Title: The Hooded One: Genii Cucullati [Second Action]

Author: SWORDMASTER

Cast[s]:

Euclair Slønberrn

Lee Sungmin as Alastir

Cho Kyuhyun as Marcus Slønberrn

Bang Cheolyong as Mir

Park Sanghyun/Thunder as Sigurð

Hel

Kyan Yutaka [Golden Bomber] as Rude

Ollathair

Genre: supernatural, drama

Length: continue, _________________words

Rating: 15+

Disclaimer: plot 100% punya daku, DILARANG KERAS menjiplak baik sebagian atau keseluruhan. Tolong hargai kerja keras penulis dan penggagas yang membuat dengan memakan banyak energi! [Dan jangan salahpahamkan fiksi ini dengan karangan Michael Scott, fiksi ini samasekali berbeda dan TIDAK sedikitpun bermaksud untuk meniru]

PLEASE READ, COMMENT, AND LIKE

NO BASHING AND NO PLAGIARISM!

 

 

SECOND ACTION

SEBELAH alis Euclair naik mendengar penjelasan Alastir. Sedikit sekali dari keseluruhan kalimat itu yang ia mengerti, sisanya tidak sekatapun.

“Dimana itu? Bagaimana kita kesana?”

Genii Cucullati yang berambut putih pucat menggeleng tanda lelah. Hampir setiap perkataannya mendapat gangguan di tengah sebelum sempat terselesaikan, dan ia tak senang diinterupsi sesering ini. Seumur hidup baru sekarang ada orang yang cukup bernyali untuk membuatnya kesal.

“Dimensi Abu-abu. Ollathair bisa mengantar kita kesana.”

“Siapa Ollathair?”

“Clair, dengarkan aku. Jika kau ingin tahu maka cobalah untuk tidak menyela.”

Euclair terpaksa diam. Membiarkan Alastir kembali bicara dengan nada agak berbeda dari yang semula digunakannya menjadi agak keras dan tajam. Dan ia baru sadar bahwa sejak beberapa menit lalu Alastir bicara, tak sekalipun lelaki itu memandang matanya lebih dari sedetik. Yang selalu dilihatnya adalah mangkuk berisi sup jagung yang telah mendingin.

“Biar kuulang dengan lebih jelas. Kakakmu, kemungkinan besar, diculik oleh Mir, orang yang sama dengan yang membunuh kedua rekanku. Dan itu artinya dia berada di Dimensi Abu-abu karena sejak dulu Mir lebih memilih berada disana bersama makhluk-makhluk ciptaannya yang menjijikkan itu—dimensi antara ‘hidup’ dan ‘mati’, dia melakukan hampir segalanya disana. Untuk mencapainya, kita harus melalui sebuah gerbang di Etemenanki Ziggurat yang dijaga oleh Ollathair di Dimensi Kedua. Berarti untuk mencapai tempat Mir saja, kita perlu menyeberangi sebuah dimensi—dan menyogok seorang dewa yang terkutuk.”

Jujur Euclair tak terlalu mendengarkan Alastir yang berkutat dengan istilah-istilah antardunia yang pelik. Dari keseluruhan, yang bisa ia mengerti hanyalah Etemenanki Ziggurat—ia pernah mempelajarinya di Bibliotheksverband Unterfraken (Library Association’s Book Service of Lower Franconia), dan ia mendapati bahwa ziggurat itu dulunya pernah didiami dua raja Mesopotamian yang terkenal, Nabopolassar dan Nebuchadnezzar, yang terletak di pusat kota Babilonia. Sedikit ia tahu tentang Ollathair—ia biasa mengenalnya sebagai Dagda—karena dia sering disebut dalam buku sejarah bangsa Irish sebagai dewa yang suka melakukan hubungan gelap. Euclair tak menyangka bahwa sosok Dagda bisa menjadi nyata.

“Dagda terkutuk?”

“Yap.”

Tudung Alastir merosot. Wajah imut berhias kelereng hijau zamrud menunjukkan diri disertai raut bahagia jelas tertanam kedalam rias mukanya meskipun dia tak tersenyum. Namun ekspresi itulah yang membuat Euclair lupa tentang segala kebingungan yang tadi menderanya, bahkan ia pun lupa bahwa ia berhadapan dengan seorang pejuang…

Ya, Euclair terhanyut pada wajah itu, wajah Alastir.

“Hei,” Alastir membuyarkan lamunan Euclair yang terkesan menakutkan. Gadis itu tersentak, lalu cepat-cepat menunduk agar tak usah bertatapan dengan Alastir. Kecanggungan segera menyusul di menit-menit selanjutnya. “Jadi kau mau… ikut?” Alastir mengalihkan pandangannya ke arah lain, menatap lurus ke depan hanya akan membuatnya semakin malu saat ia harus melihat wajah Euclair, sekilas sekalipun. Ia tahu Euclair mengangguk, dahinya hampir terantuk bibir meja.

“Oke, tapi ada beberapa hal yang perlu kulakukan. Persiapkan dirimu.”

___

 

JEMARI kurus Mir menyentuh kedua kelopak mata Marcus yang tertutup rapat. Bibirnya menggumamkan beberapa patah mantera sambil terpejam. Lalu sekitar tiga detik kemudian, mata alkemis itu terbuka, mengernyit lalu mengerjap membiasakan diri.

Hello, boy…

Marcus membelalak tak percaya begitu melihat sosok sangat dekat dengan hidungnya. Rambut cokelat keemasan chestnut dengan highlight burgundy menutup tengkuk. Sepasang mata besar bagai genangan minyak menatapnya licik seolah meremehkan, beserta sebentuk seringai yang sangat tidak manusiawi terpasang kuat di wajah anak-anaknya. Marcus mengira, dia pasti lebih muda dari Marcus sendiri.

I’ve sent a present for your sister. She must be playing happily with it now.”

Iris biru langit Marcus menyiratkan sekilas amarah yang tak kuasa ia ucapkan lewat mulutnya yang terkunci. Tapi Marcus tahu, dari suaranya, bahwa dialah Mir yang telah menorehkan luka di tangannya. Marcus kira Mir akan mendatangi Euclair secara langsung. Namun ternyata dia lebih memilih mengirim utusan, yang tetap saja berbahaya karena Marcus tak tahu ada yang bisa melindungi Euclair atau tidak di luar sana.

Dibalik pundak Mir tampak sebuah bayangan tertangkap oleh Marcus. Mir bangkit, mengayunkan tangan ke belakang menunjuk bayangan itu sambil terus memamerkan seringainya, memperkenalkan,

He’s your guard, Sigurð. Greet him.

Kalimat terakhir yang dua kata itu lebih diperuntukkan bagi penjaga Marcus, Sigurð. Bayangan itu maju memperjelas diri, mengejutkan Marcus untuk kedua kali karena dia bukanlah sosok Sigurð yang selama ini ia tahu—yang berpakaian kain selempang dan berambut panjang keriting khas orang Nordik—melainkan lelaki kecil berwajah manis dan menyeret sebatang pedang dengan tangan kiri. Kakinya terbalut jins biru pudar. Tubuhnya dibungkus rapi t-shirt putih bersih dan jaket kulit hitam pekat. Marcus bisa menduga pedang itu.

“Ucapkan salam pada Gram,” katanya.

Benar-benar manis seakan tanpa dosa. Sigurð mendekat, memaksa kepala Marcus berbalik arah ke sudut ruangan berdinding balok-balok batu agar pandangannya langsung bertabrakan dengan onggokan rangka manusia yang terpisah. Pakaian yang berbeda masih membungkus rangka tersebut.

“Kau lihat, Mark. Jika kau berani macam-macam, pertama kali yang akan terluka adalah saudaramu. Jika saudaramu sudah mati, yang berikutnya dilukai adalah kau.”

“Kau bisa saja bergabung dengan mereka kalau kau mau,” sambung Mir, dengan bahasa yang sama dengan Sigurð, “Kau kenal mereka, bukan?”

Marcus sebelumnya tak bisa mengenali dari jarak jauh, sampai sebuah badge kuda laut dan lambang perisai Dom Robert Jollivet berhasil menyusupi pengelihatannya dari kerangka sebelah kanan. Para penekun dunia okultisme pasti kenal lambang-lambang itu, yang nama pemiliknya ingin diucapkan oleh Marcus tapi tak bisa, sehingga Sigurð mewakilinya,

“Fulcanelli. Sekarang kau tahu mengapa dia menghilang setelah mengijinkan salah satu anak buahnya melakukan penelitian di laboratorium.”

Tak terbayang bahwa spekulasi orang-orang selama ini kemungkinan benarnya bertambah besar, yaitu Fulcanelli adalah salah satu keturunan Castelot, melihat lambang perisai Jollivet di baju dan halaman belakang Les Demeures Philosophales. Marcus menengok kerangka satunya, tak menemukan petunjuk apapun.

“Dia adalah Comte de Saint Germain. Sekarang kau tahu juga kenapa dia menghilang dari dunia.”

Segalanya hampir terang. Mir jelas menangkap para alkemis yang muncul di publik dan tertangkap media untuk dibawa kemari dan dijadikan budak. Tapi kenapa?

Have you read the Les Demeures Philosophales? See the last chapter.

Otak Marcus mengingat sebentar, tak butuh waktu lama karena ia nyaris hafal isi dua buku karangan Fulcanelli tersebut. The Golden Age, bab yang cukup berani untuk mengatakan bahwa makhluk yang lahir kembali tahu bahwa agama adalah sesuatu yang tak ada, dan mereka akan berterimakasih pada ‘Pencipta’ yang bahkan dipuja oleh matahari. Suatu masa yang tenang dari sebuah ‘perputaran’ dimana setiap makhluk hidup akan bersatu setelah dimatikan. Namun, Marcus beranggapan, yang dimaksud disitu adalah pergatian musim akibat revolusi, dan yang dimaksud ‘makhluk’ disitu adalah sebuah perasaan, yang bisa berubah-ubah setiap musim berlalu. Seiring jalannya waktu makhluk-makhluk tersebut akan sadar pada pentingnya matahari dalam mengatur musim, kemudian mereka berterimakasih pada Tuhan karena menciptakan tata surya—Fulcanelli sedikit memberi penjelasan di paragraf terakhir.

The human’s behaviour, boy, they look so bad. I wanna change it and you’ll help me.

“Jika kau tak mau maka adikmu dalam masalah besar. Mereka juga,” Sigurð mengacungkan Gram pada kerangka Fulcanelli dan Comte de Saint Germain. “Fulcanelli mencoba kabur untuk memperingatkan dua anak buah kesayangannya, Jean-Juliane Champagne dan Eugene Leon Canseliet, lalu aku membunuh dua orang itu sebelum menyiksanya perlahan. Sedangkan Count langsung bisa mencium Gram tanpa ada orang lain yang terluka.”

Pasangan biru langit di wajah Marcus membulat, kentara sekali mengungkapkan kemarahannya saat Euclair ikut terbawa dalam peristiwa yang susah dijelaskan ini. Tangannya ingin meraih lebat rambut hitam dengan aksen frost cokelat abu Sigurð dan mematahkan lehernya saat ia sadar yang bisa digerakkan hanyalah otot mata dan kelopaknya. Maka mata Marcus mengatup, membiarkan air mata penyesalan mengalir dari sudut-sudutnya.

___

 

KILAU keperakan menyinari wajah Alastir kala seberkas sinar memantul di permukaan bilah pipih Skofnung. Bibirnya membentuk sebuah senyum simpul, tertarik secara reflek setiap kali permukaan jarinya menyentuh pedang legendaris itu. Alastir tak pernah bisa menghindar dari kegilaan yang mendatanginya akibat hal ini. Dan tiap kali hal hal itu terjadi, Alastir seolah kehilangan kendali.

Mengangkatnya perlahan, sekali lagi permukaan Skofnung memantulkan sebuah objek. Bayangan, sementara Alastir menduga, hingga aroma tanah bercampur bau busuk menelusup masuk dalam indera penciumannya yang tajam. Alastir lebih dari sekedar benci bau ini: pertanda kedatangan makhluk ciptaan Dimensi Abu-abu yang menyebalkan dan sulit dilukai. Ia akan sangat bersyukur andai tak menghadapi pasukan ghoul atau simulacra.

Hi, there…

Hafal betul Alastir dengan suara berat wanita di belakangnya. Baru sekejap tadi Alastir berharap supaya ia tidak berhadapan dengan pemilik suara itu, dan sekarang ia sedang menghadapinya, sendiri pula.

Lamban tubuhnya berbalik, mendapati wanita buruk rupa berambut kuning kumal panjang berdiri diatas pagar yang nampak dari ruang depan. Skofnung digenggamnya kuat namun kelihatan samar diluar jubah, sedang kepalanya terangkat tegak menyuguhkan barisan gigi-gigi mungil dan putih dibalik seringai bernafsu.

Long time no see, Hel.”

Hel membalas seringai Alastir dengan senyum lebar berisi geligi besar dan kuning. Matanya biru pekat hampir kehitaman, bulat menonjol di wajah kotaknya yang sulit dibilang rupawan. Kakinya yang tak beralas menerjang bibir pagar batu. Jari-jemarinya mekar berhias kuku rusak.

Disertai bunyi debam kaki Hel mendaratkan diri di halaman. Alastir hendak menyusul, bertepatan saat Euclair tergopoh-gopoh menuju ruang depan, menyusulnya. Kini masalah bertambah kompleks karena selain harus melawan Hel, Alastir juga harus melindungi Euclair.

“Alastir, apa yang—“

“—Jangan kemari, terlalu berbahaya!” nada Alastir lebih dari bisa dibilang tegas, cenderung keras menyerupai teriakan marah. Euclair bisa jelas melihat mata kelereng Alastir berubah menjadi merah berbingkai garis tebal hitam di tepi ketika ia menyeru.

Seketika selepas Alastir mengucap titik kata terakhir, Hel mengayunkan tangannya, menggores pipi Alastir dengan kuku cakarnya yang memanjang sejak entah kapan. Darah merah gelap meleleh diatas kulit putih segar, meninggalkan bekas kebiruan di sekitar robekannya yang dalam. Tersulut, setelah memastikan Skofnung terikat kuat dan tak akan jatuh dibalik jubahnya, Alastir memukul bagian bawah dagu Hel dengan siku sekuat tenaga sehingga wanita buruk rupa itu bergerak mundur, mengulur waktu agar Euclair bisa kabur.

“Lari!”

Sesuai perintah Alastir, Euclair berlari masuk kembali ke rumah, bermaksud keluar dari lubang dinding gudang anggur sementara sang Genii Cucullati menahan Hel. Suatu kesempatan bagus ketika siku kiri Alastir yang bertumbukan dengan pertemuan leher serta bahu Hel berhasil merobohkan tubuh berat Hel ke tanah penuh lumut, hanya kurang kuat untuk bisa mematahkan leher. Seiring Skofnung teracung menyilaukan, Alastir berkata penuh penekanan,

Any wound made by Skofnung won’t be healed unless it rubbed with the Skofnung stone…

CRAAAAASHHH!!!

And it had lost already…

Skofnung tertancap kuat di leher Hel, memuncratkan darah segar ke sekitar jubah dan dagu Alastir sebelum berpindah ke jantungnya yang terasa berdetak cepat. Irama tertahan bilah Skofnung, napas Hel merintih. Namun meskipun jatungnya telah robek, Hel masih memiliki cukup waktu untuk menghantamkan kepalan tangan besarnya ke kepala Alastir dengan segenap sisa tenaganya sehingga sang Genii Cucullati ambruk seketika. Diikuti kematian Hel yang datang terakhir.

Bangkit setengah terhuyung, dengan mudah Alastir menyeret raga Hel keluar area kediaman keluarga Slønberrn. Setelah melemparnya sembarang tanpa peduli tatapan heran orang-orang lewat, ia segera berlari menjemput Euclair di belakang rumah. Lelehan darah dari luka di pipinya telah lama mengotori leher dan berbau tidak sedap, menambah rasa pusing yang semula sudah didapatnya dari pukulan kuat Hel. Sambil memikirkan kejanggalan bahwa Hel terlalu lemah untuk menghentikannya, Alastir merunduk menembus lubang dinding…

…untuk menemukan bahwa Euclair tidak ada disana.

Diantara julang-julang pohon konifer dan semak belukar tanpa tanaman hias yang berdiri diatas lahan sempit kebun, pandangan Alastir berpetualang, berusaha menemukan sosok yang ia cari tanpa membuahkan hasil, dan malah bertatapan langsung dengan iris mata biru palatin milik orang lain. Dua sinar tajam saling beradu, naluri terpancing menyaksikan keadaan yang samasekali tak bisa dihindari.

Seorang lelaki berambut panjang lurus alami berdiri santai didepan batang Larix decidua, highlight emas tersemat di sebagian besar rambut hitamnya yang jatuh sedikit kaku diatas pundak berlapis rompi kulit hitam pekat, salah satunya memikul sebuah crossbow dengan gaya santai tapi menuntut kewaspadaan lebih. Kalung salib baja tergantung mencolok di leher. Senyum terpulas tipis, bibir pucat mengucap kata-kata bernada tenang,

“Alastir, sang Genii Cucullati yang tak lagi punya teman…”

“Apa aku mengenalmu?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, siapa kau?”

“Rude, itu namaku. Meski kau tak bertanya, akan kukatakan, bahwa aku kemari atas permintaan Tuan Mir karena kau berani menantangnya.”

“Kau bersama Hel, bukan?”

“Jangan samakan aku dengan wanita jalang yang sok tangguh itu, dia bawahanku.”

“Rupanya kelompok kalian semakin hirarkikal sekarang.”

“Kau mencari pacarmu?”

Alastir tak menjawab, Rude melanjutkan sendiri,

“Dia tak akan jauh-jauh darimu, terimakasih sudah mengantar.”

Dia menurunkan crossbownya dan dengan satu tangan menopang, membidik Alastir seolah tak menaruh minat. Alastir perlu berhati-hati karena sejak beberapa menit berlalu, ia telah memastikan keberadaan Euclair, yaitu memang tak jauh-jauh darinya. Menarik delapan pisau dari balik jubah, ia mengambil ancang-ancang sebelum melayani setiap lemparan panah Rude yang ditembakkan menggunakan akurasi tinggi, nyaris membuat kewalahan.

Setiap jari mengapit pisau dipergunakan layaknya kuku yang tepat membelah dua batang anak panah. Dengan kemampuan yang telah terlatih selama ratusan tahun meski tak pernah benar-benar menghadapi musuh, mudah saja bagi Alastir menentukan kemana patahan panah itu mengarah agar tak mengenai Euclair. Pertarungan terasa sangat membosankan beberapa saat.

“Kenapa hanya main-main terus, Rude? Nampaknya kau tak segarang namamu.”

“Tidak juga, mari kita lihat yang responnya paling bagus.”

Helaian rambut Alastir sebagian terbang saat sesuatu bergerak cepat melewatinya. Itu Rude, yang serius ingin menguji respon Alastir terhadap sesuatu yang tiba-tiba. Kini dia sudah tak ketahuan ada dimana, namun Alastir tak goyah karena hal ini hanyalah sekedar petak umpet yang tak berarti.

SRAAAT!

SRAAAT!

SRAAAT!

Tiga suara serupa mendesisi udara kosong beruntun hampir bersamaan. Sepersekian detik setelahnya tiga anak panah kembar melesat ke arahnya dari arah berbeda, dapat diatasi tanpa kesulitan samasekali oleh sang Genii Cucullati berpengalaman. Dari serangan ini jelas sekali terbukti bahwa Rude adalah tipe petarung yang bisa bergerak cepat, hampir sama seperti Alastir.

“Kau boleh juga.”

Tak ada jawaban, justru keluar hujan anak panah dari berbagai penjuru yang semua ditujukan padanya. Sedikit terganggu sakit kepalanya yang tak kunjung hilang, Alastir kembali memainkan kedelapan pisaunya dengan lihai seperti pemain sirkus profesional tak kenal ampun.

Hampir setengah menit berlalu sejak anak panah terakhir ditembak. Alastir berdiri setengah bungkuk meneliti luka-luka luar di permukaan kulit seputih susu, menatap garis-garis merah menyala tanda kulitnya telah robek. Sepanjang pendengarannya mampu menjangkau, tak ada suara-suara mencurigakan, kecuali desah napas jauh disana yang menunjukkan Euclair masih hidup. Ia memejam mata sejenak, konsentrasi, kemudian senyum simpatik mengukir diri pada wajah imutnya yang berubah drastis.

Menyimpan kembali bilah-bilah pisaunya bersisian dengan Skofnung dibalik jubah, ia menggeser sudut salah satu kakinya diatas hamparan patahan kayu dan mata panah, agak miring sedikit ke kiri. Lalu seketika tanpa sempat disadari siapapun, ia tarik tangannya, melempar dua bilah pisau ke belakang. Tak lama terdengar bunyi tumbukan dengan kayu empuk, Rude lolos.

Berdecak ditengah keheningan singkat sudah menjadi kebiasaannya bila sasarannya lolos. Namun bukan decak kekecewaan yang terdengar, melainkan serupa rasa iba yang angkuh. Ia sengaja melempar dua pisau itu agar Rude menghindar.

Dan tanpa gerakan kentara, ia melempar pisau dengan tangan lain ke depan, mendengar erangan singkat sebelum menyaksikan sebuah tubuh jatuh berdebam dengan batang magnesium tertancap menembus leher, tersenyum penuh arti.

“Aku menduga kau ceroboh, Rude.”

Memang tak sejak awal Alastir menyadari bahwa Rude hanya peduli pada kecepatan bukan ketelitian, tanpa takut ada yang bisa membaca gerakannya. Namun sekali mengetahui hal itu, keuntungan berlebih akan langsung berpihak pada Alastir.

Tubuh kurus itu bergerak dalam tempo cepat, kedua tangan berusaha mencabut pisau di leher terlanjur meremukkan jalan napas sampai tengkuk. Sementara waktu mengumpulkan napas yang terasa sia-sia. Meski lidahnya tetap memaksakan diri untuk menanyakan sesuatu, yang keluar dari mulutnya hanya kata-kata teredam cairan gelap darah yang turut mengalir dari sudut bibir.

“K-kau…”

Seringai bernafsu Alastir terkembang kembali. Langkah kakinya pelan menapak membawa tubuh terbungkus jubah mendekati korban penuh rasa tak sabar untuk segera menghabisi nyawanya. Sambil memutar-mutar sebilah pisau magnesium, ia berlutut, mencolek sejumput darah dari luka di leher korban dan menjilatnya dari ujung jari sebelum menghunus senjata tinggi-tinggi.

CLEB!!!

Rude membelalak kaget, bahkan tangan Alastir masih menggenggam erat pegangan pisau tampak didepan mata. Sayangnya, ia tak dapat melihat dimana bilah pisau menancap.

Karena benda itu bersarang dalam tempurung kepalanya sendiri.

___

 

SUASANA dalam penjara berisi tiga orang itu sunyi. Satu yang berambut perak satu warna terbaring lumpuh tak berdaya. Satu yang berambut hitam dengan sedikit aksen frost mengetuk-ngetuk lantai dengan ujung sarung pedang tanda bosan sambil duduk. Satu yang berambut chestnut menggigiti bibir bawahnya, tangannya bersedekap dibawah dada sementara pangkal alas kakinya ritmis menjejak permukaan lantai, mungkin merupakan satu-satunya yang menunjukkan ekspresi cemas secara terbuka. Tak dapat dipungkiri, si nomor tiga ini terganggu atas kematian dua suruhannya.

They’re… dead?

“Seharusnya itu tak menjadi gangguan berarti bagimu. Kenapa mengkhawatirkan mereka?”

“Tidak. Kupikir aku terlalu menyia-nyiakan anak buahku. Mereka bisa berguna nanti.”

“Kau berharap Alastir sampai kesini?”

“Sebaiknya tidak begitu.”

“Baguslah. Aku malas bertarung.”

“Tapi Alastir sudah lebih kuat, kita akan kehilangan banyak.”

Sigurð mengedikkan bahu sekali, mengangkat Gram sampai ujungnya tampak didepan mata dan menarik sarungnya cepat sebelum mengembalikannya lagi. Dalam beberapa detik waktu terbuang, kilat kebosanan di matanya berganti sirat kebahagiaan tanpa sebab. Kehilangan banyak bukan masalah, kan? Pikirnya.

“Kau benar, kehilangan banyak bukan masalah,” Mir mendorong bahu Marcus dengan kaki, “asal kita masih punya dia.”

Seringai tebal beriring tawa samar memenuhi ruang kemudian waktu.

___

 

MELETAKKAN kepala Euclair perlahan di lengannya, Alastir memanggil nama perempuan tak sadarkan diri itu perlahan, menunggunya bangun walau sadar mayat Rude tak jauh dari situ bisa membuatnya kembali pingsan.

Saat tubuh Euclair bergerak-gerak sadar, Alastir menurunkan tudungnya, memandang lurus ke wajah Euclair terutama ketika warna biru palatin terlihat. Ia menyadari mata itu tak melulu meninjau lokasi, melainkan langsung membelalak kaget dan terduduk serta merta seolah tak peduli. Euclair memegangi kedua pipi Alastir, raut wajah cemas tergambar jelas, sementara sebagian jemari meraba luka di wajah.

“Kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?”

“Clair…”

Sang Pejuang sengaja menahan tangan itu diatas lukanya sembari mempertahankan tatapan lurus menghanyutkan miliknya, merasakan getar-getar canggung menggelitik permukaan koyak. Bertepatan tertangkapnya selapis rias malu diatas cantik paras Euclair, Alastir menurunkan tangan lentik yang membuat lukanya makin panas, merasa tak terbantu pada kedua kali rona terang pipinya terlihat sangat kasat mata.

“Seharusnya aku yang tanya.”

“O-oh… aku baik. Apa yang terjadi?”

“Tidak ada waktu untuk cerita. Banyak hal yang bisa dilakukan pada kakakmu selama kita berada disini. Kita harus segera pergi.”

“Tapi bagaimana?”

Kedua tangan Alastir mencengkeram pundak Euclair, serta merta pandangannya mengabur setelah sesuatu menyentuh bibirnya lembut dan dalam; bibir Alastir.

___

 

KONFIGURASI tiang totem dari kayu abadi yang tak pernah lapuk membentuk persegi sempurna, menjadi pancang rantai-rantai yang mengikat kaki dan tangan makhluk buruk rupa di tengah. Rambut hitam berminyak panjang menutup wajahnya, dan selain itu, yang mampu terlihat hanyalah sebagian tubuhnya yang berwarna cokelat terbakar panas matahari. Ollathair—atau Dagda—terbaring melingkarkan tubuh diatas batu, menghadap kokoh ziggurat kosong.

Tapi dia sadar sepenuhnya. Dia mengangkat kepala dan (dengan ngeri) memutarnya nyaris 180derajat, menangkap figur familiar dan seorang asing tertahan kedua lengan.

Alastir melangkah pasti. Skofnung terlihat jelas menyembul dibalik jubah, ukiran perak di gagangnya berkilau diterpa cahaya terik padang tandus. Euclair terkulai diam tertopang lengan, ketika ia membopongnya mendekati Ollathair.

“Apa yang membawamu kemari, nak?”

Alastir merunduk menurunkan Euclair diatas kakinya, “Sedikit masalah. Aku perlu bantuan.”

“Siapa manusia ini?”

“Seseorang. Kupikir Mir berulah lagi, aku hanya ingin memastikan ia tak menghancurkan segala-galanya kali ini.”

“Kau tahu aku tidak bisa bergerak.”

“Jika kubebaskan akankah kau membantuku?”

“Relatif.”

Hati-hati sekali Alastir membaringkan Euclair diatas bongkahan batu di dekatnya yang rata, kemudian menarik Skofnung lepas dari sarungnya.

“Aku bisa saja membunuhmu.”

“Kau tidak akan melakukannya.”

“Kenapa begitu yakin?”

“Karena sekarang aku harus melindungi seorang gadis.”

Crang!

Rantai yang mengikat tangan kanan Ollathair hancur, disusul ketiga rantai lain tak lama kemudian. Ollathair menggosok pergelangan tangan dan kakinya. Sosok kotor dan mengerikan tersebut lantas berubah wujud. Rambutnya yang tak terawat berubah sedikit lebih rapi. Wajahnya terlihat jelas, matanya kelabu-kebiruan dan berbinar. Kulitnya putih sekali. Namun satu hal yang cukup mengejutkan Alastir setelah mengenal Ollathair selama bertahun-tahun: Ollathair berubah menjadi anak-anak, berusia sekitar tujuhbelas atau delapanbelas tahun.

“Agak mengejutkan, ya?”

Ollathair menepuk bagian bawah baju hitam yang membungkus kulit putih bonekanya. Bahkan suaranya pun berubah.

“Aku lebih nyaman dalam wujud seperti ini. Mengapa kau tidak melakukannya sejak dulu?”

Alastir mengibaskan tangan, “Tidak bisa melanggar peraturan.”

Euclair menggeliat pelan, terbangun dengan mata terpejam tertusuk silau matahari. Ketika bola matanya berputar melihat sosok Ollathair yang baru—dan Alastir—ia terkesiap, Ollathair terlihat begitu akrab baginya.

“Oh, lihat gadismu sudah bangun.”

Alastir cepat-cepat menghampirinya, membantunya duduk.

“Dia siapa, Alastir?”

“Ollathair.”

Gadis itu menyipitkan mata, “Tapi dia tampak seperti boneka.”

“Benarkah?”

“Dia terlihat seperti Camine dari Dream of Doll.”

“Yah, dia akan membantu kita memasuki Dimensi Abu-abu.”

“Kau bilang kau akan menyogoknya…”

“Aku membebaskannya dari rantai, lalu kutukannya lepas.”

Belakangan Euclair baru sadar bahwa dirinya berada di dimensi lain. Di belakang Ollathair terpapar Etemenanki Ziggurat yang terabaikan. Sejauh ia dapat mengingat, Etemenanki Ziggurat terletak di ujung belakang kota Babilonia. Berarti…

Ia menengok arah sebaliknya.

Benar saja. Benda raksasa berwarna biru gelap itu berdiri menjulang dengan kokoh. Serangkai papan kayu cedar tersusun rapat oleh palang-palang baja. Di sekujur tubuhnya terangkai ubin-ubin mungil dari lapis lazuli membentuk tiga sosok hewan dalam posisi dan presisi yang mengagumkan: singa, naga, dan auroch. Mereka bertiga ada di Aj-ibur-shapu, jalan utama, dan benda biru di sana adalah satu dari delapan jalan masuk utama menuju kota, Gerbang Ishtar.

Well, kita harus segera pergi.”

Alastir menarik Euclair berdiri, sementara Ollathair terus menerus memandang ziggurat, tersenyum tanpa niat, “Kalian pergilah. Gerbang Dimensi Abu-abu telah terbuka. Aku akan menyusul.”

“Terimakasih, Dagda.”

“Kau tidak perlu mencium gadis itu lagi sebelum membawanya melangkahi gerbang dimensi.”

Ollathair terkekeh, Alastir tersenyum senang, sedang Euclair teringat dan menjadi bingung akan perasaannya.

 

Second Action/END

The Hooded One/TO BE CONTINUED

 

a/n: maaf membuat kalian menunggu lama m(_ _)m. Daku lagi sok sibuk akhir-akhir ini, dan rasanya melelahkan sekali, wewww…

Karena The Hooded One uda mau rampung, daku mohon bagi siapapun yang membaca tinggalkanlah jejak disini, apapun bentuknya asal bukan bash. Yang mau meninggalkan jejak, terimakasih. Yang gag mau, terimakasih juga telah membaca, daku doakan kalian lekas sadar aja. Dadah…