Title : My Fake Ordinary Wife (part1)

Author : Lumie91

Main Cast : Kim Jongwoon/Yesung(Super Junior), Shin Hyeni (OC), Park Yunhee(OC), Lee Hongki(FT Island)

Support Cast : Lee Hyukjae, Lee Eunri, Lee Donghae, Shim Changmin, Kim Yoojin/Uee

Rating : (aku gak ngerti, tapi yang pasti gak ada macem-macemnya)

Genre : romance, comedy

Ps : Author masih baru di bidang per ff-an. Ini adalah ff pertama author dan author sendiri baru belajar nulis ff. Kalau ada kemiripan tokoh, cerita, latar, dll, author mohon maaf karena tidak disengaja karena author gak tahu apa-apa. Gomawo~ ff ini udah author publish di blog author yang baru ajah di buat belum lama ini (http://lumie91.wordpress.com )

Disclaim : ff ini murni buatan dan hasil pikiran author sendiri yang dibuat dengan susah payah, tolong dihargai dengan tidak mengkopasnya yah… ^^

_____________________________________________________

Author POV

Seorang gadis menggunakan kaos putih gading dengan celana pendek biru selutut melangkahkan kaki ke halaman Gereja kecil di pinggir kota. Bangunan Gereja itu sederhana, namun siapapun yang melihatnya akan berpendapat sama bahwa Gereja kecil itu sangat indah, dikelilingi pohon-pohon berdaun hijau yang rindang di musim semi.

Pelan-pelan gadis dengan rambut pendek tepat sebahu itu menaiki anak tangga satu per satu. Matanya yang hitam dan bulat menatap pintu Gereja yang tertutup rapat. Setelah berada di depan pintu Gereja, kedua tangannya yang kurus dan agak kecoklatan, terbakar sinar matahari, terulur, sedetik kemudian mendorong kedua daun pintu hingga ia dapat melihat ke dalam ruang Gereja, kosong.

Hari ini adalah hari Selasa. Tidak ada kebaktian ataupun acara spesial di Gereja. Bangunan Gereja kecil itu tampak lebih indah dari dalam. Dengan ukiran-ukiran di dinding dan langit-langitnya, serta jendela besar yang membiarkan sinar matahari menerobos kaca-kacanya hingga menyinari ruangan Gereja.

Dengan langkah ringan, Hyeni, demikianlah nama gadis manis itu, berjalan ke arah depan altar Gereja. Matanya menatap kayu Salib yang tergantung di dinding depan altar.

Sesampainya di sana, ia berlutut dan menutup kedua matanya sambil mengaitkan jari-jari tangannya. Ia mulai berdoa…

“Tuhan, hari ini aku datang lagi. Terima kasih karena hari ini aku telah mendapatkan pekerjaan baru. Besok aku akan mulai bekerja. Ku harap aku tidak lagi ceroboh sehingga dipecat lagi dari pekerjaanku seperti sebelumnya. Oh, ya, bagaimana kabar appa dan eomma di sana? Apakah mereka baik-baik saja? Sampaikan salam cintaku untuk mereka. Katakan bahwa aku merindukan mereka, tapi aku akan hidup dengan baik di sini, jadi beritahu mereka agar mereka tidak mencemaskanku..”

***

Hyeni POV

Aku mulai merasa sedih mengingat kecelakaan tragis yang merenggut nyawa appa dan omma 4 tahun lalu. Waktu itu aku baru saja lulus dari sekolahku. Appa dan eomma janji akan datang ke acara wisuda kelulusanku, tapi berjam-jam aku menunggu, mereka tidak kunjung terlihat, yang datang hanyalah berita kecelakaan itu. Aku segera meninggalkan gedung aula sekolah tempat acara wisuda berlangsung dan pergi menuju rumah sakit. Eomma telah tiada waktu aku datang sedangkan appa dalam keadaan kritis waktu itu. Namun, setelah koma 2 hari, appa meninggal menyusul eomma ke Surga.

Aku tidak tahu harus tinggal bersama siapa waktu itu. Aku anak tunggal. Kakek dan nenekku semuanya telah tiada. Hanya paman yang aku punya. Beliau mengajakku tinggal bersamanya, akhirnya aku tinggal bersama paman dan keluarganya. Aku pindah ke luar kota. Paman menyuruhku untuk mendaftar kuliah di kota tempatnya tinggal, tapi aku tidak mau. Aku ingin bekerja saja. Satu bulan setelah tinggal bersama paman, aku belum mendapat pekerjaan. Lalu kuperhatikan, paman jadi sering bertengkar dengan istrinya karena aku. Karena merasa tidak enak telah merepotkan mereka, aku memutuskan untuk pergi. Paman tidak setuju pada keputusanku, ia khawatir padaku, tapi aku menjelaskan bahwa aku sudah dewasa dan bisa menjaga diriku sendiri sehingga dia tidak perlu mencemaskanku. Dengan berat hari paman mengizinkanku pergi dan akupun kembali ke Seoul.

Hidup sendirian di kota sebesar Seoul bukanlah hal mudah. Pertama-tama aku mencari tempat tinggal. Menyewa sebuah rumah petakan kecil dari uang tabungan peninggalan orang tuaku. Kemudian aku mulai mencari pekerjaan. Banyak pekerjaan yang telah aku lakukan. Mulai dari mengantar susu dan koran di pagi hari, bekerja di rumah makan sebagai pelayan, sampai berjualan baju di pasar malam, dan masih banyak lagi. Dalam 4 tahun terakhir aku sudah banyak menghabiskan waktu dan tenaga dalam berbagai pekerjaan. Tentu saja pekerjaan yang halal, biar bagaimanapun juga, kedua orang tuaku mengajarkan untuk hidup sebagai wanita yang punya harga diri.

Sedih rasanya mengingat betapa beratnya hidupku tanpa kedua orang tuaku, tapi aku bukanlah gadis manja yang cengeng. Walaupun aku anak tunggal, appa dan omma tidak pernah memanjakanku. Mereka mendidikku menjadi anak yang mandiri dan kuat. Karena didikan itulah aku bisa menjalani hidupku selama ini dengan baik.

Aku masih memejamkan mataku ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Ada orang yang datang sedang menaiki tangga Gereja. Aku membuka mataku dan menoleh ke belakang. Tepat ketika daun pintu gereja mulai bergerak, aku segera bangkit dan lari bersembunyi.

Sebenarnya aku tidak perlu sembunyi seperti ini, namun entah kenapa tiba-tiba tubuhku bergerak reflek mencari tempat bersembunyi di dalam gedung Gereja. Aku pun duduk di balik organ di pinggir altar sambil melingkarkan kedua tanganku ke kakiku yang kurapatkan, kemudian menaruh bibirku di lutut kaki kiriku agar tidak kelepasan mengeluarkan suara. Aku benar-benar tampak seperti pencuri yang sedang bersembunyi.

Kudengar langkah kaki itu semakin mendekat. Suara langkah kaki itu terdengar seirama dengan detak jantungku. Tak berapa lama kudengar suara langkah kaki itu berhenti, rupanya ia sudah sampai di depan altar. Kuberanikan diri mengintip melihat ke depan altar. Dan kulihat seorang namja berdiri di sana, mengenakan jas hitam dan celana jins biru tua. Matanya memandang ke atas, ke arah Salib, kemudian terpejam. Ia sedang berdoakah?

***

Jongwoon POV

Aku memejamkan mataku setelah melihat kayu Salib yang tergantung di depanku.

‘Semoga semua rencanaku berjalan dengan lancar, ya, Tuhan. Tolonglah aku hari ni agar aku bisa melamar kekasih hatiku yang telah Kau takdirkan untuk menemaniku seumur hidupku,’ doaku dalam hati. Perlahan aku membuka mataku. Kurogoh saku celanaku dan kukeluarkan sebuah kotak hitam kecil. Kubuka kotak itu dan kulihat sebuah cincin putih dengan bentuk pita kecil dan berhiaskan sebuah permata kecil di tengahnya.

‘Cincin yang sangat indah’, batinku. Aku sengaja memesannya dengan desain khusus. Ya, aku mendesainnya sendiri, terutama bentuk pita pada cincin itu. Entah sejak kapan, bentuk pita memiliki arti khusus bagiku. Tidak… tidak… tidak ada alasan yang jelas. Aku juga

tidak mengerti. Bahkan dalam sejarah hubunganku dengan kekasihku, bentuk pita tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kami berdua. Aku hanya merasa ada yang menarik, walau tidak tahu apa itu. Mungkin sesuatu yang telah aku lupakan, tapi yang jelas tetap memiliki arti di hatiku.

Aku mengangkat cincin itu. memperhatikan bentuknya dengan seksama. Kuarahkan cincin itu ke cahaya matahari yang menerobos jendela. Batu permata di cincin itu berkilauan. Aku pun tersenyum.

“Sebentar lagi kau akan bertemu dengan pemilikmu. Yeoja yang kucintai, yang akan memakaimu seumur hidupnya, dan menemaniku seumur hidupku.”

Kuangkat lagi cincin itu lebih tinggi. Tapi sepertinya bukan tindakan yang tepat. Terlalu tinggi sampai mataku silau karena cahaya dari jendela. Tanpa sengaja kujatuhkan cincin itu…

***

Hyeni POV

“…. menemaniku seumur hidupku.”

Aku masih bersembunyi sambil mendengarkan ucapan namja yang ada di depan altar itu. Rupanya ia datang ke sini untuk melamar kekasihnya. Tiba-tiba ada sesuatu yang bergulir di dekat kakiku. Sebuah cincin.

‘eh?’ aku sedikit terkejut ketika menatap cincin itu. ku raih cincin itu dengan tanganku. Kemudian ku angkat dan kuperhatikan cincin itu.

‘Cincin yang indah,’ ujarku dalam hati. Aku tidak boleh sampai mengeluarkan suara. Kulirikkan mataku ke arah altar. Kulihat namja itu sedang berlutut di antara bangku di depan altar. Dia pasti sedang mencari cincin ini. Aku harus mengembalikannya. Tapi bagaimana caranya? Menemuinya sama saja membongkar rahasia bahwa aku selama ini bersembunyi memperhatikan gerak-geriknya.

Sambil berpikir, kuperhatikan cincin di tanganku. Bentuknya pita kecil dengan sebuah permata kecil di tengahnya. Wah, aku benar-benar menyukai cincin ini. Aku suka dengan bentuk pita pada cincin ini. Dari kecil aku sangat suka sekali pada pita. Waktu kecil, seluruh baju, sepatu, dan aksesorisku semuanya berbentuk pita. Hanya saja seiring bertambahnya usiaku, aku tidak pernah lagi memakai pita-pita ataupun barang-barang yang berpita. Kekanakan menurutku, biar bagaimanapun sekarang aku sudah berusia 22 tahun. Tapi kalau cincin berbentuk pita seperti ini, rasanya tidak kekanakan sama sekali. Dengan takut-takut kucoba cincin itu. Ku masukkan cincin itu ke jari manisku. Pas!!

***

Jongwoon POV

Ku arahkan mataku ke mana-mana, tapi tidak kunjung ku temukan cincin itu.

“Aghhhh…!!!” teriakku mulai habis kesabaran. Aku mengacak rambutku dengan kedua tanganku. Kemana jatuhnya cincin itu. Bisa gagal rencanaku melamar kekasih hatiku jika cincin itu tidak kutemukan.

Tiba-tiba handphoneku bergetar dari dalam saku celanaku. Kuraih handphoneku dan kubaca nama yang tertera di layar.

‘My Yunhee calling’

Ku terima telpon dari kekasih hatiku itu. Mataku masih terus mencari-cari cincin yang terjatuh itu.

“Yoeboseyo, jaggiya.. waeyo??”

“Woon~ah,” balasnya dari seberang telpon, “aku…”

“Ya? Wae, jaggi~ya? Gwenchanayeo?” ujarku khawatir ketika mendengar suaranya agak lemah dan tidak bersemangat.

“Gwenchana… uhmm… Woon~ah aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Ne?”

“Mianhe.. jongmal mianhe Woon~ah,” ujar Yunhee dengan suara bergetar, “Aku tahu alasan kau ingin menemuiku di Gereja hari ini. Aku bisa menebaknya. Tapi, memikirkannya entah mengapa aku tidak siap.”

“…” aku tidak bisa menjawab pernyataannya. Aku berhenti mencari cincin yang terjatuh. Apa? Apa maksudmu Yunhee?

“Mianhe…” katanya lagi meminta maaf, “Aku tahu aku egois, tapi memikirkan menjadi calon istrimu, seorang Kim Jongwoon, seorang Yesung, aku tidak siap. Aku belum siap menanggung beban itu. aku masih ingin meneruskan impianku. Mianhe Woon~ah…”

“Waeyo??” akhirnya aku bisa bersuara, “Kenapa kau tidak siap? Aku tidak akan menghalangimu meraih impianmu. Kau bisa dengan bebas belajar bahkan menjadi dokter seperti impianmu selama ini.”

Aku sangat memahami impian Yunhee yang ingin menjadi dokter. Ia sudah memiliki cita-cita itu sejak ia kecil. Sejak eommanya meninggal karena leukemia. Ia bertekat menjadi dokter yang bisa menyembuhkan segala penyakit sehingga tidak ada lagi anak yang akan bernasib sama seperti dirinya.

“Arraseo.. aku mengerti Woon~ah… tapi biar bagaimanapun aku tetap tidak bisa..” ujarnya lagi, “Menjadi seorang calon istri artis sepertimu akan sangat sulit bagiku. Selama ini hubungan kita baik-baik saja karena kau menutupinya dari publik. Tapi jika kau melamarku dan aku menjadi calon istrimu, pers akan segera tahu. Dan aku pasti tidak bisa lagi berkonsetrasi pada impianku. Maafkan keegoisanku Woon~ah.”

Ya, aku memang adalah Kim Jongwoon, atau orang lebih mengenalku dengan nama Yesung. Aku adalah seorang penyanyi sekaligus aktor yang terkenal di Korea. Selama dua tahun aku berpacaran diam-diam dengan Park Yunhee, seorang mahasiswi kedokteran yang cantik dan pintar. Hubungan kami sangat serius. Kedua keluarga kami juga sudah saling mengenal dan merestui hubungan kami. Hari ini aku berniat melamar Yunhee. Kemarin aku menyuruhnya datang di Gereja ini karena di sinilah aku ingin kami mengikat janji suci dihadapan Tuhan.

“Jangan bicara seperti itu Yunhee~ah.. Kumohon, katakanlah kau barusan hanya bercanda, kau pasti akan datang kan? Atau mungkin kau sudah ada di sini dan sedang tertawa diam-diam memperhatikan reaksiku?”

“Woon~ah, jaebal.. kumohon jangan seperti ini. Aku serius dengan ucapanku barusan. Lagipula, nanti malam aku akan berangkat ke Amerika untuk mengikuti camp di sana. Aku akan belajar kedokteran di sana selama dua bulan,” kata Yunhee serius. Aku semakin sadar ia tidak sedang mengerjaiku saat ini. Ia benar-benar tidak mau menikah denganku?!

“Jaggiya, kalau itu alasanmu aku bisa melamarmu setelah kau kembali nanti. Atau…”

“Jaebal… kau pasti mengerti maksudku Woon~ah. Tolong jangan paksa aku. aku belum siap menjadi calon istrimu atau bahkan menikah dengamu,” ujar Yunhee memotong ucapanku.

“Kau tidak mencintaiku lagi Yunhee~ah?” ujarku lemas.

“Saranghae Woon~ah.. Jongmal saranghaeo… mianhe aku mengecewakanmu. Tapi beri aku waktu lebih lama lagi untuk mengejar impianku.”

“Sampai kapan?” tanyaku padanya. Ia hanya diam, tidak menjawab sama sekali.

“Mianhe, Woon~ah,” katanya sekali lagi meminta maaf sebelum memutuskan hubungan telpon kami. Aku masih terduduk di lantai Gereja. Kujauhkan handphoneku dari telingaku. Rencanaku gagal. Bukan karena cincin itu hilang, tapi karena kekasihku sendiri yang tidak mau menerima lamaranku. Hatiku hancur. Sakit rasanya sampai aku ingin berteriak dan menangis, namun air mataku tidak keluar. Dengan enggan aku berdiri dan melangkah berjalan ke arah pintu Gereja. Aku ingin pergi dari tempat ini. Tidak ada lagi gunanya berada di sini. Cincin itu sudah hilang. Bahkan kekasihku pun tidak datang.

***

Hyeni POV

Aku masih bersembunyi di balik organ sambil memperhatikan jari manisku dengan cincin yang melingkar di sana. ‘Kapan yah aku akan mengenakan cincin sungguhan. Cincin yang akan diberikan seorang namja yang kucintai dan mencintaiku.’ pikirku.

Aku melirik lagi ke arah altar, kulihat namja itu sudah berhenti mencari cincinnya. Sekarang ia sedang terduduk di lantai sambil menelepon. Suaranya begitu kecil hingga aku tidak bisa mendengarnya. Tiba-tiba ia berhenti menelpon dan berdiri. Ia hendak berjalan keluar dari Gereja.

Hei! Cincin miliknya masih ada padaku. Apakah dia sudah menyerah mencari cincin itu? Bukankah ia ingin melamar kekasihnya di sini?

Aku pun segera bangkit untuk mengejarnya. Dia sudah setengah jalan untuk mencapai pintu Gereja.

“Yaa!!” seruku kencang, tapi ia tidak menoleh, “Yaaa, kau.. berhenti.. ini…”

Aku mencoba berlari sambil berusaha melepaskan cincin di jari manisku tapi entah kenapa sulit sekali melepasnya. Omo, celaka!!

Dia sudah tiba di depan pintu Gereja. Aku hanya berdiri dua meter di belakangnya, masih berlari. Tangannya bersiap membuka pintu, jarakku dengannya semakin dekat. Aku terus menarik cincin itu dari jariku sampai terasa sakit, tapi masih saja tidak bisa melepaskannya. Tepat ketika jarakku dengan namja itu hanya beberapa langkah saja, ia telah membuka pintu. Tiba-tiba banyak kilatan cahaya menerpaku. Mataku terasa silau hingga dengan reflek aku segera menutupnya.

“Yesung~sii, kabarnya anda sedang melamar kekasih anda di Gereja ini?”

Aku mendengar suara seorang pria bertanya.

“Yesung~sii, apakah anda akan segera menikah dengan kekasih anda?”

Ku dengar suara pria lainnya.

“Tolong jawab kami, di mana kekasih yang akan menjadi calon istri anda?”

Kali ini suara seorang wanita.

“Apakah kekasih anda adalah wanita di belakang anda?”

TBC

annyeong semuanya.. J

gimana cerita buatan ku ini?? Tolong berikan pendapat yah soalnya ini ff pertama yang aku buat… pendapat kalian akan memacuku bekerja lebih keras lagi dalam meraih cita-cita menjadi author ff sejati *lebay* …. gomawo~