Title                  : Neo, Saranghae! [Part 5]

Author             : Shin EunRa
Length             : Continue
Genre              : Romance

Rating             : G
Main Cast        : Choi HaRa (OC), Cho Kyuhyun (Super Junior)

Support casts   : Park HyeJin (OC), Lee Donghae (Super Junior), saptam

 

 

Mianhe~ jeongmal mianheyo yeorobun untuk keterlambatan FF ini (°_°)v author benar² disibukkan oleh dunia perkuliahan yang semakin menjadi-jadi (-___-) sama urusan radio noh yang makin ribet *curcol dikit* *sapa yang nanya (-..-)*

Oh ya, buat yang masih setia nungguin nih FF nongol *iya kalo ada yang nunggu thor (“¬_¬)* dan juga yang masih mau komen, saya ucapkan terima kasih yg sedalam²nya atas partisipasinya #bow :’D dan juga author minta saran dan kritiknya buat FF ini supaya bisa lebih berkembang (?) lagi~

Oh satu lagi *banyak amat thor ngomongnya (“¬_¬)* maaf kalo banyak typo-nya (°_°)a

Beuh~ ya sudahlah langsung sajo yuk, capcus! ;D ㅋㅋㅋ~

 

 

 

Neo, Saranghae! [Part 5]

 

Donghae’s POV

 

“TOLOOOOOOONGG!! TOLOOOONGG!! TOLOOOONGGG!!”

Sepertinya aku mendengar orang minta tolong. Apa jangan-jangan itu HaRa dan Kyuhyun?

“Changkamanyo! Aku merasa mendengar teriakan seseorang minta tolong” ku pertajam lagi pendengaranku.

“TOLOOOONGGG!! TOLOOOONGG! Tolooooongg!!”

“Oppa! aku juga mendengarnya. Sepertinya dari arah sana” HyeJin menunjuk arah asal suara yang kami dengar.

“Ne, aku juga merasa asalnya dari sana. Kajja!” kami bertiga pun menuju asal suara tersebut. Aku, HyeJin, dan juga seorang satpam penjaga tempat ini. Aku dan HyeJin meminta bantuannya untuk mencari Kyuhyun dan HaRa yang tak kunjung balik juga.

 

#Flashback

 

“Aigoo~ kemana dua anak manusia ini. Sudah jam segini belum balik juga. Tak tau apa ini sudah mau malam” omelku pada angin (?).

“Kau sudah menghubungi Hara, HyeJin-ah?” tanyaku lanjut pada HyeJin.

“Sudah Oppa, tapi tetap saja nggak bisa. Bagaimana dengan Kyuhyun?”

“Sama. Handphone nya juga tidak bisa dihubungi.”

“Apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada mereka? Oppa, ottokhe? Aku takut terjadi sesuatu pada mereka” kecemasan terlihat jelas di muka HyeJin.

“Ya! Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Sudahlah, sebaiknya kita minta bantuan satpam disini untuk mencari mereka. Semoga mereka tidak kenapa-napa” ucapku menenangkan HyeJin dan juga diriku. Jujur, rasa khawatir telah menyusup ke dalam hatiku. Kyuhyun-ah, Hara-yah, kalian baik-baik saja kan?

“Kajja!” kami pun segera pergi ke pos penjaga terdekat. Udara semakin dingin.  Kami bertiga pun semakin mempercepat langkah kami.

 

#Flashback END

“KYUHYUN-AH!! HARA-YAH!!” teriakku memanggil mereka. Aku harap mereka dapat mendengar panggilanku.

“KYUHYUN-AH!! HARA-YAH!!” HyeJin pun berusaha memanggil mereka juga.

“HyeJin-ah, kau yakin mendengar asal suara dari sini?” tanyaku kemudian.

“Ne, Oppa. Aku sangat yakin asalnya dari sini.” ucap HyeJin meyakinkan.

“Tapi disini tidak ada siapa-siapa, HyeJin-ah”

“Tapi aku benar-benar yakin dari sini asalnya, Oppa” ungkap HyeJin yang masih yakin dengan pendengarannya.

“Begini saja, bagaimana kalau kita mencarinya sekali lagi. Kalaupun memang tidak ada tanda-tanda dari mereka berdua, kita cari ditempat lain” ucap satpam tersebut menghentikan perdebatan kami.

Kami pun memulai pencarian kembali. Kali ini kami masuk lebih ke dalam lagi. Tempat ini benar-benar gelap. Hanya diterangi oleh sinar sang rembulan.

“HARA-YAH!! KYUHYUN-AH!!” aku mulai memanggil mereka lagi.

Hara-yah, Kyuhyun-ah, kalian dimana? Jawablah kalau kalian memang ada di sekitar sini”

 

Donghae’s POV END

 

 

Hara’s POV

 

“Aissh~ kenapa sih pake nggak ada sinyal segala!” rutukku kesal. Ku banting handphone ku ke tanah.

“Percuma, walaupun tu handphone kamu banting sekeras apapun tetap aja nggak akan ada sinyal masuk” Eh, suara siapa itu? Apa jangan-jangan ajjussi itu mengejar kami? Omma, ottokhe? Ku tutup kedua mata dengan tanganku. Aku takut.

“Phuehehe… kenapa nutup mata gitu? Takut? Kekeke~” kyaa~ kenapa suaranya bisa sedekat itu? Ku tutup kedua telingaku. Aku tak mau mendengarnya.

“Ya! Kenapa kau tutup juga telingamu? Memangnya suaraku jelek apa hingga kau menutup telinga begitu”

Tiba-tiba sepasang tangan memengang tanganku yang ku tempelkan ditelinga. “Kyaaaaaaa………………………..!!!” teriakku sekeras mungkin.

“Ya! Kau mau bikin aku tuli apa! Aissh~ jeongmal! Ya! Buka matamu! Aku bukan ajjussi itu” aku masih menutup mata dan telingaku. Aku tak mau melihatnya. Aku takut.

“Shireo! Kau pasti mau berbuat jahat” tolakku mentah-mentah.

“Ya! HaRa-yah, ini aku, Cho Kyuhyun” ucap laki-laki itu lagi sambil menurunkan tanganku yang menutupi kedua telingaku. Aku masih tetap menutup mataku.

“Kyuhyun?” ucapku meyakinkan.

“Ne, ini aku. Sekarang bukalah matamu. Supaya kau yakin aku bukanlah orang jahat” ku buka mataku perlahan. Dan dia, Cho Kyuhyun, sedang duduk berlutut menghadapku.

“Ya! Kau itu bikin aku takut saja. Dan sejak kapan kau bangun? Kenapa tak memberitahuku? Kau tau, badanmu itu berat. Kau mau bikin aku mati ketakutan dengan menahan beratmu itu apa? Huhuhu…. nappeun namja” omelku padanya. Ku pukuli dada bidangnya, dan tak terasa cairan bening mengalir di pipiku. Ya! Kenapa aku jadi cengeng gini >,<”

“Mianhe. Telah membuatmu ketakutan. Mianhe. Telah membuatmu kelelahan menahan tubuhku. Mianhe. Jeongmal mianheyo” ucapnya sambil memelukku, lagi. Seketika itu juga tangisku berhenti. Ya! Perasaan apa ini? Kenapa aku selalu merasa nyaman dipelukkannya (-__-)a

“HaRa-yah, kamu tau, rasanya nyaman tidur di pangkuanmu itu. Kekeke~” tambahnya kemudian. Ne? nyaman katanya? Aigoo~ kenapa tiba-tiba jadi panas gini (>////<)

“Err~ Kyuhyun-ssi, bisa kau tolong lepaskan pelukanmu ini? Aku sulit bernafas” ungkapku dengan sebuah alasan. Aku tak mau larut dalam kenyamanan ini.

“Ah ne, mianhe” ucapnya kemudian melepaskan pelukannya. Suasana tiba-tiba menjadi canggung. Tak sepatah kata pun terucap dari bibir kami. Kami terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku malu untuk memulai pembicaraan setelah apa yang ia lakukan tadi, memelukku, ya dia memberikanku kenyamanan dalam pelukkan hangatnya itu.

 

Hara’s POV END

 

 

Kyuhyun’s POV

 

Hmm~ nyaman sekali. Serasa tidur di bantal yang amat empuk :з” ucapku dalam hati. Ku buka perlahan mataku yang tertutup indah (?) ini. Berusaha menyesuaikan dengan keadaan sekitar.

“Aissh~ kenapa sih pake nggak ada sinyal segala!” HaRa? Jadi dari tadi aku tertidur di pangkuannya gitu? Ck! Paboya! Ya jelaslah nggak ada sinyal disini. Ini kan daerah penuh dengan pohon. Mana bisa sinyal nyampe -,- Hmm~ aku kerjain bentar ah kkk~

“Percuma, walaupun tu handphone kamu banting sekeras apapun tetap aja nggak akan ada sinyal masuk” kekeke~ dia mulai menutup matanya, itu berarti dia ketakutan. Mungkin dia kira aku ajjussi yang tadi. Hehe…

“Phuehehe… kenapa nutup mata gitu? Takut? Kekeke~” kesempatan. Aku langsung bangun dari pangkuannya. Sepertinya dia tidak menyadarinya.

“Ya! Kenapa kau tutup juga telingamu? Memangnya suaraku jelek apa hingga kau menutup telinga begitu” aku duduk berlutut di depannya, memegang kedua tanganya yang menempel di telinganya.

“Kyaaaaaaa………………………..!!!” teriaknya sekeras mungkin. Aissh~ telingaku -,-“

“Ya! Kau mau bikin aku tuli apa! Aissh~ jeongmal! Ya! Buka matamu! Aku bukan ajjussi itu” dia masih tetap menutup mata dan telinganya. Ku rasa tubuhnya bergetar. Apa aku sudah keterlaluan mengerjainya?

“Shireo! Kau pasti mau berbuat jahat” tolaknya mentah-mentah. Tubuhnya masih bergetar, ketakutan.

“Ya! HaRa-yah, ini aku, Cho Kyuhyun” ucapku kemudian. Ku turunkan kedua tangannya yang menutupi telinganya itu. Tapi dia masih tetap menutup matanya.

“Kyuhyun?” ucapnya meyakinkan.

“Ne, ini aku. Sekarang bukalah matamu. Supaya kau yakin aku bukanlah orang jahat” perlahan kemudian dia membuka matanya. Berbagai ekspresi tergambar jelas di wajahnya. Takut, cemas, marah, kesal, dan senang, semua jadi satu.

“Ya! Kau itu bikin aku takut saja. Dan sejak kapan kau bangun? Kenapa tak memberitahuku? Kau tau, badanmu itu berat. Kau mau bikin aku mati ketakutan dengan menahan beratmu itu apa? Hiks.. hiks.. nappeun namja” omelnya kemudian dan tak lupa pukulan kecil mendarat mulus di dada bidangku -,- Sekilas ku lihat cairan bening mengalir di pipi mulusnya. Aigoo~

“Mianhe. Telah membuatmu ketakutan. Mianhe. Telah membuatmu kelelahan menahan tubuhku. Mianhe. Jeongmal mianheyo” ku peluk erat tubuh mungilnya itu. Berusaha untuk meredam kemarahannya.

“HaRa-yah, kamu tau, rasanya nyaman tidur di pangkuanmu itu. Kekeke~” tambahku lagi. Kekeke~ pasti mukanya sudah kayak tomat lagi sekarang.

“Err~ Kyuhyun-ssi, bisa kau tolong lepaskan pelukanmu ini? Aku sulit bernafas” ungkapnya beberapa saat kemudian. Aigoo~ kenapa tiba-tiba dia jadi seperti ini -.-a

“Ah ne, mianhe” ku lepas pelukanku. Suasana tiba-tiba menjadi canggung. Tak sepatah kata pun terucap dari bibir kami. Kami terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing.

Apa aku telah keterlaluan ya? Tapi aku kan hanya memeluknya saja, memang salah ya (-,-)a” tanyaku dalam hati. “Aissh~ aku memang tak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh yeoja (-,-)”

“Kyuhyun-ah!” tiba-tiba dia berdiri dan menghampiriku.

“Mwo?”

“Sepertinya aku mendengar ada yang memanggil kita”

“Jinjjayo?” aku pun berusaha mempertajam pendengaranku.

. . . .

“Aish~ ya! Mana? Aku dari tadi tak mendengar apa-apa -,- Kau yakin tadi mendengarnya?”

“Ne. Aku yakin sekali, Kyu. Dan aku rasa suaranya dari arah sana” HaRa menunjuk arah yang dia yakini asal dari suara yang dia dengar.

“Aku akan kesana, kamu tunggu disini saja. Ara?” lanjutnya lagi.

“Shireo! Kita pergi bersama!” aku bangkit dari dudukku dan berusaha berjalan dengan sisa-sisa tenaga yang ada.

“Ugh” kurasa tubuhku menolak untuk diajak berjalan. Tubuhku terlalu lemah untuk saat ini.

“Ya! Babo! Kan sudah aku bilang kamu tunggu disini saja. Kamu nggak kasihan apa dengan tubuhmu itu. Aish~ jinjja” omelnya lagi. Kekeke~ dia benar-benar lucu saat sedang marah begini :ɜ

“Phuehehehe~ mianhe”

“Aish~ kajja!” kami berdua pun segera menuju tempat yang diperkirakan suara itu berasal. Tentu saja dengan kondisi HaRa membantuku untuk berjalan.

KYUHYUN-AH!! HARA-YAH!!

“Kyu”

“Ne. Aku juga mendengarnya” ku pertajam lagi pendengaranku.

HARA-YAH!! KYUHYUN-AH!!” suara itu semakin jelas. Tapi kali ini seperti suara seorang yeoja. Berbeda dengan suara yang pertama.

“Sepertinya itu suara HyeJin!”

“Ne, dan mungkin juga Donghae hyung!”

“Ne! Kajja, kita sudah semakin dekat dengan mereka” ajak HaRa kemudian. Kami pun mulai berjalan kembali. Tapi satu lagi penghambat datang, tubuhku sudah tak kuat lagi untuk melanjutkannya.

“Chamkaman”

“Kyu, gwenchana?

“Gwenchana. Aku hanya butuh istirahat sebentar. Kamu pergilah, cari Donghae hyung. Aku yakin mereka sudah dekat dengan kita” perintahku padanya.

“Tapi, kamu bagaimana?” terdengar nada khawatir dalam suaranya.

“Nan gwenchana. Pergilah. Katakan pada mereka aku menunggu disini. Arra?

“Arraso. Aku pergi dulu. Neo, jangan kemana-mana! Aku akan segera kembali”

“Ne”

 

Kyuhyun’s POV END

 

HaRa’s POV

 

Aku pun pergi meninggalkan Kyuhyun yang sedang lemah. Bagaimana pun aku harus segera menemukan bantuan. Aku tak mau terjadi apa-apa padanya.

KYUHYUN-AH!! HARA-YAH!!” suara itu semakin jelas. Donghae oppa, aku yakin sekali itu suaranya.

“DONGHAE OPPAAA!! HYEJIN-AH!!” teriakku menjawab panggilan mereka. Ku harap mereka mendengarnya.

Aku terus berlari menyusuri jalan setapak yang hanya diterangi oleh sinar rembulan serta bantuan cahaya dari handphone ku. Ya, aku yakin ini jalan yang akan mempertemukanku dengan HyeJin dan Donghae oppa.

 

HaRa’s POV END

 

##TBC##