pada kami. Klub kami berprinsip hanya untuk menyukai, bukan untuk menghancurkan orang yang dekat dengannya. Jadi… sekali lagi kami minta maaf

 

Ketua perkumpulan ‘Lee Joon-sshi lovely’

 

Aku membaca surat itu dengan dengusan kecil, mereka benar benar mengirim surat permintaan maaf padaku.. kupikir mereka takkan berani karena pelecehan itu murni kesalahan mereka. Tapi ternyata aku juga salah paham.

“Aku kenal dengan beberapa anggota…. Hem, fans club ku.” Jawab Joon sunbae dengan wajah yang memerah, “Jadi… aku bisa pastikan bukan mereka pelakunya.”

Kuanggukkan kepalaku dengan mantap, “Haelgesimita…. Gomawoyo sunbaenim. Kau membuatku sedikit lega.”

“Cheonmayo Dain-sshi…” jawab Joon sunbae tersenyum dan lagi-lagi menggenggam tanganku perlahan, “Semoga dengan ini…. Kau bisa menghilangkan kesalah pahaman antara mereka, aku, dan kamu.”

Aku mencoba berkelit pelan dari tangan yang berusaha menggenggam tanganku itu dibarengi dengan senyuman garing, “ahahahahahaha kureyo? Gomawoyo then…”

“Dain-sshi….” uppps…. Sepertinya Joon sunbae menyadari gerakan menghindari tanganku ini, “Apa aku tidak boleh memegang tanganmu lagi?”

“Ahahahahaha aniiyo, tanganku sedang gatal~ dan agak basah hahahahaha~~” bohongku sambil berpura pura menggaruk garuk tangan yang tidak gatal, “Mungkin karena tadi aku menolong kucing yang terluka di taman gedung seni.”

Joon oppa semakin dalam menatapku seakan akan mencari cari kebohongan yang kusimpan dalam dalam di hatiku, “Kau tidak bohong kan?”

“Aniiyaa aniiyaa~~ tanganku benar benar gatal~” aku menggaruk makin keras sehingga tangan yang kugaruk jadi pegal dan agak sakit, aigoooo appuda -_-

Tanpa sadar, tangan Joon sunbae sudah menarik tangan yang kugaruk dari tadi, “Jinjja? Kok kelihatannya tidak kotor? Bukannya tangan akan merasa gatal kalau kotor?”

Aigo….. apa yang harus kulakukan? Kenapa karena sebuah tangan saja bisa membuat ‘pertikaian kecil’ seperti ini sih?! ##$%^#$^^*&&(*&%#$@% God help meeeeeeh~~

“Siapa bilang kau boleh melakukan hal itu pada Dain?!”

Kami berdua menoleh kea rah suara yang ternyata berasal dari Seungho oppa. Oh God gamsahabnida sudah menolongku~~~~

Tangan Joon oppa yang memegangku, otomatis langsung ia lepas dan ia simpan baik-baik (?) di belakang punggungnya. Seungho oppa menghampiriku dengan senyum yang selalu keren seperti biasanya~~

“Annyeong, sudah menunggu lama?” ucapnya sambil mengibas sedikit rambutnya yang kini lebih tebal dan berwarna hitam kelam, “Kaja, nanti kalau semakin malam kamu bisa masuk angin.”

“Yak, ini masih pukul 5 sore, kau terlalu berlebihan.” Tiba-tiba Joon sunbae buka mulut dan mengatakan hal yang kurang mengenakkan itu.

“Oh…. Nuguseo?” jawab Seungho oppa dengan tenang, “Do I know you?”

Wajah Joon sunbae berubah menjadi agak merah dan rahangnya mengeras, “Seharusnya aku yang bertanya siapa kau~!! Tiba-tiba datang dan mengganggu waktu kencan kami.”

Mwo, apa kata Joon sunbae? WAKTU KENCAN???

 

…..

 

Situasi masih tetap tegang seperti tadi. Mata Seungho oppa memicing kea rah Joon sunbae dan begitu juga sebaliknya.

“Mworago? Kau bilang apa? Waktu kencan??” ucap Seungho oppa dengan alis yang agak menegang, “Sejak kapan kalian berkencan?”

Dengan senyum kemenangan, Joon sunbae mengatakan… “Sejak kemarin. Aku menyatakan perasaanku dan kami resmi berkencan. Aku namja chingunya sekarang!!”

GLEK, okay… situasi mulai jadi aneh dan semakin tegang. Sejak kapan aku menyetujui Joon sunbae sebagai namja chinguku?? Aigo…. Jangan bilang ia membual untuk menjatuhkan Seungho oppa~

“Hah? Namja chingu?” tanya Seunghoo oppa sembari matanya bertanya ke arahku. Namun tiba-tiba ia menyadari sesuatu entah itu apa, dan tertawa agak keras.

“Hahahahahahahahaha~~~ demi simfoni dan instrumen apapun….” Ucap Seungho oppa sambil merangkul pundakku sehingga jarak kami jadi sangat dekat, “Aku tidak akan percaya kalau yeoja ini memilihmu sebagai namja nya. Hwang Dain, kaja…”

Aku ciut di samping Seungho oppa yang hari ini terlihat sangat mengerikan. Ia menggaet pundakku menuju mobil, meninggalkan Joon oppa yang berteriak teriak memanggil kami.

“Yak, kau mau ribut denganku hah?! Jangan mentang almamater jadi kau bertindak sesuka hatimu ya?!” teriak Joon oppa, “Aku tidak takut dengan namja sepertimu!!”

“Hah, aku tidak punya waktu untuk berkelahi dengan otot idiot sepertimu!!” balas Seungho oppa, “Tidak disaat ada Dain diantara kita.”

Mobil Seungho oppa perlahan pergi dari kampus menuju rumahku, dan saat di perjalanan pun aku tak berani menatap oppa yang terasa emosional dari auranya.

“Yak… jangan bilang apa yang dikatakan namja itu benar,” jawab Seungho oppa dengan nada yang serius, “Kamu tidak pacaran dengannya kan?”

Aku hanya bisa diam mendengar suara seriusnya yang membuat jantung berdebar, bahkan aku terlalu takut untuk menggeleng ataupun bicara.

“Hwang Dain, marebwa…. Yang dikatakan namja itu tidak benar kan??” tanya Seungho oppa lagi, kali ini dengan suara yang lebih keras. Oh great, bahkan ia menepikan mobilnya hanya karena ingin mendengar pengakuanku.

Seungho oppa mendengus dan menatapku tajam, bisa kulihat dari ekor mataku, “Dain-sshi… lihat aku dan jawab apa yang tadi kutanya.”

Dan dengan bodoh aku menjawab, “Aku tidak mau lihat wajah oppa karena terlalu mengerikan. Dan masalah Joon sunbae…… aku tidak berkencan dengannya.”

Sekilas, Seungho oppa mendengus lagi sekaligus tertawa kecil mendengar jawabanku barusan, “Apa wajahku benar-benar mengerikan seperti yang kau bilang?”

“Nee.” Jawabku sambil pura-pura sibuk dengan HPku.

“Hhhhhhhhhh….. mianhae,” jawabnya sambil melepaskan sabuk pengaman, “Entah kenapa… kalau menyangkut kau dan Lee Joon…. Kepalaku selalu panas. Aku tidak ingin kau yang berharga bersama dirinya yang bukan apa-apa.”

Hah? Apa yang oppa ucapkan? “Jangan bilang begitu, semua orang di dunia punya harganya masing-masing.” Jawabku asal. Tiba-tiba HPku bergetar dan kulihat sebuah pesan dari Nana

 

From: Park Nana

 

Odiga? Ppali, aku sudah menunggumu di rumah. Ada yang harus kubicarakan denganmu.

 

~~~~~

Park Shinmi story…

 

Jeongmal babo-ya…..

Kenapa kemarin aku meninggalkan Cheondung oppa begitu saja?! aigooooo dia pasti akan membenciku sekarang *cry*

Habisnya habisnya….. ah mollaeyo, aku takut kalau dia menolakku~~ daripada aku sakit hati karena ia menjauhiku, jadi lebih baik kalau aku menjauhi dia duluan kan? Dia namja, pasti akan cepat melupakan yeoja yang kuper seperti aku.

Tiba-tiba selembar foto jatuh dari dompetku, foto seorang yeoja dengan rambut kuning kecoklatan dengan senyum secerah matahari pagi…. Yah, mungkin alasan utamaku menciut karena yeoja ini. Sunbaenimku yang bahkan tidak pernah aku temui di kampus ini.

“Kau dapat foto itu dari mana?”

Aku benar-benar terkejut dengan kehadiran Cheondung oppa dibelakangku. Otomatis aku berlari secapat mungkin agar ia tak bisa mengejarku.

Tapi karena lariku yang payah T_T oppa kini hanya berjarak 1 meter dariku~

“Yak! Odigaeyo?!” katanya sambil berlari. Kakiknya yang panjang membuatnya berlari cepat. Oooooh ottokke?! Kenapa kita jadi lari-larian di kampus seperti sinetron India sih?!#!@$@#%^#&$*^%$^#$%@

GUBRAK!! Tak sengaja aku terselengkat lubang di jalan, sehingga lutut kiriku mencium aspal dan… mengeluarkan darah.

“Yak bocah, ngapain sih kau lari-lari begitu??” pada akhirnya ia berhasil menghampiriku *cry harder* “Tuh kan, jadi luka begini. Kaja, kuobati lututmu… tapi janji ya habis itu temani aku ke suatu tempat?”

 

……

 

Cheondung oppa membawaku ke Seoul tower dengan suasana awan senja yang berwarna merah dan jingga, yeppuda~

“Shinmi-ya… aku, ingin menanyakan sesuatu padamu… jeongmal, banyak sekali~” Ucap Cheondung oppa. “Pertama…. Kenapa foto Hyori bisa ada di tanganmu?”

Oh.. jadi namanya Hyori? “Em….. anu….. mollaeyo. Aku menemukannya di jalan. Memangnya kenapa?”

“Berikan padaku sini.” Ucapnya. Ia merebut dompetku, mengeluarkan fotonya dan tiba-tiba langsung merobek foto itu hingga tak bersisa.

“Yak, kenapa dirobek robek?!” ucapku panik. Kan itu harus dikembalikan ke Hyoni unnie~~

Cheondung oppa menerbangkan robekan foto ke udara, “Kalau foto itu alasanmu menjauhiku, maka aku akan menghancurkannya…. Supaya kau mau bersama-sama denganku lagi.”

“Em….mworago?” aku jadi salah tingkah mendengar perkataannya yang seperti itu, “Technically…. Tidak seperti itu juga sih.”

“terus alasannya apa? Stop talking non sense.” Ujar Cheondung oppa sambil mencubit pipiku agak keras. uhuhuhuhu appuda~~

Kemudian ia menarikku ke kumpulan gembok yang ada di pagar Seoul tower, “Kau ingat waktu pertama kali aku mengantarmu pulang dan kau mengatakan sesuatu dan meninggalkanku?” tanyanya. “Dan saat kau mulai menjauhiku?? Beberapa hari kemudian, aku pergi kesini dan menulis sesuatu disini.

Ia menarik sebuah gantungan hati yang cukup besar dan menyuruhku membacanya….

 

Ya Tuhan…. Aku ingin si bocah tembem selalu berada di sisiku, selamanya….

 

Akhirnya tangisku pecah setelah membacanya, tapi Cheondung oppa malah mencubiti pipiku terus-terusan sambil tertawa. Eh? ia memelukku lembut dan mencium puncak kepalaku?

“Nado saranghae, tembem….” Ucapnya pelan. “Jangan menghindariku lagi oke?”