Title                 : Girl with red-rose tattoo Chapter Three

Author             : Andee

Genre              : Romance

Length             : Continue

Main Cast        :

1. Choi Siwon

2. Elena Hwang [OC]

And other support cast

————————————————————————————–

Elena’s

He must be crazy! Bagaimana dia bisa bilang kalau Eun Rie lah yang sudah menyebarkan berita itu? dan dia pikir aku percaya dengannya.

“Kalau begitu kita tanyakan langsung saja padanya.” Tantang Siwon sore itu.

“Shireo.” Jawabku pendek, aku tidak mau melibatkan Eun Rie.

“Waeyo?” dia menuntut

“Karena aku percaya bukan dia. Kau gila menuduhnya? Aku dan dia sudah berteman lama.”

“Aku tidak menuduhnya, tapi itu kenyataan yang ada. Kepala redaksi tabloid itu sendiri yang mengatakannya.” Dia masih bersikeras.

Aku menggigit bibir bawahku. Siwon memang menyelidiki berita itu, sepertinya dia memaksa kepala redaksi yang memasang berita itu untuk menyebut sumbernya.

“Ayo.” Dia memaksaku, sambil memandangku dengan tatapan menuntut.

Aku menghembuskan nafas kemudian meraih ponselku, menekan angka 5.

“Eun Rie, apa kita bisa bertemu? Ah ye, di pinggir sungai Han. Ah? Ada yang mau aku katakan padamu. Palliwa.”

Rasanya aku tidak mempercayai apa yang Eun Rie katakan baru saja. Bukan, aku bukan tidak mempercayai. I won’t believe that! Aku harap dia sedang bercanda dengan lelucon konyolnya. Tapi melihat kemudian dia menangis dan berlutut di hadapanku, aku percaya ini bukan gurauan konyol.

“Mianaa.. jeongmal mianaa.. Elenaa.” Dia merintih di depanku.

Aku menghempaskan tangannya, menatapnya dengan tatapan dingin, “waeyo?”

Dia menatapku dengan tatapan kaget, “aku…”

Aku menunggu jawabannya. Aku marah, kecewa padanya.

“Aku tidak terima. Kau cantik, pintar, dan punya segalanya. Bahkan ketika kau mabuk kau mendapatkan Choi Siwon!” Jawabnya. Meski sambil menyesali perbuatannya, tapi aku bisa mendengar nada tegas. She must be crazy!

Are you crazy? Jadi hanya karena itu, kau tega melakukan ini semua?” aku bertanya dengan nada dingin.

“Aku…”

“Terima Kasih. Eun Rie-ah, kau tidak tau bukan seberapa besar efek berita itu padaku? Pada Choi Siwon-ssi? Tidak bisakah kau gunakan akal sehatmu?” tanyaku sinis.

“Mianaaa…” dia kembali merintih.

Aku kemudian menghempaskan tangannya dan berjalan pergi. Tidak memperdulikan panggilan Eun Rie maupun Siwon. Dia bilang aku punya segalanya? Aku punya segalanya kecuali seorang ibu yang mencintaiku.

Siwon’s

Aku menahan bahunya, menahannya masuk ke mobil. Aku membalik tubuhnya pelan dan menemukan wajahnya sudah dibanjiri air mata. Dia menunduk, tidak sama sekali menatapku. Aku menghela nafas kemudian menariknya lembut ke pelukanku.

“Mianaaa… jeongmal miana..” ujarnya sambil tersedu-sedu.

Aku mengusap kepalanya lembut, “ini bukan kesalahanmu, Elena. Jangan menangis seperti ini. semuanya akan baik-baik saja.” Jawabku menenangkannya.

Dia masih tetap menangis, aku bisa mendengar dia sesenggukan. Dibanding aku, mungkin yang ia rasakan lebih sakit. Dikhianati sahabatnya sendiri hanya karena alasan sepele semacam itu. aku merasakan kemeja yang aku gunakan mulai basah. It feels like, i’ll let all my giorgio armani shirt wet by her tears if it can make her feel better. Really…

Dia kemudian melepaskan pelukanku pelan, sebenarnya agak sedikit membuatku kecewa. Entahlah, aku masih begitu ingin memeluknya. Menenangkan hatinya yang sedang kacau.

“Gomawo..” ujarnya kemudian.

Aku memegang kedua bahunya, “semuanya akan membaik Elena. You must be stronger, arachi?”

Dia mengangguk sambil menghapus air matanya.

“Apa kau butuh sesuatu sekarang?” tanyaku.

Dia menatapku sambil menggeleng, “terima kasih banyak Siwon-ssi. Aku minta maaf atas semua yang sudah terjadi.”

“Kalaupun ada yang bersalah, maka kita berdua. Tapi aku tidak merasa apapun yang kita lakukan salah. Karena aku melakukannya dengan tulus.” Jelasku.

Dia menatapku, dengan tatapan aneh. Aku hanya tersenyum membalas sepasang manik mata yang memandangku penuh tanya.

“Kau ingin jalan-jalan sebentar?” tanyaku

Dia menggeleng sekali lagi, “kau pasti sibuk. Aku langsung pulang saja.”

Aku menghela nafas, aku memang sibuk. Seharusnya sekarang aku berada di kantor management-ku untuk latihan koreografi dan briefing penampilan bersama grupku nanti malam. Tapi demi dia, gadis ini, jadwal itu kalah telak.

“Kau yakin kau akan baik-baik saja?” tanyaku sekali lagi, memastikan.

Dia mengangguk.

“Telfon aku jika sesuatu terjadi padamu, arachi?”

I’ll. Thanks a lot.”

My pleasure. Jangan menyetir seperti orang mabuk Elena. Sayangi nyawamu.” Aku mulai memperingatkannya. Aku bisa melihat gelagat seperti apa gadis ini akan mengemudikan audi R-8nya ini.

Dia tersenyum tipis, membuat hatiku sedikit lega.

Bye Siwon-ssi. Take care.”

Aku mengangguk.

**

Author’s

Elena menutup kopernya kemudian memberdirikan posisi koper yang sudah penuh dengan baju-bajunya. Sudah ia putuskan besok ia akan berangkan ke Paris. Ia akan tinggal beberapa saat disana, untuk menenangkan dirinya. Atau mungkin tidak kembali? Entahlah. Ia merasa mulai tidak nyaman dengan kondisi ini. ibunya, Eun Rie, teman-temannya di kampus. Semuanya sudah terasa berbeda. Elena memandang layar ponselnya, haruskah ia pamit pada Siwon dan mengucapkan terima kasih untuk kesekian kalinya?

Berita itu memang lambat laun sudah tenggelam, tapi tidak dengan dinginnya hubungan Ibu dan Elena. Bagaimanapun, berita itu fakta. Walau yang ditakutkan Ny. Hwang, Ibu Elena tidak terjadi.

“Kau akan berangkat besok?” suara Ayah tiri Elena.

Elena mengangguk sambil tersenyum samar.

“Kau yakin?”

“mungkin ini yang terbaik. Ibu mengirimku kesana bukan karena kesalahanku, tapi karena dia trauma setiap melihatku.”

“Elena jangan berpikiran seperti itu. ibumu hanya butuh waktu.”

Elena tersenyum miris, “21 tahun aku menunggu dan sepertinya itu terlalu panjang.”

Ayah menghembuskan nafas kemudian menepuk bahu putri tirinya itu pelan, “jaga dirimu baik-baik disana. Jika sesuatu terjadi, hubungi appa. Arraseo?”

“Ne, gomawo.”

Tanpa mereka sadari, ada sepasang telinga yang mendengar percakapan mereka. Sepasang mata yang pelupuknya tergenang air mata. Milik Ny. Hwang.

**

Siwon’s

Aku bersyukur berita itu sudah mereda. Situasi sedikit demi sedikit sudah kembali normal. Hanya saja, sejak satu minggu lalu ketika aku bertemu dengan Elena sampai hari ini, gadis itu sulit sekali dihubungi. Ponselnya aktif tapi tidak ada jawaban. Bukannya hubungan kami harusnya ada perkembangan? Aku memang belum mengatakan perasaanku padanya, tapi apakah dia tidak bisa melihat di mataku?

Aku kemudian menekan namanya di phonebook dan menelfonnya.

“Yeoboseyo.”

Terima kasih Tuhan, akhirnya. “Kau dimana?”

“Di jalan. Ada apa?” tanyanya.

“Kau mau kemana?” tanyaku.

“Bandara.”

“Bandara? Menjemput atau….”

“Berangkat ke Paris siang ini.”

“MWO?”

“Ne. Aku akan tinggal disana untuk beberapa saat. Eum, Siwon-ssi terima kasih untuk segalanya. Semua yang kau lakukan untukku, untuk melindungiku.”

“….”

“Maaf kalau aku belum sempat memberitahumu. Semua ini serba mendadak.”

“Kenapa kau pergi? Bukannya berita itu sudah reda?” tanyaku lagi, tidak terima.

“Ada banyak hal yang tidak bisa aku ceritakan sekarang.”

“Wae?”

“Siwon-ssi, aku…”

“Aku akan kesana sekarang.” Putusku

“Ne?”

*continued*

Hahahahaa…

What’s up readerss and siderss too :p

Satu part lagi kemudian fiction ini tamat. Hahahaa maap kalo masih kependekan dan kependekan loh yaa…

Author gak terlalu pintar merangkai kalimat demi kalimat menjadi lebih puitis dan panjang.

Have a nice day pals

Andee loves you ^^