Love doesn’t Need a Perfection, because Love is Eternal

Author: Park Min Hyun a.k.a Salsabila Nadhifa

Main Cast:

Park Min Sun (OC)

Cho Kyuhyun (Super Junior)

Other Cast:

Park Jung Soo (Super Junior)

Park Sun Young (Luna f(x))

Genre: Romance

Rating: T

Length: Oneshoot, words

Disclaimer: The story and the plot are mine, Kyuhyun is mine, too. The cast are theirselve except OCs.

A/N: Annyeong..!! kembali lagi dengan author ngalor-ngidul satu ini. Haha, mianhaeyo ya, kalo main cast-nya Kyuhyun terus.. Supaya berasa sih ceritanya di benak author *cuih*. Soalnya kan Kyuhyun suami author *dilempar pake panci sama sparKYU seluruh dunia*. Janji deh, lain kali main cast-nya bukan Kyuhyun. Ya udah, daripada bosen dan mau muntah ngeliatin author ngebacot sampe berbusa, mending langsung aja, CHECK IT OUT!

Salsabila Nadhifa © 2011

Alright Reserved

(Anak baik jangan lupa komen, yah ^^)

****

Setiap orang pasti menginginkan kesempurnaan, bukan? Baik fisik, perilaku, maupun status sosial. Tapi lebih banyak orang-orang yang terfokus kepada kesempurnaan fisik dan status sosial. Mereka menginginkan wajah dan tubuh yang indah, jabatan yang tinggi, serta harta yang melimpah. Namun, sadarkah kalian kalau ternyata kesempurnaan itu menyakitkan?

****

*NORMAL POV*

Seorang yeoja berambut panjang berombak sepunggung berjalan menyeberangi jalanan yang masih ramai. Tanpa ia tahu, lampu telah berubah menjadi hijau. Yeoja yang tidak tahu apa-apa itu terus berjalan, hingga…

TINN TINN!

Ketika sebuah mobil melaju dan hmpir menabrak yeoja tersebt, seorang namja segera menarik tangan yeoja itu ke sisi kiri trotoar. Yeoja itu masih tampak kebingungan, ia pun bertanya kepada namja di depannya.

“Siapa kau?” tanyanya bingung.

Namja itu tersenyum melihat wajah polos yeoja itu. Kemudian, ia pun menjawab.

“Choneun Cho Kyuhyun imnida. Kenapa tadi kamu menyeberang ketika lampu sudah hijau?”

“Kamu namja, ya? Tadi aku tidak tahu, tidak ada bunyi kalau lampu sudah berubah hijau.”

Namja itu mengernyitkan dahinya, bingung. Yeoja itu hanya tersenyum dan tidak berkata apapun lagi.

“Apa maksudmu? Kau tidak tahu kalau aku namja?”

Yeoja itu kembali tersenyum, kemudian ia menjawab. “Aku tidak bisa melihat, jadi aku tidak tahu kalau kau namja dan aku juga tidak tahu kalau lampu sudah berubah hijau. Apakah suaranya mati tadi?”

Namja itu tertegun. Ia tidak menyadari –atau bahkan baru menyadari- kalau yeoja berwajah polos di depannya itu.. buta. Ia pun merasa malu kemudian meminta maaf.

“Mianhae, jeongmal mianhae..”

“Gwenchana. Oh ya, gomawo sudah menyelamatkanku tadi. Kalau kamu tidak menyelamatkan aku, mungkin aku sudah tidak di sini sekarang.” Ujar yeoja itu sembari tertawa.

“Cheonmaneyo. Oh ya, hmm..”

“Wae gurae?” tanya yeoja itu kemudian.

“Em.. itu.. namamu, siapa?”

“Oh.. itu. Choneun Park Min Sun imnida. Mian, tadi aku belum memperkenalkan namaku. Benar-benar tidak sopan.”

“Itu sama sekali bukan masalah bagiku. Oh ya, ngomong-ngomong, kamu mau ke mana?”

“Aku mau ke perpustakaan yang ada di Shinhwan *mengarang bebas*. Wae?”

“Kebetulan aku juga mau ke sana. Kajja, mari kuantar.”

“Haha, kajja.”

****

“Aku pulang.” Ujar Min Sun ketika ia baru membuka pintu rumahnya.

Tidak ada jawaban.

Terlihat rumahnya kosong dan sepi, tetapi sayangnya ia tidak bisa melihat. Ia menutup dan kemudian mengunci pintu rumahnya. Setelah itu, ia melangkah menuju kamarnya –menggunakan tongkat tentunya- tetapi sebelum ia sampai di depan pintu kamarnya, ia mendengar bel rumahnya berbunyi. Ia pun bergegas menuju pintu rumahnya, kemudian berbicara melalui interphone.

“Nuguseyo?”

“Ini oemma, sayang.”

Kemudian Min Sun membukakan pintu untuk oemmanya.

“Selamat datang, oemma.”

“Ne, Min Sun. Aduh, badan oemma pegal sekali. Apa appa dan oppamu sudah pulang?”

“Belum. Tadi waktu aku pulang, tidak ada orang di rumah.”

“Kemana adikmu? Apa dia pergi keluyuran lagi?”

“Molla. Mungkin ia bermain dengan teman-temannya lagi.”

“Aish, anak itu! Ya sudah, kamu istirahat dulu sana, kamu juga baru pulang, kan?”

“Ne, gomawo oemma.”

Min Sun melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke kamar mungil bercat biru muda yang berada tepat di antara kamar bercat hijau dan kamar bercat pink. Ia masuk ke dalam kamarnya dan kemudian menghempaskan badannya di ranjang putih miliknya. Berusaha terlelap dalam alam mimpinya yang tidak indah. Namun, ia gagal mencobanya. Air mata perlahan tertumpuk di sudut mata coklatnya, yang sudah tidak berfungsi lagi. Entah kenapa, ia kembali teringat pada kejadian 2,5 tahun yang lalu, yang membuat mata coklat indahnya ini tidak berfungsi lagi..

~FLASHBACK~

Min Sun adalah seorang siswi SMU kelas XI di Chunghae High School *mengarang bebas kembali*. Chunghae High School merupakan SMU ternama di Seoul, di mana para pelajarnya merupakan siswa pilihan yang sangat berprestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik.

Di suatu hari, Min Sun dan temannya, Lee Sun Hye, hendak pergi ke toko buku. Mereka berdua menaiki bus yang melaju ke arah toko buku tersebut. Tapi tak dinyana, bus itu mengalami kecelakaan. Kecelakaan itu terjadi karena ada bus lain yang disetir ugal-ugalan, sehingga menabrak bus yang –sialnya- mereka tumpangi. Mata Min Sun terkena pecahan kaca jendela bus (karena ia duduk di sebelah jendela) sedangkan Sun Hye luka berat.

Sejak saat itulah, Min Sun merasa dirinya tidak lagi berguna, ia kehilangan masa depannya yang cerah sama seperti ia ketika ia kehilangan pandangannya yang cerah. Karena kejadian hari itu juga, selama beberapa minggu Min Sun menjadi anak yang pemurung, tidak lagi selalu berbahagia seperti dirinya yang dulu. Min Sun yang periang kini sudah menghilang. Walaupun kini Min Sun sudah bisa menerima dengan ikhlas apa yang terjadi dengan dirinya, tapi pribadinya yang dulu tetap tidak kembali. Ya, Min Sun sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Sifat periang pada dirinya TIDAK AKAN PERNAH KEMBALI.

~FLASHBACK END~

Entah kenapa Min Sun kembali mengingat kenangan terpahit yang pernah ia miliki itu. Tapi, Min Sun sudah berusaha mengikhlaskannya. Hanya saja, ia tidak mau kembali menjadi anak yang periang, karena satu hal: ia tidak mau lagi menyembunyikan tangisan di balik tawanya. menurutnya, hal satu itu merupakan kesalahan terbesar yang pernah dilakukan olehnya. Ia tidak sanggup untuk menahan semua itu, hingga kini sifatnya berubah.

Min Sun menghapus kasar air mata yang sudah terlanjur membasahi pipi putihnya. Berusaha untuk menenangkan diri. Tiba-tiba, sebuah suara mengusik pendengarannya. Suara itu berasal dari luar kamarnya. Karena penasaran, ia melangkah mendekati pintu.

*NORMAL POV END*

 

*MIN SUN POV*

Aku menghapus kasar air mata yang terlanjur mengalir membasahi pipiku, dan berusaha untuk menenangkan diri. Tiba-tiba, sebuah suara mengusik pendengaranku. Suara itu berasal dari luar kamar. Karena penasaran, aku melangkah mendekati pintu.

Kubuka pintu kamarku perlahan dan kudengar suara dongsaengku Park Sun Young dan oppaku Park Jung Soo yang –sepertinya- sedang bertengkar. Diam-diam aku mendengar pertengkaran mereka.

“Sudah kubilang berapa kali, kau itu jangan suka keluyuran, Sun Young! Kau membuat kami semua khawatir, tahu! Dasar yeoja bandel!” bentak oppa keras.

“Ya! Suka-suka aku dong aku mau ke mana, mau bagaimana, itu terserah aku!! lagipula siapa kau dan apa hakmu mengatur-atur hidupku?!” balas Sun Young tak kalah keras.

“Aku ini oppamu! Kakak laki-lakimu!! Apakah nasihat dan perintah dari oemma dan appa tidak mempan untukmu, hah?!”

“Ne, terus kenapa? Aku benci kalian kekang terus seperti ini! Aku ingin bebas, bebas seperti teman-temanku yang lain!”

“Kalau kau mau bebas, sana jadi anak orang lain!! Pergaulan teman-temanmu itu terlalu bebas, Sun Young! Camkan itu!!”

“Ya sudah, kalau begitu aku akan pergi dari sini! Aku tidak tahan tinggal bersama kalian terus!!”

PLAAKK!!

Sebuah tamparan keras melayang di pipi kanan Sun Young yang mulus. Aku memang tidak bisa melihat persis kejadiannya, tapi aku tahu kalau itu pasti sebuah tamparan.

“Jaga bicaramu, Sun Young!! Kami ini keluagamu, arraseo?! Lantas kau mau membuang kami dari hidupmu, begitu?!” bentak oppa bertambah keras, nada bicaranya semakin tinggi.

“Dasar namja keparat!!” umpat Sun Young sebelum berlari masuk ke dalam kamar bernuansa pinknya.

BLAAMM!! Setelah yakin kalau Sun Young baru saja membanting pintu kamarnya, aku perlahan melangkah ke arah pintu kamarnya dan bermaksud untuk mengetuk. Tetapi sebelum semua itu sempat kulaksanakan, Jung Soo oppa berbicara kepadaku, yang lebih tepat seperti pemasrahan.

“Hhh.. aku tidak tahu cara mendidiknya. Oemma dan appa juga sudah pusing. Kami berharap padamu, Min Sun.” ujarnya yang kuyakin seraya menampilkan senyum letih dengan lesung pipitnya.

Aku pun mengangguk, dan menunjukkan senyum terbaikku kepada oppaku satu-satunya. Huft, kali ini kesempatanku untuk dapat meluluhkan hati Sun Young. Hyaa, Min Sun, Hwaiting!~

TOK TOK TOK

Aku mencoba untuk mengetuk pintu kamar Sun Young, tapi tidak ada jawaban.

*MIN SUN POV END*

 

*NORMAL POV*

TOK TOK TOK

Min Sun mengetuk pintu kamar Sun Young, tapi tidak ada jawaban. Setelah mengetuk kira-kira tiga kali, barulah sahutan dari dalam kamar.

“Jangan ganggu aku!! Pergi!!” sahut seseorang dari dalam kamar itu dengan kasar.

“Sun Young, ini aku Min Sun.” ujar Min Sun lembut.

“Mau apa kau?!” bentaknya galak.

“Coba buka dulu pintunya.” Ujar Min Sun lagi, masih lembut.

Kemudian pintu kamar Sun Young pun terbuka. Sun Young tampak sangat berantakan dengan rambutnya yang sudah tidak terbentuk lagi, wajahnya yang lengket karena air mata, dan pipinya yang masih merah karena tamparan Jung Soo berusan. Sun Young menarik Min Sun masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya kembali.

“Wae gurae?” tanya Sun Young berusaha nampak tenang, padahal air mata masih mengalir dari matanya.

“Seharusnya aku yang bilang begitu.” Ujar Min Sun seraya tersenyum kecil.

“Yah, seperti yang kau tahulah. Aku membenci hidup yang terkekang seperti ini. Aku ingin bebas. Bebas seperti teman-temanku.”

“Tapi bebas juga tidak baik kalau terlalu bebas.” Ujar Min Sun penuh arti.

Sun Young menatap wajah oenninya terkejut. Ia.. melupakan dan mengabaikan nasihat orang tua dan oppanya, tapi mengapa ketika bersama oenninya, ia dapat mengindahkan kalimat oenninya tersebut. Sun Young tersadar, selama ini siapa yang buta? Dia atau oenninya? Ia pun merasa kalau selama ini ia telah dibutakan oleh kemegahan harta yang dimiliki keluarganya, sedangkan oenninya, oenni kandungnya sendiri yang jelas-jelas tidak bisa melihat, justru dapat memperlihatkan dunia baru padanya. Ia merasa benar-benar bodoh.

Mata Sun Young kembali basah, ia memeluk oenninya erat. Min Sun yang terkejut dengan reaksi Sun Young hanya diam dan mengelus kepala dongsaeng kecilnya itu perlahan.

“Sun Young, listen to me. Sometimes life doesn’t go as well as we want. We must remember the constraint if we want to be free.” Ujar Min Sun tenang. Beginilah cara ia menasihati adiknya. Tenang, tidak ada kekerasan.

Sun Young menatap wajah oenninya. Tidak ada rasa penat dan lelah di wajahnya. Yang ia dapati hanyalah wajah damai nan tenang yang kini sedang tersenyum kepadanya. Walaupun ia tahu, oenni tercintanya ini memiliki kesedihan besar yang tersembunyi di balik wajah damainya. Ia juga tahu kalau penyebab kesedihan oenninya adalah kejadian 2,5 tahun lalu yang mungkin masih membekas di pikiran oenninya. Ya, Sun Young mengertihal itu.

“Gomawo, oenni. Terkadang aku bingung, sebenarnya yang buta itu aku atau oenni. Buktinya oenni dapat melihat hal yang tidak bisa kulihat.”

Min Sun tergelak. Ia pun kembali berkata, “Jelas-jelas aku buta, Sun Young. Kau itu bukannya tidak bisa melihat, tapi BELUM bisa melihat.” Ujar Min Sun dengan penekanan pada kata ‘belum’.

“Emm.. oenni.”

“Wae?”

“Apakah oenni adalah pribadi yang setegar seperti yang aku lihat? Kalau memang iya, aku ingin menjadi pribadi seperti oenni.”

“Jinjja? Tapi sayangnya aku tak setegar seperti yang kau lihat.” Ujar Min Sun lagi, kini tampak murung.

“Aku tahu kalau semua orang tidak ada yang benar-benar tegar. Tapi oenni.. apakah benar oenni tidak setegar sekarang? Wae?”

Min Sun menggeleng lemah. “Aku memang bukan pribadi yang setegar ini, Sun Young. Aku masih sering menangis karena meratapi nasibku sekarang ini. Coba bayangkan, aku masih sering menangis mengingat masa laluku, saat aku pindah dari Chunghae, karena aku tak sanggup lagi bersekolah di sana.”

“Aku pernah merasa kalau masa depanku tak lagi cerah. Menghabiskan berminggu-minggu untuk menangis dan mengurung diri, itu benar-benar hal bodoh.” Sambung Min Sun lagi.

“Tapi itu hanya masa lalu bukan? Kenapa aku sering menangisinya? Lagipula sekarang aku punya pekerjaan lain sebagai pianis. Ya, kenapa sekarang aku menyemangati diri sendiri?” tanya Min Sun lagi, kepada dirinya sendiri dan kepada Sun Young.

“Kau memang benar-benar orang yang tegar, oen. Baik luar maupun dalam. Kalau kita menangis, itu adalah hal yang wajar bukan?”

“Ne, kau benar.”

****

“Min Sun!” panggil seorang namja.

“Wae gurae, oppa?” tanya Min Sun.

“Ada seorang namja yang mencarimu!”

Namja? Rasanya aku tidak pernah mengundang namja, pikir Min Sun. Kemudian ia berjalan ke arah ruang tamu tempat oppanya dan namja itu berada.

“Eh.. anu, siapa ya?”

“Aku Kyuhyun. Namja yang tadi.”

Min Sun tercengang. Ia segera bertanya untuk memastikan. “Kau.. benar-benar Kyuhyun? Cho Kyuhyun?”

“Ne, aku Cho Kyuhyun. Aku kemari untuk memberikan ini.” Ujarnya sambil menyerahkan benda berbentuk persegi panjang.

“Eh? Apa ini?”

“Itu dompetmu, tadi tertinggal di perpustakaan.”

“Oh ya? Gomawo, Kyuhyun-ah.” Ujar Min Sun seraya menundukkan badannya 90 derajat.

“Cheonmaneyo, aku pulang dulu, ya. Annyeong.”

“Annyeong. Josimhae, Kyu!”

“Ne, gomawo.”

Min Sun melangkah ke kamarnya dan duduk di tempat tidurnya. Ia mengambil tas yang tadi ia pakai ke perpustakaan dan merogoh isinya. Ternyata benar. Ia tidak menemukan dompetnya.

TOK TOK TOK

“Masuk!”

“Min Sun, ini oemma sayang.”

“Ah oemma, wae gurae?”

“Ah.. ini, tadi oemma sudah menghubungi dokter, katanya kau belum mendapatkan donor mata.” Ujar oemma Min Sun dengan wajah kecewa.

“Oh, ayolah oemma… begini juga tetap baik, kok. Aku tidak terganggu dengan apapun. Sungguh.”

“Tapi, Min Sun…”

“Sudahlah, lebih baik sekarang oemma urusi pekerjaan oemma saja, ya.” Ujar Min Sun seraya mendorong oemmanya ke pintu keluar kamarnya.

****

Min Sun pergi keluar rumahnya, hari ini ia hendak pergi ke aula musik tempatnya bekerja sebagai pianis. Di tengah perjalanannya, ia merasa tongkatnya diambil secara paksa oleh seseorang.

“Ah..! apa yang kau lakukan?!” jerit Min Sun panik.

“Hehehe.. nona buta, serahkan semua uangmu sekarang!”

*NORMAL POV END*

 

*MIN SUN POV*

“Ah..! apa yang kau lakukan?!” jeritku panik. Rasanya ingin kupukul wajah orang ini sekarang, tapi sayangnya aku tidak tahu dia dimana sekarang.

“Hehehe.. nona buta, serahkan semua uangmu sekarang!”

Gawat! Dia preman! Berarti dia membawa teman-temannya! Aku harus segera kabur! Tapi, apa aku bisa kabur tanpa tongkat?

“Ya, nona! Kenapa, takut? Kalau kau menyerahkan uangmu, kami tidak akan menyakitimu.” Ujar suara yang lain, sepertinya mereka memang banyak karena terdapat kata kami dalam kalimat sebelumnya.

Kalau sudah begini, lebih baik aku kabur saja!

Aku sudah bersiap berlari dan melangkahkan kakiku secepat mungkin, tapi aku menabrak seseorang.

“Eits, mau kemana nona?”

Ups, gawat. Aku dihadang. Someone help me please!!

BAK! BUK! BUK!

Terdengar seperti suara pukulan, apa mereka saling menyakiti satu sama lain? Tidak mungkin, babo. Kau ini ada-ada saja -_-. Lalu siapa yang memukuli mereka?

“Sial, mereka terlalu banyak! Kita kabur saja!” ujar seseorang yang suaranya terdengar familiar bagiku.

Tiba-tiba orang itu menarik tanganku, dan mengajakku berlari. “Ya! Jangan tarik-tarik tanganku!”

“Kau mau selamat atau tidak? Babo!”

Orang itu –yang sepertinya kukenal- terus menarikku. Aku pasrah saja, padahal sih sebenarnya aku takut sekali, siapa tahu dia penculik, kan? Haha. Ya, memangnya siapa yang mau menculikmu, babo? Rutukku pada diriku sendiri.

Kemudian orang itu berhenti berlari dan melepas tanganku. Apa sudah aman? Sebenarnya ini dimana?

“Hahh.. sudah aman.”

“Eh.. kamu siapa, ya?” tanyaku memberanikan diri.

Tiba-tiba orang itu tertawa. Aneh, memangnya itu lucu, ya? Kurasa tidak -_-

“Eh, apa ada yang lucu?” tanyaku agak bingung. Yah, aku kan tidakbisa melihat. Siapa tahu ada pertunjukkan badut disini (?)

“Ah, ani. Aku hanya heran, kita kan baru bertemu kemarin. Apa kau tidak ingat suaraku?”

Kemarin? Jangan-jangan… CHO KYUHYUN? Sesange, jeongmal baboya Min Sun.

“Neo.. Kyuhyun?”

“Ani. Aku setan.”

“Ya, jangan main-main!” kudengar ia kembali tertawa. Pasti dia menertawakanku.

“Aku tidak main-main, Min Sun. Aku Cho Kyuhyun namja tertampan di Korea.”

Aku langsung bereaksi memasang wajah mau muntah mendengar kenarsisannya yang semakin menjadi. Dia ini pede banget, ya? Jadi heran.

“Kau kan belum melihat wajahku, kalau sudah lihat pasti kau akan menyetujui perkataanku.”

“Ani. Aku tidak akan terpesona oleh wajahmu.” Ujarku dingin.

“Wae?” tanyanya, dengan nada bingung.

“Karena aku tidak akan bisa melihatmu.” Ujarku seraya menoleh ke arah kanan (arah sumber suaranya yang kuketahui sebagai arah tubuhnya) dan tersenyum getir.

“Apa kau mau pergi jauh?” tanyanya lagi, kini dengan nada kecewa.

“Ani. Hanya saja aku tidak akan pernah bisa melihat.” Ujarku lirih, cairan bening hangat perlahan membanjiri wajahku yang dingin karena udara musim gugur. Aku menundukkan kepalaku, tak ingin air mata itu dilihat oleh namja di sebelahku.

Tiba-tiba seseorang –yang mungkin adalah Kyuhyun- memegang daguku dan menolehkan kepalaku ke arah kanan. Kemudian ia mengusap air mataku.

“Jangan berbicara seperti itu. Aku tahu kau pasti akan kembali melihat dunia ini, bersamaku.” Ujarnya lembut, sangat lembut.

Aku kembali menangis. Air mata membanjiri sampai ke sudut-sudut wajahku. Ia menarikku ke dalam pelukannya, membiarkanku menangis di dadanya yang bidang. Hangat. Ini dekapan terhangat yang pernah aku terima.

“Menangislah sepuasmu.” Ujarnya pelan, seraya mengelus rambutku perlahan. Aku tidak menolak perlakuannya, karena itu.. jujur kuakui nyaman.

“Gomawo.” Ujarku kemudian, seraya melepaskan pelukannya dan memasang senyum terbaikku.

“Cheonmaneyo. Kau manis kalau seperti itu.”

Seluruh sistem syarafku seperti memerintahkan agar mengirimkan seluruh suhu tubuhku ke pipiku. Aku tahu, pasti wajahku semerah tomat sekarang.

-***-

“Gomawo sudah mengantarkanku.” Ujarku setelah turun dari mobilnya.

“Cheonmaneyo, lain kali hati-hati kalau di jalan. Jangan sampai ketemu preman lagi. Annyeong.”

“Ne, aku akan hati-hati. Annyeong.”

Kudengar deru mobil yang kian menjauh, setelah itu kututup pintu pagar rumah minimalis ini. Tiba-tiba kurasakan sebuah tangan hangat yang penuh kerutan menarik tanganku perlahan. Aku tahu siapa pemilik tangan ini. Ne, siapa lagi kalau bukan Park Jung Soo, oppaku yang satu ini.

“Oppa? Wae gurae?” tanyaku setelah ia melepaskan tarikan tangannya.

“Sebenarnya ada yang ingin kami tanyakan.” Jawabnya.

“Kami? Kau dan Sun Young maksudmu? Mau tanya apa?”

“Itu namjachingu oenni, ya?” tanya Sun Young tiba-tiba.

“Mwo?! Eh, ani..”

“Jinjja? Kenapa dia mengantarmu pulang? Bukankah dia namja yang kemarin?” kini giliran Jung Soo oppa yang bertanya.

Aku pun menceritakan semuanya, dari kejadian tadi (kecuali bagian berpelukan itu, nanti dikiranya apa lagi). Mereka hanya ber-ooh ria.

“Ya sudah, aku mau istirahat dulu, ya. Annyeong.” Ujarku kemudian.

“Ne, sana istirahat. Jangan sampai kau sakit.” Ujar Jung Soo oppa.

“Gurae, oppa.”

Aku pun melangkah menuju kamarku. Di dalam kamar, aku segera membaringkan tubuhku dan terbang ke alam mimpiku.

-***-

“Oenni.” Terdengar suara Sun Young. Apa dia ada di kamarku?

“Sun Young? Apa kau disini?”

“Ne, aku disini. Ada telepon dari seorang namja untuk oenni.”

“Jinjja? Tunggu sebentar.”

Aku pun bangkit dari tempat tidurku dan berjalan keluar kamar. Beranjak ke ruang tamu tempat telepon berada.

“Yoboseyo?” tanyaku memulai pembicaraan.

“Yoboseyo, Min Sun. Bisakah besok kita bertemu? Ada yang ingin kubicarakan.”

“Apa tidak bisa sekarang?”

“Tidak bisa. Memangnya ada apa? Besok kau tidak ada waktu?”

“Ani, aku ada waktu kok. Jam berapa? Dimana?”

“Besok kau akan kujemput. Bersiap sajalah.”

“Ah, ne, guraeyo.”

“Annyeong.”

“Annyeong.”

Setelah itu aku meletakkan gagang telepon di tempat semula. Ketika aku hendak kembali ke kamarku, terdengar suara siulan Jung Soo oppa dan dehaman Sun Young yang terdengar sangat dipaksakan.

“Ya, ada apa dengan kalian?”

“Sepertinya besok ada yang mau kencan, nih.” Goda Sun Young yang sukses membuat pipiku panas.

“Jangan lupa bawakan kami oleh-oleh, ya.” Kini giliran Jung Soo oppa beraksi.

“Kalian ini bicara apa, sih? Aku hanya ingin menemuinya sebentar, kok. Lagipula kami kan baru berkenalan.” Ujarku seraya menggembungkan pipiku.

“Itu pasti akan menjadi awal yang baik, Min Sunku sayang.” Ujar Jung Soo oppa seraya memegang daguku.

“Aish! Kalian ini! Sudahlah, aku mau makan!”

Kudengar mereka tertawa di belakang sana. Ne, menertawakan kemunafikan seorang yeoja yang baru saja mengenal cinta.

*MIN SUN POV END*

****

*KYUHYUN POV*

Pertama kali melihatnya, aku langsung terpana. Entahlah, aku bingung apa yang kusukai dari dirinya. Ia tidaklah terlalu cantik, sebagaimana kesan pertama orang melihatnya. Tapi, ia memiliki hati yang indah, bahkan seribu kali lebih indah dari pemandangan di Pulau Jeju. Dengan segala kekurangannya, ia dapat tegar mengalami hidup yang semakin hari semakin rumit saja. Apakah hal itu yang aku tangkap dari kesan pertama? Aku rasa, iya. Demi dirinya, akan kukorbankan segalanya. Tentu, aku akan memberikan apapun.

****

Aku melajukan mobilku ke arah rumah Min Sun. Ne, hari ini aku memang ingin bertemu dengannya, dan sudah kuputuskan untuk menjemputnya.

Kini aku sudah sampai di depan rumahnya. Kubunyikan klakson untuk memberi tanda kalau aku sudah sampai. Tidak lama kemudian, kulihat ia sudah keluar dari rumahnya dan berjalan ke arah mobilku.

“Ini kau, kan Kyu?” tanyanya hati-hati.

“Siapa kau? Aku tidak mengenalmu.” Ujarku dingin. Sedikit-sedikit bolehlah aku mengerjainya..

“Oh, berarti aku salah orang. Mianhae, jeongmal mianhae.” Ujarnya seraya menundukkan kepalanya berkali-kali.

“Hahahahaa.. kau polos sekali, sih! Masuklah, ppalli!” tawa setanku membahana. Sepertinya sudah cukup aku mengerjainya.

“Neo.. kyuhyun?” tanyanya lagi, kali ini dengan ekspresi yang lebih polos.

“Ne, nee.. aku Kyuhyun! Kajja, cepat masuk!”

“Dasar! Kau ini menyebalkan sekali, sih. Kau kan tahu aku..” ujarnya terpotong. Aku menutup mulutnya dan menyela perkataannya.

“Ne, aku tahu. Jangan ungkit itu lagi, arraseo? Itu hanya akan menyakitimu. Mianhaeyo.”

Ia terdiam sejenak, kemudian tersenyum dan berkata, “Arraseo, tuan Cho.”

Kedua sudut bibirku terangkat sempurna, daann.. aku bersyukur ia tidak mengetahuinya! Chukkae, Kyuhyun ^^

“Apakah sekarang kau sedang tersenyum?” tanyanya tiba-tiba (masih dengan senyum di wajah manisnya), sukses membuatku gelagapan.

“Eh? Ah.. ani. Aniyo. Untuk apa aku tersenyum?” tanyaku berbohong. Apa yeoja ini punya indra keenam yang menggantikan salah satu indranya yang rusak?

“Ahaha, sudahlah. Jangan berbohong, kau tersenyum karena kau sedang senang bukan?” terkanya lagi yang membuatku langsung mati kutu.

“Neee.. aku tersenyum, puas?” akuku sejujur-jujurnya.

“Anii. Aku belum puas.” Ujarnya seraya tersenyum girang ke arahku.

****

Aku menghentikan laju mobilku tepat di depan sebuah taman yang memang sudah kupersiapkan untuk pertemuan ini.

“Sebenarnya kita dimana?” tanyanya dengan wajah polosnya yang.. sumpah, sangat imut bahkan terlalu imut untuk yeoja sepertinya.

“Kita di.. sebuah taman.” Jawabku jujur. Aku kapok mengerjainya -_-

“Ceritakan padaku bagaimana keadaan disini!” pintanya bersemangat.

“Yah, baiklah. Aku akan mengajakmu duduk di bangku taman yang ada di bawah sebuah pohon.”

“Pohon apa itu? Apakah pohon itu rindang?”

“Aku kurang tahu apa nama pohon itu, tetapi pohon itu… rindang, sangat rindang. Daun-daunnya sudah mulai menguning, Min Sun.”

“Jinjja? Beritahu aku yang lainnya!”

Aku pun segera menceritakan apa saja yang kulihat di taman ini. “Di taman ini, terhampar rumput hijau yang cukup luas, kemudian.. di dekat taman ini, tepatnya di depan kita, ada sebuah sungai. Di tengah-tengah taman ini ada sebuah air mancur..”

“Apakah air mancur itu tinggi?”

“Ne, air mancur itu tinggi. Kira-kira setinggi dirimu.”

Wajahnya menggambarkan perasaan kaget dan kagum. Mata indahnnya berbinar-binar, seakan ia sangat bersemangat.

“Aku sangat ingin melihatnya, Kyu.”

“Aku juga ingin kau segera melihatnya, bersamaku.”

Ia nampak tertegun mendengar kalimat yang terakhir kuucapkan. Sesaat kemudian, ia tersenyum. Tersenyum getir.

“Apakah menurutmu aku dapat melihat lagi?” tanyanya lirih.

“Tentu. Aku tau kalau kau pasti dapat melihat kembali.”

“Jinjja? Gomawo, Kyu.”

“Ne, cheonmaneyo.”

Tiba-tiba ia menyenderkan kepalanya di bahuku. Aku terkejut, tapi sesaat kemudian tersenyum. Entah kenapa aku sangat mencintai setiap ekspresimu, Park Min Sun.

“Oh ya, ngomong-ngomong, apa yang mau kaubicarakan?” tanyanya menyadarkanku kembali ke dunia nyata.

“Eh.. oh.. itu.. sepertinya bukan hal yang penting. Apa aku mengganggu waktumu?” belum. Ini bukan waktu yang tepat. Ia baru saja mengenalku, aku harus menyimpan dulu perasaan ini.

“Ani. Entah kenapa, aku senang dan nyaman bersamamu.”

“Jinjja?” tanyaku bersemangat.

“Ne, aku merasa kau lebih baik dari sebuah tongkat untuk menuntunku.” Ujarnya seraya tertawa renyah. Aku senang melihat tawa indahnya, senyum manisnya, semuanya. Aku memang sudah benar-benar mencintainya.

“Apa kau mau pulang sekarang? Sepertinya kita sudah terlalu lama disini.” Tawarku padanya yang masih menyenderkan kepalanya di pundakku.

“Jinjja? Kajja kita pulang.”

*KYUHYUN POV END*

-***-

*MIN SUN POV*

“Aku pulang~” ujarku setelah masuk ke dalam rumah.

“Min Sun!” teriak seorang ahjumma yang ternyata adalah oemma.

“Wae, oemma? Aku baru saja pulang.”

“Oemma sudah mendapatkan donor mata untukmu!” teriak oemma gembira seraya memelukku.

Sungguh? Apakah ni bukan mimpi? Apakah aku tidak salah dengar?

“Jinjja, oemma?”

“Ne, sayang!”

Aku pun membalas pelukan oemma. Cho Kyuhyun! Kau benar, aku akan segera melihat kembali!

“Operasinya lusa, jaga dirimu besok, jangan terlalu lelah ya!”

“Ne, oemma!”

Aku pun berlari ke kamar dan membaringkan tubuh di kasur. Bersiap untuk menjelajah alam lain.

-***-

“Yak, Min Sun, ireona! Ppalli ireona!” terdengar suara seorang namja yang hendak membangunkanku. Apakah itu oppa? Kenapa lebih mirip suara Kyuhyun?

“Engh.. ini masih pagi, oppa.”

“Oppa? Aku bukan oppamu. Aku Kyuhyun, Cho Kyuhyun.”

Aku segera membelalakkan mataku. Apa aku tidak salah dengar? Cho Kyuhyun katanya?

“Kau.. Cho Kyuhyun?” tanyaku tak percaya.

“Ne, wae gurae?” jawabnya santai tanpa beban.

“Kenapa kau bisa masuk sini, hah?!”

“Oh? Aku? aku disuruh oleh Jung Soo hyung membangunkanmu. Ya sudah aku bangunkan.”

“Terserahlah!” aku segera bangkit dari tempat tidurku, meraih handuk, dan menuju ke kamar mandi. Terdengar suara tawa setannya dari luar kamarku.

-***-

“Kyu!” panggilku.

“Mwo?” tanyanya santai.

“Coba tebak apa?”

“Apa? aku tidak mengerti.”

“Aku sudah mendapatkan donor!”

“Jinjja? Syukurlah. Kau dapat melihat kembali.”

“Ne, gomawo Kyu.”

“Ah, cheonmaneyo. Aku harus pergi sekarang. Annyeonghaseyo.”

“Eh? Annyeong.”

*MIN SUN POV END*

-***-

*KYUHYUN POV*

-Flashback-

*Kemarin malam*

“Kyuhyun-ssi, kanker anda sudah sampai stadium akhir, dipastikan umurmu tidak akan lama lagi.” Ujar Dokter Shin dengan perasaan bersalah.

“Ne, dok. Aku sudah tahu hal itu.” ujarku pasrah. Aku memang tidak punya harapan lagi.

“Sebagai gantinya dok, bisakah kau berikan mataku pada seseorang, dok? Aku sangat mencintainya dan aku dengan tulus ingin memberikan mataku padanya.” Pintaku pada dokter Shin.

“Siapa orang itu, Kyuhyun-ssi?”

“Orang itu…”

“PARK MIN SUN.” ujarku mantap.

-Flasback End-

*KYUHYUN POV END*

-***-

*NORMAL POV*

Keesokan harinya..

Min Sun berserta keluarganya berangkat menuju Seoul Medical Hospital untuk melakukan operasi transplantasi mata Min Sun. Sun Young pun mendekati Min Sun yang sedari tadi nampak gelisah.

“Oenni.. oenni gugup, ya?”

“Eh? Sun Young.. ani, aku tidak gugup. Hanya saja..”

“Hanya saja apa?” tanya Sun Young lagi.

“Jangan tertawakan aku, ya.” Ujar Min Sun setengah berbisik.

“Nee.. memangnya ada apa sih?” tanya Sun Young lagi, bertambah penasaran.

“Kyuhyun tidak datang ya?” bisik Min Sun.

“Mwo? Oenni mencari namja itu?!” jerit Sun Young kaget.

“Sssttt!! Nanti oppa pasti akan menertawakanku! Diam!”

“Oh ne, mian. Kyuhyun-ssi  tidak datang, oen.”

“Hhh.. ya sudah, gomawo Sun Young.” Desah Min Sun pelan.

“Ne, cheonmaneyo.”

Sekarang Sun Young tahu, kalau ada seorang yeoja yang tengah jatuh cinta sekarang. Sun Young hanya tertawa geli mengetahui kenyataan yang ada.

****

“Baiklah Park agassi, apakah anda sudah siap untuk operasi?” tanya seorang doter, Dokter Shin.

“Ne, dok. Saya sudah siap.” Ujar Min Sun mantap.

“Baiklah, ayo kita ke ruang operasi. Keluarga hanya diperbolehkan menunggu di ruang tunggu.”

“Baik, dok.” Ujar Appa Min Sun.

****

 “Kita sudah bisa melepas perbannya. Silahkan suster.” Ujar Dokter Shin.

Seorang yeoja berseragam suster maju dan mulai melepas perban Min Sun. Semua keluarga Min Sun menatapnya dengan cemas. Perban sudah terbuka dengan sempurna. Min Sun mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian dengan perlahan ia bergumam.

“Appa.. Oemma.. Oppa.. Sun Young. Apa itu kalian?”

Seluruh keluarga Min Sun tampak sangat senang. Mereka memeluk Min Sun dengan erat, sangat erat.

“Oenni!! Oenni sudah bisa melihat lagi!” jerit Sun Young senang.

“Benarkah ini? Apa bukan mimpi?” tanya Min Sun tak percaya.

“Ne, sayang. Ini bukan mimpi.” ujar appa Min Sun.

*NORMAL POV END*

 

*MIN SUN POV*

“Kita sudah bisa melepas perbannya. Silahkan suster.” Ujar Dokter Shin.

Kurasakan tangan seseorang melepaskan perban yang masih meliliti bagian mataku. Kemudian, perban terbuka sempurna. Aku membuka mataku perlahan, kemudian mengerjap-ngerjapkannya.

“Appa.. Oemma.. Oppa.. Sun Young. Apa itu kalian?” tanyaku.

Wajah mereka tampak sangat senang. Mereka memelukku dengan erat, sangat erat.

“Oenni!! Oenni sudah bisa melihat lagi!” jerit Sun Young senang.

“Benarkah ini? Apa bukan mimpi?” tanyaku tak percaya.

“Ne, sayang. Ini bukan mimpi.” ujar appa.

Sesange, kamsahamnida. Ini bukan mimpi, kan? Aku harus mengabarkan ini pada Kyu sesegera mungkin.

****

Sekarang aku dapat melihat dunia dengan normal. Kyu, tunggu aku! kita akan melihat dunia bersama-sama. Seperti katamu.

Mobilku sudah terparkir di dalam garasi rumah minimalis kami. Aku segera melangkahkan kakiku ke dalam rumah, dan disusul oleh Sun Young.

“Ehem, Sun Young.” Ujarku padanya.

“Ne, oenni. Wae?”

“Sepertinya selama aku buta, kau tambah cantik saja.” Ujarku menggodanya. Ia nampak tersipu.

“Ah, oenni bisa saja.”

“Hahaha.. apa kamarmu ada perubahan?” tanyaku padanya.

“Ani. Kami tidak merubah apapun. Itu semua untuk memudahkan oenni.”

“Oh, begitu. Ya sudah, aku ke kamar dulu, ya.” Ujarku seraya mempercepat langkahku dan meninggalkannya.

@ room

Uwaaa!! Ini kamarku! Sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Entah kenapa, aku rindu sekali. Tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal pikiranku. Tapi, apa ya? Oh ya! Wajah Kyu itu seperti apa sebenarnya? Dia prnah bilang padaku kalau dia tampan. Apa wajahnya sama dengan apa yang ada di khayalanku, ya? Lebih baik aku mengajaknya bertemu besok.

Aku pun bangkit dan melangkahkan kakiku ke arah meja telepon yang ada di ruang tamu. Ya, baboya Min Sun.. apa kau punya nomor teleponnya, hah? Apa aku tunggu dia telepon duluan, ya? Ne, sebaiknya begitu saja. Aku pun kembali ke kamar dan mulai kembali ke alam mimpi.

****

“Min Sun..” ujar seorang namja. Oppa?

“Mwo, oppa? Aku masih mengantuk.” Ujarku seraya menguap.

“Ini.. ada surat. Dari Kyuhyun.” Ujarnya lagi. Aku langsung bangkit dan mengambil surat itu.

“Gomawo oppa.”

“Ne, cheonmaneyo. Kau ini giliran Kyuhyun saja baru bangun.”

Aku pun segera melempari wajahnya dengan bantal. Seenaknya sekali kalau bicara -_-. Setelah itu aku membuka surat Kyu, dan membacanya. Jung Soo oppa ada si sampingku dan ikut membaca.

Dear, Min Sun

Annyeong, bagaimana operasi matamu? Kalau kau membaca ini, berarti operasinya sukses ya, haha

Mian, aku tidak bisa datang saat kau operasi.

Mianhae, jeongmal mianhae

“Berlebihan sekali, dia kan hanya tidak datang saat aku operasi.” Ujarku pada Jung Soo oppa seraya tertawa renyah.

“Lihat dulu lanjutannya, siapa tahu ada hal lain, kan.”

Sesuai saran oppa, aku melanjutkan kembali untuk membaca.

Mianhae, aku tidak dapat lagi menemani harimu.

Mianhae, karena aku bukanlah namja yang baik untukmu.

Mianhae, karena aku telah pergi meninggalkanmu.

Mianhae, karena aku MENCINTAIMU.

Karena kepergianku yang mendadak inilah, aku ingin mempersembahkan hadiah untukmu.

Semoga kau suka, Min Sun.

Jika kau mau tahu apa hadiah itu, datanglah ke taman tempat kita bercengkerama kemarin.

Taman itu ada di pinggiran Seoul, kau dapat menempuhnya dengan mobil dalam waktu 30 menit.

Ketika kau sampai di taman itu, nikmatilah pemandangan di sana, lihat air mancur yang setinggi dirimu itu, dan duduklah di kursi tempat kita duduk kemarin.

Kau akan menemukan sesuatu di bawahnya.

Mungkin ketika kau membaca surat ini, aku sudah tidak lagi di sampingmu.

Saranghae, jeongmal saranghae Min Sun.

 

Cho Kyuhyun, Seoul, 21 Juni 2011

 

Aku menangis sejadi-jadinya setelah membaca surat tersebut. Kurasakan Jung Soo oppa mendekapku, berusaha menghentikan tangisku.

“Oppaaa!! Kyuu, oppa! Kyu.. huu..” jeritku di sela tangisku. Jung Soo oppa membelai kepalaku lembut, kembali berusaha menenangkanku.

“Ne, Min Sun. ikhlaskanlah dia.”

“Oppa..” ujarku, masih sesenggukkan.

“Antarkan aku ke taman yang Kyu maksud, jebal.” Lanjutku, air mata tidak mau berhenti keluar dari mataku.

“Ne, kajja.”

*MIN SUN POV END*

****

*NORMAL POV*

Mobil Jung Soo sudah sampai di taman tersebut. Min Sun berlari keluar mobil dan.. ia tertegun. Betapa indahnya pemandangan yang ia lihat. Kemudian ia menghampiri air macur yang terletak di tengah taman.

“Oppa.. air mancur ini bahkan lebih tinggi dariku.” Ujarnya tanpa melihat k arah Jung Soo. Ia tetap melihat air mancur itu dengan tatapan sendu.

“Ne, Min Sun.”

Setelah itu, Min Sun berlri ke arah kursi taman di sebuah pohon yang sangat rindang, dan merupakan satu-satunya kursi di sana. Jung Soo mengikutinya, dan duduk di sampingnya.

“Tahukah kau, oppa?”

“Mwo?”

Min Sun menyenderkan kepalanya di bahu oppanya.

“Aku melakukan ini kemarin.”

“Dengan Kyu?”

Min Sun hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian ia beranjak ke bawah kursi taman. Ia mendapati sebuah kotak dan kemudian membuka isinya.

“Sekarang adalah waktu untuk mengetahui hadiahnya.” Ujar Min Sun lirih.

Ia pun membuka kotak itu dan mendapati sebuah surat. Setelah itu ia mengambilnya dan membacanya.

*NORMAL POV END*

 

*MIN SUN POV*

“Tahukah kau, oppa?”

“Mwo?”

Aku menyenderkan kepalaku di bahu oppa.

“Aku melakukan ini kemarin.”

“Dengan Kyu?”

Aku hanya mengangguk. Kemudian aku teringat pesan terakhir dalam surat Kyu, dan beranjak ke bawah kursi taman. Di sana aku mendapati sebuah kotak dan mengambilnya.

“Sekarang adalah waktu untuk mengetahui hadiahnya.” Ujarku lirih.

Aku pun membuka kotak itu dan mendapati sebuah surat. Surat lagi? Setelah itu aku mengambilnya dan membacanya.

Min Sun..

Apa kau ingin tahu apa hadiahmu?

Akan kuberitahu hadiahmu.

Seandainya saja kau tahu, mata yang sekarang kau pakai adalah mataku.

Jadi, tolong jangan beranggapan kalau kau tidak akan bisa melihat dunia lagi bersamaku.

Aku ada disana, di matamu.

Bila kau merindukanku, kau bisa lihat ke dalam bola matamu, dan disana kau akan melihat sosokku.

Jangan salahkan dirimu, aku memang mengorbankan mataku untukmu, tapi aku melakukan itu karena aku mencitaimu dan umurku yang sudah tak lama lagi..

Aku mengidap penyakit kanker stadium akhir, dan aku berniat menyumbangkan mataku untukmu.

Jagalah mataku yang kini ada padamu ini, seperti kau menjaga orang yang berarti bagimu.

Aku harap kau juga mencitaiku.

Sekali lagi, saranghae Min Sun.

 

“Na ddo, kyu. Na ddo.”

Butiran bening kembali mengenangi mataku. Aku menangis dalam diam, rasanya tak sanggup menerima kenyataan kalau ia sudah tiada. Aku bersandar ke bahu Jung Soo oppa, dan dibalas dengan belaian lembut dari tangannya.

Cho Kyuhyun, aku berjanji. Aku akan menjaga matamu sampai aku mati. Jika kita bertemu lagi, aku ingin merasakan cintamu yang hanya sebentar itu. Kapanpun, entah itu di kehidupan yang mendatang atau yang lainnya.

-END-

~EPILOG~

*NORMAL POV*

Seratus tahun kemudian..

Seorang yeoja bernama Park Min Sun sedang menunggu oppanya di depan pintu masuk toko buku. Merasa kesal karena sudah lama menunggu, ia memutuskan untuk pulang sendiri.

Ketika ia sedang menyeberangi jalan, sebuah mobil melaju kencang ke arahnya. Ia sudah menutup matanya, mengira hidupnya akan segera berakhir. Tapi, ternyata tidak. Ia merasakan sebuah tangan yang menarik tubuhnya ke sisi lain jalanan. Dengan perlahan, ia membuka matanya.

“Gwenchana?” tanya seseorang yang tadi menariknya, seorang namja.

Mata Min Sun terbelalak, ia merasa mengenal namja di depannya itu, dan kejadian yang baru saja terjadi. Ia pernah mengalaminya, bersama namja ini, beratus tahun yang lalu.

“Neo.. Kyuhyun?” tanyanya, masih dengan mata terbelalak.

“Ne, ternyata kau masih mengingatku, Min Sun.”

****

Cinta yang tulus tidak akan lekang oleh waktu, keadaan, maupun strata sosial. Cinta tidak mengenal itu semua. Cinta hanya mengenal kata ‘dirimu’, ‘diriku’, dan ‘kita’. Keabadian adlah salah satu kesempurnaan yang indah. –Salsa-

****

Gimana readers? Ancur, yak? Haha, karena ancur, saya butuh komen, saran, dan kritik kalian. Jeongmal gomawo