Title            : Irony (chapter 3)

Author        : oleelxschein

Length        : Chaptered

Genre         : Angst, Romance, AU

Cast            : Choi Si won (Super Junior)

Lee Jaewon (Ocs)

HyeWon (Co-ed School)

Rating         : T

Disclaim     : just own plot. Semua POV diambil dari sudut pandangnya siwon. Kommen dalam bentuk apapun di terima, kalau malas kommen boleh like aja, pokoknya tolong tinggalkan jejak. Happy reading^^

————————————————————————————————————

 

Part 3

Aku berbincang santai dengan keluarga nenekku. Mereka tampak sangat ramah padaku. Terutama sepupuku yang bernama shinbi. Dia gadis yang ramah. Aku dan dia sedang membuka album foto keluarga ini.

Ku tatap baik-baik foto jung won bersama gadis bernama hyewon itu. Kata nenek, gadis itu adalah tunangan Jung Won. Sebulan sebelum mereka menikah terjadilah kecelakaan itu. Katanya dia sangat shock. lalu dia bersama keluarganya pergi ke Amerika. Tidak heran dia begitu kaget melihatku, karena wajah kami sangatlah mirip. Ahh bukan, wajahku ini adalah wajah tunangannya.

“Hyewon pasti kaget melihat oppa, ya kan?”

Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya.

“Aku bingung kenapa dia pulang? Harusnya dia tetap di amerika saja!” kata shinbi tak acuh sambil membuka-buka foto album itu.

“Kau tidak terlalu suka padanya, ya?” tanyaku

Shinbi tersenyum lalu menutup album itu, “Begitulah, aku hanya merasakan apa yang tidak dirasakan orang lain..sesuatu yang..sudahlah!” dia meletakkan album itu lalu menatapku, “oh ya oppa sebenarnya aku ingin meminta bantuan oppa, itu sih kalau oppa tidak keberatan”

xxx

 

Jae won duduk diruanganku sekarang. Dia sama sekali tidak menatap mataku. dari mimik wajahnya berkata ingin segera keluar dari ruangan ini.

“Kau ada masalah?” tanyaku padanya sambil mengecek hasil kerjanya

“maaf?”

Aku menatap kedua matanya, dan dia berpaling. “seperti menghindariku?”

Dia tertawa kecil, “Bagaimana bisa? Direktur jangan bercanda!”

“Kau benar, untuk apa kau menghindariku” Aku tersenyum, “Kerjamu bagus! Kau bisa pergi sekarang!” aku menyerahkan map itu. dia mengambilnya dan pergi dari kantorku.

xxx

Entah mengapa perasaanku tidak enak, dan saat aku baru memasuki sebuah kafe dengan shinbi, tiba-tiba sudah ada orang yang memanggil nama kami. Dan ketika aku menoleh aku meihat seorang gadis langsung terkesiap melihatku, aku dan dia sama-sama terkejut, namun aku berusaha setenang mungkin sekarang.

“Annyeong! Maaf ya terlambat” kata shinbi mengambil duduk disamping pria yang pernah aku kenal.

“Aniyo, kami baru saja menanyakanmu..” jawab pria itu.

“Oh ya, ini Sepupu yang kuceritakan padamu, Si won oppa. Siwon oppa ini namja chinguku Hyung Jun” kata shinbi mengenalkanku pada pacarnya. Kakak jaewon, hyungjun. Aku menjabat tangan hyungjun dan kembali menatap gadis yang duduk disebrangku. Jae won, dia masih terlihat kaget melihatku.

“Nah, jae won ini sepupuku siwon oppa” kata shinbi memperkenalku pada jae won.

Jae won menatapku. “Jadi, bapak sepupu shinbi” katanya

“Lho, kalian sudah saling kenal?” ujar hyung jun kaget, aku hanya tersenyum sekilas meng-iyakan pertanyaannya.

“Dia bosku” jawanya singkat.

Akhirnya kita mengobrol panjang lebar dan akhirnya hyungjun dan shinbi meninggalkan kita berdua.

Ekhm. Sebenarnya aku kaget aku bisa bertemu dengan dia dalam keadaan seperti ini. Kemarin shin bi memintaku untuk mengajak jalan-jalan adik namja chingunya yang katanya sedang butuh hiburan, dan ternyata dia  adalah Jae Won. Kata shinbi Jae won benar-benar menjadi gadis yang pemurung dan sepertinya aku tahu alasannya, pasti dia masih sakit hati padaku.

“Terus terang pak, aku kaget bapak ada disini!” kata jae won memulai pembicaraan setelah kita terdiam cukup lama..

“Aku juga, mana aku tahu kau adik pacarnya shinbi… kenapa? Kau… terganggu olehku?” kataku

“Ani! Aniyo!” katanya cepat lalu kembali terdiam.

Tiba-tiba saja ada yang menepuk pundakku, lalu aku menoleh kearahnya.

“Siwon oppa, kau disini?” tanya hyewon setengah terkejut melihatku,

Aku hanya tersenyum menjawab pertanyannya, dan kulihat hyewon mengarahkan pandangannya pada jae won yang dari tadi juga menatapnya.

“Kalian sedang berkencan?” tanyanya

“Ah tidak kami hanya…..” aku tiba-tiba saja tergugup. Bisa dibilang ini kencan tidak terduga sih.

“Kami hanya makan siang bersama” jawab Jae won datar

“Begitukah? Kalau begitu tidak keberatankan aku bergabung dengan kalian. Mendadak temanku membatalkan pertemuan kami!”

Ku lirik jae won yang tampak acuh, lalu kutatap hyewon yang sedang menanti jawaban kami. Aku agak bingung karena sebenarnya aku ingin berdua saja dengan Jae Won.

“Silahkan saja!” kata Jae won kemudian

“Terimakasih!” gadis bernama hyewon itu berkata dengan begitu riangnya dan mengambil duduk disebelahku.

“Jadi kalian berteman?” tanyanya kemudian pada kami.

“Entahlah. Secara teknis dia adalah bosku” kata jaewon lagi-lagi dengan ekspresi yang datar.

Aku menyunggingkan senyum kecil pada Jae won, “Kami bertemu secara kebetulan, sungguh berjodoh!”

Jae won tersentak dengan perkataanku, dan bisa kulihat raut wajahnya berubah.

“Kalau begitu, aku juga berjodoh dengan kalian. Kitakan juga bertemu dengan secara kebetulan!” sela hyewon tiba-tiba.

Jae won menggeleng kecil sambil tersenyum mendengar perkataan Hyewon, lalu dia meneguk tehnya agak cepat. “Maaf semuanya, tampaknya sudah sore saya pamit dulu”

“Kau mau pulang?” tanyaku

“Yah… mengurusi pekerjaan yang bapak berikan tentunya” dia tersenyum simpul dan berdiri di hadapan kami, “Permisi pak, nona, saya pamit dulu! Annyeonghigaseyo!” katanya singkat lalu berbalik dan pergi.

xxx

 

Gadis dengan topi baret hitam itu tampak mondar-mandir di depan halte bus. Sudah hampir setengah jam dia menunggu kakaknya yang tidak kunjung datang.

“Pasti masih asik pacaran, ah oppa kan tahu aku tidak bawa uang!” gumamnya kesal sambil mengeluarkan ponselnya. Dia baru sadar kalau tasnya ada di mobil kakanya, dan dia hanya membawa ponsel dan mantelnya saja.

“Harusnya aku bisa menumpang mobil bos tadi… ahh tapi kan ada nona itu. Dia terlihat sekali kalau sedang mendekati bos. Caranya kekanak-kanakan pula! Aduuh kenapa aku jadi ngurusin masalah orang sih! Agh babo!” gumamnya sambil terus mondar-mandir.

Tiba-tiba ada mobil hitam yang berhenti di depannya.

xxx

 

Kulihat dari kaca mobilku ada seorang gadis yang mondari mandir di halte sendirian sambil berkutat dengan ponselnya. Kulihat raut wajah kesalnya yang tampak sangat lucu untukku. Aku tersenyum melihat tingkahnya itu. Sudah lama tidak melihat ekspresi itu.

Aku memutuskan untuk meninggalkan hyewon di kafe sendirian karena mendadak aku mendapat telfon dari shinbi untuk mengantar Jae won pulang karena dia tidak punya uang. Dan lagi shinbi dan hyungjun tampaknya akan pulang larut karena mobil HyungJun mendadak mogok di jalan.

Kujalankan mesin menuju halte dimana gadis itu berdiri, lalu kubuka jendela mobilku. Gadis itu melongok dan menatapku dengan terkejut.

“Pak direktur..” lirihnya sambil menatapku.

“Kau tunggu apa, naiklah! Shinbi tadi menelponku dan berkata oppamu tidak bisa pulang.. mobilnya mendadak mogok” jelasku padanya

Dia mengangguk kecil dan segera masuk ke mobil.

“Ponsel oppamu sepertinya juga mati, lowbath mungkin!i” kataku pada gadis yang sedang menguta-atik ponselnya itu. bisa kuebak dia tengah memprotes kenapa oppanya sama sekali tidak bisa dihubungi,

“Oh?” dia menoleh kearahku, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Lalu tersenyum padaku, senyum ala anak kecil yang tertangkap berbuat bodoh. Hahaha..

“Kalau Bapak di sini, lalu nona tadi bagaimana?” tanyanya

Aku memutar bola mataku Oh ya bagaimana hyewon ya? Eeee…. Sepertinya tadi aku pergi begitu saja

“Bapak meninggalkannya?”

“Ah tidak, aku sudah pamit kok!” kataku terbata. Mau gimana lagi, setidaknya tadi aku memang sudah pamit ke hyewon.

“Sekarangkan bukan di kantor, bisa tidak jangan memanggil Bapak?” kataku pada jaewon.

“Lalu harus kupanggil apa?”

“Siwon boleh”  aku menjalankan mobilku perlahan.

“Aaah, Siwon-ssi begitu? Baiklah!” katanya dengan santai.

“Sekarang kita kemana?” tanyaku sambil memandangnya.

“Pulang ke rumah mau kemana lagi” katanya sambil tersenyum padaku.

Aiiishh… Kalau begini terus, apa mungkin aku bisa memulai cerita baru dengannya? Apa masih mungkin untukku yang telah menyakitinya? Lagipula dengan diriku yang baru ini, orang yang membunuhku tidak akan mengejarku lagi… juga tidak akan menyakiti jae won… Apa aku masih punya kesempatan?

Namun baru saa aku tersebyum ceria tiba–tiba saja dari arah samping, tepatnya dari arah Jae Won ada pick up yang menubruk samping dari mobil kami

BRUUUUKKK!

TIIIIIIIIIIIIIN~ TIIIIIIIIIIIIN~

Klakson mobilku berdenting keras, aku membuka mataku dan melihat Jae Won pinsan di pelukanku. Tadi saat mobil itu menabrak kami, aku masih sempat memeluk Jae won dan mencoba melindunginya.

Aku tidak berani mengguncangkan badannya karena siapa tau ada tulangnya yang patah. Kupandangi wajahnya dan tiba-tiba ada cairan merah yang menetes dari hidungnya.

Aku melepas sabuk pengaman Jae Won dan menggendongnya keluar, ku pandang pick up yang sudah kosong. Tidak ada orang di sana.

Aku menunduk memandang Jae won yang masih menutup matanya. Lalu ada cairan merah yang menetes ke pipi Jae Won, sepertinya kepalaku juga…… Aku oleng, dan terduduk di jalan… dengan sisa tenagaku segera raih ponselku dan menghubungi rumah sakit…berharap mereka tidak terlambat…..jebal~~

“AAAAaaaaaaaaaarghh!!” teriakku menggema di jalanan yang sepi itu.