[CHAPTER 2] MY ADORABLE FIANCEE

 

Author : Madhit

 

Genre : Romance

 

Length : Chaptered

 

Main Cast

* Park Chiyoon as herself

* Super Junior Lee Donghae as himself

* Jessica Jung as herself

* Song Seung Hoon as Jun So Min

* Park Yoojin as herself

 

Disclaimer :

 

Cerita ini murni buatanku . Bisa dibilang FF pertama karena sebelumnya hanya menulis cerpen oneshot. Ohya, jika ada complain mengenai kesamaan karakter tokoh maupun alur cerita bisa langsung diberikan komentarnya. J

 

 

 

 

‘Tangan siapa ini ?’ Kulebarkan kedua mataku pada sosok di depanku untuk sekedar mengetahui siapa dia. Namun perbuatanku ini sia-sia, orang ini tidak menunjukkan dirinya siapa, bahkan berbicarapun tidak .Tebakanku mungkin saja ia adalah Junso, namun genggamannya kali ini terasa berbeda . Aku bisa berkata demikian karena sempat beberapa kali Junso menggenggam tanganku. Bibirku ingin berucap sesuatu hendak menanyakan siapa dia, ketika tiba-tiba jantungku berdetak dan sebuah suara membuatku shock.

 

“Sica? Kau baik-baik saja?” Ucap sebuah suara yang sangat familiar di telingaku , ini suara Lee Donghae. Ya benar ! Mengapa si brengsek ini bisa salah orang sih ?. Begitu mengenalinya, aku langsung melepaskan genggamannya seolah takut tertular penyakit darinya. Namun lagi-lagi tangan itu menarikku mendekatinya. Wah ini tidak benar, aku harus segera pergi darinya.

 

“Tungg..” Belum sempat aku selesai berbicara, ia melingkarkan lengannya di pundakku dan merangkulku dari belakang. Sepertinya ia menghirup aroma rambutku.

“Lepaskan aku!” Teriakku seraya menyergah tubuhnya yang menangkup punggungku. Saat itu juga lampu menyala dan alunan suara ayumi hamasaki berputar kembali. Kulihat wajahnya Nampak kaget pada awalnya, namun ia bisa segera menguasai dirinya seolah tak terjadi apapun.

“Mengapa kau bisa ada di sini?” Ucapnya dingin

“Mana kutahu? Apa kau amnesia? Kau lah yang menarikku!” Ucapku setelahnya aku meninggalkan pesta ini, benar-benar meninggalkan semua orang yang ada di sini. Sudah cukup puaskah ia membuatku kesal hari ini? Ia bertanya padaku seolah aku lah yang menuntun ia untuk mendekatiku. Mungkin jika kubiarkan, kejadian ini akan berlanjut ke sebuah acara ciuman karena kulihat ada beberapa pasangan yang

keasikan berciuman disebelahku. Setelah kupikir-pikir apa benar Donghae akan memberikan ciuman pada ‘Jessica bohongan’ yang tadi dipeluknya? Brengsek ! mengapa aku malah memikirkan hal itu? Sangat absurd memang aku marah karena apa, karena tadi donghae melakukannya dengan tidak disengaja sebab dia pikir Jessica lah yang sedang dipeluknya . Apa aku marah karena iri dengan Jessica? Aku sungguh muak. Bahkan aku sendiri kesulitan mendefinisikan perasaan apa ini. Tersakiti ? Ah lupakan!

 

 

Sesampainya di rumah, aku tidak langsung tidur di ranjangku namun lebih memilih menaiki atap rumah yang kini menjadi greenhouse karena banyaknya tanaman yang ditanam di sini. Greenhouse ini dulunya sangat dirawat oleh ayah, namun sejak ayah meninggal kegemarannya itu digantikan oleh aku, Yoojin maupun ibu walaupun tidak lebih dari mengingat hobi ayah. Kusandarkan tubuhku pada tembok dibelakangku dan beringsut untuk duduk. Atap rumah ini selalu saja kudatangi saat suasana hatiku diliputi kegalauan, entah galau karena apapun aku pasti kemari. Senang aku kemari, sedihpun aku kemari. Maka tak heran ibu selalu marah-marah saat esok paginya menemukan berbagai macam bungkus makanan ringan. Tanpa ditanyapun, aku pasti mengakuinya. Kali ini yang kubawa bukan beraneka ragam snack, melainkan 2 buah telur rebus yang sangat kugemari. Kutangkup satu buah telur yang agak hangat lalu kutempelkan ke dahiku dan kubenturkan pelan sehingga terasa sensasi menyenangakan. Kebiasaan ini selalu diikuti oleh Yoojin karena menurutnya, meski aneh memecah telur rebus dengan kepala namun ada seni tersendiri dan rasa nikmat di kepala dipercaya bisa menghilangkan pusing. Entahlah mitos darimana itu?! Yang jelas aku merasa sepertinya kurang jika aku hanya membawa dua biji saja.

 

“Chiyoon-ah! Kau tak benar ingin bunuh diri kan?” Suara Yoojin membuyarkan lamunanku. Ia beringsut mengikutiku dan duduk di sebelahku. Ditatapnya aku bersama dengan telur rebusku. Aku hanya meliriknya gusar.

“Ya! lihat dirimu! Tidak akan ada yang merebut makananmu! Makanlah pelan pelan!” Ia terkekeh sekilas karena melihat mulutku penuh dengan potongan telur-telur ini.

“Aku punya kabar , apa kau mau tahu ?” Ia mengucapakan dengan menerawang ke langit yang dipenuhi bintang.

“Aphvaa?” Ucapku sambil mengunyah masih dengan mulut penuhku

“Kau dengarkan saja, aku yang bicara!” Aku mengangguk cepat

“Kutanya sebentar, cukup anggukkan kepalamu jika setuju. Mengerti ?”

“Kau adikku ?” Aku mengangguk, pertanyaan macam apa ini?

“Kita sama-sama mencintai ibu kan?” Aku mengangguk lagi

“Tidak ingin ibu sedih, tidak ingin ibu kecewa, apalagi menangis” Aku mengangguk

“Kau juga tahu bahwa dua bulan lagi aku lulus dari sekolah menengah dan berangkat ke jerman untuk meneruskan program sarjana kedokteran yang sudah kuimpikan dari dulu” lagi lagi aku mengangguk. Kulahap lagi telurku yang masih tersisa dan mengunyahnya sambil memperhatikan Yoojin berbicara sambil menuliskan sesuatu.

“Kau tahu tugasmu disini? Menggantikanku menjaga ibu sementara aku memantaumu dari jauh sana.” Yoojin meneruskan perkataannya lagi

“Ku janji akan menuruti semua perkataan ibu kan ?”

“Begini..” yoojin menarik nafasnya agak dalam. Ekspresinya berubah sedikit serius.

“Ibu dan bibi Lee telah membuat kesepakatan untuk..” Aku mengerutkan alisku. Apa aku tidak salah dengar? Bibi Lee? Ibu Donghae? Ada apa dengannya dan ibu?

“Menjodohkan kau dengan Donghae” Rasanya seperti dentuman keras menghantam keras kepalaku . Nafasku sesak hendak berkata sesuatu bertepatan dengan tarikan

nafasku yang tiba-tiba ditambah dengan mulutku yang masih penuh dengan sisa telur yang belum kutelan. Sepertinya klep yang membuka-dan menutup saat bernafas dan menelan ini kebingungan karena kulakukan bersamaan. Jadilah aku sekarang sukses tersedak dan batuk-batuk.

“Uhukkk uhukkk” Yoojin Nampak kebingungan dan menuju ke bawah mengambilkan air minum karena aku tadi lupa untuk membawa. Ia ke atap lagi dan menyerahkan minuman itu padaku yang masih terbatuk.

“Pelan-pelan” Ia menepuk pelan pundakku.

“Ahh..” Kuhembuskan nafasku sambil sesekali berdeham kecil.

“Onni, apa tadi kau bilang??? Aku akan dijodohkann ??” Ucapku tak percaya. Saat ini yang kubutuhkan hanya membuat telingaku tuli untuk beberapa saat sehingga tak harus mendengarkan pernyataan konyol yang keluar dari bibir Yoojin. Bahkan otot-otot perutku bersiap akan memberikan sedikit kejangan karena sebentar lagi mungkin saja aku akan tertawa terbahak-bahak.

“Kau tenang sebentar. Ini masih sebuah rencana” Sebuah rencana konyol iya ! Dari ekspresi Yoojin yang kutangkap sepertinya ini sesuatu yang serius. Tidak main-main apalagi bohongan. DEG !! jantungku tiba-tiba berdetak tak selazimnya. Tolong Yoojin kumohon jangan ucapkan sesuatu yang tidak masuk akal lagi. Ini sungguh menakutkan, aku takut kejadian ini sungguhan.

“Chiyoon-ah, persiapkanlah dirimu. Sepertinya ibu tidak main-main. Ibu sudah merencanakannya sejak lama.” Aku memilih tidak menjawab dan mendengarkan ucapan Yoojin sampai selesai. Ternyata Yoojin tak melanjutkan perkataannya yang berkaitan dengan hal ini. Oke ini saja sudah cukup membuatku shock.

“Yasudah aku ke bawah dulu. Kau cepatlah tidur, sudah larut malam” Ucapnya kemudian menyentuh pipi ku pelan, ia memang sangat sayang kepadaku. Aku mengangguk pelan. Setelah ini aku tak tahu akan melakukan apa . Yang jelas, jika

sekarang kupaksakan untuk terlelap itu sangat tidak mungkin karena hal ini pasti akan menghantuiku sepanjang hari. Oh ini benar-benar menyebalkan.

 

 

 

Seminggu kemudian

 

“Perkenalkan murid baru di kelas ini , ia bernama Jessica” Aku yang awalnya sibuk mencatat tidak begitu memperdulikan ketika guruku menyebut sebuah nama yang pernah kudengar . Jessica, aku langsung menoleh seketika dan merutuk dalam hati mengapa justru yang kupikirkan benar-benar menjadi kenyataan? Bodoh bodoh

 

Jessica menampakkan sederetan gigi putihnya sekaligus memamerkan senyum menawannya. Ia masih mengenakan seragam sekolah lamanya. Siapa yang tidak tahu, Eunhwa International High School , terkenal dengan muridnya yang dari kalangan borjuis. Mengapa ia justru pindah ke sekolah menegah negri? Oh aku tahu, pasti karena dia! Aku menoleh ke belakang , mencari sosok yang sudah seminggu kuhindari dan ternyata ia sedang pura-pura membaca. Terlihat jelas!

“Annyong! Perkenalkan aku Jessica. Kalian bisa memanggilku Sica. Senang berjumpa dengan kalian. Mohon bantuannya, terimakasih” Ucapanya lalu guru menyuruhnya untuk memilih tempat duduk. Tanpa dikomando atau apa, Jessica langsung menuju ke kursi kosong di sebelah Donghae. Aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Bukankah ini keuntungan juga bagiku? Selama ada Jessica di dekatnya, maka ia akan menjauhiku? Dan Itulah yang aku inginkan.

 

flashback

Perihal kesepakatan ibu dengan bibi Lee, saat itu aku berusaha berkilah dengan menunjukkan rasa ketidaksukaanku terhadap Donghae.

“Ibu, jangankan bertunangan, berteman saja kita tidak pernah akur” Ucapku dengan wajah dengan sepuluh tekukan wajah.

“Chiyoon-ah, kau tak usah khawatir. Cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Yang terpenting sekarang ini adalah kecocokanmu dengan mertua . Bibi Lee sudah menginginkan kau sebagai menantunya semenjak kau kecil.”

Mataku terbelalak. Terdengar aneh memang, namun aku mencoba membiasakan ‘keanehan’ lain setelah ini.

“Sejak aku kecil ? Maksud ibu ?”

“Tidakkah kau ingat , waktu kecilmu dulu kau sering ibu titipkan ke bibi Lee. Kau yang masih kecil saat itu terlihat manis dan juga baik, setidaknya itulah yang diutarakan sahabat ibu waktu itu”

“Apa dia sebenarnya menginginkan seorang anak perempuan, bu?”

“Iya, ternyata Donghae lah yang lahir. Walaupun bibi Lee senang, namun ada secuil keinginan juga memiliki anak perempuan sepertimu”

Kalau begitu mengapa tidak memperlakukan Donghae sebagai perempuan saja? Bukankah itu lebih baik? jadi tidak akan ada Donghae yang dingin, kaku, dan menyebalkan itu di muka bumi.

“Bu..” Ucapku lirih

“Ya?”

“Apa Ibu serius ini demi kebaikanku dan ibu?? Bagaimana jika aku menolak?”

Alisku terangkat sambil menatap ibu penuh harap.

“Dari dulu , bibi Lee selalu menganggap kita layaknya saudara sendiri, begitu juga dengan ibu . Ibu menyayangi Donghae juga seperti menyayangimu. Kita lebih dari

hanya sekedar keluarga. Ibu ingin itu terjadi, mengikat dua keluarga menjadi satu dalam tali pernikahan anak ibu dan bibi Lee. Jika kau menolak, tentu ibu dan seluruh keluarga Lee akan kecewa dan sedih” Lagi-lagi harapanku sia-sia. Ibu ini adalah orang yang jika sudah memiliki prinsip, maka ia akan mempertahankan prinsipnya itu selamanya. Ia selalu konsisten dengan apa yang diutarakannya, dan jiwa kepemimpinannya sangat teguh. Tak heran, kedudukan ibu sebagai direktur utama Golden Hotel mampu membentuk pribadinya hingga sejauh ini. Mungkin inilah bakat yang ibu wariskan ke aku. Mengenai konsisten terhadap komitmen, dan juga berprinsip kuat.

“Seluruh keluarga Lee? Maksud ibu ?”

“Bukankah sudah pernah ibu ceritakan bagaimana dekatnya ibu dengan keluarga Lee? Mereka semua sudah memberi restu pada mu. Apa yang kau bingungkan sayang?” Ibu mengelus puncak kepalaku. Ingin aku menangis di hadapannya dan mengatakan aku tidak ingin mengecewakannya, namun aku juga tak setuju dengan kesepakatannya mengenai hal ini. Ibu, ini sungguh berat.

“Bu, apakah ini ada kaitannya dengan bisnis ibu dan bibi Lee?” Aku sengaja mengatakannya karena mengantisipasi jikalau benar semua hanya soal bisnis.

Bibi Lee juga saat ini sedang mengelola perusahaan mendiang suaminya. Sebuah perusahaan yang berkecimpung di bidang elektronik dan alat rumah tangga. Jika benar, perjodohan ini didasari bisnis, mungkin saja ibu dan Bibi Lee berusaha menyatukan kedua pewaris perusahaan sebagai relasi untuk mengelola bersama-sama. Perutku serasa mulas membayangkan yang bukan-bukan.

“Apakah tempang ibu mirip dengan orang yang gila kekuasaan ?” Tiba-tiba saja wajahku serasa ditampar sebuah kayu. Bagaimana mungkin aku setega itu menuduh ibuku sendiri telah memanfaatkanku. Hal itu jelas-jelas tidak mungkin.

“Bukan itu bu, maksudku..”

“Ini murni karena kami ingin berbesan Chiyoon-ah. Ibu menjamin kau akan bahagia setelahnya. Dan memang itulah yang ibu harapakan. Ohya, 2 minggu lagi kami akan merencanakan pertemuan keluarga besar ” Ibu sangat yakin kelihatannya.

Ibu mencium pipiku, kemudian berdiri masih dengan menatapku.

“Bahagiakan ibu , bahagiakan ayah , bahagiakan yoojin, chiyoon-ah” DEG !!!

Saat ini, mulutku hanya membeku, sebeku hatiku, dan mungkin juga sebeku otakku yang mulai tak bisa berfikir. Kurasakan mataku memanas, dan air mataku tak kusangka-sangka menetes dengan sendirinya.

 

My Adorable Fiancee ,

To be continued

 

*

Annyong ? bagaimana kabar readers semua? Masih setia nunggu kelanjutan fict aku kan? Masih penasaran sama kisah Chiyoon dan Donghae? Oke oke.😀

Readers yang baik dan budiman, alangkah baiknya para readers memberikan komentarnya setelah membaca, dan lebih baiiiiikkk lagi kalau komentarnya itu gak sekedar “Lanjut Thor”, “bagus”, atau “jelek”. Aku menghargai buanget kok apapun komentar para readers mengenai fict aku ini. Tapi aku akan sangat berterimakasih kalo readers ngsih koment yang panjang atau apapun yang bikin aku semangat buat nulis kelanjutannya gitu😀.

Kritik apapun itu. Mau pedas, manis akan aku tamping jadi perbaikan fict aku kedepannya. Makasih makasih.

FIGHTING !!