Judul: Hello Stranger

Author: Tirzsa

Main cast: Tiffany ‘SNSD’ & Nichkhun ‘2PM’

Support cast: Yuri ‘SNSD’

Genre: Romance, Comedy

Rating: PG-13

Disclaimer: FF ini terinspirasi dari salah satu film Thailand. FF ini juga dipublish di http://readfanfiction.wordpress.com/. Do enjoy! ^^

 

Hello Stranger (Part 2)

Bruk!

Nichkhun meringis kesakitan dan sadar dari tidur nyenyaknya ketika merasakan lantai keras dan dingin mengantam keras tulang ekor dan punggungnya. Dalam keadaan setengah sadar, dia mengusap punggung dan bokongnya lalu melirik Tiffany dengan sinis.

“Ya! Mwohaneungoya!” teriaknya kesal.

Tiffany terkesiap. “Oh! Kau orang Korea?”

Nichkhun tak menjawab. Masih meringis. Berapa detik kemudian, dia ikut berteriak kaget. “Bukannya kau gadis jelek yang mendorongku saat di pesawat kemarin?”

Tiffany mengernyit tak terima. “Mwo? Gadis jelek?”

Pemuda itu bangkit dari jatuhnya, berpura-pura tidak mendengar Tiffany. “Kenapa aku bisa ada disini? Oh ya, jam berapa sekarang?”

Tiffany mengambil ponsel yang ada di atas meja lalu menjawab, “Hampir jam delapan pagi.”

“Mwo? Jam delapan? Sial! Busnya akan segera berangkat!” Nichkhun segera berlari keluar dari kamar Tiffany dan pergi begitu saja.

Tiffany menatap pemuda itu dengan bingung sampai dia menghilang dari balik pintu. Tapi, tak lama kemudian, Nichkhun tahu-tahu muncul kembali, membuat Tiffany tersentak.

“Oh ya, apa kau tahu dimana hotel Grand Amabassador?” tanyanya, nafasnya tersengal.

“Grand Ambassador. Kurasa begitu. Kau tinggal keluar dari penginapan ini, lalu belok kiri. Diperempatan, kau akan melihat sebuah toko hewan lalu belok ke kanan. Setelah itu, kau terus berjalan dan akan menemukan sebuah toko pakaian. Dan setelah itu, belok ke kanan. Dan kau harus…”

“Stop!” pekik Nichkhun kesal. “Kau ini bicara apa, huh? Kau pikir aku bisa mengingat jalan rumit itu? Antarkan aku kesana sekarang.”

“Mwo? Mengantarmu?”

“Ne!”

Nichkhun langsung menarik tangan Tiffany dengan agak kasar dan tak memberi gadis itu kesempatan untuk menolak.

***

            Nichkhun berjalan dengan langkah cepat sambil mendekap tubuhnya dengan kedua tangan, menerobos angin pagi yang dingin di Paris. Sementara Tiffany berjalan dengan langkah pelan di belakang punggungnya sambil menikmati beberapa croissant dari kedai yang mereka lewati tadi.

Pemuda itu berpaling ke belakang dan mendengus kearah Tiffany yang asik mengunyah. “Ya, apakah kau bisa berhenti mengunyah? Apakah kau tidak bisa mengerti bahwa aku sedang terburu-buru?”

Tiffany mengernyit, “Ya, kenapa kau jadi marah-marah seperti itu padaku? Kau yang meminta tolong padaku, jadi seharusnya kau memperlakukanku dengan baik. Lagi pula, kenapa kita harus terburu-buru?”

Nichkhun hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan kesal. Dia terus berjalan dan berpura-pura tidak peduli pada gadis itu.

Setelah beberapa menit berjalan, Nichkhun kembali berpaling pada Tiffany dan mulai bertanya, “Kemana kita selanjutnya? Dimana hotelnya?”

“Jalan saja terus, lalu belok kiri. Disitu hotelnya,” jelas Tiffany sambil menunjuk kearah depan.

Nichkhun mengangguk patuh lalu mempercepat langkahnya. Ketika dia berbelok ke kiri, langkah pemuda itu terhenti. Wajahnya terlihat bingung dan tak senang. Tiffany menyusul pemuda itu dengan langkah cepat ketika menyadari ada yang salah.

“Waeyo?”

“Mana hotelnya?” tanya Nichkhun, kembali panik.

“Apa maksudmu? Ini dia hotel yang kau maksud,” kata Tiffany sambil menunjuk sebuah bangunan dengan lantai empat di hadapannya. Begitu memerhatikan bangunan itu dengan saksama, reaksi Tiffany tak jauh berbeda dengan Nichkhun saat pertama kali melihatnya. Bangunan itu terlihat menyeramkan dengan dinding papan lapuk dan abu-abu. Sebuah papan besar terpampang di depan bangunan itu. Grand Embassy.

Gadis itu berpaling kearah Nichkhun lalu menyeringai dengan wajah merah. “Tadi, kau bilang Grand Ambassador, ya?”

Nichkhun mendengus lalu menoyor kepala gadis itu dengan kesal.

***

            “Maaf, Nona, tapi busnya sudah pergi,” jelas seorang resepsionis hotel.

Akhirnya, setelah mengikuti petunjuk dari beberapa orang dan peta, Nichkhun dan Tiffany tiba di hotel Grand Ambassador. Sayangnya, tour guide beserta rombongan Nichkhun sudah pergi sejak beberapa menit yang lalu.

Tiffany mengangguk lalu menatap wajah Nichkhun yang terlihat cemas.

“Apa yang dia katakan?” tanya Nichkhun.

“Dia bilang, rombonganmu sudah pergi,” jawab Tiffany lirih, ikut menyesal.

“Mwo?” Nichkhun berpaling kearah resepsionis itu dengan raut putus asa. “Kemana mereka pergi? Tolong hubungi tour guideku. Dia tidak bisa meninggalkanku begitu saja disini!”

“Tunggu sebentar, Tuan. Aku akan mencoba menghubungi tour guide Anda.” Resepsionis itu mengangkat gagang telepon lalu memutar nomor telepon tour guide tersebut. “Halo? Maaf, aku ingin memberitahu sesuatu bahwa Anda sepertinya melupakan salah seorang anggota tour Anda,” ujar resepsionis itu di telepon.

Nichkhun memerhatikan dan mendengarkan baik-baik obrolan resepsionis dan tour guidenya dengan cermat sambil berharap dengan cemas.

“Ya? Oh, baiklah.” Resepsionis itu meletakkan gagang telepon lalu kembali menatap Tiffany dan Nichkhun. “Maaf, Tuan dan Nona, tapi tour guide Anda mengatakan bahwa mereka sekarang sudah berada di daerah lain. Mereka sudah berada di Georges Pompidou Center dan butuh beberapa jam lagi untuk kembali kesini. Selain itu, mereka akan menginap disana selama dua hari. Saya turut menyesal,” jelas resepsionis itu.

“Ya! Andwae! Mereka tidak bisa meninggalkanku begitu saja!” protes Nichkhun.

Resepsionis itu tersenyum tegas dan sopan lalu berujar. “Maaf, Tuan, aku tidak bisa melakukan apa-apa.”

“Ya! Andwae!”

Resepsionis itu berjalan meninggalkan Nichkhun dan Tiffany ketika dirinya dipanggil oleh seorang turis lain.

“Ya! Oediya? Ya! Ya!” teriak Nichkhun, berusaha memanggil resepsionis itu. Tapi, resepsionis itu bahkan tidak menghiraukannya sama sekali.

Tiffany menghela nafas. “Hm, baiklah. Tugasku sudah selesai. Aku masih ada urusan sekarang. Kau tetaplah di hotel dan tunggu sampai rombonganmu tiba, oke?”

Tiffany langsung melengang pergi meninggalkan Nichkhun begitu saja.

***

            Tiffany bisa mendengarkan jelas suara keletak-keletuk sepatu wedges yang dia gunakan bergema diatas trotoar jalan. Anehnya, suara keletak-keletuk itu diiringi suara decitan sandal hotel yang begitu mengganggu. Ketika Tiffany berbelok kearah kanan, suara decitan itu masih mengikutinya dari belakang. Ketika dia berbelok ke kiri, suara decitan itu masih ada. Gadis itu menggigit bibirnya dengan resah.

Dia berbalik dengan gerakan tiba-tiba dan membuat Nichkhun mengerem jalannya lalu hampir saja jatuh menimpa tubuh Tiffany.

“Kenapa kau mengikutiku?” tanya Tiffany kesal.

Nichkhun menggaruk kepalanya dengan resah lalu menjawab dengan suara pelan, “Memangnya kenapa? Aku ingin ikut denganmu.”

“Mwo? Aku bukan tour guidemu, babo!”

“Lalu aku harus kemana? Aku sendiri disini dan aku tidak tahu apa-apa.”

“Lalu kau pikir aku peduli?”

Nichkhun terdiam dan tertunduk lesu.

Tiffany mendengus dan menatapnya tajam. Gadis itu kembali melanjutkan perjalanannya. Tapi, lagi-lagi, Nichkhun terus mengikutinya dari belakang dan membuat Tiffany semakin gundah.

“Berhenti mengikutiku!” pekiknya kesal.

Nichkhun tersentak kaget, tapi tak mengatakan apa-apa.

“Tunggu sebentar,” kata Tiffany. Gadis itu memicingkan mata dan menatap Nichkhun dengan raut curiga. “Atau jangan-jangan, kau ini adalah penguntit, ya? Kau berniat mengambil uangku, kan?”

Nichkhun mengerutkan kening. “Mwo?”

Dengan gerakan tergesa-gesa dan panik, Tiffany mengeluarkan lembar uang Franc dan menjejalkan uang itu ke tangan Nichkhun. “Ambil uang ini dan berhenti mengikutiku!”

Nichkhun menatap uang yang ada ditangannya dengan bingung. Dia hendak mengembalikannya pada Tiffany, tapi gadis itu langsung berlari kabur darinya.

“Ya! Neo! Oediya!”

Nichkhun segera berlari menyusul Tiffany dari belakang. Tapi lari Tiffany tahunya tak selambat yang Nichkhun kira. Gadis itu terus berlari dengan kecepatan tinggi tanpa merasa lelah sama sekali.

“Ya! Chakkamanyo! Ya!” teriak Nichkhun dari belakang, masih terus mengejar Tiffany. Tapi Tiffany bahkan tak menoleh sama sekali dan terus berlari.

Tiffany berbelok masuk ke sebuah stasiun kereta. Dia menunjukkan tiket kereta miliknya kepada dua orang penjaga yang berdiri di ambang pintu masuk, lalu ketika dua orang penjaga itu mengangguk, Tiffany kembali berlari masuk ke dalam ketika mendengar suara langkah Nichkhun mendekat.

Nichkhun yang mulai lelah berlari dengan sisa tenaga yang dia punya lalu hendak masuk ke dalam stasiun. Tapi dua orang penajag itu menahannya dan melarangnya masuk.

“Maaf, Tuan, Anda tidak masuk jika tidak mempunyai tiket.”

“Mwo? Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti!” teriak Nichkhun kesal. Nichkhun melongokkan kepalanya, berusaha mencari Tiffany di dalam stasiun.

Tiffany menoleh ke belakang dan melihat Nichkhun yang berusaha memberontak dari genggaman dua orang penjaga tadi.

“Lepaskan aku!” Nichkhun terus memberontak, lalu berteriak kearah Tiffany. “Ya! Neo! Cepat kembali kesini. Tolong aku! Ingat, kita berdua sama-sama orang Korea. Seharusnya kau menolongku!”

Tiffany menghela nafas berat. Sejujurnya, dia tidak tega ketika melihat Nichkhun diseret-seret seperti itu. Dia akhirnya kembali dan menghampiri Nichkhun dan dua orang penjaga yang menahannya.

Setelah meminta maaf dan basa-basi lainnya, dua orang penjaga itu akhirnya melepaskan Nichkhun.

“Merci,” ucap Tiffany ramah. Dua orang penjaga itu tersenyum lalu beranjak pergi.

“Fiuh~” Nichkhun mengusap keringat di dahinya lalu menatap Tiffany dengan lega. Tapi Tiffany malah memberinya tatapan sinis. “Waeyo?” tanya Nichkhun, risih.

“Cih, dasar sinting!” Tiffany menoyor kepala pemuda itu. “Aku hanya akan mengizinkanmu ikut denganku selama tour guidemu belum kembali. Arasso?”

Nichkhun menyeringai senang lalu mengangguk. “Ne!”

“Oh ya, kembalikan dulu uangku yang tadi.”

“Kau tidak jadi memberikannya padaku?”

“Ani. Cepat, berikan padaku!” kata Tiffany sambil menengadahkan tangannya di depan wajah Nichkhun.

Pemuda itu mendengus lalu menyerahkan uang itu kembali dengan wajah masam.

***

            “Two ticket, please,” ucap Tiffany sambil membungkukkan badan, mengikuti posisi jendela loket.

“Sorry, Miss, tapi hanya tersisa satu tiket,” sahut seorang perempuan muda dari dalam loket.

Tiffany menghela nafas. “Okay, no problem. I’ll take it.” Dia lalu menyerahkan beberapa lembar Franc lalu menghampiri Nichkhun yang sedang berdiri sambil menikmati segelas kopi.

“Tinggal tersisa satu tiket saja. Bagaimana ini?” ujar Tiffany, menyesal.

“Aniyo, gwaenchanhayo. Kau ingin sekali menonton opera itu, kan? Aku berdiri disini saja menungguimu,” ujar Nichkhun.

“Jeongmalyo? Kau yakin?”

“Ne, gwaenchanha.”

Tiffany mengangkat bahu. “Baiklah, terserah kau saja.”

Tiba-tiba saja ponsel Tiffany bergetar. Dia meraih ponselnya dan melihat layar ponselnya. Jihoo. Nichkhun yang penasaran, ikut menjulurkan kepalanya dan melihat kearah layar. Tapi dia buru-buru menarik lehernya lagi ketika mendapat pelototan tajam dari Tiffany.

Gadis itu menjauh beberapa langkah dari Nichkhun lalu mengangkat telepon.

“Yeobbosseo?”

“Kau dimana sekarang?” Suara Jihoo terdengar ketus dan menyeramkan.

“Hm… aku sekarang sedang disuatu tempat,” sahut Tiffany gugup.

“Bersama siapa?”

“Tentu saja bersama Jessica.” Tiffany tertawa renyah.

Nichkhun yang masih bisa mendengar obrolan keduanya lalu cekikikan dibelakang Tiffany. Jessica? Jessica siapa? Dasar pembohong!

Untuk membuktikannya, Tiffany pura-pura menoleh ke belakang dan berteriak dengan suara lantang, “Jessica, tunggu aku! Jangan masuk ke dalam duluan!” Dan Nichkhun tergelak melihat tingkah bodoh gadis itu.

Tiffany kembali memegang erat ponselnya lalu berdeham. “Mianheyo, chagi, aku harus pergi sekarang. Operanya akan segera dimulai. Aku akan meneleponmu nanti.”

Gadis itu menutup telepon, lalu kembali menghampiri Nichkhun yang masih terbahak.

Tiffany meninju bahu pemuda itu lalu memelototinya dengan tajam. “Apanya yang lucu, babo!”

Pemuda itu berusaha meredakan tawanya. “Aniyo. Kau ini benar-benar kacau sampai membohongi pacarmu sendiri.”

“Bukan urusanmu!” ujar Tiffany kesal lalu masuk ke dalam gedung opera itu.

***

            Malam semakin dingin. Nichkhun menghentak-hentakkan sol sepatunya ke atas tanah dengan bosan. Dia melirik kearah jam tangannya dan waktu sudah menujukkan pukul sembilan malam. Sudah hampir satu jam sejak dia menunggui Tiffany, dan sepertinya acara itu masih akan lama.

Dia mengalihkan pandangannya kearah sudut jalan dan melihat sebuah box telepon disana. Dengan langkah ragu, Nichkhun menghampiri box telepon itu lalu memutar nomor seseorang.

“Yeobbosseo?” Terdengar suara perempuan muda diujung sana.

“Yuri-ah, ini aku Nichkhun,” ujarnya semangat.

Tiiit… Tiiit… Tiiit… Sambungan diputuskan. Nichkhun kembali memutar nomor yang sama. Tapi hanya operator yang menjawab.

“Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Untuk menghubunginya, silahkan diulang beberapa saat lagi.”

Nichkhun menghembuskan nafas berat lalu meletakkan gagang telepon kembali.

“Apakah kau begitu membenciku, Yuri?”

***

            “Kau tahu, opera tadi sangat keren! Kau pasti akan menyesal tidak menontonnya!” ujar Tiffany menggebu-gebu sambil menyuapi mulutnya dengan potongan pancake saus cokelat.

“Aish~ Aku tidak suka dengan drama opera. Sangat menyebalkan,” sahut Nichkhun, tak tertarik sama sekali.

“Waeyo?”

Nichkhun mengangkat bahu. “Tidak suka saja.”

Tiffany terdiam. Dia meneliti wajah pemuda itu. “Apa yang terjadi denganmu? Wajahmu terlihat kusut seperti itu.”

Nichkhun mengangkat wajahnya lalu tertawa gugup. “Ah, aniyo. Aku hanya merasa makanan ini tidak enak,” ujarnya santai.

“Ya! Hati-hati dengan ucapanmu! Nanti orang-orang disini akan mendengarkannya dan marah padamu,” bisik Tiffany was-was.

Pemuda itu terbahak. “Aish~ Aniyo. Tenang saja. Lagi pula, kita kan sedang berada di negara lain dan bahasa kita berbeda. Mereka tidak akan mengerti.”

“Tapi kan…”

“Coba, lihat!” Nichkhun mengerling jenaka kearah Tiffany lalu memanggil salah seorang pelayan.

Pelayan itu bertubuh tinggi dengan wajah yang dipenuhi bintik merah. Wajahnya ramah dan jenaka.

“Hm, aku ingin memberitahumu sesuatu,” kata Nichkhun dengan bahasa Korea. Wajah pelayan itu terlihat sedikit bingung, tapi dia tetap menunjukkan minat.

“Makanan disini sangat tidak enak. Apalagi makanan yang satu ini,” Nichkhun menunjuk spaghetti yang ada di piringnya lalu kembali melanjutkan, “Rasanya seperti kotoran kuda. Sangat tidak enak. Aku harap, restoran kalian ini segera bangkrut!” ujarnya sambil tersenyum-senyum jahil.

Pelayan itu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya seolah mengerti. Setelah itu dia kembali bekerja dan mengantarkan pesanan tamu lain.

Nichkhun terbahak-bahak begitu pelayan itu pergi. Sementara Tiffany hanya melongo melihat kelakukan jahil pemuda itu.

“Lihat? Dia tidak mengerti ucapanku, kan?” tanya Nichkhun, lalu lanjut terbahak.

Tiffany hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Tak berapa lama kemudian, pelayan tadi kembali mendatangi meja keduanya dan meletakkan sebuah piring yang ditutup oleh penutup besi ke hadapan Nichkhun. Nichkhun dan Tiffany saling bertatapan. Kebingungan.

“Ige mwoya?” tanya Nichkhun.

Pelayan tadi tersenyum lalu mengangkat penutup itu dan beberapa daging—yang sepertinya mentah—berjejer membentuk pola di atas piring. Nichkhun dan Tiffany sama-sama berdigik jijik melihat daging itu bahkan masih menggeliat-geliat hidup.

“What is this?” tanya Nichkhun, masih dengan raut horor.

“Snail,” jawab pelayan itu.

“WHAT?!” Nichkhun terbelalak. Dia mendorong piring itu jauh-jauh. “No, no. Thanks.”

Pelayan itu kembali mendorong piring itu lalu berkata, “It’s free.”

“But…”

“Free.” Pelayan itu mengedipkan matanya kearah Nichkhun lalu beranjak pergi.

Nichkhun dan Tiffany menatap daging siput itu dengan ngeri, lalu menunjukkan wajah tak minat sama sekali.

“Kau berani memakannya?” tanya Tiffany.

Nichkhun menggeleng lemah.

Tiffany terkikik. “Dasar payah!”

“Mwo? Apa katamu barusan?” tanya Nichkhun, tak terima.

“P-a-y-a-h!”

“Ya, jangan sembarangan berkata. Jika aku berani menghabiskan siput ini, apa yang akan kau lakukan?” tantang Nichkhun.

Tiffany berubah gugup. Dia meraih sebotol sampanye yang masih penuh. “Aku akan menghabiskan sebotol penuh sampanye ini. Bagaimana?”

“Deal!”

“Oke! Deal!”

To be continued…