Title: For The First Time (Daragon Couple) Part 7
Author: Applersoti
Length: Continue
Genre: Romance
Rating: PG (I’m not sure yet hehehe)
Main Cast: Kwon Jiyong (G-Dragon)-Bigbang & Sandara Park (Dara)-2NE1
Support cast: YG Family members.
Disclaimer:  all the casts are belongs to their God, except CHOI SEUNG HYUN (TOP) he belongs to ME, Park Bom unnie and HIS FANS, only. NO PLAGIARISM PLEASE!!!!!!!!! USE UR FREAKIN BRAIN, DEAR!!!!
Hello everyone! 
HAPPY NEW YEAR’s 2012!!!!!!!!!!!!!! WUWUWUWU THE BEGINNING HAS BEEN COME! the best wishes for us ❤ also for our lovely couple! i never loose my hope for them. they will be real, Indeed!

Disini POVnya Cuma ada 2. Dara dan Author. Dan… settingnya hanya satu hari aja. Jd jgn kaget ya. Need ur feedback, after read it.
Ok.. tanpa banyak berkata-kata. HERE’S THE STORY!
Enjoy….
(Dara’s POV)
Pesawat kami baru saja mendarat di Singapur. Aku dan Jiyong terpaksa harus berpisah dahulu, agar tidak dicurigai oleh fans.
“Hei,” sapanya saat dia melewatiku. Kedua ujung bibirnya melukiskan senyuman di wajahnya yang kata orang sangat dingin dan jutek.
“Hei,” balasku sambil tersenyum.
Aku mengambil tasku yang ada di dashboard pesawat. Agak susah mengambilnya, karena  besar. Dan sepertinya…. Hhhh menyangkut.
“Argh… “ Ck, susah sekali mengambil tas yang satu ini, padahal barang bawaanku tidak terlalu banyak.
“Sini ku bantu.” Kedua tangan yang sudah ku kenal bentuknya, berusaha mengambil tas yang menyangkut di dashboard. Dan foila…. tasnya berhasil dikeluarkan.
“Jjah… “ gumamnya.
“Gomawo, chagi… aku kira kau sudah keluar tadi,” kataku sambil mengangkat tasnya.
“Hahaha, tadi aku sudah mau keluar, lalu kulihat kau kesusahan mengambil tasmu jadi… aku kembali hihihi,” jelasnya. “Jjah, kkaja (Ayo pergi)!” ajaknya.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Jiyong menggenggam pergelangan tanganku. Dan tak sengaja kulihat beberapa pramugari memperhatikan. Astaga! Aku lupa kami masih di pesawat!
“Ji… tanganmu…” bisikku sangat pelan.
Dia berhenti, lalu berbalik menatapku bingung. “Waeyo?”
Aku mengerling ke arah pramugari-pramugari yang memperhatikan kami. Jiyong mengikuti arah pandanganku. Dan sesaat kemudian dia mengerti lalu melepaskan tangannya dari tanganku. Kami berjalan keluar, Jiyong berada di depanku dan aku di belakangnya. Aku dan dia sengaja tidak berinteraksi dulu sebelum keluar dari pesawat.
Aku sebenarnya benci hal ini. Berakting seakan-akan aku dan Jiyong tidak mempunyai hubungan spesial selain sebagai teman satu manajemen. Menghindari skinship, menghindari adanya interaksi berlebihan. Aku lelah seperti ini. Kalau bukan karena cintaku yang sangat besar untuknya, bisa dipastikan aku sudah meninggalkannya dari dulu.
“Tak usah dipikirkan..” ucapnya pelan. Sepertinya dia tahu aku sangat mengkhawatirkan kejadian tadi. “Aku akan bilang pada Nam-gook hyung agar mereka tidak bicara tentang apa yang mereka lihat.”
“Hmmm ne.”
Dia melirik ke arahku tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Terima kasih sudah terbang dengan maskapai kami,” ujar seorang pramugari yang berdiri di samping pintu keluar sambil membungkukan badannya.
Jiyong hanya tersenyum simpul dan membungkukan badannya. Hhh… selalu seperti itu. Pantas saja banyak yang bilang dia dingin dan sombong. Dia itu… berubah menjadi sedikit dingin karena masalah album solonya. Padahal aku sudah berulang kali bilang padanya agar tak usah dipikirkan lagi. Tapi dia masih saja trauma. Dan traumanya itu berimbas pada tingkah lakunya kepada fans dan lainnya. Aku juga pernah kena imbasnya -_- kami bertengkar sampai sebulan penuh! Bayangkan.
“Terima kasih sudah terbang dengan maskapai kami,” ucap pramugari itu lagi saat aku berpapasan dengannya.
“Ne… sama-sama,” ujarku sambil tersenyum dan membungkuk.
Jiyong menungguku dilluar ternyata hmmm. “Sini, kubawakan.”
Aku menggeleng pelan dan tersenyum. “Tak usah. Aku bisa sendiri kok.”
“Tak usah membantah,” lalu dia mengambil tasnya dari tanganku. Perhatiannya padaku tak pernah luntur sejak awal kami pacaran. Hihihi… semakin hari semakin cinta~
Dia berjalan duluan sementara aku dibelakangnya. Kru, member bigbang dan 2NE1, serta back dancer sudah jalan duluan. Kami ditemani beberapa kru yang tersisa.
“Panas sekali,” gerutuku sambil mengipas-ngipaskan tanganku ke wajah.
“Ck. Manja sekali sih,” sindirnya memamerkan smirknya yang khas.
“Memangnya kau tidak merasakan panasnya?”
“Tidak,” jawabnya singkat. Aigo… dia ini.
Krrrrrrrrrtt…..
Suara dari perutku berbunyi. Ya Tuhan aku lupa belum makan dari kemarin sore -_-
“Lapar?” tanyanya.
Aku mengangguk sambil mengelus perutku.
“Mau makan malam di kamarku?” tanyanya.
“Di kamar? Memangnya nanti malam tidak ada acara dinner di hotel?” tanyaku balik.
Dia menggidikkan bahunya lalu berbalik ke belakang. “Nuna. Nanti malam ada jadwal dinner di hotel?” tanyanya pada seorang kru wanita.
“Hmm…  sepertinya tidak,” jawabnya singkat.
“Nah. Sempurna! Berarti kita bisa dinner di kamarku kalau begitu,” ucapnya girang memamerkan barisan giginnya yang rapih dan putih. Aku selalu suka saat dia tertawa seperti itu.
Aku tersenyum dan mengangguk. “Ok!”
“Kkaja!” pekiknya.
Dasar namja aneh! Tapi aku suka… sikapnya yang misterius, tingkah lakunya yang kadang masih sedikit manja, tapi terkadang bisa sangat dewasa. Benar-benar tipe idealku.
Dan beberapa saat kemudian kami sudah sampai di tempat pengambilan barang. Kami semua menunggu di dekat pintu keluar, sementara barang-barang kami diambil oleh kru dari YG.
Aku dan yang lain sedikit berbincang-bincang sembari menunggu. Aku bisa melihat kawanan (?) fans kami telah menunggu diluar. Sebenarnya aku sedikit waswas, tadi Jiyong dan aku sempat berbicara sebentar. Dan aku baru sadar tenyata ada yang mengambil gambar kami dan juga merekamnya. -_- ya Tuhan… lagi-lagi aku tak bisa mengkontrol tingkahku. Ck
“Kkaja! Semua barang sudah diambil,” ajak manajer kami sambil mendorong barang bawaan di trolly.
Aku dan yang lain mulai berjalan keluar. Ok… saatnya aku harus mengambil gambar untuk episode 2NE1 tv minggu depan. Kulihat Jiyong sudah berjalan di depan kami. Dia berjalan dengan sangat… sangat… gentle. Terlihat sedikit keangkuhan saat dia berjalan, tapi juga kesempurnaan dari seorang manusia. Satu kata… flawless.
Aku mulai merekam menggunakan handycam yang diberikan kru mnet saat kami masih berada di Korea. Aku suka sekali dengan acara ini. Kami bisa sharing kegiatan-kegiatan kami saat promosi album, dan juga bisa berinteraksi langsung dengan blackjack. Jarang sekali kami melakukan hal seperti ini. As you know, YG Family tidak se-eksis idola lainnya yang wara-wiri di reality show ataupun variety show. Hanya sesekali kami menjadi bintang tamu di sebuah acara.
 Sebenarnya alasan kami memilih jalan seperti itu karena satu, kami ingin dilihat dari segi musik dan performance bukan karena kami sering muncul di tv. Maka dari itu, saat acara ini dibuat khusus untuk kami, aku sangat antusias. Hahaha jangan heran kalau aku yang sering muncul di setiap episode :p
Kami juga jarang mempunyai teman dari kalangan idola. Hanya beberapa yang kami kenal baik. Itu juga tidak banyak. Paling-paling dari 20 idola, hanya 5 idola yang dekat dengan kami. Ketika aku datang sebagai guest star di sebuah acara variety show, aku sering terlihat kaku dengan mereka. Bukan karena aku sombong, tapi aku tidak mengenal mereka. Salah satu keburukanku adalah tidak bisa langsung beradaptasi dengan orang-orang yang baru ku kenal. Ck. Dan member-member di YG Family juga sama sepertiku. Karena itulah, kami sering dianggap artis kelas atas karena jarang bergaul dengan mereka.
Sepuluh menit kemudian kami sampai di mobil van yang akan mengantar kami ke hotel. Dan… kegiatanku merekam aktifitas kami setelah sampai di singapur selesai. Hhh… lelah sekali! Kami harus bolak-balik korea-jepang, belum lagi jadwal promosi di beberapa stasiun tv dan juga undangan tampil di beberapa acara besar.
Aku juga sudah lupa kapan terakhir kali aku mengunjungi adik kesayanganku, Doongie. Aigora… setelah acara ini selesai dan pulang ke korea, aku harus mengunjunginya. Dan ya… aku juga rindu dengan kucing kesayangannya, Dadoong!!! Sebenarnya aku masih sedikit takut dengan hewan-hewan seperti itu, tapi aku diajari Jiyong untuk tidak takut dengan binatang.
Di dalam van tidak banyak yang kami lakukan. Kami sama-sama lelah. Karena sebelum kami pergi ke singapur, kami juga tampil di beberapa stasiun tv. Aku bersumpah, tahun ini merupakan tahun tersibuk untuk kami. Belum lagi iklan-iklan yang ingin meminta kami sebagai modelnya. Karena inilah, aku jadi tidak bisa bertemu Jiyong sesering mungkin.
“Bommie-ya…” panggilku.
“Hmm?” gumamnya tanpa menatapku. Dia masih sibuk dengan handphonenya. Seunghyun? Aigo~
“Tidak jadi deh. Sepertinya kau sedang sibuk dengan handphonemu ,” sindirku .
Dia mendengus kesal dan beberapa detik kemudian memalingkan wajahnya kearahku.
“Ada apa sih?” tanyanya. Hahaha dasar sahabatku yang satu ini.
“Tidak… aku hanya ingin bertanya saja. Tapi.. tidak jadilah…” kataku menggantung.
“Mau nanya apa? Katakan saja.”
“Hmm.. aku masih penasaran. Sebenarnya kau itu dengan Seunghyun bagaimana?”
“Se-se-seunghyun?” ujarnya tergagap.
“Iya. Sebenarnya hubunganmu dengan dia itu bagaimana. Kalian pacaran atau tidak? Soalnya tingkah laku kalian layaknya orang yang sedang kasmaran.”
Aku mengerling ke Chaerin dan Minzy yang duduk di depan kami. Dan sepertinya…. Mereka ikut mendengarkan perbincangan kami. Hahahaha.
“Hmm…. kami… kami tidak…” Hahaha pasti sesuatu telah terjadi. Dasar Alien couple!
“Bom-ah. Yang jelas bicaranya… jikalau kalian memang sedang berhubungan, bilang saja pada kami. Kami merestuinya kok. Betul kan, Chaerin, mingkki?” tanyaku meminta persetujuan.
“Hahahaha! Pasti eon!!” ujar Minji antusias dibarengi dengan anggukan dari Chaerin.
Bom menarik napas dan mengeluarkannya sekaligus. Aku tahu dia gugup. Hahahaha.
“Jadi… kau dan Seunghyun benar-benar berpacaran?” tanyaku sekali lagi.
“Hhhh… tidak Dara-ya. Lebih tepatnya belum. Dia belum memberi kepastian. Maksudnya… dia belum mengucapkan kata-kata ‘itu’ padaku.” Wajahnya terlihat hmm… sedih? Omona~ baru kali ini aku melihatnya seperti ini.
“Dia belum menembakmu, eon????!” pekik Chaerin dengan suara nyaringnya.
Bom menggeleng pelan. “Belum.”
“Oke. Tapi apakah kau tahu kalau dia memang menyukaimu?”
“Mollayo. Hatiku berkata dia menyukaiku, tapi aku tidak mau terlalu berharap lebih padanya.”
“Hmm…” aku mengangguk-ngangguk. “Kalau begitu… apakah kau menyukainya?”
Bom terlihat kaget dengan pertanyaanku. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali dan menggit bibirnya beberapa kali.
“Aku….”
“Aku apa, eon?” tanya Minji tak sabaran.
“Aku.. aku tidak tahu menyukainya atau tidak.”
Aku memutar bola mataku. Jelas-jelas sudah terlihat dengan jelas bahwa dia memang menyukai Seunghyun. Kenapa masih tidak mengakuinya sih? Ck -_-
“Kau ini ck… kalau memang kau tidak mencintainya, tidak mungkin kau bisa terlihat begitu senang saat bersamanya,” gerutuku. Hzzz
“Aku masih belum tahu, Dara-ya… aku takut ini hanya perasaan sesaat saja,” tuturnya.
“Eonnie,  apakah kau nyaman bersamanya?” tanya Chaerin.
“Aku nyaman.”
“Kalau kau nyaman artinya ya.. kau memang menyukainya atau lebih tepatnya, MENCINTAINYA.” Chaerin menekankan kata-kata itu.
Aigo… serumit inikah perasaan seorang wanita? Yah… apa yang dirasakan Bom, aku juga pernah mengalaminya. Aku pernah ragu dengan perasaanku karena Jiyong yang dulu belum mengutarakan rasa cintanya. Aku menunggu hingga dua tahun lebih. Menyimpan perasaan cintaku padanya adalah hal tersulit di dalam hidupku. Kala itu aku takut kalau dia hanya main-main denganku, tapi yah… ternyata aku salah. Dia serius, sangat serius denganku. Selisih umur kami 4 tahun, tapi aku merasa kami setara.
“Betul, Eon!” ujar Minji sambil mengacungkan jempolnya.
“Untuk saat ini aku masih belum terlalu yakin dengan perasaanku padanya. Kalian kan tahu dia lebih muda dariku.”
“Aigo…” aku mendengus kesal. “Umur itu bukan masalah Bom-ah. Lihat saja aku dan Jiyong bagaimana. Aku bisa menjalin hubungan dengannya lebih dari tiga tahun.”
Bom tidak menjawab pernyataanku. Kurasa dia sedang berpikir karena omonganku barusan.
“Yah, kuharap aku mendengar berita bahagia dari kalian berdua,” kataku tegas.
Dia mengangguk dan tersenyum. “Hmm, pasti.”
“Jjah… girls. Kita sudah sampai! Perbincangan kalian di teruskan nanti lagi setelah kita turun,” perintah manajer kami dari kursi depan.
Hahaha memang yah, girls talk itu tak pernah ingat waktu. Kukira perjalanannya masih jauh, eh ternyata sudah sampai ckckck.
By the way…. Singapur is an awesome country. One of the best country!
(Ok…. -_- sbenernya agak risih aja banggain negara orang. Tapi ini POVnya dara, which is she said on her me2day that she loves SG  -_- and the air was so clean. T__T mian. I really love INDONESIA! the best country in the universe. Trust me! ok… back to the story)
The air! Wuhuuuuu sangat bersih dan sejuk. Jalanannya pun tidak ada sampah. Really! The most clean country in the earth!  I am so lucky to be here.
Aku turun dari van yang kutumpangi. Ah… ternyata Bigbang sudah sampai duluan. Hahahaha malam ini, I will spend all night long with him. Sudah lama aku tidak berduaan dengannya.
Sepanjang perjalanan kami dari turun mobil, aku tak henti-hentinya senyum dan membungkukkan badan untuk menyapa blackjack yang memadati hotel kami menginap. Antusiasme dari mereka sangatlah keren!
Bigbang dan kru yang lain sedang menunggu di lobby hotel. Aku dan member 2NE1 menyusul mereka. Dan tak lama kemudian, petugas hotel memberikan kunci kamar kami masing-masing. Aku dan Jiyong yang menghindari kontak langsung hanya bertatapan dan sesekali tersenyum kecil. Hahahaha.
Seharusnya aku dan dia sudah menjadi actor dan aktris terhebat sepanjang masa karena bisa menutupi hubungan kami selama tiga tahun lebih ini. Waaaah.. hahahaha
Tak berapa lama manajer kami membawakan segepok (?) kunci kamar di tangannya. Aku mendapatkan kunci bernomor 501. Hmmm…. kira-kira Jiyong dapat kunci kamar nomor berapa ya?
Saat aku berjalan menuju lift, aku sengaja melirik ke arah Jiyong. Tujuannya sih ingin melihat nomor kamarnya, tapi sayangnya dia membelakangi kami.
“ Dara nuna!” ah, seperti suara Youngbae. Aku membalikkan badanku, untuk melihat siapa yang memanggilku.
Kulihat Youngbae berlari kecil ke tempatku berdiri. “Ada apa, Bae?”
Dia melirik kanan dan kiri, lalu berkata pelan di kupingku. “Jiyong bilang ia mendapat kamar nomor 510.”
Aku terdiam karena bingung…. Tapi sesaat kemudian aku tertawa. “Hahahahahahaha.”
Aku agak kaget dengan apa yang kudengar. Aigo… mengapa dia bisa membaca pikiranku he?. Inikah yang dinamakan jodoh? Kkkkk.
“Kenapa kau tertawa?” tanyanya bingung. Ahahaha wajahnya lucu sekali.
“Hmm…” aku berdeham sebentar untuk menghentikan tawaku. “Ani… hanya saja, dia seperti bisa membaca pikiranku. Hahahahahaha,” lagi-lagi ku tertawa. “Bilang padanya ya, aku di kamar 501. Gomawo, Youngbae-ah.”
“Eih, dasar. Ne… cheonmaneyo (sama-sama),” katanya sambil tersenyum lebar membuat lengkungan bulan sabit di matanya.
“Hahahaha. Ah ya, bagaimana Yuri? Ehe…” aku tersenyum menggoda padanya sambil mencolek badannya yang tebal (?). Rumor lama….
“NE??????!” teriaknya.
“Hahahaha, lain kali kita bahas tentang ini ya!” Aku melirik Jiyong yang masih membelakangi kami, hmm.. tapi aku tahu, dia pasti mendengarkan percakapanku dengan Youngbae hahahaha.
“Annyeong!” pamitku.
Youngbae masih mengerjapkan matanya saatku berjalan menjauhinya. Aku tahu dia pasti kaget ketika kusebutkan nama Yuri tadi. Hmm… rumor di tahun 2010.
Youngbae digosipkan memiliki hubungan spesial  dengan Yuri setelah ia datang ke sebuah konser SNSD waktu itu. Sebenarnya Yuri dan Seungri itu teman satu kampus, mungkin Seungri mengenalkan Yuri kepada Youngbae. Pasti kalian sudah tahu kan, kalau Youngbae sampai sekarang belum mempunyai seorang kekasih. (YOUNGBAE OPPA!!!!!!! U wont to be the forever-alone, rite? Tsk! Go find a girl! U MUST! Hahahahahaha :p)
Dia sudah membantah rumor itu, tapi sepertinya hmm… mereka terlihat lebih dekat dari sebelumnya. Aku masih tidak tahu pasti tapi yah siapa yang tahu hati seseorang. (Ok. Ini hanya tambahan dariku, IT’S NOT THE REAL FACT, STILL A RUMOR anywaaaaaaaay. Biar critanya makin seru hehehehehehe).
Butterfly Butterfly Butterfly
 
(Author’s POV)
Beat.. bam ratatata tatatata BEAT! bam ratatata tatatata… OH MY GOD!
Dara yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk sedikit kaget karena tiba-tiba handphonenya berdering. Dengan sigap, dia langsung mengambil handphonenya yang ada di atas tempat tidur.
“Yeobeoseyo, Jiyong-ah,” sapanya sambil duduk di kasur.
“Ne, yeobeoseyo. Kau dimana?”
 
“Aku di kamar habis mandi. Waeyo?”
“Aniya… aku ke kamarmu ya.”
 
“Loh? Katanya mau makan malam di kamarmu. Tidak jadi?” tanya Dara bingung.
“Di kamarmu saja ya. Kamarku berantakan.”
 
“Hmm… geurae.”
“Ne. Gidarilkkaeyo (tunggu ya)”
“O~… ne… bye..”
Setelah telponnya ditutup, Dara langsung bergegas merapikan kamarnya. Untunglah tidak terlalu berantakan, jadi Dara bisa cepat membereskannya.
Setelah membersihkan kamar, Dara mencari baju santai di kopernya untuk dikenakan malam ini. Selesai memakai baju dan berdandan ala kadarnya (?) dia duduk di sebuah ruang tamu kecil dengan meja dan kursi seadanya di dekat jendela kamarnya. Dari kaca itu bisa terlihat pemandangan malam kota Singapura.
“Wah… keren sekali,” pujinya.
Tiba-tiba, Dara mempunyai sebuah ide untuk merekam momen ini. Di ambilnya handycam yang ia pakai sewaktu merekam di airport tadi. Dan beberapa saat kemudian, ia mulai merekam.
“Annyeong, yeoreobun (semuanya),” sapa Dara sambil melambaikan tangan dan tersenyum.
“Ne! Kami sudah sampai di Singapur! Wuhu~ Kota ini sungguh indah! Kota yang sangat bersih!” Dara mengacungkan jempolnya di depan kamera.
“Lelah sekali. Kami mendapatkan perjalanan yang lumayan panjang dari Korea ke Singapur. Besok pagi, kami akan melakukan gladi resik untuk perform kami di Korean Music Wave.”
“Ck.. laparnya… ,” ujar Dara sambil mengelus-elus perutnya. “Baiklah, sampai disini dulu perjumpaan kita ya! Gutbam !!”(semacam ngmg Goodnight tapi di plesetin jadi gutbam gitu. Kaya I love you, jadi alabyong J). Dara melambaikan tangannya, dan kamera pun dimatikan.
Sesaat kemudian, terlintas dipikirannya untuk membuat satu petunjuk buat para daragon shipper (it called, Applers). Hahaha, pasti mereka senang, pikirnya dalam hati.
Dia meletakkan handycam itu di atas meja kecil  di sebelah lemari. Meja itu mengarah langsung ke ruang tamu kecil tadi.
Dia merekam kegiatannya menunggu seseorang yang ingin datang ke kamarnya. Di atas meja tersebut terdapat, 2 bungkus ramyeon. Hmm…. petunjuk yang bagus untuk para Applers sejati kan? Hahahaha.
Dara sengaja merekamnya sedikit lama, agar Applers penasaran dengan siapa yang akan datang. Tiba-tiba sms pun datang.
From: My Dragon
Hei rabbit, aku sudah di depan. Cepat buka pintu.
Dengan cepat ia menghentikan rekamannya itu, lalu langsung berlari kecil ke pintu. Dia mengintip sebentar dari lubang kecil di pintu.
“Hai…” sapa Dara setelah pintunya terbuka.
“Hai…” jawab Jiyong sambil tersenyum lalu menerobos masuk ke kamar Dara.
Jiyong memakai celana training berwarna biru muda, kaos putih polos, syal pink kesayangannya, dan sandal hotel.  Sebuah topi bertuliskan “Rocstar” menutupi rambutnya yang sedikit berantakan. Cukup fashionable untuk ukuran seorang artis hahahaha.
Jiyong duduk di pinggiran kasur lalu menaruh topinya diatas meja. “Kita mau makan apa?”
Dara menggidikkan bahunya, lalu duduk di sebelah Jiyong. “Makan ramyeon saja yah? Eodde (bagaimana)? “
“Ramyeon??” Jiyong agak sedikit kaget. “Mana kenyang?”
“Yah, terus apa dong?” Dara balik bertanya. “Kalau kita pesan makanan di hotel, pasti banyak yang curiga.”
Jiyong mengangguk-angguk setuju. “Iya juga ya. Ya sudahlah, makan ramyeon saja. Lagipula aku kesini kan karena ingin berduaan denganmu,” kata Jiyong sedikit menggoda.
Dara yang mendengarnya jadi salah tingkah. “Ck. Dasar!”
Ia mengacak-acak rambut Dara sambil tertawa.
“Ayo ah! Jangan tertawa terus! Aku sudah lapar nih,” protes Dara lalu beranjak berdiri. Jiyong menyusulnya di belakang.
Mereka duduk berhadapan. Jiyong di sebelah kiri, sementara Dara di sebelah kanan.
Ramyeon ini sengaja dipersiapkan Dara karena sewaktu-waktu dia atau yang lain lapar. Dan… Dara memang penggemar fanatik makanan ini.
“Kenapa tidak jadi di kamarmu sih?” tanya Dara membuka topik pembicaraan sambil menunggu Ramyeonnya matang.
“Oh. Itu kamarku masih berantakan,” jawabnya singkat sambil memainkan cincin di jarinya.
“Berantakan karena apa? Kok tumben?”
“Iya… tadi Seungri dan Seunghyun hyung datang ke kamarku. Dan… seperti biasa, mereka memporak-porandakan kamarku,” gerutunya kesal.
Dara tertawa setelah mendengar penjelasan dari Jiyong. “Hahahahahahahaha jadi karena Seungri dan Seunghyun? Hahahahaha,” Dara tidak berhenti tertawa. “Dasar double Seunghyun ckckck,” ucapnya di sela-sela tawa.
“Ah, sudah matang nih!” pekik Jiyong saat membuka bungkus ramyeon nya.
“Jinjja???? Aigoraaaaaa….. hmmm,” Dara menghirup aroma ramyeon itu dan langsung menyeruput dengan lahap ramyeon tersebut dengan sumpitnya.
“HMMM!JEONGMAL MASSEUTDA (enak sekali) !!!” teriak Dara setelah selesai melahap suapan pertamanya.
“Masisseo?” tanya Jiyong untuk meyakinkan.
Dara mengangguk-angguk cepat sambil melahap lagi mie ramyeonnya.
“Hahahaha,” Jiyong tertawa melihat tingkah kekasihnya ini. Dara memang penggila ramyeon sejak dulu.
“Uhuk uhukk..” Dara terbatuk karena terlalu cepat makannya.
“Eih… makannya pelan-pelan,” perintah Jiyong sambil menuangkan air putih di gelas.
“Uhukk uhukk..” Dara lalu meminumnya. “Hmm, uhuk. Gomawo.”
“Tsk. Dasar penggila ramyeon. Pantas saja pipimu ini makin gembul,” ledek Jiyong sambil mencubit pipi Dara.
“YA!!! APPO!!!” Dara meringis kesakitan karena cubitan Jiyong tadi.
“Hahahaha, rasakan! Makanya jangan suka nyubit pipi orang, wleee!” kata Jiyong lalu menjulurkan lidahnya.
“Hahahaha,” Jiyong tertawa melihat gadis kesayangannya kesal.
“Tidak usah tertawa deh,” protes Dara.
“Waeyo?” tanya Jiyong di sela-sela tawanya. Jiyong berdeham untuk meredam tawanya, “Ehem.. Geurae~ aku tak akan tertawa lagi.”
“Terserah lah,” ujar Dara cuek.
“Eih… jangan ambekan seperti itu sayang.”
“Gak ngambek kok.”
“Jinjja?”
“Iya!”
“Ok. Eh iya, setelah selesai show besoknya kau langsung ke korea ya?” tanya Jiyong mengganti topik pembicaraan.
Dara mengangguk sambil memakan ramyeonnya. “Hmm, sepertinya begitu. Kenapa?”
Jiyong menggeleng pelan, lalu tersenyum kecut. “Ani… yah… waktu kita bersama-sama cuma sebentar saja.”
Dara menghentikan aktifitas makannya lalu menatap Jiyong yang ada di depannya. Ekspresi mukanya pun berubah jadi sedikit sedih. “Jangan seperti itu… masih ada waktu lain kok.”
“Kita akan sama-sama sibuk, Dara-ya. Aku masih harus mempersiapkan album solo kedua ku dan album Bigbang. Sedangkan kau sibuk dengan promosi di Jepang.”
“Hmm.. tapi kan aku tidak terlalu lama ada di Jepang. Lagipula aku pasti bolak-balik Korea-Jepang, kok. Tak usah khawatir.”
Jiyong menghela napas berat. “Yah. Baiklah…”
Dara tersenyum sambil mengelus pundak telapak tangan Jiyong. “Cepat habiskan.”
Jiyong hanya mengangguk lalu melanjutkan makannya, raut mukanya masih sedikit kecewa. Dara tahu itu, dia juga tidak ingin seperti ini. Tapi apa mau dikata, dia harus professional dengan pekerjaannya.
Saat Jiyong sedang asyik makan, tiba-tiba telpon Dara berbunyi.
“Telponmu berbunyi tuh,” sahut Jiyong sambil menggidikan kepalanya.
“Ah…”
“Teruskan saja makannya. Aku yang ambilkan hpmu.”
Dara menggeleng cepat . “Tidak usah.”
Baru saja Dara ingin bangkit dari bangkunya, Jiyong menangkap tangannya. “Duduk saja, aku yang ambilkan.”
Jiyong bangkit dari kursinya lalu berjalan ke tempat tidur untuk mengambil handphone Dara. Ah ternyata sebuah pesan untuk Dara.
“Sebuah pesan untukmu! Ku buka ya,” sahutnya sedikit berteriak.
“Ne!”
Mata Jiyong terbelalak kaget ketika melihat siapa yang mengirimi pesan untuk Dara. Hampir saja handphone Dara jatuh ke lantai.
From: Joseph B.
(SMSnya dengan bahasa Tagalog) Hai sandy!! Well.. aku harus pulang ke Fiipina hari sabtu besok. Jadi ini kesempatan terakhirku. Please, ku mohon  Its just a dinner, rite?
Love, Joseph.
Jiyong masih berdiri mematung saat Dara datang menghampirinya. Dia memang tidak tahu apa isi dari pesan itu. Tapi yang pasti, Joseph mengucapkan kata Love. Dan ya.. dia cemburu.
Dara menyadari ada gelagat aneh dari Jiyong. “Nugu?”
Tak ada jawaban dari Jiyong.
Karena tak ada respon dari Jiyong, ia pun menghampirinya. “Jiyong-ah. Nugu?” tanyanya lagi.
“Hhhhh…” Jiyong menghela napas berat. “Lihat saja sendiri,” jawabnya ketus sambil memberikan handphonenya ke Dara. Sesaat kemudian dia duduk di atas kasur. Dia perlu menenangkan hatinya.
“Eh?” Dara bingung mengapa Jiyong tiba-tiba sikapnya berubah. “Wae geurae?”
Jiyong tidak menjawab pertanyaan Dara. Dia masih diam seribu bahasa. Ini dia lakukan agar tidak terpancing emosinya. Ia tahu jika ia emosi pasti semuanya akan menjadi buruk. Dara terlalu sensitif saat Jiyong emosi.
Mata Dara membulat kaget.  “Joseph?” gumamnya sendiri.
Dara langsung beringsut duduk di sebelah Jiyong. Dia harus meluruskan kesalah pahaman ini.
“Jiyongie,” panggilnya.
Jiyong menatap sinis Dara tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Aigo… kau marah?”
Jiyong memalingkan wajahnya sambil mendengus kesal.
“Eih… jangan marah sayang. Ini kan hanya sebuah pesan.” Dara mencoba untuk mencairkan suasana.
“Ya… ya…” balasnya cuek.
“Cemburu?”
Jiyong tidak menjawab dia hanya menatap heran Dara, mengapa dia masih bertanya mengapa ia cemburu. Jelas-jelas Dara bisa melihat dari gesture tubuhnya.
Dara terkikik geli melihat Jiyong yang cemburu.
“Kenapa tertawa?” tanyanya sinis.
Dara berdeham untuk menghentikan tawanya. “Hmm… habisnya mukamu lucu sekali! Hahahaha,” lagi-lagi Dara tertawa.
Jiyong mengacak-acak rambutnya geram. “Arrggghhhh..”
“Sudahlah. Ini hanya sebuah pesan. Jadi tak usah kau pikirkan.” Dara menjelaskan dengan berhati-hati dan selembut mungkin.
“Mwo? Bukan masalah serius?” Dia mengulangi kata-kata Dara itu dengan nada tidak percaya. “Dia bilang cinta padamu, itu bukan masalah serius?? Ya Tuhan…”
“Aku yakin, dia tidak bermaksud apa-apa dengan tulisan Love itu.”
Jiyong menghela napas berat.
Dara menopangkan tangannya di dagu mellirik Jiyong disebelahnya. “Hei… kalau kau cemburu katakan saja.”
Jiyong melirik sebentar ke arah Dara. “Iya, aku cemburu. Puas?”
Dara tertawa lagi, kali ini sedikit keras. “Hahahahahahahahaha.”
Dara mencubit pipi Jiyong sedikit keras. “APPO!!!!!“
 Jiyong hanya merintih kesakitan sambil berusaha menghentikan cubitan Dara.
“Lucunya, tunanganku ini,” ujar Dara di sela-sela tawanya. “Gemes deh!”
“Sakit Dara-ya, lepaskan… tolong…” Jiyong menatap memohon.
“Hahahaha,” Dara tertawa lagi untuk ke sekian kalinya lalu melepaskan cubitannya
“Gak usah ketawa kaya gitu deh. Gak lucu!” bentak Jiyong sambil mengusap-ngusap pipinya.
“Huuuuu…” Dara pura-pura takut. “Jangan marah begitu ah.”
“Ck,” Jiyong beranjak dari kasur hendak keluar dari kamar, tapi belum sempat berdiri, tangannya ditahan oleh Dara.
Dara mengerutkan keningnya, bingung. “Mau kemana?”
Jiyong menghela napas berat. “Hhh… mau ke kamar. Aku sudah tidak mood.”
“Yah… jangan ngambek seperti itu dong, Ji.”
“Aku tidak ngambek, Dara-ya…”
“Terus? Kenapa pergi?”
“A-a-aku… hmm…. aku.. ingin sendiri,” jawabnya asal.
“Sendiri?”
“Iya, aku ingin sendiri. Wae?” Jiyong bertanya balik.
“Kajima… temani aku disini… aku masih kangen. Bogoshipeosseo…” rengek Dara sambil menggelayutkan tangannya di lengan Jiyong.
Jiyong mengelus pipi Dara yang semakin lama terlihat semakin tirus. “Nanti banyak yang curiga.”
“Tidak akan ada yang curiga, Ji.”
“Hmm…” Jiyong masih agak ragu. Tapi, yah.. rasa rindunya kepada Dara melebihi apapun. “Ok, aku disini sampai kau tidur nanti.”
Dara tersenyum lebar dan mengangguk-anggukan kepalanya cepat. “Ok.”
“Aigo… lelah sekali hari ini,” ujar Jiyong sambil merebahkan badannya di atas kasur. Memposisikan badannya menjadi duduk.
“Sebentar ya, aku bersihkan dulu mejanya.”
Jiyong mengangguk, “Ne. Mau kubantu?”
Dara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Tak usah. Kau tiduran saja.”
“Ok.”
Tak lama kemudian, Dara selesai membereskan mejanya.
“Hah… capeknya…” keluhnya sambil merebahkan diri di sebelah Jiyong.
Jiyong menarik kepala Dara dengan lembut ke atas pundaknya. Di ambil remote tv di sebelah kepalanya, lalu tv pun menyala.
Dia mengganti-ganti channel tv mencari acara yang bagus. Ia berhenti di salah satu channel tv yang khusus untuk film-film hollywood.
“Wah! Flipped!” pekik Dara. “Aku tahu film ini!”
Baru saja Jiyong ingin mengganti channel itu, tangan Dara mencegahnya. “Jangan diganti. Film ini bagus.”
“Apanya yang bagus. Film ini membingungkan, kau tahu?” protes Jiyong.
“Kau saja yang terlalu bodoh untuk memahami isi cerita tersebut.”
Jiyong menjauhkan dirinya dari Dara. “He? Kau meragukan otakku?” tanyanya.
“Terkadang,” jawabnya lalu tertawa renyah.
“Cishh…” Jiyong mendengus kesal.
“Hahaha, sudah nikmati saja filmnya,” ucapnya menenangkan.
“Yah, baiklah. Walaupun terpaksa…”
Dara dan Jiyong tak berbicara satu sama lain. Dara sangat serius menikmati salah satu film kesukaannya itu. Sedangkan Jiyong… bisa dibilang tidak terlalu tertarik dengan film tersebut.
“Dara-ya…” tegurnya. Tapi tak ada respon.
“Dara-ya…” panggilnya lagi sambil menggerak-gerakan pundak Dara.
Dara sedikit terusik dengan perlakuan Jiyong. “Wae?” ketusnya.
“Aku bosan…”
Dara mendengus kesal. Lalu kembali terfokus pada filmnya.
“Chagiya…” panggil Jiyong lagi kali ini dengan nada sedikit merengek.
“Apa lagi?” tanyanya sinis.
“Aku bosan. Film ini membosankan,” keluhnya.
“Jangan ganggu aku dulu ya. Lagi seru nih,” tanggapnya kesal.
Jiyong hanya menghela napas berat dan dengan terpaksa kembali menonton film itu.
45 menit kemudian film itu pun selesai. Dara sedikit meregangkan badannya di samping Jiyong. “Haaah… akhirnya selesai juga filmnya. Bagus kan?” tanyanya.
“Yah.. not bad,” jawabnya seadanya.
Sudut bibir Dara terangkat naik menghasilkan senyum yang menjadi salah satu penyebab Jiyong jatuh hati kepadanya. Lalu…
Chuk!
Dara mencium bibir Jiyong sekilas. Mata Jiyong terbelalak kaget karena tindakan Dara yang tiba-tiba.
“Hihihi,” kekeh Dara.
“Wah…” Jiyong masih setengah sadar. “Kenapa tiba-tiba…” ia tidak bisa meneruskan kalimatnya. Saking kagetnya.
“Hehehehe. Aku jadi ingat waktu awal kita bertemu. Adegan di film itu hampir sama seperti kisah kita,” katanya sedikit malu-malu.
Jiyong tertawa geli mengingat kejadian-kejadian dulu saat ia masih belum berpacaran dengan Dara. Jiyong dan Dara mengalami ‘Love at the first sight’.
“Tidak terlalu sama sih. Lumayan lah.”
Dara mengeratkan pelukannya di pinggang Jiyong sambil tersenyum manis. “Hihihi. Aku jadi ingat waktu kau memakan cabai saat aku kalah main games dengan Dongwook.”
Jiyong tersenyum sambil menerawang ke langit. “Hahaha iya aku ingat. Dan kau juga lucu sekali ketika menari In or Out, Hahahaha..”
“Rekaman tarianku waktu itu masih kau simpan?”
“Masih. Wae?”
“Tidak, nanya aja. Hmm… hasil recap tes urin mu waktu itu sudah keluar?”
Jiyong langsung mengalihkan pandangannya ke Dara, alis Jiyong terangkat naik. “He?”
“Iya… hasil tes narkobamu waktu itu. Sudah keluar? Bagaimana hasilnya?”
Jiyong menjadi sedikit salah tingkah, dia menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
“Hmm… sepertinya… hmm sudah,” jawabnya menggantung.
“Lalu?”
“Hmmm aku… aku lupa hasilnya apa,” jawabnya lagi sambil tertawa hambar. “Hasilnya ada dirumah. Nanti setelah sampai di korea, aku kasih tahu. Ok?” tambahnya lagi.
“Ok.. yah semoga hasilnya negatif. Aku tak ingin ada apa-apa denganmu.” Dara menengadah ke atas menatap Jiyong. Di sentuhnya pipi Jiyong yang semakin terlihat kurus.
Jiyong mengaitkan jari-jarinya di jemari Dara.
“Berdoa saja,” ujarnya sambil tersenyum.
“Kau tahu, gosipmu dengan Kiko masih ada lho sampai sekarang,” kata Dara sambil tertawa.
Satu alis Jiyong terangkat naik. “Masa?”
“Memangnya kau tidak tahu?” tanya Dara balik.
Jiyong menggeleng. “Tidak. Bukankah sajangnim sudah mengklarifikasi berita tersebut?”
“Molla. Mungkin ada yang menganggap kalian cocok.” Air muka Dara berubah menjadi sedikit… cemburu?
“Eih. Cemburunya gantian nih,” goda Jiyong.
“Maksudnya? Aku? Cemburu?” tanyanya beruntutan sambil menudingkan telunjuk ke mukanya.
“Iya. Kau. Cemburu. Mengakulah…”
“Hmmm…” Dara terlihat berpikir. “Sedikit sih…”
“Cemburu ya cemburu aja, tidak usah bilang sedikit.”
“Tidak juga kok. Lagipula, Kiko kan teman kita. Walaupun… kau memang dulu punya masa-masa indah dengannya.”
“Hahahahaha. Alibi!”
“Ya sudah kalau tidak percaya.” Dara memalingkan wajahnya dari Jiyong.
“Ngambek deh…”
“Gak. Cuma sebel aja,” Dara bergeming.
Jiyong tertawa sambil mengacak-acak rambut Dara yang terlihat sedikit lebih panjang sekarang.
“Ih berantakan!” protes Dara sambil merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan.
“Biarin. Kamu tuh sexy kalau rambutmu begitu.”
“Gombal!” ucapnya sambil mencolek hidung Jiyong.
“Hmm… gimana kalau Nolza Concert di Jepang nanti kalian undang Kiko?” usul Jiyong.
“He?” Dara kaget mendengar usulan Jiyong. “Special Guest?”
“Yap! Semacam itulah…”
“Hmm.. gimana ya…”
“Wae? Takut cemburu lagi? Hahahaha,” ujar Jiyong sambil tertawa.
“Bukan… bukan… bukan itu. Kau tahu kan jika netizen menyadari kita mengundang Kiko, pasti menjadi berita panas.”
“So? Masalahnya?”
Dara menghirup napas lalu dihembuskan sekaligus. “Ok. Aku cemburu. Puas?”
Jiyong tertawa terbahak-bahak. “Hahahahahahaha! Akhirnya mengaku juga,” kata Jiyong di sela-sela tawanya.
Dara mendengus kesal sambil memutar kedua bola matanya. “Ha-Ha-Ha! Puas sekali tertawanya. Sudah ah!”
Tiba-tiba ponsel Jiyong berdering. Diambilnya ponsel itu dari sakunya.
Everytime I come close to you (Everytime I’m Feelin’ you)
“Ne,Youngbae-ah…”
“Eoddiya?”
 
“Hmm di kamar Dara. Wae?”
“Aigo… cepat kembali ke kamar, Mr. Heartbreaker. Aku dengar ada beberapa paparazzi disini.”
 
“Jinjjayo? Bagaimana bisa?”
“Ne. Aku juga tidak tahu benar apa tidak. Tadi manajerku memberitahuku tentang ini.”
 
“Hmm. ok, setelah ini aku akan kembali ke kamar. Gomawo, Bae-ah.”
“Hmm ne. Salam buat Ms. Park di sebelahmu, ok?”
 
“Eih! Maksudmu? Urus saja Yuri mu itu!” pekik Jiyong di teleponnya.
“Ne? Yuri? Aigo… aku tidak ada apa-apa dengannya.”
 
“Hahaha. Kau kira kita sudah berteman berapa lama he? Aku tahu kau menyukainya hahaha!”
“Hahahaha! Tidaklah… sainganku banyak.”
 
“Astaga, payah sekali nyalimu. Ya, Youngbae-ah. Carilah wanita! Jadi kau juga bisa menikmati indahnya rasa mencintai. Hahahaha…” canda Jiyong sambil melirik ke arah Dara.
Dara yang disebelahnya hanya terkikik geli sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Jiyong.
“Hah… kuusahakan. Kau tahu, sainganku untuk mendapatkan Yuri itu anak muda.”
 
“Siapa?”
“Hahahahahaha Choi Minho, kau kenal?”  Youngbae tertawa keras sekali.
“Ah! Ya aku tahu. Astaga.. sainganmu muda sekali.”
“Yap! Dia! Hahahahaha…”
 
“Aigo… kau bisa kok bersaing dengannya.”
“Hah… sudahlah tak usah membahas tentang itu di telepon. Cepat kembali ke kamar! Aku tak mau ada rumor macam-macam tentang kalian berdua. Kami sudah berusaha meng-cover kalian agar fans-fans luar negeri kita tidak curiga.” (Well… u know what. KVIP sebenernya udah tahu siapa pacar GD -_- but they wont to tell us who the lucky girl is. Hmm protective fans )
“Ok, Ok… Arasseo.”
“Ok. Kututup ya telponnya.”
 
“Ne. ne… Gutbam!”
Telpon pun terputus.
“Youngbae bilang apa?” tanya Dara setelah Jiyong menutup telponnya.
“Hmm aku disuruh kembali ke kamar, katanya ada paparazzi disini.” jawabnya.
“Paparazzi?” pekik Dara.
“Hmm begitulah. Tapi aku yakin sebenarnya itu tidak akan terjadi. Mungkin dia hanya terlalu khawatir dengan kita.”
“Astaga. Bikin kaget saja. Ya sudah sana kembali ke kamar.” Dara menggeser tidurnya, tapi Jiyong menahan badannya.
“Nanti saja ah. Aku masih kangen,” ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.
“Eih… terserahlah.”
“Aku kembali ke kamar kalau kau sudah tidur.”
Dara menganggukan kepalanya lalu memalingkan wajahnya ke tv. “Ok.”
Jiyong mengelus-elus pipi Dara sambil memandangnya lembut. Dara yang sedang asyik menonton tv menjadi sedikit terganggu, sesaat kemudian ia membalikkan badannya sehingga menghadap ke Jiyong.
“Waeyo?” tanya Dara pelan, sambil memegang tangan Jiyong yang mengelus pipinya.
“Ani…” lalu Jiyong mendesah dan tersenyum. “Sudah lama aku tidak seperti ini denganmu.”
Dara balas tersenyum sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi Jiyong yang kurus. “Kau tahu. Aku rindu dengan pipi chubbymu,”katanya sambil menggoyang-goyangkan kepala Jiyong.
Tangan Jiyong menghentikan tangan Dara yang menggoncangkan kepalanya. “Aigoo… jadi kau mau aku gendut, he?”
Dara tertawa pelan, “Aniya… bukan maksudku seperti itu. Hanya saja, kau terlihat semakin kurus, Jiyong-ah.”
“Benarkah aku semakin kurus?” tanya Jiyong. Paras wajahnya lucu sekali.
“Nih lihat.” Dara mencubit pipi Jiyong pelan. “Tidak ada dagingnya sama sekali.”
Lalu Jiyong membalas mencubit pipi Dara. “Sini tukeran pipinya sama aku.”
“Andwae!” ucap Dara nyaring.
Jiyong tertawa sebentar lalu menatap Dara. Perlahan-lahan wajah mereka semakin mendekat.  Dara menutup matanya, membiarkan Jiyong menuntunnya.
Lalu makin mendekat….
Lebih dekat…
Sampai hidung mereka bersentuhan. Diciumnya pelan hidung Dara yang mancung itu. Lalu ke mata. Ke pipi…
Ah… sebuah ciuman intens seorang pasangan kekasih yang sedang dilanda kerinduan yang teramat sangat. Desah-desah mereka terdengar. Makin terllihat yakin kalau mereka memang…. Saling mecintai. Tak ada yang bisa memisahkan mereka berdua…
Dan sepertinya malam ini, Jiyong tidak akan pergi dari kamar Dara hingga terbitnya fajar esok pagi. Kkk~
 
 
-To Be Continued-
Aku tahu akhirnya GANTUNG BANGET tapi mau gimana, I don’t have any idea dan kalau ini gak diakhiri bisa-bisa sampe 40 page. PANJANG BANGET DAN JATOHNYA JADI BIKIN BORING=___= so please, forgive me, ok?
Oh and once again. I REALLY NEED UR FEEDBACK! Kritik, saran atau apapun itu! COMMENT!!!! Why oh why? Aku sudah sangat bekerja keras buat nulis FF ini. but no feedback from u guys,  its really made me feel like a dumb -____- PLEASE SILENT READER, apa salahnya sih nulis beberapa kata aja buat aku :’’(
 
*note: aku pengen buat FF RiRin (Chaerin-Seungri) couple. Tapi belom  ketemu ide yang tepat. Kira-kira ceritanya gimana ya enaknya? Dibikin sama juga kayak Daragon dan Topbom atau pure fiksi? Ah really need ur opinion nih. Mention aku di twitterku @hellooti or post ur comment here yah 😉 kamsa~*
 
Ok… THANKYOU FOR ALL READERS J
And Once again, HAPPY NEW YEAR’s 2012 EVERYONE! God bless us all the way.
SPREAD DARAGON’s LOVE ALL OVER THE WORLD!
Applers always keep their faith! Because we know the deal, we know whats real…
The rabbit ❤ The Dragon.
ANNYEONG! ^-^/