Absolute Music and Art –Last Creation

 

Hwang Dain story….

 

Entah kenapa… kalau menyangkut kau dan Lee Joon…. Kepalaku selalu panas..

 

“Dain-sshi, apa kau bisa mendengarku?” tanya Nana tiba-tiba, membuatku sedikit terkejut karena aku sedang melamunkan perkataan Seungho oppa saat kami dalam perjalanan tadi.

“Mianhae, mungkin hari ini begitu melelahkan bagiku.” Jawabku sambil memencet ujung mataku, “Well, jadi tadi kau menyimpulkan bahwa Hyori-lah pelaku pelecehan terhadap aku dan Hyoni?”

Nana mengangguk, “Nee…. Dan pukul 7 tadi, aku mendengar berita bahwa Shinmi sekarang sudah menjadi yeoja chingu Cheondung oppa. Kemungkinan korban berikutnya adalah dia.”

“Ya tuhan, kenapa masalah kecil bisa jadi rumit sih?” keluhku sambil merebahkan kepala di sofa, “Waktu itu kita tidak salah kan kalau mereka berdua putus? memang kenyataannya dia pergi dengan namja lain kan? Bahkan Cheondung oppa belum dengar apa yang Hyoni dengar. Kalau sudah…. Dia bisa marah sekali.”

“Nee….. di dengar dari chingu jurusan seni tari yang kubayar menjadi mata-mata, kemungkinan Shinmi diserang hari ini. Karena geng itu sudah tahu berita kencan mereka.” Jelas Nana, “Jadi… kita harus kerahkan seluruh keberanian untuk melawan mereka. Apa…. Kita harus panggil polisi?”

Aku berpikir sebentar, “Rasanya terlalu berbahaya untuk melibatkan polisi. Bisa menyangkut nama kampus kita.” Jawabku, “Baiklah, kita one by one saja dengannya. Oppa-oppa yang lain mau membantu tidak?”

“Cheolyong oppa pasti membantu dong.” Jawab Nana bangga, “Byunghee oppa juga mau membantu. Oh iya, Joon oppa juga.”

Aku tertegun mendengar perkataan Nana. Joon sunbae? Joon sunbae? Ah….. lagi-lagi kenanganku bersamanya terputar kembali. Saat ia pertama kali menyatakan perasaannya, saat kami mulai jadi teman baik dan saat kami melakukan sentuhan fisik; berpelukan dan menggenggam tangan masing-masing untuk pertama kalinya, dan…… saat ia memojokkanku dan berkata…

Dain-sshi…. saranghae,….

 

“Dain!” panggil Nana dengan suara yang agak keras, “Waeyo? Kok hari ini kamu banyak melamun sih? Jangan bilang kalau masalah kuliah, karena aku yakin bukan itu masalahnya.”

Aku menghela napas dengan berat, “Nee….. masalah aku, Joon sunbae dan Seungho oppa.”

“Cinta segitiga ya? aku belum pernah mengalaminya sih.” Jawab Nana sambil mengelus pundakku, “Memangnya apa lagi yang kamu bingungkan? Bukannya kamu menyukai Seungho oppa? Sepertinya ia juga menyukaimu kok.”

Aku merebahkan kepalaku ke sofa, “Aniiyo, tidak ada yang bilang kalau Seungho oppa menyukaiku. Dia sepertinya hanya menganggapku sebagai dongsaeng dari chingunya.” Jelasku, “Lalu…. Joon sunbae, beberapa hari ini dia selalu membuatku tak bisa tidur karena ia mengucapkan ‘saranghae’ kepadaku. Molla…. Aku tak mengerti harus memilih siapa. Memilih Seungho oppa yang belum tentu menyukaiku, atau dengan Joon sunbae,… yang selama ini selalu memperhatikanku dan…. Merubah sikapnya karena aku?”

“Pilihan yang berat, Dain-sshi.” Nana juga menyenderkan kepalanya di sofa, “Yang harus kamu lakukan adalah……. Memantapkan hatimu dan memilih berdasarkan makna dia di hatimu. Siapakah yang membuat kehidupanmu dari dulu hingga kini berkesan.”

 

~~~~~

 

Park Shinmi story…

 

From: nae oppa ^^

 

Jagiya, kamu tunggu di taman gedung tari ya? tidak apa-apa kan, soalnya aku masih ada pelajaran tambahan.

Sampai nanti, chu~

 

Ah…. Aku masih tak menyangka kalau kini Cheondung oppa adalah namja chinguku. Ternyata dia juga menyukaiku sejak ia melihatku waktu ospek, kenapa bisa sama seperti itu ya? hahahaha~~

 

To: nae oppa ^^

 

Aelgeseo~ see you later oppa, chu ^^

 

“Yak, kamu yang namanya Park Shinmi ya?” tiba-tiba ada sekumpulan yeoja mendatangiku, sepertinya mereka semua adalah sunbaenim ku.

“Nee… annyeonghaseo sunbaenim deul… ada perlu apa ya?” tanyaku dengan rasa penasaran. Tapi… kenapa wajah mereka semua menyeramkan ya?

“Kau kenal dia?” tanya sunbae yang berbaju pink sambil menunjuk seorang yeoja yang…. Bertubuh pendek dengan rambut kuning kecoklatan?

“Em… Cho Hyori sunbaenim dari kelas tembikar?” ucapku tenang. Oh GOD, mantannya Cheondung oppa ada di depanku. Dan dia cantik sekali~~

Hyori sunbae tersenyum puas, “Oh ternyata kau mengenalku ya, Cheondung oppa’s girlfriend?”

Aku mengangguk pelan karena ada yang aneh dengan semua ini, “Emmm… nee, ada apa ya para sunbaenim menghampiri saya?”

Hyori sunbae mengangkat kedua tangannya, memberi komando kepada yang lain untuk mengelilingiku. Lalu ia berkata, “Kita menghampirimu disini untuk….. menghabisimu.”

Mereka berusaha melepaskan tas gitar dari punggungku, tapi aku mengelak terus-terusan. Aku takut mereka merusak gitarku, “Mwoya?? Apa salahku, kenapa kalian melakukan ini padaku?!”

“Salahmu adalah… berkencan dengan Cheondung oppa~!!” seru Hyori sunbae dengan wajah yang kejam dan jahat, “Cheondung oppa adalah milikku selamanya. Hartanya adalah hartaku, tubuhnya adalah tubuhku~!!”

“Non sense!!” balasku sambil terus terusan mengelak, “Sunbae sudah putus dengannya, jadi dia bukan siapa-siapamu lagi arra?!”

PLAK! Wajahku ditampar oleh sunbae yang ternyata seperti pelacur ini, “Jangan berisik hoobae! Kau mau mati hah?! Bekap dia dengan kantung ini, ppali!”

Astaga… jadi, DIA kah yang melakukan pelecehan terhadap Dain unnie? Dan kali ini ia mengincarku?!

“Kau tahu kenapa aku melakukan ini terhadap kalian? Karena kalian lah penyebab semuanya!” seru Hyori sunbae, “Kalian yang menyebabkan aku dan Cheondung oppa berpisah, apalagi si rambut panjang Park Nana yang brengsek itu bersama dengan namja chingunya yang seperti orang desa~ dan sekarang, kau! Yang beraninya masuk ke dalam kehidupan Cheondung oppa!!”

“Kau yang tak tahu diri!” teriakku di dalam kantung hitam, “Berpacaran 3 tahun hanya karena uang? Dasar gila, kau yang tidak punya hati appeun sunbae!!”

Orang-orang mendorongku hingga aku terjatuh dan menimpa gitarku, dan demi apapun… rasanya luar biasa sakit.

“Kau banyak bicara ya?!” geram chingunya, “Mari kita lihat. Apakah yeoja ini harus kita telanjangi dan kita hancurkan rambutnya seperti Hyoni…. Atau kita hancurkan saja gitarnya seperti Dain?”

“No need!” jawab Hyori sunbae, “Panggil chingu namja mu, perkosa saja dia sampai habis!”

Aku yang mendengarnya langsung panik dan kalang kabut. Aku menendang ke segala arah untuk menjauhkan tangan tangan mereka dari bajuku, “Yak!! Andwaeyo~~~, micheoseo?!”

“Kenapa darling?” ucap Hyori sunbae membuka kedua pahaku sangat lebar sehingga aku tak tahan untuk menangis karena perih yang kurasakan, “Kau pantas kok mendapatkannya, karena memang tidak ada yang boleh mengambil Cheondung oppa dariku!!”

Ketika Hyori sunbae berusaha membuka paksa celanaku, tiba-tiba terdengar suara namja…

“Yak lihat, ternyata pelaku pelecehan itu adalah Hyori dari kelas tembikar!”

 

~~~~~

 

Hwang Dain story…

 

Semua mahasiswa yang melihat pelecehan itu langsung berlari menghambur dan menolong Shinmi dan segera mengamankannya. Ini ideku, bukannya aku takut sesuatu terjadi lagi denganku. Tapi kalau dilawan bersama sama pasti lebih baik daripada hanya berlima, sementara kelompok Hyori isinya puluhan mahasiswa.

“Jagiya, gwenchana?” tanya Cheondung oppa membelah kerumunan dan langsung memeluk Shinmi, sementara yang dipeluk menangis keras. aku tahu dia merasakan ketakutan yang tak bisa dibayangkan…

Hyori berada di tengah tengah massa dengan wajah yang ketakutan, “Yak, apa yang kalian lakukan hah?! Aku malah ingin menolong anak ini dari pelecehan! Kenapa kalian menuduhku?!”

“Percuma kamu mengelak, Hyori. Banyak yang merekam kejadian di saat kau menyuruh chingu mu untuk memperkosanya.” Jawab Byunghee oppa dengan muka geram, “Tak kusangka, ternyata yeoja bermuka manis berhati busuk inilah yang menganiaya dan melakukan pelecehan terhadap yeoja chinguku.”

“Nee, terhadap yeojachinguku juga!” seru Cheondung oppa geram. Ia menghampiri Hyori dan menamparnya keras-keras, “Cheondung milikmu selamanya? Hartanya hartamu, dan tubuhnya adalah tubuhmu? Hah, bahkan aku masih tak percaya atas apa yang kau katakan tadi. Mengecewakan! Kau yeoja terburuk yang pernah aku kenal!”

Cheondung oppa hendak memukulnya lagi, tapi Nana menghalaunya. “Sudahlah oppa, tanganmu tidak pantas menampar orang seperti dia.”

Dari kejauhan, Joon sunbae datang bersama gerombolan fans clubnya, “Yak, aku sudah menangkap anggota pelecehan ini! Harus kita apakan dia?”

“Em…. Aku sudah telpon polisi kok.” Jawabku pelan, “Aku tidak ingin grup penganiaya ini berkeliaran di kampus dan menyakiti orang lain lagi.”

Hyori memandangiku dengan wajah yang penuh amarah dan kekesalan, “Awas kau Hwang Dain! Suatu saat kau akan menerima balasan dari apa yang kau perbuat!!” teriaknya sambil diseret oleh para mahasiswa menuju gerbang kampus.

“Dain-sshi…. gwenchana?” tanya Joon sunbae yang perlahan menggenggam tanganku. Aku menggangguk pasti seraya menatapnya.

“Gwenchana, berkat dia… kini aku akan semakin kuat menjalani semuanya.”

 

~~~~

 

Author tells…

Keadaan kampus kembali damai seperti semula. Dain yang sibuk dengan ujian tengah semesternya, Hyoni dan Shinmi yang sibuk mengerjakan instrumen untuk pentas budaya tahun ini, Nana yang sedang memperdalam tarian tradisional dari luar negeri bersama Cheondung, dan Cheolyong yang…. Sibuk dengan dirinya sendiri

Namun Dain lagi-lagi dibuat kalut, karena sudah hampir sebulan Joon sunbae tak pernah terlihat batang hidungnya, begitu juga Seungho oppa. Beliau sesekali menelpon, dan sering mengirim pesan. Tapi…. Ia tak pernah memberi tahu dimana dirinya sekarang.

“Mungkin dia sedang pulang kampung, unnie.” Hibur Shinmi. “Kalau tidak salah, Joon sunbae itu hidup terpisah dengan appanya kan? Mungkin saja ia menjenguknya.”

“Oppa bilang dia baik-baik saja kan?” tanya Nana, “Percayalah. Dia pasti baik-baik saja.”

Dain menggaruk garuk kepalanya bingung, “Hanya saja…… aku seringkali dibuat kesal oleh mereka. Masak tiap kali aku menanyakan keberadaannya, mereka pasti mengalihkan pembicaraan. Kan aku kesal jadinya.”

Hyoni menepuk teman pelukisnya itu penuh simpati, “Seungho oppa sedang sibuk dengan karirnya sebagai pianis, Dain-sshi.” ucapnya, “Jangan membuang waktumu dengan memikirkan hal yang tidak-tidak. Arra?”

“Nee…. Aku akan berusaha,” ucap Dain. Tiba-tiba HPnya bergetar tanda pesan masuk.

 

From: Joon sunbae

 

Sabtu malam besok, temani aku nonton drama musical ya? nanti ku jemput.

 

~~~~~

 

Hwang Dain story..

 

“Dain-sshi…” panggil Joon sunbae disebelahku, “Ini baru pertama kalinya aku menonton drama musical. Ternyata…. Asik juga ya? menyanyi diiringi dengan tari-tarian dan drama.”

Aku mengangguk, “Nee…. Bahkan pengiring lagunya pun terdengar sangat serius sekaligus enjoy ketika memainkan satu instrumen.”

“Kureucho.” Jawab Joon sunbae sambil menyedot minuman sodanya. Pertunjukkan telah selesai, kupikir drama musical ini berlangsung di tempat yang jauh. Ternyata….. dekat dari rumah Byunghee oppa~

Kami sekarang sedang mengobrol di sebuah kafe di basement, kafe itu masih sepi karena ada drama musical lain yang sedang berlangsung. Suasananya begitu nyaman dan tenang karena hanya kami dan para staff kafe yang ada disini.

“Sunbaenim..” ucapku memanggil.

“Kenapa tidak ‘oppa’ saja?” tanya Joon sunbae dengan senyum berlesung pipinya, “Aku masih semester 1 S1 dan kamu sudah mau semester 5. Seharusnya kan aku yang memanggilmu sunbaenim.”

Aku mengangguk dengan wajah yang merona, “Mi… mianhada, aku kan memanggilmu sunbae karena perbedaan umur kita.”

“Tapi kamu mau kan memanggilku oppa mulai saat ini?” tanya Joon sunbae dengan senyumnya lagi dan ia memesan lagi. “Cappucinno nya satu ya, waitress..”

“Oke… oppa.” Jawabku ragu-ragu, sementara si oppa masih senyum senyum sembari…. Memegangi tanganku terus terusan. “Oppa…. Apa kau menyukai tanganku? Kenapa kau terus-terusan memeganginya sih?”

Joon oppa yang menyadarinya, langsung melepas tangannya dari tanganku. “Mianhae, apa kamu terganggu dengan perlakuanku?”

“Aniiya, hanya saja….. terlihat aneh sekaligus lucu.” Jawabku sambil sedikit tertawa, “Memangnya… ada apa sih dengan tanganku?”

Joon oppa menggeleng geleng pelan, “Mollaeyo. Aku…… hanya senang menyentuh tanganmu yang halus, tangan yang sering dipanggil dengan ‘tangan magis’ .”

Aku tertegun mendengar jawaban Joon oppa, tertegun untuk kesekian kalinya. Karena semua jawaban yang keluar dari mulutnya.

“Silahkan cappucinno nya.” Pelayan datang membawa pesanan oppa dan….. kami terdiam lagi. Benar-benar gugup sekali, berada di kafe yang lampunya temaram ini, berdua.

“Dain-sshi…. kenapa kau diam saja? kenapa kau tidak mencoba mengobrol denganku?” tanya Joon oppa menatapiku dengan kedua mata hitamnya.

“Sebenarnya….. aku sedang penasaran terhadap sesuatu.” Jawabku, “Selama 1 bulan ini… oppa kemana? Kenapa tak pernah terlihat di kampus? Jangan bilang kalau oppa bolos.”

Oppa bukannya menjawab, malah tertawa dan bertanya, “Tapi… jawab pertanyaanku yang di rumahku itu ya? aku sudah menunggu begitu lama Dain-sshi.”

GLEK, aku menelan ludah mendengar ucapan Joon oppa itu, aku lupa sama sekali tentang kejadian itu karena banyaknya tugas kuliah dan persiapan ujian semester T-T ah jinjja, kenapa aku babo sekali sih?!#$%$^$&%&*^^

Joon oppa menggeser kursinya menjadi di sebelahku, lalu berkata. “jadi……. Jawabanmu apa?”

Aku menunduk sebentar mengingat perkataan Nana waktu itu, perkataan yang membuat mata hatiku terbuka pelan pelan….

“Choisonghabnida oppa…” ucapku lirih, “aku……. Benar benar menyukaimu oppa, kamu memperhatikanku dan selalu menjagaku setiap waktu. Sikapmu yang sombong dan penuh emosi berubah menjadi pribadi yang menyenangkan dan….. sentuhanmu padaku selalu membuat jantungku berdebar debar.

“Hajiman…..” aku menundukkan wajahku lebih dalam, “Aku lebih menyukai Seungho oppa. Karena, dia benar-benar tipeku. Meskipun oppa telah membuka hatiku, tapi……… aku akan selalu memilih Seungho oppa.”

Fiuh… akhirnya kata-kata yang sudah kupersiapkan semalaman itu meluncur dengan lancar dari mulutku. Kulihat Joon oppa mengaduk aduk cappucinno nya dengan wajah yang tegang, “Kureyo…. Dia memang namja yang penuh dengan bakat dan charisma, aku jelas kalah darinya.”

“Emmmmm kan aku sudah menjawab pertanyaanmu, sekarang jawab pertanyaanku dong.” Aku berusaha mengalihkan pembicaraannya supaya Joon oppa berhenti menyalahkan dirinya sendiri.

“Pertanyaanmu?” tanya Joon oppa, “Ah yang itu. Sebenarnya………… aku sudah berbaikan dengan ahbuji beberapa minggu yang lalu, aku menunjukkan prestasiku sebagai mahasiswa terbaik di jurusan musik.

“Lalu…… beliau menyuruhku untuk tinggal bersama lagi.” Jelas Joon oppa, “Rumahku sangat jauh dari Seoul, jadi…….. aku memutuskan untuk pindah ke universitas yang lebih dekat dari rumahku.”

Pindah? Joon oppa…… aka pindah? Meninggalkan aku dan yang lain?

“Hehehehehe kamu pasti syok ya?” tanya Joon oppa. “Sebenarnya aku hendak mengatakannya tadi, hanya saja……… kamu terlihat senang menemuiku lagi sehingga aku tak tega. Makanya aku berniat untuk mengatakannya setelah kamu menjawab perasaanku.”

“Ha………. Haruskah pindah dan pergi?” tanyaku dengan perasaan yang cukup terpukul, “Apa oppa dan aku…. Takkan bisa bertemu lagi untuk waktu yang lama?”

Tak terasa, air mataku mengambang dan terjatuh di pipi. Hidungku terasa sesak dan tenggorokanku tercekat, jinjja…. Aku tak percaya harus kehilangan salah satu teman terbaikku.

“Yak.. kenapa menangis? Uljimma…. Nanti wajahmu jadi jelek.” Jawab Joon oppa yang sepertinya agak terkejut dengan reaksiku. “Aku pasti akan mengunjungi rumahmu kalau aku sempat, jadi jangan sedih oke?”

Ia membantuku mengusap air mata dengan jemarinya, “Masalah wajah jelek…… bukannya aku memang jelek bahkan dengan make up sekalipun? Jangan mengatakan hal yang membohongiku seperti itu dong~”

“Bohong? Aku tidak pernah berbohong kok kalau tentangmu, hahahahaha.” Joon oppa tertawa lepas sambil masih memegang pipi dan membersihkannya dengan tisu, “Kamu jelek….. tapi hatimu bersih, itulah yang membuatmu terlihat cantik.”

Perlahan ia bangkit dari kursinya dengan senyum getir, “Aku harus pergi sekarang, dan jangan khawatir karena Seungho hyung yang akan mengantarmu pulang.” Ucapnya. “Aku sudah berbaikan dengannya, karena itu aku berani menyuruhnya menjemputmu. Nanti kalau kalian sudah berdua, jangan lupa ungkapkan perasaan terpendammu itu ya.”

“Wa…. Waeyo?” tanyaku tak mengerti, “Kenapa aku harus menyatakan perasaanku padanya?”

Joon oppa menggenggam kedua tanganku lagi, “Karena….. aku tidak ingin kau memendamnya lagi, sudah cukup 2 tahun kamu menunggu. Jangan lebih lama lagi.”

Tangan oppa berpindah ke rahangku, lalu dengan senyum pedih ia berkata… “Annyeong Dain-sshi…. gamsahabnida sudah memasuki kehidupanku. Dan, gamsahabnida sudah membuatku mencintaimu.”

Ia mendekatkan wajahnya ke arahku, lalu mencium pipiku lembut dan pergi meninggalkanku sendirian di kafe ini….

 

…..

 

Semuanya bagaikan mimpi yang tak pernah berakhir….. rasanya baru beberapa hari aku kenal dengan Lee Joon, dan kini kami sudah dipisahkan oleh takdir dan waktu…..

“Dain-sshi… mianhae, apa kamu menunggu lama?” terlihat Seungho oppa muncul dari pintu gedung orchestra. Dan aku juga baru sadar kalau aku duduk di sebelah mobilnya yang terparkir di lapangan.

“Anii…. Aku baru saja,….. loh oppa?”

Aku tertegun melihat Seungho oppa yang terpaku dengan wajah yang memerah saat menatapiku, “Jinjja…. Aku pianis dari salah satu orchestra yang kau tonton bersama Joon. Hajiman….. aku tak menemukanmu di barisan penonton.”

Aku mengeryitkan alisku dengan wajah yang panas, “Emmmm apa ada sesuatu di wajahku sampai-sampai oppa terpaku seperti itu?”

“Ah aniiyo… bukan apa-apa, hanya saja… hari ini kau terlihat beda.” Jawab Seungho oppa. “Oh iya, kata Joon kamu ingin mengatakan sesuatu. Apa itu?”

 

Aku tidak ingin kau memendamnya lagi, sudah cukup 2 tahun kamu menunggu. Jangan lebih lama lagi

 

Ah, aku teringat perkataan Joon oppa. Apa aku harus mengungkapkannya hari ini, sekarang?

“Sejak 2 tahun yang lalu……” ucapku terbata bata. Aku berniat menyatakannya dengan cara yang lebih abstrak. “Instrument yang oppa mainkan, selalu membuat Jantungku berdebar tak karuan….. selalu membuat wajahku panas dan merona~”

Diluar dugaanku, Seungho oppa sepertinya mengerti perkataanku dan menjawab, “Dan seperti yang aku bilang waktu itu… kalau menyangkut kamu dengan namja lain, kepalaku juga selalu panas..”

Maldo andwae~~ jangan bilang kalau Seungho oppa juga…………??

“Nee Hwang Dain….. Maukah kamu menemaniku setiap waktu, mulai hari ini?” Seungho oppa yang berdiri agak jauh, merentangkan telapak tangannya ke arahku. “Kalau kamu bersedia…. Mari kita dentingkan satu lagu dengan piano yang ada disini, bersama.”

Aku mengangguk dan menggapai tangannya. Of course oppa, bahkan kalau Tuhan memperbolehkan…. Aku ingin selalu mendampingimu, selamanya….

Tamat.