Title: Time Traveler (Part 11) – END

Author: bangmil

Length: Continue

Genre: Romance, Sci-Fi

Cast: Han Sehyun (OC), Hoya (Infinite), Seungyeon (KARA), Infinite members

Happy reading~ ^^

***

Sehyun’s POV

Walaupun hujan sedang turun rintik-rintik, itu sama sekali tidak menghalangi niatku untuk pergi ke Woollim University. Setelah melihat partitur piano yang ada di dalam amplop itu, entah kenapa aku merasa aneh, sekaligus penasaran. Apalagi partitur itu ditulis dengan tangan yang asing bagiku.

Bersama Sungyeol dan Myungsoo, kami bertiga berjalan bersama ke Woollim. Yah, walaupun kami memang belum resmi menjadi murid sekolah itu, tapi pintu Woollim selalu terbuka lebar untuk digunakan oleh umum, bahkan di hari libur.

“Sehyun?”

Refleks aku menoleh ke belakang begitu mendengar suara seorang laki-laki memanggil namaku. Aku melihat wajahnya, tapi.. aku sama sekali tidak mengenalnya. “Nuguseyo?”

Melihat aku merespon, wajah pria itu berubah cerah. “Ternyata benar Sehyun,” ia membungkuk sedikit. “Aku Kim Sunggyu.”

Aku tersentak begitu mendengar nama tersebut. Secepat kilat aku pun membungkuk sembilan puluh derajat, lalu memberi sinyal pada Sungyeol dan L untuk pergi lebih dulu. Sementara aku dan Sunggyu ssi berdua memutuskan untuk mengobrol sebentar dan duduk di bangku taman.

“Apa yang kau lakukan di sini? Di Woollim?” tanyanya mengawali pembicaran.

“A-aku hanya ingin pinjam piano sebentar.” Jawabku kikuk. Bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan ayahku sendiri.

“Untuk apa? Berlatih?”

“Tidak. Hanya saja, tadi pagi aku menemukan selembar partitur yang entah kenapa bisa ada di saku seragamku. Sepertinya itu lagu karangan seseorang yang belum pernah dirilis.”

Sunggyu ssi mengangguk pelan. Sepertinya ia tertarik dengan ceritaku. “Kalau boleh tahu, judulnya?”

Timeless.”

Alisnya mengerut. “Pengarangnya?”

Aku menggeleng pelan. “Molla yo.” Rasanya aneh melihat Sunggyu ssi yang tiba-tiba melamun. “Wae yo?”

Ia tersadar dan tersenyum ringan. “Ah, tidak. Dulu temanku ada yang menulis lagu berjudul sama. Tapi mungkin cuma kebetulan. Boleh aku lihat?”

Aku mengangguk pelan. Kemudian merogoh sakuku, namun tidak kutemukan kertas itu di sana. Aku mencoba mengingat-ingat dimana terakhir kali aku menaruhnya. Dan aku menepuk dahiku pelan. “Sepertinya tadi terbawa oleh temanku, maaf.”

“Oh, ya sudah tak apa.” Sunggyu ssi mengangguk-angguk mengerti. Kami berdua pun tenggelam kembali dalam kesunyian.

“Ah, Sunggyu ssi sendiri kenapa ada di sini?”

“Aku mengunjungi makam teman.”

“Makam?” Aku sedikit terkejut mendengar jawabannya. Namun, sedetik kemudian wajah pria di hadapanku ini berubah sedikit muram. Gawat, sepertinya aku menanyakan hal yang salah.

“Kau lihat berita tadi pagi? Berita tentang bus yang jatuh tiga puluh tujuh tahun yang lalu?”

Aku mengagguk. Kalau tidak salah itu berita yang disiarkan di tv saat aku baru bangun tadi pagi kan?

“Temanku meninggal saat itu. Padahal aku menaruh harapan besar padanya.”

“Harapan besar?”

“Ya, dulu dia murid Woollim. Suaranya bagus, dia juga punya kemauan tinggi.” Sunggyu ssi menghela nafas panjang. “Ah.. sayang sekali. Padahal dia masih muda.”

Aku hanya mengangguk pelan. Rasanya aku jadi ikut sedih, walau sebenarnya aku tidak kenal dengan siapa yang ia maksud.

“Ah, maaf aku bicara terlalu banyak. Sepertinya aku membuat teman-temanmu lama menunggu.” Ia berdiri lalu tersenyum. Yang unik adalah kedua bola matanya selalu menghilang setiap kali ia tersenyum.

“Sehyun ah.”

Aku terkejut mendengar ia yang tiba-tiba memanggilku tanpa embel-embel ssi. Aku menoleh padanya, dan mendapati ia yang sedang memandangku dengan tatapan yang lembut.

“Maafkan aku.”

Deg.

Hanya dengan dua patah kata, entah kenapa hatiku rasanya roboh. Seperti terdapat lubang besar di sana, dan itu terasa sakit sekali.

“Annyeong.”

Ia mengacak-acak rambutku dan beranjak dari bangku taman. Aku hanya bisa menatapnya dengan tercengang, sementara ia mulai berjalan menjauhiku. Sesekali ia melambaikan tangannya kepadaku, dan akhirnya menghilang di salah satu belokan jalan.

“Sehyun ah!” seruan Sungyeol membuatku tersadar dari lamunanku. Aku menoleh, menemukan ia yang sudah berada di depan pintu masuk. Dengan segera aku menyusul mereka berdua, apalagi melihat wajah Myungsoo yang sepertinya menjamur karena bosan.

Kami bertiga pun berjalan menyusuri koridor sekolah yang cukup besar ini. Dengan model sekolah jaman dulu, koridor yang gelap ini terasa seperti koridor kuno yang berhantu. Sungyeol mulai mendekatkan dirinya pada Myungsoo karena takut.

“Sehyun ah, kau yakin benar ini jalannya?” tanya Myungsoo kemudian.

Aku mengangguk pasti. Entah kenapa aku merasa sangat familiar dengan tempat ini, padahal baru pertama kali ini aku masuk ke dalam Woollim. Rasanya kakiku melangkah dengan sendirinya, menuju ruang musik yang kami tuju.

Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya kami sampai di sebuah pintu yang bertuliskan ‘music room’. Perlahan, aku membuka pintu tersebut. Kami bertiga terpana begitu melihat ruangan yang dipenuhi dengan berbagai macam alat musik, serta dua buah grand piano di pojok ruangan. Sungyeol tampak sibuk memperhatikan kumpulan alat musik tiup, sementara Myungsoo justru kagum memandangi wallpaper ruangan ini. Ia memang.. aneh.

Dengan segera aku mengambil partitur piano itu dari tas Sungyeol dan berjalan menuju piano. Aku memasang partitur tersebut di deck, dan duduk di hadapannya. Sepuluh jariku kuletakkan di atas tuts-tuts piano, sementara mataku mengarah ke partitur.

Perlahan, aku mulai memainkan intro dan dentingan piano pun terdengar. Alunan piano ini membuat hatiku terasa sakit. Rasanya.. aku pernah mendengar ini entah dimana. Mendengar lagu ini.. aku merasa sedih. Sedangkan jemariku, seperti bergerak sendiri. Tanpa melihat tangga nada pun, aku bisa memainkan lagu ini. Mataku berpindah ke bagian bawah not, tempat dimana lirik lagu itu ditulis. Perlahan, bibirku mulai menyanyikan lirik lagu tersebut. Ajaib. Aku merasa amat sangat familiar dengan alunan lagu ini.

Did time stop again?
Is it going to fall asleep like this again?
While staring blankly outside
I’m thinking about you with my two eyes closed

Even though time is passing by again
I’m going back to that time again
Although I try hard to find everything in your memories

I’m crying by myself there but
As my tears stopped I’m laughing but
I’m waiting again
Until I can breathe again

Although I don’t have anything to say and I can’t hear you but
even so if I can find you like this
I’ll wait for you now until time stops

I know well that I can’t say anything
even so I’m searching for you but
I know well you won’t change your thoughts but
I still can’t forget you

If I can find you, I’ll wait for you now, until I can breathe again

(Terjemahan bahasa inggris dari lagu solo Woohyun, Timeless.)

Terdengar suara tepuk tangan dan seruan dari Sungyeol. Bahkan Myungsoo yang biasanya hanya menjadi pengamat pun ikut bertepuk tangan.

“Daebak! Lagunya bagus sekali!” puji Sungyeol sambil berjalan ke arahku. Ia menepuk pundakku yang terasa kaku. Bukannya bagaimana, tiba-tiba aku merasa sangat sedih, juga rindu yang teramat sangat. Aku merasa seperti.. kehilangan sesuatu yang berharga.

“Sehyun ah, kau–” Kalimat Myungsoo terhenti begitu ia menoleh ke arahku. “Kau kenapa menangis?”

Mendengar itu, aku hanya tersenyum tipis. “Kenapa.. aku juga tidak tahu.” Kedua mataku menatap piano dengan pandangan kosong.

“Oh, aku menemukan sesuatu!” seru Sungyeol tiba-tiba. Ia memberiku amplop tempat partitur ini disimpan. “Lihatlah bagian dalam amplop ini, sepertinya ada sesuatu yang ditulis tipis dengan pensil.”

Aku meraih amplop tersebut dan mengintip bagian dalamnya. Mataku menyipit, mencoba membaca tulisan tersebut.

“Lagu ini mewakili perasaanku padamu. Walapun hanya sekilas, terima kasih sudah datang ke dalam hidupku. Sampai kita bertemu lagi nanti, di taman sekolah. Saranghae. Hoya.”

(Fin.)

            ***

Akhirnya sampai juga di akhir cerita dari ff ini. Maaf kalau ending-nya kurang mengena, atau ada beberapa scene yang rasanya kurang dapet feel-nya. Saya sebagai author meminta maaf yang sebesar-besarnya. Juga part 4 – 6 yang dirasa kurang panjang, author mohon maaf.

Special thanks to readers yang udah setia baca ff ini, apalagi temen-temen semua yang udah mau nyempetin waktunya buat komen. Seandainya kalian tahu betapa berharganya komen itu buat author~ hiks T^T

Oh ya, nggak lupa juga ucapan makasih buat siders setia.

Makasih juga buat fflovers yang sudah menjembatani ff ini dari draft komputerku sampai kebaca di  komputer-komputer para readers~ Jeongmal kamsahamnida!

A lot of love from me. Saranghamnida~❤

(Credit: Toki wo kakeru shoujo, Woohyun’s Timeless, Infinite members, KARA’s Seungyeon.)