Title                 : Girl with red-rose tattoo Chapter Two

Author             : Andee

Genre              : Romance, PG 17

Length             : Continue

Main Cast        :

1. Choi Siwon

2. Elena Hwang [OC]

And other support cast

————————————————————————————–

 

Siwon’s

Aku hampir menelan cangkir kopiku ketika Manager hyung mengangsurkan sebuah tabloid gossip kota di meja. Headline-nya benar-benar membuat kepalaku langsung berdenyut :

‘Artis Choi Siwon dan One-Night-Stand-nya dengan gadis bertato mawar’

What is this?” tanya manajerku itu tajam.

Aku menarik nafas, mengumpulkan oksigen sebanyak mungkin agar otakku bisa bekerja dengan baik mencari alasan, “This….is fact.” Jawabku akhirnya.

Terkesan bodoh dan gila. Tapi aku memang tidak punya alasan lain.

WHAT THE….!!” dia hampir mengumpatku, wajahnya penuh semburat emosi.

How come Mr.Choi?! are you crazy?” tanyanya, lagi-lagi dengan nada tajam.

Aku memijit keningku, mulai ikut emosi. Hatiku berkecamuk, tapi satu keyakinan dalam diriku ini pasti bukan Elena. Kalaupun Elena, untuk apa dia melakukannya? Popularitas? Aku yakin tidak. Dia bukan terlihat seperti seseorang yang gila popularitas. Memerasku? Itu apalagi. Aku lihat ketika kami bertemu di kampusnya beberapa hari lalu, dia melesat dengan audi R8-nya. Lalu apa? Balas dendam dengan kata-kataku…?

“Siwon, jawab aku.” Manajer hyung menuntutku

Aku menghembuskan nafas, “molla.” Jawabku langsung pergi.

Elena, i must find you!

Elena’s

Aku merasa seperti mendapat morning sick syndrome ketika pagi ini masuk ke kampus dan mendapati gosip sialan itu sudah beredar luas ke seantero Seoul. Okay, itu bukan gosip, itu fakta. Tapi itu privasi!

Siapa sebenarnya yang sudah menyebarkan berita itu? satu-satunya yang tau masalah those damn one-night-stand itu hanya Eun Rie, tapi tidak mungkin dia. Aku dan dia sudah bersahabat sejak lama. Pasti ini ulah Siwon. Mungkin dia sudah menceritakan masalah ini dengan seseorang, lalu orang tersebut karena alasan tertentu menyebarkannya. Eotokkee..

Aku merasa di kampus seperti menjadi trending topic. Kau tau, satu-satunya perempuan yang mereka ketahui memiliki tato mawar adalah aku.

“Elena-ah, apa yang dimaksud berita ini adalah kau?” tanya Eun Rie, dengan suara pelan.

Aku menghembuskan nafas, apa masih perlu dibahas? Dia seharusnya tau dan sensitif untuk tidak menanyakan hal itu padaku.

“Menurutmu?” aku balik bertanya dengan wajah malas.

“Jadi itu benar?!” Eun Rie menutup mulutnya, kaget. “Kau sangat beruntung.”

Aku ingin sekali memakinya. Tapi sayangnya, tenagaku sudah hilang karena stress. Mood kuliahku sudah hilang. Aku menarik tasku dari meja kantin kemudian berjalan menuju parkiran. Sepanjang koridor menuju parkiran, puluhan pasang mata menatapku dengan tatapan sinis- tajam kemudian berbisik-bisik dan tersenyum sinis. Geeezzz Semoga ibu tidak menyadari ada berita konyol itu. aku hendak membuka pintu mobilku ketika sebuah tangan kekar menarik pergelangan tanganku dan gerakan cepat ia menarikku masuk ke dalam mobilnya kemudian dia menjalankan mobilnya.

What are you doing?!” tanyaku dengan suara tinggi.

“Menyelamatkanmu.” Jawabnya pendek.

Dia menghentikkan mobilnya di pinggir sungai Han yang sepi sekali hari ini. dia melepas seat belt-nya kemudian memutar tubuhnya menghadap aku.

“Bukan aku yang menyebarkan berita itu. aku bersumpah.” Ujarku, sebelum dia sempat mengeluarkan kalimat tuduhan untukku.

Aku tetap memandang lurus ke depan.

“Aku percaya.” Jawabnya.

Aku langsung menoleh ke arahnya, yang ku sadari pertama kali ketika melihat wajah super tampan meski di keadaan yang kurang kondusif seperti ini adalah jantungku tetap berdetak cepat. Bayangan malam sialan itu kembali terekam, dan otakku bekerja, mengingat suara seksi pria ini. Heck! Elena, wake up!!

“Bukan aku juga yang menyebarkannya. Aku bersumpah. Aku bukan artis yang suka mencari sensasi seperti ini.” jelasnya lagi.

Aku menyenderkan kepalaku di jok mobil kemudian kembali menatap lurus ke depan, aku percaya padanya. Entah bagaimana, tapi aku merasa kalau dia tidak berbohong.

“Eotokke…” suaraku akhirnya.

 

Siwon’s

“Eotokkee…” ujarnya pelan.

Ia memejamkan matanya membuat jantungku makin tidak karuan berdetak. Memang sebuah ide gila ‘menculik’nya di kampus. Tapi sepertinya tidak ada yang menyadari kehadiranku tadi. Yah semoga saja.

“Berita ini akan hilang dengan sendirinya. Bertahanlah.” Ujarku.

“Bagaimana kalau semakin berkembang menjadi rumor yang menyebalkan?” kini sepasang mata besar dengan bola mata hitam itu menatapku dengan tatapan sendu, membuatku ingin memeluknya.

“Percayalah padaku, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan menyelesaikan semuanya.” Lanjutku, aku ingin dia tenang. Aku tidak ingin dia khawatir, dan yang terpenting aku ingin melindunginya, tidak akan membiarkan dia terluka.

This is my fault. Harusnya malam itu aku tidak mabuk dan menarikmu.” Ujarnya kemudian.

“Kalau malam itu kau tidak menarikku, maka aku yang akan menarikmu.” Jawabku.

Dia langsung memandangku dengan tatapan kaget, “pardon?”

Aku tersenyum, “semuanya akan baik-baik saja Elena. Tetaplah menjalani aktivitasmu, gunakan turtle neck atau apapun yang bisa menutupi tengkukmu. Untuk beberapa waktu ke depan, jangan terlalu sering muncul di publik.”

Dia mendesis, “sebaiknya kau khawatirkan dirimu juga. Apa pekerjaanmu baik-baik saja?”

Aku mengangkat kedua bahuku, “aku harap.”

Suasana kemudian hening. Aku merubah posisiku, menghadap ke depan.

It’s funny if i remember how we meet.” Ujarnya kemudian.

No, it’s not funny at all. It’s destiny.” Jawabku sambil memejamkan mataku.

**

Author’s

Elena pulang ke rumah disambut tatapan tajam sang ibu yang sudah duduk di ruang tengah rumah itu dengan tabloid yang memberitakan soal ‘siwon and a girl with red-rose tattoo’.

Tell me, what is this?” tanya sang ibu tajam

Elena menarik nafas, sepertinya pertengkaran antara keduanya akan dimulai lagi. Ibu dan anak itu memang tidak pernah terlihat harmonis. Elena selalu merasa Ibunya tidak pernah menerima kehadirannya bahkan sejak ia lahir. Dan ia tau alasannya, ia bukan anak yang diharapkan lahir ke dunia.

Siwon and his rumor. Why?” tanya Elena, dingin.

Stop playing innocent with me. You know what i mean?”

Elena tersenyum sinis, “jadi kau pulang untuk memastikan apa anakmu ini akan hamil di luar nikah seperti yang kau lakukan 21 tahun lalu?”

Sebuah tamparan telak mendarat di pipi kanan Elena. Ibunya menatap Elena dengan tatapan bengis sementara yang ditampar memegang pipinya sambil tersenyum dingin.

“Jaga bicaramu nona muda.”

“Aku tidak akan melakukan hal bodoh semacam itu. kau tenang saja. Aku tidak akan melahirkan bayi yang tidak bisa aku cintai.” Jawab Elena, tajam

“Elena!!” sang Ibu menghardiknya.

“Pernahkah kau bertanya padaku apa aku ingin kau lahirkan?”

“Dasar anak tidak tau terima kasih.”

“Ya, aku memang anak yang tidak tau terima kasih. Lantas kenapa tidak kau gugurkan aku saja sejak dulu?”

“Cukup.” Ayah tiri Elena muncul. “Elena masuklah ke kamar.”

Dengan langkah cepat Elena masuk ke dalam kamarnya. Sampai di kamar, air mata yang mati-matian ia tahan akhirnya tumpah juga.

 

Elena’s

Aku memang bukan anak yang ia harapkan. Aku memang terlahir karena ‘kecelakaan’. Ayah kemudian menghilang entah kemana. Tapi pernahkah Ibu berfikir soal perasaanku? Aku bahkan tidak pernah sekalipun merasakan hangat dekapan pelukan seorang ibu atau melewatkan waktu bersama dengannya entah berbelanja di debehams, berlibur ke Champ De Mars untuk melihat eiffel atau berbagi cerita siapa pacarku sekarang. Dia sibuk dengan pekerjaannya sebagai designer ternama. Sejak aku mengerti kalau ibu tidak pernah menginginkan kehadiranku, tangan ayah tiriku lah yang selalu siap menopangku di kala aku jatuh. Dan aku baru mengetahui kalo aku adalah anak dari hasil hubungan yang tidak seharusnya, sekitar sebulan lalu. Ketika aku kemudian mabuk dan melakukan hal tidak seharusnya pula dengan Siwon.

“Pahamilah posisinya, mungkin berita itu salah.” Samar-sama aku mendengar suara Ayah menenangkan Ibu.

“Berita ini sudah cukup jelas. Girl with red-rose tattoo, that should be her!” balas Ibu

“Kalaupun memang dia, tanyakan alasannya. Kau tau, Elena bukan gadis semacam itu.”

Aku mengepalkan tanganku keras. Menahan emosi yang membuncah dihati dan kepalaku. Aku sudah cukup tertekan dengan berita itu, jadi tidak bisakah dia sedikit memahami bahwa anak perempuan yang tidak diharapkannya ini membutuhkan ketenangan? Aku tidak berharap lebih dia memelukku, bilang kalau dia akan selalu disebelahku apapun yang terjadi. No at all! It’s only in my dream. Aku hanya butuh ketenangan, untuk berfikir jernih.

Drrttt…. drrrttt…

Ponselku bergetar, aku menghapus air mataku kemudian menatap layar ponsel. Satu nomer yang tidak dikenal.

“Yeoboseyo, Elena, gwenchanayo?” tanya suara diseberang sana. Suara berat seorang namja.

“Ne. Siapa ini?” tanyaku, masih dengan parau.

“Apa sesuatu terjadi? Ini aku Siwon.”

Aku menelan ludah, “ani. Aku baik-baik saja.”

“Syukurlah. Aku hanya memastikan saja. Baiklah kalau begitu.”

“Ne.”

Aku kemudian memandang layar telfon. 5 detik, 10 detik, dia belum mematikan sambungan telfonnya. Aku kemudian menempelkan ponsel itu di telinga lagi.

“Apa kau masih disitu?” suara Siwon

“Oh, yee. Waeyo?”

“Apa kau baik-baik saja?”

Aku menahan nafasnya kemudian mengangguk walau aku tau dia tidak akan mengetahuinya.

Im fine. Dont woorried that much.” Jawabku.

“Oke, call me whenever you need.”

Aku terkekeh kecil mendengarnya, “whenever i need?

Well, kau tidak berimajinasi soal another one night stand kan?”

Aku terkekeh lagi.

Pria ini membuat hatiku tenang. Bahkan hanya dengan suaranya lewat telfon. Setidaknya aku tidak merasa benar-benar sendiri sekarang. Ya, ada dia.

**

Author’s

Pagi itu ketika Elena bersiap menuju kampus, Ibunya menyodorkan selembar amplop ke arah Elena.

“Pindahlah ke Paris untuk beberapa saat.” Ujarnya datar.

Elena mendesis sinis, “kenapa? Kau takut berita ini akan berdampak pada keriermu?”

“Ini untuk kebaikanmu.”

“Kau bahkan tidak mempercayai kalau aku bisa menyelesaikan masalah ini.”

“Elena berhentilah membantah. Aku sedang tidak berminat bertengkar denganmu.”

Elena kemudian menaruh amplop itu di meja, “i’ll go if i want.”

If you won’t, i’ll bend you.” Ibunya mengancam.

“Kau tau apa yang harusnya seorang ibu lakukan ketika anaknya ditimpa masalah? Memeluknya, bukan menyuruhnya pergi.” Elena menarik tasnya kasar kemudian berlalu melewati sang Ibu yang terpaku dengan kata-katanya.

Elena tiba-tiba menghentikan langkahnya, dan kembali berbalik menghadap sang Ibu.

Have you ever hugged me when i got fever?”

Pertanyaan itu seperti petir untuk Ibunya. Lama Elena menunggu, ia menelan sendiri pertanyaannya dengan berbalik menuju mobilnya dan menahan genangan air mata di pelupuk matanya.

**

Siwon’s

Setelah tersebar berita itu, hidupku makin ramai dipenuhi kilatan blitz camera, sodoran microphone, undangan berbagai macam acara talk show yang membuat bukan hanya aku pusing setengah mati, tapi juga manajerku.

“Jadi berita itu benar hyung?” sepertinya Kyuhyun ikut-ikutan tertarik menjadi wartawan.

“Kau berharap aku menjawab apa?” tanyaku, frustasi.

Kyuhyun tersenyum, “kau tidak perlu menjawab. Sudah terpancar jelas di wajahmu. Jadi, apakah wanita dengan tato mawar itu seksi?”

“Kalau aku jawab iya, kau akan berhenti bertanya?” tanyaku lagi. Anak ini benar-benar memangkas kesabaranku.

Bukannya menyerah dia malah makin dalam bertanya, “is that good?”

Aku menaikkan satu alisku, “kau ingin mati sesuai takdir atau aku yang merubah takdirmu?”

Magnae itu tertawa, “okee.. okeee.. baiklah. Aku rasa kau memang benar-benar sedang stress. Kau jatuh cinta dengannya hyung?”

Aku memandangnya dengan tatapan membunuh, membuatnya kemudian mundur teratur dan pergi. Aku menghembuskan nafas kemudian melihat layar ponselku. Tidak ada sama sekali kabar dari Elena, semoga dia baik-baik saja disana.

Kemudian layar ponselku menyala, menampilkan nama Prince Manager.

“Yeoboseyo, bagaimana? Apa kau sudah menemukan siapa orangnya?” tanyaku antusias.

You must be so surprised. Temui aku di tempat biasa sekarang.”

Yang dimaksud tempat biasa adalah sebuah resto mewah di daerah Gangnam, tempat biasa aku dan member lain makan siang atau sekedar ngobrol saja. Aku bisa menemukan dia di sudut ruangan resto.

“Akhirnya kau datang juga.” Ujarnya.

“Jadi siapa yang menyebarkan berita itu?” tanyaku langsung.

Dia tampak menarik nafas, “sahabatnya.”

“Mwo?”

“Sahabat gadis itu, Han Eun Rie.”

“Mworago?!”

Dia mengangkat kedua bahunya, “memang kenyataannya seperti itu. tapi sepertinya gadismu itu belum tau masalah ini.”

Aku mengepalkan tanganku keras. Sahabat macam apa yang tega melakukan hal semacam ini pada sahabatnya sendiri. Benar-benar tidak bisa dimaafkan.

“Siwon-ah, apa kau jatuh cinta dengan Elena?” tanyanya.

Aku menatap dia sejenak, “jangan sok tidak tau, kau pasti bisa membacanya.”

Dia tertawa, “ah nee.. nee.. gadis itu memang cantik. Tapi sebelum memulai hubungan dengannya, selesaikan dulu masalah ini.”

“Arra..”

*CONTINUED*