Title: Time Traveler (Part 9)

Author: bangmil

Length: Continue

Genre: Romance, Sci-Fi

Cast: Han Sehyun (OC), Hoya (Infinite), Seungyeon (KARA), Infinite members

Happy reading~ ^^

***

Perlahan Sehyun meneguk segelas air putih. Ia menghela nafas berat begitu air yang ada di gelasnya sudah habis. Ia meletakkan gelasnya di sebelah tumpukan piring kotor lalu berbalik ke ruang tamu.

“Pagi.”

Suara seorang pemuda yang familiar menyapa Sehyun. Ia tersentak.

“Pa-pagi..” Ia membalasnya dengan singkat. Walaupun ia masih mengantuk dan penglihatannya belum begitu jelas, ia dapat melihat Hoya di sana, yang tampak sudah rapi. “Mau kemana?”

“Ke sekolah. Hari ini hasil tesnya diumumkan.” Hoya selesai menyiapkan barang bawaannya lalu menggendong tasnya. Ia menarik nafas pelan. “Semoga saja menyenangkan.”

Sehyun hanya mengangguk-angguk pelan. Entah kenapa ia merasa kikuk. Ingin mengatakan apa saja ia harus berpikir keras dulu. Sepertinya memang otaknya sedang tidak beres hari ini.

“Sehyun ssi?”

Sehyun mengerjapkan matanya sekali sebelum ia sadar kalau Hoya tampak bingung melihat ia yang tiba-tiba melamun itu. “Ya?”

Hoya terkekeh pelan. Ia berjalan menghampiri Sehyun yang masih gelagapan. “Aku pergi dulu.” Katanya, sambil mengacak-acak rambut Sehyun. Ia tersenyum sebentar, lalu berjalan menuju pintu.

Blam.

Terdengar suara pintu ditutup. Namun itu tak cukup membuat Sehyun sadarkan diri. Ia masih saja menatap pintu itu sambil tak berdekip. Ia merasakan pipinya mulai panas dan jantungnya berdetak kencang. Perlahan, ia mengusap rambutnya bekas acakan Hoya tadi. Ia kemudian tersenyum sendiri, seperti orang gila. Aduh, hari ini Sehyun kenapa sih?

“Nuna!”

“Huwaa!” Sehyun melonjak kaget begitu makhluk berambut cokelat itu tiba-tiba berada di belakangnya. “Ya! Kau mengagetkanku!”

Sungjong memajukan bibirnya. “Nih, lihat!” Ia menunjukkan sebuah kolom di koran pagi yang sukses membuat Sehyun terkejut lebih hebat lagi.

“Ada!” Seru Sehyun girang. “Ada, Sungjong ah!” Ia melonjak senang sambil diikuti oleh Sungjong. Akhirnya, jerih payah mereka bertiga berhasil juga. Nama Nam Woohyun sudah tertulis jelas di sudut koran itu. Sekarang tinggal menanti saja, semoga ia akan datang.

Sungjong menatap Sehyun yang sedang sibuk membaca isi koran tersebut. “Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”

Sehyun mengalihkan pandangannya ke arah Sungjong. Tidak biasanya ia seperti ini.

Sungjong tampak ragu. “Mm.. Tadi malam, nuna dan Hoya hyung..”

Mata Sehyun membulat. “K-kami tidak berciuman atau semacamnya!”

Sungjong belum selesai bicara dan Sehyun sudah memotongnya dengan ceroboh. Mulut Sungjong menganga saking kagetnya. “Hah? Kalian.. berciuman??”

Refleks Sehyun menutup bibirnya yang lepas kontrol itu. “Aku kan bilang tidak!”

Walaupun Sehyun mengelak berkali-kali, Sungjong mengacuhkannya. Tampaknya ia sekarang sedang asik dengan pikirannya sendiri. “Hoya hyung..” Matanya mengadah ke langit. “Dengan nuna..” Sepertinya Sungjong mulai membayangkan apa yang terjadi kemarin malam.

Sehyun memukul pundak Sungjong. “Ya! Tidak usah dibayangkan!”

“Arasseo, arasseo..” Sungjong pun tertawa melihat wajah Sehyun yang merah padam. “Ah, ngomong-ngomong aku lapar..” Ia memegangi perutnya yang kempes. “Bagaimana kalau kita cari sarapan dulu?”

***

Hoya memasuki rumahnya. Ia sedikit heran melihat suasana yang sepi. Tampaknya Sungjong dan Sehyun belum pulang dari luar.

Hoya menarik nafas dalam sambil menghempaskan diri di kasurnya. Ia menatap gembira secarik kertas yang ia pegang sedari tadi.

Kring, kring..

Ia terperanjat begitu mendengar deringan telepon yang jarang terdengar di rumahnya itu. Dengan cepat, ia berjalan ke ruang tengah dan mengangkat gagang telepon.

“Yeoboseyo? Ya, ini dengan Hoya.. U-umma?” Ia tersentak begitu mengetahui ibunya yang menelepon dari seberang sana. Alisnya mengerut, pandangannya tak menentu. Suara ibunya terasa seperti jarum yang menusuk kepalanya.

“Arasseo..” itu adalah kata terakhir yang Hoya ucapkan sebelum ia meletakkan gagang telepon itu kembali ke tempatnya. Ia terhuyung, namun sebelah tangannya masih mampu menopang badannya.

“Appa..” gumamnya pelan. Ia melangkahkan dirinya menuju kursi dan menghempaskan tubuhnya di sana. Pikirannya terasa kacau, ia tak bisa berpikir jernih sekarang.

Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Tampaklah seorang gadis berambut sebahu di sana yang cukup terkejut melihat keberadaan Hoya.

“Kau sudah pulang?” tanya Sehyun. Tapi yang diajak bicara diam saja tidak menjawab. “Ah, bagaimana nilaimu? Pasti bagus kan?” Ia mencoba mengajak Hoya bicara lagi tapi nihil.

“Hoya ssi..?” Sehyun merasa ada sesuatu yang berbeda. Hoya masih saja diam sambil menatap lantai. Pandangannya kosong. Sehyun menambahkan, “Wae?”

Hoya menarik nafas dalam-dalam. “Ayahku.. jatuh sakit.” Akhirnya ia angkat bicara juga. Namun bukan hal melegakan yang ia katakan. “Ia terkena stroke. Kemarin dia pingsan karena terlalu sibuk bekerja.”

Hoya berkata tanpa mengalihkan pandangan kosongnya. Bibirnya bergetar. “Sebenarnya.. ia melarangku untuk pergi ke Seoul. Ia juga melarangku menjadi penyanyi.”

Alis Sehyun terangkat. Ia menatap pemuda di hadapannya itu dengan terkejut. Tapi ia tak tahu harus mengatakan apa. Ia hanya terdiam di sana, sambil menunggu perkataan Hoya selanjutnya.

“Sejak sebulan yang lalu, usaha keluargaku merosot dan mengalami kerugian besar di sana-sini.” Jelas Hoya. Matanya mulai berkaca-kaca. “Walaupun aku tahu itu, tapi aku tetap bersikeras untuk tidak pulang.”

“Tapi.. itu bukan salahmu jika ayahmu jatuh pingsan, kan?” Sehyun mencoba menghibur.

“Ya, tapi.. aku terus saja bernyanyi tanpa mempedulikan keadaannya seperti orang bodoh.” Hoya meremas-remas kertas yang ia dapatkan di sekolah tadi dengan kasar. “Apa yang sudah aku lakukan? Sial!”

“Hoya, hentikan!” Seru Sehyun begitu Hoya menyobek-nyobek kertas tersebut. “Mereka pasti mengerti-”

“Diam!”

Sekujur tubuh Sehyun kaku begitu Hoya membentaknya. Sedingin apapun sifat Hoya, ia tak pernah semenakutkan ini. “A-aku..”

“Kau tidak tahu.. Kau tidak mengerti bagaimana rasanya punya ayah!” Dengan kesal Hoya berlari keluar rumah. Sebelah pundaknya menabrak Sungjong yang baru saja akan masuk ke dalam rumah.

“Hyung!” panggil Sungjong namun Hoya mengacuhkannya. Ia menghela nafas, lalu mengalihkan pandangannya pada Sehyun yang masih syok. Terlihat jelas genangan air yang mengkilat dari kedua bola mata gadis itu.

“Nuna..”

***

Sehyun meletakkan piring-piring dan gelas yang baru saja ia cuci ke tempatnya masing-masing. Dengan pandangan yang masih kosong, ia berjalan ke halaman belakang. Senyum tipis terlukis di bibirnya begitu ia melihat baju-baju Sungjong yang dipinjamkan padanya itu melambai terkena angin.

“Sepertinya sudah kering..” Ia meraba kaos-kaos tersebut, lalu melepaskan penjepitnya. Dengan segera, ia menyeterikanya dan meletakkan baju yang sudah rapi itu di atas meja sebelah lemari Sungjong.

Sungjong sendiri sedang tidak ada di rumah. Setelah kejadian tadi, ia memutuskan untuk pergi menyusul Hoya, yang mungkin berada di rumah Sunggyu. Sehyun menggunakan kesempatan ini untuk berkemas-kemas. Sepertinya memang sudah waktunya dia pergi.

Sehyun berdiri. Ia merapikan seragam sekolah yang akhirnya ia pakai lagi sekarang. Dengan satu tarikan nafas dalam, ia berjalan keluar rumah tersebut lengkap dengan tasnya, seperti saat pertama kali ia datang dulu.

***

Siang berganti malam, dan malam sudah berganti pagi. Belasan jam berlalu setelah Sehyun pergi dari rumah Hoya. Sekarang ia sedang berada di dalam laboratorium SMP ibunya dulu, dengan harapan jikalau Nam Woohyun datang menghampirinya di sana.

Dengan menggigil, ia berjalan menhampiri sebuah rak yang berisikan gelas beaker dengan berbagai ukuran. Setidaknya dengan memanfaatkan segala perabotan yang ada, Sehyun masih bisa merasakan hangatnya teh pagi ini.

Dasar memang Sehyun yang ceroboh, di tambah matanya yang mengantuk dan belum sepenuhnya sadar akibat tidurnya yang sama sekali tidak nyenyak tadi malam, gelas beaker itu terpeleset dari tangannya. Refleks Sehyun menutup kuping dan memejamkan telinganya, takut mendengar suara gelas pecah.

Namun setelah sekian detik ia menunggu sambil berpose seperti itu, suara yang ia nantikan belum terdengar juga. Perlahan, ia mencoba membuka sebelah matanya.

“Eh??” Matanya membulat begitu mendapati gelas beaker yang ia jatuhkan tadi melayang di udara. Mulut Sehyun ternganga saking terkejutnya, heran melihat benda yang melawan gravitasi bumi itu.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari belakang Sehyun, yang makin lama mendekatinya. Sehyun menoleh. Ia melihat seorang pria paruh baya berjalan ke arahnya, lalu mengambil gelas beaker tersebut. Dengan tenang, pria itu meletakannya kembali ke tempat semula.

“Jadi kau kah yang memanggilku kemari?” tanyanya tegas. Matanya berbalik menatap Sehyun.

Alis Sehyun terangkat. “Apa mungkin.. Nam Woohyun ssi?”

Pria tadi tetap menatap datar Sehyun. “Siapa kau?”

“Han Sehyun imnida.” Jawab Sehyun. Melihat lelaki itu alias Woohyun kebingungan, ia menambahkan, “Puteri Han Seungyeon.”

Seketika mata Woohyun terbelalak. “Han.. Seungyeon?”

Sehyun mengangguk cepat.

“Siapa yang membuat ramuannya?”

“Ibu.”

“Seungyeon ssi yang membuatnya?”

“Ne.” Sehyun mengangguk. “Ia membuatnya agar dapat bertemu dengan anda, tapi sayangnya ia mengalami kecelekaan. Sekarang ia sedang dirawat di rumah sakit, jadi.. aku yang mewakilinya pergi kemari.”

Alis Woohyun mengerut. Dari wajahnya tersirat kekhawatiran. “Bagaimana kondisinya?” tanyanya, yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Sehyun. Ia menghela nafas pelan. “Aku mengerti..”

Keadaan berubah menjadi sunyi. Sebenarnya banyak hal yang ingin ditanyakan Sehyun, tapi tiba-tiba otaknya menjadi blank.

Setelah beberapa menit, Sehyun akhirnya mulai membuka pembicaraan. “Seharusnya.. aku pergi ke April 1972, tapi aku membuat kesalahan.” Katanya, sambil tertawa dipaksakan. “Tapi kenapa.. anda bukan anak SMA?”

Woohyun tersenyum ringan. “Sebenarnya.. aku datang dari tahun 2968.”

Sehyun tersentak. “2968..?”

“Aku mendapat berita kalau ada seseorang yang memasuki lorong waktu dan mencari orang bernama Nam Woohyun, padahal ramuan itu seharusnya belum diciptakan sebelum tahun 2166. Maka dari itu, aku mengikuti jejakmu dan sampai ke masa ini.”

“Berita?”

“Koran. Pencarian orang hilang.”

Tawa kecil terdengar dari bibir Sehyun. “Ah.. jadi benar-benar sampai di tahun 2968,” Ia memandang Woohyun yang sedang menatapnya datar. Ia menambahkan, “Hebat.”

“Jadi.. walaupun ingatannya sudah dihapus, ia masih mencariku?” Woohyun mulai bertanya lagi.

Sehyun mengangguk. “Ia bilang, ‘janji waktu itu belum terhapus’.”

Woohyun mengucapkan kata ‘oh’ diikuti anggukan mengerti. Sehyun menatapnya tajam. “Tolong beritahu aku. Apa janji yang sudah anda buat dengan ibuku?”

Woohyun memandang Sehyun sesaat, lalu ia menarik nafas dalam-dalam. Detik kemudian, ia mulai bercerita tentang asal mula kisahnya dulu. “Di tahun 1972, aku sedang menjalankan suatu eksperimen dan datang ke jaman ini menggunakan ramuan tersebut. Tapi, tanpa sengaja aku lupa membawa ramuan untuk pulang.”

Perlahan ia melangkah sambil membelai meja laboratorium yang mengingatkannya dengan kenangan masa lalu. “Karena itu, aku sementara hidup disini sambil membuat ramuan untuk pulang.” Ia tersenyum tipis. “Dan saat itu.. aku bertemu dengan ibumu.”

Sehyun memperhatikan Woohyun dengan seksama. Ia tak berkedip barang sekalipun, dan mendengarkan ceritanya dengan rasa penasaran. “Lalu?”

“Ia tak sengaja menghirup bau ramuan itu. Dan bau itu adalah.. wangi bunga lavender.” Woohyun berhenti dan menatap Sehyun yang seperti duplikat Seungyeon waktu muda dulu. “Ketika itu ia jatuh cinta denganku. Tapi apapun yang terjadi, aku harus kembali ke masa depan. Aku juga harus menghapus ingatannya tentang keberadaanku. Karena itu adalah peraturannya.”

(flashback)

“Suatu saat nanti.. apa kau akan menemuiku lagi?” Di tempat yang sama, laboratorium itu, Seungyeon muda sedang duduk di hadapan Woohyun muda. Mereka berdua tampak sedang membicarakan sesuatu hal yang serius.

Woohyun menatap Seungyeon yang hampir menangis. “Ya, suatu saat nanti. Bukan sebagai Nam Woohyun yang sekarang, tapi seseorang yang berbeda.”

Seungyeon menghela nafas berat. Ia mencengkeram kuat lengannya untuk menahan air mata yang akan segera jatuh. “Walaupun ingatanku sudah terhapus, hatiku tidak akan pernah melupakan janji ini.”

Woohyun hanya bisa mengangguk. Ia tak yakin dengan janji itu, tapi yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menyemangati gadis itu. Perlahan ia meletakkan telapak tangannya di

depan mata Seungyeon, lalu mengusapnya pelan. Dan setelah itu, penglihatan Seungyeon menjadi gelap, semakin gelap hingga ia tak sadarkan diri.

(flashback end)

“Dengan ini, tugasmu sudah selesai. Kau harus segera kembali ke masa depan.” Ujar Woohyun tegas. “Kewajibanku sekarang adalah menghapus ingatanmu, juga menghapus ingatan orang-orang yang telah kau temui.” Ia meletakkan telapak tangannya di depan mata Sehyun, seperti yang ia lakukan pada ibu gadis itu dulu.

“T-tunggu sebentar!” Sehyun setengah berteriak, membuat Woohyun tersentak. “Aku ingin bertemu dengan seseorang. Setelah itu, aku akan pulang ke masa depan.”

Woohyun menarik tangannya kembali. Ia mengangguk pelan. “Baiklah. Akan kutunggu sampai nanti malam.”

***

“Hyung!” seru Sungjong girang, melihat kakak semata wayangnya itu masuk dari pintu rumahnya. Semalaman Hoya tak pulang ke rumah, dan itu membuatnya khawatir. Namun ia juga tak mencari Hoya, karena ia mengerti kakaknya butuh waktu untuk sendiri.

Hoya menghempaskan tubuhnya di kursi. Sorot matanya masih terlihat sedih, menggambarkan banyak hal yang berkecamuk di otaknya. Ia bersandar, memejamkan matanya perlahan, membiarkan ketenangan merasuki telinganya.

“Aku sudah putuskan.” Katanya tiba-tiba.

“Putuskan apa, hyung?”

“Nanti malam aku akan pulang ke Busan,” Hoya membuka matanya sambil menatap Sungjong. “Karena kau masih ada ujian kau harus tetap tinggal disini.” Ia berkata dengan tegas, seolah-olah tak ada yang boleh membantah perkataannya.

“Arasseo..” Sungjong menggumam pelan. Ia sebenarnya ingin ikut, tapi bagaimanapun juga ia tak bisa melakukannya.

Sungjong mengalihkan pandangan ke kakaknya. Hoya tampak sedang menengok kanan dan kiri, seperti mencari sesuatu. Sungjong tersenyum tipis. Ia memberikan secarik kertas kecil pada Hoya.

Mata Hoya menyipit, merasa asing dengan barang pemberian Sungjong. Ia pun membukanya, dan mendapati beberapa deret huruf tertulis di sana.

“Aku tunggu di tempat pertama kali kita bertemu dulu. Sehyun.”

Mata Hoya tertuju pada Sungjong. Ia menatap adiknya yang tersenyum sambil memberi isyarat padanya untuk segera pergi menemui Sehyun. “Tadi pagi-pagi sekali sepertinya nuna kesini. Ia meninggalkan kertas ini.”

Hoya beranjak dari kursinya. “Gomapta.” Itu kata terakhir yang dia ucapkan pada Sungjong sebelum menutup pintu rumah mereka.

Kini Hoya sudah berada di jalanan. Tiba-tiba ingatannya tentang pertama kali ia bertemu Sehyun dulu kembali menyeruak memasuki pikirannya. Entah kenapa dadanya terasa sesak, ada sesuatu yang membuatnya ingin bertemu dengan Sehyun sekarang juga.

Tanpa sadar kakinya melangkah lebih cepat. Tak sabar, ia pun mulai berlari, dengan pikiranya yang dipenuhi oleh gadis itu. Wajahnya, suaranya, senyumnya, bahkan tingkah lakunya yang aneh sekalipun.. ia merindukannya, sangat.

***

Sehyun sedang duduk sendiri di sebuah taman. Taman sekolah Woollim, tepatnya. Itu adalah tempat dimana ia jatuh dulu.

Hawa dingin menyelimuti sekelilingnya, membuat ia memasukkan jemarinya ke dalam saku seragamnya, hangat. Pandangannya tertuju ke arah robekan-robekan kertas yang baru saja selesai ia rangkai menjadi satu kembali. Perlahan, seulas senyum terlukis di bibirnya. Mata kecilnya tertuju ke huruf A+ yang tertulis di antara deretan tulisan di dalam kertas tersebut.

Tiba-tiba angin kencang berhembus ke arahnya, membuat robekan-robekan tadi berhamburan ke segala arah. Ia mendecih kesal, lalu beranjak dari kursinya dan menjumputi robekan-robekan kertas tersebut. Baru saja ia ingin mengambil bagian yang terakhir, tangan seseorang sudah mendahuluinya.

“Kau menyimpan ini ternyata?”

Suara pemuda itu membuat Sehyun tersentak. Ia mendongak, mendapati wajah Hoya yang tersenyum sambil menyerahkan robekan itu padanya.

Sehyun berdiri dan merapikan bajunya. “A-annyeong.” Ia segera mengambil robekan itu lalu kembali duduk. Ia akui ia sedikit gugup.

Hoya pun ikut duduk di sebelah Sehyun. Sekarang ia sudah menemuinya, melihat wajahnya, tapi ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya diam di sana, membiarkan Sehyun yang memulai pembicaraan.

“Kau kenapa keringatan?” pertanyaan Sehyun yang tanpa basa-basi itu terasa menusuk dada Hoya tajam.

Ia berusaha menutupi kegugupannya sambil tertawa ringan. “Aku sedang ber-jogging dan tak sengaja melihatmu disini.” Katanya berbohong. Sepertinya ia lupa kalau beberapa menit yang lalu ia seperti orang bodoh yang berlarian tak tentu arah.

Sehyun tertawa pelan. “Kau memang suka jogging di hawa dingin ya.” Ya ampun, Sehyun.. semudah it kau percaya pada Hoya?

“Aku sudah menyampaikan pesan ibuku.” Lanjut Sehyun, membuat Hoya terkejut.

“Benarkah? Aku juga ingin melihat wajah pemuda bernama Nam Woohyun itu.”

Alis Sehyun terangkat. “Wae?”

Hoya tertawa pelan sebelum menjawab Sehyun. “Aku ingin meminta pertanggung jawaban karena gara-gara dia ada gadis aneh yang menginap di rumahku selama hampir satu bulan, hahaha..”

“Ya!” Sehyun memukul pundah Hoya keras. Mm, mungkin seharusnya mereka berdua berterima kasih pada Woohyun. Karena dia, mereka berdua bertemu kan?

Hoya berangsur-angsur menghentikan tawanya. “Ah, iya. Nanti malam, aku akan pulang ke Busan.”

“Bersama Sungjong?”

“Tidak. Dia masih ada ujian, jadi terpaksa tinggal disini sampai ujiannya selesai.” Hoya menghela nafas panjang. “Besok kalau aku sudah sampai, aku akan meneleponmu.”

Sehyun hanya mengangguk lemah. “Mm.. besok..” Tiba-tiba ia tampak teringat akan sesuatu. “Ah. Besok adalah hari ulang tahunku.” Ia terkekeh pelan. “Aku hampir lupa.”

Hoya merogoh saku jaketnya, lalu mengeluarkan secarik kertas yang ia masukkan dalam sebuah amplop kecil. Tanpa berkata apapun, ia memberikannya pada Sehyun.

“Ini apa?”

Hoya tersenyum ringan. “Itu adalah partitur piano dari lagu yang aku tulis. Juga kemarin aku sudah menemukan judul yang pas untuk lagu itu.”

“Judul? Apa?”

“Tertulis di situ.”

“Aku buka sekarang ya?” Sehyun bersiap untuk membukanya sebelum akhirnya Hoya mencegahnya. “Wae?” Ia menatap Hoya protes. “Ah.. aku tahu. Judulnya jelek ya? Pasti aneh.”

Hoya menatap Sehyun kesal. “Tidak. Aku sudah meminta pertimbangan Sunggyu hyung, dia bilang itu bagus kok.” Ia menambahkan, “Tapi masih ada beberapa bagian yang liriknya belum selesai kutulis.”

“Aku akan pulang secepatnya. Jadi..” Hoya menarik nafas dalam-dalam. “Kuharap nanti kita bisa menulisnya bersama-sama. Yah, setelah aku pulang.”

Sehyun terkejut mendengar penuturan Hoya yang tak biasanya. Ia jadi tidak tahu harus menjawab apa.

“Itu adalah kado ulang tahun untukmu dariku. Simpan baik-baik.” Ujar Hoya lagi.

Senyum mengembang di bibir Sehyun. “Gomapta.” Selama sembilan belas tahun ia hidup, baru kali ini ia mendapat kado yang berarti seperti itu. “Ah, iya. Ada sesuatu yang kau inginkan?”

Alis Hoya mengerut bingung. “Maksudnya?”

“Yah.. aku pikir aku sudah banyak merepotkanmu, Sungjongie juga. Mungkin aku bisa lakukan sesuatu untuk membalas kebaikan kalian.”

Hoya mengangguk-angguk mengerti. Setelah berpikir agak lama, akhirnya Hoya angkat bicara juga. “Baiklah.” Ia menghela nafas, lalu menatap Sehyun dalam. “Panggil aku oppa.”

“Mwo??” Saking terkejutnya, Sehyun tidak sadar kalau ia setengah berteriak.

“Panggil aku oppa.” Hoya mengulang permintaannya sekali lagi, tanpa menghiraukan keterkejutan Sehyun.

“Aiss, shireo!” Sehyun melempar pandangannya ke arah lain. Memanggil Hoya dengan oppa bisa membuatnya pingsan di sini karena menahan malu. Aigoo..

Hoya memajukan bibirnya. “Katanya kau mau melakukan apa saja.”

“Selain itu.”

“Tidak ada. Cepat panggil aku oppa.”

“Shireo.”

“Palli.”

“Shireo.” Sehyun menatap Hoya. Sorot matanya yang tajam seolah mengatakan kalau ia sangat tidak ingin melakukan hal itu.

Hoya menghela nafas pelan. “Cepat. Bagaimanapun juga kau ini kan lebih muda dariku.” Tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikirannya. “Kalau tidak..”

Sehyun was-was melihat Hoya yang tiba-tiba mengancam seperti itu. “K-kalau tidak apa? Sekali tidak mau, aku tetap ti–”

Kata-kata Sehyun terpotong begitu ia merasakan Hoya mengecup bibirnya singkat. Ia diam kaku seperti patung, tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sementara Hoya justru terkekeh melihat reaksi Sehyun yang berlebihan seperti itu. Terkadang, Hoya bisa cukup berani juga..

“Aku kan sudah memperingatkanmu.” Kata Hoya, lebih tepatnya memojokkan Sehyun.

Sehyun yang sadar kembali ke alamnya mendadak kebingungan. Wajahnya merah padam. “Tapi kan–”

“Makanya, cepat panggil aku oppa.” Belum selesai Sehyun memprotes, Hoya sudah menyelanya dengan cepat. “Kalau masih tidak mau..”

“Arasseo, arasseo!” Kini Sehyun yang mencoba bertindak tegas. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu berdehem beberapa kali. Baru setelah itu, ia angkat bicara.

“Hoya oppa.” Katanya sambil memalingkan wajahnya ke arah berlawanan.

“Kau ini.. kalau bicara harus berhadapan dengan orangnya.” Ujar Hoya. Ia memutar wajah Sehyun hingga berbalik memandangnya. “Ulangi.”

Sehyun mendengus kesal. “Hoya oppa.”

“Kurang keras.”

“Hoya oppa.” Sehyun mengulanginya lagi, membuat Hoya geli.

“Aigoo, wajahmu merah.” Katanya, sambil mencubit kedua pipi Sehyun dengan jemarinya. Sehyun baru sadar kalau selama ini Hoya hanya mempermainkannya.

“Ya!” Sehyun mencoba menyingkirkan tangan Hoya dari kedua pipinya, namun tiba-tiba Hoya justru memeluknya.

“Sekarang panggil aku oppa.” Hoya tetap saja bersikeras membuat Sehyun memanggilnya dengan sebutan itu.

Sehyun yang mematung itu hanya menurut. “H-hoya oppa.” Katanya dengan terbata-bata.

Hoya tersenyum puas. Mengerjai Sehyun adalah hal yang menyenangkan juga. Yah, sebenarnya itu hanya alasan sih. Yang Hoya inginkan adalah melihat wajah dan ekspresi Sehyun, dan menghabiskan waktu bersamanya.

“Mm.. Hoya ssi–”

“Oppa.”

“Ah, iya. Oppa, bukankah gawat kalau ada yang melihat?”

“Tidak, tenang saja.” Hoya menepuk pundak Sehyun. “Aku tahu kau kedinginan.”

Seketika pipi Sehyun memerah, begitu mendengar perkataan Hoya. Ia yang kebingungan hanya mampu melihat sekeliling, memastikan tidak ada orang yang melihat mereka berdua sekarang. Walaupun begitu, ia merasakan kehangatan yang menyeruak ketika Hoya memeluknya. Seulas senyum pun terlukis di bibir tipis Sehyun. Perlahan, kedua tangannya merangkul pundak Hoya.

“Maaf, kemarin aku sudah berkata kasar padamu.” Ujar Hoya pelan.

“Tidak. Aku tidak apa-apa, kok.”

Kedua insan itu cukup lama berada dalam posisi seperti itu. Namun dua-duanya tak ingin segera mengakhiri kehangatan yang menyelimuti mereka berdua.

Tiba-tiba Hoya terkekeh pelan. “Jantungmu berdetak kencang sekali.”

Sehyun memukul pundak Hoya. “Kau juga, babo.”

“Babo??” Hoya sedikit terkejut mendengar dirinya dikatai seperti itu. Ia melepaskan pelukannya.

Sehyun hanya tertawa kecil sambil menjulurkan lidahnya.

Hoya menghela nafas pelan. Ia mengacak rambut Sehyun lalu beranjak dari tempat duduknya. “Sudahlah, aku harus segera pulang. Jam sebelas malam nanti aku berangkat.”

“Hati-hati di jalan.”

Hoya tersenyum sambil berjalan meninggalkan Sehyun. Sesekali ia menengok ke belakang, “Besok aku akan meneleponmu!” serunya.

Sehyun tersenyum tipis. Ia melambaikan tangannya pada Hoya yang sudah tampak jauh. Walaupun tersenyum, dalam hati ia merasa tidak menentu. “Besok.. saat kau kembali, aku sudah tidak ada di sini lagi..”

Sehyun menunduk. Rasanya air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi. Ia mendongak dan mendapati Hoya yang sudah jauh disana. Tanpa berpikir panjang, Sehyun berlari. Hati kecilnya berkata ia tidak ingin berpisah dengan Hoya.

Brukk

Hoya terkejut mendapati Sehyun memeluknya erat dari belakang, dengan isakan tangis yang semakin lama semakin menjadi.

“Gomawo..” Ucap Sehyun disela tangisannya. “Terimakasih atas semuanya.”

Kesunyian tiba-tiba menyelimuti mereka berdua. Hanya terdengar isakan Sehyun yang tak kunjung berhenti. Sementara Hoya hanya terdiam, pandangannya kosong. Tangannya menggenggam tangan Sehyun yang dingin.

Hoya berbalik arah, memandang wajah Sehyun yang basah terkena air mata. Perlahan ia mengusap pipi Sehyun, menghilangkan jejak-jejak tangisnya. “Jangan menangis.”

Ia menyibakkan poni Sehyun, lalu mengecup dahinya pelan. Ia memandang Sehyun sambil tersenyum tipis. “Aku pergi.”

(To be continued..)

***

Woah, another long chapter~ Cerita sudah mendekati akhir readers, bersiaplah! Hehehe ^^

(Next chapter)

“Entah kenapa.. aku merasa mencium wangi yang nostalgik.”

“Kau tidak apa-apa?”

“Aku akan segera turun!”

“Eh? Dongwoo ssi?”

“Dia.. mirip sekali denganmu.”

“Saengil chukka, Sehyun ah!”

“Sekarang aku akan mengembalikanmu ke masa depan.”

“Hoya?”

“Hoya??”

“Hoya!”

***