Title: Time Traveler (Part 10)

Author: bangmil

Length: Continue

Genre: Romance, Sci-Fi

Cast: Han Sehyun (OC), Hoya (Infinite), Seungyeon (KARA), Infinite members

Happy reading~ ^^

***

Suasana malam itu sangat ramai, walaupun hawa dingin cukup menusuk kulit. Sehyun sedang berjalan sendirian di tengah kerumunan banyak orang, menuju terminal bus Seoul. Ia pikir tidak salah menengok Hoya untuk terakhir kalinya sebelum ia pulang.

Dukk

Seorang pemuda menabrak pundak Sehyun. Ia tampak terburu-buru.

Choeseonghamnida!” Pemuda itu membungkuk dan bersiap untuk melanjutkan perjalanannya lagi. Ia mendongak dan terkejut melihat siapa gadis yang ia tabrak. “Sehyun ssi?”

“Eh? Dongwoo ssi?” Sehyun juga ikut terkejut. Ia heran melihat Dongwoo yang terburu-buru, ditambah dengan tas-tas besar yang ia gendong. “Mau kemana?”

“Aku mau pergi main ski di Muju. Tapi tiket busku malah ketinggalan di rumah. Menyebalkan sekali..” Dongwoo bercerita sambil menendang-nendang tembok kesal. “Ah, dua puluh menit lagi bus-nya berangkat!”

“T-tunggu!” Tangan Sehyun menarik lengan Dongwoo yang sudah bersiap untuk berlari. “Dari rumahmu, kembali ke sini lagi.. sudah pasti kau tidak akan sampai tepat waktu.”

“Yah.. padahal aku sangat ingin pergi..” Dongwoo menghela nafas berat. Ia mengacak-acak rambutnya kesal. Sebenarnya ia sudah tahu kalau yang ia lakukan sia-sia, tapi setidaknya ia tetap saja ingin mencoba.

Sehyun geli melihat ekspresi Dongwoo yang sedang kesal seperti itu. Ia menepuk-nepuk pundak Dongwoo, berusaha untuk menghiburnya.

Namun seberkas ingatan tiba-tiba datang melintas di otaknya.

“Sekarang waktunya kita beralih ke segmen selanjutnya, yaitu Time Travel. Kejadian ini terjadi tiga puluh tujuh tahun yang lalu, tepatnya tanggal 3 Maret 1974.”

“Sebuah bus tujuan Busan mengalami kecelakaan pada dini hari menjelang subuh. Kebanyakan penumpang adalah pemudik dan beberapa di antara mereka berlibur untuk bermain ski di Muju. Keberangkatan bus keempat itu dijadwalkan pada tanggal 2 Maret malam dari Seoul.

“Kau tahu.. Tiga puluh tujuh tahun yang lalu, aku berencana untuk menaiki bus itu.”

“Sehyun ssi?” Dongwoo melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Sehyun yang sedang melamun. “Kau tidak apa-apa?”

Sehyun tersadar. Tanpa pikir panjang, ia segera berlari cepat ke arah terminal bus itu, menghiraukan Dongwoo yang berulang kali memanggilnya. Ia harus segera sampai ke sana, pikirnya.

“Kecelakaan diakibatkan oleh hujan deras yang turun tiba-tiba, disertai angin yang cukup kencang, membuat bus tergelincir. Bus naas tersebut menabrak pembatas jalan dan jatuh dari tebing. Korban jiwa berjumlah tiga puluh delapan orang, termasuk karyawan dan penumpang bus.”

Ingatan itu seperti film, terputar jelas di otak Sehyun. Kalau benar ini adalah hari itu, tiga puluh tujuh tahun yang lalu.. berarti, Hoya..

Sehyun berlari semakin kencang. Ia sangat terburu-buru, tanpa memperdulikan kalau ia menabrak banyak orang, tanpa mengucapkan kata maaf. Berulang kali ia hanya mengatakan ‘permisi’ begitu ia ingin menerobos jalanan yang penuh dengan kerumunan orang itu.

“Permisi! Mana bus yang menuju Busan?” tanyanya dengan nafas tersengal-sengal pada petugas yang sedang mengawasi bus.

“Ada di sana, nona.” Petugas itu menunjuk ke arah bus paling ujung. Dengan segera Sehyun berlari ke arah sana, dengan harapan bus yang dinaiki Hoya belum berangkat.

“Ahgassi, anda tidak boleh masuk tanpa tiket!” Petugas pemeriksa karcis memperingatkan Sehyun begitu ia menerobos antrian dan masuk ke bus.

“Aku akan segera turun!” Sehyun menjawab tanpa melihat sang petugas.

“Hoya?” Nama itu terlontar begitu Sehyun sampai di dalam bus. Ia mencari-cari dimana Hoya berada, dengan wajah bingung, seperti orang kehilangan akal sehat. Orang-orang memandangnya heran.

“Hoya?” Ia menarik seorang pemuda yang sedang berdiri membelakanginya, namun bukan Hoya yang ia lihat.

“Ahgassi, kita bisa terlambat karena anda!” Petugas tadi sekarang sudah berada di dalam bus. Ia memperingatkan Sehyun lagi, diikuti dengan pandangan tidak suka oleh para penumpang lainnya.

“Maaf tapi bus yang menuju Busan dimana lagi?”

Petugas tadi mengerutkan alisnya, bingung. “Bus ini menuju Muju, nona. Kalau yang menuju Busan itu disana.” Ia menunjuk ke sebuah bus yang berada di belakang bus itu persis.

Sehyun menoleh, matanya membulat begitu melihat sosok Hoya yang baru saja menaiki bus tersebut. “Hoya!”

Dengan cepat Sehyun segera turun dan berlari menuju bus satunya. Walaupun kakinya sakit, walaupun nafasnya sesak, ia harus menyelamatkan Hoya. Baginya, tak apa jika di masa depan Hoya tak mengenalnya lagi. Tapi demi apapun, ia tak akan rela jika Hoya meninggal di sini.

“Hoya!” Ia berusaha memanggil Hoya sambil mempercepat larinya.

“Hoya!” Air mata mulai menetes di pipi Sehyun.

“Hoya!”

“Ho–” Seseorang tiba-tiba menarik lengannya, mencegahnya untuk pergi. Nam Woohyun.

“Lepaskan aku! Lepaskan!” Sehyun memberontak, namun tentu saja ia kalah kuat dibanding Woohyun.

“Orang dari masa depan tidak boleh mengubah masa lalu!” bentak Woohyun.

terus saja berontak tapi Woohyun tidak membiarkannya pergi. Beberapa detik kemudian, bus yang Hoya tumpangi mulai berjalan, membuat Sehyun gelagapan. Ia mengambil tabung yang berisi ramuan dari dalam tasnya. “Kalau begitu..” Sehyun menatap Woohyun dengan tajam. “Aku tidak akan kembali ke masa depan!”

Prang!

“Aku akan tinggal di sini selamanya!”

Tabung itu pecah beserta isinya yang berceceran dimana-mana. Woohyun tersentak dan melepaskan pegangannya pada gadis itu. Ia tercengang melihat keberanian Sehyun.

Sementara Sehyun langsung berlari mengejar bus yang baru saja berangkat itu.

“Hoya!” Ia berlari sekuat tenaga. Berharap bus itu akan terkejar.

“Hoya!” Seseorang, tolong hentikan bus itu..

“Hoya!”

“Hoya!”

Kaki Sehyun tersandung dan jatuh tertelungkup. Ia bangkit, berusaha untuk mengejar namun kakinya yang lecet membuat ia tak bisa berlari. Dalam hitungan detik ia jatuh lagi. Ia menyeret kakinya, sambil terus memanggil nama Hoya di sela-sela tangisnya. Melihat bus yang semakin lama semakin menjauh, tangisnya menjadi-jadi. Ia kembali bangkit, lalu berlari dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya.

Tiba-tiba Woohyun datang menarik lengan Sehyun. Mencegahnya agar tidak melakukan hal bodoh lainnya

“Lepaskan aku! Lepaskan..” Sehyun yang putus asa hanya bisa berteriak. Ia menangis dengan keras.

“Seburuk apapun peristiwa itu, kita tidak boleh mengubah sejarah.” Ujar Woohyun. Nadanya ia perlembut agar Sehyun dapat mengerti maksudnya.

“Lepaskan aku! Hentikan waktunya! Hoya!” Sehyun masih berusaha lepas dari Woohyun, tapi ia tak punya tenaga. Ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya begitu bus yang Hoya tumpangi menghilang dari pandangannya.

“Hoya..” Sehyun terduduk lemas. Ia tidak tahu apalagi yang harus ia lakukan. “Hoya, mianhae..”

Woohyun merangkul Sehyun. Ia mengerti perasaannya, karena dulu ia pernah merasakan hal yang sama. Ia sebenarnya tidak tega menghentikan perjuangan Sehyun, tapi bagaimanapun juga ia tak boleh melawan takdir.

“Hoya, mianhe..” Lagi-lagi Sehyun mengucapkan maaf pada Hoya.

Sementar Woohyun hanya bisa menatap gadis itu iba. Begitu Sehyun merasa lebih tenang, ia mulai melakukan tugasnya. “Sekarang, aku akan menghapus ingatanmu.”

Syuut..

Rasanya waktu berputar berlawanan arah. Sehyun bisa melihat kenangan-kenangan saat ia tinggal di sini. Dongwoo, Seungyeon, Sunggyu, Woohyun, Sungjong, dan.. Hoya. Saat-saat ia tertawa bersamanya, saat ia membuatnya sedih, saat mereka pertama kali bertemu.. Semuanya tampak menghilang, jauh, dan lama-kelamaan pandangan Sehyun kabur. Ia.. terlelap.

Woohyun menghela nafas panjang. Akhirnya tugasnya selesai, walau itu berlangsung pahit. Matanya menyipit melihat sebuah amplop yang keluar dari tas Sehyun. Ia meraih amplop itu dan membukanya.

Setelah itu, ia memasukannya ke dalam saku jaketnya, namun ia tampak ragu. Ia menatap wajah Sehyun yang terlelap, dan matanya yang sembab akibat menangis. Entah kenapa ia merasa bersalah jika menyita benda tersebut dari Sehyun. Woohyun berpikir sebentar, lalu menyisipkan amplop itu ke dalam saku blazer seragam Sehyun.

“Sekarang aku akan mengembalikanmu ke masa depan.”

***

“S-sehyun..” Seungyeon memanggil nama anaknya dengan terbata-bata. Perlahan, ia mulai membuka matanya, mengerjap beberapa kali. Lama kelamaan, pandangannya menjadi semakin jelas. Namun, bukan Sehyun yang ia dapati, tapi seorang pria seumurannya yang sedang berdiri di sebelahnya sambil tersenyum.

“Woohyun ssi?” Seungyeon memanggil pria itu. Ia tersenyum. “Pesanku sudah sampai ternyata.”

Woohyun membalas senyuman Seungyeon sambil mengangguk. Ia meletakkan setangkai bunga lavender di sebelah bantal Seungyeon. “Terima kasih.”

Senyum Seungyeon mengembang. Setelah berpuluh-puluh tahun lamanya, akhirnya mereka berdua dapat bertemu lagi.

“Dia.. mirip sekali denganmu.” Ujar Woohyun lagi.

Seungyeon sedikit terkejut, namun kemudian ia tersenyum. Bagaimanapun juga, ia senang karena ia dan anaknya dikatakan mirip satu sama lain.

Tangan Woohyun sudah berada di depan mata Seungyeon. Ia sudah bersiap untuk menghapus ingatannya, lagi. “Suatu hari nanti kita akan bertemu lagi, di masa yang akan datang..”

***

Drrt.. Drrt..

Getaran ponsel membuat Sehyun terbangun dari tidurnya. Ia berusaha untuk bangkit, tapi entah kenapa kaki dan punggungnya terasa pegal sekali. Akhirnya dengan malas, ia berhasil duduk tapi matanya masih terasa berat.

“Kenapa aku tidur di sini ya?” gumamnya sambil mencoba untuk berdiri. Ia tidak ingat kalau semalaman ia tidur di lantai, dengan barang-barang yang masih berserakan dimana-mana. Ia memukul dahinya pelan begitu ia sadar kalau ia masih memakai seragam sekolah.

Sehyun menguap pelan lalu beranjak dan mengambil segelas air putih dari dapur. Ia memijit punggungnya yang terasa pegal. “Sepertinya aku mengalami mimpi buruk.”

“Sekarang waktunya kita beralih ke segmen selanjutnya, yaitu Time Travel. Kejadian ini terjadi tiga puluh tujuh tahun yang lalu, tepatnya tanggal 3 Maret 1974.”

Sehyun berjalan ke arah ruang tengah begitu menyadari bahwa televisinya masih menyala sejak tadi malam. Ia meneguk minumnya pelan sambil menguap beberapa kali.

“Sebuah bus tujuan Busan mengalami kecelakaan pada dini hari menjelang subuh. Kebanyakan penumpang adalah pemudik dan beberapa di antara mereka berlibur untuk bermain ski di Muju. Keberangkatan bus keempat itu–”

Pip

Sehyun mematikan televisi tersebut. Ia pikir boros sekali jika ia sampai menghidupkan televisi dua puluh empat jam. Lagipula ia juga tidak tertarik dengan berita tersebut.

“Ah, iya.. Tadi kan ada SMS masuk..” gumamnya sambil berjalan menghampiri ponselnya. Dengan lihai jemarinya memainkan ponsel tersebut dan membuka kotak pesan baru.

Dari: Dongwoo ahjussi
Cepat ke rumah sakit. Ibumu sudah sadar sekarang.

“Jinjja??” Ponsel Sehyun hampir saja jatuh. Baru beberapa detik kemudian, ia sadar dan melonjak girang. Dengan semangat ia bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Namun suara dering telepon menghentikannya.

Sehyun mengangkat gagang telepon. “Yeoboseyo?”

“Ah, apa ini Sehyun?”

“Ne. Ini dengan siapa?”

“Aku Sunggyu, Kim Sunggyu.”

Sehyun tersentak begitu mendengar nama pemilik suara tersebut. Bukankah Kim Sunggyu adalah nama orang yang ada di inbox e-mail ibunya kemarin? Itu berarti, dia..

“Bagaimana keadaan ibumu?”

Sehyun tersadar dari lamunannya. “A-aku dengar ibu baru saja siuman. Aku pikir dia akan baik-baik saja.”

Terdengar suara helaan nafas lega dari seberang sana. “Oh.. baguslah kalau begitu. Oh, ya. Aku sedang ada di Seoul, jadi mungkin nanti atau besok aku akan menjenguk ibumu.”

“Ne. Kamsahamnida.”

Sehyun menutup telepon. Ia menarik nafas berat. Benarkah dia ayahnya? Tapi di dunia ini yang namanya Kim Sunggyu ada banyak kan? Bisa saja Kim Sunggyu penyanyi, atau anggota boyband, atau mungkin–

Sehyun memukul-mukul kepalanya pelan. Cukup, Sehyun.. cukup. Sudah waktunya ia untuk segera pergi ke rumah sakit. Ia pun mengambil sebuah paper bag yang berisi buah-buahan yang sudah ia siapkan tadi.

Tidak ada sepuluh menit, Sehyun sudah sampai di rumah sakit. Begitu ia sampai, ia mendapati ibunya yang sedang melamun sambil menghadap langit-langit kamar. Seketika senyum senangnya mengembang.

“Umma!” Sehyun menjerit senang. Ia menghampiri ibunya dan menggenggam tangannya. “Umma, ingat aku kan?”

“Sehyun..” ujar Seungyeon lirih. Sehyun tersenyum senang lalu segera mengambil kursi agar ia bisa duduk di sebelah ibunya.

“Sehyun ah.” Panggil Seungyeon tiba-tiba.

“Ne, umma?”

“Entah kenapa.. aku merasa mencium bau yang nostalgik.” Lanjutnya. Ia belum bisa banyak bergerak, jadi ia hanya bisa melirik.

“Nostalgik?” Alis Sehyun mengerut bingung. “Ini ya?” Ia menunjukkan sehelai bunga yang terletak di sebelah bantal Seungyeon.

“Eh? Itu kan bunga lavender..” ujar Seungyeon heran.

“Kira-kira siapa yang menaruhnya disini ya.. ah, mungkin Dongwoo ahjussi.” Sehyun menghirup wangi bunga itu. Ia tersenyum senang. “Wangi ya.”

Sehyun tersenyum sambil memberikan bunga itu pada ibunya agar ikut menghirup wanginya juga. Seulas senyum terlukis di bibir Seungyeon.

“Ah, iya. Aku harus segera pergi, umma. Sebentar lagi Dongwoo ahjussi akan datang, jadi umma tenang saja! Annyeong!” Sehyun pamit pada ibunya lalu melesat pergi ke rumah makan keluarga Sungyeol. Ia sudah janji pada Sungyeol dan L akan mentraktirnya jika ibunya sudah siuman.

Hanya dalam waktu beberapa menit, akhirnya Sehyun tiba di rumah makan Sungyeol. Ia mengintip tempat parkir sebentar, dan menemukan sepeda L di sana. “Myungsoo juga sudah datang sepertinya, baguslah.” Gumam Sehyun. Ia kemudian segera masuk ke dalam rumah makan dan tiba-tiba..

“Saengil chukka, Sehyun ah!!”

Sehyun terperanjat. Di sana terdapat Sungyeol, L, bahkan ayah, ibu dan adik Sungyeol, Daeyeol, pun menyelamatinya. Apalagi ditambah dengan sebuah kue tart vanilla yang dibawa oleh L, membuat ia bertambah terkejut. Sungguh, ia sendiri bahkan lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.

“Potong kuenya!” seru Sungyeol keras. Choding itu memang selalu semangat jika ada acara-acara seperti ini.

Babo ya? Pertama-tama dia harus berdoa dulu, lalu tiup meniup lilin. Baru setelah itu potong kuenya, Sungyeol ah.” Timpal L. Ia memberi isyarat pada yang lain untuk diam dan menyuruh Sehyun berdoa.

Sehyun tersenyum, lalu memejamkan matanya. Harapannya apa.. itu rahasia. Ia membuka matanya, lalu meniup lilin yang berbentuk angka sembilan belas diikuti oleh tepuk tangan dari semuanya.

“Gomawo!” seru Sehyun senang. Di dalam hidupnya, ini adalah hari ulang tahun terindah baginya. Setelah ibunya siuman, ia juga mendapat hadiah ulang tahun dari teman-temannya.

Akhirnya kue pun dipotong dan seperti biasa, Sungyeol mendapat bagian yang paling besar. Ia memang tidak pernah mau mengalah kalau urusan makanan. Mereka bertiga pun akhirnya duduk, sambil memakan kuenya masing-masing.

“Sungyeol ah, Myungsoo ya, ingat sekarang aku lebih tua daripada kalian.” Ujar Sehyun sambil berlagak dewasa.

Sungyeol mencibir. “Arasseo, noonim.” Ia kemudian tertawa. “Kau jadi tampak tua.”

Ya! Aku bukan tua, tapi dewasa!” balas Sehyun sambil memukul pundak Sungyeol. Lagi-lagi pertengkaran kecil terjadi.

Seperti biasa, L hanya menjadi penonton setia. Ia mengamati kedua sahabatnya itu sambil memakan kuenya dengan tenang. Matanya menyipit begitu menemukan sebuah benda putih tampak separuh dari saku blazer Sehyun.

“Ngomong-ngomong itu apa yang ada di sakumu?” tanya L sambil menunjuknya.

Sehyun pun mengambilnya dan menatapnya dengan heran. “Ini.. apa ya?”

(To be continued..)

***