Title : My Fake Ordinary Wife (part4)

Author : Lumie91

Main Cast : Kim Jongwoon/Yesung(Super Junior), Shin Hyeni (OC), Park Yunhee(OC), Lee Hongki(FT Island)

Support Cast : Lee Hyukjae, Lee Eunri, Lee Donghae, Shim Changmin, Kim Yoojin/Uee

Rating : G

Genre : romance, comedy, drama

Ps : Author masih baru di bidang per ff-an. Ini adalah ff pertama author dan author sendiri baru belajar nulis ff. Kalau ada kemiripan tokoh, cerita, latar, dll, author mohon maaf karena tidak disengaja karena author gak tahu apa-apa. Gomawo~ ff ini udah author publish di blog author yang baru ajah di buat belum lama ini (http://lumie91.wordpress.com )

Disclaim : ff ini murni buatan dan hasil pikiran author sendiri yang dibuat dengan susah payah, tolong dihargai dengan tidak memplagiatnya yah… ^^

 

Hyeni POV

 

Aku berjalan dengan langkah agak tertatih menuju taman dekat perusahaan tempatku bekerja. Luka di lututku masih terasa perih. Namja yang tadi menabrakku, Hongki~ssi, memang telah mengobati lukaku, ia mengantarku sampai ke perusahaan bahkan menunjukkan jalan menuju ruang tempatku berganti seragam. Sepanjang perjalanan ia telah meminta maaf berkali-kali sampai aku tidak dapat lagi menghitung berapa banyak kata maaf yang keluar dari mulutnya.

 

Sekarang jam makan siang. Sebenarnya ada sebuah kantin dekat perusahaan, tapi aku tidak beniat makan di sana, kantin itu terlihat penuh dengan para karyawan yang mengantri makanan. Aku sudah menyiapkan bekal tadi pagi, jadi aku rasa taman ini cukup indah dan dapat kujadikan tempatku beristirahat sambil menikmati makan siangku. Aku lebih menyukai makan siang di tempat terbuka yang sejuk dan tenang seperti ini.

Masih dengan langkah tertatih-tatih aku berjalan menuju salah satu bangku kosong yang ada di dekat pintu masuk taman. Sebuah mobil melintas di sampingku, lalu membunyikan klakson pelan. Dengan sedikit kaget aku menoleh, aku mengenali mobil yang sekarang berhenti di sampingku ini.

 

“Hyeni~ssi, kita bertemu lagi. Kau mau ke mana?” tanya Hongki~ssi ramah setelah menurunkan kaca jendela mobilnya.

 

“Aku mau makan di taman. Kebetulan tadi pagi aku menyiapkan bekal makan siang, jadi aku tidak makan di kantin,” jawabku sambil menunduk, melihat Hongki~sii dari jendela mobil.

 

“Bolehkah aku menemanimu?” tanya namja itu lagi.

 

“Ah, ne. Tentu saja boleh, Hongki~ssi.” jawabku seraya tersenyum ke arahnya. Hongki~ssi tertawa kecil.

 

“Ok!” serunya dengan lantang, “Kajja, masuklah!”

 

“Mwo?”

 

“Kau harus menemaniku membeli makanan dulu karena aku tidak membawa bekal. Nanti kita bisa makan bersama di taman, otte?” ucapnya sambil membukakan pintu mobil dan mendorongnya sedikit ke arahku.

 

“Ne, baiklah.”

 

***

 

Hongki POV

 

Yeoja yang sekarang duduk di sebelahku, tak lain dan tak bukan adalah Shin Hyeni. Tadi pagi aku hampir menabraknya. Untung dia tidak mendapat luka yang serius, hanya luka kecil di lutut kirinya. Aku sangat merasa bersalah padanya. Tadi pagi aku kurang hati-hati menyetir mobilku karena sedang menerima telepon dari Jongwoon hyung.

 

Jongwoon hyung ingin meminta bantuanku untuk mencari seorang yeoja yang tanpa sengaja diakuinya sebagai calon istrinya. Kemarin Jongwoon hyung telah menceritakan seluk-beluk peristiwa yang menyebabkan yeoja itu bisa dianggap sebagai calon istrinya. Semuanya berawal dari kekesalan hyung pada Yunhee noona yang menolak lamarannya. Aku jadi merasa kasihan pada Jongwoon hyung.

 

Pagi ini Jongwoon hyung menelponku untuk memastikan bahwa aku bersedia membantunya. Tadinya ia ingin datang ke kantorku pagi ini, tapi karena ia ada syuting mendadak sampai siang, ia baru bisa datang sekitar pukul 4 sore untuk mencari yeoja itu. Jongwoon hyung tidak menceritakan apapun tentang yeoja itu padaku, ia hanya bilang bahwa nanti ia akan menunjukkan kartu pengenal yeoja itu padaku agar aku bisa membantunya untuk bertemu dengan yeoja itu.

 

“Hyeni~ssi, bagaimana keadaan kakimu?” tanyaku membuka percakapan dengan yeoja manis di sampingku. Manis? Ya, menurutku Hyeni~ssi sangat manis. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, kulitnya juga agak kecoklatan, walau tidak memiliki lipatan mata, tapi matanya bulat dan besar ketika sedang menatap sesuatu, contohnya tadi pagi saat menatapku keluar dari mobil untuk menolongnya. Kurasa aku menyukainya. Jangan salah sangka, aku bukan seorang playboy yang gampang menyukai yeoja manapun. Sepanjang 22 tahun aku hidup, aku belum pernah memiliki kekasih. Aku selalu fokus pada sekolahku, semua kulakukan karena aku tidak mau mengecewakan orang tuaku. Aku adalah anak tunggal yang menjadi satu-satunya harapan mereka.

 

“Sudah tidak apa-apa. Masih terasa sedikit sakit, tapi aku baik-baik saja,” jawabnya sambil menatapku. Aku dapat merasakan jantungku berdetak lebih cepat ketika bola mata kami bertemu. Kualihkan pandanganku ke jalan di depanku. Aku pun hanya tersenyum untuk menahan malu. Semoga Hyeni~ssi tidak menyadari perasaanku. Karena ini pengalaman pertama bagiku, aku takut dia akan dengan mudah menangkap perasaanku padanya.

 

“Hyeni~ssi, kau tunggu saja aku di mobil, aku tidak akan lama,” ujarku sambil memarkirkan mobilku di depan sebuah restoran tak jauh dari taman.

 

“Ne,” jawabnya singkat. Aku segera turun. Memesan makanan dan minuman dengan secepat mungkin dan kembali sebelum 10 menit berlalu. Aku tidak ingin Hyeni~ssi lama menunggu. Kami segera kembali ke taman untuk makan siang bersama. Sepanjang jalan aku banyak bertanya kepadanya, mengenai dirinya, aku ingin tahu lebih banyak lagi tentangnya.

 

“Apakah kau tinggal dengan orang tuamu, Hyeni~ssi?” tanyaku sambil tetap memperhatikan jalan di depanku.

 

“Anii, tidak. Mereka telah tiada,” suara Hyeni~ssi sangat pelan, hampir tidak terdengar di telingaku.

 

“Mwo?”

 

“Mereka sudah meninggal karena kecelakaan mobil 4 tahun lalu,” jawabnya dengan suara lebih keras, tapi tetap terdengar lemah.

 

“Ahh, mianhe Hyeni~ssi, aku tidak…”

 

“Gwenchanayo. Aku tidak apa-apa. Setidaknya aku sudah mulai bisa merelakan kepergian mereka,” Hyeni~ssi tersenyum kearahku. Untuk berberapa detik bola mata kami bertemu, saling berpandangan, dapat kulihat kesedihan di dalam matanya, sekalipun ia tersenyum padaku.

 

“Hyeni~ssi, maukah kau jadi teman baikku? Maksudku, kau bisa mencariku kalau butuh sesuatu, aku…”

 

“Gomawo, Hongki~ssi, tentu aku mau berteman denganmu, lagipula kita seumuran jadi kurasa tidak sulit untuk berteman denganmu. Kau orang yang baik dan menyenangkan,” ujarnya sambil tersenyum riang. Kupandang wajahnya, dalam beberapa detik ia berhasil melenyapkan pandangan kesedihan dari matanya. Satu hal yang sekarang kutahu tentangnya, ia adalah seorang yeoja yang tegar dan kuat.

 

“Kalau begitu kita bisa berbicara tanpa membawa formalitas, Hyeni~ah, dan kau bisa berbagi cerita dan masalahmu denganku,” ucapku sambil tersenyum ke arahnya. Kemudian ia mengangguk mantap sambil tertawa kecil. Ia sangat cantik tertawa seperti itu.

 

Kami sampai di taman, makan siang bersama sambil bertukar cerita. Hyeni banyak bercerita tentang dirinya, kedua orang tuanya, pekerjaannya yang dulu, atasannya yang galak, sahabatnya Eun bersaudara yang selalu membuatnya tertawa dan masih banyak lagi. Dapat kubayangkan bahwa dia menjalani kehidupan yang sulit, tapi mendengar caranya bercerita padaku, aku dapat merasakan ia melawati hari-harinya dengan perasaan gembira. Tidak ada keluhan terlontar lari bibirnya, justru berkali-kali ia berkata bahwa ia merasa senang menjalani hidupnya. Aku semakin kagum padanya, semakin tertarik lebih dalam untuk mengenalnya.

 

Ketika ia bertanya tentang hidupku, tak banyak yang bisa kuceritakan. Sepanjang hidupku, dipenuhi dengan belajar, sekolah, menuntut ilmu, mengukir prestasi yang membuat kedua orang tuaku bangga. Aku hanya memiliki beberapa teman yang tidak begitu akrab denganku, dapat dikatakan bahwa sahabat pun aku tidak punya. Tapi Hyeni tetap mendengarkan cerita hidupku, yang menurutku membosankan, dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Hal itu yang membuatku tetap menceritakan kehidupanku, hanya satu yang tidak kukatakan, bahwa perusahaan tempatnya bekerja adalah perusahaan appaku.

 

***

 

Jongwoon POV

 

“Hyung, aku pergi dulu, yah!” ujarku kepada managerku.

 

“Wae? Kau mau kemana Yesungie? Kita harus bicara soal…”

 

“Aku ada urusan penting hari ini, hyung. Soal pengakuan calon istriku pada publik kemarin, aku akan menyelesaikannya sendiri,” potongku cepat karena aku sudah tahu apa yang ingin dibicarakan oleh managerku, “annyeong!”

 

Aku melajukan mobilku ke arah perusahaan Hongki. Kulirik jam, sekarang pukul tiga. Aku sudah berjanji akan datang pukul empat untuk meminta bantuan Hongki mencari Shin Hyeni, yeoja gila yang kemarin kuakui sebagai calon istriku. Jalanan tidak begitu macet, hanya butuh waktu 20 menit dari lokasi syutingku tadi, aku telah tiba di halaman kantor Hongki. Kuparkirkan mobilku, dengan segera menuju ke dalam gedung dan memasuki lift. Kutekan tombol angka 7, lantai tempat ruangan kantor Hongki berada.

 

“Hongki~ah,” panggilku ketika masuk ke dalam ruang kantornya yang tertata rapi. Hongki sedang mengetik sesuatu di laptopnya ketika aku datang, namun segera menutup laptopnya.

 

“Annyeong, hyung. Kau datang lebih cepat dari yang kuduga,” ujarnya sambil berjalan menghampiriku.

 

“Syutingku selesai lebih cepat,” jawabku seadanya, “Ya, Hongki, kau jadi kan membantuku mencari yeoja yang kumaksud?”

 

“Ne, hyung. Tentu akan ku bantu,” jawabnya sambil tersenyum ke arahku. Aku baru berniat mengeluarkan kartu pengenal Shin Hyeni dari kantong jaketku ketika ada seseorang mengetuk pintu. Seorang perempuan berpakaian office girl datang membawakan kopi di atas nampan.

 

“Permisi, ini kopi pesanan, Bapak.”

 

“Ne, khamsahamnida. Letakkan saja di meja,” jawab Hongki kepada office girl itu, “Hyung, kau mau minum apa?” tanyanya kemudian kepadaku.

 

“Buatkan aku kopi juga dengan sedikit gula,” jawabku singkat sambil menoleh ke arah office girl itu. dia hanya mengangguk pelan kemudian keluar dari ruangan.

 

“Hongki~ah,” panggilku setelah office girl itu menutup pintu ruang kantor Hongki dari luar, “Aku ingin kau membantuku menemukan gadis ini.”

 

Aku mengeluarkan kartu pengenal Shin Hyeni dan mengulurkannya ke arah Hongki. Dia mengambilnya dengan segera dan melihatnya. “Hyung, gadis ini…”

 

“Ne? Waeyo?” tanyaku kebingungan melihat reaksi Hongki yang agak kaget melihat kartu pengenal yang kuberikan padanya.

 

“Jinjjayo? Apa benar Shin Hyeni adalah yeoja yang kau cari?”

 

***

 

Author Pov

 

“Chogi..” langkah Hyeni tertahan ketika ada yang memegang bahunya dari belakang. Dia berbalik dan melihat seorang gadis berdiri sambil memegang nampan dengan gelas berisi kopi di atasnya.

 

“Ne?”

 

“Bisakah kau menolongku? Aku harus mengantar kopi ini ke ruangan CEO. Tapi tiba-tiba perutku sakit, bisakah kau menggantikanku mengantarkannya?” tanya gadis itu sambil memegangi perutnya, “Jaebal.”

 

“Ah, Ne. Baiklah.”

 

“Khamsahamnida.”

 

Hyeni mengambil nampan dari tangan gadis itu. Tanpa menunggu lama, gadis itu segera pergi ke toilet meninggalkan Hyeni yang masih memegang nampan dengan perasaan bingung. Di mana ruang CEO? Kalau dia tidak salah ingat, sepertinya ruangan itu ada di lantai tujuh.

 

Hyeni bergegas menuju lift dan naik ke lantai tujuh. Di sana ia bertemu dengan seorang wanita berusia 30-an yang ternyata adalah sekretaris CEO. Setelah memastikan bahwa ia menuju ruangan yang benar, Hyeni mengetuk pintu di depannya. “Masuk.”

 

Perlahan di dorongnya daun pintu di depannya. Hyeni melangkah masuk sambil menunduk. “Ini kopinya, Pak.”

 

“Khamsa… Ya!!!” seorang lelaki berteriak ke arahnya. Hyeni menoleh dan dilihatnya dua orang namja yang ia kenal. Hongki dan Yesung.

 

“Ya!! Kau Yeoja gila!!” teriak Jongwoon keras.

 

“Hyeni~ah, mengapa kau?” Hongki terkejut melihat Hyeni masuk ke ruangannya.

 

Hyeni menatap dua orang namja di depannya bergantian, “Hongki~ah, kau? Mengapa bisa ada di sini?”

 

“Ya!! Yeoja gila. Kau tidak tahu sopan santunkah? Bicaramu sangat tidak sopan terhadap bosmu! Kau mau dipecat?!” seru Jongwoon ke arah Hyeni ketika mendengar gadis itu memanggil Hongki dengan akrab.

 

“Hyung, bukan begitu… kami…” Hongki bingung bagaimana cara menjelaskan semuanya, bahwa Hyeni tidak tahu ia adalah anak pemilik perusahaan ini.

 

“Hongki~ah, kau bosku?” Hyeni membelalakan matanya, terkejut mendengar ucapan Jongwoon.

 

“Masa kau tidak tahu siapa bosmu sendiri, yeoja gila?”

 

“Hyung, cukup! Jangan lanjutkan!”

 

“Hongki~ah.. kau tidak… memberitahuku…”

 

“Mianhe Hyeni~ah.. aku..”

 

“Sudah.. sudah.. masalah kalian tidak lebih penting daripada masalahku,” potong Jongwoon sambil berjalan ke arah Hyeni, “Kau.. ikut denganku!!”

 

“Mwo?!”

 

Jongwoon menarik tangan Hyeni dengan paksa dan membawanya keluar dari ruang kantor Hongki. Hyeni berusaha melepaskan genggaman tangan Jongwoon tapi tidak berhasil. Tenaganya jelas kalah dibandingkan Jongwoon yang adalah seorang laki-laki. Mereka berdua tiba di atap gedung yang sepi.

 

“Ya!! Lepaskan!!” teriak Hyeni nyaring di telinga Jongwoon.

 

“Kau bisa tidak kalau tidak berteriak sekeras itu di telingaku? Sangat mengganggu,” ujar Jongwoon, kemudian melepaskan tangan Hyeni. Gadis itu memegang pergelangan tangannya yang agak merah dan terasa sakit.

 

“Kau yang menggangguku, menarikku paksa ke tempat seperti ini, mau apa kau?!”

 

“Nona Shin Hyeni, aku ingin memberikan penawaran kepadamu.”

 

Hyeni menatap namja di depannya dengan heran. Jongwoon tersenyum kecil, salah satu ujung bibirnya terangkat, senyum yang terkesan licik dan membuat Hyeni merasa tidak nyaman. Ada apa gerangan?

 

“Aku ingin kau menjadi istriku.”

 

“Mwo?!!”

 

Hyeni terkejut. Matanya terbelalak menatap namja di depannya tidak percaya. Apakah namja ini sudah gila? Mengapa tiba-tiba menyuruh Hyeni menjadi istrinya.

 

“Kau tahu kan, kemarin aku terlanjur mengakuimu sebagai calon istriku. Jadi mau tidak mau aku harus menikahimu,” kata Jongwoon datar, mencoba menjelaskan situasi.

 

“Waeyo? Mengapa aku harus menikah denganmu. Mianhe, Yesung~ssi, kurasa otakmu tidak waras. Bukan hanya karena seenaknya mengakuiku sebagai calon istrimu, tapi karena kau sekarang benar-benar memintaku menjadi istrimu. Kita tidak saling mengenal sebelumnya,” balas Hyeni sambil melipat kedua tangan di dadanya.

 

Jongwoon terkekeh pelan, “Mianhe, sebelumnya aku tidak bilang bahwa aku benar-benar memintamu menjadi istriku sungguhan. Dari awal aku bilang akan memberikan penawaran padamu. Penawaranku adalah kau pura-pura menjadi istriku, dan aku akan mengabulkan keinginanmu. Apapun itu, uang, rumah, mobil, apa saja akan kuberikan.”

 

“Kau sudah gila!” Hyeni mulai kesal. Namja di depannya ini sungguh keterlaluan. Apa menurutnya pernikahan adalah sesuatu yang bisa dijadikan penawaran? Hyeni memang belum pernah mempunyai kekasih ataupun jatuh cinta, tapi satu hal yang ia pegang teguh, bahwa ia hanya akan menikah dengan namja yang ia cintai. Pernikahan bukanlah suatu permainan.

 

“Aku serius,” ujar Jongwoon lagi, “Kuharap kau mau bekerja sama denganku.”

 

“Dasar namja gila. Lupakanlah ucapanmu barusan. Aku tidak akan pernah menerima tawaranmu,” jawab Hyeni sambil melangkah pergi.

 

Sepeninggal Hyeni, Jongwoon hanya berdiri sambil sesekali menghembuskan nafasnya keras-keras. Rupanya menyuruh Hyeni menikah dengannya tidak semudah yang ia bayangkan. Kalau gadis lain mungkin tanpa pikir panjang akan menerima tawarannya. Siapa gadis yang tidak mau menikah dengannya, seorang Yesung yang terkenal dan dipuja seluruh gadis di Korea? Hanya Shin Hyeni, hanya gadis itu yang menolak tawarannya tanpa berpikir panjang. Harga dirinya terasa diinjak-injak.

 

“Hyung.”

 

Jongwoon menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Dilihatnya Hongki berjalan ke arahnya. Rupanya Hongki mengikutinya ke atap dan mendengar semua percakapannya dengan Hyeni. Ia bersembunyi di balik tembok dari tadi.

 

“Hongki~ah, kau ada di sini? Sejak kapan?”

 

“Aku mendengar semuanya, Hyung,” jawab Hongki, “Apa kau serius dengan rencanamu? Penawaran yang kau ajukan pada Hyeni tadi, untuk menikah denganmu?”

 

“Tentu aku serius.”

 

“Tapi kau tidak mencintainya, Hyung. Bagaimana mungkin kau menikah dengan yeoja yang tidak kau cintai? Bagaimana dengan Yunhee noona?”

 

Amarah Jongwoon kembali meluap ketika mendengar nama Yunhee disebut. Ia masih kesal dengan tindakan kekasihnya yang telah menyebabkan dirinya terjebak dalam situasi yang rumit. “Aku tidak peduli lagi, biar bagaimanapun aku akan tetap menjalankan rencanaku.”

 

“Kau mungkin tidak peduli. Tapi bagaimana dengan Hyeni, ia tidak akan mau menikah denganmu, Hyung. Hyeni tidak mencintaimu.”

 

“Akan kubuat ia menyetujuinya,” ujar Jongwoon sambil menatap mata Hongki lekat-lekat. Hongki sadar hyungnya tidak main-main, ia serius dengan ucapannya. Ia akan benar-benar menjalankan rencana gilanya untuk menikah dengan Hyeni.

 

“Tapi, Hyung…”

 

“Sudahlah, Hongki~ah. Biar aku selesaikan masalahku sendiri. Gomawo sudah membantuku hari ini,” potong Jongwoon sambil berlalu meninggalkan Hongki.

 

Kini Hongki tinggal seorang diri di atap gedung. Ia menatap kosong ke arah punggung hyungnya yang menghilang di balik pintu. “Tapi, hyung, apakah kau tahu bahwa sepertinya aku menyukai Hyeni? Bagaimana dengan perasaanku ini, Hyung?”

 

 

TBC

 

Part 4 selesai… Gimana menurut kalian soal part ini? Komen yah… mulai part berikutnya mungkin akan lebih banyak konflik.. semoga kalian gak pusing bacanya… hehehehe…