Title : My Fake Ordinary Wife (part2)

Author : Lumie91

Main Cast : Kim Jongwoon/Yesung(Super Junior), Shin Hyeni (OC), Park Yunhee(OC), Lee Hongki(FT Island)

Support Cast : Lee Hyukjae, Lee Eunri, Lee Donghae, Shim Changmin, Kim Yoojin/Uee

Rating : (aku gak ngerti, tapi yang pasti gak ada macem-macemnya)

Genre : romance, comedy

Ps : Author masih baru di bidang per ff-an. Ini adalah ff pertama author dan author sendiri baru belajar nulis ff. Kalau ada kemiripan tokoh, cerita, latar, dll, author mohon maaf karena tidak disengaja karena author gak tahu apa-apa. Gomawo~ ff ini udah author publish di blog author yang baru ajah di buat belum lama ini (http://lumie91.wordpress.com )

Disclaim : ff ini murni buatan dan hasil pikiran author sendiri yang dibuat dengan susah payah, tolong dihargai dengan tidak mengkopasnya yah… ^^

 

Jongwoon POV

 

Dengan perasaan kesal dan kecewa aku hendak meninggalkan gedung Gereja. Pikiranku dipenuhi kata-kata Yunhee yang jelas-jelas telah menolak lamaranku, menolak menjadi istriku, menolak menjadi pasangan hidupku. Walaupun ia beralasan tidak siap menjadi calon istriku karena masih ingin mengejar impiannya, tetap saja aku tidak bisa menerimanya. Perasaanku terluka, hatiku rasanya sakit. Apa artinya 2 tahun yang telah kali lalui bersama? Apa artinya semua kata-kata cintanya kalau dia lebih memilih impiannya dibandingkan menjadi pendamping hidupku? Aku jadi ragu kalau ia benar-benar tulus mencintaiku. Ya, Tuhan, apakah mungkin Yunhee bukan yeoja yang Kau takdirkan untukku?

 

Aku mendorong pintu Gereja. Begitu pintu terbuka, aku langsung diserbu kilatan-kilatan cahaya blitz kamera para wartawan. Bagaimana mungkin mereka bisa ada di sini? Dari mana mereka mengetahui keberadaanku?

 

“Yesung~sii, kabarnya anda sedang melamar kekasih anda di Gereja ini?”

 

“Yesung~sii, apakah anda akan segera menikah dengan kekasih anda?”

 

Para wartawan itu mengarahkan mic padaku. Menghujaniku dengan berbagai pertanyaan. Apa kalian buta, hah? Aku sendirian di sini. Aku ditolak. Kekasihku tidak datang untuk menerima lamaranku dan aku sedang kesal. Mengapa kalian membuatku bertambah kesal dengan pertanyaan-pertanyaan kalian yang menurutku sangat bodoh itu?

 

“Tolong jawab kami, di mana kekasih yang akan menjadi calon istri anda?” mereka masih saja melontarkan pertanyaan. Baru saja aku ingin membuka mulutku, ada seorang wartawan yang bertanya padaku dan membuatku tersentak.

 

“Apakah kekasih anda adalah wanita di belakang anda?”

‘Mwo?’ tanyaku dalam hati. Apa aku tidak salah dengar? Atau dia salah lihat? Atau memang ada hantu di belakangku? Tapi ini jelas-jelas adalah gedung Gereja. Tidak mungkin ada hantu di sini. Kecuali malaikat. Ya, kalau tiba-tiba ada malaikat di belakangku, aku baru bisa percaya. Mungkin malaikat itu membawa pesan bahwa Yunhee memang bukan takdirku.

 

“Apakah anda adalah calon istri Yesung~sii?” tanya seorang wartawan sambil mengarahkan mic ke seseorang di belakangku. Wartawan lain ikut mengarahkan mic padanya. Akupun penasaran. Siapa yang ada di belakangku?

 

Kuputar kepalaku untuk melihat siapa di belakangku sambil membalikkan tubuhku. Dia berdiri di sana. Seorang yeoja bertubuh kecil yang sedang memejamkan matanya.

 

***

 

Hyeni POV

 

“Apakah anda adalah calon istri Yesung~sii?”

 

Aku merasa ada beberapa orang mendekatiku. Perlahan kuberanikan diri membuka mataku. Masih banyak cahaya yang menerpaku. Ternyata cahaya-cahaya itu berasal dari kamera-kamera yang memfotoku. Kenapa banyak sekali kamera di sini?

 

“Tolong jawab kami, apakah kau adalah calon istri Yesung~sii?” seorang wanita bertanya padaku sambil mengarahkan mic.

 

“Apakah Yesung~sii sudah melamar anda? Apa jawaban anda?” tanya seorang pria sambil mengarahkan mic lain kepadaku.

 

“Mwo?” aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kuarahkan mataku ke depan. Kulihat namja itu berdiri memandangku. Kuperhatikan wajahnya. Sepertinya tidak asing bagiku. Wajah itu, aku merasa pernah melihatnya.

 

“Jadi kapan kalian akan menikah?” tanya wanita yang pertama tadi bertanya padaku.

 

“Mwo?? Me… menikah???” aku terkejut mendengar pertanyaannya. Apa maksud wanita ini? Siapa yang akan menikah? Aku? Dengan siapa? Jangan bilang dengan namja di hadapanku ini? Ya, Tuhan, sebenarnya apa yang sedang terjadi padaku sekarang?

 

Ku lihat namja itu berjalan ke arahku. Hanya tiga langkah dengan kakinya yang lumayan panjang dia sudah berada di sebelahku. Tangannya menghadang orang-orang yang dari tadi menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan aneh yang tidak kumengerti.

 

“Chakhaman… Begini…” ujarnya mencoba memberikan jawaban pada orang-orang yang terus menjepretkan kamera ke arah kami.

 

“Yesung~sii.. tolong berikan penjelasan.” Kata seorang pria lain yang dari tadi mengikuti namja di depanku. Yesung~sii? Yesung? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu? Tunggu…. wajahnya tidak asing… namanya juga tidak asing… ahhhh!!! Aku sekarang ingat. Dia, namja di depanku adalah Yesung, seorang penyanyi dan aktor yang terkenal di Korea. Aku sering melihatnya di televisi. Hanya saja tidak terlalu memperhatikannya karena aku hanya melihatnya sekilas dari televisi di rumah makan tempatku bekerja. Biasanya sambil merapikan meja bekas pelanggan aku melihat ke arah televisi dan beberapa kali aku melihatnya ada di televisi sedang menyanyi atau bermain drama. Jadi dia adalah Yesung yang terkenal itu. berarti orang-orang ini…. Jangan-jangan adalah wartawan.. akhirnya aku sedikit bisa menebak situasi yang sedang terjadi.

 

Yesung menarik nafasnya. Aku bisa merasakan ia menarik nafasnya dalam-dalam dan mencoba membuka mulutnya. “Aku tidak tahu dari mana kalian mengetahui keberadaanku di sini, tapi aku memang berencana melamar kekasihku di sini. Sayangnya…”

 

“Jadi apakah anda menerima lamaran Yesung~sii, nona?” seorang wartawan kembali bertanya sambil mengarahkan mic kepadaku.

 

***

 

Jongwoon POV

 

Aku benar-benar kesal dengan tingkah para wartawan ini. Mereka benar-benar tidak tahu sopan santun. Aku baru saja ingin menjelaskan situasi tapi mereka lagi-lagi mulai bertanya macam-macam.

 

Kulirik yeoja di sampingku. Aku tidak mengenalnya. Bahkan tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya. Ia tidak terlalu tinggi, sekitar 160 cm menurutku. Aku sedikit menundukkan kepalaku untuk melihat wajahnya. Matanya membulat memandang para wartawan. Sepertinya dia syok.

 

Kasihan yeoja ini, dia pasti tidak tahu apa-apa. Tapi mengapa dia bisa ada di belakangku? Seingatku tadi aku sendirian di gedung Gereja ini. Ya, aku tidak mungkin salah ingat. Aku sendirian menunggu Yunhee yang ternyata menolakku bahkan tidak datang untuk menerima lamaranku.

 

“Nona, bagaimana jawaban anda terhadapa lamaran Yesung~sii?” wartawan lainnya mulai mendesak yeoja ini dengan pertanyaan lain. Aku benar-benar tidak tahan lagi. Aku hendak membuka mulutku untuk menjelaskan bahwa aku tidak mengenal yeoja ini, ketika tiba-tiba yeoja di sampingku mengangkat tangannya dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Dan kulihat cincin itu melingkar di jari manisnya.

 

***

 

Hyeni POV

 

Aku tidak tahu harus berkata apa. Biasanya aku banyak bicara, bahkan terkadang aku sering keceplosan kata-kata yang seharusnya tidak aku ucapkan. Tapi kali ini aku tidak bisa bicara. Aku tidak sepenuhnya mengerti keadaan yang sedang terjadi. Kuangkat kedua tanganku untuk menutup mulutku.

 

“Apakah itu cincin dari Yesung~sii?” tanya seorang wartawan tiba-tiba.

 

Aku membelalakan mataku. Menatapnya dengan kedua bola mataku yang hitam dan bulat. Kulirikkan mataku ke jari manis tangan kiriku. Cincin itu!!! Cincin itu masih melingkar di sana. Cincin yang seharusnya diberikan Yesung untuk melamar kekasihnya. Cincin yang tadi terjatuh dan terpental hingga ke kakiku. Cincin yang indah sehingga membuatku ingin mencobanya. Cincin yang dicari Yesung selama bermenit-menit di antara bangku Gereja. Dia masih berada di jari manisku, seharusnya aku mengembalikannya, tapi Yesung tidak mendengar panggilanku saat aku mengejarnya tadi.

 

“Jadi anda menerima lamaran Yesung~sii? Chukkae untuk kalian berdua!!” seru seorang wartawan.

 

“Mwo?? Andwe!! Ini semua…” aku ingin membuka mulutku, namun tiba-tiba sebuah tangan menarikku paksa. Tangannya melingkar dibahuku dan mendekatkan tubuhku ke pelukannya.

 

‘Yesung~sii?’ tanyaku dalam hari sambil memandang ke arah namja di sampingku.

 

“Dia… kekasihku… telah menerima lamaranku.”

 

‘Mwo??!’

 

***

 

Jongwoon POV

 

Aku tahu apa yang baru saja aku katakan adalah hal gila. Tapi entah kenapa tiba-tiba saja ide gila itu muncul di otakku. Lagipula melihat situasi sekarang, para wartawan itu tidak akan percaya kalau aku menjelaskan tentang yeoja di sampingku ini, bahwa aku tidak mengenalnya. Jelas-jelas dia ada di dalam Gereja bersamaku dan mengenakan cincin yang seharusnya kuberikan untuk Yunhee. Biarkanlah semua orang salah sangka. Harapanku juga sudah sirna. Yunhee jelas-jelas tidak datang dan menolak lamaranku. Biarkan kesalahpahaman ini terjadi. Aku tidak peduli lagi pada apapun yang akan terjadi setelah ini.

 

“Chukkae Yesung~sii, jadi kapan kalian akan menikah?”

 

Aku bisa merasakan yeoja di sampingku mulai menyadari situasi. Bahwa aku baru saja menariknya ke dalam pelukanku. Tubuhnya mulai berontak hendak melepaskan diri. Ku kencangkan cengkraman tanganku di bahunya. Dia pasti merasa sakit, tapi apa boleh buat, aku harus membuatnya diam agar tidak menghancurkan keadaan saat ini. Para wartawan sudah menganggapnya sebagai calon istriku. Calon istri? Ya.. calon istriku bukanlah Park Yunhee. Calon istriku sekarang adalah yeoja asing yang bahkan namanya saja aku tidak tahu.

 

“Kami akan menikah… setalah keluarga kami saling bertemu untuk menentukan tanggal pernikahan kami bersama-sama. Kami tidak bisa menikah terburu-buru juga, kan? Segala sesuatu harus dipersiapkan dengan baik,” jawabku sambil tersenyum. Yeoja di sampingku semakin mengerahkan tenaganya untuk lepas dariku. Kuat juga tenaganya untuk ukuran tubuh sepertinya.

 

“Ani..” dia mulai bersuara. Yeoja di sampingku mulai bicara pada para wartawan. Tentu saja para wartawan segera mengarahkan mic kepadanya, “Mianhe, tapi aku…”

 

Astaga. Apa yang hendak yeoja ini katakan. Dia bisa merusak keadaan sekarang. Kalau dia tiba-tiba mengatakan bahwa dia tidak mengenalku, bahwa dia bukan calon istriku, para wartawan pasti akan curiga. Ini tidak boleh terjadi, aku sudah terlanjur mengakuinya sebagai calon istriku. Aku harus menghentikannya membongkar kebenaran pada para wartawan.

 

***

 

Hyeni POV

 

Apa-apaan namja yang satu ini. Bukankah ia ada di Gereja ini untuk melamar kekasihnya? Mengapa sekarang ia mengaku bahwa aku adalah calon istrinya? Apakah ia sudah gila? Ini tidak bisa dibiarkan. Dia memang seorang artis yang senang mencari sensasi rupanya.

 

“Ani…” ujarku agak keras. Para wartawan langsung menoleh ke arahku. Mereka mengarahkan mic kepadaku. Inilah saatnya. Aku harus menjelaskan semuanya. Aku tidak bisa membiarkan begitu saja namja gila ini mengarang cerita sesuka hatinya.

 

“Mianhe, tapi aku…” baru saja aku ingin menjelaskan situasi yang sebenarnya, tiba-tiba aku merasa tubuhku dibalik secara paksa. Sedetik kemudian nafasku tercekat, jantungku seakan berhenti berdetak. Apa yang dilakukan namja gila ini? Mataku terbelalak menatapnya.

Aku bisa melihat matanya terpejam dari jarak dekat. Aku merasakan hembusan nafasnya. Lebih dari itu aku merasakan bibirnya menempel di bibirku… dia… menciumku!!!

 

***

 

Jongwoon POV

 

Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus menghentikannya berbicara pada wartawan. Kubalikkan tubuh yeoja di sampingku lalu dengan segera aku menciumnya. Dapat kurasakan para wartawan terkejut namun sedetik kemudian semakin banyak blitz kamera yang menghujani kami.

 

Aku masih menempelkan bibirku pada bibirnya. Bisa kurasakan tubuhnya gemetar. Aku bahkan bisa mendengar detak jantungnya yang tiba-tiba berubah jadi cepat. Nafasnya tertahan. Dia pasti syok karena kucium. Mianhe. Aku melakukan ini demi kebaikan bersama.

 

Kulepaskan bibirku. Kutatap wajahnya yang pucat. Tatapan matanya kosong. Tampaknya yeoja itu masih syok. Aku harus memanfaatkan keadaan ini untuk membawanya pergi dari para wartawan.

 

“Mianhe. Kami harus pergi sekarang karena masih ada acara lain.” Ujarku seraya menarik tangan yeoja di sampingku pergi. Tanpa perlawanan dia berjalan mengikutiku ke arah aku menariknya. Tampaknya ia benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja kulakukan. Tapi yang penting sekarang kami sudah terbebas dari para wartawan itu.

 

Aku membawanya ke tempat kuparkirkan mobilku. Ku buka pintu untuknya, tapi ia tetap membatu. Akhirnya kudorong tubuhnya masuk. Dan ia dengan mudah menurut masuk ke dalam mobil. Ia belum sadar kembali dari syok.

 

Ku kendarai mobilku keluar dari halaman Gereja. Setelah beberapa meter menjauh dari Gereja aku meliriknya. Yeoja itu masih menatap jalan di depannya dengan tatapan mata yang kosong. Namun beberapa detik kemudian, kudengar ia menarik nafas dengan keras, ia mulai sadar rupanya.

 

Kulihat ia memegang bibirnya. Kemudian menoleh padaku. Matanya yang besar memandangku lekat-lekat. “Kau…”

 

“Mwo?” ujarku.

 

“Yaa!!!” teriaknya, “Apa yang baru saja kau lakukan padaku?! Kau.. kau…”

 

“Mianhe, terpaksa kulakukan untuk membuatmu berhenti bicara,” kataku berusaha menjelaskan situasi. Walau agak lancang, aku tidak sepenuhnya bersalah. Begitu menurutku.

 

“Andwe!!! Kau kurang ajar!!” ia berteriak dengan suara yang lebih keras. Ia mulai memukul ku dengan tas yang dibawanya. Aku jadi tidak bisa konsentrasi menyetir. Dengan kasar kubanting stirku dan meminggirkan mobilku di tepi jalan.

 

“Yaa!! Kau ini, bisa tidak jangan memukulku seperti ini,”ujarku mencoba menahan tangannya.

 

“Kau kurang ajar! Apa yang tadi kau lakukan ha? Sejak kapan aku adalah calon istrimu? Kapan kau pernah melamarku? Dan.. dan…” ia bicara dengan ragu-ragu, “kau menciumku hah?! Dasar kurang ajar!!” ia kembali memukuliku.

 

“Yaa!! Sakit.. berhenti memukuliku seperti ini.” Aku meraih kedua tangannya, naum ia berontak dan melepaskan diri.

 

“Apa kau tidak tahu siapa aku?” tanyaku padanya, tidak mungkin seorang gadis di Korea ini tidak mengenalku. Aku ini adalah penyanyi dan aktor terkenal yang dipuja banyak gadis di seluruh Korea.

 

“Aku tahu kau adalah artis, Yesung yang suka mencari sensasi!” katanya masih setengah berteriak. Apa yeoja ini gila? Dia tidak bisa bicara dengan sopan tanpa berteriak.

 

“Aku tidak pernah mencari sensasi,” kataku menyanggah ucapannya.

 

“Lalu apa yang barusan kau lakukan padaku kalau bukan cari sensasi?” ujarnya tidak mau kalah.

 

“Itu, aku akan menjelaskannya padamu. Tapi nanti. Sekarang kita harus mencari tempat untuk bicara berdua.”

 

“Shireo!! Aku mau turun!!” yeoja itu langsung membuka pintu mobilku dan berlari keluar.

 

“Yaa!! Chakhaman!!” panggilku, aku segera keluar menyusulnya, tapi ia sudah lari terlalu jauh bahkan meloncati pagar pembatas jalan. Dasar yeoja gila. Apa dia masih tidak bisa memahami situasi. Sebentar lagi seluruh Korea akan tahu bahwa ia adalah calon istriku. Pokoknya aku harus menemukannya. Aghhh!! Tapi bagaimana cara mencarinya kalau namanya saja aku tidak tahu.

 

Dengan kesal aku kembali ke dalam mobilku. Kupukul stir mobilku. Sudahlah aku lebih baik pulang dan menenangkan diri sekarang. Otakku benar-benar sudah seperti benang kusut. Ketika akan mengganti gigi mobil aku melihat sesuatu tergeletak di bawah dekat kakiku. Ku ambil benda itu yang ternyata adalah sebuah dompet. Apakah dompet ini milik yeoja gila itu?

 

Kubuka dompet itu, kulihat isi di dalamnya. Ternyata benar dompet ini milik yeoja gila itu. pasti terjatuh dari tasnya saat ia memukulku tadi. Kulihat kartu pengenalnya.

 

“Shin Hyeni,” kubaca namanya. Kulihat lagi isi dompetnya. Ada fotonya bersama kedua orang tuanya. Ia tersenyum bahagia di foto itu. Manis juga dia kalau tersenyum seperti ini. Aku memeriksa dompetnya. Uangnya benar-benar sedikit, tidak ada kartu atm maupun kartu kredit, tidak sampai 5000 Won? Apa hanya ini yang dia punya? Huhh.. gadis miskin rupanya. Pantas pakaiannya juga norak. Sebenarnya tadi aku sempat memperhatikan cara berpakaiannya, benar-benar norak dan asal-asalan. Aneh jika para wartawan itu bisa salah menyangka dia sebagai calon istriku. Penampilan jelas kami benar-benar berbeda.

 

Aku juga menemukan kartu pengenal lain di dalamnya. Sepertinya itu dalah kartu pengenal di tempat kerjanya. Ternyata ia bekerja di sebuah perusahaan sebagai office girl. Tunggu, perusahaan ini sepertinya aku tahu. Ini kan perusahaan milik pamanku. Rupanya ia bekerja di sana. Kalau begitu akan semakin mudah bagiku. Aku segera menghubungi adik sepupuku. Ia baru saja lulus kuliah dan sekarang sedang membantu ayahnya bekerja di perusahaan mereka.

 

“Yeoboseyo, hyung?” ujar suara di seberang telpon.

 

“Ya, Hongki~ah, aku mau minta tolong sesuatu.”

 

 

TBC

 

Inilah kelanjutan ff super geje buatanku… aku deg-degan sendiri waktu nulis adegan yesung nyium hyeni di depan gereja *mimisan*…. semoga kalian suka dengan ff yang aku buat ini… di komen yah kalau suka, klo ada kritik juga bilang aja… asal jangan dicaci maki.. gomawo~