Judul              : Collote Blue

Author            : thefeysture (thefeysture.wordpress.com)

Rating             : General

Length            : Oneshoot

Genre              : Romance, AU, Fantasy

Cast                :

1.      Charice Carine (OC)

2.      Aiden / Lee Donghae

3.      Andrew / Choi Siwon

4.      Gui Xian / Cho Kyuhyun (nama Chinanya)

5.      Bryan / Kim Kibum super junior

6.      Nicole / Nicole KARA

7.      Jordan / Kang In

8.      Spencer / Lee hyuk Jae / Eunhyuk Super Junior

9.      Dennis / Leeteuk Super Junior

10.  Nathan / Kim Ryeowook

11.  Jerome / Yesung

12.  Matthew / Shindong

13.  Vincent / Lee Sungmin

14.  Mr Joshua / Han Geng

15.  Master Cassie / Kim Heechul

Oke, ini  emang terlalu panjang untuk jadi ‘one shoot’, tapi menuruut aku, akan aneh jika FF ini dijadikan two shoot, right? Give yout comment please!! Kalo ada typo bisa di comment yah😀 Thanks😀

**

“Life is an adventure. Not predictable

Charice terus mengetuk-ngetukan sepatunya di lantai untuk membunuh setiap detik yang terbuang sia-sia. Tak henti-hentinya ia mengerutu karena menunggu ibunya yang tak kunjung selesai menghias dirinya sendiri.

Mom, ayo cepat!”

Tak lama, terdengar langkah kaki yang tajam, layaknya sepatu hak tinggi yang mneyentuh permukaan lantai. Seorang wanita paruh baya  berusia 40 tahunan berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri putrinya yang berteriak itu.

Yes, dear. Ayo berangkat!”

Charice pun segera masuk ke mobil karena semua barangnya telah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Gadis berusia 17 tahun itu hanya terdiam memandangi pemandangan di luar melalui jendela mobil. Pikirannya melayang dan entah hinggap dimana. Charice tak habis pikir, bagaimana bisa ia dipaksa untuk pindah ke sekolah baru padahal mereka tak pindah rumah atau apapun. Menurut ibunya, Charice mendapatkan surat dari sekolah barunya itu untuk menjadi siswa di sekolah tersebut. Ibunya pun memaksa Charice untuk masuk sekolah tersebut karena itu adalah mantan sekolah ayahnya yang telah tiada.

“Charice, belajarlah dengan rajin di sekolah barumu!”

Yes, Mom. I know,”

Sekolahnya yang baru bernama “Collote Blue High School”. Sekolahnya itu terletak agak terpencil di dekat perbukitan di Liverpool. Terdapat dua asrama di sekolah itu yaitu asrama putra dan asrama putri. Sesungguhnya, Charice sendiri belum pernah melihat sekolah barunya itu. Segala berkas-berkas yang dibutuhkan diurus oleh ibunya.

Charice terus merapatkan sweaternya karena ia merasakan udara yang berasal dari pendingin di mobil tersebut benar-benar akan membuatnya membeku layaknya es. Charice mengamati dedaunan yang berjatuhan di musim gugur ini. Berwarna kecoklatan dan semua nya tampak indah. Tiba-tiba, ia merasakan mobilnya berhenti melaju. Dan ia pun melihat ibunya tersenyum penuh arti.

“Turunlah! Mungkin kita akan jarang bertemu setelah ini,”

Mom tidak masuk?” Ibunya hanya menggelengkan kepalanya singkat sebagai jawaban.

Charice mengangguk pelan dan segera turun dari mobilnya. Kedua kopernya telah diturunkan oleh supirnya. Setelah Charice menutup pintu mobil, disaat itu pula mobilnya melesat tanpa berkata apapun. Charice sedikit tercengang melihatnya, tak biasanya ibunya bersikap seperti itu padanya.

“Charice Carine?” panggil seseorang yang membuatnya terkesiap.

Tampaklah seorang laki-laki dihadapannya. Sepertinya ia adalah salah satu murid sekolah itu karena ia menggunakan seragam yang sama dengan Charice. Well, dia tampak sedikit aneh. Rambutnya memiliki belahan pinggir dan ia menggunakan kacamata kotak. Lelaki itu cukup pendek untuk seukuran lelaki seumurannya. Charice memperhatikan lelaki itu dengan seksama. Melihat hal itu, lelaki itu pun melihat dirinya sendiri.

“Ada yang salah denganku?” tanya lelaki itu sambil melihat dirinya sendiri dari atas sampai  bawah.

“Ah, tidak,” kata Charice dengan rasa bersalah.

“Hmm. Aku Nathan. Kau Charice Carine, kan? Aku ditugaskan oleh mengantarmu ke ruang Master Cassie,”

“Master Cassie?”

“Dia kepala sekolah,” katanya sambil melangkah memasuki halaman sekolah dan Charice pun mengikutinya.

Gedung sekolah itu terlihat sudah berumur ratusan tahun. Terlihat dari warna gedungnya yang telah memudar dan struktur bangunannya yang bisa terbilang cukup kuno. Charice dan Nathan menaiki tangga yang cukup banyak hingga akhirnya sampai di pintu gedung sekolah. Pintunya sangat tinggi dan mungkin ia akan menyebutnya pintu rusak kalau saja ia tidak melihat pintu itu terbuka sendiri. Gadis itu pun menatap Nathan dengan penuh tanya.

“Pintu ini memiliki sensor dan  akan terbuka sendiri jika ada orang,” jelasnya seakan mengerti madsud  tatapan Charice. Ia hanya mengangguk pelan  untuk menanggapinya.

Di dalam sekolah ini tampak sepi sekali. Nathan terus berjalan lurus, sedangkan Charice memandang gedung ini dengan tatapan kagum. Walaupun kuno, tetapi disanalah letak keindahannya. Ornamen-ornamen kuno tersebut masih terlihat di setiap sudut ruangan yang membuat sekolah ini tampak berbeda.

“Sudah sampai. Masuklah,” kata Nathan tiba-tiba yang membuatku kembali tersadar.

Aku mengangguk pelan dan memasuki ruangan itu. Ruangan itu tampak sedikit redup karena penerangannya yang kurang. Tampaklah seorang lelaki kurus yang sedang berdiri di dekat jendela menatap ke arah luar.

“Duduklah, Carine,”

Charice tersenyum saat mendengar Master Cassie memanggil nama belakangnya. Lalu, ia duduk di kursi yang tampaknya tak kalah tuanya dari gedung ini. Lelaki yang diyakininya sebagai Master Cassie itu pun membalikkan badannya dan tersenyum pada Charice. Senyumnya tampak bersahaja dan entah kenapa membuat perasaannya menjadi tenang.

“Selamat datang di ‘Collote Blue High School’!” Charice hanya tersenyum sopan untuk menanggapi sapaannya.

“ Sekolah ini terbagi atas 6 grade berdasarkan pada kekuatan dan kemampuan siswa….”

“Kekuatan?” tanya Charice yang memotong perkataan Master Cassie.

“ Kau akan tahu nantinya, Carine. Kau akan kumasukkan ke dalam grade paling tinggi yaitu grade 6. Tetapi, karena kemampuanmu belum banyak berkembang, maka kau harus banyak bertanya pada Bryan dan Aiden. Mereka siswa terpandai di grade 6,”

“Kalau aku memang belum berkembang, kenapa aku tidak ditempatkan pada grade dibawahnya?

“Karena memang sudah tertulis seperti itu, Carine,”

“Kau akan tahu nantinya,” tambah Master Cassie saat melihat raut bingung di wajahnya.

“Keluarlah. Nathan akan mengantar ke kelasmu di lantai 6. Disana Nicole akan mengantarmu ke asrama putri,”

“Ya, Master Cassie,”

Charice pun melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Master Cassie dan ia pun menemukan Nathan di depan ruangan itu. Nathan bersandar pada dinding yang letaknya tak jauh dari pintu ruangan Master Cassie. Kepalanya bergerak mengikuti irama lagu yang bersumber pada handphone yang ia pegang. Charice menghampirinya dengan perlahan.

“Ya!” teriak Charice yang membuat Nathan terkejut. Charice pun tertawa lepas saat melihat wajah kaget Nathan yang begitu lucu. Sedangkan Nathan hanya merenggut melihat dirinya yang dijadikan bahan tertawa Charice.

“Ya! Jangan mentertawakanku!” teriak Nathan yang akhirnya diikuti oleh tawanya sendiri karena melihat Charice yang terus tertawa.

**

“Jadi, madsudmu ini sekolah yang tidak biasa?” tanya Charice setelah mendengar tentang sekolah ini sambil menaiki tangga menuju lantai 6.

“Begitulah. Hanya yang memiliki kekuatanlah yang bisa masuk ke sekolah ini. Selain itu, hanya yang diundanglah yang bisa menjadi siswa sekolah ini,”

“Kekuatan? Memangnya apa kekuatanmu?”

“Aku bisa berlari cepat bahkan melebihi kecepatan cheetah dan itu bisa membuatku tampak hilang sejenak,”

“Benarkah?” tanya Charice dengan tatapan kekaguman. Nathan mengangguk dengan rasa bangga yang meliputi dirinya.

“Nathan, tak bisakah kau membawa kita untuk segera sampai di lantai 6? Aku lelah sekali padahal ini baru lantai 3,”

“Bisa saja. Kau mau?”

Charice memandang Nathan dengan tatapan sinisnya, “Tentu saja!” Nathan hanya tersenyum bodoh untuk menanggapinya. Lalu, ia memegang tangan Charice dan ia pun berlari dengan kecepatan penuh.

Tarikan yang tiba-tiba, membuat jantung Charice berdetak tak karuan. Rambutnya berkibar dan mungkin sekarang sudah menjadi berantakan. Ia mencoba untuk menarik nafasnya dalam-dalam dan ketika ia menghembuskannya, Nathan berhenti tiba-tiba dan membuat gadis itu menabrak badan Charice.

“Ya! Tak bisakah kau mendarat dengan mulus?” kata Charice sambil merapikan rambut dan seragamnya.

“Kau harusnya berterima kasih padaku!” kata  Nathan dengan sinis sambil meninggalkan Charice. Melihat hal itu, Charice merasa bersalah dan segera mengejar Nathan.

“Aku tak bermadsud, Nathan. Terima kasih,” kata Charice sambil membungkukan badannya 90o.

Seketika itu juga senyum merekah di bibir Nathan, “Baiklah, kau kumaafkan dan ini kelasmu.”

“Di lantai ini hanya ada 1 kelas?” tanya Charice yang dijawab dengan anggukan kepala Nathan dan diikuti dengan tatapan kaget dari Charice.

“Hanya satu? Padahal kan lantai 6 ini luas sekali. Bagaimana bisa?”

“Setiap lantai memiliki kelas, ruang makan, aula, dan asrama putra-putri. Jadi, siswa setiap grade tidak akan bercampur dengan grade lainnya. Sudahlah, nanti kau juga akan dijelaskan oleh teman-temanmu. Masuklah!”

“Kau tidak masuk, Nathan?”

Nathan tersenyum dan menggeleng pelan, “Aku siswa grade 5, Charice,”

“Terima kasih, Nathan,” Nathan pun tersenyum lalu melambaikan tangannya dan pergi ke lantai 5.

Charice menarik nafasnya dan mengetuk pintu dihadapannya dengan hati-hati yang lalu dijawab oleh seseorang, “Ya, silahkan masuk.”

Charice membuka pintunya secara perlahan dan memasuki ruang kelasnya. Di kelas itu hanya ada 7 murid dan seorang guru laki-laki berkaca mata. Aku menunduk untuk mengurangi rasa gugup ku karena dipandangi oleh mereka semua.

“Jadi, namamu Charice Carine? Aku wali kelasmu, Mr Joshua. Silahkan duduk!” kata guru berkacamata itu yang dibali oleh anggukan kepala Charice.

Tempat duduk di kelas itu, tidaklah sama dengan sekolah pada umumnya, dimana satu meja digunakan oleh 2 siswa. Di sekolah ini, satu meja untuk satu siswa. Charice berjalan sambil melihat meja-meja kosong yang ada. Charice baru menyadari bahwa hanya ada satu perempuan di kelas itu, maka Charice pun memilih duduk dibelakang gadis itu.

“Baiklah, saya keluar dulu.  Jangan lupa bantu Charice untuk mengenali dunia barunya. Ia baru di dunia ini dan tentu saja ia memiliki banyak pertanyaan,”

“Ya, Mr Joshua,”

Mr Joshua pun meninggalkan ruangan itu dan meninggalkan bunyi pintu tertutup yang sangat keras. Seketika itu juga, pandangan semua murid tertuju pada Charice kecuali gadis yang duduk di depan Charice.

“Hai, Charice. Aku Dennis, ketua grade 6,” kata Dennis sambil menghampiri meja Charice. Charice tersenyum malu untuk menanggapinya.

“Di kelas ini memang hanya ada 7 siswa dan sekarang ditambah kau menjadi 8 siswa. Ini adalah Nicole,” katanya sambil menunjuk gadis yang duduk di depan Charice. Charice mengalihkan tatapannya kepada Nicole, tetapi Nicole sendiri masih sibuk dengan urusannya. Nicole memiliki rambut sebahu yang setengahnya diikat. Tubuhnya bagus tetapi sedikit terlalu kurus.

“Nicole, sapalah teman barumu!” kata Dennis dengan tegas.

“Hai, Charice,” kata Nicole dengan singkat tanpa membalikkan badannya.

“Nicole, bersikaplah sopan pada Charice,” kata lelaki yang bertubuh subur yang duduk di depan.  Mendengar hal itu, Nicole sedikit mendengus dan membalikkan badannya.

“Hai, Charice,” kata Nicole singkat lalu membalikkan badannya lagi.

Dennis menghela nafasnya, “Nicole memang seperti itu. Jangan dimasukkan ke hati ya!”

“Tidak apa-apa,” kaat Charice sambil tersenyum.

Denis balas tersenyum, “Ini adalah Bryan. Dia siswa terpandai di grade 6,” kata nya sambil menunjuk laki-laki yang menggunakan kacamata kotak yang duduk tepat disampingnya. Bryan hanya tersenyum sopan pada Charice.

“Itu adalah Aiden, Jordan, Andrew, dan Spencer,”

Lelaki yang bernama Aiden itu duduk di paling depan bersama Dennis dan laki-laki yang bernama Jordan. Aiden memiliki model rambut yang hampir sama dengan Bryan yaitu memiliki rambut yang sedikit panjang sampai sebahu, tetapi Aiden tidak memakai kacamata. Lelaki yang bernama Jordan adalah lelaki bertubuh subur yang tadi sedikit memarahi Nicole. Rambut Jordan dipotong pendek.

Andrew adalah laki-laki  yang wajahnya tampak dingin, posturnya atletis dan tinggi. Sedangkan Spencer kebalikan dari Andrew. Tubuh Spencer kurus, wajahnya selalu ceria bahkan kadang tampak bodoh, ia tidak terlalu pendek, dan yang menjadi ciri khasnya adalah ia memiliki gummy smile. Saat ia tersenyum, gusinya akan terlihat dan itu membuat wajahnya lucu.

“Hai, Charice. Aku Spencer dengan kemampuan dance melebihi Justin Timberlake,” kata Spencer dengan gummy smilenya lalu ia pun menunjukkan dance moon walk. Charice dan semua anak disana pun tertawa termasuk Nicole.

“Hai, aku Jordan. Aku suka makan makanya tubuhku sedikit gendut. Tapi, aku master karate disini,” katanya dengan bangga

“Aku Aiden. Senang berkenalan denganmu,”

“Aiden, kau tak usah menggunakan bahasa formal seperti itu, kan!”  gerutu Nicole yang dijawab oleh Aiden dengan mengendikkan bahunya.

“Charice, Aiden memang seperti itu. Dia selalu berbicara formal pada orang yang baru ia kenal,” kata Dennis yang ditanggapi dengan tersenyum.

“Aku Andrew,” kata laki-laki tinggi itu dengan dingin.

Charice merasa sedikit takut pada Andrew. Suaranya yang dingin seperti menunjukkan bahwa ia ta menyukai kehadiran Charice di kelas ini. Tanpa sadar, Bryan tersenyum singkat pada Charice, “Dia memang seperti itu. Selalu bersikap dingin dan angkuh.”

“Eh? Kau bisa….”

“Membaca pikiran,” potong Bryan lalu mengalihkan perhatiannya pada Dennis yang sudah ada di depan kelas. Charice memegang keningnya yang sedikit sakit karena terlalu banyak hal aneh yang terjadi hari ini.

“Nicole, kau antarkan Charice ke kamarnya,” kata Dennis yang mengingatkanku bahwa semua barang-barangku masih ada di luar kelas ini. Nicole langsung berdiri dan menuju ke pintu. Ia pun berhenti saat menyadari bahwa Charice tak bergerak dari tempat duduknya.

“Kau tak bermadsud untuk menyuruhku membawa barang-barangmu ke asrama, kan?” kata Nicole. Charice pun langsung tersadar dan  keluar kelas bersama Nicole.

**

Asrama putri letaknya tak jauh dari ruang kelas. Hanya butuh berjalan sedikit, lalu akan ada pintu di kiri dan di kanan. Pintu kiri untuk menuju asrama putra dan pintu kanan untuk menuju asrama putri. Setelah memasuki pintu itu, di dalamnya terdapat lorong panjang yang di sebelah kanannya terdapat banyak pintu kamar.

“Itu kamarmu,” kata Nicole sambil menunjuk pintu kedua dari pintu.

“Kamarmu, Nicole?” tanya Charice yang dijawab oleh Nicole dengan menunjuk kamar pertama dari pintu.

Okay. Lalu, kamar-kamar yang lain untuk apa?”

“Setiap 2 tahun sekali, akan ada siswa dari Collote Yellow High School yang berkunjung kesini. Collote Yellow adalah sekolah untuk anak-anak yang belum mengetahui kekuatan mereka. Kita akan melakukan pelatihan bersama,”

“Memangnya kekuatanku apa?” tanya Charice pada dirinya sendiri.

“Kekuatanmu memang  belum kau sadari, tetapi sebenarnya kau punya kekuatan yang sama kuatnya dengan Dennis dan Andrew. Mereka yang terkuat di grade 6,”

“Bukankah Aiden dan Bryan yang terpandai di grade 6?”

“Yang terkuat belum tentu yang terpandai, begitu juga sebaliknya, Charice. Sekarang kau letakkan barang-barangmu di kamarmu, lalu kita kembali ke kelas,”

Charice melangkah penuh keraguan menuju pintu kamar barunya. Ia membuka pintu secara perlahan dan terdengarlah bunyi pintu berdecit. Kamarnya cukup besar walaupun isinya hanya barang-barang sederhana seperti tempat tidur, lemari pakaian, meja belajar dan kamar mandi. Setelah meletakkan barang-barangnya, Charice pun keluar dari kamar lalu kembali ke kelas bersama Nicole.

**

“Charice, tujuanmu diundang untuk datang ke sekolah ini adalah karena saat ini, kami sedang dalam kondisi darurat. Dalam waktu 8 bulan kedepan, sekolah kami akan diserang oleh musuh kami dari China. Pemimpinnya bernama Gui Xian. Kakek dari Gui Xian adalah musuh bebuyutan dari kakek Master Cassie. Hingga sekarang, dendam itu terus berkelanjutan. Jaman dahulu, ada seorang peramal yang mengatakan bahwa hanya generasi ke seratuslah yang mampu untuk mengalahkan mereka dan kalianlah generasi ke seratus itu. Peramal itu juga mengatakan bahwa harus 9 siswa yang menghadapinya. Jika lebih atau kurang, maka kesempatan untuk memang akan berkurang atau tidak ada sama sekali. Kami mengundangmu untuk ke sekolah ini karena selama ini kami hanya memiliki 7 siswa di grade 6,” kata Mr Joshua dengan panjang lebar.

“Kenapa harus aku yang bahkan tidak mengetahui kekuatanku sama sekali? Mengapa tidak mengambil siswa grade 5? Mereka kan sudah memiliki kemampuan yang bagus,”

“Karena kau adalah anak dari ayahmu, Charice,” kata Dennis

“Ayahku?”

“Ayahmu adalah salah satu generasi yang mencoba melawan keluarga Gui Xian, namun gagal dan dibunuh oleh kakek Gui Xian. Karena itulah..” kata Nicole

“Dibunuh? Madsudmu apa? Ayahku meninggal karena kecelakaan!” teriak Charice.

“Itu hanya rekayasa, Charice. Tenanglah! Kaubisa mengetahui semua tentang ayahmu, kalau kau sudah  menyelesaikan semua tugasmu sebagai ‘Collote Blue Squad’,” kata Mr Joshua.

Charice menatap Mr Joshua dengan tidak percaya, lalu dengan cepat ia pun mengendalikan dirinya sendiri, “Apa hubungannya denganku kalau memang ayahku adalah salah satu yang melawan Keluarga Gui Xian?”

“Tak bisa sambarang orang bisa melawan Gui Xian. Hanya siswa grade 6 yang diperbolehkan, karena nyawalah yang dipertaruhkan. Ayahmu adalah siswa grade 6, ia adalah pengendali api yang hebat dan kemampuannya itu diturunkan padamu,”

“Aku? Pengendali api?”

“Mungkin sekarang kau belum menjadi pengendali api, tapi kau HARUS menjadi pengendali api dalam waktu 8 bulan,” kata Andrew dengan tegas yang membuat Charice sedikit bergidik.

“Kalian memiliki kekuatan yang  berbeda-beda?” tanya Charice.

“Aku adalah pengendali angin, Aiden adalah pengendali air, Nicole memiliki kemampuan silat dan bisa berubah menjadi binatang apapun untuk menyamarkan dirinya, Spencer bisa menghilang dan menggunakan tongkat sebagai senjatanya, Andrew adalah pengendali tanah, Bryan bisa membaca pikiran, pengendali emosi dan tubuhnya sangat lincah seperti manusia karet, dan Jordan adalah master karate,” jelas Dennis.

“Apakah aku bisa menjadi pengendali api seperti ayahku?” tanya Charice dengan ragu.

Well, keyakinan adalah kuncinya. Kalau kau yakin, semuanya pasti akan bisa kau lakukan,” kata Bryan yang membuat semangat pada diri Charice semakin membara.

“Sekarang, aku percaya kalau kau pengendali emosi, “kata Charice sambil tersenyum.

“Charice, Aiden dan Bryan akan membantumu untuk menjadi pengendali api. Sekarang lebih baik kita makan siang dahulu,” kata Mr Joshua.

“Mr Joshua, bukankah tadi kau bilang bahwa kita membutuhkan 9 siswa? Sekarang kan hanya ada 8 siswa, lalu siapa 1 siswa itu lagi?”

“Itulah yang sedang kita perdebatkan,” kata Jordan mengakhiri perbincangan hari itu.

**

Angin berhembus memberikan kesegaran bagi setiap insan yang hidup. Pohon-pohon bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti arah angin yang bertiup. Berkali-kali Charice merapikan rambutnya yang terus berantakan karena ulah angin di sore itu. Gadis itu memandangi dua lelaki yang ada di hadapannya. Lelaki berkacamata yang bernama Bryan terus bergerak kesana kemari seperti manusia karet. Sedangkan Aiden hanya terdiam mengamati Bryan.

“Bryan, Ini bukan saat yang tepat untuk menunjukkan kemampuanmu!” kata Aiden dengan sinis yang dijawab oleh tawa Bryan.

“Baiklah,” kata Bryan lalu duduk disamping Charice dan Aiden.

“Apa yang harus kulakukan untuk menjadi pengendali api?” tanya Charice pada kedua laki-laki dihadapannya.

“Konsentrasi. Tutup matamu. Fokuskan pikiranmu hanya pada dirimu,” kata Aiden dengan tegas yang membuat Charice sedikit ketakutan dan langsung memejamkan matanya. Tiba-tiba, Bryan tertawa tanpa alasan yang jelas dan dibalas dengan tatapan tajam dari Aiden. Charice pun membuka matanya saat mendengar tawa Bryan.

“Dia tak bisa konsentrasi karena dia takut padamu, Aiden. Bicaralah dengan santai. Kau malah membuatnya tegang,” kaat Bryan sambil tertawa yang diikuti oleh tawa Charice.

“Ah, Maaf. Baiklah, ayo mulai lagi konsetrasimu,” kata Aiden sambil menahan malu. Charice mengangguk dan berkonsentrasi lagi.

Setelah beberapa menit, dari tubuh Charice mulai keluar lidah-lidah api. Walaupun kecil, itu merupakan suatu perubahan baik pada Charice. Aiden dan Bryan pun tersenyum senang. Tiba-tiba, tubuh Charice sedikit oleng dan hampir terjatuh. Charice pun membuka matanya dan raut lelah terlukis disana.

“Kepalaku pusing dan tubuhku lelah,” keluh Charice.

“Itu memang biasa untuk pemula bagimu. Tetapi, kau sudah cukup hebat. Api mulai keluar dari tubuhmu. Aku yakin sebentar  lagi kau akan menjadi pengendali api,” kata Bryan.

Charice hanya tersenyum menanggapinya, “Aku mau  tahu, memangnya ada masalah apa antara Kakek Master Cassie dan Kakek Gui Xian?”

Aiden berdeham kecil sebelum menjawab, “Dahulu, mereka adalah sahabat dekat. Mereka sering berlatih  bersama untuk memperkuat kekuatan mereka. Tetapi, seorang gadis muda telah menghancurkan persahabatan mereka. Kakek Master Cassie dan Kakek Gui Xian menyukainya, tetapi gadis itu memilih kakek Master Cassie. Kakek Gui Xian menjadi marah. Demi mempertahankan persahabatannya, Master Cassie melepaskan gadis itu, tetapi kakek Gue Xian sudah terlanjur marah. Kakek Gui Xian pun membunuh adik perempuan kakek Master Cassie dan itulah yang menjadi awal dendam  keduanya.”

“Lalu, kenapa Gui Xian akan menyerang dalam waktu 8 bulan kedepan?”

“Karena disaat itu akan muncul bulan purnama. Bulan purnama akan membuat kekuatan Gui Xian menjadi maksimal dan lebih mudah menghancurkan kita,” kata Bryan yang membuat Charice sedikit merinding.

Tanpa sadar, sedari tadi mata biru Aiden tak lepas dari Charice. Ia memandang Charice dengan tatapan mata yang sulit di mengerti. Ia seakan menelisik gadis itu hingga bagian yang tampak fana. Charice tak menyadarinya karena terlalu focus pada pembicaraannya dengan Bryan. Walaupun demikian, dari sudut matanya ia menyadari bahwa sahabatnya itu terus menatap Charice. Bryan pun tersenyum kecil melihatnya.

**

Charice memejamkan matanya berusaha untuk berkonsentrasi pada dirinya. Semua pandangan mata tertuju padanya. Tiba-tiba, munculah lidah-lidah api di sekeliling tubuhnya. Ia membuka matanya perlahan, lalu berkonsentrasi pada batang kayu yang ada dihadapannya dan dalam sekejap, batang itu sudah terbakar dengan api yang merah menyala. Semua mata memandang kagum dirinya dan tepukan tangan pun diberikan padanya.

“Hebat, Charice! Dalam waktu 2 minggu kau sudah bisa mengendalikan api. Kau hanya butuh latihan lagi untuk menambah kekuatan pengendalian apimu,” kata Mr Joshua yang dibalas dengan senyuman lembut Charice.

“Andrew, sekarang giliran kau yang membantu Charice. Kau bantu dia untuk mengetahui segala hal tentang penyerangan Gui Xian. Ini akan memudahkannya untuk menyerang Gui Xian dan kelompoknya. Spencer, kau ajarkan dia untuk menggunakan tongkat. Nicole dan Jordan, kalian membantunya belajar ilmu bela diri. Dennis, kau koordinasi semuanya. Dalam waktu 2 minggu kedepan, semuanya harussudah ia kuasai,” kata Mr Joshua lalu pergi meninggalkan kelas.

**

Charice malangkah dengan terburu-buru untuk segera sampai di atap sekolah. Di tempat itulah ia dan Andrew sepakat untuk membahas semuanya. Dengan nafas yang terengah, Charice pun membuka pintu atap sekolah dan disanalah ia melihat Andrew sedang duduk di bangku dengan kepala menunduk dan tangannya bersila di depan dada. Ia seperti tertidur. Dengan hati-hati, Charice menghampirinya dan ia pun kaget saat tiba-tiba Andrew berbicara walaupun kepalanya masih menunduk, “Kau terlambat 2 menit.”

Suaranya dingin dan tegas. Itu membuat Charice merasa bersalah walaupun ia hanya terlambat 2 menit, “Maaf.”

Ia menegakkan kepalanya dan menatap Charice tepat di matanya yang membuat Charice sedikit salah tingkah. Lalu ia berdiri dan berjalan menuju pilar atap sekolah itu. Tanpa sadar, Charice pun mengikuti langkah lelaki itu dan berdiri tepat di samping Andrew.

“ Gui Xian adalah pengendali langit dan bumi, oleh sebab itu kita membutuhkan 9 siswa yang memiliki kekuatan yang berbeda-beda agar bisa disatukan dan kekuatan kita akan sebanding dengannya. Tetapi, ia memiliki 1 kelemahan yang paling fatal yaitu mudah mempercayai orang lain. Menggunakan fakta itu, kita memiliki seorang mata-mata disana. Jerome namanya. Jerome, Matthew, dan Vincent adalah orang yang paling dipercayai Gui Xian karena mereka adalah sahabat Gui Xian. Saat ini, yang perlu diwaspadai adalah Matthew dan Vincent,”

“Apakah kita bisa mempercayai Jerome?”

“Tentu saja. Dia adalah adik kandung Mr Joshua. Ini adalah foto Gui Xian, Matthew, Vinvent, dan Jerome” kata Andrew sambil menyerahkan 4 buat foto padanya. Charice pun terpaku pada sosok Gui Xian. Ia adalah lelaki yang masih muda dan tampan. Guratan wajah China begitu terlukis jelas di matanya yang kecil. Bagaimana mungkin sosok tampan sepertinya menjadi seorang yang jahat, pikir Charice.

“Jangan melihat seseorang dari luarnya saja,” kata Andrew dengan dingin yang langsung membuat Charice melotot.

“Kau juga bisa membaca pikiran?”

Andrew tertawa renyah, “Tanpa membaca pikiranpun, semua sudah tertulis dengan jelas di wajahmu.”

Tanpa sadar, Charice menyentuh wajahnya dan itu sukses membuat tawa Andrew semakin keras. Charice hanya memandangi Andrew dengan pandangan tak suka, “Tak ada yang lucu tahu!”

“Wajahmu! Lihat saja di cermin, wajahmu sangat lucu,” kata Andrew di tengah tawanya. Charice hanya menatap wajah Andrew yang tampak kemerahan karena pantulan sinar matahari yang sudah mulai tenggelam. Ia tak ‘sedingin’ itu, batinnya. Andrew yang sadar diperhatikan oleh Charice pun menjadi salah tingkah dan menutupinya dengan tawa yang semakin keras.

**

Charice bertepuk tangan dan tersenyum saat melihat aksi Spencer dalam menggunakan tongkatnya. Ia melompat, berlari, dan menggerakan tongkatnya dengan sangat cepat. Spencer memberikan gummy smile-nya untuk mengakhiri aksinya , lalu ia memberikan tongkatnya kepada Charice.

“Bagaimana caranya?”

Setelah latihan hampir 2 jam, Charice sudah cukup mampu berlari, melompat, dan menggerakan tongkatnya dengan benar namun ia harus meningkatkan kecepatan dalam menggunakannya. Spencer dan Charice mengatur nafasnya sambil menikmati udara pagi itu. Hari ini adalah hari minggu dan seperti sekolah pada umumnya, sekolah ini pun libur dan kesempatan ini dipakai oleh Charice untuk menambah kemampuannya.

“Aku rasa Mr Joshua benar. Darah ayahmu mengalir begitu banyak pada dirimu sehingga kau mudah menguasai pelajara-pelajaran yang diberikan,” kata Spencer yang lagi-lagi mengeluarkan gummy smile andalannya yang membuat Charice ikut tersenyum.

“Memangnya, ayahku sehebat itukah?”

“Begitulah yang kudengar. Ayahmu adalah satu-satunya yang bisa berhadapan langsung dengan ayah Gui Xian, pemimpin saat itu. Untuk berhadapan langsung dengannya, harus menghadapi prajurit-prajurit yang jumlah tak bisa kau bayangkan. Ayahmu tak terlalu pintar bertarung, tetapi ayahmu cerdik dalam mencari jalan-jalan pintas. Tetapi, sayangnya ia kalah melawan ayahnya Gui Xian,” kata Spencer yang membuat keduanya terdiam.

TOK TOK TOK

Suara ketukan pintu menyadarkan keduanya dari keheningan itu. Belum sempat keduanya menjawab ketukan pintu itu, sudah ada sebuah kepala yang muncul dari celah pintu yang terbuka.

“Kau dipanggil Master Cassie,” kata Aiden sambil menatap Charice. Charice pun bangkit dari duduknya, “Terimakasih untuk hari ini, Spencer.”

Spencer hanya memberikan senyum khasnya –gummy smile– singkat lalu kembali berlatih menggunakan tongkatnya walaupun sebenarnya ia sudah sangat handal. Sementara itu, Aiden dan Charice menuruni tangga untuk menuju ruang Master Cassie yang berada di lantai 1.

“Aiden, kau tak perlu repot-repot mengantarku. Aku sudah pernah ke ruangannya,” kata Charice.

“Tidak apa-apa,” jawab Aiden tanpa ekspresi.

Sesungguhnya Charice ingin menanyakan sesuatu hal kepada Aiden, tetapi ia merasa sedikit sungkan kepadanya karena memang Charice dan Aiden tidak terlalu dekat. Sepanjang perjalanan menuju lantai 1, ia terus memikirkan hal itu.

“Apa yang mau kau tanyakan?” tanya Aiden tiba-tiba.

“Kau!” teriak Charice karena kaget melihat Aiden yang seperti bisa membaca pikirannya.

“Ayolah, pikiranmu itu mudah ditebak,” kata Aiden dengan ringan.

“Huh! Kenapa sih semua orang bisa menabak pikiranku,” gerutu Charice dengan pelan tetapi cukup untuk di dengan oleh Aiden dan itu membuatnya tertawa.

“Tidak ada yang lucu!” teriak Charice.

“Maaf, kau polos sekali, sih! Jadi, apa yang mau kau tanyakan?” tanya Aiden setelah berhasil menghentikan tawanya.

“Kau pengendali air kan? Apa yang bisa kau lakukan jika menjadi pengendali air?”

“Banyak. Mendatangkan hujan, badai ataupun tsunami. Intinya, aku bisa mengendalikan gerakan air,”

“Charice!” panggil seseorang yang memotong pembicaraan mereka. Charice pun mencari sumber suara dan menemukan seorang laki-laki berkacamata dan sedetik kemudian senyum pun merekah di bibirnya.

“Nathan! Sedang apa kau di lantai empat?” teriak Charice saat mereka tiba di lantai empat.

“Hanya berjalan-jalan. Hari ini kan libur. Hai, Aiden!” katanya dengan senyum tiga jarinya.

“Oh, hai,” kata Aiden dengan formal.

“Uh! Kamu masih saja bersikap formal padaku!” gerutu Nathan yang hanya dijawab dengan senyum sopan dari Aiden.

“Kau mau kemana, Charice?” tanya Nathan.

“Aku dipanggil Master Cassie,”

“Ayo kesana bersama-sama,”  Charice, Aiden, dan Nathan pun menuju ruangan Master Cassie dengan mengobrol satu sama lain. Mereka pun berjalan menuruni tangga. Namun, tiba-tiba ada sekumpulan murid grade tiga yang berebut untuk menuruni tangga, Charice yang berada di pinggir tangga pun menjadi terhimpit di pinggir, ia pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari tangga padahal mereka berada di lantai tiga.

“Tolong! Tolong! Tolong!” teriak Charice. Ia menutup matanya, berharap semuanya hanyalah mimpi. Aiden, Nathan, dan sekumpulan murid grade tiga pun tercengang. Tubuhnya melayang di udara dan hanya keberuntungan yang akan menyelamatkannya.

**

Charice hanya memandangi kedua manusia di depannya dengan tatapan bosan. Sedari tadi, Nicole dan Jordan yang seharusnya mengajarkan beladiri padanya malah membicarakan kedekatannya dengan Aiden dan perubahan sikap Andrew.

“Aku yakin Andrew itu suka padamu, Charice! Karena kedekatanmu dengan Aiden, Andrew jadi bersikap aneh pada Aiden,” teriak Nicole. Charice hanya berdecak kesal, ia tak menyangka bahwa Nicole yang kelihatan cool dari luar ternyata sangat suka bergosip.

“Nicole, menurutku Aiden juga menyukai Charice! Aku sering melihat Aiden sedang memperhatikan Charice dengan seksama,” teriak Jordan.

“Kalian ini! Mereka hanya temanku!” teriak Charice karena sudah bosan mendengarnya.

“Wow! Cinta segitiga!” teriak Nicole mengabaikan perkataan Charice yang diikuti tawa dari Nicole dan Jordan. Charice pun bangkit dari tempat duduk dan bermadsud untuk segera keluar dari ruang di atap sekolah ini. Melihal hal itu, Nicole dan Jordan pun langsung menghentikan pembicaraan mereka dan mengejar Charice.

“Charice! Jangan pergi, ya?” bujuk Nicole.

“Kami kan hanya bercanda, Charice!” kata Jordan. Charice menghentikan langkahnya dan menatap Nicole dan Jordan. Lalu, ia pun tanpa berkata-kata langsung berbalik dan duduk lagi di tempatnya tadi. Nicole dan Jordan pun sedikit kaget saat melihat Charice yang langsung berubah pikiran. Melihat Nicole dan Jordan yang hanya terpaku di tempatnya, Charice pun berteriak., “Sampai kapan kalian mau di sana?”

Nicole dan Jordan pun tersadar, lalu tersenyum dan mereka berdua melakukan high five. Sedangkan Charice hanya berdecak melihat tingkah mereka berdua.

“Baiklah. Charice, berdirilah dan kau amati kami berdua. Untuk mempelajari beladiri, kau harus punya keyakinan dan keberanian,” kata Jordan memulai pengajaran beladiri di hari itu.

**

Sudah 8 bulan semenjak Charice masuk ke sekolah itu. Itu berarti, sebentar lagi pertaruangan itu akan segera dimulai. Fakta ini membuat Charice sedikit resah. Pasalnya, sebelum masuk sekolah ini, ia hanyalah gadis biasa yang menyukai hal-hal layaknya perempuan, bukan bertarung seperti ini. Ia memang sudah menguasai kekuatan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk perang, tapi inilah pertarungan pertamanya dimana nyawalah yang menjadi taruhannya.     Charice hanya termenung di depan jendela sudut sekolah itu. Ia memejamkan matanya untuk menikmati setiap hembusan angin yang merayapi dirinya.

“Kau sedang apa?”

Charice membuka matanya perlahan dan mencari sumber suara itu. Senyum pun merekah di bibirnya.

“Hai, Aiden,” jawab Charice. Aiden menatap gadis itu sejenak, lalu merubah posisinya sehingga sekarang ia berdiri tepat disamping gadis bermata indah itu.

“Kau belum jawab pertanyaanku,”sindir Aiden.

“Hanya menyesali nasibku. Kenapa aku harus menjadi yang terpilih untuk melakukan pertarungan ini. Aku hanya perempuan biasa, Aiden,” kata Charice penuh penekanan.

Aiden menghembuskan nafasnya perlahan, “Kau bukan gadis biasa. Gadis biasa tak akan pernah dipilih Master Cassie untuk menyelamatkan dunia. Kau hebat dan luar biasa.”

Tak ada pembicaraan diantara mereka. Keduanya sibuk pada pikirannya masing-masing. Mereka menatap luar jendela dengan tatapan kosong tak berarti.

“Aku takut,” kata Charice tiba-tiba yang membuat Aiden menoleh padanya. Aiden membelai rambut gadis itu dengan lembut, mencoba menenangkan gadis itu. Tanpa sadar, setetes air bening jatuh dari mata gadis itu.

“Jangan menangis, Charice. Ada aku disamping. Selalu dan selamanya,” kata Aiden penuh ketenangan. Charice menatap Aiden tepat dimatanya dan ia menemukan ketulusan itu. Seketika itu juga, jantungnya berdetak tak karuan. Inilah pertama kalinya ia menerima ketulusan orang lain pada dirinya selali  dari orang tuanya.

Thank you, Aiden,” kata Charice dengan lirih.

Waktu delapan bulan, telah mendekatkan keduanya. Aiden tak lagi menggunakan kata-kata formal pada Charice karena ia telah mengenal dekat Charice. Bahkan, ia merasa ia telah menyayangi Charice sebagai sahabatnya…. Atau lebih?

**

Sembilan murid itu berada di halaman sekolah untuk menanti musuh mereka yang akan segera datang dalam hitungan jam. Wajah mereka terus menatap pintu gerbang sekolah yang ada dihadapan mereka dengan perasaan was-was. Master Cassie dan Mr Joshua menjadi pendamping kesembilan remaja itu.

Mr Joshua dan Master Cassie sibuk untuk mengamati handphone yang ada di tangan Mr Joshua. Keduanya menunggu kabar dari Jerome mengenai kedatangan Gui Xian ke sekolah mereka. Mereka saling bertatapan penuh ketegangan. Semua murid pun memiliki kesibukan masing-masing. Dennis dan Bryan mencoba memperkuat strategi yang akan mereka gunakan. Aiden dan Andrew duduk di tempat yang terpisah namun keduanya saling bertatapan  tajam. Ada sebuah masalah diantara mereka. Sedangkan, Charice, Nicole, Spencer, Jordan, dan Nathan mencoba untuk melatih kemampuan mereka. Nathan? Ya, murid grade 5 itu menjadi pelengkap ‘Collote Blue Squad’. Kemampuannya yang sebanding dengan murid grade 6, membuatnya dipercaya  untuk menjadi siswa kesembilan itu.

Sesungguhnya, Master Cassie sebagai penentu anggota ‘Collote Blue Squad’, tak pernah bermadsud untuk memasukkan Nathan. Namun, semuanya berubah saat peristiwa jatuhnya Charice dari tangga saat itu.

**

Flashback

“Ayo kesana bersama-sama,”            Charice, Aiden, dan Nathan pun menuju ruangan Master Cassie dengan mengobrol satu sama lain. Mereka pun berjalan menuruni tangga. Namun, tiba-tiba ada sekumpulan murid grade tiga yang berebut untuk menuruni tangga, Charice yang berada di pinggir tangga pun menjadi terhimpit di pinggir, ia pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari tangga padahal mereka berada di lantai tiga.

            “Tolong! Tolong! Tolong!” teriak Charice. Ia menutup matanya, berharap semuanya hanyalah mimpi. Aiden, Nathan, dan sekumpulan murid grade tiga pun tercengang. Tubuhnya melayang di udara dan hanya keberuntungan yang akan menyelamatkannya.

            Nathan yang paling cepat memulihkan kesadarannya dari peristiwa yang menegangkan itu. Dengan kemampuannya berlari cepat, ia pun berlari dan dalam 2 detik ia berada di lantai pertama dan menangkan tubuh Charice yang melayang di udara. Nathan meletakkan tubuh Charice di lantai. Gadis itu tampak kaget dan matanya masih terpejam karena ketakutannya.

            “Charice, bangunlah. Kau sudah selamat,” kata Nathan dengan pelan. Dengan sangat perlahan, Charice membuka matanya dan ia pun melihat senyum Nathan yang merekah dan itu cukup membuatnya merasa tenang.

            “Kau baik-baik saja, Carine?”

            Hanya dengan mendengar suaranya saja, Charice dapat mengetahui bahwa yang bertanya adalah Master Cassie, “Ya, Master. Aku baik-baik saja karena Nathan yang menyelamatkanku.”

            Master Cassie mengkerutkan keningnya sambil menatap Nathan, “Siswa grade 5. Memiliki kecepatan ultra. Nathan, kau masuk ‘Collote Blue Squad’.”

**

“Sebentar lagi mereka akan sampai!” teriak Mr Joshua tiba-tiba setelah membaca pesan dari Jerome.

“Anak-anak! Berkumpul!” teriak Master Cassie yang membuat semua anak menghentikan kegiatannya dan membuat suatu lingkaran kecil.

“Seperti yang telah kita rencanakan sebelumnya, aku, Mr Joshua, Jordan, Nathan dan Spencer yang akan menghadapi para pengawalnya. Andrew, Dennis, Aiden, Bryan, Nicole, dan Charice akan menyusup untuk mencari Gui Xian dan dua temannya yaitu Matthew dan Vincent. Kalian abaikan saja Jerome. Mengerti?” teriak Master Cassie.

“Ya!” semua murid berteriak dengan yakin.

Tiba-tiba, pagi yang cerah itu berubah menjadi pagi yang kelam. Langit menjadi hitam bagaikan kiamat yang semakin dekat. Dari jauh, tampah sekumpulan orang yang berjalan memasuki halaman sekolah. Melihat hal itu, semua murid langsung membentuk barisan. Master Cassie, Mr Joshua, Jordan, Nathan, dan Spencer di barisan depan dan murid lainnya di barisan belakangnya. Peluh membasahi setiap manusia yang menunggu kedatangan Gui Xian. Mata mereka tak henti-hentinya mencari sosok Gui Xian di tengah sekumpulan orang berbaju khas prajurit China itu. Prajurit itu memang tak biasa, karena mereka tak seperti prajurit pada umumnya. Mereka tak memegang senjata apapun. Sama seperti murid-murid Collote Blue, mereka menggunakan kekuatan dalam.

Semua prajurit China itu membentuk barisan yang kokoh dan seseorang maju diantara barisa itu. Dialah Gui Xian. Memakai pakaian layaknya kaisar China, ia pun menatap setiap murid dengan tatapan sinis. Wajahnya tampan dan charisma kepemimpinan begitu terpancar dari dirinya. Rambutnya yang kecoklatan bergerak-gerak mengikuti tiupan angin pagi. Ia tersenyum dengan angkuh.

“Jadi, ini adalah kesembilan murid yang akan mengalahkanku? Kalian yakin?” kata Gui Xian diikuti tawanya yang menggelegar. Tak ada yang tertawa selain dirinya. Ia pun kembali menguasai dirinya dan secara perlahan menggerakkan jarinya sebagai perintah bagi para prajuritnya untuk menyerang.

Prajurit itu berjumlah tak kurang dari seratus orang. Master Cassie, Mr Joshua, Jordan, Nathan pun langsung maju untuk menyerang prajurit itu. Master Cassie menendang dan memukul setiap lawannya dengan sigap. Ia melompat melewati prajurit itu dan memukulnya dari belakang. Dalam hitungan menit, belasan prajurit sudah terkapar tak berdaya di tanah. Mr Joshua menggunakan keahlian martial art nya. Ia menggerakan kedua tongkat pendek di tangannya untuk memukul setiap prajurit yang menghadangnya. Gerakan tanggannya yang ringan membuatnya cepat menguasai keadaan.

Di sisi lain, Jordan menegluarkan kemampuan terbaiknya dalam seni beladiri. Dengan cekatan ia pun menghabisi setiap prajurit dihadapannya. Sebuah pukulan dihadiahkan di perut kanannya, itu membuatnya hampir terjatuh tetapi ia langsung sadar dan memukul balik prajurit itu. Tatapannya menjadi marah karena berhasil dipukul oleh prajurit China itu.

Tak jauh dari Jordan, Nathan terlihat kesulitan dalam menghadapi musuhnya. Ia adalah siswa grade 5 sehingga kemampuan beladirinya tak seberapa dibandingkan para prajurit itu. Ia hanya mengandalkan kecepatannya untuk menghindar dari pukulan-pukulan yang dilontarkan. Tetapi, beberapa pukulan pun berhasil diterimanya. Wajah dan tangannya memar. Tiba-tiba, ada pukulan dari arah belakangnya yang membuat Nathan roboh. Prajurit pun  tersenyum senang dan mereka segera melayangkan tendangan pada laki-laki yang terkapar itu. Belum sempat tendangan itu menyentuh kulit Nathan, para prajurit itu sudah terpelanting menjauh. Nathan melihat hal itu dengan kaget dan lalu ia pun tersenyum  saat mengetahui itu adalah perbuatan Spencer yang menggunakan kemampuan untuk menghilangkan dirinya. Spencer memperlihatkan gummy smile nya sambil menjulurkan tangan untuk membantunya berdiri.

“Berdirilah. Kita berlatih bersama!” teriak Spencer masih dengan senyum khasnya.

“Berlatih?”

“Iya. Kau kan harus melatih bela dirimu. Sekarang saatnya. Anggap saja mereka hanya boneka. Keluarkan kemampuan terbaikmu!” kata Spencer penuh semangat. Lalu Spencer dan Nathan berdiri dengan arah yang berlawanan. Spencer menghadap ke Timur dan Nathan menghadapt ke Barat. Punggung mereka bersentuhan dan mereka siap melawan musuh mereka bersama.

**

Di tengah pertarungan sengit itu, enam anak lainnya berusaha menyusup diantara prajurit-prajurit itu. Mereka mengalahkan beberapa prajurit yang mencoba untuk melarang mereka bertemu Gui Xian. Setelah perjuangan yang panjang, akhirnya mereka menemukan Gui Xian bersama tiga anak buahnya. Disamping Gui Xian terdapat seorang laki-laki yang bertubuh pendek dan gemuk. Disebelah laki-laki itu, terdapat seorang lelaki lainnya yang wajahnya tampak murung. Poninya menutupi sebagian wajahnya. Semua anak menyadari bahwa dia adalah Jerome. Di sisi lain Gui Xian, terdapat seorang lelaki berwajah sedikit imut. Rambutnya berwarna kemerahan. Semuanya menatap murid-murid dengan tatapan sinis.

Tanpa aba-aba apapun, keenam murid langsung maju dan menerjang ketiga orang itu. Andrew dan Bryan melawan Gui Xian. Aiden dan Charice melawan Matthew, sedangkan Nicole dan Dennis melawan Vincent. Dalam sekejab, sebagai pengendali tanah, Andrew langsung menerbangkan tanah untuk menerpa Gui Xian, namun tampaknya ia telah siap dengan serangan itu sehingga ia langsung menghindar. Dengan tubuhnya yang seperti karet, Aiden bergerak meliuk-liuk dan melilit kaki Gui Xian dengan tubuhnya sehingga tubuhnya menjadi tidak seimbang dan hampir terjatuh. Namun, sebagai pengendali segalanya, Gui Xian mengeluarkan lidah-lidah api dari kakinya dan membuat Bryan langsung melepaskan diri dari kakinya dan dengan sigap Gui Xian langsung menendang Bryan. Andrew tak tinggal diam, ia melayangkan tanah berkali-kali tepat ke wajah Gui Xian lalu menendangnya tepat di perutnya yang membuat Gui Xian berdecak marah.

Matthew yang bertubuh gemuk itu langsung memulai pertarungan dengan memberikan bola-bola api pada Charice. Gadis yang belum siap itu pun terjatuh dan merintih kesakitan. Melihat hal itu, Aiden menjadi murka maka dilayangkanlah air yang telah bercampur dengan segala sampah membentuk lumpur ke wajah Matthew dan ia menggunakan kesempatan itu untuk memukul Matthew berkali-kali. Namun, baru dua kali pukulan itu diberikan, Aiden berteriak kesakitan. Karena tubuh Matthew sudah dipenuhi bara api. Charice yang sudah terbangun dari rasa sakitnya, langsung melayangkan bola-bola api seperti yang diberikan Matthew padanya. Karena fokus Matthew hanya pada Aiden, ia pun tak menyadari serangan Charice dan ia pun terkapar di tanah saat terkena bola api itu. Memanfaatkan tubuhnya yang lemah, Aiden dan Charice memukul dan menendang tubuh Matthew hingga nafasnya terhenti.

Hanya berjarak beberapa meter dari tempat kematian Matthew, nasib Vincent pun tak jauh berbeda. Pada mulanya, Dennis yang mengeluarkan kekuatan angin topannya, berhasil ditepis oleh Vincent dengan kekuatan angin badainya. Ya, Dennis dan Vincent memiliki kekuatan yang sama yakni pengendali angin. Keduanya beradu kekuatan angin, hingga Dennis pun mengakui bahwa kekuatan angin miliknya memiliki energi yang rendah pada musim semi seperti saat ini. Kekuatan Dennis akan maksimal pada musim panas nanti. Kebalikannya, musim semi adalah musim dimana kekuatan Vincent tak terkalahkan. Namun, angin tak berpengaruh pada kekuatan gadis berambut pendek itu.

Nicole.

Gadis itu memang tak terlihat oleh mata sejak semua orang sibuk melawam musuhnya masing-masing. Tetapi, sesungguhnya Nicole ada di dekat mereka. Menunggu kesempatan yang baik untuk melawan musuhnya. Dennis tahu akan hal itu, maka ia pun merasa tenang walaupun dirinya berhasil dikalahkan Vincent.

Sedari tadi, gadis itu hanya terbang mengelilingi Vincent tanpa disadari oleh laki-laki itu sendiri. Saat melihat kekalahan Dennis, ia pun merubah wujud dirinya dari lebah kecil menjadi ular berbisa. Vincent yang tak sadar kehadiran ular di kakinya, terus memberikan tendangan pada Dennis. Tiba-tiba, ular berbisa itu memberikan rancunnya pada Vincent. Ia berteriak dan dalam hitungan detik, racun itu menyebar dalam seluruh tubuhnya dan mengganggu kinerja otaknya sehingga ia pun meninggal seketika. Nicole pun merubah dirinya menjadi manusia lagi dan tersenyum penuh  kemenangan kepada Dennis.

**

Semuanya bernafas lega saat mengetahui Matthew dan Vincent berhasil dikalahkan. Charice, Aiden, Nicole, dan Dennis segera menghampiri Bryan dan Andrew yang sedang bertarung dengan Gui Xian. Fakta bahwa kekuatan Gui Xian sebagai pengendali semua kekuatan lebih kuat dari mereka semua, membuat mereka kewalahan. Keadaan Andrew dan Bryan sudah tidak dapat dibayangkan lagi. Wajah dan seluruh tubuhnya penuh memar yang sudah membiru. Darah pun sudah mengering di banyak tempat. Nafasnya tak beraturan dan tubuhnya begitu lelah. Namun, Gui Xian terlihat tidak lelah. Walaupun ada beberapa memar di tubuhnya, itu tak sebanding dengan memar di  tubuh Andrew dan Bryan. Charice, Aiden, Nicole, dan Dennis pun tak bisa tinggal diam. Tetapi, saat mereka baru melangkah menghampiri mereka, Dennis menyadari sebuah hal yang penting.

“Bukankah menurut ramalah itu kita harus bersama-sama untuk mengalahkan Gui Xian?” kata Dennis pelan. Semua mata menatapnya penuh tanya.

“Jadi, kita harus memanggil Spencer, Jordan, dan Nathan?” tanya Aiden yang dijawab oleh anggukan kepala Dennis. Seketika itu juga, Aiden berlari menuju tempat dimana Spencer, Jordan, dan Nathan bertarung. Aiden berpikir bahwa bukan waktunya untuk berlama-lama lagi. Ia harus secepatnya memanggil temannya sebelum Andrew dan Bryan mati terbunuh. Jika seluruh anggota ‘Collote Blue Squad’ belum berkumpul, tak ada gunanya melawan Gui Xian. Karena semuanya akan berakhir dengan kematian dan kekalahan ‘Collote Blue Squad’.

Nathan, Spencer, dan Jordan tampak masih sibuk melawan para para prajurit yang tersisa. Namun, dengan cekatan Aiden menarik ketiga temannya itu dan segera menyerahkan  tugas ketiga temannya kepada Master Cassie dan Mr Joshua. Kedua orang tersebut langsung mengerti akan madsud dari Aiden dan segera membereskan prajurit yang masih tersisa.

“Kita harus melawan Gui Xian bersama-sama untuk menang!” teriak Aiden karena ketiga teman-temannya tak mengerti tentang situasi yang terjadi.

**

TAR

Sebuah sabuk tajam diayunkan Gui Xian kepada Charice, yang membuat gadis itu terkulai di tanah. Sabuk itu tepat mengenai bagian kakinya sehingga ia tidak mampu untuk berdiri. Gui Xian menatapnya dengan senyum kemenangan.

Sementara itu, Andrew yang berada disamping gadis itu, menatap Gui Xian dengan geram. Tangannya mengepal dan matanya kemerahan menahan kemarahan. Dalam sekali hentakan, seluruh tanah di sekitarnya terbang kearah Gui Xian. Ia menyerang Gui Xian dengan kalap. Gui Xian terus menghindar dengan lincahnya tanpa setitik tanah pun yang mengenai dirinya. Gui Xian mengetahui satu fakta. Ia tak tahu perasaan apa itu, tetapi Andrew memiliki perasaan yang berbeda kepada Charice sehingga ia melindunginya dengan sangat ketat dan semua orang pun tahu bahwa orang yang sedang marah tak akan bisa menyerang dengan kemampuan penuhnya karena terlalu banyak terbawa emosi.

TAR

Sekali lagi sabuk itu kembali mengenai Charice yang masih tergeletak di tanah. Gui Xian sengaja melakukan itu, agar Andrew semakin marah dan ia pun bisa menyerang Andrew dengan mudah. Sesuai perkiraan Gui Xian, serangan-serangan Andrew tak lagi efektif. Ia hanya menyerang tanpa  memikirkannya. Gui Xian pun kembali  menggunakan sabuk hitamnya dan mengayunkannya tepat ke kaki Andrew dan menimbulkan luka yang cukup panjang. Andrew terjatuh tetapi matanya terus mengamati Gui Xian. Nafasnya tak beraturan dengan darah segar di sekujur tubuhnya akibat pukulan-pukulan Gui Xian. Di sisi lain, Charice tak lagi berkonsentrasi pada pertarungan Andrew dan Gui Xian. Ia masih fokus pada rasa sakit yang terus menjalari tubuhnya.

“Hanya inikah kemampuan kalian? Memalukan!” kata Gui Xian sambil tertawa penuh kegembiraan.

Tiba-tiba, terdengarlah suara langkah kaki yang sedang berlarian dan datanglah anggota Collote Blue lainnya. Andrew bernafas lega melihat kedatangan teman-temannya. Aiden yang melihat Charice meringkuk di tanah, tergelak kaget dan segera menghampirinya. Ia melihat keadaan Charice yang ternyata sudah pingsan, lalu menatap tajam Gui Xian.

“Kau!” geram Aiden menahan amarahnya. Belum sempat ia mengeluarkan kekuatannya, teman-temannya segera menahan Aiden untuk tidak bertindak lebih.

“Ingat! Kita harus bersatu untuk menang! Emosi hanya akan membuatmu lemah,” bisik Dennis kepada Aiden yang dibalas dengan anggukan kepala.

“Charice dan Andrew akan kuurus. Kalian harus mengulur waktu untuk menunggu Charice sadar dan Andrew bisa bertarung lagi. Setelah itu, kita baru bisa melawannya bersama-sama,” bisik Nathan.

Mendengar hal itu, Aiden, Nicole, Spencer, Jordan, Bryan, dan Dennis segera menghampiri Gui Xian yang sedang tertawa melihat kemenangannya. Aiden segera membentuk gelombang-gelombang air dari kolam yang ada di samping halaman itu dan segera menghempaskannya pada Gui Xian. Namun, Gui Xian segera menepisnya dengan tangannya.

BUK

Tiba-tiba, ada sebuah tongkat melayang yang mengenai kepala Gui Xian dari belakang. Ternyata tongkat itu digerakkan oleh Spencer yang diam-diam menggunakan kemampuannya untuk menghilang. Gui Xian pun terjatuh dan darah merembes keluar dari rambutnya. Kesempatan itu digunakan oleh Nicole dan Jordan untuk menggunakan kemampuan bela dirinya. Mereka memukul dan menendang Gui Xian dengan jurus-jurusnya. Namun, saat Nicole sedang menendangnya, kakinya ditangkap oleh Gui Xian dan dirinya di lempar begitu saja. Spencer pun kembali menggunakan tongkatnya untuk membantu Jordan. Tetapi, ujung tongkat itu berhasil di pegang oleh Gui Xian dan digunakkan untuk memukul Spencer dan Jordan. Dennis dan Bryan pun tak tinggal diam. Dennis meniupkan angin topan kepadanya dan disaat yang sama Bryan pun memegang kakinya dan memelintirnya serta menghempaskannya dengan keras.

“Itu untuk pembalasan akan apa yang kau lakukan pada Nicole!” teriak Bryan tak acuh. Di sisi lain, Nathan menyentuh bagian-bagian tubuh Charice yang terluka seperti tangan dan kakinya. Secara perlahan, luka itu menjadi kering dan akhirnya hilang tak meninggalkan bekas. Disentuhkanlah tangannya ke dahi Charice dan dalam beberapa menit, Charice pun tersadar. Nathan memang bisa menyembuhkan hanya dengan tangannya dan itu adalah salah satu kelebihannya selain bisa berlari cepat. Ia pun tersenyum saat Charice membuka matanya perlahan.

“Cepatlah pulih, Charice. Kita harus bersama-sama untuk mengalahkan Gui Xian,” kata Nathan pelan dengan penuh ketenangan. Nathan bangkit berdiri dan menghampiri Andrew yang keadaannya tidak terlalu buruk. Ia kembali memegang luka pada tubuh Andrew dan dalam beberapa menit, luka itu pun sirna.

Thanks, Nathan,” kata Andrew yang dijawab dengan senyuman khas Nathan.

Sebelum Gui Xian terbangun dari hempasan Bryan yang keras, semuanya-kecuali Charice yang masih lemah- telah membuat lingkaran mengelilingi Gui Xian. Semuanya menatap Gui Xian dengan tatapan garang. Gui Xian yang melihat hal itu, langsung mencoba untuk berdiri. Namun, dengan cepat Dennis meniupkan angin kepada tubuh lelaki muda itu, hingga ia pun kembali terjatuh. Tubuhnya yang sudah penuh luka, membuat kekuatannya tidak maksimal. Kali ini, Gui Xian langsung mengelurkan bola-bola apinya ke seluruh penjuru sambil  terduduk di tanah. Kedelapan anak itu pun menjadi kaget dan terkena lemparan bola api itu. Mengambil kesempatan itu, Gui Xian bangkit dan mencoba menguasai keadaan. Ia mengeluarkan seluruh kekuatannya walaupun musuh-musuhnya masih tergeletak di tanah. Gui Xian tertawa melihat kemenangannya yang dengan mudah ia genggam.

BUZZ

Sebuah hembusan api mengarah pada punggung Gui Xian dan sedetik kemudian ia berteriak karena merasakan panasnya api di tubuhnya. Semua murid menatap murid lainnya, namun tidak ada yang merasa telah mengirimkan hembusan api itu. Tetapi, tak lama mereka pun menatap gadis muda yang masih terduduk di tanah, tak jauh dari mereka. Gadis itu tersenyum dengan sumringah. Charice. Gadis itulah yang mengirimkan hembusan api pada Gui Xian.

Charice dan semua teman-temannya mencoba untuk berdiri dan kembali membuat lingkaran yang besar. Kali ini bersama Charice tentunya. Gui Xian yang masih meringis menatap punggungnya yang sedikit terbakar, hanya menatap kesembilan anak itu dengan geram. Belum sempat lelaki China itu terbangun dari tanah, berbagai kekuatan sudah menyerangnya yang membuat detak jantungnya berhenti dalam hitungan detik.

Angin, air, dan tanah membuat suatu putaran yang dapat menghancurkan apapun yang dilewatinya. Ditambah dengan api naga yang dihembuskan oleh Nicole yang berubah menjadi naga api, serta lemparan  tongkat Spencer yang ditendang oleh Jordan yang tepat mengenai kepalanya, membuat Gui Xian bisa meninggal dalam sekejap. Melihat kekuatan Gui Xian, tentu saja akan terasa aneh jika ia mati dengan mudahnya. Namun, tanpa diketahui siapapun, Bryan lah yang menjadi kunci utamanya. Ia mengendalikan pikiran Gui Xian agar menjadi tak fokus dan dengan mudah diserang.

Semuanya bernafas lega melihat kematian lelaki tampan itu. Senyum kelegaan terlukis di setiap wajah yang lelah. Beberapa diantara mereka, mulai meninggalkan tubuh itu tergeletak disana. Beberapa diantaranya, masih memandangi tubuh dingin itu, termasuk Charice. Ia memandang tubuh tak bernyawa itu dengan perasaan tak tega. Lelaki tampan sepertinya tak seharusnya mati muda seperti ini, pikirnya.

“Kau menyesal telah membunuhnya?” tanya Aiden dengan nada sinis. Charice manatap lelaki di hadapannya itu, “Tentu saja tidak. Hanya saja, aku  merasa dia cukup tampan untuk mati.”

“Aku lebih tampan darinya. Kau tak bermadsud mengatakan bahwa aku tak tampan, kan?” Aiden menatap sinis pada Charice. Gadis itu tertawa mendengar penuturan manusia dihadapannya, “Memangnya kau berharap aku mengatakanmu tampan?”

Charice pergi meninggalkan Aiden dengan langkah tidak pedulinya. Di sisi lain, Aiden tersenyum melihat tingkah gadis itu, “Cute.”

“Siapa?” tanya Nathan yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Aiden hanya tersenyum penuh misterius kepada Nathan dan pergi meninggalkannya.

Hey!Hey! Jawab pertanyaanku!” teriak Nathan yang sudah tertinggal jauh di belakang Aiden.

**

Terpaan angin sore menyejukkan kedua insan itu. Mereka hanya menatap langit di hadapannya namun dengan tatapan yang  berbeda. Si gadis menatapnya dengan penuh kekaguman, sedangkan lelaki disampingnya menatap dengan tatapan kosong. Tak ada suara apapun yang memecah keheningan diantara keduanya. Tanpa disadari, lelaki itu terus mengamati gadis berambut panjang itu dari sudut matanya. Ia menarik nafasnya perlahan, sebelum akhirnya menatap gadis itu dengan fokus.

“Charice,” gumamnya yang tentu dapat di dengar oleh orang disampingnya itu. Orang yang merasa dipanggil itu pun mengalihkan perhatiannya kepada Aiden yang memanggilnya.

I love you,” kata Aiden dengan tegas namun tersirat kelembutan di dalamnya. Gadis itu tampak sedikit terkaget, namun dengan cepat ia mengendalikan dirinya sendiri. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mungil itu, ia hanya menunduk malu.

“Andrew juga menyukaimu. Aku yakin kau tahu akan hal itu,”

“Aku tak menyukai Andrew,” sanggah Charice dengan cepat sambil menatap mata Aiden yang tampak begitu menenangkan.

Really? How about me? Do you love me?” tanya Aiden dengan perlahan. Sangat perlahan. Karena jantungnya berdetak begitu cepat ketika ia mengatakan hal itu. Ia mencoba meneguhkan hatinya dan menatap gadis di hadapannya. Gadis itu tampak tersenyum sangat manis padanya. Melihat senyumanya yang bagaikan matahari di sore hari, ia pun ikut tersenyum. Keduanya ikut tersenyum bahkan tertawa saat menyadari keduanya memiliki perasaan yang sama. Perasaan dalam hati mereka begitu bergelora dan terlonjak kegirangan.

Charice memeluk  lelaki di hadapannya. Ia  terlalu bahagia hari ini hingga air  matanya pun keluar begitu saja.Menyadari bajunya sedikit basah, ia melepaskan pelukan gadis itu dan matanya membulat melihat krystal-krystal bening yang membasahi kedua mata indahnya, “Are you okay?

Gadis itu terisak pelan hingga akhirnya  menangis dengan kencang. Aiden tak tahu apa yang harus dilakukannya karena ia  adalah gadis pertamanya. Ia mencoba memeluk tubuh itu, berharap ketenangan melingkupi dirinya.

I love you too, Aiden,” ujar Charice di tengah isak tangisnya yang membuat Aiden tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.

**

“Mereka begitu romantis,” kata Spencer dengan senyum andalannya di balik pintu itu.

“Aku iri dengannya. Aiden dengan mudahnya mendapatkan Charice!” bisik Jordan dengan menahan kesedihannya.

Ketujuh siswa itu sedang mengintip apa yang baru saja terjadi pada Aiden dan Charice. Mereka semua tersenyum bahagia melihat pasangan baru itu kecuali lelaki tinggi yang berdiri paling belakang.

“Andrew, are you okay?” bisik Bryan yang mengerti betul perasaan Andrew. Dia hanya tersenyum kecut kepada Bryan, “If you really love them, you should let them happy   , right? ”         

            Yes. I’m sure Aiden can protect her,”

Andrew mengangguk dengan pelan, “Ini sesuai dengan ramalan itu, kan? Yang terpandai….. Bukan yang terkuat.”

**

EPILOG

Ruangan bawah tanah ini tampak kelam, hanya cahaya remang yang menyinarinya. Ruangan ini tak terlalu besar, namun dipenuhi oleh barang-barang yang tak wajar layaknya seorang peramal. Hanya dua manusia yang ada di ruangan ini. Seorang wanita gemuk yang sedang memejamkan matanya sambil memegang bola krystal diatas mejanya. Seseorang lainnya, duduk di hadapannya di balik meja itu. Hanya menatap wanita itu dengan tatapan ingin tahu.

“Generasi seratus. Hanya merekalah yang bisa mengalahkan orang China itu,” teriak wanita itu tiba-tiba. Lelaki dihadapannya langsung mencatat apapun yang dikatakan oleh perempuan itu.

“Delapan anak grade enam dan satu anak grade lima. Dua perempuan dan sisanya laki-laki. Hanya mereka yang bisa menandingi kemampuan Gui Xian. Jika kalian salah memilih anak, bisa dipastikan tak akan ada kesempatan yang akan datang di kemudian hari. Kau harus mengambil seorang anak perempuan dari dunia luar. Gadis itu adalah anak dari mantan murid Collote Blue yang pernah berhadapan langsung dengan ayah Gui Xian.”

Wanita itu menghela nafasnya dan membuka matanya, “Hasilnya pertarungan itu tak dapat kulihat karena semua dapat berubah sesuai kenyataan yang terjadi.”

Laki-laki dihadapannya mengangguk sebagai tanda mengerti, “Kapan itu akan terjadi?”

“Saat bulan purnama muncul. Dia akan datang,”

Lelaki itu berdiri dan membungkukkan badannya sebagai tanda terima kasih lalu berjalan meninggalkan wanita itu dengan madsud keluar dari ruangan itu.

“Master Cassie! Gadis itu. Gadis dari dunia luar itu akan menjadi kekasih siswa terpandai di grade 6,” kata wanita itu.

Lelaki yang bernama Master Cassie itu menghentikan langkahnya sebentar lalu berjalan lagi mengabaikan perkataan wanita itu.

“Gadis dari dunia luar yang merupakan anak dari mantan murid yang pernah berhadapan langsung dengan ayah Gui Xian?” gumam Master Cassie sambil berjalan.

Seketika itu juga, senyum merekah di bibirnya, “Anak itu. Pasti dia! Hmm, Charice Carine, Welcome to Collote Blue High School.”

THE END