Judul: Hello Stranger

Author: Tirzsa

Main cast: Tiffany ‘SNSD’ & Nichkhun ‘2PM’

Support cast: Yuri ‘SNSD’

Genre: Romance, Comedy

Rating: PG-13

Disclaimer: FF ini terinspirasi dari salah satu film Thailand. FF ini juga dipublish di http://readfanfiction.wordpress.com/. Do enjoy! ^^

Hello Stranger (Part 1)

Begitu sampai di bandara Incheon, Tiffany langsung mengeluarkan barang bawaannya dari bagasi mobil pacarnya, Jihoo. Pemuda berkacamata itu hanya diam dan meneliti wajah Tiffany dengan ragu ketika gadis itu sibuk membenahi tas-tas miliknya.

Tiffany yang menyadari tingkah aneh pacarnya itu hanya tersenyum gugup. “Waeyo? Ada yang salah dengan make-upku hari ini?”

Jihoo menggeleng pelan. Dia mendorong kacamata miliknya dengan telunjuk lalu melipat kedua tangan diatas dada. “Apakah kau tidak lupa membawa paspormu?”

“Ani. Ini dia pasporku,” kata Tiffany lalu menunjukkan paspor yang dia simpan disaku bajunya.

“Uang?”

“Aku sudah mengaturnya di dalam dompet seperti yang kau katakan. Mengaturnya dengan berbagai pecahan,” sahut Tiffany lalu terkekeh pelan.

“Permen karet?”

Tiffany mengernyit, “Permen karet? Untuk apa?”

“Untuk dikunyah jika telingamu berdengung dan sakit saat di pesawat nanti.”

Tiffany menatap Jihoo bingung lalu menyeringai lebar. “Ah, ne, aku akan membelinya nanti di dalam bandara. Lagipula aku pergi bersama Jessica. Kau tahu kan Jessica selalu mempersiapkan segalanya. Jadi aku yakin dia pasti membawa permen karet,” ujarnya bohong.

Jihoo mengangguk. “Baguslah kalau begitu. Dan jangan lupa, ketika kau sampai disana, kau harus mengangkat telepon dan membalas smsku segera. Jangan minum-minum dan jangan menyentuh minuman bersoda sama sekali. Jangan pergi ke pantai dan menggunakan bikini. Dan jangan pulang larut malam.”

Tiffany tersenyum kecut. “Ne, chagi.”

***

            Junho mengerem mobil begitu mereka sampai di parkiran bandara Incheon. Junsu segera keluar dari mobil dan membuka bagasi mobil dan mendapati Nichkhun meringkuk sambil tertidur di dalam ruangan sempit itu.

Junsu terbahak. “Ya! Junho-ah, Wooyoung-ah, lihatlah pemuda yang satu ini!”

Junho dan Wooyoung langsung turun dari mobil dan melihat keadaan Nichkhun di bagasi mobil. “Hahaha. Ya! Khun-ah, apa kau tidur dengan nyenyak?” goda Junho sambil tergelak.

“Ya, cepat bangun atau kau akan ketinggalan pesawat!” teriak Junsu begitu tawanya reda.

“Ini paspor dan beberapa barang milikmu,” ujar Wooyoung sambil menyerahkan paspor dan tas kecil kepada Nichkhun. Tapi pemuda itu masih tak bergerak. Entah dia masih tertidur atau tidak.

“Ya! Cepat bangun!” teriak Junsu lagi sambil mengguncang-guncangkan tubuh pemuda itu.

Tiba-tiba saja tubuh Nichkhun menggeliat-geliat gelisah. Pemuda itu langsung terduduk dengan mata masih terpejam rapat. Dan…

“Hueks!”

“Yaaaa!”

Nichkhun muntah tepat diatas sepatu ketiga pemuda itu. Junho, Junsu, dan Wooyoung langsung menjauh dari Nichkhun dengan wajah jijik untuk menghindari kalau-kalau pemuda itu akan muntah lagi.

“Ya! Dasar babo!” Junsu menoyor kepala Nichkhun dengan kasar lalu membersihkan sepatunya dengan tissue basah.

***

            Masih dalam keadaan setengah mabuk dan setengah mengantuk, Nichkhun berjalan sambil menenteng ranselnya dengan susah payah ke dalam teras bandara. Rombongan turnya sudah menunggunya disana.

“Annyeonghaseo. Maaf aku terlambat,” sapa Nichkhun, berusaha seramah mungkin.

Salah seorang perempuan yang merupakan tour guide mereka hanya bisa tersenyum melihat Nichkhun. Sementara rombongan yang lain cekikikan melihat Nichkhun.

“Waeyo?” tanya Nichkhun, mulai merasa risih. Dia menatap dirinya sendiri dari bawah keatas untuk memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya saat itu.

“Itu! Didahimu!” Tour guide itu menunjuk kearah dahi Nichkhun dengan telunjuknya.

Nichkhun berubah panik dan merogoh ponsel dari saku celananya lalu menggunakan refleksi layar ponselnya untuk melihat bayangan dahinya dari sana. Tepat didahinya, ada sebuah tulisan yang dibuat dengan spidol berwarna merah dalam ukuran yang cukup besar. Dan dia tahu, itu pasti ulah ketiga sahabatnya, Junho, Wooyoung dan Junsu. “Baru saja dicampakkan.”

“Brengsek!”

***

            Suasana pesawat mulai sunyi ketika waktu sudah memasuki tengah malam. Beberapa penumpang lain sudah terlelap dan lampu-lampu mulai dinyalakan temaram agar tak mengganggu. Tiffany menghela nafas. Dia rasa, dia adalah satu-satunya orang yang belum tidur saat itu. Rasanya membosankan.

“Aw!” Tiffany bisa merasakan perut bagian bawahnya terasa mencekik. Dia langsung menyesal kenapa tadi dia sok gaya minum kopi ketika di bandara, dan terlalu malas untuk ke kamar kecil di area boarding.

Tiffany akhirnya beranjak dari tempat duduknya, tidak lupa membawa tasnya sesuai pesan Jihoo yang diulang-ulang puluhan kali sebelum berangkat, “Jangan lupa, Fany. Jangan pernah sekali pun meninggalkan tas yang isinya dokumenmu, walaupun hanya sedetik.”

Terkadang, Jihoo memang sangat menyebalkan jika penyakit overprotektifnya sedang kumat. Hal yang seharusnya sewajarnya dihindari malah terasa berlebihan. Tapi untuk yang satu ini, Tiffany harus setuju dengan pacarnya.

Butuh sedikit perjuangan dan rasa tebal muka untuk keluar dari sarangnya yang nyaman di sisi jendela. Dua penumpang asing yang duduk di dua kursi di sebelah kanannya bertubuh tidak kecil. Penumpang yang berada di sisi gang malah harus khusus berdiri supaya Tiffany bisa lewat dengan nyaman dan kakinya tidak tersangkut.

Sambil tersenyum, dengan sungkan, Tiffany menggumamkan “thanks” pelan. Dia bertekad tidak akan lagi minum banyak-banyak selama di pesawat ini.

Ketika Tiffany sudah berjalan di gang mengarah ke toilet yang ada di belakang, seorang penumpang yang duduk di kursi paling belakang mendadak berdiri dan masuk ke toilet. Seketika itu juga lampu tanda semua toilet penuh pun menyala.

“Sial!” umpatnya kesal. Gadis itu terpaksa berdiri menunggu di depan pintu.

Seorang penumpang lain sepertinya juga mengalami hal yang sama. Tiffany menoleh sekilas dan melihat penumpang lain yang berdiri di belakang punggungnya sambil mencengkeram kaki bajunya dengan resah.

Pemuda itu menghampiri Tiffany yang sudah lebih dahulu berdiri di depan toilet sambil tersenyum ramah.

“Hi, very crowded in this area, don’t you think?”

Tidak tahu harus berkata apa, Tiffany hanya tersenyum sopan. Menurutnya ini bukanlah saat yang tepat untuk mengobrol.

Pemuda itu kemudian melanjutkan dalam bahasa Inggris, “Kau mau pergi kemana?” Kemudian dia memukul kepalanya sendiri dan berkata, “Tentu saja Paris, bodoh.”

Kali ini Tiffany benar-benar tak tahan. Dia bahkan tak tersenyum sama sekali. Dan dilihatnya wajah pemuda itu bersemu merah karena malu. Situasi kembali hening dan pemuda itu terlihat semakin gelisah.

Dia menatap Tiffany dengan ragu lalu bertanya dengan suara pelan, “Boleh aku yang masuk duluan? Aku benar-benar ingin buang air kecil.”

Tiffany mengerutkan kening lalu menyahut, “Maaf, Tuan. Tapi tolong budayakan antri. Aku duluan yang mengantri di depan toilet. Lagi pula, bukan Anda saja yang ingin buang air kecil, tapi aku juga.”

Pemuda itu meringis, tapi Tiffany tak peduli.

Saat penumpang tadi keluar dari dalam toilet dan Tiffany yang hendak masuk, pemuda itu menarik lengannya dan berusaha masuk mendahului Tiffany.

“Hei, apa yang kau lakukan? Aku duluan!” pekik Tiffany sambil menarik pinggul pemuda itu, mencegatnya masuk.

“Tolonglah, sekali ini saja. Aku benar-benar tidak tahan lagi!”

“Tidak! Tidak akan!” Tiffany terus menarik tubuh pemuda itu sampai akhirnya keduanya tersungkur jatuh keatas lantai pesawat.

Tiffany segera berdiri dan menjitak kepala pemuda itu dengan kasar lalu berlari masuk ke toilet sebelum didahului lagi. Sebelum menutup pintu toilet, Tiffany menjulurkan lidah kearah pemuda itu dan mengejeknya.

Pemuda itu meninju lantai pesawat dengan kesal. “Dasar perempuan jelek!”

***

            Pagi menjelang dan pesawat akhirnya tiba di bandara Charles de Gaulle. Nichkhun menyeret langkah kakinya ke teras bandara Charles de Gaulle, mengikuti tour guidenya dan beserta rombongan. Pemuda itu memegang bagian bawah perutnya sambil menghela nafas.

Gara-gara gadis jelek itu, perutku jadi nyeri karena harus menunggu di depan toilet lebih lama, keluhnya dalam hati.

“Oke, silahkan masuk kedalam bus ini. Kita akan pergi berkeliling sebentar lalu istirahat di hotel,” teriak tour guide itu.

Nichkhun menghela nafas. Dia mengikuti rombongan dan masuk ke dalam bus. Posisi duduknya di dalam pesawat tadi tidak cukup membuat tidurnya nyaman. Akibatnya, seluruh badan Nichkhun terasa pegal dan sakit.

Sesampainya di bandara, Nichkhun merebahkan tubuhnya keatas ranjang yang empuk dan memejamkan mata. Belum sampai beberapa menit, tiba-tiba saja dia dikagetkan dengan dering ponselnya dari saku celananya.

“Aish~” keluhnya lalu mengangkat telepon. “Yeobboseo?”

“Tuan Nichkhun, aku hanya ingin memberitahu beberapa info agenda untuk besok. Tolong pastikan Anda bangun sebelum pukul tujuh pagi karena kita akan segera sarapan pagi bersama-sama. Setelah itu, jam delapan pagi kita akan melanjutkan perjalanan kita,” jelas tour guide dengan cermat.

Nichkhun menggosok-gosok matanya lalu menguap. “Ne, ne, arasso.”

“Baiklah. Tolong pastikan Anda tepat waktu. Selamat beristirahat.”

Nichkhun menutup telepon lalu beranjak ke kamar mandi. Dia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu lalu tidur siang. Ketika masuk ke kamar mandi, Nichkhun memerhatikan semua tombol yang ada di dinding kamar mandi. Tulisan itu berbahasa Prancis.

“Ige mwoya?” keluhnya, bingung.

Bermodalkan intuisi, Nichkhun menekan salah satu tombol berwarna hijau di sudut kanan. Dan tiba-tiba saja air dingin keluar dari shower kamar mandi dan membasahi tubuh Nichkhun. Pemuda itu berteriak histeris lalu menjauh. Dia berubah panik dan menekan tombol tadi berulang-ulang kali.

“Ya Tuhan! Bagaimana cara mematikannya?!”

***

            Tiffany terkagum-kagum saat melihat menara kokoh itu—Eiffel—berdiri tepat dihadapannya. Gadis itu segera mengeluarkan kamera pocketnya lalu mengambil beberapa foto dirinya berlatar belakang menara Eiffel.

Setelah puas, dia lalu merekam dirinya sendiri dan berkeliling ke daerah dekat menara tersebut.

“Annyeonghaseo! Ini aku Tiffany dan aku sekarang sedang berada di Paris, kota romantis,” serunya kearah kamera.

“Siang ini, walaupun matahari bersinar terang diatas kepala,” Tiffany mengarahkan kamera kearah matahari lalu kembali kearahnya, “Tapi cuaca sangat dingin disini. Maka dari itu aku akan pergi ke salah satu kafe dekat sini dan ingin minum secangkir kopi.”

Masih dengan merekam dan menjelaskan ini-itu, Tiffany beranjak masuk ke salah satu kafe dekat situ dan memesan secangkir kopi hangat. Tiffany duduk di samping meja bar tanpa melewatkan aksi dua pria asing pembuat kopi di kafe itu. Dia terus merekam saat dua pria asing itu membuat kopi pesanannya.

Dua pria asing itu tersenyum kearah kamera dan Tiffany lalu menyerahkan secangkir kopi itu pada Tiffany.

“Merci,” kata Tiffany.

Pria asing itu mengangguk lalu berkata dalam bahasa Prancis, “Nona, kopinya masih panas. Jadi, tolong berhati-hati.”

Tiffany mengerutkan alis, tak mengerti. “Excuse me?”

“Kopinya masih panas, nona,” ulang pria asing itu, masih dengan bahasa Prancis yang kental.

Tiffany yang masih tak mengerti akhirnya hanya bisa mengangguk-angguk sambil menyeringai lebar. Dia menarik cangkir kopinya dan kembali fokus ke kamera.

“Well, ini dia kopinya. Bagaimana kalau kita rasa sebentar.” Gadis itu mengangkat cangkir kopinya dan menyesap kopinya. Sedetik kemudian, dia menyemburkan kopi itu ke lantai.

Tiffany meringis dan menjulurkan lidahnya yang melepuh.

***

            Nichkhun meraih baju hangatnya lalu berjalan keluar dari hotel. Perutnya keroncongan dan dia tak bisa tidur karenanya. Cuaca diluar sangat dingin. Nichkhun mendekap kedua lengannya lalu berjalan mengikuti peta yang ada di agenda.

Setelah melewati berapa kali perempatan, Nichkhun akhirnya sampai di sebuah kedai kecil di sudut jalan. Ketika pintu kedai itu didorong, gemerincing bel pintu menyambutnya dan seorang pelayan—gadis muda dengan rambut coklat terang—juga menyambutnya.

“Bienvenue! Blablablabla…”

Nichkhun hanya bisa menyeringai kikuk dan mengikuti saat gadis muda itu menuntunnya ke sebuah meja kosong. Gadis itu memberikan Nichkhun sebuah buku menu dan bersiaga untuk mencatat pesanannya.

Mata Nichkhun seketika membelalak ketika melihat nama-nama menu yang ada disana. Terdengar aneh dan asing. Nichkhun memandang ke sekelilingnya dan melihat orang-orang asing disana asik menikmati makan siang mereka dengan lahap.

Matanya tertuju pada orang asing di sebelahnya yang sedang menikmati semangkuk sup dengan macam sayuran dan daging.

“Ah, excuse me, I want that one!” kata Nichkhun sambil menunjuk makanan orang asing tadi.

“Ah!” Gadis itu berseru dan mencatatnya ke dalam note. Gadis itu lalu tersenyum dan pamit sebentar.

Tak berapa lama kemudian, gadis itu kembali membawa nampan dengan semangkuk sup sesuai dengan pesanan Nichkhun. Dia meletakkan sup itu dihadapan Nichkhun. Pemuda itu bisa menghirup wangi dari sup itu yang menggelitik mulut dan perutnya yang kelaparan.

Ketika gadis itu hendak pergi, Nichkhun kembali mencegat gadis itu. “Hm, excuse me, what meat is used in this soup?” tanyanya, dengan bahasa Inggris terbata-bata.

Gadis itu mengernyit, tak mengerti.

“I mean, is it pork? Ngok! Ngok,” Nichkhun menarik ujung hidungnya menyerupai hidung babi. “Or chicken?” Lalu menirukan gerakan sayap ayam dengan mengepak-ngepakkan kedua lengannya. “Or cow? Moo! Moo!”

Gadis itu masih mengernyit. Masih tak mengerti. Nichkhun menyerah dan akhirnya membiarkan gadis itu pergi.

Pemuda itu mulai menyendokkan sup itu dan menyuapi mulutnya. Nichkhun mengerutkan alis, berusaha mencari tahu sendiri, daging apa yang sebenarnya digunakan. Tapi, rasanya begitu asing.

Sejurus kemudian, gadis itu kembali menghampiri Nichkhun sambil membawa sebuah majalah. Dia membuka salah satu halaman yang bergambarkan macam-macam fauna dan menunjuk gambar kodok yang ada di sudut kiri halaman itu.

“What? Frog?”

Mata Nichkhun nyaris keluar ketika mengetahui bahwa yang sedang dia makan adalah daging kodok. Dia segera memuntahkan makanan itu ke lantai dan terbatuk-batuk.

***

            Malam menjelang. Nichkhun berjalan sempoyongan dengan perut keroncongan, menyusuri jalan yang mulai sepi. Peta yang tadi dibawanya entah terjatuh dimana. Mungkin di kedai yang tadi, tapi Nichkhun tak mau ambil risiko dan mengambilnya kembali. Melihat kedai itu saja sudah membuatnya mual, apalagi harus masuk ke dalam sana.

Dia terus berjalan menggunakan intuisinya yang dia sendiri bahkan tidak meyakininya. Matanya mulai meredup karena rasa kantuk dan kakinya mulai terasa lelah, tapi dia juga tak kunjung menemukan hotel tempatnya menginap.

Pemuda itu akhirnya terjatuh ke atas trotoar yang dingin dan tertidur.

***

            Tiffany menentang beberapa tas belanjaannya dengan susah payah dan terus berjalan menyusuri penginapan kecil yang ditempat tinggalinya selama di Paris. Sesampainya di tempat penginapan, dia melihat siluet seorang pemuda sedang tertidur tidak jauh dari sana.

Gadis itu lalu beringsut mendekat dan terkejut saat melihat pemuda itu.

“Ini, kan, pemuda yang di pesawat tadi?!”

Tiffany mengedarkan pandangannya ke sekeliling arah, hendak meminta bantuan. Tapi rupanya jalanan sudah sangat sepi.

“Hei, kau! Bangun! Jangan tidur dijalan seperti ini,” kata Tiffany sambil mengguncang-guncang bahu pemuda itu. Tapi pemuda itu tak bereaksi sama sekali.

Karena merasa iba dan tidak tega, Tiffany lalu menopang tubuh pemuda itu dan membimbingnya masuk ke penginapan. Dia merebahkan tubuh dingin pemuda itu keatas lantai dan menyelimuti tubuhnya dengan baju hangat Tiffany.

***

            Keesokan paginya, Tiffany bisa merasakan tubuhnya sangat nyaman dan hangat. Tidurnya sangat nyenyak. Dia bahkan sedikit merasa aneh, karena cuaca dingin di Paris, tapi dia bahkan masih sempat merasakan kehangatan musim semi.

Selanjutnya, dia tersentak ketika merasakan tangan seseorang melingkar di perutnya dan memeluk tubuhnya dari belakang. Matanya yang terpejam rapat langsung membelalak. Saat dia menoleh, dia mendapati pemuda itu ada di atas ranjang bersama dirinya.

“Ya!” Tiffany berteriak histeris lalu menendang perut pemuda itu sampai tersungkur jatuh dari atas ranjang.

To be continued…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hello Stranger (Part 2)

Bruk!

Nichkhun meringis kesakitan dan sadar dari tidur nyenyaknya ketika merasakan lantai keras dan dingin mengantam keras tulang ekor dan punggungnya. Dalam keadaan setengah sadar, dia mengusap punggung dan bokongnya lalu melirik Tiffany dengan sinis.

“Ya! Mwohaneungoya!” teriaknya kesal.

Tiffany terkesiap. “Oh! Kau orang Korea?”

Nichkhun tak menjawab. Masih meringis. Berapa detik kemudian, dia ikut berteriak kaget. “Bukannya kau gadis jelek yang mendorongku saat di pesawat kemarin?”

Tiffany mengernyit tak terima. “Mwo? Gadis jelek?”

Pemuda itu bangkit dari jatuhnya, berpura-pura tidak mendengar Tiffany. “Kenapa aku bisa ada disini? Oh ya, jam berapa sekarang?”

Tiffany mengambil ponsel yang ada di atas meja lalu menjawab, “Hampir jam delapan pagi.”

“Mwo? Jam delapan? Sial! Busnya akan segera berangkat!” Nichkhun segera berlari keluar dari kamar Tiffany dan pergi begitu saja.

Tiffany menatap pemuda itu dengan bingung sampai dia menghilang dari balik pintu. Tapi, tak lama kemudian, Nichkhun tahu-tahu muncul kembali, membuat Tiffany tersentak.

“Oh ya, apa kau tahu dimana hotel Grand Amabassador?” tanyanya, nafasnya tersengal.

“Grand Ambassador. Kurasa begitu. Kau tinggal keluar dari penginapan ini, lalu belok kiri. Diperempatan, kau akan melihat sebuah toko hewan lalu belok ke kanan. Setelah itu, kau terus berjalan dan akan menemukan sebuah toko pakaian. Dan setelah itu, belok ke kanan. Dan kau harus…”

“Stop!” pekik Nichkhun kesal. “Kau ini bicara apa, huh? Kau pikir aku bisa mengingat jalan rumit itu? Antarkan aku kesana sekarang.”

“Mwo? Mengantarmu?”

“Ne!”

Nichkhun langsung menarik tangan Tiffany dengan agak kasar dan tak memberi gadis itu kesempatan untuk menolak.

***

            Nichkhun berjalan dengan langkah cepat sambil mendekap tubuhnya dengan kedua tangan, menerobos angin pagi yang dingin di Paris. Sementara Tiffany berjalan dengan langkah pelan di belakang punggungnya sambil menikmati beberapa croissant dari kedai yang mereka lewati tadi.

Pemuda itu berpaling ke belakang dan mendengus kearah Tiffany yang asik mengunyah. “Ya, apakah kau bisa berhenti mengunyah? Apakah kau tidak bisa mengerti bahwa aku sedang terburu-buru?”

Tiffany mengernyit, “Ya, kenapa kau jadi marah-marah seperti itu padaku? Kau yang meminta tolong padaku, jadi seharusnya kau memperlakukanku dengan baik. Lagi pula, kenapa kita harus terburu-buru?”

Nichkhun hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan kesal. Dia terus berjalan dan berpura-pura tidak peduli pada gadis itu.

Setelah beberapa menit berjalan, Nichkhun kembali berpaling pada Tiffany dan mulai bertanya, “Kemana kita selanjutnya? Dimana hotelnya?”

“Jalan saja terus, lalu belok kiri. Disitu hotelnya,” jelas Tiffany sambil menunjuk kearah depan.

Nichkhun mengangguk patuh lalu mempercepat langkahnya. Ketika dia berbelok ke kiri, langkah pemuda itu terhenti. Wajahnya terlihat bingung dan tak senang. Tiffany menyusul pemuda itu dengan langkah cepat ketika menyadari ada yang salah.

“Waeyo?”

“Mana hotelnya?” tanya Nichkhun, kembali panik.

“Apa maksudmu? Ini dia hotel yang kau maksud,” kata Tiffany sambil menunjuk sebuah bangunan dengan lantai empat di hadapannya. Begitu memerhatikan bangunan itu dengan saksama, reaksi Tiffany tak jauh berbeda dengan Nichkhun saat pertama kali melihatnya. Bangunan itu terlihat menyeramkan dengan dinding papan lapuk dan abu-abu. Sebuah papan besar terpampang di depan bangunan itu. Grand Embassy.

Gadis itu berpaling kearah Nichkhun lalu menyeringai dengan wajah merah. “Tadi, kau bilang Grand Ambassador, ya?”

Nichkhun mendengus lalu menoyor kepala gadis itu dengan kesal.

***

            “Maaf, Nona, tapi busnya sudah pergi,” jelas seorang resepsionis hotel.

Akhirnya, setelah mengikuti petunjuk dari beberapa orang dan peta, Nichkhun dan Tiffany tiba di hotel Grand Ambassador. Sayangnya, tour guide beserta rombongan Nichkhun sudah pergi sejak beberapa menit yang lalu.

Tiffany mengangguk lalu menatap wajah Nichkhun yang terlihat cemas.

“Apa yang dia katakan?” tanya Nichkhun.

“Dia bilang, rombonganmu sudah pergi,” jawab Tiffany lirih, ikut menyesal.

“Mwo?” Nichkhun berpaling kearah resepsionis itu dengan raut putus asa. “Kemana mereka pergi? Tolong hubungi tour guideku. Dia tidak bisa meninggalkanku begitu saja disini!”

“Tunggu sebentar, Tuan. Aku akan mencoba menghubungi tour guide Anda.” Resepsionis itu mengangkat gagang telepon lalu memutar nomor telepon tour guide tersebut. “Halo? Maaf, aku ingin memberitahu sesuatu bahwa Anda sepertinya melupakan salah seorang anggota tour Anda,” ujar resepsionis itu di telepon.

Nichkhun memerhatikan dan mendengarkan baik-baik obrolan resepsionis dan tour guidenya dengan cermat sambil berharap dengan cemas.

“Ya? Oh, baiklah.” Resepsionis itu meletakkan gagang telepon lalu kembali menatap Tiffany dan Nichkhun. “Maaf, Tuan dan Nona, tapi tour guide Anda mengatakan bahwa mereka sekarang sudah berada di daerah lain. Mereka sudah berada di Georges Pompidou Center dan butuh beberapa jam lagi untuk kembali kesini. Selain itu, mereka akan menginap disana selama dua hari. Saya turut menyesal,” jelas resepsionis itu.

“Ya! Andwae! Mereka tidak bisa meninggalkanku begitu saja!” protes Nichkhun.

Resepsionis itu tersenyum tegas dan sopan lalu berujar. “Maaf, Tuan, aku tidak bisa melakukan apa-apa.”

“Ya! Andwae!”

Resepsionis itu berjalan meninggalkan Nichkhun dan Tiffany ketika dirinya dipanggil oleh seorang turis lain.

“Ya! Oediya? Ya! Ya!” teriak Nichkhun, berusaha memanggil resepsionis itu. Tapi, resepsionis itu bahkan tidak menghiraukannya sama sekali.

Tiffany menghela nafas. “Hm, baiklah. Tugasku sudah selesai. Aku masih ada urusan sekarang. Kau tetaplah di hotel dan tunggu sampai rombonganmu tiba, oke?”

Tiffany langsung melengang pergi meninggalkan Nichkhun begitu saja.

***

            Tiffany bisa mendengarkan jelas suara keletak-keletuk sepatu wedges yang dia gunakan bergema diatas trotoar jalan. Anehnya, suara keletak-keletuk itu diiringi suara decitan sandal hotel yang begitu mengganggu. Ketika Tiffany berbelok kearah kanan, suara decitan itu masih mengikutinya dari belakang. Ketika dia berbelok ke kiri, suara decitan itu masih ada. Gadis itu menggigit bibirnya dengan resah.

Dia berbalik dengan gerakan tiba-tiba dan membuat Nichkhun mengerem jalannya lalu hampir saja jatuh menimpa tubuh Tiffany.

“Kenapa kau mengikutiku?” tanya Tiffany kesal.

Nichkhun menggaruk kepalanya dengan resah lalu menjawab dengan suara pelan, “Memangnya kenapa? Aku ingin ikut denganmu.”

“Mwo? Aku bukan tour guidemu, babo!”

“Lalu aku harus kemana? Aku sendiri disini dan aku tidak tahu apa-apa.”

“Lalu kau pikir aku peduli?”

Nichkhun terdiam dan tertunduk lesu.

Tiffany mendengus dan menatapnya tajam. Gadis itu kembali melanjutkan perjalanannya. Tapi, lagi-lagi, Nichkhun terus mengikutinya dari belakang dan membuat Tiffany semakin gundah.

“Berhenti mengikutiku!” pekiknya kesal.

Nichkhun tersentak kaget, tapi tak mengatakan apa-apa.

“Tunggu sebentar,” kata Tiffany. Gadis itu memicingkan mata dan menatap Nichkhun dengan raut curiga. “Atau jangan-jangan, kau ini adalah penguntit, ya? Kau berniat mengambil uangku, kan?”

Nichkhun mengerutkan kening. “Mwo?”

Dengan gerakan tergesa-gesa dan panik, Tiffany mengeluarkan lembar uang Franc dan menjejalkan uang itu ke tangan Nichkhun. “Ambil uang ini dan berhenti mengikutiku!”

Nichkhun menatap uang yang ada ditangannya dengan bingung. Dia hendak mengembalikannya pada Tiffany, tapi gadis itu langsung berlari kabur darinya.

“Ya! Neo! Oediya!”

Nichkhun segera berlari menyusul Tiffany dari belakang. Tapi lari Tiffany tahunya tak selambat yang Nichkhun kira. Gadis itu terus berlari dengan kecepatan tinggi tanpa merasa lelah sama sekali.

“Ya! Chakkamanyo! Ya!” teriak Nichkhun dari belakang, masih terus mengejar Tiffany. Tapi Tiffany bahkan tak menoleh sama sekali dan terus berlari.

Tiffany berbelok masuk ke sebuah stasiun kereta. Dia menunjukkan tiket kereta miliknya kepada dua orang penjaga yang berdiri di ambang pintu masuk, lalu ketika dua orang penjaga itu mengangguk, Tiffany kembali berlari masuk ke dalam ketika mendengar suara langkah Nichkhun mendekat.

Nichkhun yang mulai lelah berlari dengan sisa tenaga yang dia punya lalu hendak masuk ke dalam stasiun. Tapi dua orang penajag itu menahannya dan melarangnya masuk.

“Maaf, Tuan, Anda tidak masuk jika tidak mempunyai tiket.”

“Mwo? Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti!” teriak Nichkhun kesal. Nichkhun melongokkan kepalanya, berusaha mencari Tiffany di dalam stasiun.

Tiffany menoleh ke belakang dan melihat Nichkhun yang berusaha memberontak dari genggaman dua orang penjaga tadi.

“Lepaskan aku!” Nichkhun terus memberontak, lalu berteriak kearah Tiffany. “Ya! Neo! Cepat kembali kesini. Tolong aku! Ingat, kita berdua sama-sama orang Korea. Seharusnya kau menolongku!”

Tiffany menghela nafas berat. Sejujurnya, dia tidak tega ketika melihat Nichkhun diseret-seret seperti itu. Dia akhirnya kembali dan menghampiri Nichkhun dan dua orang penjaga yang menahannya.

Setelah meminta maaf dan basa-basi lainnya, dua orang penjaga itu akhirnya melepaskan Nichkhun.

“Merci,” ucap Tiffany ramah. Dua orang penjaga itu tersenyum lalu beranjak pergi.

“Fiuh~” Nichkhun mengusap keringat di dahinya lalu menatap Tiffany dengan lega. Tapi Tiffany malah memberinya tatapan sinis. “Waeyo?” tanya Nichkhun, risih.

“Cih, dasar sinting!” Tiffany menoyor kepala pemuda itu. “Aku hanya akan mengizinkanmu ikut denganku selama tour guidemu belum kembali. Arasso?”

Nichkhun menyeringai senang lalu mengangguk. “Ne!”

“Oh ya, kembalikan dulu uangku yang tadi.”

“Kau tidak jadi memberikannya padaku?”

“Ani. Cepat, berikan padaku!” kata Tiffany sambil menengadahkan tangannya di depan wajah Nichkhun.

Pemuda itu mendengus lalu menyerahkan uang itu kembali dengan wajah masam.

***

            “Two ticket, please,” ucap Tiffany sambil membungkukkan badan, mengikuti posisi jendela loket.

“Sorry, Miss, tapi hanya tersisa satu tiket,” sahut seorang perempuan muda dari dalam loket.

Tiffany menghela nafas. “Okay, no problem. I’ll take it.” Dia lalu menyerahkan beberapa lembar Franc lalu menghampiri Nichkhun yang sedang berdiri sambil menikmati segelas kopi.

“Tinggal tersisa satu tiket saja. Bagaimana ini?” ujar Tiffany, menyesal.

“Aniyo, gwaenchanhayo. Kau ingin sekali menonton opera itu, kan? Aku berdiri disini saja menungguimu,” ujar Nichkhun.

“Jeongmalyo? Kau yakin?”

“Ne, gwaenchanha.”

Tiffany mengangkat bahu. “Baiklah, terserah kau saja.”

Tiba-tiba saja ponsel Tiffany bergetar. Dia meraih ponselnya dan melihat layar ponselnya. Jihoo. Nichkhun yang penasaran, ikut menjulurkan kepalanya dan melihat kearah layar. Tapi dia buru-buru menarik lehernya lagi ketika mendapat pelototan tajam dari Tiffany.

Gadis itu menjauh beberapa langkah dari Nichkhun lalu mengangkat telepon.

“Yeobbosseo?”

“Kau dimana sekarang?” Suara Jihoo terdengar ketus dan menyeramkan.

“Hm… aku sekarang sedang disuatu tempat,” sahut Tiffany gugup.

“Bersama siapa?”

“Tentu saja bersama Jessica.” Tiffany tertawa renyah.

Nichkhun yang masih bisa mendengar obrolan keduanya lalu cekikikan dibelakang Tiffany. Jessica? Jessica siapa? Dasar pembohong!

Untuk membuktikannya, Tiffany pura-pura menoleh ke belakang dan berteriak dengan suara lantang, “Jessica, tunggu aku! Jangan masuk ke dalam duluan!” Dan Nichkhun tergelak melihat tingkah bodoh gadis itu.

Tiffany kembali memegang erat ponselnya lalu berdeham. “Mianheyo, chagi, aku harus pergi sekarang. Operanya akan segera dimulai. Aku akan meneleponmu nanti.”

Gadis itu menutup telepon, lalu kembali menghampiri Nichkhun yang masih terbahak.

Tiffany meninju bahu pemuda itu lalu memelototinya dengan tajam. “Apanya yang lucu, babo!”

Pemuda itu berusaha meredakan tawanya. “Aniyo. Kau ini benar-benar kacau sampai membohongi pacarmu sendiri.”

“Bukan urusanmu!” ujar Tiffany kesal lalu masuk ke dalam gedung opera itu.

***

            Malam semakin dingin. Nichkhun menghentak-hentakkan sol sepatunya ke atas tanah dengan bosan. Dia melirik kearah jam tangannya dan waktu sudah menujukkan pukul sembilan malam. Sudah hampir satu jam sejak dia menunggui Tiffany, dan sepertinya acara itu masih akan lama.

Dia mengalihkan pandangannya kearah sudut jalan dan melihat sebuah box telepon disana. Dengan langkah ragu, Nichkhun menghampiri box telepon itu lalu memutar nomor seseorang.

“Yeobbosseo?” Terdengar suara perempuan muda diujung sana.

“Yuri-ah, ini aku Nichkhun,” ujarnya semangat.

Tiiit… Tiiit… Tiiit… Sambungan diputuskan. Nichkhun kembali memutar nomor yang sama. Tapi hanya operator yang menjawab.

“Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Untuk menghubunginya, silahkan diulang beberapa saat lagi.”

Nichkhun menghembuskan nafas berat lalu meletakkan gagang telepon kembali.

“Apakah kau begitu membenciku, Yuri?”

***

            “Kau tahu, opera tadi sangat keren! Kau pasti akan menyesal tidak menontonnya!” ujar Tiffany menggebu-gebu sambil menyuapi mulutnya dengan potongan pancake saus cokelat.

“Aish~ Aku tidak suka dengan drama opera. Sangat menyebalkan,” sahut Nichkhun, tak tertarik sama sekali.

“Waeyo?”

Nichkhun mengangkat bahu. “Tidak suka saja.”

Tiffany terdiam. Dia meneliti wajah pemuda itu. “Apa yang terjadi denganmu? Wajahmu terlihat kusut seperti itu.”

Nichkhun mengangkat wajahnya lalu tertawa gugup. “Ah, aniyo. Aku hanya merasa makanan ini tidak enak,” ujarnya santai.

“Ya! Hati-hati dengan ucapanmu! Nanti orang-orang disini akan mendengarkannya dan marah padamu,” bisik Tiffany was-was.

Pemuda itu terbahak. “Aish~ Aniyo. Tenang saja. Lagi pula, kita kan sedang berada di negara lain dan bahasa kita berbeda. Mereka tidak akan mengerti.”

“Tapi kan…”

“Coba, lihat!” Nichkhun mengerling jenaka kearah Tiffany lalu memanggil salah seorang pelayan.

Pelayan itu bertubuh tinggi dengan wajah yang dipenuhi bintik merah. Wajahnya ramah dan jenaka.

“Hm, aku ingin memberitahumu sesuatu,” kata Nichkhun dengan bahasa Korea. Wajah pelayan itu terlihat sedikit bingung, tapi dia tetap menunjukkan minat.

“Makanan disini sangat tidak enak. Apalagi makanan yang satu ini,” Nichkhun menunjuk spaghetti yang ada di piringnya lalu kembali melanjutkan, “Rasanya seperti kotoran kuda. Sangat tidak enak. Aku harap, restoran kalian ini segera bangkrut!” ujarnya sambil tersenyum-senyum jahil.

Pelayan itu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya seolah mengerti. Setelah itu dia kembali bekerja dan mengantarkan pesanan tamu lain.

Nichkhun terbahak-bahak begitu pelayan itu pergi. Sementara Tiffany hanya melongo melihat kelakukan jahil pemuda itu.

“Lihat? Dia tidak mengerti ucapanku, kan?” tanya Nichkhun, lalu lanjut terbahak.

Tiffany hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Tak berapa lama kemudian, pelayan tadi kembali mendatangi meja keduanya dan meletakkan sebuah piring yang ditutup oleh penutup besi ke hadapan Nichkhun. Nichkhun dan Tiffany saling bertatapan. Kebingungan.

“Ige mwoya?” tanya Nichkhun.

Pelayan tadi tersenyum lalu mengangkat penutup itu dan beberapa daging—yang sepertinya mentah—berjejer membentuk pola di atas piring. Nichkhun dan Tiffany sama-sama berdigik jijik melihat daging itu bahkan masih menggeliat-geliat hidup.

“What is this?” tanya Nichkhun, masih dengan raut horor.

“Snail,” jawab pelayan itu.

“WHAT?!” Nichkhun terbelalak. Dia mendorong piring itu jauh-jauh. “No, no. Thanks.”

Pelayan itu kembali mendorong piring itu lalu berkata, “It’s free.”

“But…”

“Free.” Pelayan itu mengedipkan matanya kearah Nichkhun lalu beranjak pergi.

Nichkhun dan Tiffany menatap daging siput itu dengan ngeri, lalu menunjukkan wajah tak minat sama sekali.

“Kau berani memakannya?” tanya Tiffany.

Nichkhun menggeleng lemah.

Tiffany terkikik. “Dasar payah!”

“Mwo? Apa katamu barusan?” tanya Nichkhun, tak terima.

“P-a-y-a-h!”

“Ya, jangan sembarangan berkata. Jika aku berani menghabiskan siput ini, apa yang akan kau lakukan?” tantang Nichkhun.

Tiffany berubah gugup. Dia meraih sebotol sampanye yang masih penuh. “Aku akan menghabiskan sebotol penuh sampanye ini. Bagaimana?”

“Deal!”

“Oke! Deal!”

To be continued…