Gak tau knp aku paling mood banget klo udah ngelanjutin nie FF…

Jd klo hati lagi gundah, nie FF bisa bantu aku buat hilangin rasa penat…

Tapi biarpun gitu, knp rasanya lama banget gak selesai2 ya? *tanya diri sendiri*

Jeongmal mianhae aku baru bisa nge-post skrg, biasa lah…, halangan untuk sesama author, yaitu sibuk & gak ada ide.

Jadi, mohon dimaklumi ya😀

Oh ya, di part 6 ini sekuelnya Ji Soon & Jae Soon, untuk part 7 baru deh sekuelnya Hyun Ra & Seung Young

Untuk yg kali ini juga aku bikin ceritanya lbh panjang and dgn berbagai konflik yg lumayan, yah bisa dibilang banyak lah…, hehe… ^^

So, Check It Out aja deh…! ^o^

=====================================##################=======================================

Title             :     Love In SEOUL

Genre         :     Friendship,romantic, and school life

Chapter      :     6 (Sekuel Ji Soon & Jae Soon)

Cast             :     –  Ji Soon (author)

–   Jang Hyun Ra (Tam. P/author)

–   Lee Seung Yeon (Dicta/author)

–   Park Jae Soon (Olvi/reader)

–   Dong Woon (BEAST)

–   Hyun Seung (BEAST)

–   Yo Seob (BEAST)

–   Jun Hyung (BEAST)

And other cast…

Surat dari siapa ya ini?

Jae Soon bergumam dalam hati, bingung dan penasaran dengan apa isi surat tersebut, segera ia pun membukanya. Di dalamnya, secarik kertas berwarna ungu muda. Warna kesukaan Ji Soon, pikirnya. Apa yang terjadi dengan Ji Soon? Jae Soon sekarang benar-benar panik, namun ia tetap memberanikan dirinya untuk membaca tulisan dalam surat tersebut.

Dear eonniku tersayang…

Jangan khawatirkan aku untuk saat ini… Aku hanya pergi sebentar menyusul oppaku. Kumohon eonni bisa jaga diri sebaik mungkin ya…Terima kasih karena sudah menjagaku selama Jo Hyun oppa tidak bersamaku. Aku ingin sekali membalasnya, tapi aku tidak tahu bagaimana yang pantas. Kebaikanmu sudah mengalahkan segalanya. Meskipun aku selalu berbuat baik, beratus-ratus kali, bahkan berjuta-juta kali pun tidak akan pernah bisa membalas semuanya.

Eonni ingat kan kejadian 2 tahun lalu? Di mana saat itu malam Valentine, pertama kalinya kita bertemu. Haha, mungkin eonni sudah lupa… Baiklah akan kuceritakan kembali.

 Malam itu aku berjalan sendiri di tengah keramaian setelah berusaha kabur dari rumah sakit dengan susah payah. Maklum, eonni kan tahu sendiri kalau aku paling tidak betah berada di ruangan sempit yang serba putih itu. Aku waktu itu dirawat karena asmaku yang kambuh. Ya aku tahu, penyakit itu benar-benar menyiksaku, bahkan pernah sampai hampir merenggut nyawaku waktu aku masih kecil.

Malam yang sangat dingin, pikirku. Karena pergi yang tidak direstui itu, aku jadi lupa untuk membawa jaket dan syal. Terpaksa aku pun hanya bisa duduk sambil memeluk diriku sendiri di sebuah taman bermain yang tak jauh dari rumah sakit tempatku dirawat inap. Sendiri dan termenung, bahkan aku pun tidak menyadari kalau aku juga menangis. Malam itu aku menangis karena kepergian oppaku. Aku selalu kesepian. Sejak lahir, aku tidak pernah bertemu dengan appaku, entah ia masih hidup atau sudah bahagia bersama eommaku. Lalu saatku berumur 8 tahun, eomma sudah pergi meninggalkan kami beruda untuk selamanya. Dan semenjak itulah kami berdua pun pindah ke negeri ini, negeri yang penuh kenangan, entah itu kenangan manis atau pahit. Tapi selama 5 tahun di sini, oppa selalu meninggalkanku. Ia harus pergi-pulang Amerika dan Korea. Terkadang aku sangat kasihan melihatnya, tapi aku juga merasa kesepian saat ia tak ada di sini. Dan malam itu aku ingin meluapkan segala kesesakan di hatiku. Sebelum sesosok anak kecil datang menghampiriku dan secara tiba-tiba memberikanku setangkai bunga lily yang sangat indah. Dan di belakang anak itu ada seorang gadis berperawakan tinggi dan berparas cantik ikut menghampiri kami dan mengaku bahwa anak itu adalah keponakannya. Hehe, eonni itulah pendapatku tentang dirimu waktu pertama kalinya melihatmu…

Sekilas aku melihat sosok eommaku dalam dirimu. Senyummu sangat mirip, bahkan kasih sayang yang eonni berikan sama dengannya.Dengan kehadiran eonni selama dua tahun ini benar-benar membuatku bahagia. Sejenak kuberpikir kalau eommaku terlahir kembali ke dunia ini dan menjelma menjadi dirimu, tapi itu sangatlah mustahil. Biarpun eonni sangat mirip dengannya, aku hanya akan tetap menganggapmu sebagai eonni dan sahabat sejatiku selamanya…

Satu hal lagi yang tak bisa kulupakan tentang eonni. Waktu itu di malam hari, aku tidak begitu ingat tanggal berapa dan itu merupakan pertemuan kita yang kedua kalinya, eonni pernah menyelamatkanku dari kejaran para rentenir, bahkan eonni bersedia menuruti tuntutan mereka dan membayarkan seluruh hutang milikku dan oppa. Hal inilah yang membuat dirimu akhirnya jatuh miskin dan sempat tidak makan selama 3 hari tanpa sepengetahuan dariku kan? Aku terkadang merasa tidak pantas, merasa benar-benar orang yang sangat bodoh, mengapa orang sebaik dirimu bisa bersahabat baik dengan diriku? Padahal saat di hari yang sama itu, eonni telah dicampakkan oleh keluargamu sendiri kan? Aku benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran eonni. Sebegitu mudahnya eonni melakukan itu semua hanya untuk diriku yang padahal baru saja dua kali bertemu denganku. Sebegitu yakinnya eonni untuk percaya dan menolongku saat itu. Entah apa yang sedang eonni pikirkan waktu itu, tapi aku sangat berterima kasih. Tanpa eonni mungkin aku tidak tahu bagaimana nasibku dan oppa sampai sekarang ini.

Eonni, sekali lagi, atau lebih pantasnya harus kuucapkan berulang-ulang kali, sungguh aku sangat berterima kasih padamu. Aku sangat menyayangimu, eonni! Mulai sekarang jangan khawatirkan aku lagi karena aku sudah dewasa, hehe… ^^ Dan juga jagalah dirimu baik-baik, jangan suka minum-minum lagi ya…, atau juga jangan sampai lupa makan. Ingat! Kau tidak boleh sakit selama aku pergi. Aku akan selalu mendoakanmu dari sini. Dan pastinya aku akan selalu merindukanmu. Dan katakanlah sesuatu apa yang bisa kulakuan untukmu demi membalas semua hutang budiku kepadamu…

Selamat tinggal dan sampai jumpa eonni! Semoga impianmu selalu terwujud… Berjuanglah!

Bye! ^^

 

Your naughty sister’s

 

Ji Soon

 

Jae Soon masih menatap lekat surat peninggalan Ji Soon itu. Surat yang tergeletak di kasurnya itu ternyata merupakan kabar buruk baginya. Jae Soon tak kuat lagi menahan air mata yang sedari tadi rasanya ingin ia luapkan. Perasaan yang mengganjal sedari tadi di hati Jae Soon memang merupakan suatu pertanda yang ternyata benar-benar pahit baginya.

“ Ji Soon-ah… kenapa kau pergi, huh? Kau ingin coba meninggalkanku sendirian di sini? … Ji Soon-ah~! Ji Soon-ah! Katakan sesuatu kalau semua ini gak nyata. Ji Soon-ah~!!! … AAHHH!!!” Jae Soon menjerit histeris di tengah tangisannya itu dan memecahkan kesunyian dalam rumah tersebut. Sampai tiba-tiba…

“YAA~! Jae Soon-ah! Kenapa kau… kenapa? Apa yang sedang terjadi?” seseorang menyelinap masuk ke dalam rumah Jae Soon. Jae Soon sontak menghentikan tangisannya itu dan menatap orang tersebut, walaupun sebenarnya ia tidak sanggup untuk bergerak lagi. Badannya sudah terasa kaku dan lemas tidak bisa digerakkan.

“Onew oppa?”

“Jae Soon, kau kenapa? Kami tadi di suruh oleh presdir untuk segera membawamu ke gedung agency karena sejak dari tadi HP-mu tidak aktif.” jelas pria tersebut yang tak lain adalah Onew. Bersama dengan seseorang di belakangnya, Tae Min, mereka berdua pun kebingungan dan ikut panik. Jae Soon tidak dapat berkata apa-apa lagi, ia segera memberikan surat dari Ji Soon tadi.

Hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 1 menit untuk membacanya, segera mereka berdua, Onew dan Tae Min, mengajak Jae Soon untuk menghalangi kepergian Ji Soon. Tujuan mereka sekarang ini adalah ke bandara. Dan semoga saja Ji Soon masih ada di sana. Tidak bisa berpikir apa-apa lagi, segera mobil yang mereka kendarai melaju kencang meninggalkan rumah tersebut.

Ji Soon POV

 

Di tempat lainnya…

 

Mianhae Jae Soon eonni, jeongmal mianhae!

Aku tidak bisa berhenti menangis. Malam menyambut musim gugur yang akan tiba ini benar-benar membuatku kedinginan. Sejak sejam yang lalu, aku tidak henti-hentinya menatap nanar  foto yang kupegang. Sebuah gambaran manis bila dikenang, tawa yang indah terpapar di wajahku dan Jae Soon eonni. Bahkan rasanya aku tidak sanggup untuk berangkat menyusul oppaku, impianku masih belum terwujud tapi mengapa ini harus terjadi lebih dulu?

Eomma, eotteohkajyo? Seandainya eomma masih ada di sini, semua ini pasti tidak akan terjadi. Oppa, seandainya kau tidak pergi secepat ini, aku masih bisa mengambil keputusan yang tepat, mungkin aku bisa mengikuti jejakmu. Tapi kenyataannya kalian berdua tidak ada di sini sekarang…

Masih termenung sendiri bahkan pemberitahuan yang sudah sedari tadi memanggilku untuk segera memasuki pesawat, kuabaikan. Aku tidak sanggup untuk meninggalkan kota ini. Sejuta kenangan masih tersimpan melekat di sini dan sejuta impian yang tertunda belum bisa kuselesaikan.

Setelah berpikir berkali-kali, maka aku pun memutuskan untuk tetap tinggal di sini, menuntaskan impianku yang belum tercapai dan mencoba berusaha lagi dari awal. Kulangkahkan kaki keluar dari bandara dengan jalan yang amat perlahan dan seperti hilang tujuan.

“JI SOON! JI SOON-AH!!! Eodiyeyo?”

Teriakan yang samar kudengar, tapi pasti kuyakini itu adalah suara Jae Soon eonni membuatku terkejut. Kucari sumber suaranya dari lantai atas, dan ternyata di lantai bawah terlihat Jae Soon eonni bersama-sama dengan dua orang pria, entah siapa, dengan penyamarannya yang lengkap. Aku pun segera mencari cara untuk bersembunyi darinya, aku berlari mencari tempat yang sekiranya mereka tidak akan menemukanku. Bagaimanapun caranya, aku tidak boleh sampai kedapatan bertemu dengan mereka. Aku masih belum siap menjelaskan ini semua.

—Ji Soon POV End—

“Jae Soon-ah! Sekarang sudah larut malam sekali, bandara juga sudah sepi sekali, sebaiknya kita hentikan sementara pencarian ini…”

“ANNI! Aku tidak bisa, aku harus menemukan Ji Soon hari ini juga! Kita tidak boleh menyerah!” Jae Soon masih teguh pada pendiriannya, ia tidak mau menyerah walaupun jalannya sudah terpincang-pincang karena kakinya tidak bisa beristirahat sebentar saja. Sedangkan Onew dan Tae Min yang sedari tadi ikut menemani Jae Soon mencari Ji Soon juga merasakan capek yang tidak bisa ditahan lagi.

“Sadarlah, Jae Soon! Kita tidak bisa melanjutkan ini terus-terusan! Ini sudah larut malam dan sekarang kita harus pulang! Jangan egois! Kami juga butuh istirahat untuk show besok! Berpikirlah tenang…” Tae Min yang tanpa sengaja membentak  Jae Soon tiba-tiba tersadar saat Jae Soon menangis di hadapannya. Kemudian ia pun meminta maaf atas tindakannya barusan. Onew yang sedari tadi terdiam mencoba merasakan perasaan Jae Soon  kini mendamaikan suasana kembali dan berhasil membujuk Jae Soon untuk pulang segera.

***

Sudah setengah jam  Ji Soon menaiki taxi bandara menuju ke Seoul kembali. Selama perjalanan ia masih tidak henti-hentinya menyesali perbuatannya. Baru pertama kalinya Ji Soon pergi meninggalkan Jae Soon. Dan rasanya ia masih tak sanggup, kini ia tidak bisa menghabiskan waktunya sehari-hari bersama Jae Soon yang sudah dianggapnya sebagai kakak keduanya itu. Ji Soon masih tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya, apakah sehabis ini ia masih bisa kuat menjalani hidupnya atau tidak.

“Nona, sebenarnya Anda mau ke mana? Sekarang kita sudah sampai Seoul, bahkan sedari tadi nona tidak mengatakan ke mana tujuan nona yang sebenarnya.” kata sopir taxi tersebut membangunkan Ji Soon dari lamunannya.

“Saya… saya…saya tidak tahu mau ke mana…” Ji Soon memang tidak tahu ke mana tujuannya sekarang.

“Bagaimana Anda ini? Masa tidak tahu mau ke mana sih? Lalu, tujuan Anda ke Seoul untuk apa?” bapak supir taxi itu mulai kesal.

Benar saja, Ji Soon sedang memikirkan bahwa tujuannya kembali ke Seoul adalah karena ia tidak ingin meninggalkan kota ini, karena impiannya masih belum tercapai.

“Baiklah, pak! Turunkan aku di perusahaan agency entertainment terdekat di sekitar sini!” pinta Ji Soon yang akhirnya membuat pak supir lega.

“Perusahaan agency entertainment terdekat? … Di mana ya?”lama pak supir berpikir, membuat Ji Soon kembali ke dalam lamunannya.

“Ahh, baiklah! Aku tahu, nona! Sebentar lagi Anda akan sampai.” Kata pak supir tersebut dan kembali membuyarkan lamunan Ji Soon.  Tidak beberapa lama kemudian, pak supir memberhentikan taxinya, tepat di tempat tujuan Ji Soon, namun yang tidak ia kira sama sekali. Segera ia membayar tarif dan keluar dari taxi tersebut.

“Cube Entertainment…” Ji Soon mencoba mengeja tulisan huruf di atas gedung tersebut. Berharap bahwa ia salah membacanya, namun tidak sesuai harapannya. Semuanya sama persis saat ia pertama kali datang ke gedung ini.

“Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus masuk? Apa agency ini bisa mewujudkan impianku?” pikir Ji Soon dalam hatinya sambil masih berdiri terpaku sekitar 30 meter dari gedung tersebut. Sambil juga melihat ke arah pintu masuk, tiba-tiba ia terkejut. Sekumpulan pria keluar dari pintu utama gedung tersebut. Dan Ji Soon sangat mengenali mereka semua.

“Ani! Aku harus pergi dari sini secepatnya!” katanya dalam hati sembari bersembunyi sementara di balik pohon sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan area gedung agency itu.

***

Jalanan di ibukota Korea Selatan itu memang sangat ramai malam ini. Sepertinya karena beberapa hari lagi akan natal dan mereka semua bermajksud berkumpul bersama dengan keluarga mereka di malam nan suci itu. Tapi mungkin tidak bagi Ji Soon. Tahun ini ia tidak bisa merayakan natal dan tahun baru lagi bersama oppanya dan Jae Soon. Dan bersiap-siap untuk menyambut tahun baru yang penuh dengan kesepian.

Berjalan tanpa arah dan tujuan, membuat Ji Soon semakin putus asa. Ia duduk sebentar di kursi yang terletak di pinggir jalan raya itu. Sambil mengamati orang berlalu-lalang, yang mungkin membuat Ji Soon semakin terpuruk.

“Eomma! Eomma! Aku mau dibelikan mobil-mobilan yang tadi!” suara seorang anak laki-laki yang merengek kepada ibunya menarik perhatian Ji Soon seluruhnya kepada mereka berdua.

“Bersabar ya, Yoo Jin! Appa akan pulang malam natal nanti dan membelikanmu hadiah yang lebih bagus dari tadi.”

“Jeongmal?!” mata anak laki-laki itu berbinar-binar ceria setelah melihat ibunya mengangguk dan tersenyum kepadanya sambil mengelus-elus kepala anaknya tersebut, lalu mereka berjalan kembali sambil bergandengan tangan dengan perasaan yang gembira.

Dialog yang indah itu membuat Ji Soon terdiam memikirkan sesuatu. Tanpa ia sadari, setetes air mata sudah membasahi pipinya. Ia teringat akan masa kecilnya yang indah bersama dengan ibunya. Walaupun nasibnya sangat berbeda jauh dengan anak tadi, ia tetap mensyukuri dengan semua yang telah diberikan Tuhan. Memang sejak kecil ia tidak pernah tahu ataupun  bertemu langsung dengan ayahnya, tapi ia cukup bahagia karena memiliki seorang ibu yang sangat menyayanginya, walaupun kini telah tiada.

Tidak mau berlama-lama di luar dengan cuaca malam musim gugur yang cukup dingin tersebut, Ji Soon pun berjalan kembali sambil masih memikirkan hal tadi. Karena tidak tahan dengan cuaca dingin tersebut, Ji Soon bermaksud untuk membeli kopi hangat di salah satu supermarket terdekat.

Hal yang tak terduga pun terjadi, saat sedang memilih-milih belanjaannya secara tidak sengaja ia menabrak seseorang di belakangnya. Barang belanjaan orang itu pun terjatuh. Ji Soon segera meminta maaf dan membantu ia mengambil belanjaannya yang jatuh berserakan di lantai tersebut.

Setelah semua barangnya kembali rapi tersusun di keranjang belanjaannya, Ji Soon membungkukkan badannya untuk  meminta maaf kembali. Dan untung saja permintaan maaf Ji Soon diterima baik olehnya. Ji Soon tidak menyadari kalau semenjak dari tadi orang tersebut memperhatikannya.

“Kau, sepertinya aku pernah bertemu denganmu sebelumnya? Tapi aku lupa entah di mana.” katanya kepada Ji Soon. Segera Ji Soon memicingkan matanya sebelah sesuai kebiasaannya jika sedang bingung. Bertemu sebelumnya? Ji Soon benar-benar tidak mengenali pria itu.

“Kau lupa padaku? Mungkin setelah ini tidak.” Katanya sembari menggandeng tangan Ji Soon dan mengajaknya menuju kasir dan membayar segera barang belanjaannya. Ji Soon kesal dengan perlakuan pria itu, sangat tidak sopan pikirnya. Saat di depan meja kasir, Ji Soon segera menanyakan kepada pria tersebut akan dibawa ke mana dirinya. Pria tersebut hanya tersenyum. Ji Soon hanya bisa mendengus kesal dan segera pergi meninggalkannya, karena memang sejak dari tadi ia belum menemukan kopi hangat kaleng yang ingin dibelinya. Baru saja berbalik badan, pria tersebut segera menarik tangan Ji Soon menempatkannya di sebelahnya kembali, lalu segera membayar belanjaannya dan membawa Ji Soon keluar dari supermarket tersebut.

“YAA~! Kau mau membawaku kemana, huhh? Aku bahkan belum beli kopi hangat untukku! YAA!!!” Ji Soon berteriak cukup keras hingga menyebabkan semua orang yang ada di sekitarnya terheran-heran melihat mereka berdua. Merasa situasi yang tidak memungkinkan untuk membalas ocehan Ji Soon, pria tersebut segera membawanya kembali meninggalkan kerumunan orang yang mengelilingi mereka tadi. Ji Soon tetap berteriak bahkan mengancamnya jika tidak segera melepaskannya.

Lelaki itu sudah tidak tahan dengan ocehan cerewat ala Ji Soon tersebut, dan kemudian melepaskan tangannya dari tangan Ji Soon, mereka berhenti tepat di sebuah taman yang tak jauh dari tempat parkir supermarket tadi.

“Tenanglah, aku tadi sudah membeli kopi hangat selusin, kau boleh mengambil semaumu nanti, tapi biarlah aku bicara sebentar denganmu. Tapi sebelumnya juga, kau harus mengingatku kembali, cobalah ingat wajahku!” jelas pria itu sambil melepaskan topi, syal, dan kacamata cokelat yang dikenakannya barusan. Penyamaran dengan aksesoris sederhana itu memang ampuh membuat Ji Soon tidak mengenalnya.

“Kau..? Kau yang waktu itu, di sekolahku, kan? Ohh… ternyata kau teman pria jahat itu ya? Yaa! Dengar ya! Kalau kau akan membahas pria itu, jangan harap aku mau! Aku tidak akan dan bahakan selamanya tidak pernah mau untuk membahasnya, arraseo!” jelas Ji Soon memberi penekanan pada kalimat terakhirnya tersebut dan bergegas untuk meninggalkan pria tersebut. Mudah ditebak, Ji Soon sudah membayangkan jika pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.

“Dengarkanlah aku dulu! Ini tidak seperti perkiraanmu, dia tidak jahat seperti yang kau kira, hanya saja waktu itu mungkin emosi sedang labil karena berbagai masalah yang menerpa grup kami. Tolonglah kami, dengarkanlah penjelasanku sebentar saja! Jebal…” mohonnya kepada Ji Soon. Ji Soon tidak tega melihatnya memohon kepada Ji Soon seperti ini, padahal ia sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya dan pria jahat yang dimaksud Ji Soon tadi.

“Baiklah, aku mengerti! Sekarang jelaskan saja semuanya! Tapi aku tidak yakin bisa membantumu.” ucap Ji Soon membohongi dirinya sendiri yang sebenarnya tidak tega. Pria itu menghela nafas sebentar, kemudian menatap Ji Soon sambil tersenyum terpaksa.

“Gwaenchana, yang penting kau mau mendengarkannya sebentar! Jadi begini, kau pasti masih ingat kan dengan insiden tragis yang kau alami waktu itu? Aku tahu itu semua memang salahnya. Jadi sebelumnya, aku atas nama dirinya mohon maaf kepadamu dan semoga permohonan maafku ini mau kau terima. Dan karena insiden itu juga sekarang grup kami mengalami masalah. Rumor yang beredar sekarang adalah semua hal buruk di mata orang banyak. Insiden itu menceritakan betapa jahatnya Dong Woon sebenarnya. Padahal itu tidak benar terjadi, menurutku.”

“Ohh, jadi masalahnya itu! Mungkin itu tidak ada salahnya jika benar, ia memang pantas mendapatkannya.” Ji Soon mendadak jadi kesal karena membicarakan orang yang dibencinya lagi.

“Kumohon mengertilah sedikit saja! Ini masalah serius, dan pastinya aku tidak akan mau bicara empat mata secara baik-baik denganmu jika tanpa alasan penting ini. Aku sangat senang karena bisa bertemu denganmu tanpa sengaja di sini. Kami semua sangat membutuhkanmu, hanya kau yang bisa mengembalikkan semua keadaan buruk ini seperti semula, jadi kumohon, bantulah kami!” pria itu membungkukkan badannya dalam-dalam di hadapan Ji Soon. Walau kesal, tapi sebenarnya rasa iba ada di dalam hati Ji Soon.

“Sudahlah, hentikan itu! Kau tidak usah membungkuk seperti itu di hadapanku, tidak enak jika dilihat banyak orang. Bangunlah, aku akan membantu kalian!”

“Jeongmal!? Ya ampun, kau benar-benar wanita yang sangat baik! Aku mengagumimu!” pria itu kembali dengan wajahnya yang semangat.

“Sudahlah, jangan banyak cerewet lagi! Lama-lama aku bisa membatalkannya.” Ji Soon pura-pura cemberut, tapi dalam hati merasa senang melihat wajah bahagia pria tersebut.

“Ahh, iya, iya! Mianhae, aku akan mengunci mulutku kalau begitu.” pria tersebut membuat Ji Soon tertawa dengan tingkah konyolnya yang memperagakan ‘penguncian mulutnya’. Tiba-tiba pria itu mendadak mengubah suasana menjadi hening, karena menatap lurus ke arah tangan Ji Soon. Hal ini disadari Ji Soon perlahan.

“Koper itu berisi apa? Kau tidak sedang ingin bepergian jauh kan?” tanyanya menyelidik, membuat Ji Soon berkeringat dingin menjawabnya.

“Ani~! Ini bukan urusanmu! Sudahlah, jangan pikirkan hal ini!” bentak Ji Soon untuk menutupi kebohongannya kembali. Kemudian Ji Soon pun mencoba bergegas pergi meninggalkannya.

“Jamkaman!” pria itu menghentikan Ji Soon lagi dengan menarik tangannya. “Apa ada masalah juga pada dirimu? Aku merasakan itu.”

“Apaan sih? Jangan sok tahu ya! Sudahlah, lepaskan tanganku!” Ji Soon naik pitam dibuatnya.

“Tenanglah dulu! Hmm, aku punya tempat tinggal untukmu, itu jika kau mau. Karena kau mau membantu kami, maka itu semua gratis. Itu pun juga kalau kau mau, tapi tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa.” Kata pria tersebut sambil tersenyum jahil. Kesempatan emas bagi Ji Soon, tapi terlalu gengsi untuk menerima tawaran bagus itu, mengingat dirinya juga telah membohongi diri sendiri.

“Penginapan gratis? Kau tidak bercanda, kan?” tanya Ji Soon masih tidak percaya.

“Aku tidak akan mengayakan hal itu dua kali.” jawab pria itu singkat.

“Baiklah, tunjukkan padaku tempatnya!” akhirnya Ji Soon terpaksa mengorbankan gengsinya demi kelangsungan hidupnya.

“Aku tahu kau akan menyerah juga pada waktunya.” pria itu kembali dengan senyum jahilnya membuat Ji Soon kesal kembali. Mereka berdua pun kemudian naik ke dalam mobil pria tersebut yang membawanya menuju tempat tinggalnya sementara, karena ia masih belum tahu apakah tujuannya sekarang.

***

Apartemen yang megah, pikir Ji Soon. Dan sangat lengkap, semua barang-barang tersusun rapi dengan teratur. Di apartemen sebesar ini, Ji Soon tidak habis pikir akan melakukan apa dengan semua fasilitasnya. Bahkan semua hal ini bisa ia dapatkan dengan mudah dan tanpa dipungut sepeser pun dari pemiliknya. Miracles coming, pikirnya kembali.

“Yaa! Kau melamun apa, huh?” tanya pria itu menyadarkan Ji Soon. “ Bagaimana komentarmu? Apa ada yang tidak kau suka? Jika kau tidak suka aku akan menyewakan apartemen yang lainnya, yang mana saja kau sukai.”

“Ahh, tidak usah! Ini sudah cukup mewah bagiku. Aku suka tempat ini. Tapi aku merasa tidak enak padamu, semua ini aku dapat dengan gratis, padahal ini semua tidak bisa dibandingkan dengan bantuan yang kuberikan kepada kalian.” Ji Soon menunduk malu.

“Gwaenchana! Pertolonganmu sungguh besar dampaknya bagi anggota yang lainnya juga, jadi hal ini tidak seberapa. Sudahlah, tidak usah memikirkan hal ini lagi. Aku sudah cukup senang kau mau membantu kami dan kami akan sangat berterima kasih kepadamu. Kau boleh pakai semua fasilitas di sini sesuka hati. Dan ini kartu namaku jika kau ada perlu sesuatu. Tinggal telepon saja.” jelasnya, sambil memberikan selembar kartu nama dirinya kepada Ji Soon. Ji Soon melihat-lihat sebentar kartu nama tersebut.

“Namamu Jang Hyun Seung?”

“Ne, itu memang namaku!” jawabnya sembari tersenyum dengan manisnya.

“Terima kasih banyak Hyun Seung-ssi!” ucap Ji Soon sambil membungkukkan badannya.

“Ne, cheonmaneyo! Tolong jangan panggil aku seperti itu, kau bisa memanggilku oppa saja.”

“Ahh, baiklah, oppa!” angguk Ji Soon tanda mengerti dan tersenyum lebar ke arahnya. Tiba-tiba handphone-nya berdering memecah suasana tersebut. Ia segera pamit dan mohon maaf kepada Ji Soon karena tidak bisa berlama-lama lagi, semua member yang lain tengah menunggunya. Ji Soon mengerti keadaannya dan mempersilahkannya pergi.

Pria yang bernama Hyun Seung itu sudah pergi, kini tinggal Ji Soon sendiri dalam apartemen mewah tersebut. Mengenang semua kenyataan ini dan membayangkan bagaimana Jae Soon di luar sana tanpa dirinya.

“Mianhaeyo, Jae Soon-ah!” ucapnya lirih dan tidak bisa menahan air matanya kembali. Malam itu ia pun menangisi dirinya sendiri karena dengan teganya telah meninggalkan sahabatnya sendirian di sana, yang tidak tahu bagaimanakah dirinya sekarang.

Sementara itu di tempat lain…

 

“Darimana saja kau, Hyun Seung-ah?” tanya Doo Joon di ruang tengah apartemen mereka tersebut.

“Mianhae, aku sedang mengurus sesuatu sebentar. Maaf jika kalian sudah menunggu lama.”

“Sudahlah, ayo sekarang kita mengurus masalah ini lagi. Rumor ini telah membuat image kita di mata fans sangat buruk. Ini cukup serius. Bahkan manajer kita sampai jatuh sakit gara-gara memikirkan hal ini. Kita harus…”

“Maaf aku memotong pembicaraan ini, aku telah menemukan jalan keluar bagi kita. Wanita itu mau membantu kita semua. Ia akan menjelaskan hal ini kepada wartawan. Aku sudah berunding baik-baik dengannya tadi.” Sela Hyun Seung dan berkata dengan semangatnya. Member yang lain tidak bisa mempercayai ini semua. Mereka pun memuji-muji Hyun Seung dan hal itu membuat dirinya sangat kegeeran.

“Lalu apa balasan yang kau berikan untuknya?” tanya Yo Seob ingin tahu.

“Kalian bisa melihatnya besok pagi dan kalian akan segera tahu juga nantinya.”

“Ahh, baiklah~! Kalau begitu berarti malam ini kita bisa tidur dengan nyenyak karena satu masalah rumit akan segera lenyap. YEAHH~!” ucap Doo Joon riang disambut sorak-sorai member yang lainnya.

“Eitts, tunggu dulu! Sejak kapan hyung dan Dong Woon baikan? Bukannya kalian…”

“Aigoo~! Makanya, jangan ketinggalan berita dong! Tenanglah, untuk hal seperti ini pasti kami bisa menyelesaikannya dengan baik, walaupun melalui awal yang menyakitkan, aku tetap berusaha, hiks… hiks…” sang leader pun kembali dengan kekonyolannya dengan ala lebaynya sebelum akhirnya ditimpuk ramai-ramai dengan bantal oleh mereka semua.

Memang benar, malam itu mereka benar-benar merasakan tidur nyenyak mereka kembali. Mungkin tidak, sampai sebuah masalah bisa terjadi lagi.

***

“OMONA!!!” Ji Soon sangat terkejut dengan kedatangan beberapa pria di apartemen tersebut yang sekarang sedang berkumpul mengelilinginya di sofa yang ia tiduri kemarin malam. Hanya dua wajah yang ia kenali, yaitu pria yang kemarin ia temui secara tidak sengaja di supermarket dan satunya adalah pria yang sangat dibencinya tersebut.

“Mianhae, Ji Soon-ah! Maaf jika sebelumnya kami tiba-tiba masuk, karena sudah sejak dari tadi kami mengetok pintu dan memencet tombol bel, tapi tidak ada jawaban darimu, jadi terpaksa kami masuk tanpa seizinmu. Tidak apa-apa, kan?” Hyun Seung mencoba meminta maaf atas kelancangan mereka semua.

“Jeongmal?! Omo, mianhae! Aku tidak mendengarnya, aku tidur terlalu nyenyak. Kalian tidak berhak meminta maaf kepadaku, aku yang bersalah. Lagipula ini kan apartemen kalian, aku tidak berhak untuk melarang kalian masuk. Benar, kan?” Ji Soon berbalik meminta maaf kepada mereka dan segera merapikan rambutnya yang sedikit berantakkan. “Mmm, memangnya kalian ada perlu apa ya ke sini pagi-pagi?”

“Begini, nona! Karena sejak kemarin malam kami sangat penasaran bagaimana wajah seorang malaikat yang akan menolong kami semua, makanya pagi ini sebelum kami sibuk latihan lagi, kami pun menyempatkan diri untuk menengokmu sebentar. Dan tidak lupa kami juga mengucapkan terima kasih banyak kepadamu.” kini giliran Doo Joon yang menjelaskan semuanya kepada Ji Soon.

“Ahh, kalian tidak perlu memanggilku nona! Namaku Ji Soon. Sebelumnya senang berkenalan dengan kalian semua. Dan terima kasih juga kalian mau menengokku sebentar saja, aku sangat senang dengan kedatangan kalian. Masalah itu, aku akan berusaha sebisaku untuk membantu kalian. Semoga usahaku berhasil mengembalikkan image baik kalian.” jawab Ji Soon dengan senyuman hangatnya.

“Hmm, kau masih pelajar, kan? Kenapa kau tidak sekolah? Sekolahmu memangnya di mana? Mau bareng kami?” tanya Yo Seob penasaran dan tanpa ia sadari sebenarnya telah membuat Ji Soon tersinggung. Untung Hyun Seung mengerti dirinya dan segera mengalihkan pembicaraan ke hal lainnya. Dan tidak menimbulkan kecurigaan terhadap semuanya. Mungkin Hyun Seung berpikir untuk berbicara kembali dengan mereka nanti selepas perbincangan ini, agar mereka semua tahu pembicaraan apa yang tidak menyinggung perasaan Ji Soon.

Tanpa disadari oleh banyak orang, ternyata Dong Woon sedang memperhatikan gadis yang amat dibencinya tersebut. Entah apa yang dipikirkan, tapi pandangan matanya tidak bisa lepas dari sosok Ji Soon.

“YAA~! Apa yang sedang kau lihat, huhh? Jangan bilang kau punya perasaan terhadapnya? Hahha…” hyungnya, Doo Joon, tiba-tiba saja membuyarkan pandangan Dong Woon. Dan tentu saja mendengar pernyataan Doo Joon tersebut membuat Dong Woon segera mengelaknya.

“Dong Woon-ah! Seharusnya kau berterima kasih kepada Ji Soon. Tanpa dirinya, mungkin malam tadi kita kurang tidur lagi dan masih stress memikirkan masalah kita yang sebenarnya berasal dari dirimu ini.” kini giliran Ki Kwang mencoba menasihati dongsaengnya yang satu itu. Tapi, sama seperti sebelumnya, gengsi adalah nomor satu. Dong Woon tetap tidak mau mengatakan kata terima kasih saja kepada Ji Soon, walaupun di dalam hatinya sebenarnya ia tulus mengucapkannya.

Seluruh member Beast tidak mau berlama-lama, karena jadwal padat seperti biasanya akan mereka jalani sebentar lagi. Maka mereka pun segera pamit kepada Ji Soon. Dan yang terakhir, Hyun Seung, memberikan sedikit pesan untuk Ji Soon, “Maafkan Dong Woon! Dia memang sedikit susah diatur, tapi aku yakin suatu saat ia akan berterima kasih kepadamu. Walaupun sebenarnya sekarang hal itu sudah ia rasakan, tapi ia masih malu untuk mengucapkannya, mengingat hal-hal yang sebelumnya kalian alami. Bertahanlah, aku tahu kau gadis yang kuat!”

“Ya, aku tahu, oppa! Tenanglah, aku pasti tidak akan mengecewakan kalian! Dan lagipula aku sudah memaafkan dirinya sejak lama. Oppa tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, percayalah padaku!” Ji Soon mencoba bertahan tabah di hadapan Hyun Seung.

“Aku senang mendengarnya! Aku percaya sepenuhnya terhadap dirimu!” itulah kata terakhir Hyun Seung sebelum akhirnya ia meninggalkan kembali apartemennya tersebut.

Sementara itu di sekolah…

 

BRUKKK!

“Mianhae! Aku tidak sengaja, aku akan segera membereskannya,” pagi itu Jae Soon secara tidak sengaja menabrak Hyun Ra yang sedang membawa beberapa tumpukan buku. Dengan sigap, segera Jae Soon membereskan semua buku-buku yang jatuh berserakan di lantai sambil dibantu oleh Hyun Ra. Namun, Hyun Ra merasa ada yang aneh dengan Jae Soon hari ini, mukanya tidak secerah dulu, pucat dan ekspresi datar.

“Jae Soon, gwaenchana?” tanya Hyun Ra sedikit cemas. Mendengar pernyataan itu, Jae Soon terdiam, hingga beberapa detik pandangan mereka bertemu. “Aku tidak apa-apa,” jawabnya dengan senyum yang terpaksa dan suaranya yang sangatlah serak, seperti habis menangis semalaman. Apa yang sedang terjadi, pikir Hyun Ra. Cukup lama ia menatap Jae Soon yang semakin menjauh darinya, hingga tak terjangkau untuk dilihat lagi.

***

Jae Soon POV

 

BRUKKK…

Kurebahkan diriku di atas kasurku. Aku berhasil melalui satu hari di sekolah tanpa Ji Soon. Tapi masih bisakah aku disebut berhasil? Setidaknya selama di sekolah aku berhasil menahan air mataku yang sekarang tak dapat kutahan lagi.

Mungkin sekarang aku sudah tidak dapat berpikir jernih kembali. Aku masih belum sanggup harus kehilangan Ji Soon. Dia satu-satunya keluarga bagiku yang ada di sini. Aku kesepian. Apa yang harus kulakukan sekarang?

Sedang berpikir, tiba-tiba handphone di dalam tasku berdering. Kulihat sekilas nama yang muncul di layar telepon genggamku itu, dan segera kujawab, “ Yoboseyo, oppa! Wae geurae? … Mwo? Jinjjayo?”

Aku segera berlari menuju ruang utama dan segera menyalakan TV. Kulakukan semua apa yang dipintakan oleh Onew dari seberang sana. Betapa terkejutnya aku, saat yang kulihat di layar monitor sekarang ini adalah berita yang memuat tentang Ji Soon. Perkaranya bersama salah satu personel Beast sedang heboh dibicarakan. Pandanganku masih terpaku di depan layar, bahkan aku tidak sadar telah mengabaikan Onew. Saat aku mau berbicara lagi dengannya, kudengar sambungan teleponnya telah diputus. Tidak menjadi masalah bagiku, perasaanku kini entah apa aku tak tahu. Berarti selama ini Ji Soon telah membohongiku akan kepergiannya menjenguk kakaknya. Itu berarti juga Ji Soon masih ada di Seoul, namun di manakah sekarang ia berada?

Ting-tong… Ting-tong…

Pandanganku buyar saat seseorang telah memencet bel pintu, berharap itu adalah Ji Soon. Tapi ketika pintu dibuka, tidak seperti yang kuharapkan. Yang datang ternyata adalah Onew. Sedih, tapi aku tetap berusaha senang, dan menanyakan maksud kedatangannya.

“Ayo, ikut aku!” hanya itu yang ia katakan dan tiba-tiba menarik tanganku menuju mobilnya. Aku yang masih kebingungan tidak secara langsung menolaknya. Setelah memasuki mobil, di antara kami pun belum ada yang mau bicara terlebih dahulu, padahal mobil masih juga belum dinyalakan.

“Mmm, Jae Soon…” kudengar dirinya memanggilku. Aku menengokkan kepalaku ke arahnya, dan bertanya ada apa. “Kita masih punya harapan,” mendengar hal itu mendadak aku menjadi bingung sendiri apa maksudnya.

“Kita pergi ke tempat jumpa pers tertutup yang mereka adakan sekarang!” ucapan itu membuatku baru mengerti. Ternyata ia membawaku secara paksa sekarang ini karena kami akan menjenguk Ji Soon. Ya, semoga saja kami belum terlambat. Selama di perjalanan, aku sudah tidak sabar lagi, hatiku sangat gelisah. Jika aku bisa bertemu dengannya, aku akan meminta maaf dan memohon kepadanya untuk tetap bersamaku. Ji Soon, eonni merindukanmu…

—Jae Soon POV End—

Sementara itu di balik tempat yang dimaksud…

 

“Apa kau sudah siap?” suara seseorang membangunkan Ji Soon yang sedang duduk termenung di balik ruangan aula tersebut. Ji Soon memberinya pandangan yakin dan menganggukkan kepalanya tanda telah siap. Ia tahu, walaupun jumpa pers yang diadakan kali ini benar-benar tertutup dan ketat, Ji Soon masih saja tetap gugup dan takut. Apa jadinya nanti jika ia salah berbicara dan tidak bisa menjawab pertanyaan para wartawan tersebut? Entahlah, yang terpenting sekarang ia hanya bisa berdoa dan memikirkan kata-kata yang akan diucapkannya nanti.

“Tenanglah, aku akan membantumu juga! Dong Woon sudah kuberitahu apa saja yang harus ia jelaskan pada mereka nanti, jadi tenanglah, semua pasti akan kembali normal seperti biasa,” ucapan yang berasal dari Hyun Seung itu membuat Ji Soon kini sedikit tenang dan berusaha mengendalikan perasaan gugupnya itu kembali. Saat itu, Ji Soon sekilas melihat Dong Woon yang sedang duduk termenung juga di sudut ruangan sebelum akhirnya ia keluar menuju tempat jumpa pers berlangsung tersebut.

Perlahan Ji Soon memasuki ruangan itu, para wartawan yang memang tidak diperbolehkan membawa kamera atau handphone (dan sejenisnya), sesuai dengan perjanjian yang sudah disepakati oleh pihak management Beast dan para wartawan tersebut. Tak terasa rasa gugup itu mulai menghilang, seketika Ji Soon melihat Hyun Seung tersenyum sekilas padanya.

Kini para personel Beast dan Ji Soon telah menduduki kurisnya masing-masing. Mulailah sesi tanya-jawab dilaksanakan. Ji Soon sangat bersyukur dirinya dapat menjawab semua pertanyaan dari para wartawan yang menurut para anggota Beast lainnya takut dan was-was menjawabnya.

Baru sekitar setengah jam jumpa pers tersebut berlangsung, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara teriakan seseorang dari luar ruangan tersebut. Ji Soon tercekat, suara itu ia sangat mengenalinya. Orang tersebut terdengar seperti ingin segera masuk ke dalam ruangan, namun para bodyguard tetap bersikeras tidak memperbolehkannya.

“Oppa, bagaimana ini? Jae Soon eonni… ada di luar sana, aku tidak ingin ia tahu keberadaanku sekarang ini. Oppa, eotteohke?” tanya Ji Soon ketakutan kepada Hyun Seung yang duduk di sampingnya. Hyun Seung segera membisikkan sesuatu pada Dong Woon. “Tenang, Ji Soon! Kau akan aman bersama Dong Woon,” ujar Hyun Seung meyakinkan Ji Soon yang sudah hampir ingin menangis.

Segera setelah itu, Ji Soon di bawa pergi oleh Dong Woon melalui pintu belakang di balik ruangan tersebut dan kemudian bersembunyi di salah satu ruangan, yang bisa dibilang seperti ruang studio rekaman. Hening. Tiba-tiba, Ji Soon duduk terjongkok dan menangis. Antara ketakutan dan rasa bersalah yang menyeliputi dirinya kini. Dong Woon menatapnya iba.

“Sudahlah, jangan menangis!” pinta Dong Woon yang kini malah membuat Ji Soon menangis semakin jadi. Ingin rasanya ia meminta maaf kepada gadis ini dan mendekapnya untuk menguatkan dirinya. Namun Dong Woon tidak cukup berani untuk melakukan itu semua. Ia hanya bisa memandangi gadis itu nanar.

Waktu pun berlalu, namun tangisan Ji Soon tidak juga berhenti. Dong Woon masih bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Tiba-tiba, Ji Soon segera berdiri kembali dan hampir berlari meninggalkan ruangan tersebut sebelum akhirnya tangan Dong Woon berhasil menahannya.

“Mau kemana kau?”

“Lepaskan tanganku! Aku mau mendatangi eonniku,”Ji Soon menepis genggaman Dong Woon, namun ia tetap tidak melepaskannya. Ji Soon semakin bingung, dilihatnya tatapan Dong Woon yang tidak pernah dilihatnya, membuat dirinya luluh.

“Kau gila, huh? Kau mau cari mati, ya?! Kau pikir dengan cara seperti ini semuanya akan selesai? Lantas, buat apa tadi kau meminta kami untuk menyembunyikanmu dari dirinya?” kata Dong Woon dengan nada yang tinggi, namun tidak bermaksud memarahinya bahkan menakutinya. Ji Soon terdiam. Ia kemudian menangis kembali. Genggaman tangan Dong Woon kini malah menariknya dalam pelukannya. Ia sudah tidak tahan lagi untuk menyimpan semua perasaan ini. Entah mengapa, ia tidak ingin melihat gadis yang ada di hadapannya sekarang ini lemah dan rapuh. Hingga tak terasa sebutir air mata pun jatuh menetes di pipinya, namun segera ia usap. Ia tahu, hatinya bisa melemah karena gadis ini, gadis yang sekarang ini masih terisak dalam dekapannya.

***

Onew memperhatikan gadis yang sekarang ini berada di sampingnya sedang menangis sedari tadi. Sambil mengendarai mobil, ia mencoba menasehati gadis tersebut, “Sudahlah, malam ini kita gagal. Jangan menangis terus, suatu hari kita pasti akan menemukan Ji Soon. Bersabarlah…”

Jae Soon pun berusaha menghentikan tangisannya. Ia masih tidak bisa memaafkan mereka semua yang tidak mau mempertemukannya dengan Ji Soon. Sampai kapan ia akan sendirian terus? Apa sebenarnya yang Ji Soon rahasiakan selama ini? Namun Jae Soon yakin dirinya pergi diam-diam bukan karena menjenguk kakaknya, melainkan sesuatu yang Jae Soon sendiri tak bisa menebaknya. Tapi, ada satu hal yang membuat Jae Soon curiga. Ia pun meminta kepada Onew untuk mengantarnya ke gedung agensi SM Entertainment. Onew bertanya apa alasannya mereka harus pergi ke sana, tetapi Jae Soon tidak menjawab dan kembali memohon kepadanya. Onew pun menurutinya, walaupun ia sendiri masih bingung.

Sesampainya di sana…

 

Tanpa berkata apa-apa, Jae Soon segera berlari masuk ke dalam gedung meninggalkan Onew yang masih berada di dalam mobil. Segera Onew pun keluar menyusul Jae Soon. Sekarang ia pun tahu, ternyata maksud Jae Soon ke sini adalah menemui presiden agensi mereka. Onew tahu ini pasti sesuatu yang pasti, ia akan menunggu di luar untuk melihat hasilnya.

Sedangkan Jae Soon yang sedari tadi sebenarnya sudah membendung amarahnya, ingin sekali meluapkannya sekarang juga kepada laki-laki yang ada di hadapannya sekarang ini. Laki-laki itu. Presiden SM Entertainment, terkejut melihat kedatangan Jae Soon yang secara tiba-tiba tanpa memberitahunya jika ia akan menemui dirinya, segera menanyakan maksud kedatangannya itu.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Apa saja yang telah kau katakan pada Ji Soon?” ucap Jae Soon dengan nada tinggi, tak kuasa membendung amarahnya. Lee Soo Man merasa geram melihat tingkah laku Jae Soon yang telah tidak sopan dan menuduh dirinya yang macam-macam.

“Kau jangan menuduhku seperti itu, ya? Kau pikir dirimu siapa? Belum jadi apa-apa sudah berani menantang seperti itu, di manakah sebenarnya sopan-santun yang kau miliki?” ujarnya seperti mengancam balik Jae Soon. Kesabaran Jae Soon sudah tidak bisa dipendam lagi, ia sudah muak dengan semuanya. Ia tahu, semua ini berawal dari kesalahannya sendiri, namun jika masalah ini tidak diperpanjang seperti sekarang, ia pun tak akan pernah melakukan hal ini. Dengan beraninya, Jae Soon mendekati presiden agensinya tersebut, menatapnya penuh amarah, berharap ia ketakutan dan mau mengembalikan Ji Soon darinya. Namun, semua pemikiran itu salah. Kini ia tertawa, tertawa keras walaupun Jae Soon tahu itu adalah tawa yang dibuat sengaja untuk merendahkan dirinya.

“Dasar gadis tak tahu diuntung! Kau pikir akan semudah memaafkan kalian semua? Asal kau tahu saja, Ji Soon, gadis malang yang terlalu polos, ia rela melakukan apa saja demi dirimu. Hanya kau saja yang tak pernah memahaminya lebih baik, tidak peka terhadap perasaannya sama sekali, ckckck…” nada decakan benar-benar sangat merendahkan Jae Soon. Tanpa berpikir panjang lagi, Jae Soon pun melayangkan tamparan di wajah sang presiden tersebut sehingga menyebabkannya jatuh tersungkur di lantai. Jae Soon tidak berpikir lagi bahwa dirinya telah masuk dalam bahaya.

Presiden semakin kesal, “Kurang ajar kau…” segera ia ingin melayangkan tamparan balasan untuk Jae Soon, namun Onew yang tiba-tiba masuk berhasil menghalanginya. “Jangan lakukan itu pada perempuan, ahjussi!”

“Onew! Kau, tidak usah ikut campur urusanku!”

BUK!

Jae Soon menjerit memanggil nama Onew, betapa terkejutnya ia saat melihat hidung Onew mengeluarkan darah akibat lemparan tinju yang diberikan untuknya. “Kau lihat sekarang, kan? Kau mau ini terjadi juga kepada seluruh anak-anak SM lainnya, huh? Mulai detik ini juga, PERGI DARI SINI DAN JANGAN PERNAH KEMBALI!”

Menyesal, sedih, perih. Jae Soon tak kuasa menahan itu semua. “Baiklah, kalau itu yang Anda inginkan! Dengan senang hati akan kuturuti semuanya. Dan aku berharap semoga Anda tidak menyesali semua perkataan Anda barusan. Terima kasih banyak, Tuan Lee Soo Man!” itulah kata terakhir Jae Soon sebelum ia keluar dari ruangan itu dan menggandeng Onew keluar dari gedung “neraka” tersebut.

***

Sementara itu di waktu yang sama…

Ji Soon dengan lahapnya menyantap semua makanan yang ada di atas meja. Dong Woon menatapnya lekat. Gadis yang satu ini begitu cantiknya saat sedang menjadi dirinya sendiri. Tak pernah ia melihat sosok indah saat mengetahui bagaimana sifat asli seseorang.

“Kau kenapa? Ada yang salah denganku?” bahkan ia pun tak sadar jika dirinya juga telah ditatap Ji Soon dengan penuh heran. Sontak, ia pun mengatakan semuanya baik-baik saja. Ia merasa seperti seorang pria yang sedang menggilai sesosok gadis. Bodohnya aku, jangan sampai aku jatuh cinta padanya, tegasnya dalam hati. Ji Soon pun kembali menyantap makanannya. Namun, belum sampai suapan yang kedua, ia pun tersedak. Saat ingin mengambil gelas minumnya, ternyata secara tidak sengaja gelas tersebut tersenggol oleh tangannya dan jatuh pecah ke lantai dan pecahannya mengenai tumitnya sehingga berdarah. Dong Woon mendadak panik dan segera menolongnya mengambilkan air minum.

Segera setelah minum, Ji Soon pun kembali baik-baik saja. Entah mengapa, tiba-tiba saja ia terpikir Jae Soon. Tak sadar ia pun menangis lagi sambil memanggil eonni-nya tersebut. Dong Woon luluh kembali melihatnya. “Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat semua kekacauan ini. Entah mengapa, tiba-tiba saja aku teringat akan Jae Soon. Rasanya seperti sesuatu sedang menimpa dirinya kini, aku benar merasakannya, firasatku tidak enak…”

“Sudahlah, tenanglah kembali! Yakinlah, sesuatu yang buruk tidak akan terjadi padanya. Sekarang, ayo kubantu kau mengobati lukamu!” pintanya kepada Ji Soon sambil membantunya berdiri. Kemudian, ia mendudukan Ji Soon di atas sofa yang ada di ruang tengah. Lalu mengambil kotak P3K dan bersiap mengobati luka di tumit gadis tersebut. Ji Soon hanya merintih kecil saat Dong Woon dengan hati-hati membersihkan darahnya dan memberikannya cairan obat.

“Terima kasih, Dong Woon-ssi! Aku akan segera membereskan semua kekacauan ini…”

“Tidak usah, biar aku saja! Kau istirahat saja di sini, kakimu kan baru saja terluka,” tukas Dong Woon sembari beranjak berdiri untuk segera membersihkannya. Ji Soon pun duduk terdiam, ia merasa sedikit lega. Pria yang selama ini ia benci, ternyata tidak selamanya jahat kepadanya. Ia sadar bahwa dirinya sudah tidak membenci pria tersebut.

Namun hatinya masih sedikit gundah. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Jae Soon sekarang. Selama ia tidak ada, apakah Jae Soon baik-baik saja? Ia ingin sekali bisa bertemu dengannya, namun hanya waktu sajalah yang belum tepat. Lagipula, ia tidak ingin Jae Soon tahu bahwa kepergian dirinya adalah karena menutupi kesalahan yang Jae Soon perbuat. Bersabarlah, eonni! Aku pasti akan kembali, perkataan dalam hati yang hampir mirip sejenis telepati. Ji Soon berharap semoga saja Jae Soon di sana bisa mendengarnya dan merasakan bahwa Ji Soon sedang memikirkannya saat ini.

***

Selesai juga akhirnya sekuelnya Ji Soon & Jae Soon

Panjang banget kan ceritanya?😛

Harap dimaklumi saja ya? ^^

Ya, semoga aja kaliannya gak bosan… L

Ji Soon harap kalian jangan jadi silent readers semua ya…

Ungkapin aja semua kritik dan saran yang mau kalian sampein…

Karena kritik dan saran kalian pasti akan bersifat memperbaiki dan membangun kok bagi aku, jadi tenang aja, jangan takut ya! ^^

Btw, thanks ya udah tongkrongin nih FF! Tunggu next part-nya, OK?😀

BYE-BYE YUMMMMM!!! ^o~