[Free Writer] I will always Love You Forever

Author : Tamie_Aeri

Main Cast : Cho Kyuhyun,

Choi Eunhye (OC)

Han Jieun (OC)

Nam Hyuri (OC)

Genre : sad (?), tragic (?)

Disclaimer : ini pernah kuposting diblog aku, loh! Di : http://sapphirebluegirls.blogspot.com/ kunjungin yahh~~ hehehe^^ kalo ada kesamaan plot atau apa, itu hanya kebetulan belaka. Hehehe^^ langsung aja cekidot===>>>

===============================================================

~Eunhye POV~

Kupandangi dia dari dekat taman. Kulihat, Ia sedang asyik mendengarkan musik di I-Pod miliknya. Kalian pasti berpikir kenapa aku seperti ini. Yah, kuakui. Aku menyukainya. Bahkan, mencintainya. Mencintai seorang namja bernama Cho Kyuhyun.

Aku tersenyum melihatnya. Hah, lagi-lagi aku melakukan hal bodoh. Bagaimana tidak, aku absen jadwal hari ini hanya untuk melihatnya dari jauh. Benar-benar bodoh. Kuakui, dia itu sangat tampan,. Dari senyumnya, tatapan matanya, hingga cara berperilakunya aku menyuakinya. Baiklah, aku telah dibutakan oleh seorang Cho Kyuhyun! Aku masih saja memandanginya. Tiba-tiba saja, ponselku berbunyi. Aisshh..menganggu saja!

Aku pun segera mengambil ponselku. Kulihat, dilayar ponselku tertulis ‘Han Jieun’. Aku pun segera mengangkatnya.

“yeobseyo.” Sapaku dengan suara pelan.

“YA! Choi Eunhye! Eoddika!? Kenapa kau pergi!? Kau tahu, hari ini ada jadwal!” bentaknya.

“ne, ne. araseyo!” kataku cepat. Lalu, aku pun segera bangkit dari dudukku sambil memandangi namja itu dan menutup telponnya.

Aku pun kembali memandangi namja itu sambil berjalan membelakangi. Tiba-tiba, kepalaku terasa sakit. Karena aku tak melihat jalan, aku tertabrak tiang.

BUGH!

Semua pandanganku tiba-tiba saja gelap. Ada apa ini?

========

“…ireona! jebalyo, Eunhye.”

Samar-samar, aku mendengar suara. Kucoba membuka kedua mataku. Kulihat, Jieun menatapku.

“yah, Eunhye!” seru Jieun yang berada disampingku.

“eoddika?” tanyaku sambil memegang kepalaku. Kepalaku terasa pening.

“ini di rumah sakit. Neo waeyo? Kenapa bisa terbentur tiang?”

“aku tadi sedang berjalan ke kampus. Tapi, tiba-tiba kepalaku terasa sakit. Dan, tanpa sengaja aku menabrak tiang.”

“aisshh..lagi-lagi, penyakitmu kambuh. Kau harus menjaga kesehatanmu. kau tahu, aku sangat mencemaskanmu. Mengingat kesehatanmu yang memburuk.” Kata Jieun dengan nada cemas.

Aku tertegun mendengar hal itu. Ya, aku memang tidak sehat. Aku mengidap penyakit kanker otak. Dan, dokter sempat berkata padaku, kalau umurku tidak lama lagi. Hah, sungguh bodoh. Mana bisa dokter memperkirakan kematian seseorang? Bukankah hanya Tuhan yang tahu kematian seseorang?

“yah, jangan melamun! Mianhae, kalau aku mengatakan hal itu.” Sesal Jieun yang membuyarkan lamunanku.

“aniyo. Gwennchana. Memang itu kenyataannya.” Kataku berusaha tersenyum.

Aku tidak ingin orang-orang disekitarku mencemaskanku. Aku harus kuat. Satu-satunya semangat untuk aku melanjutkan hidup adalah memandangi dan mencintai namja itu.

========

Aku segera berjalan menuju kelas. Kulihat, Kyuhyun berjalan memasuki kelas yang sama denganku. Rasanya aku gugup sekali. Kakiku terasa berat untuk masuk saking gugupnya.

“Eunhye-ya, kajja!” ajak Jieun sambil menggandeng tanganku.

“ahh..ne”

Aku pun segera mengikutinya. Aku hanya bisa tertunduk saking gugupnya bertemu dengannya. Haahh, bodohnya aku. Aku segera duduk didekat Jieun. Aku tak berani menoleh kearahnya!

“chogiyo, Agassi. Bisakah kau duduk didepan?” tanya seseorang mengejutkanku. Aku pun menoleh dan ternyata adalah Cho Kyuhyun.

“a..apa tak ada orang lain selain aku?”

“ani.”

Dengan terpaksa, aku pun duduk disebelahnya. Ahh..konsentrasiku bisa hancur hanya memikirkannya. Aku berusaha beronsentrasi. Sementara, namja itu sedang asyik dengan gamenya.

“baiklah, sampai disini. Gamsahamnida. Annyeong.” Pamit dosen sambil berjalan keluar.

Aku pun segera membereskan semua bukuku dan pergi. Aku berjalan sambil mengeluarkan sebuah I-Pod untuk mendengarkan musik. Saat aku ingin memasang earphonenya, seseorang menepuk bahuku. Aku pun menoleh. Ternyata namja itu lagi yang membuatku gila.

“Agassi, ini” katanya sambil menyerahkan sebuah buku.

“ah, ne. gumawo.” Kataku dengan dingin. Karena, aku tak ingin dia tahu bahwa aku menyukainya.

========

Saat dikantin kampus, aku duduk dengan Jieun sambil meminum jus jeruk.

“yah, sampai kapan kau meminum jus jeruk itu?”

“mollayo, Jieun-ah.” Kataku. “mungkin ini terakhir kalinya aku meminum jus jeruk ini.”

“Eunhye-ya, jangan begitu. Aku belum siap kehilanganmu.”

Aku hanya tersenyum. Kapan ajalku menjemput, hanya Tuhan yang tahu pasti. Saat aku meminum jus jeruk, kulihat seorang yeoja cantik datang ke kantin. Dibelakangnya terlihat seorang namja yang kukenal. Cho Kyuhyun! Seketika mataku terbelalak dan menjatuhkan ponselku yang sedari tadi kupegang. Itu membuat Jieun terkejut melihatku.

“Eunhye-ya, waeyo? Gwenchanayo?” tanyanya cemas.

Aku hanya terdiam membisu. Dan, tanpa sadar air mataku mengalir deras. Hatiku terasa sakit teriris-iris melihat hal itu. Benar, mungkin dia bukan untukku. Tapi, kenapa aku begitu mengharapkannya? Hatiku benar-benar sakit. Sakit sekali.

========

Hahh..sudah 5 hari. Ya, 5 hari aku tidak masuk kuliah hanya karena seorang Kyuhyun dan juga penyakitku yang kembali kambuh. Kedua mataku hingga bengkak hanya menangis karenanya. Sampai-sampai, semua pasien dirumah sakit saat aku masih dirawat mengeluh karena mendengar isak tangisku ini. Mungkin, karena merasakan perihnya hatiku ini. Apakah mencintai seseorang seperti ini rasanya?

Aku kembali masuk jadwal kuliah dengannya. Kali ini, aku harus menyampaikan sesuatu padanya. HARUS!

Saat aku duduk disebelahnya, aku langsung memanggilnya.

“Kyuhyun-ssi.”

“ne?” katanya sambil menoleh kearahku.

Aku pun segera menyerahkan secarik kertas untuk menghindari kegugupanku. “jebal, datanglah kesana. aku ingin bicara denganmu.” Kataku sambil tersenyum.

========

~Kyuhyun POV~

Aku senang, sekarang semua orang menerima kenyataan bahwa Hyuri adalah yeojachinguku. Sebelumnya, aku dengannya menjain hubungan selama 1 tahun tanpa ada seorangpun yang tahu.

Hari ini, aku ada jadwal kuliah. Ahh..sudah 5 hari aku tak bertemu dengan seorang yeoja yang duduk disampingku. Ada apa ya? Kulihat, dia datang dengan wajah sendu. Wae? Kemudian, kembali kuedarkan pandanganku kearah lain. Tiba-tiba, yeoja itu memanggilku.

“Kyuhyun-ssi.”

“ne?” kataku sambil menoleh kearahnya.

Ia pun langsung memberikanku secarik kertas. “jebal, datanglah kesana. aku ingin bicara denganmu.” Katanya sambil tersenyum.

Aku pun memandangi kertas itu. Apa isinya? Aku pun segera membukanya.

‘annyeonghaseyo. Maaf mengganggu, kumohon datanglah ke Namsan Tower malam ini. Aku ingin bicara denganmu’

Choi Eunhye

Ahh, aku baru tahu kalau nama yeoja itu bernama Choi Eunhye. Tapi, kenapa aku harus kesana? bicara denganku? Untuk apa? Apa dia tak tahu, kalau aku ini Super Junior Kyuhyun? Tapi, ini kan surat cinta. Ah, bukan! Ini sebuah memo. Lebih baik aku kesana untuk menghilagkan rasa penasaranku.

========

Aku berjalan menuju Namsan Tower disaat hujan salju turun. Aihh..apa yeoja itu sudah gila? Mana mungkin mengajak bicara disaat udara dingin? Saat aku sampai, kulihat dia dengan mantel merah lengkap dengan syal dan sarung tangan. Wajahnya terlihat manis.

“annyeong, Eunhye-ssi” sapaku

“Kyuhyun-ssi?” desahnya sambil menoleh kearahku. Wajahnya terlihat pucat.

“kau sudah lama?”

“ya, begitulah.”

“ahh..wajahmu terlihat pucat” kataku sambil melilitkan syalku pada lehernya. Anggap saja itu fan service dariku.

Kulihat, Ia sedang menarik napasnya dang mengusap bibirnya yang pucat.

“baiklah, aku..aku ingin mengatakannya sekarang.” Katanya sambil mendongak menatapku. Terlihat, tubuhku lebih tinggi dariku.

“aku..aku menyukaimu. A..aku tahu, kalau kau telah mempunyai seorang yeojachingu. Kau tak perlu menolakku, a..aku sudah tahu jawabanmu saat ini. Sungguh..aku..”

Kata-katanya tergantung ketika Ia menatapku.dan tertawa pelan. Tapi, aku tahu itu hanya untuk menutupi sakit dan kepedihan hatinya.

“a..aku tak bermaksud untuk menyatakan cintaku. Aku hanya ingin mengeluarkan semua isi hatiku. Karena, aku telah menyimpannya selama 3 tahun. A..aku tahu, dimana taman saat kau ingin menyendiri. A..aku selalu memandangimu dari jauh. Hah, betapa bodohnya diriku. Ternyata, aku sungguh bodoh. Maafkan aku, Kyuhyun-ssi. Maaf, aku sungguh bukan untuk menyatakan cintaku. Setelah tahu kau mempunyai seorang yeojachingu, hatiku semakin sakit. Aku tak sanggup menyimpannya. A..aku sungguh tak sanggup.” Katanya dengan air mata yang mengalir dengan deras.

“dan, kau tak perlu membalas cintaku. Cukup aku saja yang mencintaimu. itu sudah cukup..” katanya sambil mengusap air matanya dengan kasar. Tapi, Ia tak mampu. Karena, air matanya turun lebih deras.

Apakah Ia menangis karenaku? Sungguh? Bagaimana Ia bisa tahu dimana taman yang sering kupakai untuk menyendiri? Aku baru menyadari, ternyata masih ada seseorang yang menyayangiku dan mencintaiku. Aku pun langsung memengang wajahnya dan menghapus air matanya. Kumohon, jangan menangis!

“jangan menangis. Aku tahu semua isi hatimu. Aku sangat mengerti isi hatiku. Maafkan aku, karena aku tak bisa membalas cintamu. Aku sungguh minta maaf. Terima kasih, kau telah mencintaiku. Aku menyukaimu, aku menyayangimu. Tapi, aku tak bisa mencintaimu.” Kataku. Lalu, aku langsung memeluknya dengan erat. Ahh..hangatnya.. “saranghae.” lanjutku.

“gwenchanna. Aku tahu, kau tak bisa membalas cintaku. I will always Love You forever. Nado saranghae..” Katanya.

Tiba-tiba, tubuhnya terasa lemas dan tidak dapat menumpu tubuhnya sendiri.

“Eunhye-ssi?” panggilku.

Kulihat, matanya terpejam dan hidungnya mengeluarkan darah. Mataku langsung terbelalak melihatnya.

“tolongg!!!! Seseoranggg!!!!” teriakku sekencang mungkin. Aku ingin Ia segera tertolong.

========

Aku menunggu diruang ICU. Aku gelisah, karena Eunhye tiba-tiba saja pingsan. Aku takut, karena aku merasa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengannya. Kulihat, dokter datang dengan wajah agak berseri.

“dokter, bagaimana kondisinya?” tanyaku cemas.

“Ia tidak apa-apa. Penyakitnya hanya kambuh. Ia harus lebih banyak istirahat.”

“a.apa dokter bilang? Pe..penyakit?” tanyaku heran.

“maaf, apa anda tidak tahu? Dia mengidap penyakit kanker otak.” Katanya pelan.

“a..apa? kanker otak?”

“ya, dia mengidap kanker otak. Dan, kini hidupnya tak akan lama lagi. Maka dari itu, bahagiakan Ia sebelum Ia tiada..” katanya sambil menepuk bahuku dan berjalan pergi.

Aku jatuh kekursi dengan lemas dan tanpa sadar air mataku mengalir dengan deras. Apa? Ia mengidap penyakit kanter otak? Benarkah? Bohong! Ini pasti bohong! Andwae! Ta..tapi, itu kenyataan. Bagaimana ini? Baiklah, aku harus membahagiakannya. Harus..

=======

Aku berjalan ke kamar nomor 201. Kamar Eunhye. Saat kubuka pintu kamar itu, kulihat Ia sedang duduk didepan jendela kamarnya.

“Eunhye-ya..” sapaku.

Kulihat, Ia menoleh kearahku sambil tersenyum. Padahal, wajahnya terlihat pucat. Tapi, Ia masih bisa tersenyum.

“Kyuhyun-ssi.”

Alis kananku terangkat ketika Ia mengatakan itu.

“mwo? ‘Kyuhyun-ssi’? yah, panggillah aku, seperti kau memanggil sahabatmu.” Protesku.

“sa..sahabat?” tanyanya dengan suara aneh.

“ne. sahabat.” Kataku sambil tersenyum.

“a..aku sama sekali bukan sahabatmu. A..aku hanya seorang.. stalker.” Katanya pelan.

Aku pun langsung berjalan mendekatinya dan memegang kedua bahunya agar aku bisa menatapnya. Kulihat, matanya terbelalak.

“K..Kyuhyun-ssi?”

“kau bukan stalker. Aku adalah sahabatmu. S-A-H-A-B-A-T! arachi?”

“ne. sahabat.” Katanya sambil tersenyum.

“jadi, kau panggil aku ‘Kyuhyun-ah’!” suruhku.

“Kyuhyun-ah?”

“ne.” kataku sambil tersenyum.

Kulihat, Ia menatap langit. Aku berusaha bicara dengannya.

“Eunhye-ya.. apa keadaan seperti ini terasa asing bagimu?” tanyaku.

Kulihat, Ia memejamkan kedua matanya.

“asing? Aniya.. aku sudah terbiasa..” katanya santai.

“te..terbiasa?” tanyaku heran.

“ne. aku sudah terbiasa. Melihat saluran infus yang tersemat di lenganku, keluar masuk rumah sakit, meminum banyak obat, melihat orang lain masuk ruang ICU, hingga melihat orang yang telah mati..” kata-katanya sepertinya tergantung.

“mungkin, selanjutnya adalah aku..” lanjutnya dengan pelan.

Aku yang mendengar hal itu, langsung menoleh kearahnya.

“yah, Eunhye-ya! Jangan berkata seperti itu!”

Kulihat, Ia menatapku sambil tersenyum.

“wae? Kematian seseorang bukankah hanya Tuhan yang tahu pasti?” tanyanya.

“lalu, kenapa kau merasa kalau kau akan mati!?”

“aku hanya mengira-ngira. Itu saja.”

“kumohon, jangan berkata seperti itu lagi..” pintaku padanya.

“ne. ara.” Katanya sambil tersenyum.

========

~Eunhye POV~

Pagi hari, aku sedang berbaring dirumah sakit. Aku merasa bosan sekali. aisshh.. semoga Kyuhyun tidak kemari lagi. Aku tak mau merepotkannya. Mataku terpaku pada sebuah remote control yang berada dimeja. Aku pun segera mengambilnya dan menyalakan televisi.

Kubuka channel KBS, aku melihat siaran ulang ‘Music Bank’ yang bintang tamunya adalah Super Junior. Aku melihat Kyuhyun yang sedang bernyanyi sambil tersenyum. Aigoo.. Ia sangat tampan. Ya Tuhan.. kumohon, jangan pernah berhenti mencintainya..

Saat aku sedang asyik mendengarkan lagu yang yang dinyanyikan Kyuhyun ditelevisi, tiba-tiba seseorang datang yang ternyata adalah Kyuhyun.

“Annyeong, Eunhye-ya!” sapanya sambil membawa sekeranjang buah.

Aku pun langsung mematikan televisi dan melempar remote control yang tadi kupegang kearah sofa.

“yah, apa yang kau lakukan?” tanyanya.

“a..a..ani..” kataku dengan nada tergagap.

Kulihat, kedua tanganku bergetar. Tiba-tiba, Kyuhyun memegang kedua tanganku yang bergetar itu.

“kau bohong. Kedua tanganmu bergetar.”

“a..ani!” kataku.

Kulihat, Ia langsung mengambil remote control yang kulempar tadi dan menyalakan televisi. Aku pun langsung mengambil bantal dan menutupkan wajahku dengan bantal itu. Aku tak tahu, apa reaksinya ketika tahu kalau aku menonton siaran ulangnya. Dan, aku yakin kalau wajahku pasti sudah memerah.

“kau menonton ini?” tanyanya.

“ne. kumohon, jangan mengejekku hanya karena aku menonton itu.” Isakku sambil membuka wajahku dari bantal.

“siapa yang mengejekmu?” tanyanya sambil menatapku.

“mungkin, kau..” kataku pelan.

“aniya.” Katanya sambil duduk disamping tempat tidurku.

Aku pun menatapnya. Aku merasa ingin bertanya seseuatu.

“Kyuhyun-ah..” panggilku.

“ne?”

“bolehkah aku bertanya?” tanyaku.

“tentu saja.”

“kau tak marah?”

“ani.”

“jinjja?”

“ne. waeyo?”

“janji?”

“ne. waeyo?” katanya untuk kesekian kalinya.

Aku pun langsung menarik napas panjang.

“Kyuhyun-ah. kau kan sudah punya yeojachingu. Jadi, aku ingin bertanya…”

“mwo?”

“ka..kapan kau terakhir berciuman dengan Nam Hyuri?” tanyaku.

Kulihat, Kyuhyun menatapku dengan tatapan tak percaya.

“yah, sejak kapan kau ingin tahu seperti itu!?” tanyanya dengan sebal.

“aku sudah mengiranya, pasti kau marah..” kataku. “jadi, kapan?” tanyaku ingin tahu.

“wae? Apa kau ingin melakukannya?”

“a..ani.”

Aku pun langsung menatap langit-langit kamar.

“kalau aku melakukannya, aku ingin dengan orang yang kucintai..” kataku pelan.

Saat kulihat menatap Kyuhyun, Kyuhyun menatapku dalam-dalam.

“w..wae?” tanyaku heran.

Kulihat, Ia meraih leherku dan menciumku. Ia menciumku dengan sangat dalam. Akhirnya, Ia pun melepaskan ciumannya. Aku menatapnya tak percaya.

“Kyuhyun-ah, kau..”

“itu kan yang kau mau? Melakukannya dengan orang yang kaucintai.” Potongnya cepat. “dan, itu aku. Namja yang selalu dihatimu.”

Wajahku langsung memerah dan menutupi wajahku dengan bantal. Ahh.. aku malu..

======

Sore hari, aku duduk didepan jendela kamar. Kulihat, Kyuhyun sedang mengupas buah yang Ia bawa tadi pagi.

“Kyuhyun-ah, kau tak pulang? Hari semakin senja..”

“biar saja. Aku ingin menjagamu.”

“tapi…”

“wae?”

“bagaimana dengan Hyuri-ssi?”

“gwenchana. Di mengerti aku.”

“ohh.. jinjja?”

“ne.” katanya.

Aku hanya tersenyum melihatnya.

“aigoo.. sungguh beruntung mempunyai seorang namjachingu sepertimu..” kataku pelan.

Kemudian, Ia menoleh kearahku sambil tersenyum.

“wae?” tanyanya.

“ani.” Ucapku singkat.

=======

~Kyuhyun POV~

Pagi hari, saat aku datang ingin menemui Eunhye. Tiba-tiba, aku melihat pintu kamar Eunhye terbuka. Aku pun langsung mencari suster.

“suster!” panggilku.

“ne?” katanya sambil menoleh kearahku.

“dimana pasien kamar ini?” tanyaku.

“ahh, Eunhye-ssi sedang ada di ruang ICU. Kondisinya melemah.” Katanya.

Aku pun langsung berlari keruang ICU. Aku tak ingin kehilangannya. Tak ingin! Kulihat, dokter keluar dari ruang ICU.

“Kyuhyun-ssi.” Panggilnya.

Aku pun segera menghampirinya.

“ne?”

“Eunhye-ssi ingin bicara denganmu.”

Dengan cepat, aku langsung menghampiri Eunhye diruang ICU.

“Eunhye-ya!” seruku.

“Kyuhyun-ah..” katanya dengan nada lemas. “gwenchana, jaga dirimu.”

“Eunhye-ya!”

Suster pun langsung mendorong tempat tidur Eunhye ke ruang ICU. Aku menatap pintu ruang ICU dengan tatapan kosong. Tiba-tiba, seorang suster menepuk bahuku.

“Kyuhyun-ssi, bisa kau membantuku merapihkan kertas yang ada dikamar 201?”

“tentu.”

Aku pun langsung berjalan mengikuti suster itu ke kamar 201. Kamar Eunhye. Kulihat, banyak sekali kertas yang bercecaran. Kucoba mengambil satu persatu. Tiba-tiba, tatapanku terpaku pada sebuah tulisan.

‘Kyuhyun-ssi, kenapa kau bisa membuatku gila sepeti ini? Aku terlalu mencintaimu. bagaimana ini? Aku ingin, cintaku cukup cinta plakonis. Cinta yang tak butuh balasan, cinta yang tulus. Aku hanya ingin mencintainya seperti itu.. YaTuhan, kumohon aku hanya ingin mencintainya seperti itu..aku tak ingin menyakiti seseorang yang Ia sayang..’

Aku terpaku melihat tulisan itu. Ia.. sungguh-sungguh mencintaiku? Aigoo.. eottokkhe? Aku baru menyadarinya. Ia sungguh mencintaiku. Aku juga menyayanginya. Tapi, aku tak bisa mencintainya. Aku sungguh bodoh! Tiba-tiba, suster tadi memanggilku.

“Kyuhyun-ssi, Eunhye-ssi ingin bertemu denganmu.”

Dengan cepat, aku langsung berlari keruang ICU. Kulihat, Ia tersenyum ketika melihatku.

“Kyuhyun-ah..” sapanya dengan wajah pucat.

“Eunhye-ya!” kataku sambil langsung memeluknya.

“Kyuhyun-ah, kumohon bahagialah dengan Hyuri. Dengan begitu, sama saja kau membalas cintaku. Kumohon, bahagialah.. aku rela…” katanya sambil berlinang air mata dibahuku.

“Eunhye-ya! Kumohon, jangan berkata seperti itu. Aku tak ingin kehilanganmu.”

“Kyuhyun-ah, hanya kematian yang memisahkanku denganmu. Maafkan aku..”

“Eunhye-ya, jangan!”

“maaf Kyuhyun-ah. Aku yakin, sampai kapanpun hanya cinta yang tidak akan pernah bisa memisahkanku denganmu.. jadi, kumohon bahagiaah dengannya..”katanya. “Kyuhyun-ah, Saranghae… I will always love you forever…”

Tiba-tiba, matanya terpejam dan detak jantungnya telah berhenti. Aku langsung menangis.

“ANDWAEEE!!!” teriakku.

Aku langsung merasa lemas. Apa? Ia telah tiada? Aigoo..apa salahnya? Mungkinkah karena aku tidak membalas cintanya? Ya Tuhan, kenapa aku harus kehilangan yeoja yang selalu mencintaiku? Eunhye, maafkan aku.. ini semua salahku….sungguh ini semua salahku…

============

5 bulan kemudian….

Aku termenung melihat teks lagu tersebut. lagu dengan judul ‘Hope is a dream that doesn’t sleep’, kupersembahkan untuknya. Choi Eunhye.

Hope is a dream that doesn’t sleep

na oerowododoe neol saenggakhalddaen (Tidak masalah jika aku kesepian. Setiap kali aku memikirkan Kau) misoga naui eolgule beonjyeo (Senyum menyebar di seluruh wajahku.) na himdeuleododoe niga haengbokhalddaen (Tidak masalah jika aku lelah. Setiap kali kau bahagia) sarangi nae mam gadeukhi chaewo (Hati ku dipenuhi dengan cinta.)

 

oneuldo nan geochin sesangsoke saljiman (Hari ini aku bisa hidup di dunia yang keras lagi.) himdeuleodo nungameumyeon ni moseubbun (Bahkan jika aku lelah, ketika aku menutup mata aku, aku hanya melihat gambar kau.) ajikgo gwitgae deulryeooneun kkumdeuli (Mimpi-mimpi yang masih terngiang di telinga ku) naui gyeoteseo neol hyanghae gago itjana (Apakah meninggalkan sisi ku ke arah kau.)

nae salmi haruharu kkumeul kkuneun geotcheoreom (Kehidupan sehari-hari ku seperti mimpi.) neowa hamgge majubomyeo saranghalsu itdamyeon (Jika kita dapat melihat satu sama lain dan saling mencintai) dasi ileoseol geoya (Aku akan berdiri lagi.)

 

naege sojunghaetdeon gieoksokui haengbokdeul (Bagi aku, kebahagiaan orang-orang yang berharga kenangan)

himdeun sigan sokeseodo deouk ddaseuhaetdeon (Akan hangat selama masa sulit.) huimangeun naegen jamdeulji aneun kkum (Bagi ku, harapan adalah mimpi yang tidak pernah tidur.)

 

neul naui gyeoteseo geurimjacheoreom (Seperti bayangan kau selalu disisi ku) joyonghi neoneun naegero waseo (Diam-diam datang kepada ku.) na apahaneunji maeil oerounji (Untuk melihat apakah aku terluka, untuk melihat apakah aku kesepian setiap hari) geuriumeuro neoneun naege danyeoga (Dengan perasaan kerinduan, kau datang kepada ku.)

sesangi nal ulge haedo naneun gwaenchana (Bahkan jika dunia membuat aku menangis, aku baik-baik saja.) hangsang niga naui gyeote isseunigga (Karena kau selalu berada di sisi ku.) meonjicheoreom chueoki byeonhaeseo ddeonalgga (Seperti debu, akankah mereka berubah dan meninggalkan kenangan?) geujeo useumyeo maeumeul dalraeeo bwado (Aku akan tetap tersenyum untuk meringankan hatiku.)

nae salmi haruharu kkumeul kkuneun geotcheoreom (Kehidupan sehari-hari ku seperti mimpi.) neowa hamgge majubomyeo saranghalsu itdamyeon (Jika kita dapat melihat satu sama lain dan saling mencintai) dasi ileoseol geoya (Aku akan berdiri lagi.)

naege sojunghaetdeon gieoksokui haengbokdeul (Bagi ku, kebahagiaan orang-orang yang berharga kenangan)

himdeun sigan sokeseodo deouk ddaseuhaetdeon (Akan hangat selama masa sulit.) huimangeun naegen jamdeulji aneun kkum (Bagi ku, harapan adalah mimpi yang tidak pernah tidur.)

sueobsi neomeojyeo biteuldaedo (Tidak peduli berapa kali aku tersandung dan jatuh) naneun ireohgeseo itjana (Aku masih berdiri seperti ini.) nae mam hanabbuninde (Aku hanya memiliki satu hati.) himdeul ddaemyeon niga ireohge himi dwaejulrae (Ketika aku lelah kau menjadi kekuatan ku.) neoreul hyanghae yeongwonhi (Hatiku ke arah kau selamanya.)

ireohge sangcheo soke seulpeumdeuleul samkinchae (Jadi aku menelan terluka dan kesedihan.) miso jitneun nae moseubeul neoege boyeo julge (Aku hanya akan menunjukkan bentuk aku tersenyum.) ijeneun apeuji ana (Bahkan tidak terluka sekarang.)

eonjena neowa hamgge irugopeun kkum ango (Aku akan selalu berpegang pada mimpi aku ingin mewujudkannya dengan kau) galsu eobdeon jeopyeoneseo neoreul bulreobolgge (Aku akan mencoba untuk memanggil kau di tempat aku tidak bisa mencapai) nae maeum dahae saranghaneun neoreul (Aku mencintaimu dengan segenap hatiku.)

 

Aku tersenyum membaca teks lagu itu. Kupandangi langit-langit yang biru. Aku pun memejamkan kedua mataku.

Choi Eunhye, terimakasih kau telah mencintaiku. Walaupun aku tak membalas cintamu, aku sangat menyayangimu. Maafkan aku, jika aku tak membalas cintamu. Aku sungguh minta maaf. Semoga kau melihat apa yang kulakukan untukmu. Ya Tuhan, kumohon jaga dia disana… dan juga, kata-kata terakhirmu akan selalu kuingat.

“gwenchanna. Aku tahu, kau tak bisa membalas cintaku. I will always Love You forever. Nado saranghae..”

==========

The End…