Title: Time Traveler (Part 8)

Author: bangmil

Length: Continue

Genre: Romance, Sci-Fi

Cast: Han Sehyun (OC), Hoya (Infinite), Seungyeon (KARA), Infinite members.

***

Sekarang Sehyun, Hoya, dan Sungjong, juga bersama Sunggyu sudah berada di ruang musik Woollim. Karena besok adalah hari tes Hoya, ia sedang sibuk berlatih untuk mempersiapkan dirinya besok, dan Sunggyu di sini karena ia adalah pengiring piano lagu Hoya.

Dengan semangat, Sungjong selalu menyemangati Hoya. Sehyun menatap Sungjong yang tersenyum lebar sembari bertepuk tangan mengikuti nyanyian Hoya. Sehyun terkekeh pelan. Memang kalau hanya dengan sekali lihat, kalian pasti tidak akan tahu Sungjong ini laki-laki atau perempuan. Apalagi ditambah dengan suaranya yang kecil dan tingkah lakunya yang manja. Sepertinya ia pantas memanggil Hoya dengan sebutan ‘oppa’.

Sehyun mengalihkan pandangannya pada Hoya yang sedang menghayati lagunya. Suaranya yang indah dan lembut, membuat Sehyun ikut dapat merasakan kesedihan yang diceritakan lirik lagu tersebut. Lagu ciptaan Hoya ini menceritakan tentang seorang pria yang tak bisa melupakan kekasihnya, dan ia akan terus menunggu wanita itu sampai kapan pun.

Ia kembali menatap Hoya. Tak disangka, Hoya juga sedang memperhatikan dirinya. Kedua mata mereka pun bertemu. Seulas senyum terlukis di bibir Hoya, membuat Sehyun salah tingkah. Ia melempar pandangannya ke arah lain, sambil berpura-pura tidak melihatnya. Ya ampun..

“Baiklah, latihan hari ini cukup. Kau harus banyak istirahat agar besok suaramu prima.” Ujar Sunggyu sembari menutup piano. Ia tampak tidak begitu sehat hari ini.

“Gomawo, hyung.” Ujar Hoya, begitu pundaknya ditepuk oleh Sunggyu. Ia kemudian keluar bersama Sungjong di sebelahnya, meninggalkan Sehyun dan Sunggyu berdua di belakang.

Ditinggal hanya berdua saja dengan orang yang belum lama ia kenal membuat Sehyun kikuk. Apalagi kejadian tempo hari masih saja terngiang di dalam pikirannya. Ia terus saja berpikir kalau kejadian itu cuma kebetulan, atau bisa saja ia salah orang. Lagipula di dunia ini pria dengan nama Kim Sunggyu kan masih ada banyak. Bisa saja Kim Sunggyu artis terkenal, atau bisa saja Kim Sunggyu atlit olah raga. Ah, bisa juga Kim Sunggyu si penjual bakso-

“Sehyun ssi.” Panggil Sunggyu tiba-tiba, membuat Sehyun tersadar dari lamunan bodohnya.

“I-iya?”

“Kau suka Hoya?” tanya Sunggyu tanpa basa-basi.

Sehyun pun tersentak. Pertanyaan itu ibarat pisau tajam yang menusuk tepat di dadanya. “A-aniyo!” Ia berusaha untuk tertawa sambil mengelak.

Sunggyu tertawa melihat ekspresi Sehyun. “Sudahlah, aku bisa tahu hanya dengan melihat kalian berdua.”

“Aku kan sudah bilang tidak..” Sehyun menggumam sambil menutupi wajahnya. Ia sangat malu sekarang.

“Sebenarnya..” Sunggyu menghela nafas. “Minggu depan aku akan pergi ke Jepang karena mendapat beasiswa, untuk belajar lebih mendalam tentang fotografi. Mungkin akan lama, atau bisa saja tidak kembali,” Ujar Sunggyu, masih dengan tawa kecil di selanya. “Walau ia memang kadang susah dimengerti, aku serahkan Hoya padamu.”

Sunggyu tersenyum sambil menatap lurus ke depan. Matanya yang sendu memperhatikan Hoya dan Sungjong yang sedang sibuk dalam pertengkaran kecil jauh di depannya.

“Eh, Sunggyu ssi.” Sehyun ingin mengatakan sesuatu tapi ia tampak ragu. “Misalnya..”

“Apa?”

“Misalnya.. kalau seseorang memintamu untuk tetap disini, apa yang akan kau lakukan?”

“Hah?” Sunggyu menghentikan langkahnya, bingung.

“Misalnya ada seorang gadis memintamu untuk tetap tinggal, bagaimana?” Sehyun mengulang pertanyaannya sekali lagi. Melihat Sunggyu yang masih bingung, ia menyerahkan foto ibunya –yang sebenarnya milik Sunggyu–.

Sunggyu menatap foto tersebut dan memperhatikannya dengan seksama. Alisnya mengerut. “Dia tidak mungkin berkata seperti itu.”

“Tapi, semisalkan..” Sehyun memaksa Sunggyu untuk menjawab. Ia pikir, ini adalah kunci jawaban mengapa selama ini ia hidup hanya berdua bersama ibunya. Jika saja Sunggyu tidak pergi ke Jepang, ada kemungkinan ia akan tinggal bersama mereka kan?

Sunggyu tersenyum melihat foto itu. “Justru mungkin dia menyuruhku untuk pergi. Hanya dengan melihat fotonya, kau bisa tahu kalau dia gadis yang tegar.” Ia mengembalikan foto tersebut pada Sehyun. “Daripada mengatakan ‘jangan pergi’, ia pasti lebih memilih untuk berkata ‘pergilah’ sambil menepuk pundakku dari belakang.”

Sehyun menatap Sunggyu yang tersenyum tipis. Ya, sebenarnya ia sudah tahu bahwa ibunya akan berkata seperti itu. Tapi, tidak salah kan jika seorang anak berharap untuk tinggal bersama ayahnya?

***

“Hoya hyung, fighting!” seru Sungjong sambil mengepalkan tangannya ke udara. Ia sangat ingin menyaksikan hyung-nya itu bernyanyi, tapi apa boleh buat, ia masih harus melaksanakan kewajibannya sebagai murid sekolah.

“Hati-hati di jalan.” Ujar Hoya begitu Sungjong pamit. “Sehyun ssi, ayo berangkat.”

Sehyun pun mengangguk semangat dan mereka berdua berjalan bersama ke Woollim. Tidak ada yang mereka bicarakan. Keduanya sibuk tenggelam di dalam pikiran masing-masing.

Di tengah perjalanan, mereka melewati sebuah pohon beringin yang cukup besar, saking besarnya hingga membuat jalanan yang mereka lewati teduh.

“Mm, aku penasaran apa pohon ini masih ada ya di masa depan?” ujar Hoya tiba-tiba.

Sehyun menatap Hoya yang sedikit tampak aneh hari ini. “Masih kok. Aku sering melewati tempat ini.”

Hoya mengangguk-angguk pelan sambil ber-oh ria. Ia menghela nafas panjang. “Sehyun ssi.”

Sehyun berbalik menatap Hoya. “Mm?”

Hoya memandang pohong beringin tadi. “Di masa depan nanti mungkinkah kita masih bisa berjalan bersama di tempat ini?”

Sehyun sedikit terkejut mendengar pertanyaan Hoya. Ia tidak menyangka Hoya akan menanyakan hal seperti itu. “Mm.. Mungkin.” Jawab Sehyun singkat. Tiba-tiba ia terkekeh. “Itu berarti aku berjalan bersama seorang kakek tua berumur lima puluh tujuh tahun, hahaha..”

Hoya menatap Sehyun tajam. “Ya!”

Sehyun menjulurkan lidahnya, dan tawanya justru semakin meledak. Melihat Sehyun yang tak kunjung berhenti tertawa, Hoya akhirnya ikut tertawa juga. Mereka pun berjalan bersama dengan hati yang senang, diselingi dengan guyonan-guyonan tanpa menyadari bahwa kemungkinan mereka akan terpisah sebentar lagi..

***

“Sunggyu hyung kemana sih?” Hoya tampak gelisah. Berulang kali ia melirik jam yang tertempel di dinding. Sudah pukul satu siang, dan gilirannya maju untuk tes akan segera tiba.

“Sabar, sabar. Mungkin sebentar lagi dia datang.” Ujar Sehyun, mencoba untuk menenangkan Hoya yang panik. “Coba telepon– ah iya, belum ada ponsel..” gumam Sehyun, lebih terlihat seperti berbicara dengan dirinya sendiri.

Hoya menghempaskan tubuhnya ke kursi. Keringat dingin tampak mengucur deras dari pelipisnya. Ia memejamkan mata, mencoba untuk mengatur nafasnya yang tidak karuan.

“Lee Howon ssi!” seru seorang petugas, mengagetkan Hoya dan Sehyun. Itu berarti giliran Hoya sudah sampai, dan Sunggyu belum juga datang. Apa yang harus mereka lakukan?

“Sehyun ssi. Kau tahu maksudku kan?” tanya Hoya tiba-tiba.

“Aku??” Sehyun menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa.”

“Aku tahu kau bisa.”

“Tapi ini tesmu. Aku takut kalau nantinya aku mengacaukannya.”

“Kau tidak akan mengacaukannya, Sehyun ssi.”

“Tapi–”

“Lee Howon ssi, anda diminta untuk segera masuk.” Seorang panitia tiba-tiba datang memotong pembicaraan mereka. Ia meminta mereka berdua untuk mengikutinya.

Sehyun terlihat tegang. Ia memang mahir main piano, tapi ini ceritanya lain. Ia dan Hoya belum pernah sekalipun latihan, dan lagi, ini menyangkut hasil tes Hoya.

Hoya menepuk pundak Sehyun yang tampak kaku. “Percayalah padaku,” bisiknya. “Anggap saja kita sedang bermain seperti biasa.”

Sehyun menatap Hoya yang tersenyum tipis. Ia menarik nafas berat. “Baiklah, akan kucoba..”

Hoya dan Sehyun memasuki ruangan. Di sana terdapat dua dosen Hoya yang duduk berhadapan dengan mereka. Wajah mereka cukup ‘killer’, sehingga membuat siapapun yang melihatnya bergidik takut. Sehyun segera duduk di kursi piano, sementara Hoya sedang memperkenalkan diri.

Begitu Hoya selesai dengan basa-basinya, ia berbalik menatap Sehyun. Ia mengangguk, seolah meyakinkan Sehyun bahwa ia pasti bisa.

Sehyun menarik nafas panjang. Perlahan, nada lembut mulai terdengar dari dentingan pianonya. Ia berusaha untuk rileks, dan menikmati lagu tersebut. Setelah intro dimainkan, suara Hoya pun mulai terdengar. Entah kenapa, suaranya dapat membuat Sehyun merasa nyaman.

Terdengar suara tepuk tangan begitu penampilan mereka selesai. Nampak seulas senyum terpampang di wajah dosen-dosen tersebut. Hoya mengalihkan pandangannya ke arah Sehyun. Gadis itu tersenyum lebar sembari memberikan dua jempol padanya.

“Kamsahamnida..” ucap Hoya sambil membungkuk pada dosennya, lalu berjalan keluar ruangan, diikuti Sehyun dari belakangnya.

Sesampainya di ruang tunggu, betapa terkejutnya ia begitu mendapati Sunggyu yang sedang duduk di sana. Wajahnya cemas, terlihat dari keringatnya yang mengalir deras.

Ya! Hyung! Kemana saja kau!” seru Hoya membuat Sunggyu terperanjat.

“Hoya! Kau tidak apa-apa? Bagaimana tesmu?” Ia langsung memberondong dengan pertanyaan. “Jangan-jangan Sehyun ssi yang..”

Sehyun terkekeh pelan sambil mengangguk. Seketika Sunggyu menghela nafas lega. “Untung saja..”

“Untung saja apanya? Hyung hampir saja membuatku gila, tahu tidak??” Hoya masih tidak sabar. Tentu saja ia kesal pada Sunggyu yang bisa-bisanya menghilang begitu saja di saat genting seperti tadi.

“Mian, mian.. Tadi aku sakit perut, kalau tidak segera dikeluarkan kan bisa gawat, hehe.. mianhae.” Sunggyu tertawa garing sambil menempelkan kedua tangannya menghadap Hoya.

Sehyun terkekeh melihat tingkah dua orang itu. Tiba-tiba matanya menemukan seorang gadis yang familiar sedang berdiri di dekat pintu. Gadis itu sedikit terkejut begitu melihat Sehyun menyadari kehadirannya. Ia kemudian tersenyum sambil membungkuk.

Sehyun pun balik tersenyum sambil berjalan menghampiri gadis tersebut. “Seungyeon ssi. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini.”

Seungyeon hanya tersenyum, sambil mengangguk pelan. Mereka berdua pun berdiri di sana berdua. Tampaknya Seungyeon sedang menunggu Sunggyu.

Sehyun berdehem. “Mm.. boleh aku tanya sesuatu?”

Seungyeon mengangguk.

“Bagaimana jika.. misalnya Sunggyu ssi mengatakan bahwa ia akan pergi jauh?” tanya Sehyun hati-hati, sambil menunggu reaksi ibunya.

Seungyeon tertawa kecil. “Pertanyaan yang aneh lagi. Apa maksudmu rencananya untuk pergi ke Jepang?”

Sehyun tertangkap basah. Ia menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Yah.. selain itu.”

Seungyeon terdiam sejenak. “Aku ingin selalu mendukungnya melakukan apa yang ia suka. Atau setidaknya aku ingin memberinya keberanian walaupun hanya sedikit.”

Sehyun mengangguk mengerti. Memang benar apa yang dikatakan Sunggyu, ibunya tak mungkin selemah itu, hingga memintanya untuk tidak pergi. Sehyun menarik nafas berat. “Jadi, kau memang mencintainya ya.”

Rona pipi Seungyeon memerah mendengarnya. Ia tersenyum tipis. “Mm.”

Sehyun menatap ibunya yang tampaknya memang sedang kasmaran itu. Ia hanya bisa tersenyum. Yah, setidaknya sekarang ia tahu siapa ayahnya, bagaimana wajahnya dan seberapa besar ibu mencintainya.

Tak lama kemudian, dua orang pria keluar dari dalam gedung Woollim. Siapa lagi kalau bukan Hoya dan Sunggyu. Hoya tampak masih kesal, ia membuang muka ke samping. Sementara Sunggyu masih terus memohon maaf darinya.

“Eh? Seungyeon ssi?” Mata Sunggyu terbelalak ketika mendapati Seungyeon yang ada disana. Dengan tersenyum, ia menghampirinya. Sementara Hoya ditarik oleh Sehyun menjauh dari dua sejoli tersebut.

Seungyeon membalas senyumannya. “Kau mau pergi kemana setelah ini?”

“Aku harus ke sekolah sebentar.”

“Boleh aku ikut?” pinta Seungyeon.

Nah, sekarang giliran Sunggyu yang salah tingkah. “Yah.. tidak apa sih, tapi aku hanya pergi ke sekolah.”

Seungyeon tersenyum riang. “Kalau begitu aku ikut.”

Mereka berdua pun akhirnya berjalan bersama menuju sekolah Sungjong. Sedangkan Sehyun memandang kedua orang tuanya itu dengan senyum bahagia. Sedangkan Hoya tampak bingung dengan apa yang terjadi.

“Aku tidak pernah tahu kalau Sunggyu hyung dan ibumu–”

***

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi Sehyun belum bisa tidur. Ia mengamati Sungjong yang sedang tertidur pulas tak jauh dari tempatnya.

Sehyun pun berjalan keluar kamar. Niatnya untuk mengambil minum terhenti begitu ia melihat Hoya yang sedang duduk termenung di dekat halaman rumahnya. Hoya berdiam diri sambil menatap langit, matanya terlihat sendu.

“Belum tidur?” tanya Sehyun sambil berjalan menghampiri Hoya, kemudian duduk di sebelahnya.

Hoya menghela nafas pendek. “Aku belum mengantuk.”

Sehyun mengangguk pelan. Keheningan menyelimuti mereka berdua. Sehyun sendiri hanya diam. Ia juga ikut menatap langit, walaupun langit sepertinya sedang malas menunjukkan bintang.

“Besok adalah hari koran itu terbit.” Kata Hoya memecahkan keheningan.

“Mm.”

“Semoga orang itu membacanya.”

“Iya.”

Hening lagi.

“Ngomong-ngomong, terima kasih sudah membantuku tadi siang.” Ujar Hoya lagi. Ia tidak nyaman dengan kesunyian ini.

“Tak apa. Aku senang melakukannya.”

Hening lagi. Sehyun memejamkan matanya. Ia menghela nafas panjang. “Suatu saat nanti, aku yakin kau pasti akan menjadi penyanyi terkenal.”

Hoya hanya tersenyum tipis.

Sehyun mengerjapkan matanya dan kembali menatap langit dengan pandangan kosong. “Menikah dengan gadis yang cantik..” Ia mengalihkan pandangannya pada Hoya yang masih saja menatap langit. Sehyun tertawa kecil. “Lalu punya anak-anak yang lucu..”

Sekarang giliran Hoya yang menatap Sehyun. Kedua mata mereka saling bertemu, dan Hoya bisa melihat jelas mata Sehyun yang berkaca-kaca. Walau Sehyun sedang tersenyum, Hoya tahu ia menyembunyikan kesedihan di baliknya.

“Dan saat itu, bagimu aku hanya akan menjadi sebagian kecil dari masa lalumu, ya kan?”

Deg.

Hoya tercekat. Itu adalah kata-kata yang tidak ingin ia dengar. Walaupun ia tahu ia tak boleh menaruh perasaan pada gadis di hadapannya ini, tapi hatinya berkata lain. Melihat Sehyun yang seperti itu, entah kenapa ada sesuatu dalam diri Hoya yang sakit. Tangannya perlahan membelai lembut pipi Sehyun. “Jangan katakan itu lagi..”

Sehyun mulai terisak. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia menjadi selemah ini. Ia sedih akan perasaannya yang tidak menentu. Ia juga tidak tahu kenapa ia merasa nyaman begitu Hoya membelai pipinya.

Agak lama mereka saling berpandangan. Hoya memegang pipi Sehyun dengan kedua tangannya. Sedikit demi sedikit, ia mendekatkan wajahnya ke arah Sehyun. Perlahan, wajah mereka menjadi semakin dekat dan semakin dekat. Sehyun memejamkan matanya ketika wajah Hoya tinggal beberapa senti dari wajahnya. Kemudian.

“Hyung,”

Tiba-tiba terdengar suara serak Sungjong memanggil nama Hoya dari dalam rumah. Mereka berdua pun refleks menjauhkan diri satu sama lain.

“Aku tidak bisa tidur..” Perlahan Sungjong berjalan menghampiri mereka. Ia sedikit merasa aneh dengan suasana yang ia rasakan saat itu. Alisnya terangkat. “Kalian sedang melakukan apa? Boleh aku ikut?”

(To be continued..)

Komen ya chingudeul~ Udah hampir finale nih ^^

(Next chapter)

“Nuna!”

“K-kami tidak berciuman atau semacamnya!”

“Hebat.”

“Apa yang sudah aku lakukan? Sial!”

“Walaupun ingatanku sudah terhapus, hatiku tidak akan pernah melupakan janji ini.”

“Kau tidak mengerti bagaimana rasanya punya ayah!”

“Diam!”

“Panggil aku oppa.”

***