Title : Bestfriend (part 1)

Author : Lumie91

Main Cast : Lee Sungmin (Super Junior), Han Yejin (OC)

Support Cast : Dong Youngbae/Taeyang(bigbang), Lee Eunri (OC), all members of Super Junior

Rating : G

Genre : friendship, romance

Ps : Author masih baru di bidang per ff-an dan baru belajar nulis ff. Kalau ada kemiripan tokoh, cerita, latar, dll, author mohon maaf karena tidak disengaja karena author gak tahu apa-apa. Gomawo~ ff ini udah author publish di blog author yang baru ajah di buat belum lama ini (http://lumie91.wordpress.com )

Disclaim : ff ini murni buatan dan hasil pikiran author sendiri yang dibuat dengan susah payah, tolong dihargai dengan tidak memplagiatnya yah… ^^

bisa dibaca sambil dengerin lagi BEST FRIEND –JASON CHEN.. karena author terinspirasi dari situ… huahahahaa… udah berhari-hari dengerin tuh lagu n gak bosen2, btw semua tulisan ini adalah Sungmin POV… mungkin nanti bakal ada Yejin POV buat part 2 dan Author POV buad part trakhirnya… tapi gak tau juga dweh.. *plak*

Rumah kami bertetangga dan kami telah berteman akrab sejak aku masih berusia 10 tahun, dan dia 5 tahun. Setiap hari kami menghabiskan waktu bersama. Aku sangat menyayangi Yejin, yeoja kecilku, seperti adikku sendiri karena aku sangat berharap memiliki adik perempuan yang manis, sedangkan adikku di rumah malah adalah seorang laki-laki, Lee Sungjin. Seiring berjalannya waktu, tanpa kusadari ada perubahan pada diriku, pada dirinya, yang tidak kami ketahui sebelum kami sama-sama beranjak dewasa.

Do you remember when I said I’d always be there.

Ever since we were ten, baby.

When we were out on the playground playing pretend.

Didn’t know it back then.

1997, Sungmin 12 tahun, Yejin 7 Tahun.

 

“Yejin~ah, sudah jangan menangis lagi. Aku tidak marah kok,” aku mencoba menenangkan Yejin yang menangis karena tanpa sengaja menjatuhkan gantungan kunci yang kubelikan untuknya saat karyawisata sekolah tahun lalu. Kami sudah mencoba mencarinya di taman tempat kami biasa bermain bersama setiap hari sejaka dua jam lalu, tapi tak kunjung menemukannya. Hari sudah sore dan sebentar lagi matahari akan terbenam.

“Mianhe, oppa…” Yejin terisak, tangannya mengusap-usap matanya yang basah karena menangis.

“Gwenchanayo, kajja, kita pulang,” ujarku seraya menarik tangan Yejin lembut dan mengajaknya pulang ke rumah. Aku mengantarnya sampai depan gerbang rumahnya yang tidak lain dan tidak bukan terletak di sebelah rumahku. Aku melihatnya menghilang di balik pintu, kemudian melangkah menuju rumahku.

2002, Sungmin 17 tahun, Yejin 12 Tahun

 

            “Sungmin oppa… huhuhuhu,” Yejin menangis di hadapanku. Aku juga merasa sedih dan air mataku seakan ingin keluar, tapi aku tetap bertahan agar tidak menangis di hadapannya.

“Gwenchana, Yejin~ah. Kau hanya pindah rumah, kita tetap bisa bertemu di sekolah bukan?” kataku mencoba menenangkannya. Aku melangkah mendekatinya, memeluknya dan menepuk punggungnya lembut, “Sudah jangan menangis lagi.”

“Tapi, oppa.. kau sudah di sekolah menengah atas, sedangkan aku masih di sekolah menengah pertama. Gedung sekolah kita berbeda, kita akan sulit bertemu.”

“Hahaha, jangan kuatir Yejin~ah, kau pasti akan melihatku setiap hari. Aku akan sering menemuimu. Bagaimana jika setiap hari kita pulang bersama. Aku bisa naik bus ke arah rumah barumu, lalu kemudian naik bus untuk kembali ke rumah. Memang jarak yang kutempuh jadi jauh karena harus memutar, tapi kita jadi punya waktu bersama bukan?”

Yejin melepaskan pelukanku, kedua bola matanya yang hitam menatapku lekat, aku bisa melihat kesedihannya sedikit memudar setelah mendengar ucapanku.

“Jinjja? Kau janji oppa?”

“Ne, jinjja…” jawabku mantap, lalu kami saling mengaitkan jari kelingking dan jempol kami.

2003, Sungmin 18 Tahun, Yejin 13 Tahun

 

            “Sungmin oppa!! Tunggu aku!!!” teriak Yejin keras menyuruhku menunggunya yang tertinggal di belakang. Hari ini kami bermain sepeda bersama di taman tempat kami sering menghabiskan waktu kami bermain bersama sewaktu kecil. Aku memperlambat laju sepedaku agar ia dapat menyusulku. Kami bersepeda beriringan.

Setelah merasa lelah, kami duduk di bangku taman. Mengatur nafas kami, saling berpandangan dan tersenyum. Aku memandang wajah yeoja kecilku yang kini bertambah cantik. Yejin sudah mulai tumbuh dewasa. Wajahnya terlihat sangat manis dengan pipi yang sedikit merona merah, dan bibir mungil berwarna merah muda. Aneh kenapa jantungku berdebar kencang melihatnya dari dekat seperti ini, padahal aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya sekalipun kami sering menghabiskan waktu bersama.

***

“Yejin~ah,” bisikku di telinganya. Kami sedang berjalan menuju bioskop untuk menonton film bersama di hari Minggu.

“Ne, waeyo oppa?” tanyanya polos.

“Apa kau sedang dapat?”

“Dapat apa?” ia masih tidak mengerti ucapanku.

“Dapat itu, yang setiap bulan selalu dialami para wanita,” ujarku agak malu membicarakan hal ini.

“Ne, aku memang sedang dapat. Bagaimana kau bisa tahu oppa?”

“Benar dugaanku, ehm.. Yejin~ah, tetap tenang yah, ike.. belakang celanamu ada bercak merah,” ucapku pelan setengah berbisik di telinganya.

“MWO?!!”

Dan hasilnya aku mengantar Yejin ke dalam toilet, lalu segera menuju supermarket untuk membeli pembalut, tidak lupa mampir ke toko baju untuk membelikan celana panjang baru untuknya. Untung aku mengetahui ukuran tubuh Yejin, bukan apa-apa maksudku, namun kami telah bersama untuk waktu yang sangat lama dan aku sudah sering menemaninya membeli pakaian.

“Yejin.. Yejin~ah,” aku memanggilnya pelan dari depan pintu toilet wanita. Orang yang lalu lalang di dekat toilet menatapku, namun aku hanya dapat tersenyum malu ke arah mereka. Beberapa orang malah terkekeh melihatku berdiri di depan toilet wanita sambil mengulurkan celana panjang dan pembalut, terbungkus plastik putih yang agak transparan. Malunya aku.

2005, Sungmin 20 Tahun, Yejin 15 Tahun

 

            “Yejin~ah jangan lupa menonton konser debut pertama kami yah!!” ujarku di telepon dengan suara riang. Setelah menjalani masa training selama 4 tahun, akhirnya aku berhasil debut melalui sebuah boyband bernama Super Junior. Tentu saja Yejin harus menonton penampilan perdanaku ini.

“Ne, oppa. Tentu aku akan datang menontonmu. Hwaiting!!” ujarnya menyemangatiku dari seberang telpon. Aku tertawa kecil mendengar caranya menyemangatiku. Tentu Yejin~ah, gomawo sudah menjadi semangatku.

Setelah debut, kami jadi jarang bertemu, walaupun masa-masa training juga menyita waktu, tapi aku masih sempat menemuinya untuk mengobrol, bermain, menonton film, dan banyak hal lainnya. Kali ini, hampir seluruh waktuku tersita. Satu-satunya cara kami berkomunikasi adalah melalui sms dan telpon, tapi bagiku mendengar suaranya sudah membuatku senang.

Now I realize you were the only one

It’s never too late to show it.

Grow old together,

Have feelings we had before

Back when we were so innocent

2006, Sungmin 21 Tahun, Yejin 16 Tahun

 

            “Sungmin oppa!! Chukae!!!” serunya keras di telpon. Yejin mengucapkan selamat padaku karena Super Junior baru saja menerima penghargaan pertamanya atas single kami “U”.

“Gomawo, Yejin~ah. Aku ada waktu nanti malam, bisakah kita bertemu?” tanyaku padanya yang aku yakin akan dijawab “iya” olehnya.

“Ne, di mana kita bertemu oppa?” jawabnya, benar kan tebakanku, Yejin tidak pernah menolak ajakanku.

“Aku akan menjemputmu nanti malam.”

“Arraseo, aku akan menunggumu oppa. Lagipula ada hal baik yang ingin aku ceritakan padamu. Nanti saja ketika kita bertemu akan aku ceritakan.”

Malam ini kami makan malam di salah satu restoran favorit kami selama tiga tahun belakangan ini. Tidak telalu ramai dan memiliki desain interior yang simple namun elegan. Kami sangat menyukai restoran ini dan hampir selalu menghabiskan waktu makan malam kami di sini.

“Sekali lagi, chukae oppa!!” ujar Yejin sambil mengulurkan sebuah kado kepadaku.

“Wah, apa ini? Kau memberiku hadiah?” kataku seraya menerima kado darinya, membukanya dan menemukan jam tangan berwarna perak di dalamnya.

“Kau akan sangat sibuk dan bertambah sibuk setelah ini oppa. Jangan lupa mengurus dirimu, makan tepat waktu, tidur yang cukup, dan bagi waktumu untuk bertemu denganku,” yeoja di depanku menjulurkan lidahnya sambil terkekeh.

“Hahaha.. arra, arra, gomawo,” ujarku sambil mengacak rambutnya pelan, “Yejin~ah, tadi kau bilang ada hal baik yang ingin kau ceritakan padaku, apa itu?”

“Ne, oppa.. sebenarnya hari ini aku sudah jadian dengan teman sekelasku…”

Jantungku berdegup kencang. Ada perasaan sedih menjalar dalam hatiku. Apa maksud dari semua ini, mengapa aku merasa tidak rela Yejin berpacaran dengan seorang namja? Bukankah seharusnya aku ikut senang mendengar ceritanya. Yejin terus bercerita tentang namja yang sekarang menjadi kekasihnya, tapi aku sama sekali tidak konsentrasi mendengar ceritanya. Hatiku sakit. Apa selama ini tanpa sadar Yejin sudah lebih dari sekedar sahabat bagiku? Apakah tanpa kusadari aku… mencintainya?

Through all the dudes that came by

And all the nights that you’d cry.

I was there right by your side.

How could I tell you I loved you

When you were so happy

With some other guy?

2007, Sungmin 22 Tahun, Yejin 17 Tahun

 

“Yejin~ah, jangan menangis lagi, sudahlah…” aku mengelus pelan kepala Yejin yang sedang menangis di atas tempat tidur. Dia baru saja putus dari namja yang telah 8 bulan menjadi kekasihnya. Namja kurang ajar itu selingkuh dengan yeoja lain. Dasar kurang ajar. Dia telah membuat yeoja kecilku menangis.

“Aku tidak menyangka dia tega menduakanku, oppa…”

Aku memeluk tubuh Yejin, menenangkannya. Tanpa sadar aku mulai bernyanyi untuknya. Aku bernyanyi hingga ia terlelap dalam pelukanku. Jangan menangis untuk namja yang tidak sungguh-sungguh mencintaimu Yejin~ah.

***

Hampir setiap hari aku mengunjungi Yejin untuk menghiburnya. Aku tidak ingin ia terlalu lama larut dalam kesedihan akibat namja kurang ajar yang telah menyakiti hatinya. Di sela kesibukanku bersama Super Junior, aku selalu menyempatkan diri menemui Yejin, walaupun hari sudah malam dan tubuhku terasa lelah, tapi aku akan tetap berusaha ada untuk menghiburnya, sekedar menyanyi untuknya, atau bahkan bermain sulap seperti yang selama ini aku lakukan jika ia sedang sedih. Ia akan tertawa sambil bertepuk tangan ketika aku berhasil membuatnya takjub dengan kecepatan tangan dan trik-trik sulapku.

Beberapa minggu berlalu, dan aku bisa melihat tawa, yang sempat menghilang dari wajarnya, kembali. Aku turut senang melihatnya tertawa lagi seperti dulu. Yeoja kecilku, sarangheo. Andai aku bisa mengungkapkan perasaanku padanya. Tapi bagaimana mungkin?

2009, Sungmin 24 Tahun, Yejin 19 Tahun

            Aku memarkirkan mobilku di depan sebuah universitas di Seoul. Setelah lulus sekolah, Yejin melanjutkan kuliah di Seoul agar bisa berdekatan denganku. Tentu saja aku sangat senang karena kami sekarang bisa lebih sering bertemu.

“Oppa, kau lama menunggu?” Yejin menghampiriku, ada seorang namja yang mengikutinya dari belakang.

“Anii, belum lama. Nuguya?” tanyaku sambil memandang namja yang kini berdiri di samping Yejin.

“Ah, kenalkan ini sunbaeku di klub, Taeyang oppa,” Yejin memperkenalkan namja di hadapanku, “Taeyang oppa, kenalkan ini Sungmin oppa.”

“Rupanya ini Sungmin oppa yang tadi kau ceritakan, Yejin~ah.”

“Ya, Yejin~ah, kau cerita apa tentangku?”

“Hahaha… “Yejin tertawa sambil mejulurkan lidahnya.

“Yejin bilang kau adalah Super Junior Sungmin yang sangat keren, dan kau adalah sahabat sekaligus oppa yang selalu melindunginya sejak kalian masih kecil,” ujar Taeyang menjawab pertanyaanku.

“Sudah.. sudah…” Yejin memotong ucapan Taeyang, “Ayo oppa kita pulang!!”

“Ah, ne..” aku mengiyakan dengan perasaan sedih. Apa aku hanya sahabat dan oppa baginya? Tidak adakah perasaan lebih kepadaku?

Aku mengendarai mobilku, mengantar Yejin pulang setelah namja bernama Taeyang itu pamit untuk kembali ke dalam kampus karena masih ada urusan klub. Sepanjang jalan aku hanya diam. Jujur saja, perasaanku sedikit terluka mendengar ucapan Taeyang tadi.

“Oppa… Sungmin oppa!!” suara Yejin membuyarkan lamunanku.

“Ah, ne?”

“Kau kenapa melamun oppa? Sakitkah?” tanyanya khawatir. Aku sedikit senang melihat kedua bola matanya menatapku dengan penuh perhatian.

“Anii, gwenchanayo, ada apa Yejin~ah?”

“Bagaimana menurutmu?” tanya yeoja kecilku itu sambil terus menatapku.

“Mwo? Maaf tadi aku tidak mendengarmu bercerita. Apa maksudmu Yejin~ah?”

“Aku tadi bercerita tentang Taeyang oppa. Sepertinya aku menyukainya…”

Jeepp!! Aku merasa jantungku seperti ditusuk pisau. Sakit rasanya. Sampai kapan aku hanya diam mendengar Yejin bercerita soal namja lain, padahal dalam hatiku terasa sakit mendengar semua kata-kata dari bibir mungilnya.

“… bagaimana pendapatmu, oppa?” Yejin bertanya lagi kepadaku setelah selesai bercerita. Aku masih kehilangan konsentrasiku. Tapi tetap berusaha menjawabnya agar ia tidak kecewa.

“Ne, kalau kau pikir ia adalah namja yang baik dan kau menyukainya, aku akan mendukungmu.”

I pray for all your love

Girl our love is so unreal

I just wanna reach and touch you, squeeze you, somebody pinch me

This is something like a movie

And I dont know how it ends girl

but I fell in love with my Best Friend

 

2011, Sungmin 26 Tahun, Yejin 21 Tahun

 

            Aku merebahkan diriku di tempat tidur. Super Junior baru saja selesai melakukan promosi album kelima kami di Jepang. Lelah. Sangat lelah, seolah tenagaku telah terkuras habis. Aku menutup mataku, membayangkan segudang jadwal kami yang padat. Tiba-tiba wajah Yejin melintas dalam pikiranku.

Sudah dua bulan terakhir kami tidak bertemu bahkan jarang berkomunikasi lewat telpon maupun sms. Yejin sudah berpacaran dengan Taeyang sejak dua tahun lalu. Hatiku hancur saat itu, tidak, sampai saat inipun hatiku belum kembali utuh. Masih berupa kepingan yang berserakan dan tidak kunjung terkumpul apalagi kembali utuh. Aku masih sangat mencintai yeoja kecilku itu.

Ponselku bergetar, ada telpon masuk. “Yeoboseyo?”

“Sungmin~oppa..” ujar suara di seberang terisak.

“Yejin~ah!!”

***

Di sinilah aku sekarang. Memeluk tubuh yeoja kecil yang sangat kucintai. Ia menangis dalam pelukanku tanpa mengucapkan kata sepatah pun. Setelah lima belas menit menangis, Yejin melepaskan pelukanku.

“Gomawo oppa, aku sudah lebih baik sekarang,” ucapnya lirih sambil menghapus air mata dengan tangannya.

“Ada apa Yejin~ah? Ceritakanlah kepadaku.”

“Taeyang oppa, ia, akan melanjutkan pendidikannya ke Amerika dan kami memutuskan untuk berpisah karena ia ingin fokus pada kuliahnya,” Yejin terisak, air matanya hampir keluar lagi entah untuk yang kesekian kalinya. Hatiku ikut sedih melihatnya menangis, untuk namja yang tidak sungguh-sungguh mencintainya. Namja yang lebih mencintai hal lain ketimbang dirinya. Yeoja kecilku, berhentilah menangis.

Aku mengambil gitar yang bersandar pada dinding kamarnya. Memetiknya pelan dan memainkan sebuah lagu. Yejin menyandarkan kepalanya di bahu kananku. Memejamkan matanya, mendengarkanku bernyanyi.

Whatever you do,  I’ll be two steps behind you

Wherever you go, and I’ll be there to remind you

That it only takes a minute of your precious time

To turn around, I’ll be two steps behind

Yeah baby, two steps behind

Oh sugar, two steps behind

(two steps behind-Def Leppard)

Ia tertidur pulas, aku meletakkan gitar di tanganku, memutar tubuhku perlahan dan meraih tubuhnya sambil memegangi kepalanya. Kubaringkan tubuh Yejin di atas tempat tidur dengan posisi yang benar lalu kutarik selimut menutupinya hingga ke dadanya.

“Jangan menangis Yejin~ah,” ucapku pelan sambil menatap wajahnya yang tertidur pulas, “Aku akan selalu ada di sampingmu, menjagamu selamanya.”

Tanpa sadar aku menundukkan kepalaku, mendekatkan wajahku ke wajahnya. Beberapa detik kemudian, bibirku menempel di bibirnya, lembut dan hangat. Aku terkejut dengan apa yang baru saja aku lakukan. Aku segera menarik diri. Berdiri di samping tempat tidurnya sambil menatap dinding kamarnya yang penuh dengan foto-foto kami sejak kecil. Tak lama kemudian, aku kembali memandang wajahnya yang masih tak bergeming. Cantiknya yeoja kecilku, sekarang ia telah dewasa.

“Yejin~ah, sarangheo.. jeongmal sarangheo..”

TBC

 

Gimana pendapat kalian readers? Bukannya ngelanjutin ff setengah jadi “my fake ordinary wife” malah aku buad ff baru… maklum lagi tergila-gila sama sungmin oppa… kyaaaaa…. lagian ff ini emang niatnya gak di buad sepanjang ff setengah jadi itu kok… jadi tenang aja.. pasti “my fake ordinary wife” akan segera kulanjutin.. hehehehe… :p