Title : My Fake Ordinary Wife (part3)

Author : Lumie91

Main Cast : Kim Jongwoon/Yesung(Super Junior), Shin Hyeni (OC), Park Yunhee(OC), Lee Hongki (FT Island)

Support Cast : Lee Hyukjae, Lee Eunri, Lee Donghae, Shim Changmin, Kim Yoojin/Uee

Rating : (aku gak ngerti, tapi yang pasti gak ada macem-macemnya)

Genre : romance, comedy

Ps : Author masih baru di bidang per ff-an. Ini adalah ff pertama author dan author sendiri baru belajar nulis ff. Kalau ada kemiripan tokoh, cerita, latar, dll, author mohon maaf karena tidak disengaja karena author gak tahu apa-apa. Gomawo~ ff ini udah author publish di blog author yang baru ajah di buat belum lama ini (http://lumie91.wordpress.com )

Disclaim : ff ini murni buatan dan hasil pikiran author sendiri yang dibuat dengan susah payah, tolong dihargai dengan tidak mengkopasnya yah… ^^

 

Hyeni POV

 

Apa-apaan namja gila satu itu. Seenaknya saja mengakui bahwa aku adalah calon istrinya. Lebih parah lagi dia telah menciumku. Aghhh… kesal rasanya. Dia telah merebut ciuman pertamaku. Sungguh menyebalkan.

 

Selama ini aku tidak pernah mempunyai kekasih sekalipun. Tentu saja aku juga tidak pernah berciuman dengan seorang namja manapun. Dan dia, padahal baru saja bertemu hari ini, seenaknya menciumku tanpa ijin. Aku benar-benar membencinya. Yesung~ssi, aku tidak akan pernah melupakan nama namja kurang ajar itu.

 

Aku masih berjalan dengan perasaan kesal. Kutendang kerikil kecil di jalan.

 

“Menyebalkan!!” teriakku.

Kulangkahkan kakiku menuju halte bus dekat Gereja. Lebih baik aku pulang dan mempersiapkan diri untuk pekerjaan baruku besok. Ya, hari ini aku diterima menjadi office girl di sebuah perusahaan terkenal di Seoul, bahkan cukup terkenal di Korea. Sekalipun pekerjaanku terkesan tidak penting, tapi aku tidak akan merasa rendah diri. Apapun pekerjaanku, aku harus tetap bangga dan melakukannya dengan kemampuan terbaikku.

 

Kulihat bus yang akan kunaiki mendekat. Aku merogoh tasku untuk mengambil dompetku. Lho? Mana dompetku?

 

Kucari-cari dompetku dengan tanganku tapi tak kunjung merasakan keberadaannya di tasku. Ku angkat tasku supaya aku dapat melihat isi di dalamnya. Tidak ada. Dompetku hilang!

 

“Nona, apakah anda mau naik?” tanya ajjushi yang adalah sopir bus itu.

 

“Ne, chakhaman.” ujarku sambil terus mencari dompetku. Tapi setelah beberapa saat tak kunjung menemukannya, “Maaf, ajjushi, sepertinya aku tidak jadi naik.”

 

“Arra,” jawab sopir bus itu. Tak lama kemudian pintu bus tertutup dan bus itupun berlalu dari hadapanku. Aku masih memasukkan tanganku ke dalam tas. Berharap menemukan dompetku. Tapi ternyata dompetku memang tidak ada di sana. Apakah aku lupa membawa dompet? Tidak mungkin. Jelas-jelas dompet itu ada waktu aku naik bus pertama kali saat akan datang ke Gereja. Apakah terjatuh?

 

Aku menyusuri jalan yang tadi telah kulalui. Mataku melihat kesana-kemari mencari dompetku yang mungkin terjatuh entah di mana. Akhirnya aku tiba di tempat tadi aku turun dari mobil namja gila itu, akan tetapi aku masih belum menemukan dompetku.

 

Langkahku semakin mendekat ke arah Gereja. Aku masih takut jika para wartawan itu masih ada di sana. Kakiku berhenti melangkah ketika berada di depan halaman Gereja. Mataku melirik ke berbagai arah. Tidak ada siapapun di sini. Sepertinya para wartawan itu telah pergi. Dengan takut-takut aku melangkah masuk ke halaman Gereja. Menyusuri jalan setapak yang ditutupi pepohonan rindang, menaiki anak tangga satu demi satu hingga membuka pintu Gereja.

 

Terbayang lagi dalam otakku apa yang terjadi beberapa waktu lalu. Namja dila itu menciumku di sini, di depan pintu Gereja. Aghh… aku tidak mau mengingat kejadian itu lagi. Dengan cepat aku masuk ke dalam gedung dan terus mencari dompetku. Sampai di depan altar aku menuju bagian belakang organ tempatku bersembunyi tadi. Ku cari dompetku di sana, mungkin terjatuh saatku bersembunyi.

 

“Tidak ada,” gumamku lemas ketika tidak juga menemukan dompetku di sana. Sepertinya dompet itu benar-benar hilang entah ke mana. Aku harus pulang jalan kaki hari ini.

 

***

 

Jongwoon POV

 

Aku memarkirkan mobilku, ku ambil dompet yeoja gila itu yang dari tadi kuletakkan di kursi sebelahku. Aku turun dari mobil dan masuk ke dalam apartemenku.

 

Tubuhku rasanya sangat lelah. Kulirikkan mataku ke arah jam dinding, pukul 6 sore. Aghh… seharusnya sekarang aku sedang ada di restaurant yang sudah kupesan untuk makan malam bersama Yunhee, seandainya dia menerima lamaranku. Tapi rencanaku hari ini gagal total. Bukan hanya gagal, sekarang aku malah berurusan dengan yeoja gila yang tanpa pikir panjang telah kuakui sebagai calon istriku.

 

Aku masuk ke dalam kamar mandi. Aku ingin mandi untuk menenangkan emosiku. Otakku benar-benar sudah seperti benang kusut, kepalaku terasa berat. Kunyalakan shower dan kupenjamkan mataku. Terbayang wajah Yunhee yang kucintai.

 

Aku membayangkan saat-saat kami pertama kali bertemu. Dua tahun lalu, di sebuah acara sosial yang diadakan oleh kampusnya. Dalam acara itu aku diundang sebagai bintang tamu. Kemudian aku melihatnya sedang tersenyum sambil berbicara kepada seorang nenek tua. Aku langsung tertarik padanya ketika melihatnya begitu manis saat tersenyum. Ketika waktu istirahat untuk makan siang, aku mencarinya. Kutemukan dia sedang menyuapi seorang anak perempuan berusia sekitar 4 tahun.

 

“Annyeonghaseo..” sapaku.

 

“Oh.. Annyeonghaseo,” balasnya sambil menundukkan kepala.

 

“Boleh aku duduk di sini?”

 

“Ne, silahkan,” katanya mempersilakanku duduk di sebelahnya sambil sedikit bergeser agar aku mendapat space yang lebih luas.

 

Selanjutnya kami berbincang sepanjang jam istirahat. Aku begitu mengaguminya. Semua hal yang ada padanya. Wajahnya, senyumannya, caranya berbicara, caranya menatapku, aku jatuh cinta pada gadis ini.

 

Kami tetap berhubungan setelah acara sosial itu selesai. Satu bulan setelah pertemuan itu, aku mengutarakan perasaanku padanya. Dan ternyata Yunhee juga merasakan hal yang sama. Ia juga menyukaiku. Dan kamipun akhirnya menjadi sepasang kekasih selama dua tahun terakhir ini.

 

Hari lepas hari aku semakin mengaguminya. Cintaku padanya semakin bertambah besar. Dan aku ingin menjadikannya pasangan hidupku. Aku ingin melamarnya menjadi istriku. Tapi yang terjadi, hari ini, hari di mana aku seharusnya melamarnya, malah berubah menjadi hari yang buruk.

 

Aku mematikan shower dan keluar dari kamar mandi menggunakan handuk. Kubuka lemariku dan kupilih piyamaku. Aku tidak berniat ke mana-mana. Rusak sudah hariku. Rasanya aku sedang sial hari ini, dan mungkin akan bertambah sial jika aku keluar rumah.

 

Aku berjalan menuju ruang tengah dan menyalakan televisi. Ku ganti channel televisi asal-asalan. Tidak ada acara yang menarik. Namun, aku terpaku ketika melihat berita tentangku di televisi. Berita itu menyiarkan kejadian tadi siang di Gereja. Tampak aku berdiri di samping yeoja gila itu yang sedang menatap kamera dengan kedua matanya yang besar. Tak lama kemudian, aku lihat diriku di televisi berbicara, “Dia… kekasihku… telah menerima lamaranku.”

 

Aghh… apa yang kupikirkan saat itu. aku benar-benar gila. Sekarang ketika aku kembali menyaksikan kejadian tadi siang dengan mata kepalaku sendiri aku baru bisa berpikir jernih. Sepertinya aku telah mengambil keputusan yang salah. Tapi nasi sudah menjadi bubur, seluruh Korea sekarang mengganggap yeoja gila itu adalah calon istriku. Aku masih memperhatikan layar televisi yang menampilkan adegan ketika aku mencium yeoja gila itu. Melihatnya secara langsung seperti ini membuat emosiku kembali meledak. Semua hal buruk ini terjadi karena Yunhee tidak memenuhi janjinya untuk datang.

 

Yunhee… ya… Park Yunhee.. aku baru sadar sekarang. Di mana dia? Apakah dia menonton berita ini? Bagaimana perasaannya jika dia sampai melihat berita ini? Aku tiba-tiba memikirkannya. Apa sebenarnya yang ada di otakku. Tadi aku bertindak tanpa sedikitpun memikirkan Yunhee yang kucintai, sekarang aku baru menyadari bahwa aku tidak ingin dia terluka mendengar semua berita ini.

 

Kuraih handphoneku dengan segera dan kuhubungi Yunhee.

 

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silahkan..”

 

Ponsel Yunhee tidak aktif. Kucoba beberapa kali tapi hasilnya tetap sama. Ah.. aku baru ingat. Yunhee bilang dia akan berangkat ke Amerika malam ini. Apa mungkin dia sudah berangkat?

 

***

 

Author POV

 

Di bandara Incheon, seorang yeoja sedang duduk menunggu datangnya pesawat yang akan membawanya ke Amerika. Yeoja itu sangat cantik dengan tubuhnya yang tinggi dan putih, rambutnya yang panjang sepunggung diikat ekor kuda. Ia duduk sambil membaca sebuah buku berbahasa inggris. Tampak dari sisi manapun ia terlihat seperti gadis cantik berpendidikan yang cerdas.

 

“Woon~ah, mianhe,” gumamnya pelan seraya menutup buku yang daritadi dibacanya. Pikirannya tidak bisa berkonsentrasi membaca buku di tangannya. Saat ini hatinya tak tenang karena keputusan yang baru saja diambilnya telah menyakiti hati kekasihnya.

 

Yunhee melihat keadaan sekelilingnya. Matanya berhenti tertuju pada layar televisi yang berada tak jauh dari tempatnya duduk. Ia menonton acara infotainment yang sedang diputar di televisi. Saat itu berita sedang menyiarkan sepasang artis yang baru saja menikah. Yah, kekasihnya juga seorang artis. Jika ia menikah nanti, pasti berita tentangnya akan disiarkan di televisi seperti berita pernikahan sepasang artis saat ini.

 

Ia semakin merasa keputusannya telah tepat. Ia memang belum siap menerima lamaran kekasihnya, Kim Jongwoon, atau Yesung. Ia tidak siang jika kehidupan pribadinya yang tenang diusik dengan wartawan-wartawan yang selalu ingin mengorek masalah pribadinya.

 

Masih memperhatikan layar televisi, tiba-tiba ia mendengar suara panggilan untuk masuk ke pesawat yang akan ditumpanginya. Yunhee bangkit berdiri. Dia berbalik membelakangi televisi dan berjalan menuju pintu masuk.

 

“Berita selanjutnya datang dari penyanyi dan aktor terkenal kita.. Yesung!” suara dari televisi terdengar riuh. Yunhee masih berjalan menuju pintu, jaraknya semakin jauh dengan televisi sehingga ia tidak begitu jelas mendengar suara televisi, di tambah lagi suasana bandara yang memang ramai. Sekilas ia mendengar nama kekasihnya disebut, tapi mungkin hanya perasaannya saja. Ia memutuskan untuk tidak menoleh dan terus berjalan ke depan.

 

“Yesung~ssi telah memperkenalkan calon istrinya kepada publik,” ujar presenter acara infotainment itu tepat ketika Yunhee telah sampai di pintu masuk, ia tersenyum kepada penjaga di pintu yang mengecek tiketnya sebelum ia melangkah masuk. Gadis itupun tidak bisa mendengar suara televisi lagi.

 

***

 

Hyeni POV

 

“Hyukie, Eunhyuk~iee,” ujarku setengah berteriak memanggil sahabat dekatku yang tinggal di dekat rumahku. Namanya Lee Hyukjae, tapi aku lebih suka memanggilnya Eunhyuk atau Hyukie. Dia tinggal bersama dengan adik perempuannya, Lee Eunri yang saat ini masih berkuliah di salah satu universitas di Seoul. Hyukie lebih tua 4 tahun dariku, tapi aku tidak pernah memanggilnya oppa, rasanya aneh memanggilnya dengan sebutan oppa karena kami sudah dekat bahkan sebelum kedua orang tuaku meninggal.

 

Appaku telah bekerja di perusahaan milik orang tua Hyukie selama belasan tahun sampai appa dan eomma mengalami kecelakaan itu, kedua orang tua Hyukie sangat baik pada keluargaku dan karena usiaku dan anak mereka tidak berbeda jauh, maka mereka suka mengajak keluargaku jalan-jalan bersama. Akhirnya aku jadi sangat akrab dengan Hyukie dan Eunri, bahkan hingga saat ini ketika appa telah tiada.

 

Kedua orang tua Hyukie pindah Jepang dua tahun lalu untuk mengurus bisnis mereka. Sebenarnya beberapa kali orang tuanya menyuruh Hyukie dan adiknya menyusul mereka ke Jepang, namun keduanya menolak dengan alasan lebih suka tinggal di Korea.

 

“Euuuunnhyuuukk~iieeee!!!” teriakku lebih keras.

 

“Ne.. Ne.. Arraseo, berhenti berteriak karena aku sudah mendengar kau memanggilku Hyeni~ah,” ujar Hyukie yang baru muncul dari balik gerbang rumahnya dan kemudian

membukanya dengan segera. Aku masuk ke dalam halaman rumahnya yang tidak terlalu besar tapi ditata rapi dengan beberapa tanaman hias dalam pot.

 

“Waeyo, ada apa kau datang ke rumahku Hyeni~ah?” tanyanya sambil kembali mengunci gerbang rumahnya ketika aku sudah masuk ke dalam.

 

“Hyukie, hari ini aku benar-benar sial,” jawabku dengan tampang memelas. Wajahku pasti sangat jelek. Tubuhku sudah basah oleh keringat karena aku sudah berjalan kaki hampir 3 jam dari Gereja sampai ke rumah Hyukie. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.

 

“Wae? Masuklah dulu ke dalam. Aku akan menyuruh Eunri membuatkan minum untukmu,” ujarnya sambil melangkah mendahuluiku. Aku mengikutinya masuk ke dalam rumah.

 

Di dalam rumah, aku mengikutinya sampai ke ruang tengah. Eunri sedang membaca buku novel sambil mendengarkan ipodnya. “Eunri~ah, lihat siapa yang datang.”

 

Eunri menoleh ke arahku. Melepaskan headset di telinganya. “Yaa, Hyeni eonni!!”

 

“Annyeong, Eunri~ah,” sapaku.

 

“Ah, annyeong eonni, aku sangat rindu padamu. Sudah lama kita tidak bertemu,” balas Eunri sambil bangkit dari sofa lalu memelukku erat. Eunri menganggapku sebagai eonninya. Walau usia kami hanya terpaut 1 tahun, aku selalu melihatnya sebagai adik kecil yang manis dan lucu.

 

“Yaa!! Eunri~ah, jelas-jelas Hyeni datang ke sini minggu lalu, kau ini sangat berlebihan,” protes Hyukie. Ya, minggu lalu aku datang ke rumah mereka untuk bermain bersama mereka sekaligus mengajari Eun Ri memasak. Biar bagaimanapun aku ini sesungguhnya pandai memasak, lho.

 

“Biarkan saja, aku memang merindukan Hyeni eonni. Aku lebih senang Hyeni eonni yang menjadi kakakku, bukan Eunhyuk oppa,” seru Eun Ri sambil memeletkan lidahnya ke arah Hyukie.

 

“Kau ini, ya! Mengapa aku bisa punya adik tidak tahu berterima kasih sepertimu,” balas Hyukie sambil menarik Eunri yang masih memelukku kemudia mengacak rambutnya. Aku hanya tertawa geli melihat mereka. Senangnya jika mempunyai saudara seperti mereka.

 

“Hyeni~ah, ngomong-ngomong tadi kau mau cerita apa? Kenapa hari ini penampilanmu berantakan seperti itu?” tanya Hyukie setelah puas mengacak rambut Eunri.

 

“Ne, hari ini…” aku pun bercerita bahwa aku bertemu namja gila yang membuatku kesal kemudian aku kehilangan dompetku. Hanya saja aku tidak memberitahu bahwa namja gila itu adalah penyayi dan aktor, Yesung, serta kejadian dia telah mengaku bahwa aku adalah calon istrinya. Tidak mungkin aku menceritakan kejadian itu pada Eun bersaudara.

 

“Jadi dompet eonni hilang? Kasian sekali kau eonni harus berjalan kaki ke sini,” ujar Eunri simpati padaku, “Ya, oppa, cepat berikan uangmu pada Hyeni eonni, kau juga harus mengantarnya pulang.”

 

“Mwo? Yaa, mengapa kau menyuruh-nyuruhku Eunri~ah. Aku juga sudah mengerti. Hyeni, kau pakai uangku saja yah, kasihan kalau kau sampai tidak bawa uang sama sekali. Nanti kau mau makan apa?” ujar Hyukie sambil memberikanku sejumlah uang dari dompetnya. Dia memang sahabat yang pengertian, aku memang bermaksud meminjam uang darinya, tapi sebelum aku mengutarakan niatku, dia sudah menawarkannya.

 

“Gomawo, Eunhyukie, aku pasti akan mengembalikannya setelah aku mendapat uang lagi,” ujarku sambil menerima uang darinya.

 

“Ah, Gwenchanayo, tidak perlu dipikirkan. Pakai saja. Kau tidak perlu repot-repot mengembalikannya,” jawab Hyukie sambil tersenyum.

 

“Benar eonni, kau tidak perlu mengembalikan uang Eunhyuk oppa, uangnya kan sangat banyak,” tambah Eunri, “Tapi dia itu sangat pelit padaku.”

 

“Yaa, Eunri~ah, kau ini bicara sembarangan. Aku tidak pelit, tapi kalau kau pakai uangku untuk bersenang-senang dan berbelanja terus aku tidak akan memberikanmu uang.”

 

Eun bersaudara itu bertengkar lagi. Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka. Hyukie bekerja membuka restaurant Jepang yang cukup terkenal di Korea. Sedangkan Eunri

sering membantu Hyukie jika sedang ada waktu. Jadi tidak heran kalau kedua Eun bersaudara ini sudah bisa hidup mandiri tanpa bantuan orang tua mereka di Jepang sana.

 

Aku pulang ke rumahku jam 9 malam, setelah makan malam yang penuh tawa bersama Eun bersaudara, setidaknya hari ini aku masih bisa tertawa karena mereka. Hari ini tidak sepenuhnya buruk. Aku pulang ke rumah diantar oleh Hyukie dengan mobil sedan biru tuanya. “Gomawo, Eunhyuk~ie.”

 

***

 

Jongwon POV

 

Aku tidak bisa tidur. Sudah hampir jam 12 malam dan mataku tidak kunjung terpejam. Banyak hal yang memenuhi pikiranku. Yunhee yang menolak lamaranku serta yeoja gila bernama Shin Hyeni yang saat ini dikenal orang sebagai calon istriku.

 

Aku rasa aku bisa gila memikirkan kejadian hari ini. Kuacak rambutku dengan kasar, berharap bayangan kedua yeoja itu hilang dari pikiranku. Baik yeoja yang telah menyakiti hatiku, maupun yeoja gila yang harus aku temukan besok pagi, sebelum para wartawan menemukannya lebih dulu.

 

***

 

Hyeni POV

 

Aku terbangun mendengar suara alarm yang sengaja kuhidupkan agar aku tidak kesiangan di hari pertamaku bekerja. Dengan segera aku menuju ke kamar mandi, ketika akan mengambil sabun aku melihat cincin itu masih melingkar di jari manisku. Mengapa dia masih ada di sini? Aku mencoba melepaskannya namun sulit. Tidak kehabisan akal, aku mengoleskan sabun ke tanganku dan dengan susah payah cincin itu akhirnya berhasil aku lepaskan. Kuharap aku tidak akan memakai cincin ini lagi. Karena cincin inilah kemarin menjadi hari paling buruk setelah hari kematian kedua orang tuaku.

 

Setelah selesai mandi, aku merapikan diriku. Memakai pakaian terbaikku, menyisir rambutku pelan-pelan, hingga memakai parfum hadiah dari Eunri yang hanya kupakai jika ada acara khusus. Aku harus tampil maksimal hari ini. Kulihat bayangan diriku di cermin, “Appa, eomma, anakmu sangat cantik, kan?”

 

Kuambil tasku yang kugantung di sebelah lemari. Aku sudah siap berangkat ke tempat kerja baruku. Dengan langkah riang aku berjalan dengan perasaan ringan. Bebanku karena hal buruk yang terjadi kemarin seakan telah hilang. Semoga aku tidak berurusan dengan namja gila bernama Yesung itu lagi. Bahkan aku berharap semoga tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.

 

Aku melangkahkan kaki hendak menyeberang jalan dekat rumahku. Namun, tiba-tiba aku mendengar suara klakson mobil. Ada sebuah mobil sedang melaju dengan kencang ke arahku. Mobil itu hendak menabrakku!!

 

Aku bersiap meloncat, untung gerakan reflekku cukup bagus. Aku terjatuh dekat tempat mobil itu berhenti. Seorang namja keluar dari dalam mobil. Ia memakai jas abu-abu dan celana hitam. Dengan segera dia menghampiriku.

 

“Mianhe, gwenchanayeo?” tanyanya seraya membantuku bangkit berdiri.

 

“Aduh,” ujarku kesakitan. Lututku berdarah karena terbentur aspal.

 

“Lututmu berdarah, biar aku antar kau ke rumah sakit,”katanya merasa bersalah.

 

“Anii, tidak usah. Aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil,” jawabku setelah berhasil berdiri dengan bantuan namja yang hampir menabrakku ini.

 

“Jinjja? Kau yakin tidak apa-apa?” tanyanya lagi masih dengan tatapan bersalah.

 

“Ne, lagipula aku harus berangkat kerja. Hari ini adalah hari pertama aku masuk kerja jadi aku tidak boleh sampai terlambat,” ujarku sambil memakai tasku yang tadi sempat terjatuh bersamaku.

 

“Kalau begitu biar aku antar kau ke tempat kerjamu,” tawar namja di hadapanku itu.

 

“Anii, tidak usah repot-repot.”

 

“Tidak merepotkan, kau terluka karena kesalahanku, jadi ijinkan aku menebusnya, nde?” ujarnya lagi meminta persetujuanku. Aku pun mengangguk pelan. Walau biasanya aku selalu menjaga jarak dan tidak mudah menerima tawaran dari orang asing yang baru kutemui, tapi namja ini rasanya bukan orang jahat. Aku bisa merasakan dari pandangan matanya dan juga caranya berbicara bahwa dia adalah orang baik.

 

“Di mana tempat kerjamu?”

 

“Nde? Oh, aku bekerja di Silver Rise Coorperation.”

 

Namja itu tampak terkejut mendengat jawabanku, sedetik kemudian ia pun tersenyum, “Jinjja?”

 

“Ne, waeyo?”

 

“Ah, aku juga bekerja di sana. Perkenalkan, Lee Hongki imnida.”

 

 

TBC

 

Part 3 ff ku telah selesai… ngebut banget buatnya.. 3 part dalam 2 hari…. hahahahaa… maklum masih menggebu-gebu dengan hobi baru jadi author ff… LOL… komen yah kalau kalian suka atau gak baca ffku.. supaya aku tahu perasaan kalian dan tahu kalau aku ini bisa terus melanjutkan langkahku gak di dunia per-ff-an… kalau perlu nyemplung lebih dalem lagi juga gpp… :p gomawo~